cover
Contact Name
Tri Mulyaningsih
Contact Email
trimulya@unram.ac.id
Phone
+62274-512102
Journal Mail Official
jik@ugm.ac.id
Editorial Address
https://jurnal.ugm.ac.id/jikfkt/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmu Kehutanan
ISSN : 01264451     EISSN : 24773751     DOI : https://doi.org/10.22146/jik.28284
Focusing on aspects of forestry and environments, both basic and applied. The Journal intended as a medium for communicating and motivating research activities through scientific papers, including research papers, short communications, and reviews
Articles 206 Documents
Partisipasi Masyarakat Lokal dalam Pengembangan Ekowisata Kaharuddin Kaharuddin; Satyawan Pudyatmoko; Chafid Fandeli; Wisjnu Martani
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.646 KB) | DOI: 10.22146/jik.57462

Abstract

Kelompok tani hutan kemasyarakatan (HKm) Mandiri Kalibiru mengelola hutan lindung yang salah satu kegiatannya berupa usaha pengelolaan ekowisata. Keterlibatan masyarakat lokal menjadi pelaku wisata merupakan ciri menonjol dalam usaha jasa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menyajikan jenis partisipasi masyarakat lokal dalam mengembangkan ekowisata, dan peran kelembangaan HKm dalam mendorong masyarakat lokal berpartisipasi dalam pengembangan ekowisata. Konsep partisipasi level perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan digambarkan pada tiga periode perkembangan obyek wisata: periode ke-1 perintisan, periode ke-2 mulai berkembang dan periode ke-3 berkembang. Pengumpalan data menggunakan teknik wawancara mendalam (indept interview) dan kajian dokumen. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan proposisi teoritis. Terdapat perbedaan partisipasi masyarakat lokal pada ke tiga periode perkembangan obyek wisata tersebut. Partisipasi level perencanaan sangat bergantung pada pendamping selama periode ke-1 dan 2, namun ketika obyek wisata sudah berkembang perencanaan mampu dilakukan secara mandiri. Partisipasi level pelaksanaan pada periode ke-1 dan 2 dilakukan secara gotong royong, namun pada periode ke-3 pelaksanaan pembangunan menggunakan tenaga profesional. Partisipasi level pemanfaaatan dimulai pada periode ke-2 yang melibatkan anggota HKm dan tokoh pemuda secara terbatas, dan pada periode ke-3 masyarakat Kalibiru yang memanfaatkan peluang kerja dan usaha mencapai 85%. Tingginya partisipasi masyarakat tersebut tidak lepas dari peran pendamping, pemerintah dan aturan lembaga HKm dalam fasilitasi dan penyediaan ruang partisipasi bagi masyarakat lokal. Local Communities Participation in Ecotourism DevelopmentAbstractThe community forest Mandiri Kalibiru manages of protected forests one of activities is ecotourism management. The involvement of local communities as ecotourism actors is a major feature in the service business. This study aims to present the type of local communities participation in developing ecotourism, and the role of HKm institution in encouraging the local communities to participate in ecotourism. The concept of participation at the planning, implementation and utilization level is illustrated in three periods of tourism development: the first period-pioneering, the second-developing and the third-developed. Data collection uses in-depth interview techniques and document review. Data analysis was performed descriptively and theoretical propositions. There are differences in local communities participation in the three periods. Participation in the planning level is very dependent on the companion during periods 1 and 2, but when the third period, the planning can be done independently. Participation in the implementation level in periods 1 and 2 was carried out cooperatively, but in the third period, the implementation of the development uses professional staff. Participation in utilization rates began in the second period involving limited HKm members and youth leaders, and the 3rd period the Kalibiru community involved took advantage of work and business opportunities which reached 85%. The high local communities participation is inseparable from the role of partners, government and HKm institutional regulations in facilitating and providing of participating space for local communities.
PCR Primer Spesifik Berdasarkan Gen Cytochrome b untuk Deteksi Garangan (Herpestes javanicus) secara Molekuler Sena Adi Subrata; Subeno Subeno; Atus Syahbudin
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.356 KB) | DOI: 10.22146/jik.57463

Abstract

Garangan (Herpestes javanicus) merupakan salah satu spesies meso-carnivora yang berperan penting dalam ekosistem sebagai pemangsa. Kehadirannya dianggap mampu mengendalikan populasi spesies mangsa, termasuk beberapa spesies hama. Namun anggapan ini dianggap hanya anekdot karena kekurangan data ekologis pendukungnya sebagai dampak dari kesulitan pengamatan visual atas spesies ini. Penelitian ini bertujuan untuk merancang PCR primer untuk deteksi Garangan secara molekuler dari material organik yang ditinggalkan, misalnya kotoran. Perancangan PCR primer dimulai dengan memilih penanda spesifik Garangan yang melibatkan 51 sekuen DNA gen Cytochrome-b dari 19 spesies karnivora Jawa, menentukan primer forward dan reverse, dan menguji in-silico dan in vitro dari primer yang berhasil dirancang. Proses tersebut dilakukan dengan bantuan software MEGA 5 dan SP-Designer, dan memanfaatkan basis data genetik dari GenBank (NCBI). Uji in silico dan in vitro menunjukkan bahwa sekuen primer forward 5’- CAAATCACACCCACTCATTAAAATC-3’ dan reverse 5’-TGTGGGTTACTGATGAAAAGG-3’ akan mampu mendeteksi Garangan secara molekuler dari material organik spesies ini. Penelitian ini berkontribusi dalam pengumpulan data dasar kehadiran Garangan untuk mengumpulkan informasi lanjut tentang okupansi, distribusi spesies, dan pakannya. Informasi ini merupakan fondasi untuk memahami peran spesies ini dalam ekosistem. Specific PCR Primers Based on Cytochrome-b Gene for Molecular Detection of JavanMongoose (Herpestes javanicus)AbstractJavan Mongoose is a meso-carnivore species that have an important role in ecosystem as a predator. It is believed that its occurrence controls prey populations including some pest species. However, the belief is an anecdote because of lacking supportive data. Difficulty in visually observing the species is a major problem preventing data collection. This study aims to design PCR primer for detecting the Mongoose molecularly from organic material remaining, such as feces. The design starts with selecting specific marker from 51 DNA sequences of cytochrome-b. The DNA sequences were of 19 Javan carnivore collected from GenBank (NCBI). PCR primers were designed and tested using both in-silico and in-vitro techniques. The sequence collection and selection, and primer design process employed MEGA 5 and SP-Designer software. We successfully designed PCR primers: forward 5’- CAAATCACACCCACTCATTAAAATC-3’ dan reverse 5’-TGTGGGTTACTGATGAAAAGG-3’. The primer is capable of detecting Javan Mongoose from remaining organic material. The study contributed to basic data collection of Javan Mongoose for advanced studies such as occupancy modeling, species distribution modeling and diet analysis. This information is fundamental for understanding the role of the Javan Mongoose in an ecosystem.
Dampak Perubahan Pemanfaatan Hutan Lindung di RPH Mangunan terhadap Pendapatan Penyadap Getah Pinus Slamet Riyanto; Wahyu Andayani; Hilma Nadhifa
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.706 KB) | DOI: 10.22146/jik.57465

Abstract

Sejak tahun 2015 Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan Yogyakarta mengehentikan kegiatan pemanfaatan hutan dalam bentuk penyadapan getah pinus di kawasan hutan lindung yang secara adminitrasi pengelolaan hutan berada di Resort Pengelolaan Hutan Mangunan Bagian Daerah Hutan Bantul-Kulonprogo. Bentuk pemanfaatan hutan lindung selanjutnya dialihkan menjadi pemanfaatan hutan untuk wisata alam dan jasa lingkungan. Perubahan bentuk pemanfaatan ini mempengaruhi penghidupan ekonomi bagi rumah tangga penyadap getah pinus yang telah memiliki ketergantungan sumber pendapatan terhadap kegiatan pemanfaatan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan tingkat pendapatan rumah tangga penyadap getah pinus serta kontribusi sumber pendapatan dari sumberdaya hutan terhadap pendapatan total rumah tangga. Penelitian ini menggunakan pendekatan survei dengan melibatkan 56 responden dari 69 penyadap getah pinus yang berdomisili di tiga desa yaitu Desa Munthuk, Desa Mangunan dan Desa Terong. Pengumpulan data melalui wawancara secara mendalam, observasi dan pemanfaatan data sekunder. Data dianalisis secara deskriftif-kuantitatif untuk memberikan penjelasan perubahan atau perbandingan aktivitas, tingkat dan kontribusi sumber pendapatan dari hutan dengan adanya perubahan pemanfaatan hutan. Temuan-temuan dari penelitian ini adalah: (1) Hanya sebagian dari penyadap getah pinus (35 responden) yang dapat beralih aktivitasnya menjadi pekerja hutan wisata, (2)Rata-rata tingkat pendapatan bagi penyadap yang tidak dapat beralih menjadi pekerja atau pengelola wisata sebelum dan sesudah adanya perubahan pemanfaatan berturut-turut sebesar Rp 16.033.062/tahun dan Rp 13.320.967/tahun, (3)Rata-rata tingkat pendapatan bagi penyadap yang dapat beralih menjadi pekerja atau pengelola wisata sebelum dan sesudah adanya perubahan pemanfaatan berturut turut sebesar Rp 12.076.329/tahun dan Rp 29.809.157/tahun, (4) Kegiatan penyadapan berkontribusi sebesar 23% dan pendapatan dari aktivitas di kegiatan wisata hutan pinus berkontribusi sebesar 62% terhadap pendapatan total tahunan.  The Impact of Change in Protected Forest Utilization in RPH Mangunan on Income of Pine Sap TapperAbstractSince 2015 the Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan Yogyakarta has stopped the activity of utilizing pine sap tapping in protected forest areas which administratively located at Resort Pengelolaan Hutan Mangunan, Bagian Daerah Hutan Bantul Kulon Progo. Forest Utilization was then shifted into recreational forest. The change in forest utilization affected the livelihood of pine sap tapper households that already have dependence on a source of income based on these utilization activities. This study aims to compare the source diversity and level of household income of pine sap tappers as well as the share of income from forest resources to total income due to the change in forest utilization. This study used a survey involving 56 respondents from 69 pine sap tappers domiciled in three villages namely Munthuk, Mangunan and Terong Village. Data collection through in-depth interviews, observations and use of secondary data. The data were analyzed in a descriptive quantitative approach to provide an explanation of comparisons of activities, levels and contributions of sources of income from the forest due to changes in forest utilization. The important findings of this study are: (1) Only a portion of pine sap tappers (35 respondents) can switch their activities to workers in recrational forest (2) Average level of household income for tappers who cannot shift to workers in recreational forest are Rp 16033,062 /year and Rp. 13,320,967 /year, (3)Meanwhile, for tappers who can switch to workers in recreational forest are Rp. 12,076,329 / year and Rp. 29,809,157/year respectively for before and after changes in forest utilization(4) Income from tapping activitiy contributed 23% and income from activities in pine recreational forest contributed 62% to total annual income.
Pendugaan Simpanan Karbon pada Kawasan Rehabilitasi Pesisir Selatan Pulau Jawa Budiadi Budiadi
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.714 KB) | DOI: 10.22146/jik.57473

Abstract

Konservasi karbon merupakan salah satu tindakan penting dalam rehabilitasi pesisir, khususnya pesisir selatan Pulau Jawa dengan keunikan ombak yang besar, salinitas tinggi dan sedimen beragam. Penelitian dilaksanakan untuk menduga simpanan karbon dalam berbagai bagian pada areal pesisir tersebut, yang terdiri dari tapak tergenang (tegakan mangrove 14 tahun jenis Avicennia/AV, Rhizophora/RH dan campuran/MX, lahan sedimen/SD, rumput/GR) dan tapak kering berpasir tegakan Casuarina equisetifolia/CS umur 18 tahun. Tiga sampai sembilan petak ukur dibuat untuk pengamatan dan pengukuran vegetasi, serta pengambilan sampel tanah (kedalaman 0-20, 20-40 dan 40-60 cm), dan pengukuran tegakan. Biomasa pohon diestimasi dengan mengkonvesri diameter batang (DBH) menggunakan persamaan alometrik. Biomasa pohon dirubah menjadi karbon tersimpan menggunakan berat jenis kayu yaitu 0,464 untuk above-ground (AGC), dan 0,39 untuk below-ground (BGC), serta untuk menduga biomasa karbon total (TBC). Karbon organik tanah (COT) dianalisis secara terpisah, dan digabungkan dengan karbon biomasa untuk memperkirakan simpanan karbon dalam ekosistem. Hasil penelitian menunjukkan variasi yang tinggi dari pertumbuhan dan kerapatan pohon, khususnya pada tegakan mangrove, dengan kemampuan regenerasi yang rendah. Tidak ditemukan perbedaan yang nyata dari simpanan karbon pada biomasa antara tegakan mangrove dengan Casuarina. Rerata TBC pada mangrove adalah 46,08 Mg C/ha, sedikit lebih rendah daripada CS (51,50 Mg C/ha). Di bawah tanah (hingga kedalaman 60 cm), tapak tergenang (AV, RH, MX, SD dan GR) secara nyata menyimpan COT lebih besar daripada tapak kering (CS). Kedalaman tanah secara nyata mempengaruhi COT, namun pada tapak tergenang semakin dalam tanah maka COT semakin besar, sedangkan tren sebaliknya pada tapak kering. Perkiraan total karbon tersimpan adalah 248.52 (±87.21) Mg C/ha, dengan terendah pada CS (94.46 Mg C/ha) dan tertinggi pada MX (324.77 Mg C/ha). Rehabilitasi pesisir berpeluang meningkatkan simpanan karbon ekosistem karena adanya adanya biomasa pohon, dibandingkan tapak terbuka yakni SD dan GR. Pada tapak tergenang/tegakan mangrove sebagian besar simpanan karbon berupa COT, dan lebih sedikit ditemukan pada CS. Perbedaan karakteristik simpanan karbon ini memerlukan penanganan atau konservasi yang berbeda, tetapi sama-sama membutuhkan rehabilitasi dan regenerasi buatan yang intensif. Carbon Stock Estimation in the South Coastal Rehabilitation Area of Java IslandAbstractCarbon conservation is one of important actions for coastal rehabilitation, in particular in the south coast of Java Island with its unique characteristics of strong tide, high salinity and diverse substrates. The research aimed to estimate carbon stocks from various carbon pools in the coast rehabilitation area, including wetland sites (14-year-old mangroves of Avicennia/AV, Rhizophora/RH and mix mangrove/MX, mudflat-sediment/SD, grassland/GR) and dry-sandy site of 18-year-old Casuarina equisetifolia/CS. Three to nine plots were established for observing and measuring vegetation, as well as taking soil sample at 0-20 cm, 20-40 cm, 40-60 cm depths. Tree biomass were estimated by converting treestem diameter using allometric equation. The tree biomass were converted into tree carbon using carbon density of 0.464 for aboveground (AGC), and 0.39 for below-ground (BGC), and to estimate total biomass carbon (TBC). Soil organic carbon (SOC) was analyzed separately, and combined with biomass carbon to estimate total carbon stock in the ecosystems. High variation of tree growth and density were found, especially in mangrove stands, with a low level of natural regeneration. No significant difference of carbon stock in biomass between mangroves and Casuarina was observed. Average TBC in mangroves (46.08 Mg C/ha) was slightly lower than in CS (51.50 Mg C/ha). In below ground (up to 60 cm depth), wetland sites (AV, RH, MX, SD and GR) significantly stored more SOC than dry land (CS). Soil depth significantly affected SOC, but in wetland sites deeper soil contained more carbon than upper, while an opposite trend was observed in CS. Estimated total carbon stock in the coast was 248.52 (±87.21) Mg C/ha, with the lowest in CS (94.46 Mg C/ha) and highest in MX (324.77 Mg C/ha). Rehabilitation activities in the coast possibly improve carbon stock in the ecosystems due to tree biomass, compared to open sites of SD and GR. In the wetland or mangroves, most of carbon was observed as SOC, and less in the dry-land site. The different characteristics of carbon storage in the south coast need different conservation techniques, but both sites need intensive rehabilitation work and artificial regeneration.
Sifat Papan Partikel Bambu Petung (Dendrocalamus asper) dan Bambu Wulung (Gigantochloa atroviolacea) dengan Perlakuan Ekstraksi Ragil Widyorini; Ikhwan Syahri; Greitta Kusuma Dewi
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (901.951 KB) | DOI: 10.22146/jik.57476

Abstract

Bambu memiliki kandungan ekstraktif dengan persentase yang berbeda antar jenis bambu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan ekstraksi pada jenis bambu yang berbeda terhadap sifat papan partikel. Dua jenis bambu digunakan yaitu Bambu Petung (Dendrocalamus asper) dan Bambu Wulung (Gigantochloa atroviolacea). Perlakuan ekstraksi digunakan pada partikel bambu sebelum proses pembuatan papan partikel yaitu tanpa ekstraksi, ekstraksi air dingin dan ekstraksi air panas. Papan partikel dibuat dalam ukuran 25 cm x 25 cm x 0,7 cm, target kerapatan 0,9 g/cm3, jumlah asam sitrat 30%, serta kondisi pengempaan suhu 180°C selama 10 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi perlakuan ekstraksi dan jenis bambu hanya berpengaruh signifikan pada sifat penyerapan air dan keteguhan rekat internal, sedangkan jenis bambu berpengaruh signifikan pada nilai kadar air, modulus patah dan modulus elastisitas. Semua papan partikel yang dihasilkan memenuhi standar Japanese Industrial Standard (JIS) A 5908 tipe 13. Pada penelitian ini, papan partikel dari bambu wulung tanpa perlakuan ekstraksi mempunyai nilai yang memenuhi standar tipe 18 dan berpotensi sebagai bahan baku untuk produk furnitur eksterior. Perlakuan ekstraksi dapat meningkatkan secara signifikan nilai keteguhan rekat internal papan partikel bambu petung, walaupun secara umum dengan jumlah asam sitrat 30% perlakuan tersebut tidak diperlukan pada papan partikel bambu Properties of Particleboard made from Petung Bamboo (Dendrocalamus asper) and Wulung Bamboo (Gigantochloa atroviolacea) Particles with Extraction TreatmentAbstractBamboo has extractives, which the percentage of extractive was different based on bamboo species. This research aimed to investigate the effect of extraction treatment at different bamboo species on the particleboard properties. Two types of bamboo were used, i.e. Petung bamboo (Dendrocalamus asper) and Wulung bamboo (Gigantochloa atroviolacea). Three extraction treatments were conducted to the bamboo particles before the particleboard manufacture, i.e. unextracted, cold-water extraction, and hot-waterextraction. The particleboard was made in the size of 25 cm x 25 cm x 0.7 cm, target density of 0.9 g/cm³, citric acid content of 30%, and pressing temperature of 180°C for 10 min. The results showed that the interaction between extraction treatment and bamboo species significantly affected on the water absorption and internal bond strength, however bamboo species affected significantly on the moisture content, modulus of rupture, and modulus of elasticity. All of particleboards could met the requirement of the 13 type of Japanese Industrial Standard (JIS) A 5908. In this research, particleboards made from wulung bamboo particles without extraction treatment have properties that met the requirement of the 18 type and the products have potential to be as exterior materials for furniture. In general, an extraction treatment was not an important step on the manufacturing of bamboo particleboard using citric acid 30% as adhesive. However, the extraction treatment could increase significantly the internal bond strength of particleboard made from petung bamboo.
Pembuatan dan Analisis Karbon Aktif dari Cangkang Buah Karet dengan Proses Kimia dan Fisika Lisna Efiyanti; Suci Aprianty Wati; Mamay Maslahat
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2006.452 KB) | DOI: 10.22146/jik.57479

Abstract

Penggunaan karbon aktif di Indonesia semakin meluas sejalan dengan meningkatnya kebutuhan tehadap karbon aktif tersebut, sehingga perlu terus diupayakan pencarian bahan baku dan metode pembuatan karbon aktif untuk menghasilkan karbon aktif yang berkualitas. Salah satu bahan baku yang dapat digunakan untuk menghasilkan karbon aktif adalah cangkang buah karet karena keberadaannya tidak termanfaatkan dengan baik. Pada penelitian ini dilakukan pembuatan karbon aktif dari cangkang buah karet masing-masing dengan metode aktivasi steam pada suhu 650°C, aktivasi dengan kalium hidroksida 10% dan aktivasi dengan asam fosfat 10%. Karbon aktif yang terbentuk kemudian dianalisa menggunakan metode SNI 06-3730-1995 dengan parameter kadar air, kadar abu, kadar zat terbang, kadar karbon terikat, daya jerap iod, daya jerap biru metilen dan daya jerap benzena. Gugus fungsi, kristalinitas dan morfologi karbon aktif dianalisa masing-masing menggunakan FTIR, XRD dan SEM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kadar air, kadar abu, kadar zat terbang, kadar karbon terikat, daya jerap iod, daya jerap biru metilen dan daya jerap benzena masing-masing sebesar 1,83-3,74%; 2,86-8,14; 7,36-13,55; 82,8-89,78%; 355,21-569,39 mg/g; 10,34-17,61 mg/g; 8,09-19,26%. Hasil FTIR menunjukkan bahwa gugus fungsi yang terdeteksi pada karbon aktif adalah gugus OH, CH alifatik, CH aromatik, C=O, C-C, C=C dan C-O, sedangkan kristalinitas karbon aktif berkisar antara 11,34-30,78% dengan ukuran pori sebesar 5-9 μm. Karbon aktif dengan aktivator KOH dapat menjerap senyawa iod dan metilen biru lebih baik sedangkan karbon aktif aktivasi steam memiliki daya jerap terbaik pada adsorpsi senyawa benzena. Manufacture and Analysis of Activated Carbon from Rubber Fruit Shell with Chemical and Physical ProcessingAbstract The utilization of activated carbon in Indonesia is increased, which is in line with the increase of activated carbon needs, therefore it is necessary to search the raw materials and methods continuously for good quality activated carbon. One of the raw materials that can be used to produce activated carbon is a rubber fruit shell because it is not properly utilized. In this research, activated carbon was made from rubber fruit shells by the steam activation method at a temperature of 650°C, 10% potassium hydroxide, and 10% phosphoric acid activation. The activated carbon was then analyzed using SNI 06-3730-1995 methods with parameters of water content, ash content, volatile matter content, fixed carbon content, iod adsorption, methylene blue adsorption, and benzene adsorption. The functional groups, crystallinity, and morphology of activated carbon also analyzed using FTIR, XRD, and SEM respectively. The results shows that the water content, ash content, volatile matter content, fixed carbon content, iod adsorption, methylene blue adsorption, and benzene adsorption are 1,83-3,74%; 2,86-8,14; 7,36-13,55; 82,8-89,78%; 355,21-569,39 mg/g; 10,34-17,61 mg/g; 8,09-19,26%, respectively. The FTIR results from activated carbon are contain of several functional groups, like OH; CH aliphatic, CH aromatic, C=O; C-C; C=C and C-O, meanwhile the degree of crystallinity from activated carbon formed are ranged 11,34-30,78% with 5-9 μm of pore size. The activated carbon with KOH activator has good adsorption in iod and methylene blue compound meanwhile activated carbon from steam activation can be a good adsorbent on the benzene compound.
Sifat Dasar Kayu Ganitri (Elaeocarpus sphaericus (Gaertn.) K. Schum.) dari Sukabumi dan Potensi Penggunaannya Esti Prihatini; Akhrudin Maddu; Istie Sekartinging Rahayu; Mersi Kurniati
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1557.925 KB) | DOI: 10.22146/jik.57480

Abstract

Ganitri (Elaeocarpus sphaericus (Gaertn.) K. Schum.) adalah pohon cepat tumbuh yang banyak ditemukan di Sukabumi. Kayu ini tumbuh di hampir semua wilayah Indonesia. Tulisan ini menyajikan hasil pengujian sifat dasar (struktur anatomi, kimia, sifat fisis dan mekanis) kayu ganitri yang diambil dari hutan rakyat di daerah Sukabumi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui potensi penggunan kayu ganitri berdasarkan sifat dasar dan penggunaan kayu oleh masyarakat sekitar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu ganitri memiliki kayu teras berwarna kuning dan kayu gubal berwarna putih. Corak kayu polos dan tekstur halus. Arah serat lurus sampai berpadu, kayu lunak, tidak mengkilap, dan tidak berbau. Berdasarkan nilai dimensi serat dan nilai turunannya, kayu ganitri termasuk ke dalam Kelas Mutu II. Kayu ganitri memiliki kadar holoselulosa dan selulosa yang tinggi (70,70% dan 54,58%), kadar sedang untuk lignin 21,60%, ekstraktif alkohol-benzena 3,47%, dan kadar abu 0,81%. Dengan berat jenis (BJ) kering udara 0,35 kayu ganitri termasuk ke dalam Kelas Kuat IV. Kayu tersebut disarankan untuk digunakan sebagai bahan bangunan konstruksi ringan, perkakas, furnitur, kayu lapis, papan sambung dan produk panel. Basic Properties of Ganitri Wood (Elaeocarpus sphaericus (Gaertn.) K. Schum from Sukabumi and Its Potential UsesAbsractGanitri (Elaeocarpus sphaericus (Gaertn.) K. Schum.) is a fastgrowing tree that is widely found in Sukabumi, West Java. It grows in all part of Indonesia. A research was carried out to investigate basic properties (anatomical, physical, mechanical, and chemical) of ganitri wood from the community forest of Sukabumi. The purpose of this study was to determine the potential use of ganitri wood based on its basic properties and local utilization. The results showed that the color of ganitri sapwood was white , and it was not clearly demarcated from the yellow, with fewer figure patterns. The texture was fine with straight to interlocked grain. The wood was soft, not lustrous, and no special odor. Based on the fibre dimensions and derivative values, the quality of ganitri wood fell in Class II as a raw material for pulp and paper. Ganitri had high holocellulose and cellulose levels (70.70% and 54.58%), moderate level in lignin (21.60%), and it contained 3.47% extractive soluble in alcohol-benzene, and 0.81% ash. Based on its air dry specific gravity (0,35), ganitri wood could be classified into wood Strength Class IV. The potential uses of ganitri are for lightweight construction material, tools, furniture, plywood, connecting boards, and other panel products.
Sertifikasi (akan) Terlahir Kembali: Sisi Lain Ekspor Produk Kayu Tanpa V-Legal Ahmad Maryudi
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.47 KB)

Abstract

Kementerian Perdagangan Republik Indonesia baru-baru ini menerbitkan Permendag No.15 Tahun 2020 tentang Ketentuan Ekspor Produk Industri Kehutanan, yang tidak lagi menyebutkan V-Legal sebagai dokumen persyaratan ekspor. Peraturan yang akan diberlakukan pada 25 Mei 2020 tersebut dimaksudkan guna memberikan kepastian berusaha, untuk menggenjot ekspor produk industri kehutanan melalui penyederhanaan perijinan. Permendag No.15 Tahun 2020 telah menuai banyak kritik, semisal: pelemahan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK), pelanggaran perjanjian kemitraan sukarela dengan Uni Eropa, hilangnya jalur hijau ke pasar Uni Eropa, dan potensi penurunan kinerja ekspor. Namun ada sisi lain yang tidak banyak disorot. Jika diterapkan, peraturan tersebut akan memberi angin segar bagi pelaku sertifikasi hutan/ lacak balak, seperti skema sukarela Forest Stewardship Council (FSC) dan Programme for Endorsement of Forest Certification (PEFC). Rival lamaIni menarik. Dari desain pranata dan tata kuasa, sertifikasi (khususnya FSC), sebenarnya adalah rival lama institusi negara. Ya, sistem pranata sertifikasi didesain oleh lembaga non-pemerintah (pegiat lingkungan internasional) untuk “menyingkirkan” negara/pemerintah. “Kalau institusi pemerintah tidak mampu lagi mendorong pengelolaan hutan yang baik, biar kami yang urus”, mungkin demikian muasal genesis sertifikasi. Selain itu, sertifikasi menggunakan mekanisme pasar (lagi-lagi bukan institusi negara) untuk mendorong adopsi sistem pranata yang telah mereka bangun (Maryudi 2015). Itulah mengapa sertifikasi sering disebut sebagai instrumen kebijakan “non-state market driven” (Cashore et al. 2004). Sangat berbeda dengan verifikasi legalitas yang merupakan instrumen kebijakan yang diluncurkan institusi pemerintah, walaupun sama-sama menggunakan mekanisme pasar.Legalitas “bunuh” sertifikasiOptimisme terhadap sertifikasi sempat membuncah sampai akhir dekade 1990an. Namun perkembanganannya ternyata tidak terlalu menggembirakan, salah satunya diduga karena problematika pengelolaan hutan yang sangat kompleks untuk dapat segera diurai (Cashore & Stone 2012). Sampai awal milenium baru, hanya sekitar 10% hutan dunia yang telah tersertifikasi. Inilah yang mendorong dimunculkannya isu legalitas, yang diwacanakan bisa menjadi kunci dan batu loncatan bagi pengelolaan berkelanjutan (Cashore & Stone 2012). Entah sengaja atau tidak, desain pranata verifikasi legalitas ternyata mengarah kembali pada peran institusi negara. Di Indonesia, SVLK merupakan instrumen kebijakan pemerintah. Melalui Permendag No.25/M-DAG/PER/10/2016, pemerintah mewajibkan pemenuhan dokumen sertifikat V-Legal untuk ekspor produk kehutanan. Peraturan ini mengunci rapat pintu ekspor; hanya dengan V-Legal sajalah produk kayu bisa meninggalkan Indonesia. Tak peduli produk kayu tersebut telah mendapatkan sertifikasi lain. Tak peduli jika end users di pasar internasional lebih bereaksi positif terhadap sertifikasi sukarela.Pintu akan dibukaDengan V-Legal produk kayu Indonesia bisa “lenggang kangkung” masuk pasar Uni Eropa. Hal ini dikarenakan V-Legal telah disetarakan dengan Lisensi FLEGT yang merupakan satu-satunya tiket untuk lewat jalur hijau ke sana. Tanpa Lisensi FLEGT (V-Legal untuk produk Indonesia), menurut European Union Timber Regulation (EUTR), produk kayu harus melewati proses uji tuntas (due diligence) terhadap asal-usulnya. Disinilah sertifikasi sukarela (FSC atau PEFC) dapat mengkapitalasi aturan ekspor yang tidak lagi mewajibkan V-Legal. Pintu yang tadinya dikunci rapat, mulai akan terbuka. Apalagi EUTR merekonignisi potensi sertifikasi sukarela sebagai alat uji tuntas. European Comission (2013) menyatakan bahwa perusahaan pelaku perdagangan “may rate credibly certified products as having negligible risk of being illegal, i.e. suitable for placing on the market with no further risk mitigation measures, provided that the rest of the information gathered and the replies to the risk assessment questions do not contradict such a conclusion.” Secara umum, skema sertifikasi sukarela telah mengimplementasikan prosedur uji asal usul yang dipersyaratkan dalam EUTR, yang mencakup: pengumpulan informasi, penilaian resiko, dan mitigasi resiko (Trishkin et al. 2015; Saunders 2014). Sertifikasi sukarela juga berpotensi untuk diakui di beberapa pasar sensitif lainnya. Beberapa negara tujuan ekspor utama produk kayu Indonesia (Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang dan China), juga telah menerapkan berbagai peraturan yang melarang masuknya produk ilegal. Seperti halnya di Uni Eropa, satu inti dari regulasi legalitas kayu mereka adalah skema uji dan penelusuran secara tuntas atas asal usul kayu.Siapa yang beruntung?Di Indonesia, sampai April 2020, FSC telah mengeluarkan 38 sertifikat pengelolaan hutan (sekitar 3 juta hektar, mayoritas hutan alam), dan 317 sertifikat lacak balak industri perkayuan di Indonesia. Sedangkan PEFC memberikan sertifikat pengelolaan ke 70 perusahaan (termasuk 2 perusahaan hutan tanaman terbesar) dan 47 sertifikat lacak balak, mayoritas industri pulp dan kertas (PEFC 2020). Merekalah yang berpotensi mengakapitalisasi Permendag No.15/ 2020, jika diimplementasikan.
Inventory of Invasive Alien Plant Species (IAPs) in Bali Botanic Garden and the Adjacent Areas Farid Kuswantoro; Sutomo Sutomo; Wawan Sujarwo
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7362.148 KB) | DOI: 10.22146/jik.61377

Abstract

Similar to other botanic gardens, Bali Botanic Garden (BBG) is also prone to the spread of Invasive Alien Plant (IAP) species. Unfortunately, research about IAP species in BBG is still very limited. Thus, the study aims to update the list of IAP species in BBG and its adjacent areas as well as to provide a garden manager with data of the most important IAP species. This study was conducted by using sampling plots that were purposively established in three areas of BBG, namely the Ekor Burung (EB), VIP, and Kepala Burung (KB). Data analysis was performed to calculate the Relative Frequency (RF), Important Value Index (IVI), Clustering analysis, and NMDS ordination. The study was able to document 18 IAP species. Ageratina riparia and Bidens pilosa have the highest RF in EB, while the former also has the highest RF in VIP and KB. Similarly, the highest IVI was acquired by A. riparia in VIP and KB, as well as by Sida rhombifolia in EB. Cluster analysis revealed two subsets. NMDS ordination suggested that VIP and KB have more similar IAPs than the EB. This study suggested that A. riparia is the most important IAP species in BBG and its surrounding areas.Inventarisasi Tumbuhan Asing Invasif di Kebun Raya Bali dan Wilayah Sekitarnya IntisariSepertihalnya Kebun Raya lain, Kebun Raya Bali (BBG) juga rentan terhadap penyebaran Tumbuhan Asing Invasif (IAP). Sayangnya, penelitian tentang IAP di BBG dan daerah sekitarnya masih sangat terbatas. Karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memperbarui daftar jenis IAP di BBG dan daerah sekitarnya serta menyediakan data jenis IAP paling penting bagi pengelola Kebun Raya. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan plot sampel yang secara purposive diletakan pada tiga wilayah BBG yaitu Ekor Burung (EB), VIP dan Kepala burung (KB). Analisis data dilakukan untuk menghitung Frekuensi Relatif (RF), Indeks Nilai Penting (IVI), analisis klaster dan ordinasi NMDS. Penelitian ini mampu mendokumentasikan 18 spesies IAP. Ageratina riparia dan Bidens pilosa memiliki nilai RF tertinggi di EB, sementara yang disebutkan pertama juga memiliki RF tertinggi di VIP dan KB. Demikian pula, nilai IVI tertinggi di VIP dan KB diperoleh oleh A. riparia serta oleh Sida rhombifolia di EB. Analisis klaster mengungkapkan dua subset. Ordinasi NMDS menunjukan bahwa VIP dan KB memiliki jenis-jenis IAP yang lebih mirip daripada EB. Studi ini juga menunjukkan bahwa A. riparia adalah jenis invasif paling penting di BBG dan daerah sekitarnya.
Kekerasan Negara dalam Konflik Pengelolaan Kawasan Konservasi di Indonesia : Perspektif Pemberitaan Media M. Danang Anggoro; San Afri Awang; Purwo Santoso; Lies Rahayu Wijayanti Faida
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (930.969 KB) | DOI: 10.22146/jik.61378

Abstract

Pemaksaan konservasi oleh negara kepada masyarakat melalui kekerasan disadari menimbulkan konflik yang berkepanjangan dalam pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki tujuan untuk menyingkap dimensidimensi kekerasan negara tersebut dalam rangka untuk memahami dan mengelola konflik tersebut secara utuh. Penelitian ini akan melengkapi telaah-telaah sebelumnya yang lebih terfokus pada gejala-gejala permukaan, dan tidak menjangkau secara utuh tataran yang tidak kasat mata sebagai dimensi-dimensi kekerasan yang justru lebih menentukan.Penelitian ini menggunakan obyek analisis pemberitaan media dalam jaringan yaitu Kompas Online yang mewakili media umum dan Mongabay yang mewakili media lingkungan, yang memuat pemberitaan terkait konflik di kawasan konservasi periode 2011 - 2017.Pemberitaan media tersebut dipelajari menggunakan analisis isi untuk mengungkap dimensidimensi kekerasan negara. Analisis isi yang dilakukan dalam penelitian ini mengikuti kerangka kerja pada analisis isi yang disederhanakan dari Krippendorf (2004) dan Istania (2010) dengan tujuan melakukan analisis isi deskriptif yang dimaksudkan untuk menggambarkan suatu pesan atau teks tertentu (Rossy & Wahid2015), yang dalam hal ini difokuskan pada dimensi-dimensi kekerasan negara dalam pengelolaan kawasan konservasi.Dimensidimensi kekerasan negara dapat cukup utuh diuraikan melalui perspektif pemberitaan di media massa. Hal tersebut sangat membantu untuk lebih memahami konflik yang melibatkan hubungan antara negara dan masyarakat yang disebabkan penguasaan pengelolaan kawasan konservasi sebagai sumber daya alam.Untuk menangani konflik tersebut diperlukan dukungan untuk menemukan jati diri pengelolaan kawasan konservasi melalui pendekatan kultural sehingga membangun optimisme bahwa konflik dalam pengelolaan kawasan konservasi dapat ditangani dengan baik. State Violence in Indonesian Conservation Area Conflict Management: Perspectives from The MediaAbstractThe imposition of conservation areas by the state through violence caused prolonged conflict in the management of conservation areas in Indonesia. Therefore, the need to understand and manage conflict as a holistic process guides this research, in which the goal is to better understand the dimensions of state violence. This research complements previous studies that are more focused on superficial symptoms, which have not fully been able to uncover the invisible levelsthat make up the dimensions of violence.This study uses online media, namely Kompas Online, which represents the general media, as well as Mongabay, which represents environmental media, including news related to conflicts in conservation areas for the period of 2011 - 2017. State violence in the news is described in the dimensions of violence using content analysis. The content analysis is carried out in this study and follows a framework for simplified content analysis from Krippendorf (2004) and Istania (2010) with the aim of conducting descriptive content analysis intended to describe a particular message or text (Rossy and Wahid, 2015), which is focused on the dimensions of state violence in the management of conservation areas.The dimensions of state violence can be fairly intact through the perspective of news in the mass media. This is helpful for better understanding conflicts that involve relations between the state and local communities due to the control of the management of conservation areas as a natural resource. To address the conflict, support is needed to find the identity of conservation area management through a cultural approach so as to build optimism that conflicts in the management of conservation areascan be handled properly.