cover
Contact Name
Sonia Hanifati
Contact Email
soniahanifati@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
mdvi.perdoski@gmail.com
Editorial Address
Ruko Grand Salemba Jalan Salemba 1 No.22, Jakarta Pusat, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Dermato-Venereologica Indonesiana
ISSN : -     EISSN : 26567482     DOI : https://doi.org/10.33820/mdvi.v49i3
Core Subject : Health,
Media dermato Venereologica Indonesiana adalah jurnal open access dan peer-reviewed yang fokus di bidang dermatologi dan venereologi. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, laporan kasus, tinjauan pustaka dan komunikasi singkat mengenai kesehatan kulit dan kelamin, diagnosis dan terapi pada bidang kulit dan kelamin dan masalah lainnya di bidang kesehatan kulit dan kelamin.
Arjuna Subject : Kedokteran - Dematologi
Articles 282 Documents
HUBUNGAN ANTARA PEKERJAAN SEBAGAI TENAGA KESEHATAN DENGAN KEJADIAN DERMATITIS KONTAK AKIBAT KERJA
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 1 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (854.49 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i1.165

Abstract

Latar belakang: Sebanyak 95% penyakit kulit akibat kerja merupakan dermatitis kontak, yang mencakup dermatitis kontak alergi dan iritan. Beberapa jenis pekerjaan tertentu memiliki frekuensi lebih tinggi untuk terpajan dengan bahan atau aktivitas yang meningkatkan risiko kejadian dermatitis kontak akibat kerja, termasuk tenaga kesehatan. Tujuan: Menilai hubungan antara pekerjaan sebagai tenaga kesehatan dengan kejadian dermatitis kontak akibat kerja melalui pencarian informasi berbasis bukti. Metode: Pencarian artikel dilakukan menggunakan PubMed, Cochrane Library, Proquest dan Scopus dengan kata kunci yang sesuai dengan pertanyaan klinis. Artikel yang diperoleh diseleksi menurut kriteria inklusi dan eksklusi yang kemudian ditelaah kegunaannya berdasarkan nilai validity, importance, dan applicability. Hasil: Didapatkan dua artikel berupa studi kohort retrospektif dan studi kasus-kontrol. Pada studi kohort retrospektif didapatkan bahwa pekerjaan sebagai tenaga kesehatan memiliki risiko 1,17 kali lebih besar untuk mengalami dermatitis kontak akibat kerja dibandingkan dengan pekerjaan selain tenaga kesehatan (RR 1,17, nilai p <0,001, NNH 3). Hal ini didukung oleh hasil studi kasus-kontrol yang memberikan hasil OR sebesar 2,5, CI 95% 2,08 – 3,02 dan NNH 5. Kesimpulan: Risiko terjadinya dermatitis kontak pada tenaga kesehatan lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok pekerja lainnya sehingga diperlukan upaya untuk menurunkan angka kejadian tersebut.Kata kunci : Tenaga kesehatan, perawat, dermatitis kontak akibat kerja, dermatitis kontak alergi, dermatitis kontak iritan
Sifilis Maligna Pada Pasien Human Immunodeficiency Virus
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 2 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1060.007 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i2.167

Abstract

Sifilis maligna merupakan bentuk varian berat sifilis sekunder. Pada Pasien human immunodeficiency virus (HIV), perjalanan sifilis dapat menjadi atipikal dan lebih agresif, oleh karena itu varian ini sering ditemukan pada Pasien HIV. Mekanisme pasti perkembangan sifilis maligna hingga saat ini masih belum jelas, namun diduga berhubungan dengan imunosupresi, respon imun host yang tidak tepat, atau strain virulen Treponema pallidum. Ruam berupa papula dan plak berkrusta atau bersisik yang dapat berkembang menjadi ulkus atau lesi nekrotik (lesi rupioid), yang sering dikaitkan dengan tingginya titer nontreponemal dan disertai gejala sistemik. Berikut kami laporkan seorang Pasien HIV dengan plak nodul yang disertai ulseronekrotik tersebar di seluruh tubuh, serta memiliki hasil titer serologi sifilis yang tinggi. Berdasarkan gambaran klinis, serologi, dan patologi, Pasien didiagnosis sifilis maligna. Resolusi lesi kulit tampak signifikan setelah pemberian terapi Benzathine Penicillin. Dengan meningkatnya kasus koinfeksi sifilis dan HIV, penting untuk mengenali dan mendiagnosis sifilis maligna secara dini dan memberikan pengobatan yang tepat.Kata kunci : Sifilis maligna, Lues maligna, HIV, koinfeksi
LESI ATIPIKAL HERPES SIMPLEKS GENITALIS PADA PASIEN HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS STADIUM IV
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 49 No 1 (2022)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1175.484 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v49i1.175

Abstract

Infeksi herpes simpleks genitalis akibat Herpes Simplex Virus (HSV) dapat berulang dan berlangsung seumur hidup. Infeksi HSV menjadi penyebab tersering dari ulkus genital pasien Human Immunideficiency Virus (HIV). Pasien HIV seringkali mengalami herpes simpleks genitalis dengan manifestasi yang atipikal, lebih berat dan lebih sering kambuh. Seorang perempuan berusia 30 tahun mengeluhkan luka di area kemaluan dan pantat sejak 1,5 bulan terakhir. Pasien terdiagnosis HIV stadium IV dan Tuberkulosis (TB) namun putus berobat. Pasien diterapi sebagai ulkus mole selama 1 minggu namun tidak ada perbaikan. Gambaran lesi atipikal yang didapatkan berupa ulkus luas multipel, dasar eritematosa, mudah berdarah, sangat nyeri dengan batas tegas dan tepi ireguler pada area inguinal dan gluteus. Hasil kultur tidak menunjukkan adanya Haemophilus Ducreyi dan hasil biopsi menyingkirkan diagnosis banding Donovanosis. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan CD4 9 sel/μL dan peningkatan Anti HSV-2 IgG. Pasien tegak didiagnosis sebagai herpes simpleks genitalis, HIV stadium IV dan TB. Perbaikan bermakna didapatkan setelah terapi supresi Asiklovir 3 x 400 mg per hari selama 6 minggu. Pasien dengan lesi atipikal memerlukan pemeriksaan serologis dalam menegakkan diagnosis. Tatalaksana yang tepat dapat mencegah komplikasi dan rekurensi herpes simpleks genitalis pada pasien HIV.
DERMOSKOPI PADA PENYAKIT INFLAMASI KULIT
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 1 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1701.97 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i1.178

Abstract

Penegakkan diagnosis penyakit inflamasi kulit dilakukan berdasarkan anamnesis, gambaran morfologi, serta distribusi dari lesi. Namun, terkadang klinisi kesulitan untuk menyingkirkan diagnosis banding penyakit yang dialami oleh pasien. Dermoskopi merupakan alat diagnostik non-invasif yang dapat digunakan untuk membantu diagnosis kelainan kulit. Dermoskopi dapat membantu visualisasi struktur di bawah permukaan kulit hingga ke dermis superfisialis dan memperlihatkan morfologi lesi yang sulit teramati secara kasat mata. Pada awalnya dermoskopi dipakai sebagai pemeriksaan penunjang untuk tumor jinak dan tumor ganas kulit. Saat ini, dermoskopi digunakan secara luas dalam berbagai penyakit kulit antara lain penyakit infeksi dan infestasi kulit (entomodermoscopy), kelainan kuku dan lipat kuku (onychoscopy), kelainan rambut (trichoscopy), penyakit inflamasi kulit (inflammoscopy), serta membantu pengambilan keputusan dan evaluasi terapi. Pemeriksaan dermoskopi pada penyakit inflamasi kulit meliputi pengamatan morfologi dan distribusi pembuluh darah, warna dan distribusi skuama, gambaran folikuler, struktur lain, serta tanda spesifik yang dapat ditemukan pada penyakit tertentu. Dengan menggabungkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan dermoskopi, diagnosis penyakit inflamasi kulit menjadi lebih akurat.Kata kunci : dermoskopi, inflammoscopy, penyakit inflamasi kulit
KERATOAKANTOMA : DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 49 No 3 (2022): Media Dermato-Venereologica Indonesiana
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1866.912 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v49i3.191

Abstract

Keratoakantoma merupakan tumor kulit berasal dari folikel rambut dan dapat juga terjadi pada area tidak berambut, dengan memiliki pertumbuhan cepat dan regresi spontan. Insiden KA lebih sering terjadi pada populasi kulit putih dan cenderung lebih tinggi pada laki-laki. Etiologi terjadinya KA dikaitkan oleh beberapa faktor, faktor paparan ultraviolet merupakan faktor risiko utama terjadinya KA. Dalam mediagnosa KA didasarkan 3 prinsip, antara lain adanya manifestasi klinis khas dari tumor crateriform, pertumbuhan cepat dengan perjalanan trifasik dan pemeriksaan histopatologi. Secara garis besar KA memiliki beberapa varian klinis, yakni KA soliter dan KA multiple. Gambaran klinis dan histopatologis dari KA juga bervariasi, sesuai dengan tahapan yang terjadi yaitu tahap proliferasi, tahap berkembang sempurna, dan tahap regresi, sedangkan untuk gambaran dermoskopi dari KA ditandai dengan massa keratin tidak berstruktur berwarna putih-kekuningan di bagian tengah, dan dikelilingi oleh pembuluh darah dengan berbagai bentuk dan lingkaran putih (whitish halo). Pada sebgaian besar kasus KA terjadi regresi spontan sehingga pada beberapa kasus dapat dilakukan strategi berupa pemantauan/watchful-waiting. Keratoakantoma seringkali sulit dibedakan dengan KSS, sehingga baku emas untuk tatalaksana KA dengan bedah eksisi dan dilanjutkan untuk pemeriksaan specimen serta terdapat beberapa terapi alternatif lain yang dapat dilakukan untuk KA.
ALOPESIA AREATA DENGAN TERAPI KOMBINASI INJEKSI PLATELET-RICH PLASMA (PRP) DAN TRIAMSINOLON ASETONID INTRALESI
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 49 No 1 (2022)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1803.897 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v49i1.217

Abstract

Alopecia Areata (AA) is an autoimmune disease characterized by sudden hair loss from the scalp. Treatment of existing AA is difficult, so a combination of more than one therapeutic modality is needed. This is a case report of a 29-year-old man who complained of hair loss on the occipital and temporal right scalp, causing local baldness. Neither itching nor pain in the affected area. The patient was suffered from hair loss for the past two months. Based on anamnesis, physical examination, and other supporting examinations, the patient was diagnosed with AA. The management was given in the form of combination intralesional therapy and obtained a satisfactory result. Although the diagnosis of AA is quite easy, the treatment of AA tends to be difficult and remains a clinical challenge. This is due to the lack of randomized controlled trials for the management of AA and the psychological aspect of AA that can cause anxiety and depression. The combination therapy was given in the form of an intralesional injection of triamcinolone acetonide followed by an intralesional injection of platelet-rich plasma (PRP) at intervals of 3 weeks in each session. Satisfactory results are obtained after 5 months of combined intralesional therapy.
Peran dan Fungsi Zinc Oxide pada Tatalaksana Dermatitis Atopi
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 3 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (974.388 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i3.219

Abstract

Dermatitis atopi (DA) merupakan bentuk eksim yang paling umum dijumpai, dengan perkiraan prevalensi global mencapai 22,5% atau melebihi seperlima dari populasi global. Tingkat rekurensi yang tinggi pada DA menyebabkan penurunan kualitas hidup pasien. Walaupun penyebab DA belum diketahui secara pasti, faktor genetik dan lingkungan diduga berperan dalam terjadinya DA. Patogenesis DA merupakan proses kompleks yang melibatkan berbagai defek komponen genetik yang menyebabkan gangguan sawar kulit (hipotesis outside-in), perubahan imunologis (hipotesis inside-out), dan disbiosis mikrobioma akibat peningkatan kolonisasi flora normal. Tatalaksana DA terdiri dari identifikasi dan prevensi faktor pencetus, serta mempertahankan fase remisi dan mencegah rekurensi. Saat ini, penggunaan zinc oxide (ZnO) sebagai terapi potensial pada DA telah banyak dipelajari. Zinc (Zn) merupakan mikronutrien dengan sifat anti-inflamasi, antioksidan, antibakteri, dan UV-protective yang sering digunakan dalam bidang dermatologi. Berbagai penelitian juga telah menunjukkan bahwa ZnO memiliki efek positif terhadap DA, antara lain melalui remodeling sawar kulit, sifat antibakteri, dan sebagai imunomodulator. Namun, beberapa penelitian lain juga menemukan berbagai efek samping Zn yang tidak dapat dikesampingkan. Dengan demikian, penggunaan Zn sebagai tatalaksana DA membutuhkan penelitian lebih lanjut secara menyeluruh terkait potensi toksisitasnya sebelum digunakan sebagai tatalaksana rutin untuk DA.Kata kunci: Eksim, Dermatitis atopi, Zinc oxide
PATOGENESIS DAN PENDEKATAN DIAGNOSTIK SINDROM NETHERTON
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 49 No 1 (2022)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2200 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v49i1.228

Abstract

Sindrom Netherton merupakan genodermatosis autosomal resesif karena mutasi gen serine peptidase inhibitor Kazal type 5 (SPINK5) yang mengkode lymphoepithelial Kazal-type inhibitor (LEKTI). Defisiensi LEKTI menyebabkan berbagai perubahan fisiologis yang mengakibatkan kerusakan sawar kulit. Peningkatan kallikrein (KLK) khususnya KLK 5, 7, dan 14 akan mendegradasi desmosom dan korneodesmosom sehingga stratum korneum terlepas. Peningkatan elastase (ELA) 2 menyebabkan degradasi filaggrin dan abnormalitas lipid sehingga sawar kulit terganggu. Aktivasi PAR-2 dan peran katelisidin mencetuskan reaksi alergi dan inflamasi. Sindrom Netherton memiliki gejala klinis yang mirip beberapa dermatosis lain sehingga kadang tidak terdiagnosis. Diagnosis ditegakkan dengan pendekatan klinis yang komprehensif, pemeriksaan laboratorium, histopatologi, serta pewarnaan imunohistokimia. Pemeriksaan rambut dapat menggunakan trikoskopi, mikroskop cahaya, atau mikroskop elektron. Pemeriksaan genetik molekular dengan DNA sequencing dapat mengonfirmasi diagnosis dan memungkinkan konseling genetik yang lebih tepat.
DAMPAK PRE-EXPROSURE PROPHYLAXIS ANTIRETROVIRAL ORAL TERHADAP INFEKSI MENULAR SEKSUAL
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 49 No 2 (2022): Media Dermato-Venereologica Indonesiana
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.808 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v49i2.244

Abstract

World Health Organization menganjurkan penggunaan Pre-exposure prophylaxis (PrEP) pada pasien HIV negatif sejak tahun 2015. Terapi PrEP menggunakan obat antiretroviral (ARV) diberikan pada kelompok yang memiliki risiko tinggi dengan dosis tunggal harian atau dosis intermiten. Rekomendasi WHO penggunaan PrEP secara spesifik harus menggunakan Tenofovir tunggal atau dapat dikombinasikan dengan obat ARV lainnya. Pada beberapa penelitian efektivitas PrEP mampu menurunkan insiden kasus baru HIV hingga 92%. Terdapat potensi yang perlu diperhatikan mengenai pemberian PrEP, yaitu peningkatan perilaku seksual yang tidak aman, peningkatan insiden infeksi menular seksual (IMS), potensi resistensi virus, dan kecenderungan untuk melakukan hubungan aktifitas seksual berisiko lebih sering. Hal tersebut ditunjang oleh beberapa studi yang melaporkan peningkatan insiden IMS setelah era PrEP pada kelompok berisiko dan penurunan penggunaan kondom pada kelompok PrEP. Peningkatan kasus terjadi hampir di seluruh penyakit IMS yang disebabkan oleh bakteri sedangkan untuk penyakit IMS yang disebabkan oleh virus relatif menetap. Pemberian PrEP harus disertai dengan konseling dan pemeriksaan kesehatan berkala khususnya terkait infeksi menular seksual. Tinjauan pustaka ini disusun untuk memahami dampak pemberian PrEP terhadap angka kejadian IMS. Kata kunci: IMS, perilaku seksual, Preexposure prophylaxis (PrEP)
GENERALIZED FIXED DRUG ERUPTION: SEBUAH LAPORAN KASUS JARANG
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 3 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (943.601 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i3.275

Abstract

Generalized fixed drug eruption (GFDE) merupakan varian klinis fixed drug eruption (FDE) yang muncul berupa lesi multifokal dengan pola sebaran lebih luas. Faktor pemicunya adalah pajanan berulang terhadap obat-obatan tertentu. Seorang laki-laki, 60 tahun, berobat untuk keluhan bercak merah gelap keunguan yang meluas pada sejumlah lokasi tubuh beberapa jam setelah minum obat bebas yang mengandung metampiron, tiamin, piridoksin, sianokobalamin, dan trimetilxantin. Konsumsi obat yang sama sebelumnya tidak menimbulkan keluhan, namun pasien mengalami ruam serupa terbatas pada beberapa lokasi tubuh enam tahun yang lalu setelah minum obat herbal, menyisakan bercak hiperpigmentasi. Pada pemeriksaan fisis didapatkan makula-plak merah gelap keunguan, makula hiperpigmentasi pekat, multipel, diskoid sampai oval, sirkumskrip-difus yang tersebar di seluruh tubuh. Pemeriksaan histopatologis menunjukkan interface dermatitis dan nekrosis epidermis, sesuai dengan FDE. Pemberian kortikosteroid oral setara prednison 0,5 mg/kgBB/hari menghilangkan ruam secara cepat. Temuan bercak merah gelap keunguan multifokal dengan pola sebaran luas saat ini dan hiperpigmentasi akibat reaksi di masa lalu, serta keterangan konsumsi obat tersangka sebelumnya, umumnya cukup untuk menegakkan diagnosis GFDE., Meskipun metampiron sangat dicurigai berdasarkan beberapa laporan kasus terdahulu substansi penyebab sebenarnya pada pasien belum dapat ditentukan hingga dibuktikan dengan hasil positif uji tempel obat.Kata kunci: generalized fixed drug eruption, hipersensitivitas obat kortikosteroid, metampiron

Page 11 of 29 | Total Record : 282