cover
Contact Name
BASYIR ARIF
Contact Email
paradigma@uinjkt.ac.id
Phone
+6281317687803
Journal Mail Official
paradigma@uinjkt.ac.id
Editorial Address
Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Jl. Ir. Juanda No. 95 Tangerang Selatan 15412
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Paradigma: Junal Kalam dan Filsafat
ISSN : 29869277     EISSN : 29855047     DOI : 10.15408/paradigma
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat is a journal published by Department Aqidah and Islamic Philosophy in the Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University of Jakarta in partnership with Asosiasi Aqidah dan Filsafat Ilsam Indonesia (AAFI). Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat has published at the first time in September 2019 and hereafter the journal was continuing published twice annually (June and December) and consists of articles on Kalam Studies and Philosophy.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 58 Documents
Falsafah Haji Ali Syari'ati Kosasih, Ahmad Aji; Hanafi, Hanafi
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol. 5 No. 02 (2023): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/paradigma.v5i02.32973

Abstract

Abstrak: Penelitian ini hendak menghadirkan bagaimana pandangan falsafah haji Ali Syari’ati. Meskipun Ali Syari’ati lazim dikenal sebagai seorang sosiolog dan teolog pembebasan, tapi bukan berarti pemikirannya hanya berkutat pada sosiologi dan teologi saja. Dalam Haji, buku yang merupakan hasil renungannya atas pengalaman personalnya menjalankan haji sebanyak tiga kali dan kunjungannya ke Mekah sekali, Ali Syari’ati menuangkan penafsirannya mengenai haji. Penafsirannya itu memuat dimensi yang bersifat filosofis yang menjadikannya sebuah penafsiran filosofis atas haji. Dalam skripsi ini, penulis hendak menghadirkan penafsiran haji Ali Syari’ati yang bersifat filosofis itu. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa penafsiran haji Ali Syari’ati memuat dimensi filosofis di dalamnya. Elemen-elemen dalam haji ditafsirkannya dengan penafsiran yang filosofis. Kemudian, penafsiran haji Ali Syari’ati juga memiliki signifikansi praktis di dalamnya yang merupakan implikasi dari core dalam penafsirannya itu. Ini membuat penafsiran haji Ali Syari’ati tidak hanya bernuansa filosofis dalam artian teoritis, tapi juga politis dan humanis dalam artian praktis. Penafsirannya ini dapat menjelaskan kepada kita mengapa haji merupakan rukun Islam yang wajib dijalankan, sebagaimana yang dikatakan oleh Ali Syari’ati sendiri dalam Haji. Abstract: This research aims to present the views of Ali Shari'ati's philosophy of Hajj. Even though Ali Shari'ati is commonly known as a sociologist and liberation theologian, this does not mean that his thinking only focuses on sociology and theology. In Hajj, a book which is the result of his reflection on his personal experience of performing the Hajj three times and his visit to Mecca once, Ali Shari'ati expresses his interpretation of the Hajj. This interpretation contains a philosophical dimension which makes it a philosophical interpretation of the Hajj. In this thesis, the author wants to present a philosophical interpretation of Ali Shari'ati's Hajj. The result of this research is that Ali Shari'ati's interpretation of Hajj contains a philosophical dimension in it. He interpreted the elements of the Hajj with a philosophical interpretation. Then, Ali Shari'ati's interpretation of the Hajj also has practical significance in it which is the core implication of his interpretation. This makes Ali Shari'ati's interpretation of Hajj not only philosophical in a theoretical sense, but also political and humanist in a practical sense. This interpretation can explain to us why the Hajj is a pillar of Islam that must be carried out, as Ali Shari'ati himself said in the Hajj.
Konsep Kebahagiaan (Analisis Perbandingan Ibnu Miskawaih dan John Stuart Mill) Alfarizi, Muhammad; Kartanegara, Rd. Mulyadhi
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol. 5 No. 02 (2023): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/paradigma.v5i02.33712

Abstract

Abstrak: Kebahagiaan merupakan sebuah cita yang sangat diinginkan oleh setiap manusia. Karena pada dasarnya manusia ingin hidup bahagia. Akan tetapi banyak sekali perbedaan pendapat mengenai kebahagiaan. Diantaranya adalah Ibnu Miskawaih dan John Stuart Mill. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna konsep kebahagiaan menurut Ibnu Miskwaih dan John Stuart Mill serta menjelaskan perbandingan dari konsep keduanya. Penelitian ini adalah jenis penelitian kepustakaan (Library research). Sumber-sumber data diperoleh dari sumber primer dan sekunder yang berkaitan dengan konsep kebahagiaan Ibnu Miskawaih dan John Stuart Mill. Adapun penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif-komparatif. Mengenai konsep kebahagiaan Ibnu Miskawaih mengatakan bahwa seseorang yang telah mencapai kebahagiaan tidak akan membutuhkan hal lainnya. Menurutnya, tindakan yang berbentuk sebuah kebaikan adalah proses menuju kebahagiaan. akan tetapi, Ibnu Miskawaih meyakini bahwa kebahagiaan sempurna akan sulit dirasakan oleh manusia jika manusia belum terlepas dari jasad dan kepentingannya di dunia, Sedangkan Mill memiliki pandangannya sendiri mengenai kebahagiaan. Menurutnya, seberapa berfungsi dan bergunanya sebuah tindakan seseorang untuk orang lain adalah tolak ukur untuk melihat seberapa besar tingkat kebahagiaan yang akan dirasakan oleh orang tersebut. Dari hasil penelitian yang didapat, Penulis menemukan adanya perbedaan dan persamaan terkait konsep kebahagiaan kedua tokoh. Perbandingan tersebut dapat ditemukan dalam pemahaman kedua tokoh mengenai konsep dan makna kebahagiaan yang didasari oleh latar belakang intelektual, agama, dan budaya.  Kata Kunci: Kebahagiaan, Aristoteles, John Stuart Mill, Ibnu Miskawaih. Abstract: Happiness is a desire that is deeply sought after by every human being. Because fundamentally, humans want to live happily. However, there are many differing opinions about happiness. Among them are Ibn Miskawaih and John Stuart Mill. This research aims to examine the meaning of the concept of happiness according to Ibn Miskawaih and John Stuart Mill, as well as to explain the comparison between their concepts. This research is a type of literature review. (Library research). Data sources were obtained from primary and secondary sources related to the concept of happiness according to Ibn Miskawaih and John Stuart Mill. This research was conducted using a descriptive-comparative method. Regarding the concept of happiness, Ibn Miskawaih stated that a person who has attained happiness will not need anything else. According to him, actions that take the form of goodness are a process towards happiness. However, Ibn Miskawaih believes that perfect happiness will be difficult for humans to experience if they have not yet freed themselves from the body and its worldly interests, while Mill has his own perspective on happiness. According to him, the extent to which a person's actions are functional and beneficial for others is a measure of how much happiness that person will experience. From the research findings, the author discovered differences and similarities regarding the concept of happiness between the two figures. This comparison can be found in the understanding of both figures about the concept and meaning of happiness, which is based on their intellectual, religious, and cultural backgrounds. Keywords: Happiness, Aristoteles, John Stuart Mill, Ibnu Miskawaih
Manusia Sempurna Dalam Pandangan Murtadha Muthahhari Aldiniati, Afrah Saudah; Alwalid, Kholid
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol. 6 No. 01 (2024): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/paradigma.v6i01.34511

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk memahami manusia sempurna menurut pandangan Murtadha Muthahhari, sedangkan rumusan masalah yang ingin dicari jawabannya adalah bagaimana Murtadha Muthahhari menjelaskan dan memandang manusia sempurna, bagaimana bukti-bukti adanya manusia sempurna, bagaimana karakteristik manusia sempurna dan upaya mencapai derajat manusia sempurna. Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis, sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian pustaka atau library research. Dengan menggunakan buku “Manusia Sempurna Nilai dan Kepribadian Manusia pada Intelektualitas, Spiritualitas, dan Tanggung Jawab Sosial” karya Murtadha Muthahhari yang diterjemahkan oleh Arif Mulyadi sebagai sumber primer, dan peneliti juga mengumpulkan data dan dokumen dari berbagai karya Murtadha Muthahhari, serta rujukan lainnya seperti skripsi, jurnal dan artikel sebagai sumber sekunder yang akan dilakukan oleh peneliti. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa manusia sempurna merupakan manusia yang teladan, unggul dan luhur, yang untuk meningkatkannya kualitas diri terhadap Tuhan dan manusia itu sendiri. Sempurna untuk Tuhan itu bersifat tak terbatas dan ada dengan sendirinya sedangkan untuk manusia bersifat terbatas dan ada karena dibuat. Kata  Abstract: This research aims to understand the concept of the perfect human according to Murtadha Muthahhari. The problem formulation that seeks answers includes how Murtadha Muthahhari explains and views the perfect human, what evidence exists for the perfect human, what the characteristics of the perfect human are, and what efforts can be made to achieve the status of the perfect human. In this research, a descriptive analysis method is used, while the data collection technique employed is literature review or library research. The primary source is the book "Perfect Human: Values and Personality of Humans in Intellectuality, Spirituality, and Social Responsibility" by Murtadha Muthahhari, translated by Arif Mulyadi. The researcher also collects data and documents from various works of Murtadha Muthahhari, as well as other references such as theses, journals, and articles as secondary sources that will be utilized by the researcher. The results of this research indicate that a perfect human is one who is exemplary, superior, and noble, striving to enhance their quality of self in relation to God and humanity itself. Perfect for God is infinite and exists by itself, while for humans it is limited and exists because it is created.
Daya-Daya Jiwa Manusia Perspektif Ibn Sina Majid, M. Fakhri Abdul; Humaidi, Humaidi
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol. 6 No. 01 (2024): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/paradigma.v6i01.34516

Abstract

Abstrak: Manusia adalah makhluk yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Puncak kelebihannya bisa lebih mulia dari malaikat, dan titik terendah kekurangannya lebih hina dari binatang. Tetapi dibalik kelebihan dan kekurangannya itu, manusia adalah makhluk yang penuh misteri. Tidaklah mengherankan jika kemudian muncul begitu banyak kajian, penelitian ataupun pemikiran tentang manusia dalam segala aspeknya. Salah satunya adalah tentang jiwa. Jiwa merupakan salah satu topik yang sangat menarik perhatian para ilmuwan barat. Tidak sedikit dari mereka yang menghabiskan waktunya untuk mengkaji masalah ini. namun, kajian mereka tidak dilandasi dengan agama. Berbeda dengan ilmuwan muslim yang menjadikan agama sebagai pijakannya. Salah seorang ilmuwan muslim yang membahas tentang jiwa manusia adalah Ibn Sîna. Ibn Sîna mengemukakan bahwa jiwa manusia terdiri dari tiga bagian, diantaranya yaitu: jiwa tumbuh-tumbuhan (al-nafs al-nabatiyah), jiwa binatang (al-nafs al-hayawaniyah), dan jiwa manusia (al-nafs al-insaniyah). Jiwa tumbuh-tumbuhan memiliki tiga fakultas, yaitu daya makan (al-quwwah al-ghadziyah), daya tumbuh (al-quwwah al-munammiyah), dan daya reproduksi (al-quwwah al-muwallidah). Jiwa binatang memiliki dua daya, yaitu daya penggerak (al-quwwah al-muharrikah), dan daya persepsi (al-quwwah al-mudrikah). Jiwa manusia mempunyai daya berfikir yang disebut dengan al-aql. Dan manusia juga memiliki tiga sekaligus jiwa tersebut. Abstract:Humans are beings that have strengths and weaknesses. The peak of its virtues can be more noble than that of angels, and the lowest point of its shortcomings can be more despicable than that of animals. But behind its strengths and weaknesses, humans are creatures full of mystery. It is not surprising that so many studies, research, or thoughts about humans in all their aspects have emerged.  One of them is about the soul. The soul is one of the topics that has captured the attention of Western scientists. Many of them spend their time studying this issue. However, their study is not based on religion. Unlike Muslim scientists who use religion as their foundation. One of the Muslim scholars who discussed the human soul is Ibn Sîna. Ibn Sîna proposed that the human soul consists of three parts, namely: the vegetative soul (al-nafs al-nabatiyah), the animal soul (al-nafs al-hayawaniyah), and the human soul (al-nafs al-insaniyah). The vegetative soul has three faculties, which are the nutritive power (al-quwwah al-ghadziyah), the growth power (al-quwwah al-munammiyah), and the reproductive power (al-quwwah al-muwallidah). The animal soul has two powers, which are the motive power (al-quwwah al-muharrikah) and the perceptive power. (al-quwwah al-mudrikah). The human soul has a thinking capacity known as al-aql. And humans also possess three of these souls simultaneously.
Konsep Iman Menurut Komaruddin Hidayat Irfan, Muhammad Marzuqi; Hidayatullah, Rahmat
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol. 6 No. 01 (2024): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/paradigma.v6i01.34527

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsepsi keimanan di dunia kontemporer dalam pemikiran Komaruddin Hidayat dan apakah keimanan memberikan pengaruh yang terhadap manusia dalam menjalani kehidupan. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kualitatif dengan metode library research (studi kepustakaan) dengan pendekatan deskriptif-analisis. Adapun sumber data dalam penelitian ini dari berbagai sumber yang telah dipublikasikan baik dari buku, jurnal, majalah, maupun karya ilmiah lainnya. Berdasarkan temuan dan analisis dapat disimpulkan bahwa iman dalam pandangan Komaruddin Hidayat sejalan dengan pandangan umum dalam Islam adalah pengakuan secara verbal yang dilakukan seorang manusia dengan menjelaskan berbagai argumentasi logis, kemudian pembenaran dalam hati dan dilaksanakan dalam bentuk tindakan. Meskipun dipengaruhi oleh pemikiran aliran kalam sebelumnya, iman dalam pandangan Komaruddin Hidayat memiliki nilai orisinalitasnya sendiri karena memberikan gambaran tentang iman tidak hanya yang berhubungan dengan persoalan ketuhanan, sekaligus menggambarkan bahwa dimana iman hidup dan berkembang dalam kehidupan manusia serta mempengaruhinya. Abstract:This research aims to understand the conception of faith in the contemporary world through the thoughts of Komaruddin Hidayat and whether faith has an influence on humans in living their lives. The research method used is a qualitative type of research with a library research method, employing a descriptive-analytical approach. The data sources in this research come from various published materials, including books, journals, magazines, and other scholarly works.Based on the findings and analysis, it can be concluded that faith, according to Komaruddin Hidayat's perspective, aligns with the general view in Islam as a verbal acknowledgment made by a person, accompanied by various logical arguments, followed by internal affirmation and manifested through actions. Although influenced by the thoughts of previous theological streams, faith in Komaruddin Hidayat's perspective has its own originality as it portrays faith not only in relation to divine matters but also illustrates how faith lives and develops within human life and influences it.  
Nilai Etika Pada Ajaran Perguruaan Ikatan Keluarga Silat Putra Indonesia (IKSPI) Kera Sakti Pratama, Ilham Putra; Sjafariah, Rosmaria
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol. 6 No. 01 (2024): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/paradigma.v6i01.34592

Abstract

Abstrak: Perguruan Ikatan Keluarga Silat Putra Indonesia (IKSPI) Kera Sakti merupakan perguruan silat yang memiliki peran penting dalam pengembangan dan penanaman nilai-nilai etika terhadap anggotanya, juga sebagai pembentuk jiwa dan kepribadian yang berbudi pekerti yang luhur (akhlak mulia).  Hal tersebut merupakan landasan dasar sebagai pedoman yang diajarkan dalam Perguruan Ikatan Keluarga Silat Putra Indonesia (IKSPI) Kera Sakti dalam berlaku dalam lingkup perguruan dan sosial masyarakat. Dan juga berperan aktif dalam pembentukan kader bangsa yang beriman kepada Sang Pencipta Allah SWT, dan yang berbudi pekerti luhur, serta memiliki sikap yang bijaksana, berani, disiplin, pantang menyerah, dan rasa bertanggung jawab.Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian library research (penulisan kepustakaan) dengan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif analisis, serta tanya jawab antara peneliti dengan responden (indepth interview), bertujuan untuk menguatkan data yang sebelumnya telah didapat dan diperoleh, seperti penjelasan dari para pengurus, pelatih atau sesepuh yang dapat dijangkau oleh peneliti dalam Perguruan Ikatan Keluarga Silat Putra Indonesia (IKSPI) Kera Sakti.  Abstract: The Kera Sakti Indonesian Family Martial Arts Association (IKSPI) is a martial arts school that plays an important role in the development and instillation of ethical values among its members, as well as in shaping a noble character and personality. This serves as the fundamental basis and guideline taught within the Kera Sakti Indonesian Family Martial Arts Association (IKSPI) for behavior within the school and the broader community. And also plays an active role in shaping the nation's cadres who are faithful to the Creator, Allah SWT, and who possess noble character, as well as having wise, brave, disciplined, resilient, and responsible attitudes. In this study, a library research method was used with a qualitative approach, employing descriptive analysis research, as well as question-and-answer sessions between the researcher and respondents (in-depth interviews), aimed at strengthening the data that had previously been obtained, such as explanations from the administrators, coaches, or elders accessible to the researcher within the Indonesian Martial Arts Family Association (IKSPI) Kera Sakti.  
Argumentasi al-Ghazali tentang Eksistensi Tuhan dalam Kitab al-Iqtisad fi al-I'tiqad dan Risalah al-Qudsiyah Pohan, Irsal; Kurniawan, Wawan
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol. 5 No. 02 (2023): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/paradigma.v5i02.36473

Abstract

Abstrak: Argumen eksistensi Tuhan menjadi penting untuk diketahui oleh umat beragama. Ini merupakan hal utama yang harus dipahami secara baik dan benar. Kelemahan dalam memahami tentang eksistensi Tuhan akan berimplikasi pada kokohnya Iman tiap-tiap individu. Terlebih pada saat ini, beberapa dari para ateis tak kalah gencar dalam menjelaskan dan membangun argumentasi mereka bahwa Tuhan bukan merupakan entitas yang eksis. Meski pada dasarnya agama telah menjelaskannya melalui wahyu, akan tetapi eksplorasi secara rasional diperlukan guna mendapatkan bangunan argumentasi yang kokoh. Al-Ghazali beranggapan bahwa dasarnya, dalil-dalil al-Qur’an memang sudah cukup untuk menjawab persoalan eksistensi ini, namun demikian ia memberi memberi argumentasi lebih lanjut untuk mengikuti jejak ulama-ulama pemikir. Dalam argumentasinya, al-Ghazali banyak menggunakan logika paripatetik dan menjelaskannya dengan silogisme-silogisme. Penelitian ini mencoba untuk menjelaskan argumen Abu Hamid al-Ghazali mengenai eksistensi Tuhan dalam kitab al-Iqtis̠ad fi al-Iʻtiqad dan Risâlah al-Qudsiyyah serta mencoba untuk menemukan persamaan dan perbedaannya. Sebuah argumentasi kosmologis yang mencoba menjelaskan eksistensi Tuhan dengan menyelusuri awal mula keberadaan alam. Al-Ghazali di dalam dua kitabnya tersebut mengungkapkan argumennya dengan dua corak berbeda. Penelitian ini, selain untuk menjelaskan bagaimana argumentasi al-Ghazali mengenai eksistensi Tuhan, juga berusaha menjawab pertanyaan bagaimana perbedaan argumentasinya. Untuk menjawab pertanyaan tersebut peneliti menggunakan metode deskriptif-analitis yakni metode penelitian yang digunakan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan objek yang diteliti berdasarkan data atau sampel yang telah dikumpulkan melalui pencarian data kepustakaan (library research) khususnya pada kitab Al-Iqtisad fi al-I’tiqad dan Risalah al-Qudsiyah serta sumber sekunder yang relevan.Abstract: The argument for the existence of God is important for religious people to know. This is the main thing that must be understood properly and correctly. Weakness in understanding the existence of God will have implications for the strength of each individual's faith. Especially at this time, some of the atheists are no less aggressive in explaining and building their arguments that God is not an existing entity. Although basically religion has explained it through revelation, but rational exploration is needed to get a solid argumentation building. Al-Ghazali thinks that basically, the arguments of the Qur'an are sufficient to answer this question of existence, but nevertheless he gives further arguments to follow in the footsteps of the scholars of thought. In his argumentation, al-Ghazali uses a lot of paripathetic logic and explains it with syllogisms. This research tries to explain Abu Hamid al-Ghazali's arguments regarding the existence of God in the book al-Iqtis̠ad fi al-Iʻtiqad and Risâlah al-Qudsiyyah and tries to find similarities and differences. A cosmological argument that tries to explain the existence of God by tracing the beginning of the existence of nature. Al-Ghazali in his two books expresses his argument with two different styles. This study, in addition to explaining how al-Ghazali's argumentation regarding God's existence, also tries to answer the question of how the differences between the two books are different. To answer these questions, researchers use descriptive-analytical methods, namely research methods used to describe or describe the object under study based on data or samples that have been collected through library research, especially in the book Al-Iqtisad fi al-I'tiqad and Risalah al-Qudsiyah and relevant secondary sources.
Epistemologi Imajinasi Menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas Mahdiyin, Khizbullah Al; Yazid, Rizky
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol. 6 No. 01 (2024): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/paradigma.v6i01.37577

Abstract

Abstrak: Penelitian ini mencoba mendeskripsikan tentang pemikiran bagaimana imajinasi dipandang sebagai sumber ilmu pengetahuan menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas yang terdapat dalam karyanya, yakni Prolegomena to The Metaphysics of Islam. Pemaknaan imajinasi seringkali mendapat pemaknaan yang negatif (khayalan dan fantasi) di kalangan masyarakat umum dn khusunya akademis, karena imajinasi dianggap tidak ada landasan realistis dan ilusi belaka. Penelitian ini menjawab pertanyaan Bagaimana Imajinasi Dipandang Sebagai Sumber Ilmu Pengetahuan menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas? Menjawab pertanyaan tersebut, peneliti menggunakan metode deskriptif analitis, dan juga menggunakan metode pencarian data kepustakaan primer maupun sekunder. Untuk data kepustakaan primer, peneliti menggunakan buku karya Syed Muhammad Naquib Al-Attas yakni Prolegomena to The Metaphysics of Islam.. Penelitian ini pada kesimpulannya, bahwa Syed Muhammad Naquib Al-Attas membagi imajinasi menjadi dua fungsi ganda terkait dengan jiwa yaitu al-mutakhhayal dan al-mufakkirah. Imajinasi yang telah mengalami aktualisasi perkembangan melalui jalan ilmunasi oleh Kecerdasan Aktif (ruh al-qudus), akan dapat menangkap pengetahuan gagasan dan ide yang melampaui inderawi maupun citra-citra hasil cerapan inderawi. Imajinasi ini merupakan prinsip yang dibangun dengan aplikasi universal dan prinsip keniscayaan.  Abstract: This research attempts to describe the thoughts on how imagination is viewed as a source of knowledge according to Syed Muhammad Naquib Al-Attas, as found in his work, Prolegomena to The Metaphysics of Islam. The meaning of imagination is often given a negative connotation (illusion and fantasy) among the general public and especially in academia, as imagination is seen as lacking a realistic foundation and merely an illusion. This research addresses the question of how imagination is viewed as a source of knowledge according to Syed Muhammad Naquib Al-Attas. In answering that question, the researcher employed a descriptive-analytical method and also utilized both primary and secondary literature data collection methods. For the primary literature data, the researcher used the book by Syed Muhammad Naquib Al-Attas titled "Prolegomena to The Metaphysics of Islam." This research concludes that Syed Muhammad Naquib Al-Attas divides imagination into two dual functions related to the soul, namely al-mutakhhayal and al-mufakkirah. Imagination that has undergone the actualization of development through the path of knowledge by Active Intelligence (the spirit of holiness) will be able to grasp knowledge, concepts, and ideas that transcend sensory experiences and the images resulting from sensory perceptions. This imagination is a principle built on universal application and the principle of necessity.