cover
Contact Name
-
Contact Email
journal@mail.unnes.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
journal@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Sekaran, Gunung Pati, Semarang, Provinsi Jawa Tengah, 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana
ISSN : -     EISSN : 26866404     DOI : -
Core Subject : Education,
Seminar nasional Pascasarjana merupakan kegiatan rutin yang dilakasanakan oleh Pascasarjana UNNES. Tahun 2018 adalah kali ke 5 pelaksanan yang diselenggarakan oleh Kampus yang telah berubah alamat dari lokasi di Kampus Bendan Ngisor berpindah di Kampus Kelud Utara III Kecamatan Gajahmungkur kota Semarang. Kegiatan akademik ini merupakan kerjasama yang sinergi antar enam Kampus Pascasarjana LPTK di Indonesia.
Articles 84 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 1 (2021)" : 84 Documents clear
Project Based Learning untuk Meningkatkan Keterampilan Speaking Mahasiswa Abad 21 Seftika Seftika; Januarius Mujiyanto; Abdurrachman Faridi; Zulfa Sakhiyya
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Globalisasi telah membawa perubahan dan tantangan tersendiri di berbagai bidang termasuk di bidang pendidikan. Program pembelajaran yang disusun harus dapat berselaras dengan pendidikan abad 21 yang menuntut setiap lulusan mampu berkompetisi dengan sejumlah keterampilan yang dipersyaratkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana project-based learning dapat meningkatkan keterampilan berbicara Bahasa Inggris mahasiswa dalam menghadapi era Pendidikan abad 21. Partisipan dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester 4 program studi Pendidikan Bahasa Inggris di salah satu universitas swasta di Lampung, Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain penelitian studi kasus deskriptif. Data penelitian diambil dari observasi selama kurang lebih 5 bulan. Kemudian sumber data juga berasal dari wawancara dengan 49 mahasiswa. Hasil penelitian menunjukan bahwa mahasiswa memberikan respon positif terhadap penggunaan project based learning. Pada mata kuliah speaking, project based learning dapat membantu mahasiswa untuk meningkatkan keterampilan berbicara dalam Bahasa Inggris serta meningkatakan keterampilan abad 21 yaitu berfikir kritis, menyelesaikan masalah, kreativitas, kemampuan berkomunikasi, kemampuan menggunakan media teknologi, dan kemampuan untuk berkerja sama. Kata kunci: Keterampilan abad 21, Project based learning, Speaking. Abstract. Globalization has brought its own changes and challenges in various fields including education. Every learning program that is prepared must be in harmony with 21st century education which requires every graduate to be able to compete with a number of required skills. This study aims to find out how project-based learning can improve students' English-speaking skills in facing the era of 21st century education. The participants in this study were 4th semester students of the English Education study program at a private university in Lampung, Indonesia. This research used a descriptive case study research design. The research data was taken from observation for approximately 5 months. Then, the data sources were obtained from interviews with 49 students. The results showed that students have positive response toward the implementation of project-based learning. In the speaking class, project-based learning can help students to improve their speaking skills in English and improve 21st century skills, namely critical thinking, problem solving, creativity, communication skills, media technology skills, and collaboration. Key words: 21st -century skills, Project based learning, Speaking
Kompetensi Literasi Digital Mahasiswa Dalam Menulis Artikel Opini Maya Dewi Kurnia
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Ditengah informasi yang menyebar secara cepat karena perkembangan teknologi yang pesat kompetensi literasi digital menjadi sebuah keharusan. Akan tetapi, hal ini perlu disikapi secara bijak sehingga mendapatkan kebermanfaatan. Dalam aktivitas pembelajaran di kelas, kompetensi ini dibutuhkan mahasiswa untuk mendukung pembelajaran khususnya dalam menulis artikel opini. Dalam penulisannya artikel opini, informasi dan data yang relevan menjadi sesuatu yang dibutuhkan sebagai referensi. Tujuannya tentu menguatkan gagasan penulis. Oleh karena itu, perlu kiranya kompetensi literasi digital sehingga sumber informasi yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan. Adapun tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui kompetensi literasi digital mahasiswa dalam menulis artikel opini. Penelitian ini menggunakan deskriptif analitis. Berdasarkan angket yang disebar kepada mahasiswa, diketahui secara umum mahasiswa mampu mencari informasi dan data. Akan tetapi, untuk mencari informasi dari sumber yang tepat masih terbilang kurang, begitu halnya dengan kemampuan membandingkan informasi. Untuk itu perlu kiranya mengintegrasikan literasi digital dalam materi ajar menulis artikel opini. Dengan demikian akan membangun kesadaran mahasiswa agar menjadi literat. Kata kunci: kompetensi, literasi digital, artikel opini. Abstract. In the midst of information that spreads rapidly due to rapid technological developments, digital literacy competence is a must. However, this needs to be handled wisely so that it gets useful. In learning activities in class, this competency is needed by students to support learning, especially in writing opinion articles. In writing opinion articles, relevant information and data become something that is needed as a reference. The goal is to strengthen the author's ideas. Therefore, it is necessary to have digital literacy competence so that the sources of information obtained can be accounted for. The purpose of this research is to know the digital literacy competence of students in writing opinion articles. This research uses analytical descriptives. Based on the questionnaire distributed to students, it is generally known that students are able to find information and data. However, to find information from the right source is still lacking, as is the ability to compare information. For this reason, it is necessary to integrate digital literacy in teaching materials for writing opinion articles. Thus, it will build students' awareness to become literate. Key words: competence, digital literacy, opinion articles.
Penerapan pendekatan Socio-Sicentific Issue (SSI) Menggunakan Desain Project untuk Meningkatkan Penguasaan Technopreneurship Mahasiswa Dyah Setyaningrum Winarni; Susilo Susilo; Sigit Saptono; Arif Widiyatmoko
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Pembelajaran sekarang ini perlu adanya upaya untuk meningkatkan tidak hanya kemampuan kognitif, tetapi juga kemampuan afektif dan psikomotor. Pola pembelajaran untuk meningkatkan aspek dalam diri peserta didik tentu sebagai bentuk upaya menghasilkan lulusan atau generasi penerus bangsa yang memiliki kemadirian dalam mengahadapi permasalahan yang ada di lingkungan. Oleh karena itu perlu pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan menghubungkan antara pembelajaran dan masalah yang ada di lingkungan masyarakat dengan pendekatan socio-scientific issue (SSI). SSI ini diterapkan dengan menggunakan desains project untuk meningkatkan technopreneurship mahasiswa atau kemampuan menggunakan teknologi dalam berwirausaha. Metode dalam penelitian ini menggunakan desain penelitian one shot case study. Data diambil dari 56 mahasiswa fakultas sains dan teknologi Universitas Ivet. Indikator yang diambil dibatasi pada rancangan proyek, analisis kendala proyek, dan solusi permasalahan. Berdasarkan hasil analisis diperoleh kemampuan desains project 36% dinyatakan selalu berkoordinasi bersama ahli. Hasil analisis proyek berbasis teknologi diketahui lebih dari 50% proyek yang dikembangkan berbasis teknologi. Hasil untuk kemampuan dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam desains project diperoleh beberapa kendala, akan tetapi hasil wawancara dinyatakan para mahasiswa mampu memecahkan permaslahan yang dihadapi. Simpulan dari penelitian ini bahwa hasil penerapan pendekatan SSI mampu meningkatkan penguasaan technopreneurship mahasiswa. Kata kunci: socio-scientific issue (SSI), desain project, technopreneurship Abstract. Today's learning requires efforts to improve not only cognitive abilities, but also affective and psychomotor abilities. Learning patterns to improve aspects in students are certainly a form of effort to produce graduates or the nation's next generation who have independence in dealing with problems that exist in the environment. Therefore, an appropriate learning approach is needed by connecting learning and problems that exist in the community with a socio-scientific issue (SSI) approach. This SSI is implemented by using a design project to improve students' technopreneurship or the ability to use technology in entrepreneurship. The method in this study uses a one-shot case study research design. Data were taken from 56 students of the faculty of science and technology at Ivet University. The indicators taken are limited to project design, analysis of project constraints, and problem solutions. Based on the results of the analysis, 36% of project design skills were stated to always coordinate with experts. The results of the technology-based project analysis show that more than 50% of the projects developed are technology-based. The results for the ability to solve the problems encountered in the design project obtained several obstacles, but the results of the interviews stated that the students were able to solve the problems they faced. The conclusion from this study is that the results of the application of the SSI approach are able to improve student technopreneurship. Key words: socio-scientific issue (SSI), desain project, technopreneurship.
Keterampilan Meneliti Mahasiswa dalam Eksperimen Real dan Eksperimen Virtual Eli Trisnowati; Wiyanto Wiyanto; Bambang Subali; Sulhadi Sulhadi
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Berbagai tingkatan pendidikan menetapkan adanya standar minimal yang harus dimiliki peserta didik. Dalam mencapai hal tersebut, pendidikan sains seharusnya konsisten pada hakekat dari inkuiri ilmiah. Salah satunya dengan kegiatan inkuiri di laboratorium. Pembelajaran daring memberikan batasan bagi peserta didik untuk melakukan kegiatan inkuiri di laboratorium. Solusi yang ditawarkan berupa eksperimen real menggunakan alam sekitar/ bahan sederhana dan eksperimen virtual, tetapi belum diketahui dampaknya bagi keterampilan meneliti. Tujuan penelitian ini melihat 1) perbedaan keterampilan meneliti pada eksperimen real dan eksperimen virtual dan 2) ketuntasan pada setiap tahapan penelitian pada eksperimen real dan eksperimen virtual. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dengan non tes dan instrumen pengumpulan data berupa penilaian keterampilan meneliti. Hasil menunjukkan bahwa keterampilan meneliti mahasiswa dalam eksperimen real dan virtual tidak berbeda secara signifikan. Rata-rata keterampilan meneliti dalam eksperimen real lebih tinggi dibandingkan dengan keterampilan meneliti dalam eksperimen virtual. Selain itu, ketuntasan nilai keterampilan meneliti pada setiap tahapan aktivitas eksperimen memiliki sebaran yang berbeda. Aktivitas yang perlu dikembangkan baik dalam eksperimen real dan virtual adalah memilih/menentukan variabel, menentukan cara mengolah data dan menganalisis hasil, dan menentukan cara menarik kesimpulan. Kata kunci: eksperimen real, eksperimen virtual, keterampilan meneliti Abstract. Various levels of education set the minimum standards that students must have. In achieving this, science education should be consistent with the nature of scientific inquiry. One of which is inquiry activities in the laboratory. Online learning provides limits for students to carry out inquiry activities in the laboratory. The solutions offered are in real experiments using natural surroundings/ simple materials and virtual experiments, but the impact on research skills is not yet known. The purpose of this study is to see 1) differences in research skills in real experiments and virtual experiments and 2) completeness at each stage of research in real experiments and virtual experiments. The research method is descriptive quantitative research—data collection techniques with non-test and data collection instruments in the form of assessment of research skills. The results showed that students' research skills in real and virtual experiments were not significantly different. The average of research skills in real experiments is higher than research skills in virtual experiments. In addition, the thoroughness of the value of researching skills at each stage of the experimental activity has a different distribution. Activities that need to be developed in real and virtual experiments are selecting/determining variables, determining how to process data and analyze results, and determining how to conclude. Key words: real experiment, virtual experiment, research skill.
Mengembangkan Kemampuan Argumentasi Ilmiah Calon Guru Sekolah Dasar sebagai Bentuk Penguatan Keterampilan Abad 21 Fina Fakhriyah; Ani Rusilowati; Sunyoto Eko Nugroho; Sigit Saptono
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Era revolusi industri 4,0 dan era society 5,0 menantang mahasiswa lulusan LPTK untuk memiliki hard skill maupun soft skill yang terasah dengan baik. Kemampuan berargumentasi menjadi salah satu kemampuan yang penting dimiliki oleh mahasiswa. Kemampuan argumentasi ilmiah merupakan proses memperkuat suatu klaim dengan menitikberatkan pada kemampuan mengemukakan ide dan gagasan tentang fenomena sains dalam kehidupan sehari-hari yang berdasarkan bukti dan kesesuaiannya dengan teori yang ada. Kemampuan argumentasi ilmiah ini sangat terkait dengan isu penting pada beberapa tahun terakhir ini, yakni keterampilan abad 21. Dengan keterlibatan mahasiswa dalam berargumentasi, maka mahasiswa dapat belajar untuk menghargai hubungan antara bukti dan klaim serta pentingnya pembenaran dalam argumen ilmiah. Pada pembelajaran aplikasi sains, pendidik atau dosen dapat mengelompokkan bahasan materi keseimbangan lingkungan dapat dikaitkan dengan isu sosiosaintifik dalam beberapa tema di antara; 1) pelestarian keanekaragaman hayati dengan teknologi; dan 2) penggunaan pestisida untuk memberantas hama; 3) cara menjaga keseimbangan lingkungan. Setelah pengelompokan tema tersebut, pendidik dapat memberikan suatu permasalahan yang terkait dengan isu sosiosaintifik Dengan tema-tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari serta beberapa hal menimbulkan perbedaan pendapat, diharapkan mahasiswa mampu mengembangkan kemampuan argumentasinya berdasarkan data (data), klaim (claim), pembenaran (warrant), dukungan (backing), dan sanggahan (rebuttal). Kata kunci: kemampuan argumentasi ilmiah, keterampilan abad 21, calon guru sekolah dasar Abstract. The 4.0 industrial revolution era and 5.0 era society challenged students who graduated from the Education Personnel Education Institute to have well-honed hard skills and soft skills. The ability to argue is one of the important abilities possessed by students. The ability of scientific argumentation is the process of strengthening a claim by emphasizing the ability to express ideas and ideas about scientific phenomena in everyday life based on evidence and in accordance with existing theories. The ability of scientific argumentation is closely related to important issues in recent years, namely 21st century skills. By involving students in arguing, students can learn to appreciate the relationship between evidence and the importance of justification in scientific arguments. In learning science applications, educators or lecturers can group environmental balance material with socio-scientific issues in several themes, including 1) preservation of biodiversity with technology; and 2) use of pesticides to eradicate pests; 3) how to maintain environmental balance. After grouping these themes, educators can provide a problem related to scientific issues. With themes that are close to everyday life and some things that cause differences of opinion, students are expected to be able to develop their argumentation skills based on data (data), claims, justifications. (warrant), support (support), and rebuttal (rebuttal). Key words: scientific argumentation ability, 21st century skills, prospective elementary school teachers.
Persepsi Dan Pembiasaan Penggunaan Model Pembelajaran Berbasis Proyek Terintegrasi STEAM pada Mata Kuliah IPA: Studi Pendahuluan Tentang PjBL Terintegrasi Steam untuk Meningkatkan Keterampilan Abad 21 M. Hidayatur Rohman; Putut Marwoto; Sunyoto Eko Nugroho; Supriyadi Supriyadi
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Mahasiswa pada abad 21 menghadapi masalah kehidupan nyata, dimana teknologi memegang peranan penting dalam kehidupan. Sehingga dunia pendidikan pada abad 21 ini menghadapi tantangan memberikan mahasiswa Pendidikan berbasis keterampilan untuk menghadapi masalah kehidupan nyata tersebut. Selanjutnya keterampilan yang dikembangakan itu disebut dengan keterampilan abad 21 (4C: Critical thinking, Collaboration, Creative, Communication). Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu pendekatan model pembelajaran yang menjawab tantangan abad 21 tersebut. Salah satu pendekatan itu adalah pengembangan model pembelajaran berbasis proyek atau Project Based Learning (PjBL) terintegrasi STEAM (science, technology, engineering, arts, and mathematics). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui persepsi dan pembiasaan dosen IPA, serta persepsi mahasiswa dalam penggunaan model PjBL terintegtrasi STEAM pada mata kuliah IPA. Subjek penelitian adalah 10 dosen IPA dan 33 mahasiswa Pendidikan IPA. Pengumpulan data dilakukan dengan mengembangkan kuesioner yang telah divalidasi dan diuji reliabilitasnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model PjBL terintegrasi STEAM sangat baik untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan keterampilan abad 21 bagi mahasiswa. Kata kunci: project based learning (PjBL), steam, keterampilan abad 21 Abstract. Students in the 21st-century face real-life problems, where technology plays an important role in life. So that the world of education in the 21st-century faces the challenge of providing students with skills-based education to deal with these real-life problems. Furthermore, the skills developed are called 21st-century skills (4C: Critical thinking, Collaboration, Creative, Communication). Therefore, it is necessary to develop a learning model approach that answers the challenges of the 21st-century. One such approach is the development of an integrated project-based learning (PjBL) model of STEAM (science, technology, engineering, arts, and mathematics). The purpose of this study was to determine the perception and habituation of science lecturers, as well as student perceptions of the use of the STEAM-integrated PjBL model in natural science courses. The research subjects were 10 science lecturers and 33 science education students. Data collection is done by developing a questionnaire that has been validated and tested for reliability. The results of the study show that the use of the STEAM integrated PjBL model is very good for improving critical thinking skills and 21st-century skills for students. Key words: project-based learning (PjBL), steam, 21st-century skills
Konstruktivisme Dalam Pembelajaran IPA Abad 21 Riyanti Riyanti; Edy Cahyono; Sri Haryani; Budi Naini Mindyarto
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Abad 21 perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi berlangsung sangat cepat dan penuh persaingan. Pendidikan ditantang untuk memusatkan perhatian pada terbentuknya manusia masa depan yang memiliki karakteristik diantaranya kepekaan, kemandirian, dan tanggung jawab. Paradigma pendidikan telah mengalami pergeseran dari paradigma behavioristik menuju konstruktivistik yang ditandai adanya perbedaan orientasi pembelajaran. Tujuan makalah ini adalah untuk menganalisis proses belajar menurut teori konstruktivistik dan implementasinya dalam pembelajaran IPA abad 21.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi Pustaka. Hal pertama yang dilakukan peneliti yaitu memberikan definisi konstruktivisme dan pembelajaran abad 21. Langkah kedua adalah mencari informasi tentang proses belajar mengajar menurut teori konstruktivistik dan pembelajaran IPA abad 21. Langkah ketiga yaitu peneliti mensintesis beberapa informasi tentang implementasi konstruktivisme dalam pembelajaran IPA abad 21.Berdasarkan kajian pustaka menunjukkan bahwa proses belajar mengajar menurut teori konstruktivistik melibatkan peran guru, siswa, sarana prasarana, dan evaluasi belajar. Implementasi pembelajaran konstruktivisme dalam pembelajarn IPA abad 21 meliputi keterampilan siswa dalam pemahaman, analisis, penerapan pada kelompok eksperimen dalam berkolaborasi, dan penggunaan bahan ajar dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Kata kunci: konstruktivisme, pembelajaran IPA, abad 21 Abstract. In the 21st century, the development of science, technology, and information is very fast and full of competition. Education is challenged to draw attention to the formation of a future that is one of them, independent, and responsible. The educational paradigm has experienced a shift from a behavioral paradigm to a constructivist one marked by differences in learning orientation. The purpose of this paper is to analyze the learning process according to constructivist theory and its implementation in science learning in the 21st century.The method used in this research is library study. The first thing the researcher did was to provide a definition of constructivism and 21st century learning. The second step was to find information about the teaching and learning process according to constructivist theory and 21st century science learning. The third step was to synthesize some information about the implementation of constructivism in 21st century science learning.Based on the literature review, it shows that the learning process according to constructivist theory involves the role of teachers, students, infrastructure, and learning evaluation. The implementation of constructivism learning in science learning in the 21st century includes students' skills in understanding, analyzing, applying to experimental groups in collaboration, and using learning materials and can improve student learning outcomes. Key words: constructivism, science learning, 21st century.
Analisis Kendala Guru dalam Menerapkan Pendekatan Saintifik Berbasis Inkuiri pada Sains Sekolah Dasar Rusdiyana Rusdiyana; Dyah Rini Indriyanti; Hartono Hartono; Wiwi Isnaeni
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Proses pembelajaran dalam kurikulum 2013 di Indonesia menggunakan pendekatan saintifik atau menggunakan five discovery skills. Lima keterampilan ini sesuai dengan model pembelajaran inkuiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kendala guru dalam menerapkan pendekatan saintifik berbasis inkuiri mata pelajaran IPA di Sekolah Dasar Negeri 2 Komet Banjarbaru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Narasumber dalam penelitian ini adalah 6 orang guru IPA SDN 2 Komet Banjarbaru, data dikumpulkan dengan wawancara, dan telaah dokumen. Penarikan kesimpulan melalui proses dari pengumpulan data dengan teknik wawancara dan telaah dokumen. Data yang sudah terkumpul, kemudian diolah dengan analisis data dengan pendekatan induktif yang bersifat khusus ke data yang bersifat umum, dan dengan pengecekan keabsahan data tersebut. Hasil penelitian ini telah menunjukkan bahwa terdapat beberapa kendala guru dalam menerapkan pendekatan saintifik berbasis inkuiri pada sains di Sekolah Dasar akibat guru kurang menguasai teknik memancing siswa bertanya, kurang menguasai pendekatan saintifik, kurangnya penguasaan langkah-langkah inkuiri, dan kurangnya acuan atau contoh penerapan inkuiri dalam pembelajaran daring. Hal ini terjadi karena kelemahan buku ajar kurikulum 2013 yaitu kurangnya mengarahkan penerapan inkuiri. Penyebab lainnya dalam ulasan dikemukakan tentang alasan guru tidak menerapkan inkuiri yaitu pembelajaran inkuiri memerlukan waktu lebih banyak dalam hal persiapan, kesulitan merancang inkuiri secara e-learning, dan kesulitan implementasi di ruang kelas online. Sehingga saran penelitian ini : 1). Perlu adanya model pelatihan guru dalam hal menerapkan pendekatan saintifik berbasis inkuiri dan 2). Perlu tersedianya buku ajar IPA menggunakan pendekatan saintifik berbasis e-inkuiri learning Kata kunci: analisis, kendala guru, pendekatan saintifik berbasis inkuiri, sekolah dasar. Abstract. The learning process in the 2013 curriculum in Indonesia uses a scientific approach or uses five discovery skills. These five skills are in accordance with the inquiry learning model. The purpose of this study was to analyze the teacher's obstacles in applying a scientific approach to inquiry-based science subjects at the State Elementary School 2 Komet Banjarbaru. This study uses a qualitative approach. The resource persons in this study were 6 science teachers at SDN 2 Komet Banjarbaru, data were collected by interview, and document review. Drawing conclusions through the process of data collection with interview techniques and document review. The data that has been collected is then processed by data analysis with an inductive approach that is specific to general data, and by checking the validity of the data. The results of this study have shown that there are several obstacles for teachers in applying a scientific approach based on inquiry to science in elementary schools due to teachers lack of mastery of techniques to provoke students to ask questions, lack of mastery of scientific approaches, lack of mastery of inquiry steps, and lack of references or examples of application of inquiry in online learning. This happened because of the weakness of the 2013 curriculum textbooks, namely the lack of directing the application of inquiry. Other causes in the review stated the reasons teachers do not apply inquiry, namely inquiry learning requires more time in terms of preparation, difficulties in designing inquiry in e-learning, and difficulties in implementation in online classrooms. So the suggestions of this research: 1). There needs to be a teacher training model in terms of applying an inquiry-based scientific approach and 2). It is necessary to provide science textbooks using a scientific approach based on e-inquiry learning Key words: analysis, teacher constraints, inquiry-based scientific approach, elementary school.
Pembuatan Media Pembelajaran Berbasis Aplikasi Android pada Mata Kuliah Rencana Anggaran dan Biaya Prodi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Semarang Aris Widodo; Indah Permata Sari
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong pembaruan penggunaan teknologi dalam media pembelajaran. Media pembelajaran berkembang dari media cetak hingga media audio visual yang dapat diakses melalui perangkat smartphone. Salah satu sistem operasi yang mendukung kerja smartphone adalah Android. Android merupakan salah satu dari sistem operasi smartphone teratas yang banyak digunakan di dunia. Dalam pelaksanaan pembelajaran mata kuliah Rencana Anggaran dan Biaya dosen belum menggunakan media smartphone untuk media pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kelayakan media pembelajaran berbasis aplikasi Android mata kuliah Rencana Anggaran dan Biaya Prodi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Semarang mengetahui tanggapan mahasiswa terhadap media pembelajaran berbasis aplikasi Android mata kuliah Rencana Anggaran dan Biaya Prodi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Semarang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Tahapan pembuatan media pembelajaran RAB berbasis aplikasi Android terdiri atas Pengumpulan Informasi, Perencanaan Media, Pembuatan Media, dan Penilaian Media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media RAB berbasis aplikasi Android menurut ahli materi layak digunakan dengan persentase nilai 83,08% dan sangat layak oleh ahli media dengan persentase nilai 92,5%. Media pembelajaran RAB berbasis aplikasi Android mendapat tanggapan sangat positif dari mahasiswa sebesar 85,30% atau sangat positif.Kata kunci: media pembelajaran, media rab, aplikasi AndroidAbstract. The development of science and technology encourage renewal of the use of technology in learning media. Learning media evolved from print media to audio- visual media that can be accessed via smartphone. One of the operating systems that support smartphone work is Android. Android is one of the most widely used smartphone operating systems in the world. In the implementation of learning Rencana Anggaran dan Biaya subject, lecturers have not used smartphones for learning media. The purpose of this research are to find out the feasibility of learning media based on Android applications for Rencana Anggaran dan Biaya subject of the Prodi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Semarang to find out the students’ responses of learning media based on the Android application in Rencana Anggaran dan Biaya subject of the Prodi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Semarang. This research uses descriptive research with a quantitative approach. Making RAB learning media based on the Android application consists of collecting information, planning media, making media, and evaluating media. The research results showed that RAB learning media based on the Android application according to the material expert were feasible with a percentage value of 83.08% and very feasible by media experts with a percentage value of 95.5%. The RAB learning media based on the Android application received very positive responses from students, this was based on the students’ responses questionnaire which showed achievement of 85.20% or very positive.Key words: learning media, rab media, Android application
Evaluasi Gaya Kepemimpinan Pendidikan Tinggi Vokasi Kemaritiman di Abad 21 – Studi Kasus pada Politeknik Bumi Akpelni Cahya Fajar Budi Hartanto; Y L Sukestiyarno; Rusdarti Rusdarti; Abdurrahman Abdurrahman
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Pendidikan vokasi saat ini tengah mendapat perhatian pemerintah, berbagai regulasi dan kebijakan diterbitkan untuk mendukung penguatan pendidikan vokasi. Tentunya hal ini harus mendapat dukungan dari internal pendidikan vokasi itu sendiri, salah satunya dari para pimpinan yang mengatur jalannya roda institusi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi gaya kepemimpinan pendidikan tinggi vokasi kemaritiman di abad 21 yang penuh dengan dinamika dan perubahan yang sangat cepat sehingga membutuhkan karakter pemimpin yang adaptif. Selain itu juga untuk menemukan celah pengembangan atau perbaikan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan peran dan fungsi pimpinan pendidikan tinggi vokasi kemaritiman di masa kini dan mendatang. Metode penelitian ini adalah mixed methods dimana untuk tujuan penelitian pertama digunakan metode kuantitatif, sedangkan untuk tujuan penelitian kedua digunakan metode kualitatif naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan di pendidikan tinggi vokasi kemaritiman menggunakan tiga gaya kepemimpinan yakni karismatik (4,04), transformasional (4,42), dan transaksional (4,17). Kesimpulan dari penelitian ini menyatakan bahwa pimpinan pendidikan tinggi vokasi kemaritiman telah menggunakan kombinasi dari ketiga gaya kepemimpinan sehingga dapat menjawab tuntutan dari seluruh elemen yang ada di lembaga. Adapun yang masih harus terus ditingkatkan sebagai pimpinan pendidikan tinggi vokasi kemaritiman adalah: memahami regulasi yang berlaku dengan baik; kompeten dan cakap menjadi pimpinan meski usia masih muda; mampu menjadi teladan; mengayomi seluruh civitas akademika dan memperjuangkan hak bawahan meski harus berhadapan dengan Yayasan; memiliki kedekatan personil dengan seluruh warga kampus; serta terbuka menerima kritik, saran, dan masukan yang membangun demi kemajuan lembaga. Kata kunci: gaya kepemimpinan, pendidikan tinggi vokasi, kemaritiman. Abstract. Vocational education is currently getting the government's attention, and various regulations and policies are issued to support the strengthening of vocational education. Of course, this must be supported from internal vocational education itself, one of which is from the leaders who manage the running of the institution. This study aims to evaluate the leadership style of maritime vocational higher education in the 21st century which is full of dynamics and very fast changes that require adaptive leader characters. In addition, to find development gaps or improvements that can be made to increase the role and function of the present and future leaders of maritime vocational higher education. This research method is a mixed method where for the first research purpose, quantitative methods are used, while for the second research purpose, narrative qualitative methods used. The results showed that leadership in maritime vocational higher education uses three leadership styles, namely charismatic (4.04), transformational (4.42), and transactional (4.17). The conclusion of this study states that the leadership of maritime vocational higher education has used a combination of the three leadership styles so that it can answer the demands of all elements in the institution. The things that still need to be improved as the leader of maritime vocational higher education are: understanding the applicable regulations properly; competent and capable of being a leader even though he is still young; able to be an example; protect the entire academic community and fight for the rights of subordinates even though they have to deal with the Foundation; having close personnel with all campus residents; and (6) openly accepting constructive criticism, suggestions, and input for the improvement of the institution.. Key words: leadership style, vocational higher education, maritime.