cover
Contact Name
Elan Ardri Lazuardi,
Contact Email
humaniora@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
humaniora@ugm.ac.id
Editorial Address
Humaniora Office d.a. Fakultas Ilmu Budaya UGM, Gedung G, Lt. 1 Jalan Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281 Indonesia
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Humaniora
ISSN : 08520801     EISSN : 23029269     DOI : 10.22146/jh
Core Subject : Humanities,
Humaniora focuses on the publication of articles that transcend disciplines and appeal to a diverse readership, advancing the study of Indonesian humanities, and specifically Indonesian or Indonesia-related culture. These are articles that strengthen critical approaches, increase the quality of critique, or innovate methodologies in the investigation of Indonesian humanities. While submitted articles may originate from a diverse range of fields, such as history, anthropology, archaeology, tourism, or media studies, they must be presented within the context of the culture of Indonesia, and focus on the development of a critical understanding of Indonesia’s rich and diverse culture.
Articles 16 Documents
Search results for , issue "No 1 (1995)" : 16 Documents clear
Pungutan Pajak dan Pembatasan Usaha di Jawa pada Abad IX - XV Masehi Djoko Dwiyanto
Humaniora No 1 (1995)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1388.584 KB) | DOI: 10.22146/jh.1982

Abstract

Di dalam artikel ini akan dicoba diungkapkan salah satu aspek sosial-ekonomi di Jawa pada abad IX-XV Masehi, khususnya mengenai pungutan pajak dan pembatasan usaha. Pokok bahasan ini dipilih karena masalah perpajakan belum pernah dikaji secara mendalam dan sebagai sumber pendapatan negara ternyata sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat hingga dewasa ini. Dimensi temporal antara abad IX-XV Masehi ditentukan berdasarkan atas pertimbangan, antara lain bahwa informasi mengenai pungutan pajak dan pembatasan usaha pertama kali dijumpai dalam prasasti-prasasti dari abad IX Masehi, sedangkan abad XV Masehi merupakan akhir dari masa tinggalan budaya yang bercorak kehindupan. Pada masa ini kehidupan ketatanegaraan telah teratur dan segala jenis data mengenai aktivitas sosial-ekonomi cukup memadai dan terkomendasikan dengan balk.
Tradisi Penciptaan dan Penafsiran Kitab Islam Klasik di Pesantren: Tinjauan Sekilas atas Salah Satu Karya Kiai Haji Ahmad Sanusi Fadlil Munawwar Manshur
Humaniora No 1 (1995)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1161.799 KB) | DOI: 10.22146/jh.1983

Abstract

Di Indonesia terdapat banyak karya keagamaan yang berupa kitab-kitabyang berisi ajaran aqama Islam. Kitab-kitab itu sebagian besar dikaji, diajarkan, dan dijadikan acuan hidup sehari-hari oleh para santri di pesantren. Dalam tradisi pesantren kitab-kitab keagamaan itu disebut kitab Islam k1asik (Dhofier, 1962:50). Tujuan utama pengajaran kitab Islam klasik (selanjutnya disebut KIK) adalah untuk mendidik para santri menjadi calon-calon ulama yang setia pada paham Islam di pesantren. Di antara kitab-kitab yang dicipta di lingkungan pesantren dan diajarkan langsung oleh kiai adalah kitab Raudatul-'Irlani fi Ma'rifatil-Qur'an yang artinya Taman Ilmu untuk Memahami Al Quran. Kitab ini (selanjutnya disebut RI) disusun oleh Kiai Haji Ahmad Sanusi, seorang ulama Sunda yang berprofesi sebaqai pengarang produktif kitab-kitab keagamaan, juga berkedudukan sebagai pengasuh Pesantren Gunung Puyuh Sukabumi.
Upacara Sunat atau Gedho Logo pada Masyarakat Nage Hans Daeng
Humaniora No 1 (1995)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1003.936 KB) | DOI: 10.22146/jh.1984

Abstract

Tidak dihisapkannya seseorang sebagai anggota suatu kelompok etnik merupakan sesuatu yang fatal, karena orang yang bersangkutan tidak diberi peranan apa pun dalam masyarakat etnik itu. Untuk menjadi anggota kelompok etnik itu seseorang diharuskan mengikuti sejumlah upacara tertentu yang disebut upacara peralihan. Dalam upacara peralihan tersebut, pengikut upacara atau initiandus/initianda berkenalan dan belajar sejumlah penqetahuan dasar milik kelompok etniknya.Untuk menjadi anggota kelompok etnik tertentu seseorang diharuskan mengikuti sejumlah upacara tertentu yang disebut upacara peralihan. Dalam upacara peralihan tersebut, pengikut upacara atau initiandus/initianda berkenalan dan belajar sejumlah pengetahuan dasar milik kelompok etniknya. Seorang remaja lelaki yang menjelang menjadi pemuda (adolescens) akan diterima resmi sebagai anggota resmi masyarakat desanya bila sudah mengikuti dan mengalami upacara penyunatan yang diistilahkan tui, gedho logo atau gedho weka. Pada sub kelompok etnik Rendu dan Jawatiwa disebut tau nuwa.
Penyair Abu Nuwas, Selayang Pandang Humam Abubakar
Humaniora No 1 (1995)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1024.306 KB) | DOI: 10.22146/jh.1985

Abstract

Syauqi Dlaif, seorang ahli kesusasteraan Arab telah memperiodesasikan kesusasteraan Arab ke dalam empat periode. Pertama, kesusasteraan Arab masa Jahiliyah, kedua, kesusasteraan Arab masa Islam, ketiga, kesusasteraan Arab masa Abbasiyah I, dan ke empat, kesusasteraan Arab masa Abbasiyah II. Masing-masing periode diwarnai dengan lahirnya penyair-penyair terkenal yang mampu membawa kesusasteraan Arab ke jenjang yang cukup terhormat di tengah-tengah kesusasteraan dunia pada waktu itu. Berkenaan dengan hal ini, Toha Husain dalam bukunya yang berjudul Min Haditsis Syi'rl wan Netsri halaman 17 mengatakan bahwa sastra Arab, baik prosa maupun puisi, tidak dapat dikatakan ketinggalan apabila dibandingkan dengan sastra-sastra dunia padawaktu itu, yakni sastra Yunani, sastra Romawi, sastra Latin, dan sastra Persia. Nama Abu Nuwas telah dikenal secara luas oleh bangsa Indonesia, paling tidak sejak Nur Sutan Iskandar menerjemahkan buku berbahasa Arab milik Koninklijk Bataviaasche Genootschap van Kunsten en Wettenschappen atau vayasan Lembaga Kebudayaan Indonesia pada tahun 1922.
Pengelompokan Mikro dan Makro dalam Kajian Linguistik Austronesia secara Diakronis Inyo Yos Fernandez
Humaniora No 1 (1995)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1005.038 KB) | DOI: 10.22146/jh.1986

Abstract

Pengelompokan bahasa dalam rangka kajian linguistik diakronis, biasa dikenal juga dengan istilah klasifikasi genealogis (genetis) atau subgruping bahasa. Dalam arti itu, pengelompokan bahasa seringkali dikaitkan dengan pembagian rumpun bahasa atau keluarga bahasa, seperti rumpun bahasa IndoEropa,  Afro-Asia, Austronesia atau Malayo-Polinesia, dan sebagainya.Istilah  pengelompokan mikro dimaksudkan untuk menjelaskan pengelompokan bahasa-bahasa sekerabat pada tingkat lebih rendah. Pengelompokan makro dapat diartikan pengelompokan bahasa kerabat yang cakupan penjelasan mengenai hubungan antarbahasa serumpun, diamati secara khusus pada tingkat yang lebih tinggi atau pada tingkat atas.
Naskah-Naskah Merapi-Merbabu Koleksi Perpustakaan Nasional Indonesia: Tinjauan Awal Kartika Setyawati
Humaniora No 1 (1995)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1459.916 KB) | DOI: 10.22146/jh.1987

Abstract

Dalam khasanah kesastraan Jawa klasik yang tertuang dalam naskah (manuskrip) ada beberapa jenis/macam aksara yang dipakai untuk menyampatkannya. Secara umum aksara yang digunakan adalah aksara Jawa, Arab (Pagan), Bali (Jawa-Bali). Ada sebuah lagi aksara yang dipakai orang untuk menuliskan naskah (manuskrip) dan belum terlalu dikenal, yaitu yang disebut aksara buda. Pigeaud dalam bukunya Literatur of Jawa, Vol. I (1967) menamakan aksara buda dengan tulisan gunung.....buda, gunung script. Naskah-naskah Merapi- Merbabu memang ditemukan di daerah pegunungan. Pada naskah yang bekolofon menunjukkan tempat penulisannya yaitu di sekitar lereng gunung Merapi dan Merbabu. Dari tempat penulisannya itu, dua sarjana yang telah meneliti naskah beraksara buda menamakan naskah beraksara buda dengan sebutan naskah koleksi Merapi-Merbabu (Witlem van der Molen 1983 dan Kuntara 1990).
Antropologi dan Psikologi Kodiran Kodiran
Humaniora No 1 (1995)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1240.664 KB) | DOI: 10.22146/jh.1988

Abstract

Sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan kemasyarakatan dan kemanusiaan, sesungguhnya antropologi itu merupakan suatu intregasi dari ilmu-ilmu pengetahuan yang masing-masing mempelajari makhluk manusia. Proses pengintegrasian ini terjadi malalui suatu proses perkembangan yang amat panjang dan sudah dimulai sejak kira-kira pada awal abad ke 19 yang lalu. Sedangkan di masa-masa menjelang perang dunia kedua, dan terutama saat-saat sesudahnya, terjadilah suatu intregasi secara resmi dan kerjasama yang lebih luas antara ilmu-ilmu antropologi, psikologi, dan sosiologi.
Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Pemakai Helm: Mahasiswa Pengendara Sepeda Motor Naniek Kasniyah
Humaniora No 1 (1995)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1210.051 KB) | DOI: 10.22146/jh.1989

Abstract

Salah satu faktor pendorong untuk melaksanakan penelitian tentang Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Pemakai Helm: Mahasiswa Pengendara Sepeda Motor adalah Undang-Undang No. 14/1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Bernas, 1993:1 ) diberlakukan olen Pemerintah. Data statistik Propinsi DIY menunjukkan bahwa angka kecelakaan lalu lintas didominasi oleh kelompok umur muda antara 16-21 tahun dan umur 22-30 tahun, di samping berdasarkan jenis kendaraan yang terlibat, korban paling besar adalah kecelakaan sepeda motor (1988: 140-141). Selain dua alasan tersebut di atas, predikat kota Yogyakarta sebagai kota pelajar dan kendaraan yang digunakan mereka adalah sepeda dan sepeda motor; namun sepeda jumlahnya semakin menyusut. Selanjutnya, data dari Biro Pusat Statistik menunjukkan bahwa sepeda motor semakin umum digunakan pelajar, terutama mahasiswa yang secara terus-menerus meningkat jumlahnya (1988:430).
Fragmentasi Tenaga Kerja dan Upah Buruh Industri Pedesaan (Studi Kasus Industri Cor Logam di Klaten, Jawa Tengah) Pande Made Kutanegara
Humaniora No 1 (1995)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (974.941 KB) | DOI: 10.22146/jh.1990

Abstract

Hingga pertengahan tahun 1994, dunia industri pada umumnya dan ketenagakerjaan diwarnai dengan pemogokan buruh, demontrasi dan unjuk rasa yang berkepanjangan. Bagi sebagian besar buruh, aksi-aksi yang berkepan}angan tersebut merupakan alternatif terakhir yang dapat dilakukan setelah beberapa upaya yang lain gagal untuk mengurangi dominasi pengusaha dalam segala hal terhadap buruh. Pokok permasalahannnya tidak lain adalah ketimpangan pendapatan yang sangattinggi antara pengusaha di satu sisi dengan pekerja di sisi yang lain. Sebagian besar kaum buruh memperoleh upah jauh di bawah garis kebutuhan fisik minimum mereka. Kondisi ini menjadi lebih parah lagi dengan sering munculnya perlakuan yang tidak manusiawi dari pengusaha terhadap buruh.
Evolusi Teknologi Subsistensi Pujo Semedi H. Yuwono
Humaniora No 1 (1995)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2230.584 KB) | DOI: 10.22146/jh.1991

Abstract

Pada tulisan ini akan disajikan bahasan tentang teknologi subsistensidalam perspektif evolusi. Dalam tulisan ini tidak hanya diuraikan perubahan teknologi subsistensi, tetapi juga efek keberadaan suatu bentuk teknologi subsistensi terhadap kondisi unsur-unsur kebudayaan yang lain. Tiga tipe teknologi subsistensi akan akan dipaparkan pada tutisan ini, yakni berburu meramu di kalangan masyarakat primitif; perladangan pada masyarakat tribal, dan; pertanian intensif di kalangan peasant.

Page 1 of 2 | Total Record : 16


Filter by Year

1995 1995


Filter By Issues
All Issue Vol 37, No 1 (2025) Vol 36, No 2 (2024) Vol 36, No 1 (2024) Vol 35, No 2 (2023) Vol 35, No 1 (2023) Vol 34, No 2 (2022) Vol 34, No 1 (2022) Vol 33, No 3 (2021) Vol 33, No 2 (2021) Vol 33, No 1 (2021) Vol 32, No 3 (2020) Vol 32, No 2 (2020) Vol 32, No 1 (2020) Vol 31, No 3 (2019) Vol 31, No 2 (2019) Vol 31, No 1 (2019) Vol 30, No 3 (2018) Vol 30, No 2 (2018) Vol 30, No 1 (2018) Vol 29, No 3 (2017) Vol 29, No 2 (2017) Vol 29, No 1 (2017) Vol 28, No 3 (2016) Vol 28, No 2 (2016) Vol 28, No 1 (2016) Vol 27, No 3 (2015) Vol 27, No 2 (2015) Vol 27, No 1 (2015) Vol 26, No 3 (2014) Vol 26, No 2 (2014) Vol 26, No 1 (2014) Vol 25, No 3 (2013) Vol 25, No 2 (2013) Vol 25, No 1 (2013) Vol 24, No 3 (2012) Vol 24, No 2 (2012) Vol 24, No 1 (2012) Vol 23, No 3 (2011) Vol 23, No 2 (2011) Vol 23, No 1 (2011) Vol 22, No 3 (2010) Vol 22, No 2 (2010) Vol 22, No 1 (2010) Vol 21, No 3 (2009) Vol 21, No 2 (2009) Vol 21, No 1 (2009) Vol 20, No 3 (2008) Vol 20, No 2 (2008) Vol 20, No 1 (2008) Vol 19, No 3 (2007) Vol 19, No 2 (2007) Vol 19, No 1 (2007) Vol 18, No 3 (2006) Vol 18, No 2 (2006) Vol 18, No 1 (2006) Vol 17, No 3 (2005) Vol 17, No 2 (2005) Vol 17, No 1 (2005) Vol 16, No 3 (2004) Vol 16, No 2 (2004) Vol 16, No 1 (2004) Vol 15, No 3 (2003) Vol 15, No 2 (2003) Vol 15, No 1 (2003) Vol 14, No 3 (2002) Vol 14, No 2 (2002) Vol 14, No 1 (2002) Vol 13, No 3 (2001) Vol 13, No 1 (2001) Vol 12, No 3 (2000) Vol 12, No 2 (2000) Vol 12, No 1 (2000) Vol 11, No 3 (1999) Vol 11, No 2 (1999) Vol 11, No 1 (1999) Vol 10, No 1 (1998) No 9 (1998) No 8 (1998) No 6 (1997) No 5 (1997) No 4 (1997) No 3 (1996) No 2 (1995) No 1 (1995) No 1 (1994) No 3 (1991) No 2 (1991) No 1 (1989) More Issue