cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sain Veteriner
ISSN : 012660421     EISSN : 24073733     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 20, No 1 (2002): Juli" : 13 Documents clear
Pengaruh fotoperiode terhadap saluran pencernaan ayam pedaging jantan Amelia Hana
Jurnal Sain Veteriner Vol 20, No 1 (2002): Juli
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.281

Abstract

fotoperiode, saluran pencernaan, ayam pedaging jantan
DISTRIBUSI Culicoides spp. (DIPTERA: CERATOPOGONIDAE) PADA PETERNAKAN AYAM PETELUR DI KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA = A DISTRIBUTION OF Culicoides spp. (Dag bRA: CERATOPOGONIDAE) ON THE LAYER POULTRY FARMS IN SLEMAN REGEN Ana Sahara; Dwi Priyowidodo
Jurnal Sain Veteriner Vol 20, No 1 (2002): Juli
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5330.004 KB) | DOI: 10.22146/jsv.315

Abstract

Telah diteliti distribusi spesies Culicoides yang ada di kitar peternakan ayam petelur di Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui spesies-spesies Culicoides yang mempunyai peranan dalam menyebarkan penyakit leukositozoonosis pada ayam petelur. Sebanyak 762 ekor Culicoides (Diptera: Ceratopgonidae) dikumpulkan dari dua belas peternakan ayam petelur di wilayah Kabupaten Sleman dengan menggunakan perangkap serangga Pirbright type rniniatur light trap. Culicoides yang diperoleh dikelompokkan dan diidentiflkasi berdasarkan karakter morfologis menurut Wirth den Hubert. Basil penelitian menunjukkan tidal( ada perbedaan populasi Culicoides dari petemakan ayam petelur yang ada di wilayah Kabupaten Sleman pada dataran rendah maupun dataran tinggi. Ada delapan spesies Culicoides yang diperoleh dari petenakan ayam petelur di Kabupaten Sleman yang berhasil diidentifikasi yaitu: C. lye, C. guttifer, C. arakawae, C. oxystoma, C. parahumeralis, C. peregrinus, C. sumatrae dan C. clavipalpis. Spesies Culicoides yang dicurigai sebagai penyebar penyakit leukositozoonosis di Kabupaten Sleman adalah C. huffi, C. guitifer , dan C.arakawae .
EFEKTIVITAS IVERMECTIN DAN FIPRONIL DALAM MENGATASI SERANGAN CAPLAK PADA ANJING = THE EFFECTIVENESS OF IVERMECTIN AND F1PRONIL FOR TICK ERADICATION IN DOG Hary Purnamaningsih; Ida Tjahajati
Jurnal Sain Veteriner Vol 20, No 1 (2002): Juli
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3795.156 KB) | DOI: 10.22146/jsv.316

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui efektivitas ivermectin dan fipronil dalam mengatasi serangan caplak pada anjing. Penelitian. menggunalcan 16 ekor anjing dengan !criteria bebas parasit, baik ektoparasit maupun endoparasit. Anjing dibagi secara acak menjadi 4 kelompok, masing-masing 4 ekor. Kelompok I dan 11 dibuat sebagai kelompok infestasi ringan, dan kelompok dan IV sebagai kelompok berat. Kelompok I dan m diberi pengobatan injeksi subkutan ivermectin 1% dengan dosis 400 µg/kg BB. Kelompok II dan IV diberi pengobatan fipronil 3 ml/kg BB dengan cara disemprotkan pada anjing dan diratakan dengan telapak tangan. Pengobatan diulang selang 4 minggu untuk menghindari terjadinya infestasi ulang. Waktu hilangnya caplak terns diikuti, dengan jalan menghitung jumlah caplak dewasa setiap hari sekali, sejak pemberian obat pertama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pengobatan denganfipronil lebih efektif dibandingkan dengan ivermectin, untuk infestasi caplak ringan, (2) pengobatartfiprond pada infestasi caplak ringan, akan lebih efektif dengan pemberian dua kali selang 4 minggu.
EFEKTIVITAS DORAMECTIN UNTUK PENGOBATAN SKABIES PADA KUCING = THE EFFECTIVENESS OF DORAMECTIN FOR SCABIES TREATMENT IN CAT Ida Tjahajati
Jurnal Sain Veteriner Vol 20, No 1 (2002): Juli
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5039.204 KB) | DOI: 10.22146/jsv.317

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui efektivitas doramectin dalam pengobatan skabies pada kucing. Penelitian menggunakan kucing yang menderita skabies dengan infestasi terbatas pada daerah kepala sebanyak 15 ekor, dibagi dalam 3 kelompok masing-masing 5 ekor. Kelompok I, II dan HI berturut-turut diinjeksi subkutan doramectin dengan dosis 150 [tg, 200 pg dan 250 ug/kg berat badan. Pengobatan diulang apabila kucing masih menunjukkan positif adanya tungau pada pemeriksaan mikroskopis. Perkembangan penyakit diamati sampai 2 minggu setelah pengobatan. Peng,amata.n meliputi perubahan lesi pada kulit, hasil pemeriksaan kerokan kulit secara mikroskopis, dan gambaran darah sebelum dan sesudah pengobatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis 150 µg/kg BB tidak efektif mengatasi skabies pada kucing, sedang dosis 200 p.g/kg dan 250 ug efektif membasmi skabies pada kucing. Doramectin dosis 200 1./g/kg berat badan dapat digunakan sebagai alternatif untuk pengobatan skabies pada kucing.
PENENTUAN DAN ANALISIS SECARA MOLEKULER DAM STRAIN Schistosoma japonicum (TREMATODA) DI INDONESIA = DETERMINATION AND MOLECULAR ANALYSIS OF STRAIN OF Schistosoma japonicum (TREMATODA) IN INDONESIA Kurniasihl .; F.A. Sudjadi; Bambang Sumiarto; Susan M. Noor
Jurnal Sain Veteriner Vol 20, No 1 (2002): Juli
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6422.735 KB) | DOI: 10.22146/jsv.318

Abstract

Schistosomiasis adalah penyakit endemik yang dapat menyerang manusia dan hewan di sekitar danau Lindu dan lembah Napu, Sulawesi Tengah, Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemungkinan adanya variasi intra-spesies dari cacing dewasa Schistosoma japonicwn berasal dari Indonesia. Tikus liar dan siput, Oncomelania hupensis lindoensis, diambil dari danau Lindu dan lembah Napu, Sulawesi Tengah. Serkaria S. japonicum yang keluar dari siput kemudian di infeksikan ke lima ekor mencit untuk pengamatan cacing dewasa dan perubahan histopatologi semua organ. Serkaria dan owing dewasa diamati morfologinya, sebagian cacing dewasa di fiksasi dengan larutan ethanol absolut untuk dilakukan ekstraksi rDNA, amplifikasi dengan PCR, atau analisis restriction length fragment polymorphism (RFLP) dengan enzim digesti dan elektrophoresis pada agarose. Ekstraksi rDNA caring jantan dan betina secara individual dengan metoda phenol chloroform dan amplifikasi rDNA. menunjukkan hasil band yang baik. Hasil analisis RFLP dengan menggunakan 3 enzim Windifi, EcoRI dan menunjukkan perbedaan strain S. japonicum yang berasal dari Napu dan Lindu. Variasi intra-spesies rDNA cacing dewasa dijumpai pula di lembah Napu.
PENGARUH PEMBERIAN AIR PERASAN DALIN PEPAYA PADA AYAM: II. RESPON PATOFISIOLOGIK HEPAR = THE EFFECTS OF PAPAYA LEAF EXTRACT ON CHICKENS: II. PATHOPHYSIOLOGIC AL CHANGES OF LIVER Mufti Kamaruddin; M. Nur Sabo
Jurnal Sain Veteriner Vol 20, No 1 (2002): Juli
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3117.884 KB) | DOI: 10.22146/jsv.319

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian air perasan dam pepaya dengan berbagai tingkatan dosis terhadap respon patofisiologik hepar ayam buras. Penelitian menggunakan 20 ekor ayam buras yang berumur 3 bulan dengan berat badan rata-rata (± SD) adalah 577 ± 69,97 gram. Hewan percobaan dikelompokkan secara acak merata dalam lima kelompok perlakuan, tiap-tiap kelompok terdiri dari empat ekor. Kelompok pertama sebagai kontrol hanya diberikan aquades (P0); kelompok kedua sampai kelompok lima diberi air perasaan daun pepaya dosis tunggal sebagai berikut: 1,5 ml (P1), 2,0 ml (P2), 2,5 nil (P3) dan 3,0 ml (P4). Untuk pembuatan perasan daun pepaya digunakan 400 g daun pepaya yang diekstraksi secara sederhana. Empat hturi setelab perlakuan ayam dikorbankan, dinekropsi dan dilakukan pemeriksaan hepar. Pemeriksaan dilakukan secara makroskopik dan mikroskopik. Preparat mikroskopik dibuat dengan metode parafin dan diwarnai dengan hematoksilineosin (HE). Hasil penelitian menunjukkan perubahan patologik pada hepar pada kelompok perlakuan P2„ P3 dan P4. Secara makroskopik pada hepar terlihat membengkak dan hiperemik, sedangkan secara mikroskopik struktur hepatositus teijadi degenerasi dengan gambaran inti pucat, hiperemi, hemoragi, dan koloni sel polimorfonuklear. Pada kelompok Po dan Pl tidak terlihat adanya perubahan makroskopik dan mikroskopik pada hepar ayam. Dari basil penelitian dapat disimpulkan bahwa dosis air perasan daun papaya 1,5 ml tidak menimbulkan perubahan patofisiologik, sedangkan pemberian pada dosis 2,0 nil, 2,5 ml dan 3,0 mi memperlihatkan perubahan patofisiologik pada hepar ayam buras. Semakin tinggi dosis pemberian air perasan daun pepaya yang diberikan pada ayam semakin besar perubahannya. Kata kunci: Air perasan daun pepaya; patofisiologik hepar
PENGARUH PEMBERIAN AIR PERASAN DAUN PEPAYA PADA AYAM: RESPON TERHADAP PATOFISIOLOGIK GINJAL = THE EFFECTS OF PAPAYA LEAF EXTRACT ON CHICKENS: III. KIDNEY PATHOPHYSIOLOGICAL RESPONSE Mufti Kamaruddin; M. Nur Salim
Jurnal Sain Veteriner Vol 20, No 1 (2002): Juli
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4994.734 KB) | DOI: 10.22146/jsv.320

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian air perasan daun pepaya dengan berbagai tingkatan dosis terhadap respon patofisiologik ginjal ayam buras. Penelitian menggunakan 20 ekor ayam buras yang berumur 3 bulan dengan berat badan rata-rata (± SD) adalah 577 ± 69,97 gram. Hewan percobaan dikelompokkan secara acak merata dalam lima kelompok perlakuan, tiap-tiap kelompok terdiri dari empat ekor. Kelompok pertama sebagai kontrol hanya diberikan aquades (Po); kelompok kedua sampai kelompok lima diberi air perasaan daun pepaya dosis tunggal sebagai berikut: 1,5 ml (P1), 2,0 ml (P2), 2,5 nil (P3) dan 3,0 ml (P4). Untuk pembuatan perasan daun pepaya digunakan 400 g daun pepaya yang diekstraksi secara sederhana. Empat hari setelah perlakuan ayam dibedah bangkai, dinekropsi dan dilakukan pemeriksaan ginjal. Pemeriksaan dilakukan secara makroskopik dan mikroskopik. Preparat mikroskopik dibuat dengan metode parafin dan diwamai dengan hematoksilin-eosin (HE). Hasil penelitian menunjukkan perubahan patologik pads ginjal pada kelompok perlakuan P2, P3 dan P4. Secara makroskopik pada ginjal terlihat membengkak dan hiperemik, dan secara mikroskopik struktur ginjal terjadi degenerasi epitel tubulus, hiperemi, hemoragi, dan koloni sel polimorfonuklear. Pada kelompok Po dan P1 tidak terlihat adanya perubahan makroskopik dan mikroskopik pada ginjal ayam. Dan basil penelitian dapat disinapulkan bahwa dosis air perasan daun pepaya 1,5 ml tidak menirnbulkan perubahan patofisiologik, sedangkan pemberian pada dosis 2,6 ml; 2,5 ml dan 3,0 ml memperlihatkan perubahan patofisiologik pada ginjal ayam buras. Semakin tinggi dosis pemberian air perasan daun pepaya yang diberikan pada ayam semakin besar perubahan pada ginjal. Kata kunci: Air perasan daun pepaya; patofisiologik ginjal
STUDI INFEKSI NEMATODA GASTROINTESTINAL PADA KAMBING DAN DOMBA DI RUMAH POTONG HEWAN BANDA ACEH = STUDY OF GASTROINTESTINAL NEMATODES INVESTING GOATS AND SHEEP AT THE BANDA ACEH SLAUGTHERHOUSE Muhammad Hanafiah; Winaruddin .; Rusli .
Jurnal Sain Veteriner Vol 20, No 1 (2002): Juli
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4521.346 KB) | DOI: 10.22146/jsv.389

Abstract

Telah dilakukan suatu penelitian untuk mengidentifikasi jenis-jenis parasit nematoda gastrointestinal yang menyerang kambing dan domba jantan lokal yang dipotong di Rumah Potong Hewan (RPH) Banda Aceh. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui jumlah masing-masing genus cacing yang menyerang kedua ternak tersebut. Masing-masing sebanyak 50 gastrointestinal kambing dan domba yang ada di RPH Banda Aceh ditentukan secara acak akan digunakan sebagai objek penelitian. Pemeriksaan terhadap cacing untuk keperluan identifikasi cacing nematoda gastrointestinal dilakukan setelah cacingcacing yang didapat dimasukkan ke dalam laktofenol selama 6 jam. Penentuan genus cacing nematoda gastrointestinal dilakukan sesuai dengan metode Soulsby (1982). Hasil identifikasi ternak kambing dan domba yang dipotong di RPH Banda Aceh menunjukkan bahwa kedua ternak tersebut sudah terinfestasi oleh cacing-cacing nematoda gastrointestinal. Adapun masingmasing genus untuk kambing adalah : Trichostrongylus spp, Oesophagustontum spp, Bunostomum spp, Chabertia spp, Trichuris spp dan Haemonchus spp. Sedangkan untuk domba cacing nematoda gastrointestinal dari genus: Gaigeria sp, Strongyloides spp, Bunostomum spp, Oesophagustomum spp, Haemonchus spp, Chabertia spp, dan Trichuris spp. Jumlah cacing nematoda gastrointestinal yang menyerang temak kambing sebanyak 514 ekor cacing sedangkan yang menyerang domba sebanyak 543 ekor cacing. Prilaku atau kebiasaan makan tidak signifikan (P > 0,05) terhadap jumlah cacing.nematoda gastrointestinal.
KARAKTERISASI AWAL BAKTERIOSIN PRODUKSI BAKTERI ASAM LAKTAT YANG DIISOLASI DART PLIEK U = THE PRELIMINARY CHARACTERIZATION OF BAC 1ERIOCIN PRODUCED BY LACTIC ACID BACTERIA ISOLATED FROM PLIEK U Nurliana .; Suzanna Rabfiani; M. Hanafiah
Jurnal Sain Veteriner Vol 20, No 1 (2002): Juli
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5028.642 KB) | DOI: 10.22146/jsv.390

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengamati ciri-ciri senyawa aktif yang terkandung dalam supernatan bakteri asam laktat yang diisolasi dari pliek u akibat penambahan enzim proteolitik dan pemanasan. Pengujian ulang aktivitas hambatan dan uji sensitivitas supernatan isolat PBI (bakteri asam laktat) yang diduga mengandung bakteriosin menggunakan metode pour plate (overlay dan metoda sumur). Media untuk menumbuhkan isolat PBI digunakan MRS broth dimodifikasi dengan penambahan tween 80 dan yeast extract, dan juga menggunakan media agar MRS . Media untuk bakteri indikator (Listeria monocylogenes) menggunakan agar Bill 0.75 %. Pengaruh enzim pepsin dan tripsin kosentrasi 1 mg/ml setelah dicampur dengan supernatan isolat PBI (v/v) diuji terhadap sensitivitas bakteriosin. Uji sensitivitas terhadap pemanasan dilakukan pada suhu 60,80,100 dan 120°C selama 10 dan 12 menit, Data dianalisi secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa supernatan isolat BAL PBI diduga mengeluarkan senyawa bioalctif (bakteriosin), karena mampu menghambat L. Monocytogenes dengan aktivitas hambatan sebesar 3 mm, dan juga sensitif terhadap pepsin dan tripsin, serta tidak sensitif pada pemanasan 60,80°C selama 10 dan 15 menit, tetapi sensitif pada pemanasan 100°C dan 120°C.
PENGARUH PEMBERIAN VITAMIN E TERHADAP KADAR MALONDIALDEHID PLASMA PADA TIKUS YANG DIBERI PAKAN LEMAK TINGGI = THE EEtiECT OF VITAMIN E ON THE PLASMA MALONDIALDEHYDE CONCENTRATION ON RAT FED HIGH FAT DIET Sapto Yuliani; Wasito .; Hastari Wuryastuti
Jurnal Sain Veteriner Vol 20, No 1 (2002): Juli
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5738.944 KB) | DOI: 10.22146/jsv.391

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian vitamin E terhadap kadar malondialdehid plasma pada tikus Wistar yang diberi pakan lemak tinggi. Tigapuluh ekor tikus umur 3 bulan dengan berat badan berkisar antara 182-250 gram, dibagi secara acak menjadi 6 kelompok masing-masing 5 ekor. Kelompok 1 diberi pakan basal (kontrol), kelompok II diberi pakan lemak tinggi dan vitamin E 301U, kelompok 111 pakan lemak tinggi dan vitamin E 60 11.1, kelompok IV diberi pakan lemak tinggi dan vitamin E 120 1U, kelompok V diberi pakan lemak tinggi dan vitamin E 240 IU, kelompok VI diberi pakan lemak tinggi dan vitamin E 480 IU, ad libitum selama 12 minggu. Sebelum perlakuan darah diambil dan semua tikus untuk pemeriksaan kadar MDA plasma dan vitamin E serum. Pemeriksaan darah diulang pada akhir perlakuan. Analisis MDA plasma dilakukan dengan spektrofotometer dan analisis vitamin E serum dengan HPLC. Dart basil analisis statistik menggunakan pola faktorial yang dilanjutkan dengan uji Dunner s menunjukkan bahwa.pemberian vitamin E sebanyak 120 IU (kel. IV), 240 IU (kel.V) dan 480 IU (keL VI) menyebabkan penurunan secara signifilcan (P

Page 1 of 2 | Total Record : 13


Filter by Year

2002 2002


Filter By Issues
All Issue Vol 43, No 3 (2025): Desember Vol 43, No 2 (2025): Agustus Vol 43, No 1 (2025): April Vol 42, No 3 (2024): Desember Vol 42, No 2 (2024): Agustus Vol 42, No 1 (2024): April Vol 41, No 3 (2023): Desember Vol 41, No 2 (2023): Agustus Vol 41, No 1 (2023): April Vol 40, No 3 (2022): Desember Vol 40, No 2 (2022): Agustus Vol 40, No 1 (2022): April Vol 39, No 3 (2021): Desember Vol 39, No 2 (2021): Agustus Vol 39, No 1 (2021): April Vol 38, No 3 (2020): Desember Vol 38, No 2 (2020): Agustus Vol 38, No 1 (2020): April Vol 37, No 2 (2019): Desember Vol 37, No 1 (2019): Juni Vol 36, No 2 (2018): Desember Vol 36, No 1 (2018): Juni Vol 35, No 2 (2017): Desember Vol 35, No 1 (2017): Juni Vol 34, No 2 (2016): Desember Vol 34, No 1 (2016): Juni Vol 33, No 2 (2015): Desember Vol 33, No 1 (2015): JUNI Vol 32, No 2 (2014): DESEMBER Vol 32, No 1 (2014): JUNI Vol 31, No 2 (2013): DESEMBER Vol 31, No 1 (2013): JULI Vol 30, No 2 (2012): DESEMBER Vol 30, No 1 (2012): JUNI Vol 29, No 2 (2011): DESEMBER Vol 29, No 1 (2011): JUNI Vol 28, No 2 (2010): DESEMBER Vol 28, No 1 (2010): JUNI Vol 27, No 2 (2009): DESEMBER Vol 27, No 1 (2009): JUNI Vol 26, No 2 (2008): DESEMBER Vol 26, No 1 (2008): JUNI Vol 25, No 2 (2007): DESEMBER Vol 25, No 1 (2007): JUNI Vol 24, No 2 (2006): DESEMBER Vol 24, No 1 (2006): JUNI Vol 23, No 2 (2005): DESEMBER Vol 23, No 1 (2005): JUNI Vol 22, No 2 (2004): DESEMBER Vol 22, No 1 (2004): Juli Vol 21, No 2 (2003): DESEMBER Vol 21, No 1 (2003): JULI Vol 20, No 2 (2002): Desember Vol 20, No 1 (2002): Juli Vol 19, No 2 (2001): DESEMBER Vol 18, No 1&2 (2000) Vol 18, No 2 (2000) Vol 18, No 1 (2000) Vol 17, No 1 (1999) Vol 16, No 2 (1999) Vol 16, No 1 (1998) Vol 15, No 1&2 (1996) Vol 14, No 2 (1995) More Issue