cover
Contact Name
Sonia Hanifati
Contact Email
soniahanifati@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
mdvi.perdoski@gmail.com
Editorial Address
Ruko Grand Salemba Jalan Salemba 1 No.22, Jakarta Pusat, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Dermato-Venereologica Indonesiana
ISSN : -     EISSN : 26567482     DOI : https://doi.org/10.33820/mdvi.v49i3
Core Subject : Health,
Media dermato Venereologica Indonesiana adalah jurnal open access dan peer-reviewed yang fokus di bidang dermatologi dan venereologi. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, laporan kasus, tinjauan pustaka dan komunikasi singkat mengenai kesehatan kulit dan kelamin, diagnosis dan terapi pada bidang kulit dan kelamin dan masalah lainnya di bidang kesehatan kulit dan kelamin.
Arjuna Subject : Kedokteran - Dematologi
Articles 305 Documents
Kortikosteroid Sistemik: Aspek Farmakologi Dan Penggunaan Klinis Di Bidang Dermatologi
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 3 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.846 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v45i3.33

Abstract

Kortikosteroid sistemik memiliki peranan paling luas di antara semua antiinflamasi dan imunosupresif. Penggunaannya di berbagai bidang kedokteran, termasuk dermatologi, banyak menghasilkan perbaikan klinis yang bermakna. Di sisi lain, pengaruh kortikosteroid terhadap sebagian besar sistem organ, terutama bila diberikan dalam dosis tinggi jangka panjang, berpotensi menghasilkan efek samping serius, meliputi gangguan neuropsikiatrik, kelainan mata, penyakit kardiovaskular, dislipidemia, hiperkoagulabilitas, gangguan gastrointestinal, hiperglikemia, gangguan cairan-elektrolit, kelainan kulit, lipodistrofi, miopati, osteoporosis, infeksi akibat imunosupresi, supresi tumbuh-kembang anak, serta supresi sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal.  Optimalisasi penggunaan kortikosteroid berdasarkan sifat farmakologiknya, yakni pemilihan preparat, rejimen dosis, interval serta waktu dan lama pemberian, metode tapering off, potensi interaksi obat, skrining dan pemantauan  efek  samping serta reaksi hipersensitivitas, juga pemahaman akan fenomena resistensi, kemungkinan timbul dampak buruk dapat dibatasi, sehingga peranan obat ini sebagai pilihan terapi bagi klinisi dapat dipertahankan. Kata kunci: kortikosteroid sistemik, penggunaan klinis, efek samping, farmakologi
Peran Dan Prosedur Uji Kulit Untuk Identifikasi Penyebab Pada Kasus Reaksi Simpang Obat
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 3 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1396.72 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v45i3.34

Abstract

Pada tatalaksana kasus erupsi obat alergik (EOA), identifikasi obat penyebab merupakan langkah utama untuk mencegah pajanan ulang terhadap obat yang menyebabkan EOA. Sebagian besar kasus EOA sulit menentukan obat penyebabnya, sehingga dibutuhkan uji provokasi beberapa obat yang diduga sebagai obat penyebab.Uji provokasi oral merupakan baku emas untuk menentukan obat penyebab, namun merupakan kontraindikasi pada kasus EOA berat. Uji tempel, tusuk, dan intradermal merupakan metode in vivo yang relatif lebih aman digunakan untuk identifikasi obat penyebab, walaupun terdapat beberapa keterbatasan. Dasar pemilihan uji kulit adalah berdasarkan patomekanisme dan manifestasi klinis EOA, diduga paling sering dimediasi oleh reaksi hipersensitivitas Coombs dan Gel tipe I dan IV. Uji tempel dapat bermanfaat pada kasus EOA tipe maku lopapular dan fixed drug eruption, sedangkan uji tusuk dapat bermanfaat untuk tipe urtikaria dan angioedema. Untuk mendapatkan hasil uji yang sahih, perlu diperhatikan konsentrasi alergen obat dan vehikulum yang digunakan, serta persyaratan uji. Indikasi uji tempel pada kasus EOA semakin meningkat, tetapi terdapat variasi antar pusat layanan dan belum ada panduan yang di sepakati bersama.Kata kunci:erupsi obat alergik, identifikasi obat, uji kulit
Hubungan Antara Usia Kehamilan Dengan Pruritus
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 4 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.028 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v45i4.35

Abstract

Pruritus adalah masalah yang sering terjadi pada kehamilan. Pruritus pada kehamilan diinduksi olehestrogen dan mungkin berhubungan dengan kolestasis (obstruksi dan stasis di dalam saluran empedu). Seiringmeningkatnya usia kehamilan terjadi perubahan metabolik, kondisi kulit kering dan kelainan kulit, misalnyakandidiasis yang juga dapat mencetuskan pruritus pada kehamilan.Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara usia kehamilan dengan pruritus pada ibuhamil.Desain penelitian ini adalah observasional-analitis dengan rancangan potong lintang. Subjek penelitianadalah ibu hamil yang mengunjungi klinik bersalin, dengan jumlah sampel 76 orang. Data dalam penelitian inimerupakan data primer yang diperoleh dari kuesioner. Data dianalisis menggunakan uji Chi Square.Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang bermakna (p<0,05) antara usia kehamilan dengan pruritus.Kejadian pruritus terjadi pada 69,7% ibu hamil. Gambaran pruritus terbanyak dialami pada trimester3, yaitu sebesar 36,8%, diikuti oleh trimester 2, (26,3%) dan trimester 1, (6,5%). Waktu tersering terjadinyapruritus adalah pada malam hari sebesar 45,4% dan lokasi pruritus tersering terletak di perut sebesar 41,4%.Kesimpulannya terdapat hubungan antara usia kehamilan dengan pruritus.Kata kunci: kehamilan, pruritus, usia kehamilan.
Eritroderma yang Disebabkan Cutaneous T-Cell Lymphoma (CTCL)
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 4 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.565 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v45i4.36

Abstract

Eitoderma merupakan peradangan kulit yang mengenai 90% atau lebih permukaan kulit. Limfoma selT kulit (cutaneous T-cell lymphoma atau CTCL) merupakan salah satu penyebab eritroderma. Prognosis penyakitini buruk, karena rerata pasien hanya mampu bertahan 2 tahun, oleh karena itu diagnosis eritrodermakarena CTCL menjadi sangat penting.Seorang lelaki usia 65 tahun datang dengan keluhan utama muncul kulit merah dan mengelupas padahampir seluruh tubuh sejak 1 bulan sebelum periksa ke rumah sakit. Satu minggu sebelumnya, pasien mengeluhkulit merah dan mengelupas, terasa gatal, badan terasa panas, rambut rontok, kuku menjadi tebal dankekuningan, demam hingga menggigil. Didapatkan limfadenopati di daerah inguinalis dekstra. Status dermatologispada hampir seluruh tubuh tampak bercak eritematosa dengan deskuamasi berwarna putih di atasnya,multipel dan tersebar. Pada pemeriksaan darah rutin didapatkan sel Sezary. Hasil pemeriksaan histopatologismenunjukkan sebukan band like sel limfosit atipik di dermis. Selain itu didapatkan juga mikroabses Pautrier.Pengecatan imunohistokimia CD3+ dan CD4+ menunjukkan hasil positif. Lesi membaik dengan terapi injeksimetilprednisolon intravena 62,5 mg/hari selama 7 hari.Penyebab eritroderma pada kasus ini adalah CTCL yang ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisisdan penunjang terutama darah lengkap dan pemeriksaan histopatologis.Kata kunci: eritroderma, CTCL
Mikosis Fungoides Folikulotropik Disertai Ko-Ekspresi Pan B-Cell Markers Dengan Manifestasi Klinis Berupa Facies Leonina
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 4 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (793.415 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v45i4.37

Abstract

Mikosis fungoides folikulotropik (MFF) merupakan varian dari mikosis fungoides (MF)  dengan perjalanan klinis yang lebih agresif dan prognosis lebih buruk dibandingkan MF klasik. Facies leonina (FL) merupakan manifestasi klinis yang sangat jarang ditemukan pada MFF. CD20 dan CD79a merupakan pan B-cell markers yang sangat jarang ditemukan pada kasus cutaneous T-cell lymphoma (CTCL), termasuk di dalamnya MFF. Dilaporkan satu kasus MFF pada seorang laki-laki berusia 51 tahun dengan manifestasi klinis FL dan madarosis disertai papula folikel menyerupai lesi keratosis pilaris pada dada, punggung, kedua lengan, dan paha. Diagnosis MFF pada pasien ini ditegakkan berdasarkan pemeriksaan histopatologis sediaan biopsi kulit wajah yang menunjukkan gambaran folikulotropisme. Pada pemeriksaan imunohistokimia ditemukan fenotipe CD3 yang dominan, CD4, CD8, CD30, dan Ki-67 lebih dari 40% sel tumor. Penanda sel-B juga ditemukan positif pada beberapa sel yaitu CD20, CD79a, dan bcl-2. Setelah dua bulan diterapi dengan kortikosteroid topikal tidak didapatkan pendataran pada lesi FL. Pasien direncanakan pemberian regimen kemoterapi siklofosfamid, doxorubicin, vincristine, dan prednison. Mikosis fungoides folikulotropik  dapat bermanifestasi klinis FL. Fenotipe CD20 dan CD79a pada kasus ini bukan merupakan cutaneous B-cell lymphoma karena fenotipe CD3, CD4, dan CD8 yang ditemukan lebih dominan. Folikulotropisme menyebabkan MFF kurang responsif terhadap skin-targeted therapies sehingga membutuhkan terapi yang lebih agresif. Kata kunci: facies leonina, mikosis fungoides folikulotropik, pan-B cell markers
HUBUNGAN ANTARA KADAR SERUM INTERFERON GAMMA DENGAN DERAJAT KEPARAHAN PSORIASIS VULGARIS
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 4 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.605 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v45i4.39

Abstract

nterferon gamma (IFN-γ) merupakan mediator inflamasi yang penting pada penyakit psoriasis vulgaris. Berdasarkan penelitian sebelumnya didapatkan hubungan antara peningkatan kadar IFN-γ dengan derajat keparahan psoriasis vulgaris. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar serum IFN-γ dengan derajat keparahan psoriasis vulgaris. Metode penelitian adalah cross-sectional dengan sampel pasien psoriasis vulgaris dan bukan psoriasis vulgaris, berumur 16-65 tahun, yang berkunjung ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Sanglah pada periode Oktober sampai Desember 2017, berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian ini melibatkan 70 orang sampel yang terdiri atas 42 orang pasien psoriasis dan 28 orang bukan psoriasis sebagai pembanding. Hasil penelitian didapatkan pasien psoriasis terbanyak berjenis kelamin laki-laki sebanyak 29 orang (69 %), dengan rerata umur 45,9 ± 11,1 tahun. Kadar rerata serum IFN-γ pada pasien psoriasis didapatkan 2,95 ± 2,29 ng/mL (IK 95%: 2,29–3,80ng/mL) lebih tinggi dibandingkan dengan bukan psoriasis 2,14 ± 1,78 ng/mL (IK 95%:1,74– 2,63ng/mL) dengan perbedaan rerata kadar serum IFN-γ pada kedua kelompok adalah 0,81 ng/mL dan bermakna secara statistik (p<0,001). P
Eritroderma yang Disebabkan Cutaneous T-Cell Lymphoma (CTCL)
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 4 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.565 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v45i4.40

Abstract

Eitoderma merupakan peradangan kulit yang mengenai 90% atau lebih permukaan kulit. Limfoma selT kulit (cutaneous T-cell lymphoma atau CTCL) merupakan salah satu penyebab eritroderma. Prognosis penyakitini buruk, karena rerata pasien hanya mampu bertahan 2 tahun, oleh karena itu diagnosis eritrodermakarena CTCL menjadi sangat penting.Seorang lelaki usia 65 tahun datang dengan keluhan utama muncul kulit merah dan mengelupas padahampir seluruh tubuh sejak 1 bulan sebelum periksa ke rumah sakit. Satu minggu sebelumnya, pasien mengeluhkulit merah dan mengelupas, terasa gatal, badan terasa panas, rambut rontok, kuku menjadi tebal dankekuningan, demam hingga menggigil. Didapatkan limfadenopati di daerah inguinalis dekstra. Status dermatologispada hampir seluruh tubuh tampak bercak eritematosa dengan deskuamasi berwarna putih di atasnya,multipel dan tersebar. Pada pemeriksaan darah rutin didapatkan sel Sezary. Hasil pemeriksaan histopatologismenunjukkan sebukan band like sel limfosit atipik di dermis. Selain itu didapatkan juga mikroabses Pautrier.Pengecatan imunohistokimia CD3+ dan CD4+ menunjukkan hasil positif. Lesi membaik dengan terapi injeksimetilprednisolon intravena 62,5 mg/hari selama 7 hari.Penyebab eritroderma pada kasus ini adalah CTCL yang ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisisdan penunjang terutama darah lengkap dan pemeriksaan histopatologis.Kata kunci: eritroderma, CTCL
Kusta Tipe Mid-Borderline Dengan Alergi Klofazimin Tipe Sindrom Hipersensitivitas Obat
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 4 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.878 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v45i4.41

Abstract

Kusta merupakan infeksi yang tersering menyebabkan disabilitas dan masih merupakan tantangan untukdieliminasi. World Health Organization merekomendasikan penggunaan multi-drug therapy (MDT) tipemultibasiler (MB) yang terdiri atas rifampisin, dapson, dan klofazimin. Regimen MDT MB ini bertujuan untukmengendalikan resistensi primer dan sekunder yang disebabkan oleh monoterapi, mencegah terjadinya relaps,serta mempercepat kesembuhan. Pengobatan MDT pernah dilaporkan memiliki beberapa efek samping meskipundianggap aman. Klofazimin merupakan obat yang ditoleransi baik, memiliki efek antimikroba dan antiinflamasi,dan sangat jarang menyebabkan reaksi alergi. Kami melaporkan pasien perempuan 39 tahun dengankusta tipe mid-borderline dan riwayat erupsi obat alergik tipe sindrom hipersensitivitas obat yang disebabkanoleh MDT multibasilar. Setelah dilakukan uji tempel obat, didapatkan hasil positif terhadap klofazimin. Tatalaksana kusta pada pasien disesuaikan menjadi MDT MB tanpa klofazimin dan ditambahkan ofloksasin 1x400mg selama total 12 bulan. Kasus ini diajukan dengan mempertimbangkan kejadian yang jarang dan diharapkandapat meningkatkan kewaspadaan dan pengetahuan mengenai tata laksana kusta pada keadaan khusus.Kata kunci: alergi, klofazimin, kusta, MDT
Hubungan Antara Remisi Urtikaria Kronis Dengan Eradikasi Helicobacter Pylori
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 4 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.884 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v45i4.42

Abstract

Urtikaria konis merupakan salah satu penyakit yang sering ditemui dalam praktek sehari-hari. Pasiendengan urtikaria menempati proporsi besar yang datang ke klinik alergi. Urtikaria kronis merupakan kondisiyang umum dijumpai dan dapat menurunkan kualitas hidup. Ada beberapa penyebab urtikaria kronis yangdapat diidentifikasi dengan mengetahui riwayat klinis. Seringkali penyebab urtikaria bersifat idiopatik dantidak diketahui. Tidak seperti urtikaria akut yang dapat hilang dengan sendirinya dan dapat ditangani secarasimtomatis, penanganan urtikaria kronis harus diidentifikasi faktor penyebabnya agar tidak berulang. Namunobat – obatan tertentu, makanan, penyakit tertentu dan zat – zat tertentu telah terbukti dapat memicu terjadinyaurtikaria kronis. Selain itu fokus infeksi berupa infeksi virus, parasit dan parasit telah banyak diteliti dapatmenimbulkan urtikaria kronis. Menemukan fokus infeksi sistemik penting dalam prognosis dan remisi urtikariakronis. Beberapa penelitian terkini menyebutkan bahwa Helicobacter H. pylori (H. pylori) dapat berperandalam menyebabkan urtikaria kronis, dan eradikasi H. pylori dapat memperbaiki gejala dan remisi urtikariakronis. Untuk itu pendekatan diagnostik dalam menemukan H. pylori sebaiknya menjadi skrining rutin.Kata kunci: Urtikaria Kronis, H. pylori, eradikasi, infeksi, remisi
Dermatoskopi Pada Okronosis Eksogen
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 4 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.539 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v45i4.43

Abstract

Okronosis eksogen adalah kelainan yang jarang ditemukan karena secara klinis mirip dengan melasmasehingga sering terlewatkan, namun okronosis eksogen membutuhkan perhatian karena dapat dicegah. Okronosiseksogen merupakan hasil penggunaan beberapa pengobatan berupa hidrokuinon, obat antimalaria danbahan yang mengandung resorsinol, fenol, merkuri, dan asam pikrik. Secara klinis okronosis eksogen berupahiperpigmentasi asimtomatik pada wajah, sisi samping dan belakang leher, punggung serta sisi ekstensor ekstremitas.Secara histopatologis terdapat globul-globul kuning kecokelatan (ochronotic) di papila dermis tanpaketerlibatan artikuler, ginjal, atau kardiovaskular. Pengobatan okronosis hingga saat ini masih sulit, belum adadata yang memuaskan untuk pengobatan okronosis eksogen, sehingga diagnosis dini dan penghentian penggunaanhidrokuinon secepatnya sangat membantu perbaikan klinis. Baku emas untuk diagnosis okronosis eksogenadalah biopsi kulit, namun biopsi merupakan tindakan yang invasif. Dematoskopi merupakan pemeriksaanpenunjang yang dapat membantu diagnosis dini dengan cepat, teknik sederhana dan mudah digunakan sertamenunjukkan gambaran yang khas pada okronosis eksogen, sehingga sangat membantu untuk membedakanokronosis eksogen dengan melasma.Kata kunci: dermatoskopi, eksogen, hidrokuinon, okronosis

Page 4 of 31 | Total Record : 305