cover
Contact Name
Ferawati Suzalin
Contact Email
ferawati@poltekkespalembang.ac.id
Phone
+6281377677902
Journal Mail Official
jpharm@poltekkespalembang.ac.id
Editorial Address
Poltekkes Kemenkes Palembang Jurusan Farmasi Jl. Sukabangun 1 No.1159, Suka Bangun, Kec. Sukarami, Kota Palembang, Sumatera Selatan 30151
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Farmasi
ISSN : 28293711     EISSN : 28292162     DOI : https://doi.org/10.36086/jpharm.v4i2.1238
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Kesehatan Farmasi JKPharm diterbitkan oleh Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Kemenkes Palembang
Articles 122 Documents
Perbandingan Uji Aktifitas Antioksidan Selada Merah (Lactucasativa Var. Crispa) Dan Selada Hijau (Lactuca Sativa L.) Dengan Metode Dpph Secara Spektrofotometri Uv- Vis Muhamad Taswin; Meilin Fadhillah
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 3, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.195 KB) | DOI: 10.36086/jpharm.v3i1.1020

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Antioksidan adalah suatu senyawa kimia yang dapat meredam radikal bebas dengan cara melepaskan hidrogen radikal yang kemudian akan diikat oleh radikal bebas sehingga berikatan menjadi netral. Salah satu sumber antioksidan alami ialah Daun Selada Merah (Lactuca sativa var. Crispa) dan Selada Hijau (Lactuca sativa L.). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas antioksidan mana yang lebih besar antara Ekstrak Etanol Selada Merah (Lactuca sativa var. Crispa) dan Selada Hijau (Lactuca sativa L.) dengan metode DPPH secara Spektrofotometri UV-VIS Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan sampel daun selada hijau (Lactuca sativa L.) dan selada merah (Lactuca sativa var. crispa) sebanyak 100 gram yang dimaserasi dengan pelarut etanol sebanyak (1:10) kemudian dibuat ekstrak kental. Setalah itu ekstrak dibuat 5 variasi konsentrasi yaitu masing-masing 10 ppm, 8 ppm, 6 ppm, 4 ppm dan 2 ppm.. Lalu dilarutkan vitamin C sebagai baku pembanding. Setelah didapatkan persen peredaman maka dapat dihitung nilai IC50 untuk mengukur aktivitas antioksidan yang dihasilkan. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan nilai IC50 Ekstrak Etanol Daun Selada Hijau (Lactuca sativa L.) sebesar 24,18 ppm dan Ekstrak Etanol Daun Selada Merah (Lactuca sativa var. Crispa) sebesar 20 ppm dengan besar rendemen ekstrak masing-masing 64,37% pada daun selada hijau dan 69,25% pada daun selada merah dan keduanya positif mengandung flavonoid dan vitamin C. Kesimpulan : Penelitian ini menunjukkan bahwa kedua sampel memiliki aktivitas antioksidan yang kuat yaitu dibawah angka 50 ppm dan aktivitas antioksidan Ekstrak Etanol Daun Selada Hijau (Lactuca sativa L.) lebih besar dibandingkan dengan Ekstrak Etanol Daun Selada Merah (Lactuca sativa var. Crispa), karena memiliki nilai IC50 yang lebih rendah. Kata Kunci : Antioksidan, DPPH, Selada Hijau, Selada Merah ABSTRACT Background: Antioxidants are chemical compounds that can reduce free radicals by releasing hydrogen radicals which will then be bound by free radicals so that they become neutral. One source of natural antioxidants is Red Lettuce (Lactuca sativa var. Crispa) and Green Lettuce (Lactuca sativa L.). This study aims to compare which antioxidant activity is greater between the Ethanol Extract of Red Lettuce (Lactuca sativa var. Crispa) and Green Lettuce (Lactuca sativa L.) with the DPPH method by UV-VIS Spectrophotometry. Methods: This research is a descriptive analytic study with samples of green lettuce (Lactuca sativa L.) and red lettuce (Lactuca sativa var. crispa) as much as 100 grams which were macerated with ethanol solvent as much as (1:10) then made a thick extract. After that the extract was made in 5 concentration variations, namely 10 ppm, 8 ppm, 6 ppm, 4 ppm and 2 ppm. Then dissolved vitamin C as a standard for comparison. After obtaining the percent attenuation, the IC50 value can be calculated to measure the antioxidant activity produced. Results: The results showed the IC50 value of Green Lettuce Leaf Ethanol Extract (Lactuca sativa L.) was 24.18 ppm and Red Lettuce Leaf Ethanol Extract (Lactuca sativa var. Crispa) was 20 ppm with extract yields of 64.37% each. on green lettuce and 69.25% on red lettuce and both positive for flavonoids and vitamin C. Conclusion: This study showed that both samples had strong antioxidant activity, which was below 50 ppm and the antioxidant activity of the Green Lettuce Leaf Ethanol Extract (Lactuca sativa L.) was greater than the Red Lettuce Leaf Ethanol Extract (Lactuca sativa var. Crispa), because has a lower IC50 value.
Gambaran Pemberian Informasi Obat Analgetik Sebagai Upaya Swamedikasi di Apotek-Apotek Kecamatan Talang Kelapa Banyuasin Tedi Tedi; Ratnaningsih Dewi Astuti; Bella Maya Sari
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.414 KB) | DOI: 10.36086/jpharm.v3i2.1063

Abstract

Latar Belakang: Tingginya persentase upaya masyarakat untuk mengobati diri sendiri serta kebutuhan informasi obat yang tinggi, maka pemberian informasi obat harus diberikan secara tepat oleh tenaga kefarmasian untuk mencegah medication error pada masyarakat. Tidak hanya pada obat yang diresepkan, tetapi juga pada obat bebas. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan ketepatan pemberian informasi obat analgetik bebas sebagai upaya swamedikasi di apotek-apotek Kecamatan Talang Kelapa Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian observasi dengan pendekatan deskriptif dengan jumlah sampel 16 orang. Pengambilan data dilakukan dengan metode pasien simulasi yang melakukan pembelian obat analgetik di apotek sesuai skenario yang disiapkan. Hasil: Dari sebelas aspek ketepatan informasi obat analgetik bebas yang dilakukan oleh tenaga kefarmasian di delapan apotek kecamatan Talang Kelapa. Informasi yang paling tepat diberikan yaitu cara penyimpanan obat dan cara memperlakukan obat yang masih sisa sebesar 100%. Informasi lainnya yang memiliki penilaian sangat baik yaitu lama penggunaan obat dan cara membedakan obat yang masih baik dan sudah rusak sebesar 87,5%, informasi khasiat obat dan cara pemakaian obat sebesar 81,3%. Informasi dengan ketepatan baik antara lain waktu pemakaian obat (68,7%), kontraindikasi (62,5%), dosis (62,5%), efek samping (56,3%). Sedangkan edukasi mengenai penyakit pasien menjadi informasi paling rendah ketepatannya dengan persentase 37,5% dengan penilaian cukup baik. Kesimpulan: Secara keseluruhan ketepatan pemberian informasi obat analgetik bebas sebagai upaya swamedikasi di apotek-apotek Kecamatan Talang Kelapa sudah dinilai baik. Hanya saja tenaga kefarmasian yang ada kebanyakan bersikap pasif, sehingga dibutuhkan keaktifan pasien simulasi dalam mendapatkan informasi agar bisa menentuan tepat atau tidaknya sebuah informasi.
Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Kepatuhan Penggunaan Obat Kortikosteroid Inhalasi Pasien Rumah Sakit Bhayangkara Palembang Tahun 2020 Sadakata Sinulingga; Iva Lintang Anggraini
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (610.425 KB) | DOI: 10.36086/jkpharm.v3i2.1064

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Kepatuhan dalam penggunaan obat pengontrol asma secara teratur masih rendah, sehingga dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas. Salah satu faktor yang mempengaruhi kepatuhan adalah pengetahuan. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan kepatuhan penggunaan obat kortikosteroid inhalasi pada pasien asma. Metode: Jenis penelitian analitik menggunakan pendekatan cross sectional. Dengan pengambilan data sampel pasien asma RS Bhayangkara yang menggunakan metode purposive sampling. Kemudian data diolah menggunakan aplikasi analisis statistik fisher. Hasil: Dari 30 responden diperoleh sebanyak 73,3% responden yang memiliki tingkat pengetahuan tinggi dan sebanyak 26,7% responden yang memiliki pengetahuan rendah. Dan dari 30 responden diperoleh sebanyak 30% responden yang patuh dan sebanyak 70% responden yang tidak patuh. Hasil uji Fisher didapatkan nilai p 0,374 > 0,05. Kesimpulan: Tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan kepatuhan penggunaan obat kortikosteroid inhalasi pasien asma Rumah Sakit Bhayangkara Palembang.
Efek Penambahan Vitamin C Terhadap Aktivitas Kloramfenikol Dalam Menghambat Pertumbuhan Salmonella Typhi Secara In Vitro Sarmadi Sarmadi; Weni Permata Sari; M Nizar
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (622.871 KB) | DOI: 10.36086/jkpharm.v3i2.1065

Abstract

ABSTRAK Demam tifoid merupakan infeksi sistemik yang disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhi, biasanya ditularkan melewati makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh feses atau urin dari orang yang terinfeksi. Menurut perkiraan terbaru, sekitar 21 juta kasus dan 222.000 kematian terkait tifoid terjadi setiap tahun di seluruh dunia (WHO, 2014). Antibiotik merupakan salah satu pilihan terapi yang efektif dalam pengobatan demam tifoid. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rampengan bahwa kloramfenikol masih menjadi lini pertama pengobatan demam tifoid, namun penggunaan antibiotik yang tidak rasional akan berpotensi menimbulkan resistensi dan mempercepat berkembangnya kuman penyebab infeksi. Terdapat beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa penambahan vitamin C mampu meningkatkan kerja antibiotik dalam mengeradikasi bakteri. Oleh karena itu peneliti ingin meneliti tentang efek penambahan vitamin C terhadap aktivitas kloramfenikol dalam menghambat pertumbuhan Salmonella typhi secara in vitro.
Formulasi dan Evaluasi Sediaan Gel Ekstrak Metanol Kulit Buah Pisang Raja (Musa X paradisiaca AAB) dengan Variasi Hpmc Sebagai Gelling Agent Ratnaningsih - Dewi Astuti; Aulia Rizky Utami
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.216 KB) | DOI: 10.36086/jkpharm.v3i2.1082

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang : Gel adalah sediaan yang mudah menyerap pada kulit. Kestabilan fisik gel sangat dipengaruhi oleh gelling agent, salah satunya adalah HPMC karena dapat memiliki daya lepas obat yang baik. Zat aktif yang digunakan adalah kulit buah pisang raja (Musa X paradisiaca AAB) yang memiliki aktivitas antoksidan tinggi sehingga dapat mencegah penuaan dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi HPMC yang optimal untuk menghasilkan gel yang stabil dan memenuhi syarat.. Metode: penelitian ini menggunakan metode eksperimental, dimana ekstrak metanol kulit buah pisang raja (Musa X paradisiaca AAB) digunakan sebagai zat aktif dengan kadar 3,8% yang diformulasikan menjadi sediaan gel dengan memvariasikan konsentrasi HPMC. Variasi konsentrasi HPMC yang digunakan adalah 2% pada formula kontrol, 2% pada formula I, 3% pada formula II dan 4% pada formula III. Kemudan dilakukan evaluasi sediaan pada penyimpanan suhu kamar dan uji dipercepat (cycling test) meliputi pH, daya sebar, homogenitas, sineresis/swelling, warna, bau dan iritasi kulit. Hasil: Berdasarkan hasil yang didapat, pH dan daya sebar sediaan pada uji penyimpanan suhu kamar dan uji dipercepat (cycling test) mengalami penurunan namun masih memenuhi syarat kecuali pada formula III jika ditinjau dari pengujian daya sebar pada hari ke-21 dan ke-28 tidak memenuhi syarat. Ditinjau dari sineresis/swelling, homogenitas, warna, bau dan iritasi kulit, semua formula memenuhi syarat selama penyimpanan suhu kamar dan uji dipercepat (cycling test). Kesimpulan: Ekstrak kulit buah pisang raja (Musa X paradisiaca AAB) dapat diformulasikan menjadi sediaan gel yang stabil dan memenuhi persayratan yang diramalkan dapat bertahan selama 12 bulan penyimpanan. Formula yang paling optimal yaitu dengan variasi konsentrasi HPMC 3%. Kata Kunci: Gel, ekstrak metanol kulit buah pisang raja (Musa X paradisiaca AAB), gelling agent, HPMC ABSTRAC Background: Gel is a preparation that is easy to absorb on the skin. The physical stability of the gel is highly relied on by gelling agents, the one of which is HPMC because it has good drug release power. The active substance used is the skin of plantain (Musa X paradisiaca AAB) which has high antioxidant activity so it can prevent premature aging. This study aims to measure the optimal concentration of HPMC to produce a stable and eligible gel. Methods: The study used an experimental method, in which the methanol extract of plantain fruit peel (Musa X paradisiaca AAB) was used as an active substance with a level of 3.8% which was formulated into a gel preparation by varying the concentration of HPMC. The variation of the HPMC concentration used was 2% in the control formula, 2% in formula I, 3% in formula II and 4% in formula III. Then, the preparation was evaluated at room temperature storage and an accelerated test (cycling test) including pH, dispersibility, homogeneity, syneresis / swelling, color, odor and skin irritation. Results: Based on the results obtained, the pH and dispersibility of the preparations in the room temperature storage test and cycling test decreased but they were still valid except for formula III when viewed from the spreadability test on the 21st and 28th day. . In terms of syneresis / swelling, homogeneity, color, odor and skin irritation, all formulas were eligible during room temperature storage and cycling test. Conclusion: Plantain fruit peel extract (Musa X paradisiaca AAB) can be formulated into a gel preparation that is stable and meets the requirements predicted to last for 12 months of storage. The most optimal formula is by varying the concentration of HPMC 3%. Keywords: Gel, methanol extract of plantain fruit peel (Musa X paradisiaca AAB), gelling agent, HPMC
Efek Ekstrak Metanol Maggot (H.Illucens) Terhadap Penyembuhan Luka Terbuka Pada Tikus (Rattus novergicus) Sonlimar Mangunsong; Lia Marsela
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.255 KB) | DOI: 10.36086/jkpharm.v3i2.1083

Abstract

ABSTRAK LATAR BELAKANG : Terapi maggot (H. illucens) telah digunakan untuk pengobatan melalui debridemen belatung sehingga memicu terjadinya penyembuhan luka terinfeksi. Terapi ini sudah ada sejak beberapa abad lalu. Ekstrak kasar maggot (H.illucens) telah diketahui memiliki efek antibakteri. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menguji konsentrasi ekstrak metanol maggot (H.illucens) dalam mempercepat penyembuhan luka terbuka tikus putih jantan. METODE PENELITIAN : Jenis penelitian ini menggunakan jenis penelitian true-eksperiment posttest dengan kelompok control. Menggunakan 30 ekor tikus puith jantan yang dibagi menjadi enam kelompok perlakuan. Kelompok I kontrol negative, kelompok II kontrol positif, kelompok III konsentrasi 10%, kelompok IV konsentrasi 15%, kelompok V konsentrasi 20% dan kelompok VI tanpa perlakuan. Perlakuan dilakukan selama 14 hari. Tikus yang telah dilukai dengan diameter ±1,5 cm dan diukur diameter nya secara vertical, horizontal, dan kedua diagonal dan juga diamati visual penyembuhan luka. HASIL : Hasil analisa data persentase penyembuhan luka terbuka pada tikus putih konsentrasi ekstrak maggot (H.illucens) 20% memiliki persentase penyembuhan luka yang lebih besar dibanding dengan konsentrasi 10% dan 15% yaitu sebesar 92.54%. Berdasarkan hasil analisa statistik One way Anova data persentase penyembuhan luka terbuka pada tikus putih konsentrasi ekstrak maggot (H.illucens) 15% mampu memberikan efek penyembuhan luka terbuka tikus putih jantan yang hampir sama dengan kontrol positif dengan nilai p>0.05. KESIMPULAN : Penelitian ini menunjukkan bahwa persentase penyembuhan luka terbuka tikus putih jantan (Rattus novergicus), pada konsentrasi 20% mampu mempercepat proses penyembuhan luka terbuka pada tikus putih jantan (Rattus novergicus) KATA KUNCI : larva lalat, luka terbuka, Maggot (H.illucens), Rattus novergicus ABSTRACT BACKGROUND: Therapy of Maggot debridement (H. Illucens) has been used for the treatment of Maghgos, which can lead to the healing of infected wounds. This therapy has existed for several centuries. Raw maggots extracts (H. Illucens) have been shown to have antibacterial effects. Therefore, the study aims to test the concentration of methanol maggots (H. Illucens) Extract in accelerating the healing of open cuts of male white rats. RESEARCH METHOD: This type of research uses a research type of true experimental posttest with control group. It uses 30 male puith mice that are divided into six treatment groups. Group I Negative control, group II positive control, group III concentration of 10%, group IV concentration of 15%, group V 20% concentration and group VI without treatment. Treatment is done for 14 days. The injured mice ± 1.5 cm in diameter and measured in diameter vertically, horizontally, either diagonally or visually observed wound healing. RESULTS: Data analysis Results The percentage of open wound healing of white mice with a concentration of maggots extract 20% (H. Illucens) has a greater percentage of wound healing compared to 10% and 15% concentrations of 92.54%. Based on the results of the statistical analysis One Way Anova, the percentage of open wound healing data squeaky white with the concentration of maggots extract 15% (H. illucens) able to give the healing effect of open wounds in male white rats is almost the same as positive control with the value p > 0.05. CONCLUSION: The results showed that the percentage of open wound healing of male white rats (Rattus novergicus) at a concentration of 20% was able to accelerate the healing process of open wounds in male white rats (Rattus novergicus). KEYWORDS: larva flies, open wounds, Belatung (H. Illucens), Rattus Novergicus
Aktivitas Antioksidan Kombinasi Ekstrak Daun dan Kulit Batang Tanaman Kersen (Muntingia calabura L.) Dengan Metode DPPH Secara Spektrofotometri UV-Vis Spectrophotometry Muhamad Taswin; Fadilla Niki Nurjanah
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.014 KB) | DOI: 10.36086/jkpharm.v3i2.1084

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang : Radikal bebas adalah atom yang memiliki satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan sehingga sangat reaktif merusak jaringan akibatnya timbul reaksi oksidatif. Sedangkan antioksidan merupakan senyawa yang mampu menangkal atau meredam dampak negatif oksidan dalam tubuh. Antioksidan bekerja dengan cara mendonorkan satu elektronnya kepada senyawa yang bersifat oksidan sehingga aktivitas senyawa oksidan tersbut bisa dihambat. Tanaman Kersen terbukti mengandung senyawa flavonoid,Oleh karena itu, dilakukan penelitian mengenai aktivitas antioksidan yang terdapat pada daun dan Kulit Batang tanaman kersen yang di kombinasi. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik. deskriptif dengan melakukan uji aktivitas antioksidan yang terdapat pada kombinasi ekstrak etanol daun kersen dan kulit batang tanaman kersen (Muntingia Calabura. L) terhadap peredaman radikal bebas DPPH secara spektrofotometri UV-Vis, dilanjutkan dengan penentuan IC50. Hasil : Rendemen yang diperoleh dari ekstrak Kombinasi daun dan kulit batang tanamn kersen yaitu 3,347% Hasil penelitian menunjukan nilai IC50 ekstrak kombinasi daun dan ulit batang tanaman kersen yaitu 11,1481 ppm. Sedangkan nilai IC50 kontrol (+) Vitamin C yaitu 6,4665 ppm. Kesimpulan : Penelitian ini menunjukan bahwa ekstrak kombinasi daun dan kulit batang tanaman kersen memiliki aktifitas antioksidan yang lebih kuat jika dibandingkan dengan bentuk tunggalnya. Dan lebih kecil jika di bandingkan dengan kontrol (+) Vitamin C Kata kunci : Antioksidan, Radikal Bebas, Tanaman Kersen ABSTRACT Background: Free radicals are atoms that have one or more unpaired electrons so that they are very reactive and damage the network as a result of oxidative reactions. Meanwhile, antioxidants are compounds that can counteract or reduce the negative impact of oxidants in the body. Antioxidants work by donating one electron to an oxidant compound so that the activity of the oxidant compound can be inhibited.Kersen plants are proven to contain flavonoid compounds. Therefore, a study was conducted on the antioxidant activity found in the leaves and bark of cherry plants in combination. Methods: This research is a descriptive analytic study. descriptive by carrying out the antioxidant activity test contained in the combination of ethanol extract of cherry leaves and bark of cherry plants (Muntingia Calabura. L) against DPPH free radical reduction by UV-Vis spectrophotometry, followed by the determination of IC50. Results: The yield obtained from the combination extract of leaves and bark of cherry plants was 3.347%. The results showed that the IC50 value of the combination of leaves and stem extract of cherry plants was 11.1481 ppm. Meanwhile, the control IC50 (+) value of Vitamin C was 6.4665 ppm. Conclusion: This study shows that the combined extract of the leaves and bark of the cherry plant has stronger antioxidant activity when compared to its single form. And smaller when compared to control (+) Vitamin C Keywords : Antioxidants, Free Radicals, Kersen Plants
Uji Aktivitas Antijamur Beberapa Jamu Untuk Pengobatan Keputihan Yang Disebabkan oleh Jamur Candida albicans Muhammad Nizar; Lia Anggraeni
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.521 KB) | DOI: 10.36086/jkpharm.v3i2.1085

Abstract

ABSTRAK Keputihan atau leukore atau fluor albus, yaitu keluarnya cairan dari vagina. Keputihan bersifat fisiologis (dalam keadaan normal) dan patologis (karena penyakit). Gejala keputihan fisiologis antara lain cairan dari vagina tidak berwarna, tidak berbau, tidak gatal, jumlah cairan bisa sedikit, bisa banyak. Lalu gejala keputihan patologis antara lain cairan dari vagina keruh dan kental, warna kekuningan, keabuabuan, atau kehijauan, berbau busuk, amis, dan terasa gatal, jumlah cairan banyak. Untuk mengatasi hal tersebut, banyak obat dan jamu yang berkhasiat mengatasi keputihan. Sebab itulah, penulis melakukan penelitian tentang uji aktivitas antijamur beberapa jamu untuk pengobatan keputihan yang disebabkan oleh jamur Candida Albicans. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antijamur dengan menentukan diameter zona hambat. Jenis penelitian ini adalah penelitian desktiptif yang dilakukan dengan mengukur diameter zona hambat pada antijamur beberapa jamu untuk pengobatan keputihan yang disebabkan oleh jamur Candida Albicans. Pengujian aktivitas antijamur dilakukan dengan metode difusi agar yang dibuat dengan berbagai konsentrasi yaitu 50%, 75%, 100%. Berdasarkan hasil pengukuran diameter zona hambat pada beberapa jamu yang berkhasiat mengatasi keputihan dengan berbagai konsentrasi, hanya sampel C yang mempunyai zona hambatnya dengan konsentrasi 50%, 75%, 100% yang masing-masing zona hambatnya 14mm; 15,5mm; 18mm. Kontrol negatif aquadest 0mm dan kontrol positif berupa nistatin berdiameter 17mm. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sampel C memiliki aktivitas antijamur terhadap Candida albicans.
Pemeriksaan Rendemen, Kadar Sari Larut Air, dan Kadar Sari Larut Etanol dari Ekstrak Batang Brotowali Minda Warnis; Mona Rahmi Rulianti; Jihan Salsabila
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.914 KB) | DOI: 10.36086/jkpharm.v3i2.1086

Abstract

ABSTRAK Latar belakang: Brotowali (Tinospora crispa L.) merupakan salah satu tanaman obat yang memiliki berbagai manfaat untuk pengobatan malaria, hepatitis, diabetes mellitus, dan rematik. Brotowali mengandung senyawa kimia antara lain glikosida pikroretosid, palmatin, alkaloid berberin, dan zat pahit pikroretin. Banyaknya manfaat brotowali di kehidupan sehari-hari untuk mencegah dan mengobati berbagai penyakit maka tumbuhan ini berpotensi dikembangkan menjadi sediaan calon obat dalam bentuk ekstrak, sehingga perlu dilakukan standarisasi mutu ekstrak. Diantara parameter mutu ekstrak adalah kadar sari larut air, dan kadar sari larut etanol. Salah satu factor yang mempengaruhi mutu ekstrak adalah ukuran simplisia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur pengaruh ukuran simplisia batang brotowali terhadap rendemen, kadar sari larut air, dan kadar sari larut etanol ekstrak. Metode: Jenis penelitian adalah penelitian eksperimental. Batang brotowali dibagi menjadi dua ukuran yaitu dirajang dan diserbuk, lalu masing-masing dimaserasi dengan etanol 96% dan dikentalkan dengan rotary evaporator. Ekstrak masing-masing dilakukan uji rendemen, kadar sari larut air, dan kadar sari larut etanol. Hasil: Ekstrak etanol batang brotowali dari simplisia yang dirajang mempunyai rendemen ekstrak sebesar 6,0775%, kadar sari larut air sebesar 27,5950% dan kadar sari larut etanol sebesar 33,3123%. Sedangkan dari simplisia yang diserbuk mempunyai rendemen ekstrak sebesar 10,0918%, kadar sari larut air sebesar 60,7335% dan kadar sari larut etanol sebesar 39,4689%. Ekstrak etanol dari batang brotowali yang diserbuk mempunyai rendemen, kadar sari larut air, dan kadar sari larut etanol yang lebih besar dibandingkan ekstrak etanol dari batang brotowali yang dirajang. Kata kunci: Rendemen; Kadar sari larut air; Kadar sari larut etanol; Batang brotowali; Ukuran simplisia Abstract Background: Brotowali (Tinospora crispa L.) is one of the medicinal plants that has various benefits for treatment. Brotowali contains chemical compounds such as glycosides picroretoside, berberine alkaloids and picroretin bitter substances. With the many benefits of this brotowali to prevent and treat various diseases, this plant has the potential to be developed into a prospective drug preparation in the form of extracts, so it is necessary to standardize the quality of the extract. Among the quality parameters of the extract were the water soluble extract content and the ethanol soluble extract content. One of the factors that affect the quality of the extract is the size of the simplicia. The purpose of this study was to measure the effect of brotowali stem simplicia size on yield, water soluble extract content, and ethanol soluble extract content. Methods: This type of research is experimental research. Brotowali stems are divided into two sizes, namely chopped and powdered, then each macerated with 96% ethanol and thickened with a rotary evaporator. Each extract was tested for yield, water soluble extract content, and ethanol soluble extract content. Results: The ethanol extract of brotowali stems from chopped simplicia had an extract yield of 6.0775%, water soluble extract content of 27.5950% and ethanol soluble extract content of 33.3123%. Meanwhile, the powdered simplicia had an extract yield of 10.0918%, water soluble extract content of 60.7335% and ethanol soluble extract content of 39.4689%. The ethanol extract from the powdered brotowali stem had a higher yield, water soluble extract content, and ethanol soluble extract content than the ethanol extract from chopped brotowali stem. Keywords: Yield; Water soluble extract content; Ethanol soluble extract content; Brotowali stem;Simplicia size
Efektivitas Kapsul Ekstrak Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L.) Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Mencit (Mus musculus L.) Andita Nur Wijayanti
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.824 KB) | DOI: 10.36086/jpharm.v4i1.1218

Abstract

Empirical and research result proved that chemical contents of noni plant have medical benefits. Former research showed that noni fruit extract has antihyperglicemic effect. This research was aimed to determines the effectivity of noni fuit extract (Morinda citrofolia L.) capsule to lowering mice blood glucose level. This research was used glucose induced hyperglicemic mice with treatment groups such as: negative control group, noni fruit extractt capsule dose 1, and noni fruit extract capsule dose 2. Noni fruit extract capsule dose 1 treated group showed 40,7±10,8 mg/dl blood glucose level drop and 38,7±16,6 mg/dl drop for dose 2 treated group. The conclusion of this research is noni fruit extract capsule lowering mice blood glucose level.

Page 2 of 13 | Total Record : 122