cover
Contact Name
Ferawati Suzalin
Contact Email
ferawati@poltekkespalembang.ac.id
Phone
+6281377677902
Journal Mail Official
jpharm@poltekkespalembang.ac.id
Editorial Address
Poltekkes Kemenkes Palembang Jurusan Farmasi Jl. Sukabangun 1 No.1159, Suka Bangun, Kec. Sukarami, Kota Palembang, Sumatera Selatan 30151
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Farmasi
ISSN : 28293711     EISSN : 28292162     DOI : https://doi.org/10.36086/jpharm.v4i2.1238
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Kesehatan Farmasi JKPharm diterbitkan oleh Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Kemenkes Palembang
Articles 136 Documents
Efektivitas Gel Ekstrak Etanol Daun Awar-Awar (Ficus septica Burm. F) Terhadap Penyembuhan Luka Bakar Pada Kelinci (Oryctolagus cuniculus) Andi Ulfah Magefirah Rasyid; Dewi Isnaeni; Syafruddin Syafruddin; Zulkifli Zulkifli
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.56 KB) | DOI: 10.36086/jpharm.v4i1.1223

Abstract

A study on the effectiveness of Awar-awar (Ficus septica Burm. F) Leaf Ethanol Extract Gel on Healing Burns in Rabbits (Oryctolagus cuniculus). Most effective against burn wound healing in rabbits (Oryctolagus cuniculus). Awar-awar leaf extract (Ficus septica Burm. F) was prepared in a gel with a concentration of 1.5% w/v, 2% w/v, and 2.5% w/v. This study used rabbits as test animals; rabbits were divided into five groups. In each group, two rabbits had burns on their backs. The rabbit's back was burned with an area of 2.5 cm. Brushing is done twice a day. Observations were made with wound size parameters on the 1st, 3rd, 6th, 9th, and 12th days. The results showed that the gel preparation of awar-awar leaf extract (Ficus septica Burm. F) concentration of 2.5 % w/v was the most effective for wound healing in rabbits, with an average value of 0.75 cm. However, the effect was still lower than that of Bioplacenton® gel as a positive control with an average value of 0.5 cm.
Formulasi Tablet Dari Ekstrak Etanol Kulit Kacang Tanah (Arachis Hypogeae L.) Fadly Fadly; Dewi Marlina; Mar'atus Sholikhah; Cendi Elsa Karin
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.995 KB) | DOI: 10.36086/jpharm.v4i1.1224

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Kulit kacang tanah (Arachis hypogeae L.) hanya dianggap sebagai limbah dimasyarakat. Tetapi sebenarnya Kulit kacang tanah dapat dimanfaatkan, karena pada dosis 300mg/kgBB memiliki efek penurunan kolesterol terhadap tikus Sprague Dawley. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan ekstrak kental kulit kacang tanah sebagai sediaan tablet yang stabil secara fisik. Metode: Penelitian ini menggunakan metode eksperimental. Ekstrak kulit kacang tanah diperoleh dengan cara maserasi dengan pelarut etanol 70%, kemudian didestilasi vakum hingga didapat ekstrak kental. Diformulasikan dalam tiga formula dengan variasi konsentrasi bahan pengikat gelatin antara lain 1%, 3%, dan 5% dengan cara granulasi basah. Kemudian dilakukan evaluasi sediaan. Hasil: Hasil evaluasi menunjukkan bahwa uji keseragaman bobot, keseragaman ukuran, kekerasan, kerapuhan, dan waktu hancur menunjukkan bahwa ketiga formula menghasilkan tablet yang memenuhi syarat. Kecuali waktu hancur pada formula II dan formula III. Kesimpulan: Tablet ekstrak kulit kacang tanah dengan bahan pengikat gelatin 1% pada formula I dapat diformulasikan sebagai sediaan tablet yang stabil dan memenuhi persyaratan uji mutu fisik tablet. Kata Kunci: Tablet, kulit kacang tanah, granulasi ABSTRACT Background: Peanut shells (Arachis hypogeae L.) are only considered as waste in society. But actually peanut shells can be used, because at a dose of 300mg/kgBB it has a cholesterol-lowering effect on Sprague Dawley rats. This study aims to formulate a thick extract of peanut shell as a tablet preparation that is physically stable. Methods: This study used an experimental method. Peanut shell extract was obtained by maceration with 70% ethanol solvent, then vacuum distilled to obtain a thick extract. Formulated in three formulas with varying concentrations of gelatin binder, including 1%, 3%, and 5% by wet granulation. Then do the evaluation of the preparation. Results: The evaluation results showed that the weight uniformity test, size uniformity, hardness, friability, and disintegration time showed that the three formulas produced tablets that met the requirements. Except the disintegration time in formula II and formula III. Conclusion: Peanut shell extract tablets with 1% gelatin binder in formula I can be formulated as stable tablet preparations and meet the requirements of tablet physical quality test. Keywords: Tablet, peanut skin, granulation
Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Perilaku Swamedikasi Obat Analgesik, Masyarakat RW 04 Desa Trembulrejo Blora Periode April Tahun 2021 Melizsa Melizsa; Siti Novy Romlah; Istikholul Laiman
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.704 KB) | DOI: 10.36086/jpharm.v4i1.1229

Abstract

Swamedikasi atau pengobatan sendiri merupakan upaya masyarakat dalam menangani keluhan penyakit yang dialami. Dalam prakteknya, pengobatan sendiri akan menimbulkan masalah terhadap obat (Drug related problem), hal tersebut dikarenakan kurangnya pemahaman mengenai obat dan fungsinya. Tingkat pengetahuan merupakan salah satu faktor yang mempermudah perilaku swamedikasi yang tepat. Analgesik merupakan golongan obat untuk mengatasi rasa nyeri ringan hingga berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan terhadap perilaku swamedikasi obat analgesik masyarakat RW 04 desa Trembulrejo Blora. Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan teknik cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan non random sampling dengan teknik pusposive sampling. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebnayak 163 responden. Hasil penelitian ini menunjukan responden memiliki pengetahuan tergolong kurang sebesar 11,04%, 72,40% responden tergolong cukup baik, dan 16,56% tergolong baik. Kemudian perilaku swamedikasi menunjukan 2,45% responden memiliki perilaku swamedikasi tergolong kurang, 67,49% responden tergolong cukup, dan 29,45% tergolong baik. Berdasarkan uji korelasi rank spearman didapatkan korelasi yang signifikan dengan nilai r hitung 0,516 dan P value sebesar 0,000 yang menunjukan bahwa terdapat hubungan yang cukup kuat dan signifikansi antara tingkat pengetahuan terhadap perilaku swamedikasi obat analgesik dengan arah hubungan yang positif.
Rasionalitas Penggunaan Obat Berdasarkan Indikator Peresepan World Health Organization (Who) Di Rumah Sakit Pusat Pertamina Melizsa Melizsa; Fadly Putra Jaya; Teddi Fahmiadi
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 4, No 2 (2022)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.416 KB) | DOI: 10.36086/jpharm.v4i2.1230

Abstract

Penggunaan obat yang rasional merupakan bagian terpenting dalam sistem pelayanan kesehatan. WHO sebagai organisasi kesehatan terbesar di dunia telah mengembangkan indikator penggunaan obat yang rasional. Rumah Sakit merupakan salah satu fasilitas pelayanan kesehatan yang berperan dalam peningkatan upaya kesehatan bagi masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi kesesuaian penggunaan obat pada pasien berdasarkan indikator yang telah ditetapkan oleh WHO. Studi dilakukan secara deskriptif di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Pusat Pertamina. Sampel diambil dari lembar resep pasien umum rawat jalan bulan Januari 2021 secara retrospektif sebanyak 383 lembar resep. Data yang diperoleh dianalisis berdasarkan lima variabel penelitian, yaitu rata-rata jumlah item obat per lembar resep, persentase peresepan obat dengan nama generik, persentase peresepan antibiotik, persentase peresepan sediaan injeksi dan persentase kesesuaian peresepan dengan formularium rumah sakit. Hasil penilaian adalah rata-rata item obat tiap lembar resep sebesar 3,23; peresepan dengan nama generik 54,4%; peresepan antibiotik 6,9% dan penggunaan sediaan injeksi sebesar 6,1% kesesuaian peresepan dengan formularium rumah sakit 97,2%.
Formulasi Tablet Ekstrak Daun Kelengkeng (Euphoria Longana Lam) dengan Variasi Polivinil Pirolidone (PVP K-30) Sebagai Bahan Pengikat Dwi Saryanti; Fatma Eka Saputri
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.852 KB) | DOI: 10.36086/jpharm.v4i1.1231

Abstract

Background: Longan leaf (Euphoria longana Lam) is one of the plants that can be used by the community as an antipyretic or fever reducer with phytochemical content of saponins, flavonoids, triterpenoids and steroids, tannins, and glycosides. The tablet preparation was chosen in the formulation because it has an accurate dosage per tablet or per unit of use. This study aims to determine the concentration of PVP K-30 can produce tablet preparations from longan leaf extract as a binder that has good physical stability.Methods: Longan leaf extract was obtained by extraction by maceration method using 96% ethanol as solvent. Tablet preparations were made with ethanol extract of longan leaves with varying concentrations of PVP K-30 2%,3%, and 4%. The granule physical stability test includes: water content test, angle of repose test, flow time test, and determination test. The results of the physical stability test of the granules all met the requirements. The tablet physical stability test was carried out on days 0, 7, 14, 21 including: organoleptic test (shape, color, smell, and taste), weight uniformity test, size uniformity test, hardness test, friability test and disintegration time test. Results: The best concentration of PVP K-30 as a binder in longan leaf extract tablets (Euphoria longana Lam) was formula I with a concentration of 2% PVP K-30 binder with a weight uniformity test value (1.611±0.056) size uniformity test ( 1.036±0.046) friability test (0.545±0.090) hardness test (5.494±0.080) disintegration time test (10:22±0.055). Conclusion: Higher levels of PVP K-30 increase hardness, reduce friability and increase tablet disintegration time
Antibacterial Activity of Karanda (Carissa Carandas) Leaf and Fruit Extract to Against Streptococcus mutans, Escherichia coli, Staphylococcus aureus Destik wulandari; Mamik Ponco Rahayu; Fransiska Leviana
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (802.533 KB) | DOI: 10.36086/jpharm.v4i1.1234

Abstract

Tanaman karanda (Carissa carandas) memiliki aktivitas antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak daun dan buah karandas sebagai antibakteri terhadap Streptoccocus mutans, Escherichia coli, Staphylococcus aureus. Daun dan buah karandas diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut methanol. Ekstrak daun dan buah karanda diuji aktivitas antibakterinya menggunakan metode difusi seumuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun Carissa carandas mampu menghambat bakteri S. aureus dan E. coli dan ekstrak buah mampu menghambat bakteri S. mutans dengan optimal.
Hubungan Karakteristik Demografi Dengan Kesediaan Untuk Membayar Vaksin Covid-19 Pada Masyarakat Di Kecamatan Tanah Grogot Kalimantan Timur Faridah Baroroh; Guntur Ilham Wahyudi; Ferawati Suzalin
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.71 KB) | DOI: 10.36086/jpharm.v4i1.1235

Abstract

Latar Belakang: Vaksin COVID-19 merupakan salah satu upaya untuk memutus penyebaran penyakit COVID-19. Dengan hasil penelitian yang menunjukkan kemanjuran vaksin 65,30% dalam mencegah penyakit COVID-19, diperlukan vaksinasi ulang selama beberapa waktu yang akan datang karena kemungkinan penurunan kekebalan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara karakteristik demografi dengan kesediaan untuk membayar vaksin COVID-19. Metode: Metode penelitian adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan kuisioner online googleform. Subyek penelitian ini adalah masyarakat Kecamatan Tanah Grogot dan memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. Analisis hubungan antara demografi masyrakat dengan kesediaan untuk membayar vaksin pada penelitian ini menggunakan uji chi square. Hasil: Penelitian ini melibatkan 108 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Sebanyak 64,81% bersedia untuk membayar vaksin COVID-19. Terdapat hubungan antara karakteristik demografi pendapatan (p=0,000) (OR=5,056;CI95%:2,152-11,875) dan tingkat pendidikan (p=0,000) (OR=13,533;CI95%:5,220-35,089) dengan kesedian membayar vaksin COVID-19. Tidak terdapat hubungan antara karakteristik demografi usia (p=0,520) dan jenis kelamin (p=0,358) dengan kesedian membayar vaksin COVID-19. Kesimpulan: Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara karakteristik demografi pendapatan dan tingkat pendidikan dengan kesedian membayar vaksin COVID-19, serta tidak terdapat hubungan antara karakteristik demografi usia dan jenis kelamin dengan kesedian membayar vaksin COVID-19.
Gambaran Penyimpanan Sediaan Farmasi Pada Pedagang Besar Farmasi Di Kota Palembang Muhammad Taswin; Sarmadi Sarmadi; Tedi Tedi
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 4, No 2 (2022)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.596 KB) | DOI: 10.36086/jpharm.v4i2.1238

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Kesalahan dalam proses penyimpanan masih menjadi penyebab terbesar kerusakan pada sediaan farmasi yang dapat berdampak pada keselamatan pasien. Sebelum sediaan farmasi sampai ke tangan pasien diperlukan instansi kesehatan yang terlibat dalam kegiatan pendistribusian, yaitu Pedagang Besar Farmasi (PBF). Untuk menjamin keamanan, khasiat dan mutu sediaan farmasi maka PBF perlu menerapkan operasional penyimpanan yang termasuk dalam salah satu aspek penting pada Pedoman Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB). Metode: Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan rancangan deskriptif. Pengambilan data dilakukan pada bulan Maret-Mei 2021 pada Pedagang Besar Farmasi di Kota Palembang dengan menggunakan alat pengumpulan data berupa lembar kuisioner dan checklist lembar observasi yang selanjutnya dianalisis secara deskriptif berdasarkan pedoman CDOB, yaitu infrastruktur penyimpanan, sistem penyimpanan, dan sistem pencatatan. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 99,4% infrastruktur penyimpanan telah memenuhi standar CDOB, 85,71% sistem penyimpanan telah memenuhi standar CDOB, dan 95,55% sistem pencatatan telah sesuai dengan CDOB. Kesimpulan: Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan penyimpanan sediaan farmasi pada Pedagang Besar Farmasi di Kota Palembang masuk ke dalam kategori baik dengan persentase 92,17%. Kata kunci: Cara Distribusi Obat yang Baik, Pedagang Besar Farmasi, Penyimpanan Obat ABSTRACT Background: Errors in the storage process are still the biggest cause of damage to pharmaceutical preparations that can have an impact on patient safety. Before pharmaceutical preparations reach the patient's hands, it is necessary to have a health agency involved in distribution activities, namely Pharmacy Wholesalers (PBF). To ensure the safety, efficacy and quality of pharmaceutical preparations, PBF needs to implement storage operations which are included in one of the important aspects of the Guidelines for Good Drug Distribution Methods (CDOB). Methods: This research is a non-experimental research with a descriptive design. Data collection was carried out in March-May 2021 at Pharmaceutical Wholesalers in Palembang City using data collection tools in the form of questionnaire sheets and checklists of observation sheets which were then analyzed descriptively based on CDOB guidelines, namely storage infrastructure, storage systems, and recording systems. Results: The results showed that 99.4% of the storage infrastructure met the CDOB standard, 85.71% of the storage system complied with the CDOB standard, and 95.55% of the recording system complied with the CDOB. Conclusion: From the results of the study, it can be concluded that the application of pharmaceutical preparation storage at Pharmacy Wholesalers in Palembang City is in the good category with a percentage of 92.17%. Keywords : Drug Storage, Good Drug Distribution, Pharmaceutical Wholesalers
Sifat Fisika Kimia dan Aktivitas Antibakteri Kefir Susu Kacang Hijau dengan Kombinasi Jahe Merah Sri Mulyaningsih; Muhammad Sa’id Nugroho
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (650 KB) | DOI: 10.36086/jpharm.v4i1.1240

Abstract

Latar Belakang: Susu kacang hijau merupakan susu nabati yang dapat dijadikan alternatif bahan baku pembuatan kefir. Jahe merah mengandung senyawa polifenol yang memiliki aktivitas antibakteri. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui sifat fisika kimia dan aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli dari kefir susu kacang hijau yang ditambah jahe merah, serta mengetahui konsentrasi optimal penambahan jahe merah terhadap kefir susu kacang hijau. Metode: Formula kefir susu kacang hijau dibuat dengan konsentrasi kefir 10% dan konsentrasi glukosa 10% yang ditambahkan jahe merah 5%, 10%, 15% v/v. Kemudian dilakukan uji sifat fisik kimia meliputi uji organoleptik (rasa, aroma, warna, konsistensi), nilai pH dan kadar total asam dengan metode titrasi. Uji aktivitas antibakteri dengan metode difusi cara sumuran. Data yang diperoleh dibandingkan antara kefir yang tidak ditambahkan jahe merah dan yang ditambahkan jahe merah 5%, 10%, 15% v/v dan dianalisis statistik dengan uji Kruskal-Wallis dan uji Mann-Whitney. Hasil: Hasil uji organoleptik meliputi aroma, rasa, dan konsistensi kefir susu kacang hijau dengan kombinasi jahe merah 5%, 10%, 15% v/v sesuai dengan SNI susu fermentasi berperisa. Nilai pH kefir susu kacang hijau kombinasi jahe merah konsentrasi 0%, 5%, 10% 15% v/v sebesar 3,52; 3,44; 3,51; 3,58. Kadar total asam kefir yang diperoleh sebesar 0,84%−0,94%, memenuhi persyaratan kefir menurut Codex Alimentarius (WHO). Diameter zona hambat kefir susu kacang hijau kombinasi jahe merah konsentrasi 0%, 5%, 10%, dan 15% v/v berturut-turut sebesar 7,0; 7,7; 6; dan 6 mm. Kefir susu kacang hijau kombinasi jahe merah konsentrasi 5% v/v memiliki aktivitas antibakteri paling besar. Kesimpulan: Kefir susu kacang hijau yang ditambah jahe merah memiliki sifat fisika kimia yang memenuhi persyaratan kefir, dan meningkatkan aktivitas antibakterinya terhadap E.coli. Penambahan jahe merah yang optimal pada kefir susu kacang hiaju adalah 5%.
Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol dan Fraksi Etil Asetat Daun Senduduk (Melastoma Malabathricum L.) Dengan Metode Frap (Ferric Reducing Antioxidant Power) Nurliyasman Nurliyasman; Mona Khusnul Khotima; Srihainil Srihainil
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.471 KB) | DOI: 10.36086/jpharm.v4i1.1251

Abstract

Latar Belakang : Daun senduduk (Melastoma malabathricum L.) merupakan salah satu tanaman liar yang dapat dijadikan sebagai sumber antioksidan alami karena memiliki banyak khasiat untuk mengobati berbagai penyakit dan telah banyak digunakan oleh masyarakat sebagai pengobatan tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak etanol dan fraksi etil asetat daun senduduk dengan metode Ferric Reducing Antioxidant Power (FRAP). Metode ; penentuan aktivitas antioksidan dilakukan secara kuantitatif menggunakan Spektrofotometri UV-Vis dan diperoleh panjang gelombang serapan maksimum pada 511,5 nm dengan persamaan regresi linear dari kurva kalibrasi yaitu y = -0,1683 + 1,275x dengan r = 0,9864. Hasil ; penentuan aktivitas antioksidan pada ekstrak etanol daun senduduk sebesar 43,40 mmol Fe(II)/100 gr sedangkan pada ekstrak fraksi etil asetat daun senduduk sebesar 42,84 mmol Fe(II)/100 gr. Aktivitas antioksidan pada asam askorbat (sebagai pembanding) sebesar 53,82 mmol Fe(II)/100 gr. Kesimpulan ; Nilai aktivitas antioksidan ekstrak etanol lebih tinggi dibandingkan ekstrak fraksi etil asetat daun senduduk tetapi apabila nilai kedua ekstrak tersebut dibandingkan dengan nilai aktivitas antioksidan asam askorbat, maka nilai aktivitas antioksidan kedua ekstrak tersebut dikatakan rendah.

Page 3 of 14 | Total Record : 136