cover
Contact Name
Sonia Hanifati
Contact Email
soniahanifati@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
mdvi.perdoski@gmail.com
Editorial Address
Ruko Grand Salemba Jalan Salemba 1 No.22, Jakarta Pusat, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Dermato-Venereologica Indonesiana
ISSN : -     EISSN : 26567482     DOI : https://doi.org/10.33820/mdvi.v49i3
Core Subject : Health,
Media dermato Venereologica Indonesiana adalah jurnal open access dan peer-reviewed yang fokus di bidang dermatologi dan venereologi. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, laporan kasus, tinjauan pustaka dan komunikasi singkat mengenai kesehatan kulit dan kelamin, diagnosis dan terapi pada bidang kulit dan kelamin dan masalah lainnya di bidang kesehatan kulit dan kelamin.
Arjuna Subject : Kedokteran - Dematologi
Articles 282 Documents
Gambaran Klinikopatologi Karsinoma Sel Basal di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2018
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 4 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (955.242 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i4.144

Abstract

Karsinoma Sel Basal (KSB) merupakan jenis karsinoma kulit yang terletak di stratum basalis epidermis, bersifat invasif secara lokal, rekurensi tinggi, namun jarang bermetastasis. Angka kejadian KSB cenderung terus meningkat setiap tahunnya. Pemeriksaan histopatologis menjadi baku emas dalam menegakkan diagnosis KSB. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran klinikopatologi pasien KSB di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung tahun 2018. Penelitian ini menggunakan studi desain deskriptif retrospektif terhadap data sekunder, berupa seluruh (total sampling) rekam medis pasien yang didiagnosis KSB di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada periode 1 Januari hingga 31 Desember 2018. Kasus KSB terbanyak terdapat pada kelompok usia 60 tahun (56,3%) dengan rata-rata usia 59,63  15,91 tahun. Jenis kelamin terbanyak adalah wanita (53,1%) dan sebagian besar bekerja sebagai ibu rumah tangga (37,5%). Riwayat pendidikan terbanyak adalah SD dan SLTA (masing-masing 40,6%). Lokasi lesi terbanyak terdapat di kepala dan atau leher (94%); ukuran >2 cm (39,4%); dan soliter (96,9%). KSB risiko rendah (84,9%) dengan subtipe nodular atau solid (36,4%) merupakan gambaran histopatologis terbanyak.
PERBANDINGAN PENCAPAIAN PASI-75 NARROWBAND ULTRAVIOLET B DENGAN METOTREKSAT ORAL PADA PSORIASIS VULGARIS DERAJAT SEDANG-BERAT
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 2 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.032 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i2.149

Abstract

Latar belakang: Psoriasis merupakan penyakit inflamatorik kronis kambuhan yang mengganggu kualitas hidup. Fototerapi narrowband ultraviolet B (NBUVB) dan metotreksat (MTX) adalah pilihan terapi psoriasis vulgaris (PV) derajat sedang-berat. Tujuan: Membandingkan efektivitas NBUVB dengan MTX oral sebagai terapi PV. Metode: Penelitian analitik retrospektif terhadap 19 pasien yang didapat datanya dari rekam medis tentang efektivitas terapi berdasarkan skor Psoriasis Area and Severity Index (PASI) sejak Maret 2019 hingga Agustus 2019 di RSUP dr. Sardjito Yogyakarta. Pasien dibagi menjadi kelompok NBUVB (8) dan MTX (11). Penurunan PASI sebesar 75% (PASI-75) merupakan indikator keberhasilan. Hasil: PASI-75 dicapai 6 (75%) orang pada kelompok NBUVB, sementara kelompok MTX 9 (81,82%) orang. Rata-rata jumlah minggu pencapaian PASI-75 adalah 11,67 ± 2,67 pada kelompok NBUVB serta 17,33 ± 4,89 pada kelompok MTX (p=0.023). Diskusi: Pencapaian PASI-75 pada MTX lebih lama karena waktu paruh obat sangat panjang disertai frekuensi pemberian per minggu sehingga onset lebih lambat. Kepatuhan berobat dan pemantauan berkala menjadi kunci sukses terapi. Sampel yang besar dan waktu observasi yang panjang diperlukan untuk penelitian yang lebih baik. Kesimpulan: NBUVB memberikan penurunan PASI lebih cepat, sedangkan MTX memberikan hasil maksimal dalam jangka panjang. Keduanya memiliki anti mitotik, anti proliferasi, serta anti inflamasi.Kata kunci: psoriasis, metotreksat, ultraviolet, fototerapi, pasi
PILIHAN TERAPI TERKINI PRURIGO NODULARIS
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 2 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.989 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i2.151

Abstract

Nodus hiperkeratotik yang sangat gatal dengan awitan kronis dan dapat mengganggu kualitas hidup merupakan karakteristik prurigo nodularis. Diagnosis PN berdasarkan penilaian klinis saja tidak sulit dilakukan namun perlu dicari etiologi atau penyakit yang mendasari. Oleh karena itu, dibutuhkan algoritma untuk menegakkan diagnosis prurigo nodularis. Saat ini terapi prurigo nodularis terdiri atas kortikosteroid topikal, capsaicin, penghambat kalsineurin, fototerapi, dan obat sistemik misalnya gabapentin, antidepresan, serta imunosupresan. Konsep pengobatan prurigo nodularis yang terkini antara lain pemberian opioid receptor antagonist, neurokinin-1 receptor antagonists, dan anti IL-4 telah dikembangkan, didukung berbagai uji klinis.
VULVAR INTRAEPITHELIAL NEOPLASIA DIFFERENTIATED (dVIN) YANG TEGAK DENGAN PEMERIKSAAN IMUNOHISTOKIMIA P40 DAN Ki67
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 3 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1175.832 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i3.155

Abstract

Vulvar intraepithelial neoplasia differentiated (dVIN) merupakan karsinoma sel skuamosa in situ dengan manifestasi lesi tidak khas dan secara histologi menyerupai gangguan vulva non neoplastik sehingga penyakit ini jarang teridentifikasi. Makalah ini melaporkan wanita 61 tahun dengan keluhan benjolan yang terasa gatal, nyeri dan panas pada bibir vagina muncul sejak 1 tahun yang lalu, lesi sempat menghilang dan muncul kembali sejak 2 bulan yang lalu. Pemeriksaan dermatovenereologi menunjukkan vulva vagina dextra dan sinistra tampak massa tumor hiperpigmentasi dengan permukaan verukosa, tepi regular, multipel, sebagian tampak fissura. Hasil pemeriksaan histopatologi dan imunohistokimia menunjukkan jaringan kulit sebagian mengalami displasia dengan sel-sel atipia dengan membrana basalis yang relatif utuh dengan hasil p40 terpulas positif pada inti tumor dan Ki67 50% terpulas positif. Diagnosis yang ditegakkan adalah dVIN/PB pada vulva. Tampilan klinis pada kasus dVIN tidak spesifik dan sering asimtomatik. Temuan histopatologisnya sulit dan tidak mudah dikenali oleh ahli patologi sehingga sering salah diagnosis sebagai dermatosis jinak, hubungan klinikopatologis sangat penting dalam mengelola kasus ini. Diagnosis banding dVIN/PB pada vulva harus selalu dipertimbangkan jika ditemukan lesi hiperpigmentasi atau hyperkeratosis pada vulva,karena sering menyerupai gangguan epitel non neoplastik. Pemeriksaan histopatologi dan imunohistokimia P40 dan Ki67 dapat digunakan untuk membantu dalam penegakan diagnosis kasus dVIN/PB pada vulva. 
LANGERHANS CELL HISTIOCYTOSIS: PENEGAKAN DIAGNOSIS
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 1 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1079.003 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i1.156

Abstract

Langerhans cell histiocytosis (LCH) merupakan suatu penyakit neoplasia inflamatif sel dendritik mieloid langka dengan manifestasi klinis yang bervariasi, ditandai dengan adanya sel mononuklear positif terhadap CD1a/S100/CD207 yang menginfiltrasi sistem organ termasuk kulit. Kejadian LCH di RSUP Dr Sardjito dari tahun 2014–2019 sebanyak 11 kasus. Makalah ini melaporkan satu kasus LCH pada anak berusia 1,5 tahun dengan keluhan utama bintik-bintik merah di seluruh tubuh dan kulit kepala berkerak sejak 6 bulan yang lalu. Pemeriksaan status dermatovenereologis menunjukkan pada kepala, wajah, dada, punggung, kedua tangan dan kaki, serta punggung kaki nampak papul purpurik multipel tersebar, kepala tertutup krusta kekuningan, kuku tangan dan kaki tampak hiperkeratosis. Pada abdomen didapatkan hepatosplenomegali. Pada pasien ini dilakukan pemeriksaan histopatologis dan imunohistokimia S-100 didapatkan positif pada sitoplasma sel tumor dan CD1a positif pada sitoplasma dan membran sel tumor. Diagnosis LCH ditegakkan berdasarkan kondisi klinis dan histopatologis. Pasien mendapatkan terapi pelembab dan regimen kemoterapi.Kata kunci : Langerhans cell histiocytosis, diagnosis, imunohistokimia
BEBERAPA JENIS FITOESTROGEN SEBAGAI TERAPI UNTUK PENUAAN KULIT PADA PEREMPUAN PASCAMENOPAUSE
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 4 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (795.165 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i4.157

Abstract

Penuaan merupakan proses perubahan dinamis yang ditandai oleh kemunduran progresif berbagai sistem tubuh disertai penurunan kapasitas fisiologis. Salah satu faktor intrinsik penuaan kulit pada perempuan adalah penurunan kadar hormon estrogen di dalam tubuh saat memasuki masa pascamenopause. Estrogen merupakan hormon yang memiliki peran penting dalam regulasi fisiologis kulit. Berkurangnya kadar estrogen dapat mempercepat proses penuaan kulit yang ditandai dengan penurunan ketebalan, elastisitas, dan hidrasi kulit. Selama ini pemberian terapi hormon estrogen terbukti dapat mengurangi gejala penuaan kulit pada perempuan pascamenopause, namun terapi ini berpotensi meningkatkan risiko terjadinya efek samping berat contohnya kanker payudara, kanker endometrium, dan kanker ovarium. Fitoestrogen merupakan senyawa nonsteroid berasal dari tanaman yang memiliki aktivitas biologik serupa dengan estrogen. Setiap jenis fitoestrogen memiliki aktivitas biologik yang berbeda satu sama lain. Studi terkini menunjukkan bahwa fitoestrogen dapat menjadi terapi alternatif untuk mengatasi penuaan kulit pada perempuan pascamenopause. Fitoestrogen yang diberikan baik secara oral maupun topikal terbukti dapat meningkatkan elastisitas, ketebalan, dan kelembaban kulit serta mengurangi pigmentasi dan proses inflamasi pada kulit. 
SEROLOGI SIFILIS PADA INFEKSI HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS (HIV)
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 2 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (767.649 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i2.159

Abstract

ABSTRAKSifilis merupakan infeksi menular seksual (IMS) yang diketahui berhubungan dengan peningkatan risiko infeksi human immunodeficiency virus(HIV) dan begitupun sebaliknya. Hingga saat ini, deteksi sifilis dengan atau tanpa koinfeksi HIV menggunakan tes serologi masih menjadi pilihan utama, terutama di negara-negara berkembang. Tes serologi yang rutin digunakan meliputi tes nontreponema dan treponema. Dalam menegakkan diagnosis, klinisi seringkali merujuk pada tes serologi tersebut. Hasil tersebut perlu menjadi perhatian karena manifestasi klinis dan tes serologi sifilis pada HIV sering tidak biasa. Hal ini diduga akibat respons imun pada infeksi HIV yang dapat mengubah perjalanan alamiah sifilis. Beberapa hasil tes serologi sifilis pada koinfeksi HIV dapat menunjukkan hasil negatif palsu, terjadinya serokonversi, dan adanya fenomena serofast. Selain itu, perlu juga dilakukan tes penapisan serologi sifilis secara rutin pada koinfeksi HIV dan untuk mengevaluasi efektivitas terapi. Berbagai pola serologi sifilis pada koinfeksi HIV yang tidak biasa tersebut perlu diantisipasi dengan baik sehingga tata laksana dapat berjalan efektif, dan diharapkan mengurangi risiko penularan terutama pada kelompok dengan risiko tinggi.
CAULIFLOWER-LIKE APPEARANCE CUTANEOUS PAPILLOMA
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 4 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1003.364 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i4.160

Abstract

ABSTRAKCutaneous papilloma (CP) adalah neoplasma jinak jaringan ikat dermis, terdiri dari jaringan fibrosa longgar, dan tampak sebagai papula bertangkai sewarna kulit hingga hiperpigmentasi yang biasanya bersifat asimptomatis apabila tidak disertai adanya peradangan dan iritasi. Terdapat 3 tipe CP yang umum ditemui, yaitu furrowed papule CP,  filiform CP dan bag-like CP. Pada tulisan ini dilaporkan suatu kasus cauliflower-like appearance CP yang merupakan gambaran klinis tidak biasa dari CP.Dilaporkan suatu kasus pada perempuan berusia 45 tahun dengan keluhan timbul benjolan yang berjonjot-jonjot pada kelopak mata bawah sebelah kanan sejak 3 tahun lalu. Benjolan tersebut berjonjot-jonjot, lunak, tidak terasa nyeri, tidak gatal dan tidak berdarah.  Pada pemeriksaan dermatologis pada regio orbita dextra (lower eyelid) tampak nodul hiperpigmentasi, soliter, permukaannya verukosus, dan teraba lunak. Ukuran 1cm x 1cm.  Pada pemeriksaan dermoskopi polarized dan non polarized didapatkan gambaran cerebriform (brain-like) pattern dan comedo like opening. Hasil pemeriksaan histopatologi menunjukkan sediaan jaringan dengan pelapis epitel skuamous berlapis yang mengalami hiperkeratosis, akantosis dan papilomatosis. Stroma terdiri dari jaringan ikat fibrous yang diinfiltrasi sel-sel radang limfosit yang minimal dan tampak struktur adneksa kulit dalam batas normal dengan kesimpulan suatu cutaneous papilloma. Pasien selanjutnya ditatalaksana dengan bedah eksisi.Kata Kunci: Cauliflower-like appearance, Cutaneous papilloma, Skin tag
APLIKASI TERAPI OKSIGEN HIPERBARIK DALAM PENYEMBUHAN LUKA KRONIS
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 2 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (779.449 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i2.161

Abstract

ABSTRAKLuka kronis adalah luka yang membutuhkan waktu lama untuk sembuh, tidak sembuh, atau berulang. Luka kronis sebagian besar terkait dengan hipoksia dan iskemia yang dapat merusak sintesis kolagen dan dapat menyebabkan akumulasi metabolit seperti amonia yang menyebabkan pembengkakan sel dan mengganggu penyembuhan luka.  Penyembuhan luka melibatkan banyak tipe sel yang berinteraksi, yang terdiri dari beberapa fase, yaitu fase hemostasis atau koagulasi, inflamasi, proliferasi, dan remodeling. Oksigen adalah nutrisi penting untuk luka dan memainkan peran penting dalam setiap tahap proses penyembuhan luka. Terapi oksigen hiperbarik ditujukan untuk mengatasi masalah mendasar dari hipoksia luka dengan menyediakan oksigen ke jaringan iskemik. Terapi oksigen hiperbarik merupakan penggunaan O2 100% pada tekanan lebih besar dari tekanan atmosfir. Pasien menghirup O2 100% secara intermiten sementara tekanan dari ruang perawatan ditingkatkan menjadi lebih dari 1 atmosfer absolut (ATA). Terapi oksigen hiperbarik mengurangi cedera reperfusi iskemia, memobilisasi Stem progenitor cell (SPC) yang telah diidentifikasi berperan dalam vaskulogenesis, meningkatkan aktivitas neutrofil untuk membunuh bakteri, menghasilkan reactive oxygen species (ROS) dan reactive nitrogen species (RNS), dan merangsang berbagai faktor pertumbuhan yang mendukung penyembuhan luka.Kata Kunci: luka kronis, HBOT, penyembuhan luka kronis, terapi oksigen hiperbarik
PERANAN EDUKASI, TERAPI OKUPASI DAN FISIOTERAPI PADA MORBUS HANSEN TIPE MULTIBASILER DENGAN KECACATAN DERAJAT DUA
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 1 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2863.568 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i1.164

Abstract

Kerusakan saraf pada kusta dapat menyebabkan cacat dan berdampak negatif pada hidup. Rehabilitasi medis penting pada pasien kusta, meliputi edukasi pemeliharaan kulit, proteksi tubuh, fisioterapi, bidai, orthoses, dan terapi okupasi. Dilaporkan satu kasus pria usia 35 tahun kontrol ke Poliklinik Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Umum Daerah dr. Saiful Anwar (RSSA) Malang dengan tangan kanan kaku dan luka di ibu jari dan jari manis tangan kanan. Pasien didiagnosis Morbus Hansen Tipe Multibasiler (MHMB) dan kecacatan derajat II (claw hand dextra) sejak Februari 2018. Pemeriksaan fisis menunjukkan claw hand dextra dan pemendekan ibu jari tangan kiri. Pemeriksaan dermatologis menunjukkan ulkus, batas tegas, jumlah dua dengan ukuran masing-masing 1 x 0,5 cm pada palmar manus dekstra. Pasien diterapi melanjutkan MDT MB dan edukasi rawat luka. Pasien dikonsultasikan ke Poliklinik Rehabilitasi Medik RSSA dan diterapi okupasi dan fisioterapi selama lima kali. Didapatkan peningkatan kekuatan fungsi dan ketangkasan tangan kanan, serta peningkatan kekuatan otot abduksi jari kelingking kanan. Tidak ditemukan efek samping pada pasien.Kata kunci : Kecacatan derajat II, morbus hansen tipe multibasiler, rehabilitasi medik

Page 10 of 29 | Total Record : 282