cover
Contact Name
Elan Ardri Lazuardi,
Contact Email
humaniora@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
humaniora@ugm.ac.id
Editorial Address
Humaniora Office d.a. Fakultas Ilmu Budaya UGM, Gedung G, Lt. 1 Jalan Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281 Indonesia
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Humaniora
ISSN : 08520801     EISSN : 23029269     DOI : 10.22146/jh
Core Subject : Humanities,
Humaniora focuses on the publication of articles that transcend disciplines and appeal to a diverse readership, advancing the study of Indonesian humanities, and specifically Indonesian or Indonesia-related culture. These are articles that strengthen critical approaches, increase the quality of critique, or innovate methodologies in the investigation of Indonesian humanities. While submitted articles may originate from a diverse range of fields, such as history, anthropology, archaeology, tourism, or media studies, they must be presented within the context of the culture of Indonesia, and focus on the development of a critical understanding of Indonesia’s rich and diverse culture.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 3 (2001)" : 11 Documents clear
Implikatur Dalam Wacana Pokok I Dewa Putu Wijana
Humaniora Vol 13, No 3 (2001)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1145.876 KB) | DOI: 10.22146/jh.727

Abstract

Pragmatik sebagai kajian struktur eksternal bahasa mengamati berbagai aspek pemakaian bahasa dalam situasi yang kongkret. Situasi yang kongkret dalam hal ini mengandaikan sebuah tuturan benar-benar dipandang sebagai produk sebuah tindak tutur yang jelas konteks lingual (kooteks) dan konteks ekstralingual (konteks)nya. Konteks ekstralingual digunakan untuk mengungkapkan maksud (makna penutur) yang tersembunyi di balik sebuah ujaran. Walaupun sering disinggung pentingnya peranan konteks esktralingual di dalam kajian cabang ilmu bahasa yang lain, pemanfaatannya agaknya memiliki perbedaan yang cukup mendasar. Sesuai dengan judulnya, tulisan ini membahas implikatur wacana pojok yang terdapat pada harian Kedaulatan Rakyat (khususnya yang terbit pada Januari s.d. Oktober 2001) dan aneka tindak tutur yang dipergunakan untuk menyampaikannya
Systemic Functional Linguistics: Meaning Carriers In Functional Grammar Ferry Adenan
Humaniora Vol 13, No 3 (2001)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2124.51 KB) | DOI: 10.22146/jh.728

Abstract

Emeritus Professor M.A.K Halliday, founding Professor of Linguistics at the University of Sydney, Australia, is often regarded as the linguist responsible for the development of systemic functional linguistics. Systemic functional linguistics is a comprehensive descriptive model of language and language use which has been evolving for many years. It is still evolving as applied linguists continue to research and reflect on the way human beings use language to make meaning in social contexts. Educators and linguists are both concerned with SFL. Educators would like to know how people learning the language can follow native speakers of the language to use the language. Therefore, SFL is to build a discipline of educational linguistics. In practice educational linguistics may mean, “learning language, learning through language, learning about language”, (Cope, B. et. Al. 1993). Educational linguistics brings linguists and educators together to deepen their insight about language and language use and to easen their professional duties. SFL is ‘systemic’ because whenever a feature of language is described it is described as one choice from a set of possible choices within a particular language system which itself is part of a network of systems that make up the language. The systems are related in a kind of hierarchy making it possible to describe an aspect of language at whatever level of detail is the most useful. Language users are constantly making choices from the set of systems which make up the complete resource of language and then putting these choices into effect through the structure of the language they use. Understanding this process can provide very useful insight for language teachers and users.
Metafor Ricoeurian: Penerobosan Dunia Simbolik Cerpen "Rumah Yang Terbakar" Karya Kuntowijoyo Rudi Ekasiswanto
Humaniora Vol 13, No 3 (2001)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1457.614 KB) | DOI: 10.22146/jh.729

Abstract

Cerpen Kuntowijoyo selama tiga tahun berturut-turut memperoleh predikat “Cerpen Terbaik Kompas”, tahun 1995 dengan cerpen “Laki-Laki yang Kawin dengan Peri”, tahun 1996 dengan cerpen “Pistol Perdamaian”, dan tahun 1997 dengan cerpen “Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan”. Ketiga cerpen itu kemudian dihimpun dalam kumpulan cerpen yang diberi judul Hampir Sebuah Subversi (Kuntowijoyo, 1999). Kriteria pemilihan terbaik itu bukan tanpa alasan. Ketiganya memakai gaya bahasa yang bersahaja. Unsur permainan dan bermain-mainnya dengan kata tidak terlalu kentara. Hal ini sangat membantu kemungkinan terbangunnya seni wantah oleh Kuntowijoyo. Dalam “Pengantar Penulis”, Kuntowijoyo menulis, “Secara jujur harus dikatakan bahwa saya menulis begitu saja, yang saya rasa baik, tanpa resep-resep” (1999: xii). Kuntowijoyo hampir selalu menggunakan ciri simbolis dalam karya-karyanya, dan berusaha mengangkat realitas kehidupan ke dalam cerita yang tampaknya biasa. Judul-judul cerpennya telah menyiratkan tema yang diangkat ke dalam karya-karyanya. Namun, judul-judul itu pun simbolis sehingga mengandung pemaknaan yang sangat dalam, begitu juga cerpen “Rumah Yang Terbakar” yang terdapat dalam kumpulan cerpen Hampir Sebuah Subversi. Cerpen “Rumah Yang terbakar” sebagai salah satu cerpen pilihan Kompas yang dibukukan bersama 24 cerpen lainnya selama 1994 - 1998 sangat sarat dengan unsur simbolisasi. Namun, semuanya itu merupakan representasi dari potret masyarakat Indonesia masa Orde Baru yang berhasil digambarkan oleh Kuntowijoyo. Secara simbolis pula makna yang dikandungnya dikemas dalam gaya bahasa yang sederhana, menarik, pas, dan enak dibaca.
Sastra Dan Perkembangan Politik Di Jawa Abad XVIII Alex Sudewa
Humaniora Vol 13, No 3 (2001)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2500.104 KB) | DOI: 10.22146/jh.730

Abstract

Zoetmulder (1983 : 182 ) di dalam bukunya Kalangwan, yang membuai karena datanya yang lengkap dan bahasanya yang indah dan menarik, mengajak pembacanya bertamasya menelusuri taman keindahan sastra Jawa Kuna. Secara tidak terasa, pembaca diajak menelusuri dunia sastra budaya Jawa Kuna secara menyeluruh. Di sela-sela panduan wisata sastranya itu, sang mahaguru kerapkali menyisipkan tantangan yang halus menggelitik agar pembacanya tertarik kepada masalah sejarah sastra yang belum terpecahkan. Salah satu masalah yang dirumuskannya ialah di antara syair-syair Jawa Kuna yang diselamatkan bagi kita tak ada satu pun yang dapat membanggakan seorang raja atau pangeran sebagai penciptanya, berlainan dengan sastra Jawa di kemudian hari, yaitu dari periode Surakarta (akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19) yang dapat menunjukkan raja-raja di antara para penyairnya seperti Pakubuwana III dan IV serta Mangkunegara IV. Tampilnya tokoh raja atau kerabat kraton sebagai penulis karya sastra berarti bahwa kewibawaan para pujangga yang di zaman Jawa Kuna bertindak sebagai pendeta magi bahasa, yang dibutuhkan untuk mendukung kewibawaan raja, telah didesak bahkan direbut oleh kekuasaan militer politik kraton. Dengan demikian, kraton telah merupakan pemusatan kekuasaan militer politik dan kekuasaan intelektual religius. Sudah barang tentu perkembangan semacam itu, selain timbulnya didorong oleh suatu sebab yang signifikan di dalam sejarah budaya Jawa, akan juga besar pengaruhnya di dalam perkembangan kehidupan sosial budaya di masa yang akan datang, Jawa khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Pemusatan dua macam kekuasaan itu dalam diri raja – kraton – perlu dilacak; faktor-faktor yang menjadi pendorongnya serta bagaimana proses terjadinya.
Karya Sastra Perancis Abad ke-18 Madame Bovary dan Resepsinya di Indonesia Siti Hariti Sastriyani
Humaniora Vol 13, No 3 (2001)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1556.875 KB) | DOI: 10.22146/jh.731

Abstract

Masuknya karya-karya sastra Perancis pada abad ke-19 mendapatkan sambutan dan tanggapan di Indonesia masa kini. Sambutan dan tanggapan tersebut berupa adanya pembaca Indonesia yang merespons karya-karya sastra Perancis melalui hasil karya terjemahan, kritik-kritik, ataupun pengaruh terhadap lahirnya karya-karya sastra Indonesia. Karya sastra Perancis pada abad ke-19 yang berjudul Madame Bovary mendapat sambutan dan tanggapan-tanggapan di Indonesia. Sambutan dan tanggapan-tanggapan terhadap karya sastra tersebut merupakan hal yang perlu dibahas. Tujuannya ialah untuk mengungkapkan bagaimana resepsi masyarakat Indonesia terhadap karya sastra Madame Bovary dan peran teks karya sastra Perancis tersebut dalam sejarah perkembangannya.
Tradisi Mantra Kelompok Etnik Using Di Banyuwangi Heru SP Saputra
Humaniora Vol 13, No 3 (2001)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1654.377 KB) | DOI: 10.22146/jh.732

Abstract

Secara empiris, pemetaan kebudayaan dan tradisi di wilayah Jawa Timur dapat dipilah menjadi enam variasi regional kebudayaan, yaitu: (1) kebudayaan Arek, (2) kebudayaan Tengger, (3) kebudayaan Madura, (4) kebudayaan Mataraman, (5) kebudayaan Pendalungan, dan (6) kebudayaan Using.1 Tiap-tiap variasi regional kebudayaan tersebut memiliki ciri khas sesuai dengan dinamika dan dialektika historis dan geografis wilayah budayanya. Namun, peta budaya seringkali melampaui batas wilayah peta geografis sehingga batas geografis peta budaya cenderung tidak dapat ditetapkan secara tegas. Salah satu variasi regional kebudayaan Jawa Timur yang kini menarik perhatian adalah kebudayaan Using. Daya tarik itu setidak-tidaknya dipicu oleh rasa keingintahuan tentang eksistensi budaya Using, terutama setelah terjadinya heboh kasus pembantaian orang-orang yang diduga sebagai dukun santet di Banyuwangi, Oktober 1998. Kasus tersebut seakan-akan melegitimasi bahwa wilayah yang terletak di daerah “tapal kuda” itu menjadi salah satu basis utama perdukunan di Jawa Timur. Tulisan berikut mengkaji tradisi mantra Using. Dalam kajian ini juga dideskripsikan karakteristik budaya Using, keunikan jenis magi, kekuatan mistik, unsur religiositas, moralitas, dan pranata sosial tradisional.
Tradisi Macapatan Di Boyolali Djarot Heru Santosa
Humaniora Vol 13, No 3 (2001)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1497.535 KB) | DOI: 10.22146/jh.733

Abstract

Kekayaan kebudayaan nasional Indonesia akan berkembang manakala kita mau berpartisipasi dalam ikut serta mengungkap unsur-unsur pendukungnya. Unsur-unsur itu di antaranya adalah kebudayaan lokal atau daerah yang bisa meliputi kesusastraan dan keseniannya. Kesenian sebagai salah satu unsur kebudayaan universal memiliki bermacam-macam jenis, antara lain seni, musik, seni suara, seni tari, seni pedalangan, dan lain-lain. Kesenian juga merupakan kesanggupan akal manusia untuk menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi. Seni tradisi macapatan merupakan salah satu bentuk penyajian sastra lisan di Jawa yang termasuk dalam gradasi pembacaan sastra murni. Tradisi macapatan ini di samping mengandung unsur seni sastra, juga nilai-nilai, isi, dan makna yang bernilai tinggi bagi masyarakat. Bahkan, nilai itu menjadi pedoman bagi masyarakat pendukungnya untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan fungsi bagi kehidupan budaya masyarakat pendukungnya. Sentuhan tradisi seperti ini dalam kehidupan masyarakat pada saat sekarang merupakan hal yang menarik untuk dikaji.
Urbanisasi Dan Dampaknya Terhadap Lingkungan . Ischak
Humaniora Vol 13, No 3 (2001)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1725.48 KB) | DOI: 10.22146/jh.734

Abstract

Melihat gemerlapnya cara hidup orang kota dan kehidupan kota, menarik minat orang desa untuk pergi ke kota. Mereka, orang desa, ingin pergi ke kota karena di kota banyak hiburan, banyak lapangan kerja, dan kelihatan mudah mencari uang. Kepergian penduduk desa ke kota untuk mengadu nasib tidaklah menjadi masalah manakala mereka mempunyai keterampilan tertentu yang dibutuhkan di kota. Namun, kenyataannya ialah banyak di antara mereka yang datang ke kota tanpa keterampilan kecuali bertani. Oleh karena itu, sulit bagi mereka untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Terpaksa mereka bekerja sebagai buruh harian, penjaga malam, pembantu rumah tangga, tukang becak, dan pekerjaan lain yang sejenis. Bahkan, mereka yang gagal memperoleh pekerjaan sejenis itu menjadi tunakarya, tunawisma, dan tunasusila. Hal itu mendorong mereka melakukan perbuatan yang kurang benar. Misalnya, mendirikan gubuk-gubuk liar di tepi jalur kereta api, di daerah-daerah jalur hijau, dan di daerah-daerah bantaran sungai. Di sisi lain, urbanisasi menyebabkan pertambahan penduduk kota semakin cepat. Hal itu mendorong dibukanya pusat-pusat perdagangan, pusat-pusat industri, dan dikembangkannya fasilitas transportasi, komunikasi, kesehatan, dan pendidikan. Dari gambaran di atas tidaklah salah apabila dikatakan bahwa urbanisasi mempunyai dampak positif dan negatif terhadap lingkungan. Sebelum dibahas dampak positif maupun negatif urbanisasi terhadap lingkungan.
Bioarkeologi: Integrasi Dinamis Antara Antropologi Biologis dan Arkeologi Etty Indriati
Humaniora Vol 13, No 3 (2001)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1681.723 KB) | DOI: 10.22146/jh.735

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menguraikan informasi biologis yang terkandung dalam rangka dan gigi manusia dari situs arkeologis. Uraian substansi biologis dalam rangka penting sebagai bagian integratif antropologi biologis dan arkeologi untuk merekonstruksi budaya masyarakat lampau. Pada penggalian situs arkeologis, seringkali temuan artifak disertai temuan tulang dan gigi. Temuan tulang ini, oleh antropologi biologis (antropologi ragawi) acapkali dipublikasikan terpisah dari laporan arkeologi, yang publikasi ini seringkali tidak terbaca oleh arkeologi. Dengan demikian, penelitian antropologi biologis menjadi out of context dari arkeologinya. Sebaliknya, arkeolog mempublikasikan hasil penelitian artifaknya terpisah dari pemeriksaan tulang temuan meskipun keduanya digali dari situs yang sama. Alat-alat seperti gerabah, alat batu, perunggu, dan besi dari situs arkeologis tidak ada dengan sendirinya, tetapi dibuat oleh manusia. Oleh karenanya, analisis produk budaya dan produktornya harus terintegrasi bila kita berupaya mempelajari budaya mereka. Pendekatan terintegrasi ini sekarang lazim dikenal dengan istilah bioarkeologi. Bioarkeologi pertama kali diperkenalkan di kalangan akademik pada tahun 1977 oleh Jane E. Buikstra pada simposium yang didesain untuk meningkatkan komunikasi dan kerja sama antara antropologi biologis dan arkeologi di Amerika Serikat bagian Tenggara yang kaya akan situs arkeologis. Simposium ini melahirkan buku Biocultural Adaptation in Prehistoric America, diterbitkan oleh University of Georgia Press (Blakeley et.al., 1977). Dalam bioarkeologi, data rangka manusia penting untuk menjawab pertanyaan kunci mengenai perkembangan budaya, misalnya efek perkembangan populasi menuju ke organisasi sosial yang kompleks, dan terminasi kultural karena penyakit endemik, dan adanya endogami atau exogami yang diperiksa dengan ciri metrik dan nirmetrik pada rangka.
Gawai Dayak Dan Fanatisme Rumah Panjang Sebagai Penelusuran Identitas Herman Ivo
Humaniora Vol 13, No 3 (2001)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1408.05 KB) | DOI: 10.22146/jh.736

Abstract

Gawai Dayak merupakan satu-satunya peristiwa budaya Dayak yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun di kota Pontianak, Kalimantan Barat. Dalam gawai, selain acara inti yakni nyangahathn (pembacaan mantra), juga ditampilkan berbagai bentuk budaya tradisional seperti berbagai upacara adat, permainan tradisional, dan berbagai bentuk kerajinan yang juga bernuansa tradisional. Penyajian berbagai unsur tradisional, selama Gawai Dayak, menjadikannya sebagai event yang eksotis di tengah masyarakat perkotaan yang modern. Gawai Dayak bukanlah peristiwa budaya yang murni tradisional, baik dilihat dari tempat pelaksanaan maupun isinya. Gawai Dayak merupakan perkembangan lebih lanjut dari acara pergelaran kesenian Dayak yang diselenggarakan pertama kalinya oleh Sekretariat Bersama Kesenian Dayak (Sekberkesda) pada tahun 1986. Perkembangan tersebut kuat dipengaruhi oleh semangat upacara syukuran kepada Jubata yang dilaksanakan masyarakat Dayak Kalbar setiap tahun setelah masa panen. Upacara adat syukuran sehabis panen ini dilaksanakan oleh masyarakat Dayak dengan nama berbeda-beda. Orang Dayak Hulu menyebutnya dengan Gawai, di Kabupaten Sambas dan Bengkayang disebut Maka’ Dio, sedangkan orang Dayak Kayaan, di Kampung Mendalam, Kabupaten Putus Sibau menyebutnya dengan Dange.

Page 1 of 2 | Total Record : 11


Filter by Year

2001 2001


Filter By Issues
All Issue Vol 37, No 1 (2025) Vol 36, No 2 (2024) Vol 36, No 1 (2024) Vol 35, No 2 (2023) Vol 35, No 1 (2023) Vol 34, No 2 (2022) Vol 34, No 1 (2022) Vol 33, No 3 (2021) Vol 33, No 2 (2021) Vol 33, No 1 (2021) Vol 32, No 3 (2020) Vol 32, No 2 (2020) Vol 32, No 1 (2020) Vol 31, No 3 (2019) Vol 31, No 2 (2019) Vol 31, No 1 (2019) Vol 30, No 3 (2018) Vol 30, No 2 (2018) Vol 30, No 1 (2018) Vol 29, No 3 (2017) Vol 29, No 2 (2017) Vol 29, No 1 (2017) Vol 28, No 3 (2016) Vol 28, No 2 (2016) Vol 28, No 1 (2016) Vol 27, No 3 (2015) Vol 27, No 2 (2015) Vol 27, No 1 (2015) Vol 26, No 3 (2014) Vol 26, No 2 (2014) Vol 26, No 1 (2014) Vol 25, No 3 (2013) Vol 25, No 2 (2013) Vol 25, No 1 (2013) Vol 24, No 3 (2012) Vol 24, No 2 (2012) Vol 24, No 1 (2012) Vol 23, No 3 (2011) Vol 23, No 2 (2011) Vol 23, No 1 (2011) Vol 22, No 3 (2010) Vol 22, No 2 (2010) Vol 22, No 1 (2010) Vol 21, No 3 (2009) Vol 21, No 2 (2009) Vol 21, No 1 (2009) Vol 20, No 3 (2008) Vol 20, No 2 (2008) Vol 20, No 1 (2008) Vol 19, No 3 (2007) Vol 19, No 2 (2007) Vol 19, No 1 (2007) Vol 18, No 3 (2006) Vol 18, No 2 (2006) Vol 18, No 1 (2006) Vol 17, No 3 (2005) Vol 17, No 2 (2005) Vol 17, No 1 (2005) Vol 16, No 3 (2004) Vol 16, No 2 (2004) Vol 16, No 1 (2004) Vol 15, No 3 (2003) Vol 15, No 2 (2003) Vol 15, No 1 (2003) Vol 14, No 3 (2002) Vol 14, No 2 (2002) Vol 14, No 1 (2002) Vol 13, No 3 (2001) Vol 13, No 1 (2001) Vol 12, No 3 (2000) Vol 12, No 2 (2000) Vol 12, No 1 (2000) Vol 11, No 3 (1999) Vol 11, No 2 (1999) Vol 11, No 1 (1999) Vol 10, No 1 (1998) No 9 (1998) No 8 (1998) No 6 (1997) No 5 (1997) No 4 (1997) No 3 (1996) No 2 (1995) No 1 (1995) No 1 (1994) No 3 (1991) No 2 (1991) No 1 (1989) More Issue