cover
Contact Name
Sonia Hanifati
Contact Email
soniahanifati@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
mdvi.perdoski@gmail.com
Editorial Address
Ruko Grand Salemba Jalan Salemba 1 No.22, Jakarta Pusat, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Dermato-Venereologica Indonesiana
ISSN : -     EISSN : 26567482     DOI : https://doi.org/10.33820/mdvi.v49i3
Core Subject : Health,
Media dermato Venereologica Indonesiana adalah jurnal open access dan peer-reviewed yang fokus di bidang dermatologi dan venereologi. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, laporan kasus, tinjauan pustaka dan komunikasi singkat mengenai kesehatan kulit dan kelamin, diagnosis dan terapi pada bidang kulit dan kelamin dan masalah lainnya di bidang kesehatan kulit dan kelamin.
Arjuna Subject : Kedokteran - Dematologi
Articles 282 Documents
MODALITAS TERAPI BEDAH EKSISI DAN LIPOSUCTION SEBAGAI TATALAKSANA BROMHIDROSIS AKSILARIS
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 3 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2869.136 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i3.276

Abstract

Bromhidrosis adalah bau badan tidak sedap yang terjadi secara kronis. Bromhidrosis sering terjadi pada bagian ketiak sehingga disebut bromhidrosis aksilaris. Terapi bromhidrosis dibagi menjadi terapi bedah dan terapi non bedah. Terapi bedah mencakup bedah eksisi, liposuction dan simpatektomi. Penggunaan terapi non bedah memiliki efek sementara dan sering mengalami rekurensi. Sedangkan penggunaan teknik bedah dinilai memiliki efektivitas lebih tinggi karena risiko rekurensi yang rendah sehingga meningkatkan kepuasan pasien. Bedah eksisi dilakukan dengan pengangkatan kelenjar apokrin dan ekrin. Liposuction dilakukan dengan teknik suction untuk menghilangkan dan menghancurkan kelenjar apokrin dan kelenjar ekrin, disertai rusaknya persarafan kelenjar keringat pada jaringan subkutan. Tindakan pembedahan memiliki komplikasi yang lebih banyak dibandingkan tindakan non bedah yaitu infeksi, penyembuhan yang lama, luka parut, nekrosis, seroma, dan hematoma.
ETIOPATOGENESIS KELAINAN KULIT KERING PADA DIABETES MELITUS TIPE 2
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 3 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (817.996 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i3.277

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit metabolik yang disebabkan oleh peningkatan resistensi insulin, penurunan produksi insulin, atau kombinasi keduanya yang ditandai dengan hiperglikemia. Kelainan kulit kering termasuk salah satu manifestasi DMT2 dengan prevalensi tertinggi, yaitu 69%. Kondisi kulit kering, terutama pada kaki, berpotensi menjadi derajat yang lebih berat dan dapat berkembang menjadi ulkus kaki diabetes. Penanganan dini diperlukan untuk mencegah terjadinya penyulit dan peningkatan morbiditas pada penyandang DM. Kelainan kulit kering berkorelasi erat dengan pengontrolan glikemik yang buruk. Pada kondisi hiperglikemia dapat terjadi berbagai gangguan homeostasis kulit. Selain itu, faktor yang berkontribusi pada kelainan kulit kering adalah akumulasi advanced glycation end product (AGEs), kerusakan vaskular yang progresif, faktor neural, dan sistem imun. Etiopatogenesis kulit kering pada DMT2 meliputi berbagai hal, yaitu mekanisme terjadinya kulit kering secara sistemik, terdapatnya kondisi neuropati pada DMT2, dan perubahan biofisika pada stratum korneum. Di samping itu, terjadi penurunan hidrasi stratum korneum dan peningkatan TEWL, perubahan asam amino, lipid, dan pH kulit, serta penurunan proliferasi dan diferensiasi epidermis. Hal tersebut menyebabkan penumpukan lapisan korneosit dan penurunan konsentrasi lipid yang diduga menjadi faktor penyebab kulit kering pada penyandang DMT2.   Kata kunci: AGEs, diabetes melitus tipe 2, hidrasi, hiperglikemia,  kulit kering
PIGMENTED PURPURIC DERMATOSES
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 3 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1766.289 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i3.278

Abstract

Pigmented purpuric dermatoses (PPD) merupakan kelompok penyakit kulit tidak mengancam jiwa dengan perjalanan penyakit kronik. Penyakit dibagi menjadi beberapa varian dengan gambaran klinis berbeda yaitu Schamberg disease (SD), Majocchi purpura (MP), pigmented purpuric lichenoid dermatosis (PPLD) of Gourgerot and Blum, eczematid-like purpura of Doucas and Kapetanakis (EPDK), liken aureus (LA) dan granulomatous pigmented purpura (GPP). Tipe SD merupakan varian paling sering ditemukan. Gambaran khas berupa makula jingga kemerahan disertai bintik-bintik purpura menyerupai serbuk cayenne pepper. Etiologi pasti belum diketahui namun beberapa obat dan penyakit tertentu dapat menjadi pemicu. Dilatasi dan fragilitas kapiler disertai ruptur kapiler papila dermis diduga berperan dalam patogenesis. Baku emas pemeriksaan PPD adalah histopatologik berupa temuan infiltrat limfositik perivaskular, ekstravasasi eritrosit dan deposit hemosiderin. Dermoskopi dapat membantu membangun diagnosis dengan ditemukan red dots/red globules serta coppery-brown background. Pemeriksaan darah lengkap, marker antibodi dan pencitraan non-invasif digunakan untuk menyingkirkan diagnosis banding. Edukasi pasien mengenai penyakit yang dapat kambuh namun self-limiting penting diberikan. Hingga saat ini pedoman tatalaksana belum ada namun penggunaan beberapa obat menunjukkan efektivitas sebagai terapi PPD. Kata kunci: diagnosis, gambaran klinis, pigmented purpuric dermatoses
PERAN UJI TEMPEL OBAT NEVIRAPIN DALAM PELACAKAN PENYEBAB ERUPSI OBAT PADA PASIEN HIV
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 3 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (753.05 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i3.279

Abstract

Erupsi obat (EO) saat ini masih menjadi masalah kesehatan karena kasusnya cukup tinggi. Penderita infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan kelompok yang rentan mengalami EO. Salah satu pilihan terapi lini pertama HIV adalah nevirapin (NVP) yang diketahui paling sering menyebabkan EO. Manifestasi EO akibat nevirapin terbanyak, yaitu erupsi makulopapular, merupakan reaksi hipersensitivitas tipe IV. Cara menentukan obat penyebab EO seringkali hanya berdasarkan dugaan dari anamnesis. Uji tempel obat (UTO) merupakan uji kulit in vivo yang relative aman dan murah untuk mengidentifikasi penyebab EO yang didasari reaksi hipersensitivitas tipe IV.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui persentase nilai positif UTO pada penderita HIV yang diduga mengalami EO karena nevirapin, serta menguji konsentrasi terbaik dan keamanan  nevirapin yang dapat digunakan sebagai alergen UTO.Penelitian ini merupakan suatu penelitian deskriptif non-analitik. Uji tempel obat nevirapin dilakukan pada 25 subjek HIV dengan EO yang diduga karena nevirapin. Alergen nevirapin menggunakan pelarut vaselin album dengan konsentrasi 10%, 20%, dan 30%. Proporsi nilai positif UTO nevirapin tertinggi pada konsentrasi 30%, didapatkan pada 32% subjek, diikuti konsentrasi 20% pada 24% subjek dan konsentrasi terendah, yaitu 10% pada 20% subjek. Tidak ditemukan efek samping pada UTO nevirapin. Uji tempel obat nevirapin dengan konsentrasi 30% pelarut vaselin album berguna dan aman untuk mengidentifikasi alergi obat yang diduga karena nevirapin pada penderita HIV. Kata kunci: erupsi obat,  uji tempel obat, nevirapin, HIV
KELAINAN IMUNODEFISIENSI PRIMER DI BIDANG DERMATOLOGI
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 3 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1014.472 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i3.280

Abstract

Kelainan imunodefisiensi primer merupakan kelompok penyakit heterogen dengan gangguan sistem imun yang disebabkan oleh defek genetik. Kelainan tersebut diklasifikasikan berdasarkan defek imunitas adaptif dan bawaan. Meskipun manifestasi klinisnya bervariasi, sebanyak 40-70% pasien menunjukkan gejala di kulit sehingga temuannya dapat membantu menegakkan diagnosis. Kelainan imunodefisiensi primer paling banyak terjadi pada bayi baru lahir hingga usia kurang dari satu tahun, namun dapat juga pada usia yang lebih tua. Kelainan imunodefisiensi primer dapat menyebabkan komplikasi infeksi rekuren dan berat, ataupun komplikasi non-infeksi. Dermatitis atopik merupakan temuan paling sering di kulit. Pasien dengan infeksi telinga, sinus, paru yang berulang dalam satu tahun, gagal tumbuh, respons buruk terhadap antibotik, sariawan persisten, abses kulit yang sulit sembuh, riwayat keluarga dan penyakit autoimun multipel harus dicurigai menderita kelainan imunodefisiensi primer. Pemeriksaan lymphocyte proliferation assay, flow cytometry, pengukuran kadar imunoglobulin serum, neutrophil function assay, dan uji komplemen dibutuhkan untuk mengonfirmasi diagnosis. Berbagai manifestasi kulit pada kelainan imunodefisiensi primer penting diketahui untuk membantu deteksi dini dan tata laksana lebih awal serta komprehensif pada pasien.Kata kunci: autoimun, dermatologi, genetik, kelainan imunodefisiensi primer
PENATALAKSANAAN PSORIASIS TIPE PLAK DENGAN KOMBINASI TERAPI SECUKINUMAB DAN METOTREKSAT : SERIAL KASUS
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 3 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1120.707 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i3.281

Abstract

Psoriasis tipe plak merupakan penyakit radang kulit kronik dan residif, memiliki dasar genetik dengan karakteristik gangguan pertumbuhan dan diferensiasi epidermis. Psoriasis tipe plak merupakan bentuk terbanyak yang diderita, mencapai sekitar 90% seluruh kejadian psoriasis. Tata laksana psoriasis derajat sedang dan berat umumnya dimulai dengan terapi kombinasi dan rotasi antara terapi topikal, fototerapi, sistemik nonbiologik. Apabila terapi-terapi tersebut dianggap tidak efektif dan kurang berespons, pemberian terapi sistemik biologik perlu dipertimbangkan. Metotreksat merupakan salah satu terapi sistemik nonbiologik konvensional yang mekanisme kerjanya adalah menghambat sintesis DNA, sehingga menghasilkan kerja antimitotik dan antiinflamasi di epidermis. Secukinumab adalah inhibitor IL-17A yang menunjukkan efikasi pada terapi psoriasis tipe plak derajat sedang hingga berat dan artritis psoriatik. Serial kasus ini melaporkan dua kasus psoriasis tipe plak yang diterapi dengan kombinasi  secukinumab 150 mg/4 minggu dan metotreksat 10 mg/minggu. Setelah 24 minggu didapatkan remisi psoriasis tipe plak mencapai PASI > 90 tanpa efek samping.Kata kunci:  agen biologik - metotreksat  - PASI - psoriasis tipe plak - secukinumab
ANALISIS FAKTOR RISIKO REAKSI KUSTA: STUDI RETROSPEKTIF DI RUMAH SAKIT RUJUKAN TERSIER INDONESIA TAHUN 2015-2020
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 4 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (764.287 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i4.282

Abstract

Latar Belakang: Kusta merupakan penyakit tropis terabaikan. Pada perjalan penyakit kusta yang kronis, sering terjadi reaksi kusta dengan episode subakut akibat respon imunologis terhadap antigen Mycobacterium. leprae . Pada kusta, penting diketahui  berbagai faktor pemicu yang mungkin akan mencetuskan reaksi kusta,  karena memiliki efek signifikan terhadap kualitas hidup. Metode: Studi ini merupakan studi retrospektif analitik dengan data yang diambil dari rekam medis seluruh pasien kusta baru dari tahun 2015-2020. Seluruh varian data dianalisis dengan Pearson’s Chi Square dan Kruskal Wallis test. Analisis regresi  logistik multivariat digunakan untuk mengkalkulasi risiko reaksi kusta.Hasil & Diskusi: Reaksi tipe 1 lebih sering terjadi pada kusta borderline dengan indeks bakteri (IB) dan indeks morfologi (IM) negatif. Reaksi tipe 2 umum terjadi pada kusta tipe lepromatosa dengan IB  ≥3 + (p=0.001) dan IM  1-5%. Pada analisis multivariat, hanya IB 3+ atau lebih yang memiliki korelasi positif dengan kemunculan reaksi kusta.Kesimpulan:  Klinisi perlu menggunakan klasifikasi Ridley and Jopling  dan pemeriksaan IB  serta IM untuk mengetahui risiko terjadinya reaksi kusta. Kata Kunci: penyakit tropis, faktor risiko, reaksi kusta
ANGKA KEJADIAN DAN KARAKTERISTIK TINEA KAPITIS DI RSUP Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG PERIODE 2016−2020
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 49 No 3 (2022): Media Dermato-Venereologica Indonesiana
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1403.894 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v49i3.299

Abstract

Tinea kapitis adalah infeksi jamur pada rambut dan kulit kepala yang disebabkan oleh jamur dermatofita. Penyakit ini sering terjadi pada anak-anak hingga masa prepubertas. Data mengenai tinea kapitis belum tersedia secara menyeluruh di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang angka kejadian dan karakteristik tinea kapitis, khususnya di daerah Jawa Barat. Penelitian ini merupakan suatu penelitian retrospektif potong lintang yang disajikan secara deskriptif. Data dikumpulkan dari rekam medis pasien di Klinik Dermatologi Infeksi Poliklinik Dermatologi dan Venereologi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Hasan Sadikin Bandung.Dari hasil penelitian ini didapatkan 67 pasien tinea kapitis dari 617 pasien dermatomikosis di RSUP Dr. Hasan Sadikin tahun 2016−2020. Jenis tinea kapitis yang ditemukan ialah tipe gray patch (56,7%), kerion (20,9%), black dot (4,5%), favus (3%) dan pasien yang tidak diketahui jenis tinea kapitisnya (14,9%). Kejadian pada laki-laki hamper sama dengan perempuan dan paling banyak terjadi pada kelompok usia 5−9 (35,8%) tahun. Pemeriksaan lampu Wood dilakukan pada 44 pasien, didapatkan hasil flouresensi kuning kehijauan sebesar 50,7%. Pemeriksaan dermoskopi menunjukkan hasil paling banyak berupa comma hairs dan broken hair. Pemeriksaan langsung dengan larutan KOH 10−20% menunjukkan hasil positif sebesar 79,1%. Data kultur yang didapatkan dari 18 pasien., M. canis sebagai penyebab terbanyak (94 %). Kesimpulan pada penelitian ini, jenis tinea kapitis yang paling sering ditemukan adalah tipe gray patch, lebih banyak ditemukan pada laki-laki, kelompok usia 5–9 tahun, dan riwayat kontak dengan hewan. Pendekatan secara laboratorium dilakukan sehingga mendukung dalam penegakan diagnosis tinea kapitis.
REAKSI SIMPANG KULIT AKIBAT PENGGUNAAN APD SELAMA PANDEMI COVID-19: STUDI DESKRIPTIF DI RSUP PERSAHABATAN
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 49 No 1 (2022)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (827.219 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v49i1.301

Abstract

Pendahuluan: Pandemi coronavirus disease (COVID-19) menimbulkan tantangan tersendiri bagi tenaga kesehatan yang bekerja merawat pasien COVID-19 karena akan menggunakan alat pelindung diri (APD) dalam jangka waktu lama. Kondisi tersebut dapat menimbulkan reaksi simpang di kulit dan mengganggu kinerja tenaga kesehatan. Tujuan: Mendapatkan gambaran dan insidens reaksi simpang pada kulit akibat penggunaan APD di RSUP Persahabatan, Jakarta. Metode: Menggunakan desain potong lintang deskriptif untuk mendeskripsikan berbagai reaksi simpang pada kulit akibat penggunaan APD (tingkat perlindungan 3) beserta insidensnya. Data tersebut diperoleh melalui kuesioner yang diisi secara mandiri oleh responden. Hasil: Reaksi simpang akibat penggunaan APD dikeluhkan oleh 58,8% responden, berupa keluhan kulit akibat masker N95 (41,6%), sarung tangan medis (34,3%), pakaian pelindung (26,2%), kaca mata pelindung (17,6%), dan APD lain (20,2%). Diskusi: Berdasarkan data yang didapatkan dari hasil penelitian ini, reaksi simpang akibat penggunaan APD masih sering terjadi meskipun durasi dan frekuensi penggunaan APD sudah sesuai anjuran. Masker N95 adalah jenis APD yang paling sering menimbulkan reaksi simpang pada kulit. Kesimpulan: Diperlukan suatu upaya tambahan pada tenaga kesehatan untuk mengurangi risiko munculnya reaksi simpang di kulit akibat APD, misalnya melalui edukasi cara menggunakan APD secara tepat dan peningkatan peran dokter spesialis kulit dan kelamin untuk menangani keluhan tersebut secara dini.
MIKROBIOTA KULIT DAN PERANANNYA PADA DERMATITIS ATOPIK
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 49 No 1 (2022)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (997.195 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v49i1.303

Abstract

Mikrobiota kulit adalah flora normal yang biasa ditemukan pada permukaan kulit, terdiri dari bakteri, virus, dan jamur. Interaksi antara mikrobiota dengan inang memiliki peran penting pada perkembangan imunitas dan berfungsi sebagai proteksi terhadap berbagai patogen. Mikrobiom kulit adalah suatu hubungan simbiosis, komensal, ataupun patogen antara mikrobiota, gen, dan metabolit dari mikrobiota dengan suatu individu pada kulit. Dermatitis atopik (DA) merupakan kelainan kulit kronis dengan penyebab multifaktorial yang ditandai dengan ruam kulit dan kulit kering yang rasa gatal. Patogenesis DA sangat kompleks karena melibatkan latar belakang genetik, pemicu dari lingkungan, kelainan sistem imun, serta dipengaruhi oleh kondisi stres. Saat ini, peranan mikrobiom sedang banyak diteliti pada berbagai penyakit kulit termasuk pada DA, karena tidak lagi dipandang sebagai flora normal, tetapi merupakan mikrobiota kompleks yang berhubungan dengan sistem imunologis dan berinteraksi aktif dengan sel-sel di sekelilingnya. Pada kondisi kerusakan sawar kulit seperti DA, mikrobiom sangat berperan dalam mencetuskan terjadinya DA. Berbagai penelitian mengenai mikrobiom kulit pada individu dengan DA memberikan hasil yang berbeda. Hal ini disebabkan sulitnya mengidentifikasi bakteri spesifik pada individu dengan DA. Pemahaman lebih baik mengenai peranan mikrobiota kulit pada DA diharapkan dapat menjadi dasar pertimbangan terapi DA di masa yang akan datang.