Kartala Visual Studies
Fokus dan Cakupan Kartala Visual Studies merupakan publikasi untuk pertukaran informasi dan pengetahuan Desain Komunikasi Visual. Cakupan jurnal meliputi studi yang mendukung pengembangan keilmuan desain grafis, animasi, game, media digital, seni rupa, dan budaya visual. Proses Peninjauan Sejawat Kebijakan proses peninjauan sejawat (peer review process) jurnal Kartala Visual Studies adalah: Setiap naskah yang masuk akan diperiksa menggunakan web anti plagiarisme,Turnitin. Setiap naskah yang masuk akan melalui proses peninjauan (review). Proses peninjauan menggunakan metode double-blind review. Dalam proses peninjauan, mitra peninjau (reviewer) akan memberikan pertimbangan terkait dengan kebaruan, dampak ilmiah, simpulan dan referensi yang digunakan. Keputusan peninjau akan menjadi pertimbangan editor untuk menentukan status naskah, yaitu: Menerima naskah Naskah perlu direvisi Naskah perlu ditinjau ulang Mengirimkan naskah ke jurnal lain Menolak naskah Naskah dapat ditolak untuk publikasi karena beberapa alasan, yaitu: Naskah tidak sesuai dengan cakupan jurnal Naskah tidak mengikuti aturan penulisan karya ilmiah atau pedoman penulisan jurnal Kesalahan fatal dalam metodologi Penulis menolak saran perbaikan yang diberikan oleh peninjau tanpa alasan yang bisa diterima Naskah terindikasi plagiarisme dengan tingkat kesamaan lebih dari 20% Kebijakan Akses Terbuka Jurnal ini memberikan akses terbuka pada kontennya atas dasar keterbukaan akses terhadap hasil riset bagi publik dapat mendukung pertukaran pengetahuan global yang lebih baik. Pengarsipan Jurnal ini menggunakan sistem LOCKSS untuk menciptakan sistem pengarsipan terdistribusi antara perpustakaan yang terlibat dan mengizinkan perpustakaan tersebut untuk membuat arsip permanen untuk tujuan preservasi dan restorasi. Penyaringan Plagiarisme Naskah yang dikirimkan pada Kartala Visual Studies akan disaring secara otomatis menggunakan Turnitin. Naskah yang mengandung unsur plagiarisme yang besar (termasuk plagiasi karya sendiri) akan ditolak secara otomatis. Etika Publikasi Etika Publikasi dan Pernyataan Malpraktik Kartala Visual Studies berupaya untuk menjadi platform peninjauan sejawat dan sumber informasi yang autoritatif. Kami mempublikasikan naskah riset, meninjau naskah, dan studi kasus yang berfokus pada keilmuan Desain Komunikasi Visual dan topik yang terkait yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Pernyataan berikut mengklarifikasi etika dari semua pihak yang terlibat dalam proses penerbitan artikel dalam jurnal ini, termasuk penulis, editor, peninjau, dan penerbit (Universitas Budi Luhur). Pernyataan ini berlandaskan pada COPE’s Best Practice Guidelines for Journal Editors. Kewajiban Penulis Standar Pelaporan: Penulis harus menyajikan riset original yang akurat dan diskusi objektif mengenai signifikansinya. Peneliti harus menyajikan hasil studinya secara jujur tanpa rekayasa, pemalsuan, dan manipulasi. Naskah harus mengandung detail dan referensi yang memadai agar dapat direplikasi oleh penulis lainnya. Pemalsuan atau kesengajaan dalam mencantumkan pernyataan yang tidak akurat merupakan perilaku tidak etis dan tidak dapat diterima. Naskah harus mengikuti panduan penulisan jurnal. Orisinalitas dan Plagiarisme: Penulis harus memastikan bahwa mereka menulis naskah yang original secara menyeluruh. Naskah tidak dapat dikirimkan pada lebih dari satu publikasi kecuali para editor memiliki perjanjian penerbitan bersama. Publikasi terdahulu yang relevan, baik dari penulis lain ataupun karya penulis naskah, harus diakui dan dikutip secara benar. Literatur primer harus dikutip jika memungkinkan. Pernyataan original yang diambil dari publikasi lain oleh penulis lain harus ditulis dalam tanda kutip dan dengan pengutipan yang benar. Publikasi Redundan dan Bersamaan: Penulis tidak dapat mengirimkan naskah yang sama pada lebih dari satu jurnal secara bersamaan. Penulis juga diharapkan untuk tidak menerbitkan naskah redundan atau naskah yang mendeskripsikan penelitian yang sama pada lebih dari satu jurnal. Mengirimkan naskah pada lebih dari satu jurnal secara bersamaan merupakan perilaku tidak etis dan tidak dapat diterima. Apabila terdapat lebih dari satu publikasi yang berasal dari penelitian yang sama, maka perlu diidentifikasi secara jelas dan publikasi primer harus dikutip. Pengutipan Sumber: Penulis harus mengakui seluruh sumber data yang digunakan dalam penelitian dan mengutip publikasi yang berpengaruh pada naskah. Pengakuan terhadap karya ilmiah lain harus selalu dilakukan. Kepemilikan Naskah: Kepemilikan publikasi riset harus mencerminkan kontribusi individual terhadap penelitian dan penulisannya. Kepemilikan naskah harus dibatasi pada penulis yang berkontribusi signifikan pada perumusan konsep, desain, eksekusi atau interpretasi hasil studi. Pihak lain yang memberikan kontribusi signifikan harus ditulis sebagai co-author. Penulis harus memastikan bahwa para penulis telah melihat dan setuju dengan naskah yang dikirimkan dan mencantumkan nama-namanya. Pemberitahuan dan Konflik Kepentingan: Semua penulis harus menyatakan segala bentuk kepentingan finansial atau konflik substantif lainnya yang dapat mempengaruhi hasil atau interpretasi penelitian dalam naskahnya. Semua sumber finansial dalam proyek penelitian harus dicantumkan dalam naskah. Kesalahan Fundamental dalam Karya Terbitan: Apabila penulis menemukan kesalahan atau ketidakakuratan yang signifikan pada naskah yang dikirimkan, maka penulis harus segera memberitahukan editor jurnal atau penerbit dan bekerjasama dengan editor untuk menarik atau memperbaiki naskah. Bahaya dan Subjek Penelitian Hewan dan Manusia: Penulis harus mengidentifikasi dengan jelas dalam naskahnya apabila penelitiannya melibatkan zat kimia, prosedur, atau peralatan yang mengandung bahaya tak lazim pada penggunaannya. Kewajiban Editor: Kerahasiaan: Informasi terkait naskah yang dikirimkan penulis harus dirahasiakan dan diperlakukan sebagai informasi berharga. Naskah tidak boleh diperlihatkan atau didiskusikan dengan pihak lain kecuali seizin penulis. Pengakuan Sumber: Peninjau harus memastikan bahwa memastikan bahwa penulis telah mengakui semua sumber data yang digunakan dalam penelitian. Peninjau harus mengidentifikasi karya terbitan yang relevan yang belum dikutip oleh penulis. Setiap pernyataan bahwa observasi, derivasi, atau argumen telah dilaporkan sebelumnya harus disertai dengan kutipan yang relevan. Peninjau harus segera memberitahu jurnal jika mereka menemukan penyimpangan, kekhawatiran tentang aspek etika pekerjaan, menyadari kesamaan substansial antara naskah dan penyerahan bersamaan ke jurnal lain atau artikel yang diterbitkan, atau menduga bahwa kesalahan mungkin telah terjadi. Selama penelitian atau penulisan dan penyerahan naskah; peninjau harus merahasiakan dan tidak menyelidiki secara pribadi lebih lanjut kecuali jurnal meminta informasi atau saran lebih lanjut. Standar Objektivitas: Tinjauan naskah yang diserahkan harus dilakukan secara objektif dan peninjau harus mengungkapkan pandangan mereka dengan jelas dengan argumen pendukung. Peninjau harus mengikuti instruksi jurnal tentang umpan balik spesifik yang diperlukan dari mereka dan, kecuali ada alasan untuk tidak melakukannya. Peninjau harus konstruktif dalam ulasan mereka dan memberikan umpan balik yang akan membantu penulis untuk memperbaiki naskah mereka. Peninjau harus memperjelas penyelidikan tambahan yang disarankan yang penting untuk mendukung klaim yang dibuat dalam naskah yang sedang dipertimbangkan dan mana yang hanya akan memperkuat atau memperluas pekerjaan Pemberitahuan dan Konflik Kepentingan: Informasi atau ide istimewa yang diperoleh melalui tinjauan sejawat harus dirahasiakan dan tidak digunakan untuk keuntungan pribadi. Peninjau tidak boleh mempertimbangkan manuskrip ketika mereka memiliki konflik kepentingan yang dihasilkan dari persaingan, kerja sama, atau hubungan lain dengan penulis, perusahaan, atau institusi mana pun yang terkait dengan naskah. Dalam kasus double-blind review, jika mereka mencurigai identitas penulis, informasikan pada jurnal jika hal ini menimbulkan potensi konflik kepentingan. Ketepatan: Peninjau harus merespon dalam kerangka waktu yang masuk akal. Peninjau hanya setuju untuk meninjau naskah jika mereka yakin bahwa mereka dapat mengembalikan ulasan dalam kerangka waktu yang diusulkan atau disepakati bersama, segera memberitahu jurnal jika memerlukan perpanjangan. Ketika peninjau merasa tidak mungkin menyelesaikan tinjauan naskah dalam waktu yang ditentukan maka informasi ini harus disampaikan kepada editor, agar naskah dapat dikirim ke peninjau lain.
Articles
66 Documents
Sinema Audio Berbasis Ambisonik: Menjelajahi Pengalaman Imersif untuk Penyandang Disabilitas Netra
Ibrahim Adi Surya;
I Wayan Swandi;
Desak Suarti Laksmi;
I Gusti Putu Sudarta
Kartala Virtual Studies Vol 5 No 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Universitas Budi Luhur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36080/kvs.v5i2.359
This study aims to explore the potential of ambisonic technology as an inclusive sound cinema medium for people with visual impairments. The background of this study stems from the limitations of conventional audio description, which is often considered to disrupt dramatic continuity, thus requiring an alternative based on immersive experiences. The research uses a practice-based qualitative approach with two main outputs, namely an ambisonic sound cinema prototype and empirical findings on the listening experience of visually impaired audiences. The research population consisted of students at SLBN A Pajajaran, Bandung City, with a purposive sample covering the categories of low vision, totally blind since birth, and light perception. The research process consisted of the creation of ambisonic sound cinema through sound dramaturgy, followed by listening tests using stereo headphones, and in-depth interviews to explore the respondents' perceptions. Data analysis was conducted qualitatively through reduction, categorization, and thematic interpretation. The results showed that respondents were able to clearly perceive the direction, space, and depth of sound, as well as understand the narrative flow without additional visuals or verbal narration. Ambisonic was considered more natural than audio description, although limitations in equipment, environmental noise, and technological literacy remained challenges. This study concludes that ambisonic has significant potential as an alternative form of accessibility to performing arts and entertainment for the visually impaired, while also contributing to the development of sound dramaturgy theory. Practical implications include integration into inclusive education, application in film production, and distribution through digital platforms. Thus, this study serves as a starting point for developing ambisonic sound cinema as a more equitable form of artistic and social innovation. Keywords: Ambisonic, sound cinema, visual impairment, inclusivity, sound dramaturgy, immersive experience
Estetika Fotografi Ipphos Selama Periode Revolusi Fisik (1945-1949) Di Indonesia Sebagai Media Propaganda Dan Alat Diplomasi Melalui Pembacaan Semiotik
Ferdiansyah;
I Wayan Adnyana;
I Wayan Mudana;
I Made Bayu Pramana
Kartala Virtual Studies Vol 5 No 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Universitas Budi Luhur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36080/kvs.v5i2.390
Photography has a very significant role in the course of Indonesian history. Initially, photography was only seen as a form of documentation, but over time, it transformed into a medium of propaganda and a tool of diplomacy. The focus of this study is photographs produced by IPPHOS (Indonesia Press Photo Service), which primarily include photos of the reading of the proclamation text, the raising of the red and white flag on August 17, 1945, and Soekarno-Hatta embracing Soedirman. The purpose of this study is to explore the power and potential of photography as a medium of propaganda and a tool of diplomacy. Based on its function, photography was considered a form of aesthetics during the physical revolution. This study will analyze the role of photography as a tool of propaganda and diplomacy of the Indonesian government during the revolution by highlighting the aesthetic elements in IPPHOS photographs, which reflect the strategy of the struggle to maintain independence between 1945 and 1949. The methodology used in this study is a qualitative approach, with a semiotic analysis of photographs identified as a medium of propaganda and a tool of diplomacy by the Indonesian government during the Physical Revolution period. This study aims to understand how photographs from the Physical Revolution period function as visual codes that convey messages, both verbally and non-verbally. By analyzing the meaning of signifiers-signified, it is hoped that the postcolonial generation can understand and analyze the history of Indonesian photography. Keywords: Photography, Propaganda, Diplomacy, IPPHOS, Physical Revolution, Semiotics.
Sangka-Ku-Riang: Dekonstruksi Estetik Riak Ego dan Krisis Identitas dalam Ambiguitas Mozaik Digital : Mitologi Sangkuriang Generasi Moderen
Deden Maulana;
I Made Gede Arimbawa;
Anak Agung Gde Bagus Udayana;
I Wayan Sujana
Kartala Virtual Studies Vol 5 No 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Universitas Budi Luhur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36080/kvs.v5i2.394
Ancient mythologies of the Indonesian archipelago are frequently positioned as static didactic narratives. This study aims to recontextualize the legend of Sangkuriang into a new media art platform through an interactive digital mosaic installation. Employing a qualitative, practice-led research methodology, the name "Sangkuriang" is philosophically deconstructed into the conceptual framework of Sangka-Ku-Riang, a representation of the human ego's erroneous illusion of absolute control over reality and desire. This conceptual transformation is empirically articulated into visual computation parameters using the WebGL library, wherein the character's psychological dynamics are translated through fluctuations in fluid mosaic particle movement, geometric grid density, and lighting manipulation. The findings demonstrate that glitch art aesthetics specifically micro-stuttering and total system crashes effectively serve as semiotic signifiers to communicate the main character's identity crisis and raw destructive emotions. The final phase of form-setting into a mountain silhouette reflects a contemplative aesthetic sublimation that locks data chaos into a space of stability. Culturally, this visual articulation aligns with the Sundanese cosmology of darmaning satria, which asserts that human egoistic ambition must ultimately submit to macrocosmic cosmic laws. This study offers a novel method for conserving traditional heritage, transforming it into a living digital entity that adapts critically to contemporary technological advancement.
Strategi Komunikasi Visual untuk Mempromosikan Kebiasaan Menabung pada Anak: Pendekatan Design-Based Research
Benny Muhdaliha;
Angela Agata Gustevin Pasang;
Fatma Misky;
Yori Pusparani
Kartala Virtual Studies Vol 5 No 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Universitas Budi Luhur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36080/kvs.v5i2.404
Financial literacy is an essential competency that should be introduced from an early age to foster responsible financial behavior in later life. However, communicating financial concepts to children remains challenging due to the abstract nature of such concepts and the limited availability of learning media that align with children's developmental characteristics. This study aims to examine how visual communication strategies implemented through an illustrated storybook can support the development of saving habits among children aged 7–9 years. The research employed a Design Based Research (DBR) approach, integrating the iterative processes of designing, implementing, and evaluating educational media. Data were collected through a literature review, observations, and interviews with teachers and students at SDN Petukangan Utara 10 Pagi, Jakarta. The findings indicate that the integration of visual communication elements, including character design, cartoon-style illustrations, a color system based on the Color Image Scale framework, child-friendly typography, and reading-oriented layout design, significantly enhanced students’ engagement, comprehension, and interest in financial literacy content. Through the visual narrative presented in The Adventure of Raya Saving Money, the abstract concept of saving was transformed into a more concrete, engaging, and accessible learning experience. The study demonstrates that visual communication functions not only as a medium for information delivery but also as an educational instrument capable of shaping children’s understanding, attitudes, and financial behaviors. The findings contribute to the development of visual communication Design Based educational media and expand current discussions on the role of visual storytelling in children’s financial literacy education.
Redesain Logo dan Perancangan Brand Guideline terhadap The Quadrant Hotel
Andini Solim;
Muhammad Fikri Akbar Zuhdi;
Rizka Alya Triztika
Kartala Virtual Studies Vol 5 No 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Universitas Budi Luhur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36080/kvs.v5i2.407
The Quadrant Hotel requires a consistent visual identity to strengthen its professional image across various communication media and enhance its brand competitiveness in the hospitality industry. Problems identified include a visually inefficient logo, inconsistent color usage, typography lacking fixed guidelines, the absence of structured supporting visual elements, and the lack of brand guidelines as a reference for implementing the visual identity. These conditions result in the brand identity being less than optimal in building a strong and easily recognizable impression among the public and hotel guests. This study aims to redesign the logo and develop The Quadrant Hotel's Brand Guidelines to make the visual identity simpler, more modern, elegant, easily recognizable, and can be applied consistently across various media. The method used is Design Thinking through the stages of observation, survey, visual analysis, concept formulation, design planning, implementation, and evaluation. The design results in a new logo with a clover concept that represents unity, balance, comfort, and the character of the hotel. The visual identity is supported by the main color with gold nuances, Baskerville and Poppins typography, and visual elements based on the logo shape that strengthens brand consistency. All elements are compiled in a Brand Guideline and applied to the company profile, amenities, administrative media, and promotional media. The findings proves the logo redesign and Brand Guideline design were able to create a visual identity for The Quadrant Hotel that is more consistent, professional, representative, and consistent along with characteristics of the modern hospitality industry.
Transformasi Ondel-Ondel dari Ritual Sakral menjadi Pertunjukan Jalanan: Kajian Politik Budaya Perkotaan
Cerman Simamora;
Iwan Darmawan
Kartala Virtual Studies Vol 5 No 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Universitas Budi Luhur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36080/kvs.v5i2.408
This article examines the transformation of ondel- ondel in urban Jakarta, particularly its shift from a sacred Betawi ritual object into a street performance associated with informal livelihoods. Rather than treating street-based ondel-ondel as cultural degradation, this study argues that the practice represents cultural adaptation, reproduction, and survival within an unequal urban economy. The research uses an interpretative qualitative approach with ethnographic characteristics through interviews, field observation, visual documentation, and policy- document analysis. The analysis draws on Lefebvre's production of space, Bourdieu's symbolic power, de Certeau's everyday tactics, and Harvey's right to the city. The findings show that ondel-ondel operates as a living cultural practice in public space, where performers negotiate livelihood, identity, regulation, and urban aesthetics. The article proposes a more inclusive cultural policy that differentiates between exploitative practices and community-based performers who sustain Betawi cultural knowledge.