cover
Contact Name
BASYIR ARIF
Contact Email
paradigma@uinjkt.ac.id
Phone
+6281317687803
Journal Mail Official
paradigma@uinjkt.ac.id
Editorial Address
Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Jl. Ir. Juanda No. 95 Tangerang Selatan 15412
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Paradigma: Junal Kalam dan Filsafat
ISSN : 29869277     EISSN : 29855047     DOI : 10.15408/paradigma
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat is a journal published by Department Aqidah and Islamic Philosophy in the Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University of Jakarta in partnership with Asosiasi Aqidah dan Filsafat Ilsam Indonesia (AAFI). Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat has published at the first time in September 2019 and hereafter the journal was continuing published twice annually (June and December) and consists of articles on Kalam Studies and Philosophy.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 58 Documents
KONSEP SOSIALISME H.O.S TJOKROAMINOTO Jaenal Abidin
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol 2, No 02 (2020): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.901 KB) | DOI: 10.15408/paradigma.v2i02.26937

Abstract

Abstrak: Permasalahan Klasik dari sebuah negara adalah tentang kesenjangan sosial. Dimana keadaan masyarakat terbagi menjadi dua status sosial yaitu, kelas kaya dan kelas miskin. Hal ini tidaklah bisa terus dibiarkan untuk lebih lama lagi, karena akan mengakibatkan rusaknya tatanan sosial dalam masyarakat dan negara. Oleh karena itu negara wajib menjadi penengah antara kedua kelas sosial tersebut, agar dua pihak bisa menikmati sesuatu yang sama. H.O.S Tjokroaminoto berpendapat bahwa Konsep-konsep dewasa ini yang telah berkembang di Abad 21 tidak bisa menghapus kesenjangan sosial, karena mereka hanya mengejar materi dan meninggalkan nilai-nilai agama. Oleh karena itu untuk menghapus kesenjangan sosial H.O.S Tjokroaminoto  menawarkan sebuah konsep dimana Sosialisme Islam yang tidak hanya mengejar materi tapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari yang bersandarkan agama Islam dimana mempunyai dasar Al-Qur’an dan As-Sunnah.. Sosialisme Islam memandang antara manusia satu dengan manusia lainya mempunyai derajat yag sama baik sesama umat islam atau pemeluk agama lain. Oleh karena itu tidak ada perbedaan diantara manusia, karena yang membedakanya hanyalah ketakwaan kepada Tuhannya. Sehingga dalam sosialisme Islam tidak mengenal sistem perwakilan seperti Parlemen dan DPR seperti di Indonesia, walaupun ada hanya sebuah simbol saja untuk menandakan bahwa dialah yang mengurus tentang urusan yang diamanatkan oleh Khalifah. Untuk peraturanya sendiri merupakan peraturan yang di buat oleh Tuhan yang sudah di tuangkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, apa bila ada sebuah peraturan Ambigu/belum ada maka harus dibuat secara Musyawarah dimana menggunakan referendum (menanyakan kepada semua masyarakat), yang tidak berpihak dalam salah satu golongan. Kata kunci: H.O.S Tjokroaminoto, Sosialisme Islam, Agama, Filsafat Islam
PEMIKIRAN HUMANISME SAID AQIL SIRADJ Munawwir Munawwir; Sri Mulyati
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol 3, No 02 (2021): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1013.274 KB) | DOI: 10.15408/paradigma.v3i02.30895

Abstract

Said Aqil Siroj Merupakan cendekiawan muslim yang tegas mendorong terciptanya bangsa pluralis humanis. Titik tolak pemikirannya tentang hakikat persatuan salah satunya tertuang dalam pemahaman akan humanisme. Pemikiran humanisme memiliki dimensi yang luas. Konteks kerangka nilai-nilai Islam secara terang dia ungkapkan sebagai pokok bahwa sejatinya Islam menyediakan panduan secara tegas tentang perlindungan dan terciptanya perdamaian secara kolektif. Sudah tentu, secara khusus pemikiran Said Aqil Siroj menegaskan bahwa humanisme religius akan menegaskan rasa tanggung jawab lebih luas dan tidak sekerdar fokus dalam mendapatkan kebebasan sebagaimana humanisme dipahami oleh barat. Humanisme religius meberikan dan melahirkan sikap untuk melakukan koreksi etik setiap manusia dalam menjalani kehidupannya. Pemikiran Said Aqil Siroj tentang humanisme Islam menguatkan tentang moralitas Islam dan persaudaraan seiman. Dalam konsep moral dalam Islam yang dimaksudkan oleh Said Aqil Siroj, bahwa moral yang dijalankan oleh setiap manusia bagaimana menengahkan antara kebebasan dirinya dan bagaimana kebebasan yang digantungkan kepada etika agama. Terkait persaudaraan seiman Said Aqil Siroj pada intinya memandang agama berperan mengarahkan manusia untuk selalu mengemban nilai-nilai harmonis, maka seseorang yang beragama berarti dalam jiwanya telah berkembang nilai-nilai harmoni dan kasih sayang sebagai bekal untuk hidup ditengah masyarakat.
ETIKA BAHASA KATO NAN AMPEK DALAM ADAT MINANGKABAU Izzi Fikri; Hanafi Hanafi
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol 5, No 01 (2023): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/paradigma.v5i01.33025

Abstract

Kato Nan Ampek merupakan aturan atau kaidah berbahasa dalam minangkabau, artinya tata Bahasa atau etika berbicara dalam adat Minangkabau berpedoman pada kato nan ampek. Dalam kato nan ampek diajarkan bagaimana seharusnya kita berbicara kepada orang yang lebih besar dari kita, orang yang lebih kecil, orang yang sama besar bahkan berbicara dengan orang yang kita segani. Permasalahan yang dibahas penulis dalam skripsi ini adalah bagaimana aturan seseorang Ketika berkomunikasi dengan lawan bicaranya, bagiamana komukasi itu tidak membuat lawan bicara kita tersinggung dan sakit hati. Adat Minangkabau berlandaskan pada ajaran agama Islam yang tertuang dalam istilah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, yang intinya dalam hal ini adat Minangkabau tidak terlepas dari ajaran agama Islam. Penelitian ini mengulas tentang bagaimana etika bahasa dalam adat minangkabau yang ada dalam tatanan kehidupan sehari-hari. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kepustakaan (library research), adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang bagaimana etika berbahasa atau berbicara yang benar dengan menggunakan kato nan ampek dalam kehidupan, serta memahami nilai-nilai dari etika kato nan ampek, seperti nilai-nilai sopan santun ketika berkomunikasi.  
TAKDIR DAN BUDAYA DALAM ISLAM MENURUT HAJI AGUS SALIM Ghufron Akbari Wardana; Hanafi Hanafi
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol 5, No 01 (2023): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/paradigma.v5i01.30751

Abstract

Takdir merupakan salah satu bahasan kunci dalam tiap-tiap agama. Disebabkan oleh latar belakang dan konstruk budaya yang beragam, internalisasi paham takdir pun turut bermacam-macam. Begitu pula dengan budaya, tumbuh kembangnya tergantung pada embrio awal keberadaannya. Terkait bagaimana budaya itu dapat diidentifikasi, bergantung pada ihwal yang telah ada di dalam kebudayaan itu sendiri. Sementara, takdir pun hanya dapat diklaim apabila telah terjadi.            Bagi Agus Salim, takdir dan budaya diintegrasikan sebagai satu kesatuan yang saling berdialektika. Mulai dari kehadiran manusia yang serba misterius; tidak dapat memilih bagaimana sistem biologisnya bekerja, hingga khazanah alam sekitar tempat kelahirannya yang menjadi pengetahuan awal terhadap apa yang sudah terjadi.            Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui bagaimana dialektika antara takdir dan budaya melalui prosedur metodis deskriptif analisis dengan memperhatikan sosio-historis kehidupan Agus Salim. Metode deskriptif dipakai untuk mengolah data yang berkaitan dengan konsep Takdir dan Budaya, sedangkan metode analisis digunakan untuk menyingkap bagaimana takdir dalam Islam sebagai salah satu stimulan atas terbentuknya beberapa budaya, serta bagaimana ajaran Islam yang unity menjadi berbeda pada praktiknya dalam beberapa budaya.            Hasilnya, pertautan antara takdir dan budaya layaknya ruh dan raga, berbeda tapi saling mempengaruhi satu sama lain. Menurut Agus Salim, Takdir mula-mulanya eksis di dalam budaya yang selalu tumbuh berdialektika dalam kehidupan, diwariskan dan disesuaikan dengan konteks waktu dan tempat terjadinya. Manusia yang hidup di dalam kebudayaan, memiliki budi dan daya untuk mengolah dan mengubah alam. Apa yang terjadi di alam tempat manusia hidup itu disebut dengan takdir.            Sungguh pun begitu, ajaran tentang takdir yang menyuruh manusia untuk menerima saja apa yang ditakdirkan, menstimulus budaya untuk bergerak menuju ke arah kebenaran yang hakiki. Agus Salim menegaskan, yang paling penting dari pemahaman manusia terhadap takdir itu adalah keterpeliharaannya dari takabur dan putus asa. Bahwa apapun yang diterima atau menjadi pilihan manusia yang mengada di dalam kebudayaan, tentu dilatarbelakangi dan atau distimulus oleh satu kekuasaan dari luar diri yang berlaku atasnya.
AKAR TEOLOGI SYI’AH DAN FILSAFAT MARXISME DALAM PEMIKIRAN ALI SYARI’ATI TENTANG RAUSYANFIKR Lutfiana Dwi Suryani; Rahmat Hidayatullah
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol 5, No 01 (2023): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/paradigma.v5i01.33884

Abstract

ABSTRAK            Penelitian ini mencoba menjelaskan tentang pemikiran Ali Syari’ati tentang konsep Rausyanfikr, sebuah konsep yang menggambarkan bahwa manusia harus mempunyai sebuah ideologi  agar terhindar dari kejumudan dan menjadikannya manusia yang mempunyai kesadaran tentang ketidakadilan yang dialaminya. Seorang Rausyanfikr harus mampu melahirkan gagasan-gagasan yang cemerlang, itulah salah satu tugas dari seorang Rausyanfikr.            Penelitian ingin menjawab pertanyaan bagaimana konsep Ideologi Ali Syari’ati untuk menjadikan masyarakatnya dapat disebut sebagai Rausyanfikr? Untuk menjawab pertanyaan tersebut peneliti menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research), terlebih khusus pada buku Tugas Cendikiawan Muslim dan Ideologi Kaum Intelektual yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Selain itu, peneliti mencari sumber lain seperti jurnal dan artikel. Di sisi lain peneliti menggunakan metode analitis kritis, yaitu suatu metode yang digunakan untuk meneliti gagasan atau pemikiran manusia yang terdapat dalam sumber primer maupun sekunder. Selanjutnya, peneliti akan menelaah data-data tersebut secara analitis menggunakan pengumpulan sejumlah unit-unit pada analisis.Dalam kajian ini peneliti menemukan beberapa topik: Pertama, Ali Syari’ati mengembalikan agama sebagai ideologi. Kedua, di dalam karya-karyanya berisi tentang semangat juang beliau melawan Status Quo (kemandegan dan kejumudan). Ketiga, menjelaskan tentang seorang Rausyanfikr yang mempunyai tugas untuk menangkap kesadaran diri manusiawi.Kata Kunci: Ali Syari’ati, Manusia, Rausyanfikr, dan Ideologi.ABSTRAK            Penelitian ini mencoba menjelaskan tentang pemikiran Ali Syari’ati tentang konsep Rausyanfikr, sebuah konsep yang menggambarkan bahwa manusia harus mempunyai sebuah ideologi  agar terhindar dari kejumudan dan menjadikannya manusia yang mempunyai kesadaran tentang ketidakadilan yang dialaminya. Seorang Rausyanfikr harus mampu melahirkan gagasan-gagasan yang cemerlang, itulah salah satu tugas dari seorang Rausyanfikr.            Penelitian ingin menjawab pertanyaan bagaimana konsep Ideologi Ali Syari’ati untuk menjadikan masyarakatnya dapat disebut sebagai Rausyanfikr? Untuk menjawab pertanyaan tersebut peneliti menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research), terlebih khusus pada buku Tugas Cendikiawan Muslim dan Ideologi Kaum Intelektual yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Selain itu, peneliti mencari sumber lain seperti jurnal dan artikel. Di sisi lain peneliti menggunakan metode analitis kritis, yaitu suatu metode yang digunakan untuk meneliti gagasan atau pemikiran manusia yang terdapat dalam sumber primer maupun sekunder. Selanjutnya, peneliti akan menelaah data-data tersebut secara analitis menggunakan pengumpulan sejumlah unit-unit pada analisis.Dalam kajian ini peneliti menemukan beberapa topik: Pertama, Ali Syari’ati mengembalikan agama sebagai ideologi. Kedua, di dalam karya-karyanya berisi tentang semangat juang beliau melawan Status Quo (kemandegan dan kejumudan). Ketiga, menjelaskan tentang seorang Rausyanfikr yang mempunyai tugas untuk menangkap kesadaran diri manusiawi.Kata Kunci: Ali Syari’ati, Manusia, Rausyanfikr, dan Ideologi.
KONSEP RASA PADA MANUSIA PERSPEKTIF KI AGENG SURYOMENTARAM Ganis Sholeha; Rizky Yazid
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol 5, No 01 (2023): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/paradigma.v5i01.34508

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami pandangan Ki Ageng Suryomentaram tentang rasa yang ada pada manusia, sedangkan rumusan masalah  yang ingin dicari jawabannya adalah bagaimana ki Ageng Suryomentaram memandang dan menjelaskan rasa yang ada pada manusia, bagaimana cara mengendalikannya dan darimana rasa pada diri manusia itu muncul. Adapum metodologi penelitian yang digunkan pada skripsi ini adalah deskriptif analitis dengan kajian pustaka (library research) sebagai teknik pengumpulan datanya. Peneliti menggunakan buku karya Grangsang Suryomentaram dkk yang berjudul Ajaran-ajaran Ki Ageng Suryomentaram sebagai sumber primer.  Selain itu peneliti  juga mengumpulkan sumber sekunder berupa jurnal, skripsi, serta karya ilmiah lainnya sebagai data penunjang pemahaman bagi penelitiaan ini.            Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sejatinya rasa itu akan selalu ada di dalam diri manusia yang hidup, akan tetapi manusia harus dapat memahami berbagai macam rasa yang hadir dalam diri manusia sehingga dapat hidup dengan ketenangan, karena kehidupan duniawi  tidak akan ada hentinya jika manusia terus menuruti keinginan-keinginan yang dirasakan. manusia harus dapat mengendalikan apa yang ia inginkan, sehingga dapat merasakan sejatinya ketenangan rasa yang hidup pada diri manusia sendiri. Kata Kunci: Rasa, Jiwa, Ki Ageng Suryomentaram
KONSEP TUHAN DALAM ILUMINASI SUHRAWARDI Puji Lestari; Humaidi Humaidi
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol 5, No 01 (2023): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/paradigma.v5i01.31818

Abstract

Berbicara tentang Tuhan dalam dunia kefilsafatan adalah sesuatu yang tidak asing lagi. Hal ini terbukti dari awal kemunculan filsafat yang mempertanyakan asal muasal alam semesta ini kemudian siapa yang telah menciptakan ala mini. Dalam filsafat islam, pembahasan tentang Tuhan topik utama yang dilakukan oleh filsuf awal. Diantara filsuf awal tersebut diantaranya al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, al-Ghazali dan juga Suhrawardi, orang yang pertama mengembangkan filsafat iluminasi. Suhrawardi menganalogikan Tuhan dengan cahaya. Dimana cahaya suatu wujud yang jelas yang di dalamnya tidak lagi membutuhkan definisi lagi. Selain itu dalam memperkenalkan Tuhan, Suhrawardî lebih mengedepankan metode intuisi atau pengalaman batin. Hal ini berbanding terbalik dengan kaum Peripatetik yang lebih mengedepankan akal daripada intuisi. Dalam memperoleh pengetahuan yang dimana metodenya melalui intuisi ini termasuk kedalam ilmu hudhuri (kehadiran). Kemudian bentuk sederhana dari ilmu hudhuri adalah kesadaran diri. Kata Suhrawardi, untuk mengenal Tuhan dapat melalui kesadaran diri. Dan untuk sampai pada kesadaran diri ada bebrapa tahapan yang harus dicapai. Dalam penelitian ini penulis hanya fokus pada pembahasan konsep Tuhan dalam filsafat iluminasi Suhrawardi, hal ini agar pembahasannya tidak melenceng dari topik utamanya.
Daya-Daya Jiwa Manusia Perspektif Ibn Sina M. Fakhri Abdul Majid; Humaidi Humaidi
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol 6, No 01 (2024): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/paradigma.v6i01.34516

Abstract

Abstrak: Manusia adalah makhluk yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Puncak kelebihannya bisa lebih mulia dari malaikat, dan titik terendah kekurangannya lebih hina dari binatang. Tetapi dibalik kelebihan dan kekurangannya itu, manusia adalah makhluk yang penuh misteri. Tidaklah mengherankan jika kemudian muncul begitu banyak kajian, penelitian ataupun pemikiran tentang manusia dalam segala aspeknya. Salah satunya adalah tentang jiwa. Jiwa merupakan salah satu topik yang sangat menarik perhatian para ilmuwan barat. Tidak sedikit dari mereka yang menghabiskan waktunya untuk mengkaji masalah ini. namun, kajian mereka tidak dilandasi dengan agama. Berbeda dengan ilmuwan muslim yang menjadikan agama sebagai pijakannya. Salah seorang ilmuwan muslim yang membahas tentang jiwa manusia adalah Ibn Sîna. Ibn Sîna mengemukakan bahwa jiwa manusia terdiri dari tiga bagian, diantaranya yaitu: jiwa tumbuh-tumbuhan (al-nafs al-nabatiyah), jiwa binatang (al-nafs al-hayawaniyah), dan jiwa manusia (al-nafs al-insaniyah). Jiwa tumbuh-tumbuhan memiliki tiga fakultas, yaitu daya makan (al-quwwah al-ghadziyah), daya tumbuh (al-quwwah al-munammiyah), dan daya reproduksi (al-quwwah al-muwallidah). Jiwa binatang memiliki dua daya, yaitu daya penggerak (al-quwwah al-muharrikah), dan daya persepsi (al-quwwah al-mudrikah). Jiwa manusia mempunyai daya berfikir yang disebut dengan al-aql. Dan manusia juga memiliki tiga sekaligus jiwa tersebut. Abstract:Humans are beings that have strengths and weaknesses. The peak of its virtues can be more noble than that of angels, and the lowest point of its shortcomings can be more despicable than that of animals. But behind its strengths and weaknesses, humans are creatures full of mystery. It is not surprising that so many studies, research, or thoughts about humans in all their aspects have emerged.  One of them is about the soul. The soul is one of the topics that has captured the attention of Western scientists. Many of them spend their time studying this issue. However, their study is not based on religion. Unlike Muslim scientists who use religion as their foundation. One of the Muslim scholars who discussed the human soul is Ibn Sîna. Ibn Sîna proposed that the human soul consists of three parts, namely: the vegetative soul (al-nafs al-nabatiyah), the animal soul (al-nafs al-hayawaniyah), and the human soul (al-nafs al-insaniyah). The vegetative soul has three faculties, which are the nutritive power (al-quwwah al-ghadziyah), the growth power (al-quwwah al-munammiyah), and the reproductive power (al-quwwah al-muwallidah). The animal soul has two powers, which are the motive power (al-quwwah al-muharrikah) and the perceptive power. (al-quwwah al-mudrikah). The human soul has a thinking capacity known as al-aql. And humans also possess three of these souls simultaneously.
Falsafah Haji Ali Syari'ati Ahmad Aji Kosasih; Hanafi Hanafi
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol 5, No 02 (2023): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/paradigma.v5i02.32973

Abstract

Abstrak: Penelitian ini hendak menghadirkan bagaimana pandangan falsafah haji Ali Syari’ati. Meskipun Ali Syari’ati lazim dikenal sebagai seorang sosiolog dan teolog pembebasan, tapi bukan berarti pemikirannya hanya berkutat pada sosiologi dan teologi saja. Dalam Haji, buku yang merupakan hasil renungannya atas pengalaman personalnya menjalankan haji sebanyak tiga kali dan kunjungannya ke Mekah sekali, Ali Syari’ati menuangkan penafsirannya mengenai haji. Penafsirannya itu memuat dimensi yang bersifat filosofis yang menjadikannya sebuah penafsiran filosofis atas haji. Dalam skripsi ini, penulis hendak menghadirkan penafsiran haji Ali Syari’ati yang bersifat filosofis itu. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa penafsiran haji Ali Syari’ati memuat dimensi filosofis di dalamnya. Elemen-elemen dalam haji ditafsirkannya dengan penafsiran yang filosofis. Kemudian, penafsiran haji Ali Syari’ati juga memiliki signifikansi praktis di dalamnya yang merupakan implikasi dari core dalam penafsirannya itu. Ini membuat penafsiran haji Ali Syari’ati tidak hanya bernuansa filosofis dalam artian teoritis, tapi juga politis dan humanis dalam artian praktis. Penafsirannya ini dapat menjelaskan kepada kita mengapa haji merupakan rukun Islam yang wajib dijalankan, sebagaimana yang dikatakan oleh Ali Syari’ati sendiri dalam Haji. Abstract: This research aims to present the views of Ali Shari'ati's philosophy of Hajj. Even though Ali Shari'ati is commonly known as a sociologist and liberation theologian, this does not mean that his thinking only focuses on sociology and theology. In Hajj, a book which is the result of his reflection on his personal experience of performing the Hajj three times and his visit to Mecca once, Ali Shari'ati expresses his interpretation of the Hajj. This interpretation contains a philosophical dimension which makes it a philosophical interpretation of the Hajj. In this thesis, the author wants to present a philosophical interpretation of Ali Shari'ati's Hajj. The result of this research is that Ali Shari'ati's interpretation of Hajj contains a philosophical dimension in it. He interpreted the elements of the Hajj with a philosophical interpretation. Then, Ali Shari'ati's interpretation of the Hajj also has practical significance in it which is the core implication of his interpretation. This makes Ali Shari'ati's interpretation of Hajj not only philosophical in a theoretical sense, but also political and humanist in a practical sense. This interpretation can explain to us why the Hajj is a pillar of Islam that must be carried out, as Ali Shari'ati himself said in the Hajj.
Epistemologi Imajinasi Menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas Khizbullah Al Mahdiyin; Rizky Yazid
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol 6, No 01 (2024): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/paradigma.v6i01.37577

Abstract

Abstrak: Penelitian ini mencoba mendeskripsikan tentang pemikiran bagaimana imajinasi dipandang sebagai sumber ilmu pengetahuan menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas yang terdapat dalam karyanya, yakni Prolegomena to The Metaphysics of Islam. Pemaknaan imajinasi seringkali mendapat pemaknaan yang negatif (khayalan dan fantasi) di kalangan masyarakat umum dn khusunya akademis, karena imajinasi dianggap tidak ada landasan realistis dan ilusi belaka. Penelitian ini menjawab pertanyaan Bagaimana Imajinasi Dipandang Sebagai Sumber Ilmu Pengetahuan menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas? Menjawab pertanyaan tersebut, peneliti menggunakan metode deskriptif analitis, dan juga menggunakan metode pencarian data kepustakaan primer maupun sekunder. Untuk data kepustakaan primer, peneliti menggunakan buku karya Syed Muhammad Naquib Al-Attas yakni Prolegomena to The Metaphysics of Islam.. Penelitian ini pada kesimpulannya, bahwa Syed Muhammad Naquib Al-Attas membagi imajinasi menjadi dua fungsi ganda terkait dengan jiwa yaitu al-mutakhhayal dan al-mufakkirah. Imajinasi yang telah mengalami aktualisasi perkembangan melalui jalan ilmunasi oleh Kecerdasan Aktif (ruh al-qudus), akan dapat menangkap pengetahuan gagasan dan ide yang melampaui inderawi maupun citra-citra hasil cerapan inderawi. Imajinasi ini merupakan prinsip yang dibangun dengan aplikasi universal dan prinsip keniscayaan.  Abstract: This research attempts to describe the thoughts on how imagination is viewed as a source of knowledge according to Syed Muhammad Naquib Al-Attas, as found in his work, Prolegomena to The Metaphysics of Islam. The meaning of imagination is often given a negative connotation (illusion and fantasy) among the general public and especially in academia, as imagination is seen as lacking a realistic foundation and merely an illusion. This research addresses the question of how imagination is viewed as a source of knowledge according to Syed Muhammad Naquib Al-Attas. In answering that question, the researcher employed a descriptive-analytical method and also utilized both primary and secondary literature data collection methods. For the primary literature data, the researcher used the book by Syed Muhammad Naquib Al-Attas titled "Prolegomena to The Metaphysics of Islam." This research concludes that Syed Muhammad Naquib Al-Attas divides imagination into two dual functions related to the soul, namely al-mutakhhayal and al-mufakkirah. Imagination that has undergone the actualization of development through the path of knowledge by Active Intelligence (the spirit of holiness) will be able to grasp knowledge, concepts, and ideas that transcend sensory experiences and the images resulting from sensory perceptions. This imagination is a principle built on universal application and the principle of necessity.