cover
Contact Name
Sonia Hanifati
Contact Email
soniahanifati@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
mdvi.perdoski@gmail.com
Editorial Address
Ruko Grand Salemba Jalan Salemba 1 No.22, Jakarta Pusat, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Dermato-Venereologica Indonesiana
ISSN : -     EISSN : 26567482     DOI : https://doi.org/10.33820/mdvi.v49i3
Core Subject : Health,
Media dermato Venereologica Indonesiana adalah jurnal open access dan peer-reviewed yang fokus di bidang dermatologi dan venereologi. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, laporan kasus, tinjauan pustaka dan komunikasi singkat mengenai kesehatan kulit dan kelamin, diagnosis dan terapi pada bidang kulit dan kelamin dan masalah lainnya di bidang kesehatan kulit dan kelamin.
Arjuna Subject : Kedokteran - Dematologi
Articles 282 Documents
TERAPI ALTERNATIF REAKSI KUSTA
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 4 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1228.89 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i4.304

Abstract

Kusta merupakan infeksi kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Dalam perjalanan penyakit kusta dapat terjadi episode akut yang disebut reaksi kusta. Menurut World Health Organization (WHO), pemberian kortikosteroid merupakan terapi lini pertama reaksi kusta, namun kortikosteroid memiliki berbagai efek samping jika digunakan dalam jangka panjang. Banyak pula kasus reaksi kusta berulang yang resisten atau bergantung terhadap kortikosteroid, sehingga terapi alternatif dapat menjadi pilihan untuk kasus-kasus tersebut. Terapi alternatif yang kami jabarkan adalah pentoksifilin, siklosporin, azatioprin, metotreksat dan agen biologik (apremilast, Inhibitor TNF- -α dan IL-17). Artikel ini akan memaparkan indikasi hingga efek samping dari terapi alternatif untuk reaksi kusta. Studi mengenai terapi alternatif masih cukup terbatas (seperti studi kasus, case series, studi randomized control trial dalam skala kecil). Namun, didapatkan hasil yang cukup menjanjikan. Metotreksat merupakan terapi alternatif yang unggul dikarenakan memiliki hasil yang menjanjikan berdasarkan beberapa studi kasus yang telah dilakukan dan saat ini tengah dilakukan studi multi-senter randomized control trial dalam skala besar. Maka dari itu, masih diperlukan studi lebih lanjut mengenai penggunaan terapi alternatif pada reaksi kusta dan penggunaanya saat ini perlu dilakukan dengan penuh pertimbangan dan hati-hati.
HUBUNGAN PEWARNA SINTETIS TERHADAP KEJADIAN DERMATITIS KONTAK OKUPASIONAL PADA PENGRAJIN KAIN JUMPUTAN PELANGI PALEMBANG
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 49 No 3 (2022): Media Dermato-Venereologica Indonesiana
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1336.296 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v49i3.305

Abstract

Dermatitis kontak okupasional (DKO) adalah inflamasi kulit akibat paparan alergen atau iritan baik dalam proses maupun lingkungan pekerjaan. Paparan pewarna sintetis pada pengrajin kain jumputan pelangi diduga menyebabkan DKO yang mengganggu kesehatan dan produktivitas kerja. Saat ini belum tersedia data dasar prevalensi DKO, analisis faktor risiko dengan DKO, dan identifikasi dengan alergen dari bahan pewarnai kain penyebab DKO. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui prevalensi, hubungan pewarna sintetis terhadap kejadian DKO, dan identifikasi bahan pewarna alergen dan iritan penyebab DKO. Metode penelitian observasional analitik dengan rancangan potong lintang pada 149 pengrajin kain jumputan pelangi di Kelurahan Tuan Kentang dan 35 Ilir Palembang selama empat bulan. Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner NOSQ 2002, pemeriksaan fisik, dan uji tempel, serta dianalisis menggunakan SPSS versi 22,0. Pada penelitian ini ditemukan prevalensi DKO sebesar 22,15%, yaitu 13,45% kasus DKIO dan 8,7% kasus DKAO. Terdapat hubungan bermakna antara jenis pewarna sintetis terhadap kejadian DKO pada pengrajin kain jumputan pelangi di Palembang (p=0,042). Alergen terkait pekerjaan yang terbanyak memberikan hasil positif pada uji tempel yaitu naftol AS dan naftol AS BO.
MUKORMIKOSIS KUTAN PADA ANAK: TINJAUAN PUSTAKA
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 49 No 3 (2022): Media Dermato-Venereologica Indonesiana
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1812.426 KB)

Abstract

Mukormikosiskutanpadaanakadalahinfeksijamur Mucor sp. yangdapatmenyebabkanbeberapa komplikasi dan kematian dengan angka morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi.Tinjauan pustaka ini bertujuanuntukmengenaldanmemahamigambaranklinisbeberapakelainankulitakibatmukormikosis kutanpadaanak,melakukanpenegakandiagnosissertamemberikantatalaksanayangtepat.Pencarian literaturmenggunakanpedoman Preferred reporting items for systemic reviews and meta analyses (PRISMA)melaluibasisdata PubMed dan Science Direct padabulanApril2020.Sejumlah15artikel termasukdalamtinjauanpustakaini.Mukormikosiskutanpadaanakadalahsuatuinfeksijamur oportunistikyangdisebabkanolehjamurMucor sp.,penyakitinidapatmenjadiinfeksiprimeratau sebuahmanifestasiklinissebagaico-infection pada underlying disease lainnya. Ujud kelainankulit pada mukormikosis kutan memiliki kesamaan padainfeksi jamurlainnya, sehinggaperlu dilakukan pemeriksaan kultur danhistopatologi sebagaibaku emas untukmenegakkandiagnosis.Manifestasi klinis kelainankulitdapatsalingtumpangtindihdenganbeberapainfeksikulityangdisebabkanolehjamur, namunpadamukormikosiskutanmemilikigejalayangkhas.Padapasienanak-anak,perludilakukan pemeriksaansecaraintensifdanmenyeluruh,anamnesisgejalapenyakitdanriwayatpenyakityangdapat menjadi underlying disease yang dapat menyebabkan terjadinya mukormikosis kutan. Kata Kunci: manifestasi kulit, mukormikosis kutan.
SENSITIVITAS DAN SPESITIVITAS PEMERIKSAAN DERMOSKOPI PADA TINEA KAPITIS
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 49 No 1 (2022)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1298.652 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v49i1.309

Abstract

Pendahuluan: Tinea kapitis adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi jamur pada kulit kepala, dengan gambaran klinis yang khas. Terdapat beberapa tipe tinea kapitis, yaitu black dot, gray patch (bentuk non-inflamasi), kerion, dan favosa (bentukinflamasi). Dermoskopimerupakan teknik noninvasif dan cepat, membantu menegakkan diagnosis tinea kapitis, karena setiap jenis tinea kapitis memiliki gambaran dermoskopi yang berbeda. Tujuan: Tujuan penelitian untuk menentukan sensitivitas dan spesitivitas pemeriksaan dermoskopi tinea kapitis. Metode: Penelitian merupakan uji diagnosis dengan pendekatan potong-intang. Semua pasien yang telah dilakukan pemeriksaan kalium hidroksida (KOH) diagnosis dilakukan pemerikaan dermoskopi. Hasil: Penelitian ini dilakukan terhadap 52 pasien tinea kapitis terdiri dari tipe klinis; black dot 17 pasien, gray patch 11 pasien, favosa 6 dan kerion 2 pasien. Dengan pemeriksaan dermoskopi dijumpai fitur; comma hairs 26 pasien, corkscrew hairs 15 orang, Black dots, broken hair 7 orang dan Coiled hair 4 orang. Masih ada fitur dermoskopi yang lain, tapi agak sulit mengklasifikasikan seperti peripilar casts, dystrophic dan cadaverized hairs, tubular hair cast. Kesimpulan: Dermoskopi dapat diterapkan untuk menegakkan diagnosis tinea kapitis dan dapat digunakan membedakan kelaian kulit kepala dan rambut yang lainnya dengan sensitivitas 81,1% dan spesitivitas 82,0 %. Kata kunci: Sensitivitas, spesitivitas, dermoskopi, gambaran klinis, tinea kapitis
BERBAGAI MODALITAS TERAPI STRETCH MARK BERBASIS BUKTI
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 49 No 1 (2022)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v49i1.310

Abstract

Stretch mark (striae distensae) adalah kelainan yang diduga disebabkan oleh faktor kekuatan mekanik, perubahan intrinsik struktur dan fungsi kulit, serta faktor hormonal. Kelainan ini muncul di usia 5 sampai 50 tahun, serta ditemukan paling banyak saat puncak pertumbuhan dan wanita, terutama wanita hamil. Stretch mark memiliki presentasi klinis berupa striae rubra berwarna eritematosa hingga terjadi hipopigmentasi dan atrofi disebut striae alba. Diagnosis kelainan ini dengan dermoskopi, mikroskop elektron, hingga pemeriksaan histopatologi, dengan diagnosis banding utama adalah linear focal elastosis dan anetoderma. Tidak terdapat pedoman standar yang tersedia untuk manajemen stretch mark. Berbagai pilihan pengobatan yang tersedia, antara lain terapi topikal misal dengan tretinoin, injeksi asam hialuronat, tehnik mekanik mikrodermabrasi, platelet-rich plasma, microneedling therapy, galvanopuncture, radiofrekuensi, karboksi terapi, terapi berbasis cahaya, dan laser, termasuk laser fraksional. Laser fraksional non-ablatif lebih disukai daripada ablatif karena risiko komplikasi lebih rendah dan waktu pemulihan lebih singkat, walaupun lebih banyak perawatan. Stretch mark adalah masalah umum yang menyebabkan masalah estetik hingga gangguan psikososial, artikel ini terutama akan membahas profilaksis dan pengobatan stretch mark berbasis bukti terbaru. Kata Kunci: stretch marks, tata laksana berbasis bukti
HUBUNGAN MELASMA DENGAN WARNA KULIT, PORI, DAN KERUT
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 49 No 2 (2022): Media Dermato-Venereologica Indonesiana
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (665.648 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v49i2.332

Abstract

Melasma merupakan kelainan hiperpigmentasi didapat, umumnya terdapat pada wajah. Manifestasi klinis dari melasma dapat dinilai menggunakan Modified Melasma Area and Severity Index (mMASI). Penentuan lesi melasma juga dapat dilakukan dengan menggunakan alat ukur Janus II facial analysis system. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara mMASI dengan warna kulit, pori, dan kerut pada wajah dengan menggunakan Janus II facial analysis system. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain potong lintang pada subjek berusia 20-50 tahun, dengan lesi melasma pada daerah wajah. Pengukuran derajat keparahan menggunakan skor mMASI dan Janus II facial analysis system. Hubungan antara melasma berdasarkan mMASI dengan warna kulit, pori, dan kerut wajah dinilai dengan korelasi bivariat. Pada penelitian ini, mMASI memiliki korelasi yang lemah terhadap pori (r=0,377) dan kerut (r=0,323) dan keduanya signifikan secara statistik (p=0,008 dan p=0,025 secara berurutan). mMASI memiliki korelasi yang sangat lemah terhadap warna kulit dan tidak signifikan secara statistik (r=0,045, p=0,761) Penilaian melasma dengan skor mMASI memiliki korelasi bermakna terhadap pori dan kerut. Walaupun korelasi lemah, namun hal ini menunjukkan signifikan secara statistik
PENDEKATAN DIAGNOSTIK LUPUS VULGARIS PADA RUMAH SAKITPERIFER
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 49 No 2 (2022): Media Dermato-Venereologica Indonesiana
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (574.212 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v49i2.333

Abstract

Indonesia termasuk dalam lima negara dengan insiden kasus tuberkulosis (TB) tertinggi di dunia. Sebesar 1-2% dari kasus TB merupakan TB kutis. Lupus vulgaris (LV) merupakan salah satu bentuk infeksi TB kutis pausibasiler yang bersifat kronis dan progresif. Gambaran klinis LV dapat menyerupai berbagai kelainan kulit lainnya, seperti lupus eritematosus diskoid dan sarkoidosis. Pada laporan kasus ini, seorang perempuan, 59 tahun, mengalami keluhan bercak kemerahan yang tidak nyeri pada wajah sejak 6 bulan sebelum datang ke rumah sakit. Pasien memiliki riwayat TB paru dan telah menyelesaikan pengobatan tiga bulan sebelum munculnya bercak. Pada pemeriksaan, ditemukan lesi plak atrofik eritematosa berbatas tegas yang dikelilingi nodulus eritema multipel. Pemeriksaan histopatologis mendukung diagnosis LV. Terapi dengan obat anti tuberkulosis (OAT) menghasilkan perbaikan pada lesi. Mengingat LV memiliki kemiripan dengan berbagai entitas penyakit lainnya, diagnosis dini yang cermat pada pasien diperlukan agar pengobatan yang adekuat dapat segera terlaksana. Pemeriksaan histopatologis merupakan pemeriksaan yang relatif mudah dilakukan pada area perifer, dan sangat berperan dalam diagnosis TB kutis.
KOMORBIDITAS PADA AKNE
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 49 No 2 (2022): Media Dermato-Venereologica Indonesiana
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.538 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v49i2.334

Abstract

Akne vulgaris (AV) merupakan salah satu penyakit kulit yang paling sering ditemui, terutama pada remaja dan dewasa muda. Patogenesis terjadinya AV setidaknya diperankan oleh empat faktor penting, yaitu hiperproliferasi lapisan epidermis pada folikel, peningkatan produksi sebum, proses peradangan, dan kolonisasi Cutibacterium acnes. Proses tersebut juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor genetik, hormonal, psikologis, gaya hidup, dan lingkungan. Lesi AV bersifat polimorfik dan memiliki derajat keparahan yang beragam. Lesi tersebut diketahui memberikan dampak terhadap kualitas hidup penderitanya. Berbagai studi terkini melaporkan bahwa terdapat berbagai komorbiditas yang dapat memberikan beban tambahan atau memperburuk kondisi AV. Komorbiditas didefinisikan sebagai penyakit yang terjadi secara simultan. Berbeda dengan sindrom yang memiliki arti sekumpulan gejala yang terjadi serentak atau sekumpulan tanda yang menandakan suatu penyakit tertentu. Komorbiditas akne yang telah banyak diinvestigasi antara lain resistensi insulin, hipovitaminosis D, 1 hipervitaminosis B12, gangguan gastrointestinal, gangguan psikologis, disfungsi kelenjar tiroid, dislipidemia, defisiensi seng, dan hipovitaminosis A dan E.
CHRONIC BULLOUS DISEASE OF CHILDHOOD: TINJAUAN KLINIS, HISTOPATOLOGI, DAN DIRECT IMMUNOFLOURESCENCE PADA PENEGAKAN DIAGNOSIS
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 49 No 3 (2022): Media Dermato-Venereologica Indonesiana
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1351.849 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v49i3.335

Abstract

Chronic bullous disease of childhood (CBDC) adalah penyakit autoimun bulosa yang jarang, non herediter, dan biasa muncul pada dekade pertama kehidupan. Gambaran klinis berupa bula tegang berisi cairan jernih atau hemoragik yang membentuk cluster of jewels, rosette atau string of pearls. Fitur histopatologi berupa celah subepidermal dengan neutrofil atau eosinofil di sepanjang membran basalis. Pemeriksaan direct immunofluoroscence (DIF) didapatkan deposisi linear homogen immunoglobulin (Ig) A pada area membran basalis. Deposit tambahan imunoreaktan lain, tersering IgG dan bisa juga komplemen ketiga (C3), juga ditemukan pada sebagian kecil pasien CBDC. Tujuan penulisan laporan ini adalah meningkatkan pemahaman klinisi tentang penegakan diagnosis CBDC secara klinis serta variasi temuan histopatologi dan DIF. Seorang anak perempuan usia 4 tahun 9 bulan mengalami lepuh pada kulit disertai rasa gatal, namun tanpa keluhan sistemik sejak 2 bulan lalu. Status dermatovenereologis tampak bula dinding tegang multipel berkelompok dengan pola rosette. Pemeriksaan histopatologi tampak celah subepidermal dengan sedikit sebukan 1 sel polimorfonuklear. Pemeriksaan DIF pada kulit peri-lesi terdapat deposisi IgG, IgA dan C3 pada membran basalis dengan pola linier. Diagnosis CBDC ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan histopatologi berupa gambaran celah subepidermal serta imunopatologi DIF berupa deposisi linier IgG, IgA dan C3 pada membran basalis.
MALFORMASI VENA VERUKOSA: PERKEMBANGAN DIAGNOSIS DAN TATA LAKSANA
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 49 No 2 (2022): Media Dermato-Venereologica Indonesiana
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2624.787 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v49i2.336

Abstract

Verrucous venous malformation (VVM), formerly known as verrucous hemangioma, is a rare, congenital, non-hereditary vascular malformation. The initial clinical manifestations of VVM include bluish patches that become erythematous to purplish, then enlarge slowly to become verrucous and hyperkeratotic papules, plaques, or nodules. Its etiopathogenesis remain unknown. It used to be one of unclassified vascular anomalies due to its clinical feature consistent with malformations, but shows positive results on immunohistochemical for tumors. The identification of somatic mutations in the mitogen-activated protein kinase 3 (MAP3K3) gene has classified it into venous malformation group. Clinically this lesion often resembles other diseases that may lead to misdiagnosis. Investigations such as dermoscopy, radiology, histopathology, and immunohistochemical are continually updated as new cases are found. Superficial ablative procedures often result in recurrence of the lesions. There is potential for targeted therapy using sirolimus but surgical excision remain preferred choice. Early diagnosis and prompt treatment are important due to the risk of recurrence.