cover
Contact Name
BASYIR ARIF
Contact Email
paradigma@uinjkt.ac.id
Phone
+6281317687803
Journal Mail Official
paradigma@uinjkt.ac.id
Editorial Address
Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Jl. Ir. Juanda No. 95 Tangerang Selatan 15412
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Paradigma: Junal Kalam dan Filsafat
ISSN : 29869277     EISSN : 29855047     DOI : 10.15408/paradigma
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat is a journal published by Department Aqidah and Islamic Philosophy in the Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University of Jakarta in partnership with Asosiasi Aqidah dan Filsafat Ilsam Indonesia (AAFI). Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat has published at the first time in September 2019 and hereafter the journal was continuing published twice annually (June and December) and consists of articles on Kalam Studies and Philosophy.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 58 Documents
Argumentasi al-Ghazali tentang Eksistensi Tuhan dalam Kitab al-Iqtisad fi al-I'tiqad dan Risalah al-Qudsiyah Irsal Pohan; Wawan Kurniawan
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol 5, No 02 (2023): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/paradigma.v5i02.36473

Abstract

Abstrak: Argumen eksistensi Tuhan menjadi penting untuk diketahui oleh umat beragama. Ini merupakan hal utama yang harus dipahami secara baik dan benar. Kelemahan dalam memahami tentang eksistensi Tuhan akan berimplikasi pada kokohnya Iman tiap-tiap individu. Terlebih pada saat ini, beberapa dari para ateis tak kalah gencar dalam menjelaskan dan membangun argumentasi mereka bahwa Tuhan bukan merupakan entitas yang eksis. Meski pada dasarnya agama telah menjelaskannya melalui wahyu, akan tetapi eksplorasi secara rasional diperlukan guna mendapatkan bangunan argumentasi yang kokoh. Al-Ghazali beranggapan bahwa dasarnya, dalil-dalil al-Qur’an memang sudah cukup untuk menjawab persoalan eksistensi ini, namun demikian ia memberi memberi argumentasi lebih lanjut untuk mengikuti jejak ulama-ulama pemikir. Dalam argumentasinya, al-Ghazali banyak menggunakan logika paripatetik dan menjelaskannya dengan silogisme-silogisme. Penelitian ini mencoba untuk menjelaskan argumen Abu Hamid al-Ghazali mengenai eksistensi Tuhan dalam kitab al-Iqtis̠ad fi al-Iʻtiqad dan Risâlah al-Qudsiyyah serta mencoba untuk menemukan persamaan dan perbedaannya. Sebuah argumentasi kosmologis yang mencoba menjelaskan eksistensi Tuhan dengan menyelusuri awal mula keberadaan alam. Al-Ghazali di dalam dua kitabnya tersebut mengungkapkan argumennya dengan dua corak berbeda. Penelitian ini, selain untuk menjelaskan bagaimana argumentasi al-Ghazali mengenai eksistensi Tuhan, juga berusaha menjawab pertanyaan bagaimana perbedaan argumentasinya. Untuk menjawab pertanyaan tersebut peneliti menggunakan metode deskriptif-analitis yakni metode penelitian yang digunakan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan objek yang diteliti berdasarkan data atau sampel yang telah dikumpulkan melalui pencarian data kepustakaan (library research) khususnya pada kitab Al-Iqtisad fi al-I’tiqad dan Risalah al-Qudsiyah serta sumber sekunder yang relevan.Abstract: The argument for the existence of God is important for religious people to know. This is the main thing that must be understood properly and correctly. Weakness in understanding the existence of God will have implications for the strength of each individual's faith. Especially at this time, some of the atheists are no less aggressive in explaining and building their arguments that God is not an existing entity. Although basically religion has explained it through revelation, but rational exploration is needed to get a solid argumentation building. Al-Ghazali thinks that basically, the arguments of the Qur'an are sufficient to answer this question of existence, but nevertheless he gives further arguments to follow in the footsteps of the scholars of thought. In his argumentation, al-Ghazali uses a lot of paripathetic logic and explains it with syllogisms. This research tries to explain Abu Hamid al-Ghazali's arguments regarding the existence of God in the book al-Iqtis̠ad fi al-Iʻtiqad and Risâlah al-Qudsiyyah and tries to find similarities and differences. A cosmological argument that tries to explain the existence of God by tracing the beginning of the existence of nature. Al-Ghazali in his two books expresses his argument with two different styles. This study, in addition to explaining how al-Ghazali's argumentation regarding God's existence, also tries to answer the question of how the differences between the two books are different. To answer these questions, researchers use descriptive-analytical methods, namely research methods used to describe or describe the object under study based on data or samples that have been collected through library research, especially in the book Al-Iqtisad fi al-I'tiqad and Risalah al-Qudsiyah and relevant secondary sources.
Nilai Etika Pada Ajaran Perguruaan Ikatan Keluarga Silat Putra Indonesia (IKSPI) Kera Sakti Ilham Putra Pratama; Rosmaria Sjafariah
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol 6, No 01 (2024): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/paradigma.v6i01.34592

Abstract

Abstrak: Perguruan Ikatan Keluarga Silat Putra Indonesia (IKSPI) Kera Sakti merupakan perguruan silat yang memiliki peran penting dalam pengembangan dan penanaman nilai-nilai etika terhadap anggotanya, juga sebagai pembentuk jiwa dan kepribadian yang berbudi pekerti yang luhur (akhlak mulia).  Hal tersebut merupakan landasan dasar sebagai pedoman yang diajarkan dalam Perguruan Ikatan Keluarga Silat Putra Indonesia (IKSPI) Kera Sakti dalam berlaku dalam lingkup perguruan dan sosial masyarakat. Dan juga berperan aktif dalam pembentukan kader bangsa yang beriman kepada Sang Pencipta Allah SWT, dan yang berbudi pekerti luhur, serta memiliki sikap yang bijaksana, berani, disiplin, pantang menyerah, dan rasa bertanggung jawab.Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian library research (penulisan kepustakaan) dengan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif analisis, serta tanya jawab antara peneliti dengan responden (indepth interview), bertujuan untuk menguatkan data yang sebelumnya telah didapat dan diperoleh, seperti penjelasan dari para pengurus, pelatih atau sesepuh yang dapat dijangkau oleh peneliti dalam Perguruan Ikatan Keluarga Silat Putra Indonesia (IKSPI) Kera Sakti.  Abstract: The Kera Sakti Indonesian Family Martial Arts Association (IKSPI) is a martial arts school that plays an important role in the development and instillation of ethical values among its members, as well as in shaping a noble character and personality. This serves as the fundamental basis and guideline taught within the Kera Sakti Indonesian Family Martial Arts Association (IKSPI) for behavior within the school and the broader community. And also plays an active role in shaping the nation's cadres who are faithful to the Creator, Allah SWT, and who possess noble character, as well as having wise, brave, disciplined, resilient, and responsible attitudes. In this study, a library research method was used with a qualitative approach, employing descriptive analysis research, as well as question-and-answer sessions between the researcher and respondents (in-depth interviews), aimed at strengthening the data that had previously been obtained, such as explanations from the administrators, coaches, or elders accessible to the researcher within the Indonesian Martial Arts Family Association (IKSPI) Kera Sakti.  
Moralitas Masyarakat Modern Perspektif Mohammed Arkoun Rafi Syuja Zhafran; Rahmat Hidayatullah
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol 5, No 02 (2023): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/paradigma.v5i02.31815

Abstract

Abstrak: Etika dan Moral selalu menjadi pembahasan yang menarik untuk dikaji secara abstrak maupun sistematis. Sebab manusia secara umum, tentunya selalu ingin mengubah kehidupannya menjadi lebih baik. Manusia cenderung untuk mengikuti apa yang dikatakan benar menurutnya dan cenderung menolak apa yang dikatakan salah menurutnya. Apa yang benar, dianggap baik oleh dirinya dan apa yang salah, dianggap buruk oleh dirinya. Akan tetapi, dari hal seperti ini, timbul pertanyaan mendasar bahwa, apakah yang selama ini kita anggap sebagai kebaikan ini benar-benar baik? Dan apa yang kita anggap sebagai keburukan benar-benar buruk? Masyarakat modern selalu berupaya mencari dan menjustifikasi arti dari kebaikan dan keburukan. Dampak dari pencarian konsep moral ini seringkali berujung pada “seseorang” yang akan ter-supremasi dan ter-alienasi. Untuk membatasi arti kebaikan dan keburukan serta dampak yang akan ditimbulkan daripadanya, Arkoun memiliki penawaran universal untuk masyarakat modern hari ini. Upaya rekonstruksi nalar dan moral masyarakat yang Arkoun berikan ini berguna untuk masyarakat agar lebih murni atau objektif dalam memandang segala hal. Tidak pada subjektifitas dan perasaan ego yang dapat merusak kebaikan atau membenarkan keburukan itu sendiri. Tulisan ini setidaknya dapat membantu membentuk kembali dasar penalaran untuk moral masyarakat yang lebih baik ke depan. Abstract:Ethics and Morals have always been an interesting discussion to be studied abstractly and systematically. Because humans in general, of course, always want to change their lives for the better. Humans tend to follow what is said to be right according to them and tend to reject what is said to be wrong according to them. What is right is considered good by him and what is wrong is considered bad by him. However, from something like this, a fundamental question arises that, is what we have considered as good really good? And what we think of as bad is really bad? Modern society is always trying to find and justify the meaning of good and bad. The impact of this search for moral concepts often leads to "someone" being supremized and alienated. To limit the meaning of good and bad and the impact that will result from it, Arkoun has a universal offer for modern society today. Arkoun's efforts to reconstruct the reasoning and morals of society are useful for people to be more pure or objective in looking at everything. Not on subjectivity and ego feelings that can damage the good or justify the bad itself. This paper can at least help reshape the basis of reasoning for a better moral society in the future. Translated with DeepL.com (free version).
Konsep Iman Menurut Komaruddin Hidayat Muhammad Marzuqi Irfan; Rahmat Hidayatullah
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol 6, No 01 (2024): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/paradigma.v6i01.34527

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsepsi keimanan di dunia kontemporer dalam pemikiran Komaruddin Hidayat dan apakah keimanan memberikan pengaruh yang terhadap manusia dalam menjalani kehidupan. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kualitatif dengan metode library research (studi kepustakaan) dengan pendekatan deskriptif-analisis. Adapun sumber data dalam penelitian ini dari berbagai sumber yang telah dipublikasikan baik dari buku, jurnal, majalah, maupun karya ilmiah lainnya. Berdasarkan temuan dan analisis dapat disimpulkan bahwa iman dalam pandangan Komaruddin Hidayat sejalan dengan pandangan umum dalam Islam adalah pengakuan secara verbal yang dilakukan seorang manusia dengan menjelaskan berbagai argumentasi logis, kemudian pembenaran dalam hati dan dilaksanakan dalam bentuk tindakan. Meskipun dipengaruhi oleh pemikiran aliran kalam sebelumnya, iman dalam pandangan Komaruddin Hidayat memiliki nilai orisinalitasnya sendiri karena memberikan gambaran tentang iman tidak hanya yang berhubungan dengan persoalan ketuhanan, sekaligus menggambarkan bahwa dimana iman hidup dan berkembang dalam kehidupan manusia serta mempengaruhinya. Abstract:This research aims to understand the conception of faith in the contemporary world through the thoughts of Komaruddin Hidayat and whether faith has an influence on humans in living their lives. The research method used is a qualitative type of research with a library research method, employing a descriptive-analytical approach. The data sources in this research come from various published materials, including books, journals, magazines, and other scholarly works.Based on the findings and analysis, it can be concluded that faith, according to Komaruddin Hidayat's perspective, aligns with the general view in Islam as a verbal acknowledgment made by a person, accompanied by various logical arguments, followed by internal affirmation and manifested through actions. Although influenced by the thoughts of previous theological streams, faith in Komaruddin Hidayat's perspective has its own originality as it portrays faith not only in relation to divine matters but also illustrates how faith lives and develops within human life and influences it.  
Konsep Kebahagiaan (Analisis Perbandingan Ibnu Miskawaih dan John Stuart Mill) Muhammad Alfarizi; Rd. Mulyadhi Kartanegara
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol 5, No 02 (2023): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/paradigma.v5i02.33712

Abstract

Abstrak: Kebahagiaan merupakan sebuah cita yang sangat diinginkan oleh setiap manusia. Karena pada dasarnya manusia ingin hidup bahagia. Akan tetapi banyak sekali perbedaan pendapat mengenai kebahagiaan. Diantaranya adalah Ibnu Miskawaih dan John Stuart Mill. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna konsep kebahagiaan menurut Ibnu Miskwaih dan John Stuart Mill serta menjelaskan perbandingan dari konsep keduanya. Penelitian ini adalah jenis penelitian kepustakaan (Library research). Sumber-sumber data diperoleh dari sumber primer dan sekunder yang berkaitan dengan konsep kebahagiaan Ibnu Miskawaih dan John Stuart Mill. Adapun penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif-komparatif. Mengenai konsep kebahagiaan Ibnu Miskawaih mengatakan bahwa seseorang yang telah mencapai kebahagiaan tidak akan membutuhkan hal lainnya. Menurutnya, tindakan yang berbentuk sebuah kebaikan adalah proses menuju kebahagiaan. akan tetapi, Ibnu Miskawaih meyakini bahwa kebahagiaan sempurna akan sulit dirasakan oleh manusia jika manusia belum terlepas dari jasad dan kepentingannya di dunia, Sedangkan Mill memiliki pandangannya sendiri mengenai kebahagiaan. Menurutnya, seberapa berfungsi dan bergunanya sebuah tindakan seseorang untuk orang lain adalah tolak ukur untuk melihat seberapa besar tingkat kebahagiaan yang akan dirasakan oleh orang tersebut. Dari hasil penelitian yang didapat, Penulis menemukan adanya perbedaan dan persamaan terkait konsep kebahagiaan kedua tokoh. Perbandingan tersebut dapat ditemukan dalam pemahaman kedua tokoh mengenai konsep dan makna kebahagiaan yang didasari oleh latar belakang intelektual, agama, dan budaya.  Kata Kunci: Kebahagiaan, Aristoteles, John Stuart Mill, Ibnu Miskawaih. Abstract: Happiness is a desire that is deeply sought after by every human being. Because fundamentally, humans want to live happily. However, there are many differing opinions about happiness. Among them are Ibn Miskawaih and John Stuart Mill. This research aims to examine the meaning of the concept of happiness according to Ibn Miskawaih and John Stuart Mill, as well as to explain the comparison between their concepts. This research is a type of literature review. (Library research). Data sources were obtained from primary and secondary sources related to the concept of happiness according to Ibn Miskawaih and John Stuart Mill. This research was conducted using a descriptive-comparative method. Regarding the concept of happiness, Ibn Miskawaih stated that a person who has attained happiness will not need anything else. According to him, actions that take the form of goodness are a process towards happiness. However, Ibn Miskawaih believes that perfect happiness will be difficult for humans to experience if they have not yet freed themselves from the body and its worldly interests, while Mill has his own perspective on happiness. According to him, the extent to which a person's actions are functional and beneficial for others is a measure of how much happiness that person will experience. From the research findings, the author discovered differences and similarities regarding the concept of happiness between the two figures. This comparison can be found in the understanding of both figures about the concept and meaning of happiness, which is based on their intellectual, religious, and cultural backgrounds. Keywords: Happiness, Aristoteles, John Stuart Mill, Ibnu Miskawaih
Manusia Sempurna Dalam Pandangan Murtadha Muthahhari Afrah Saudah Aldiniati; Kholid Alwalid
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol 6, No 01 (2024): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/paradigma.v6i01.34511

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk memahami manusia sempurna menurut pandangan Murtadha Muthahhari, sedangkan rumusan masalah yang ingin dicari jawabannya adalah bagaimana Murtadha Muthahhari menjelaskan dan memandang manusia sempurna, bagaimana bukti-bukti adanya manusia sempurna, bagaimana karakteristik manusia sempurna dan upaya mencapai derajat manusia sempurna. Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis, sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian pustaka atau library research. Dengan menggunakan buku “Manusia Sempurna Nilai dan Kepribadian Manusia pada Intelektualitas, Spiritualitas, dan Tanggung Jawab Sosial” karya Murtadha Muthahhari yang diterjemahkan oleh Arif Mulyadi sebagai sumber primer, dan peneliti juga mengumpulkan data dan dokumen dari berbagai karya Murtadha Muthahhari, serta rujukan lainnya seperti skripsi, jurnal dan artikel sebagai sumber sekunder yang akan dilakukan oleh peneliti. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa manusia sempurna merupakan manusia yang teladan, unggul dan luhur, yang untuk meningkatkannya kualitas diri terhadap Tuhan dan manusia itu sendiri. Sempurna untuk Tuhan itu bersifat tak terbatas dan ada dengan sendirinya sedangkan untuk manusia bersifat terbatas dan ada karena dibuat. Kata  Abstract: This research aims to understand the concept of the perfect human according to Murtadha Muthahhari. The problem formulation that seeks answers includes how Murtadha Muthahhari explains and views the perfect human, what evidence exists for the perfect human, what the characteristics of the perfect human are, and what efforts can be made to achieve the status of the perfect human. In this research, a descriptive analysis method is used, while the data collection technique employed is literature review or library research. The primary source is the book "Perfect Human: Values and Personality of Humans in Intellectuality, Spirituality, and Social Responsibility" by Murtadha Muthahhari, translated by Arif Mulyadi. The researcher also collects data and documents from various works of Murtadha Muthahhari, as well as other references such as theses, journals, and articles as secondary sources that will be utilized by the researcher. The results of this research indicate that a perfect human is one who is exemplary, superior, and noble, striving to enhance their quality of self in relation to God and humanity itself. Perfect for God is infinite and exists by itself, while for humans it is limited and exists because it is created.
Esoterisme dan Seni Perspektif Seyyed Hossein Nasr Elok Nur Faizah; Kusen Kusen
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol 5, No 02 (2023): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/paradigma.v5i02.31860

Abstract

Abstrak: Krisis spiritualitas disebabkan oleh pelupaan terhadap yang sakral dalam pelbagai ranah, termasuk seni. Menurut Seyyed Hossein Nasr, seorang filsuf perenial sekaligus tradisionalis mengatakan krisis spiritualitas disebabkan karena tenggelamnya esoterisme. Dalam esoterisme itu lah relasi kuat antara seni dan kesakralan dapat didapatkan. Esoterisme juga menjadi penting sebagai landasan seni tradisional, sebuah gagasan yang merupakan antitesis dari pandangan baru tentang seni yang sedang berkembang, yakni gagasan seni untuk seni. Gagasan tersebut mengedepankan pembuatan karya seni untuk kepentingan seni itu sendiri, tanpa memerhatikan nilai-nilai etika atau moral. Oleh karena itu topik mengenai esoterisme dan seni ini menjadi sangat penting dan menarik untuk dibahas. Penulis membatasi penelitian ini pada relasi antara esoterisme dan seni perspektif Seyyed Hossein Nasr, karena menurut penulis, Nasr merupakan tokoh yang sangat pas dalam memberikan penjelasan terkait kedua term tersebut. Dalam penelitian ini penulis mengunakan metode deskriptif analitis, sementara teknik pengumpulan datanya menggunakan library research, yakni pembedahan  terhadap sumber primer karya Seyyed Hossein Nasr dan sumber-sumber terkait lainnya. Salah satu hasil penelitian ini yakni esoterisme memungkinkan manusia untuk membuat obyek seni tradisional yang mengagumkan, serta esoterisme sebagai landasan dan tujuan seni tradisional. Melalui seni tradisional, dimensi esoterisme menemukan bentuknya yang konkrit dan seimbang.              Abstract:The spirituality crisis is caused by forgetting the sacred in various domains, including art. According to Seyyed Hossein Nasr, a perennial philosopher and traditionalist, the spiritual crisis is caused by the decline of esotericism. It is in esotericism that a strong relationship between art and the sacred can be found. Esotericism also became important as a basis for traditional art, an idea that was the antithesis of the new view of art that was developing, namely the idea of art for art's sake. This idea prioritizes creating works of art for the sake of art itself, without paying attention to ethical or moral values. Therefore, the topic of esotericism and art is very important and interesting to discuss. The author limits this research to the relationship between esotericism and Seyyed Hossein Nasr's perspective art, because according to the author, Nasr is a very suitable figure in providing an explanation regarding these two terms. In this research the author used descriptive analytical methods, while the data collection technique used library research, namely dissection of primary sources by Seyyed Hossein Nasr and other related sources. One of the results of this research is that esotericism allows humans to create amazing traditional art objects, and esotericism is the basis and goal of traditional art. Through traditional art, the dimension of esotericism finds its concrete and balanced form.
Pengaruh Asy'ariah Dalam Pemikiran Haji Agus Salim Afrizzafa, Arezki; Arif, Basyir
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol 6, No 02 (2024): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/paradigma.v6i02.35923

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan memperoleh pemahaman pengaruh asy’ariah menurut pemikiran Haji Agus Salim. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analistik. Jenis penelitian yang dipakai adalah kajian kepustakaan (library research) yang menekankan pengumpulan data dengan sumber literatur baik sumber data primer maupun sekunder. Dari kedua metode tersebut dimaksudkan untuk menguraikan masalah secara sistematis. Hasil dari penelitian ini menunujukan bahwa  Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah masuk ke Nusantara berawal dari Imam Ahmad Isa al-Muhajir dan mempunyai anak Jamaluddin yang berhijrah ke India dan berimegrasi ke Indonesia tepatnya di Aceh, Surabaya dan menetap di Makassar. Pemikiran Haji Agus Salim tentang asy’ariah tentang ilmu tauhid. Haji Agus Salim menggunakan pendekatan hukum yang diterima oleh akal, yaitu Wajib, Mustahil dan Ja’iz. dan menurutnya hal yang menjadi pokok pikiran manusia terletak pada tiga hukum tersebut.  Pengaruh asy’ariah dalam pandangan Haji Agus Salim pada ajaran tauhid adalah sabar dan tawakkal bukanlah ajaran pokok dalam Islam, akan tetapi tauhid yang memegang peran penting dalam ajaran pokok Islam.
Nilai-nilai Spiritualitas Pada Peziarah Makam Buyut Entol Sena dan Buyut Entol Dipawana Desa Ciwaru Kecamatan Ciwaru Kabupaten Kuningan Romantika (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Genta
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol. 6 No. 02 (2024): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/paradigma.v6i02.34764

Abstract

The tradition that has been carried out until now is the practice of visiting graves, traditions that are carried out by visiting family graves, the graves of pious people, the tombs of the clergy, the tombs of saints and tombs that are believed to have an influence on an area. Grave pilgrimage is often an option used as a medium in increasing spiritual awareness when it is still in a stage of internal conflict. This research is qualitative by prioritizing field research. Primary sources obtained through field observations, interviews with caretakers, pilgrims and the surrounding community and documentation. While the secondary data obtained refers to books and various journals that are relevant to this research. The location of this research is in Ciwaru Village, Ciwaru District, Kuningan Regency, West Java. The results of the study show that the Spiritual Values of Grave Pilgrims can be summed up in several opinions, including: Pilgrims make pilgrimages to graves to remember death so as to produce peace in life, pray for goodness for the bodies, increase good deeds and in some opinions believe that the soul or spirit It is eternal and does not perish with the body, so it becomes an intermediary in praying so that it is answered more quickly.
Pengaruh Asy'ariah dalam Pemikiran Haji Agus Salim Afrizzafa (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Arezki
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol. 6 No. 02 (2024): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/paradigma.v6i02.35923

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan memperoleh pemahaman pengaruh asy’ariah menurut pemikiran Haji Agus Salim. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analistik. Jenis penelitian yang dipakai adalah kajian kepustakaan (library research) yang menekankan pengumpulan data dengan sumber literatur baik sumber data primer maupun sekunder. Dari kedua metode tersebut dimaksudkan untuk menguraikan masalah secara sistematis. Hasil dari penelitian ini menunujukan bahwa  Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah masuk ke Nusantara berawal dari Imam Ahmad Isa al-Muhajir dan mempunyai anak Jamaluddin yang berhijrah ke India dan berimegrasi ke Indonesia tepatnya di Aceh, Surabaya dan menetap di Makassar. Pemikiran Haji Agus Salim tentang asy’ariah tentang ilmu tauhid. Haji Agus Salim menggunakan pendekatan hukum yang diterima oleh akal, yaitu Wajib, Mustahil dan Ja’iz. dan menurutnya hal yang menjadi pokok pikiran manusia terletak pada tiga hukum tersebut.  Pengaruh asy’ariah dalam pandangan Haji Agus Salim pada ajaran tauhid adalah sabar dan tawakkal bukanlah ajaran pokok dalam Islam, akan tetapi tauhid yang memegang peran penting dalam ajaran pokok Islam.