cover
Contact Name
Fidelis Lejo
Contact Email
Jurnal@stipassirilus.ac.id
Phone
+6282146629173
Journal Mail Official
Jurnal@stipassirilus.ac.id
Editorial Address
Jl. Pelita Kompleks Wae Palo Ruteng - Manggarai - Flores - NTT
Location
Kab. manggarai,
Nusa tenggara timur
INDONESIA
Jurnal Alternatif Wacana Ilmiah Interkultural
ISSN : "1411166     EISSN : 29879485     DOI : https://doi.org/10.60130/ja.v11i2
Jurnal Alternatif merupakan kumpulan artikel ilmiah yang dipublikasikan secara cetak dan online oleh Sekolah Tinggi Pastoral St. Sirilus Ruteng. Jurnal ini terbit dua kali setahun pada bulan juni dan desember. Jurnal Alternatif merupakan kumpulan artikel ilmiah yang dipublikasikan secara cetak dan online oleh Sekolah Tinggi Pastoral St. Sirilus Ruteng. Jurnal ini dipublikasikan secara online dan open Accses. Fokus dan lingkup jurnal ini adalah muatan ilmu keagamaan Katolik. jenis terbitan jurnal Alternatif STIPAS St. Sirilus Ruteng adalah Ilmiah. Hak Cipta Jurnal Alternatif ini merupakan Lembaga Sekolah Tinggi Pastoral St. Sirilus Ruteng. Jurnal Alternatif Wacana Ilmiah Interkultural terbit pertama kali pada bulan Oktober Tahun 2012 secara Cetak dan mulai diterbitkan online pada edisi Agustus 2020. sedangkan pernyataan privasi untuk nama dan alamat email yang dimasukkan di jurnal ini hanya akan digunakan untuk tujuan yang sudah disebutkan, tidak akan disalahgunakan untuk tujuan lain atau untuk disebarluaskan ke pihak lain. ISSN (International Standard Serial Number) Jurnal Alternatif 2987-9485 (media online).
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 107 Documents
UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BERPRESTASI PADA MAHASISWA emanuel haru
Jurnal Alternatif Wacana Ilmiah Interkultural Vol. 12 No. 01 (2023): Jurnal Alternatif Wacana Ilmiah Interkultural
Publisher : STIPAS St. Sirilus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60130/ja.v12i01.117

Abstract

Achievement motivation is one of the variables that determine one's success. This article aims to discuss achievement motivation as an important factor that also determines the success of a student in his study. There are several formulations of the problem posed. First, what is achievement motivation? Second, what are the dimensions of achievement motivation? Third, what factors influence student achievement motivation? Fourth, how are the efforts made to increase achievement motivation in students? By using the literature study method and reviewing research findings regarding achievement motivation, the writer concludes. First, achievement motivation is an internal driving force that drives an individual to achieve high goals in an effort to achieve success and high performance. Second, the dimensions of achievement motivation are goal orientation, need for achievement, locus of control and fear of failure. Third, the factors that influence student achievement motivation are internal factors, consisting of personal goals, self-expectations, independence and external factors consist of the learning environment, environmental support, rewards and recognition. Fourth, efforts to increase achievement motivation are setting clear goals, providing constructive feedback, creating a supportive environment, applying interactive learning methods and building connections with subjects.   [Motivasi berprestasi merupakan salah satu variabel yang menentukan keberhasilan seseorang. Artikel ini bertujuan untuk membahas motivasi berprestasi sebagai salah satu faktor penting yang turut menentukan keberhasilan seorang mahasiswa dalam proses perkuliahannya. Ada beberapa rumusan masalah yang diajukan dalam artikel ini. Pertama, apa itu motivasi berprestasi? Kedua, apa-apa saja dimensi motivasi berprestasi? Ketiga, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi motivasi berprestasi mahasiswa? Keempat, bagaimana upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan motivasi berprestasi pada mahasiswa? Dengan menggunakan metode studi literatur dan mengkaji temuan penelitian seputar motivasi berprestasi, penulis menyimpulkan sebagai berikut. Pertama, motivasi berprestasi merupakan penggerak internal yang mendorong individu untuk mencapai tujuan yang tinggi dalam upaya mencapai keberhasilan dan kinerja yang tinggi. Kedua, dimensi-dimensi motivasi berprestasi adalah orientasi tujuan, kebutuhan berprestasi, lokus kontrol dan ketakutan akan kegagalan. Ketiga, faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi berprestasi pada mahasiswa adalah sebagai berikut: faktor internal yang terdiri dari tujuan pribadi, harapan diri, kemandirian dan faktor eksternal yang terdiri dari lingkungan belajar, dukungan lingkungan (keluarga, teman sebaya dan dosen), penghargaan dan pengakuan. Keempat, upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan motivasi berprestasi pada mahasiswa yaitu menetapkan tujuan yang jelas, memberikan umpan balik yang konstruktif, menciptakan lingkungan belajar yang mendukung, menerapkan metode pembelajaran interaktif dan membangun koneksi dengan mata pelajaran.]
KEBANGKITAN AGAMA ATAU FUNDAMENTALISME AGAMA?:Insight Pemikiran J Habermas Bagi Dinamika Keagamaan Masyarakat Flores Barat Hironimus Bandur
Jurnal Alternatif Wacana Ilmiah Interkultural Vol. 12 No. 01 (2023): Jurnal Alternatif Wacana Ilmiah Interkultural
Publisher : STIPAS St. Sirilus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60130/ja.v12i01.118

Abstract

This writing aims to reveal the concept of religious revivalism, fundamentalism, and the contributions of Jürgen Habermas in addressing the phenomena of religious revivalism on one side and religious fundamentalism on the other. Through a literature review, the author found that the phenomena of religious revivalism and religious fundamentalism are global phenomena. Habermas acknowledges the existence of religious revivalism, and this should be appreciated. However, he also recognizes the tendency towards religious fundamentalism, as evident in the religious behavior of the people in West Flores. In the context of pluralism, such as in the Manggarai, West Flores, religious fundamentalism is unavoidable, but it should not be exclusive. At the core of Habermas's acknowledgment of the use of religious aspirations in the public sphere, he promotes an inclusive fundamentalism. [Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap konsep tentang kebangkitan agama, fundamentalisme dan bagaimana kontribusi pemikiran filsuf dan sosiolog Jürgen Habermas dalam menyikapi fenomena kebangkitan agama di satu pihak dan fundamentalisme agama pada pihak lain. Melalui studi kepustakaan, penulis menemukan bahwa fenomena kebangkitan agama di satu pihak dan fundamentalisme agama pada pihak adalah sebuah fenomena global. Habermas mengakui adanya fenomena kebangkitan agama dan hal ini harus diapresiasi; namun sekaligus mengakui juga tendensi ke arah fundamentalisme agama, seperti juga terbaca pada perilaku keagamaan masyarakat Flores Barat. Dalam konteks pluralitas seperti masyarakat Manggarai, Flores Barat, fundamentalisme agama tak terhindarkan, namun tidak boleh bersifat eksklusif. Di ujung pengakuan Habermas atas penggunaan aspirasi religius dalam ruang publik, Habermas mempromosikan sebuah fundamentalisme inklusif].
PRINSIP-PRINSIP PENAFSIRAN KITAB SUCI DALAM GEREJA KATOLIK Silvester Manca
Jurnal Alternatif Wacana Ilmiah Interkultural Vol. 12 No. 01 (2023): Jurnal Alternatif Wacana Ilmiah Interkultural
Publisher : STIPAS St. Sirilus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60130/ja.v12i01.124

Abstract

This study aims to explain some of the basic principles of biblical interpretation in the Catholic Church. Using a literature study approach, the author found at least five basic principles of biblical interpretation in the Catholic Church. The five principles are (1) Catholic interpreters should use a contextual approach to discover the literal meaning of each part of Scripture, and its true meaning as the author intended, (2) Catholic interpreters should pay close attention to the content and unity of the entire Scripture, (3) the analogy of faith, namely that there is a unity and consistency of God's truth revealed for salvation both expressed in Scripture, tradition, as well as Church teaching, (4) the language of Scripture that uses diverse expressions does not mean to be understood as it is, (5) portions of the Old Testament should be interpreted in the light of Jesus Christ and the New Testament. These five principles are expected to be the knowledge and guide for Catholics in reading and interpreting Scripture so as to avoid interpretations that are contrary to the faith of the Church. [Studi ini bertujuan untuk memaparkan beberapa prinsip dasar penafsiran Kitab Suci dalam Gereja Katolik. Dengan menggunakan pendekatan studi pustaka, penulis menemukan sekurang-kurangnya lima prinsip dasar penafsiran Kitab Suci dalam Gereja Katolik. Kelima prinsip tersebut adalah (1) penafsir Katolik hendaknya menggunakan pendekatan kontekstual guna menemukan makna harafiah dari setiap bagian Kitab Suci, dan arti sesungguhnya sebagaimana dimaksud penulisnya, (2) penafsir Katolik harus memperhatikan dengan saksama isi dan kesatuan seluruh Kitab Suci, (3) analogi iman, yakni bahwa terdapat satu-kesatuan dan konsistensi kebenaran Allah yang diungkapkan bagi keselamatan baik yang diungkapkan dalam Kitab Suci, tradisi, maupun ajaran Gereja, (4) bahasa Kitab Suci yang menggunakan ungkapan yang beraneka ragam tidak berarti harus dipahami sebagaimana adanya, (5) bagian-bagian dari Perjanjian Lama hendaknya ditafsirkan dalam terang Yesus Kristus dan Perjanjian Baru. Kelima prinsip ini diharapkan menjadi pengetahuan dan pegangan bagi orang Katolik dalam membaca dan menafsir Kitab Suci sehingga terhindar dari penafsiran yang bertentangan dengan iman Gereja.]
KONSEP SENSUALITAS DALAM ANTROPLOGI FILOSOFI FEUERBACH Fidelis Den
Jurnal Alternatif Wacana Ilmiah Interkultural Vol. 12 No. 01 (2023): Jurnal Alternatif Wacana Ilmiah Interkultural
Publisher : STIPAS St. Sirilus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60130/ja.v12i01.125

Abstract

Human being becomes the object of reflection which is always exciting. Its definition always sparks further and in-depth discussion. The ancient philosophers saw man as a thinking animal. That is, humans are biologically the same as animals or plants that require certain natural conditions to be able to live and continue genetic development. Although he is an animal, he is an animal that can realize itself, that at a certain level, he is not much different from animals or plants. That is, he can think rationally when faced with rational things, if he is forced to think and answer questions that require reasonable answers. Modern philosophers continue to reflect on human beings by paying special attention to their rational aspects. Excessive deification of the ability of reason actually gives rise to reductional tendencies. That is, humans are only called, seen or valued as humans if they can apply rational abilities to various situations. If the brain function is disrupted, which reduces or completely eliminates the ability to think, then the quality of humanity decreases or even becomes the same as other creatures that cannot think. A further consequence of the deification of reason is the degradation of body values. The role of the body is no longer central and its presence is nothing more than a means. Feuerbach appears as a defender of the role of the human body. The body is not just a means of complementing humanity but on the contrary, humans do not only have bodies but bodies are humans themselves. The body is the totality of man. Without a body there is no identity. Being in the body means being in the middle of the world. Humans for Feuerbach are sensual creatures with various meanings. [Manusia menjadi objek refleksi yang selalu mengasyikkan. Definisi tentangnya selalu memicu diskusi lebih jauh dan mendalam. Para filsuf kuno melihat manusia sebagai binatang yang berpikir. Artinya, manusia secara biologis sama dengan hewan atau tumbuhan yang membutuhkan kondisi alam tertentu untuk dapat hidup dan melanjutkan perkembangan genetiknya. Walaupun ia adalah binatang, ia adalah binatang yang dapat menyadari dirinya sendiri, bahwa pada tingkat tertentu, ia tidak jauh berbeda dengan binatang atau tumbuhan. Artinya, ia dapat berpikir secara rasional ketika dihadapkan pada hal-hal yang rasional, jika ia dipaksa untuk berpikir dan menjawab pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang masuk akal. Filsuf modern terus merenungkan manusia dengan memberikan perhatian khusus pada aspek rasional mereka. Pendewaan yang berlebihan terhadap kemampuan nalar justru menimbulkan kecenderungan reduksional. Artinya, manusia hanya disebut, dipandang atau dinilai sebagai manusia jika dapat menerapkan kemampuan rasionalnya pada berbagai situasi. Jika fungsi otak terganggu, yang mengurangi atau menghilangkan sama sekali kemampuan berpikir, maka kualitas manusia menurun atau bahkan menjadi sama dengan makhluk lain yang tidak dapat berpikir. Konsekuensi lebih lanjut dari pendewaan akal adalah degradasi nilai-nilai tubuh. Peran tubuh tidak lagi sentral dan kehadirannya tak lebih dari sarana. Feuerbach tampil sebagai pembela peran tubuh manusia. Tubuh bukan hanya sekadar sarana pelengkap manusia, melainkan manusia itu sendiri. Tubuh adalah totalitas manusia. Tanpa tubuh tidak ada identitas. Berada di dalam tubuh berarti berada di tengah dunia. Manusia bagi Feuerbach adalah makhluk sensual dengan berbagai makna.]
ANALISIS TEKSTUAL NILAI KEBHINEKAAN DALAM MATERI PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDI PEKERTI TINGKAT SEKOLAH MENENGAH ATAS UNTUK MENDUKUNG MODERASI BERAGAMA & Vinsensius Nase, Keristian Dahurandi, Ernestina Daimun
Jurnal Alternatif Wacana Ilmiah Interkultural Vol. 12 No. 02 (2023): Jurnal Alternatif Wacana Ilmiah Interkultural
Publisher : STIPAS St. Sirilus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60130/ja.v12i02.129

Abstract

This article contains an analysis of the internalization of the value of diversity in Catholic Religious Education (PAK) for High School (SMA) learning materials to support the implementation of religious moderation efforts in schools. Religious moderation aims to integrate diversity which tends to be a central issue for the life of diversity in Indonesia. Religious issues tend to be sensitive, so the issue of religious freedom is still a question because religious radicalism is prone to occur. One of the causes of radicalism is extreme doctrination that strays far from the authentic meaning of religion. Apart from that, this radicalism is also caused by a lack of understanding of the multicultural concept and Bhinneka Tunggal Ika as a typical model of Indonesian multiculturalism. So to answer this problem, this paper examines the material, basic competencies, indicators of achieving PAK and Budi Pekerti learning competencies at the high school level. The results of the study show that only 49.72% of PAK and Budi Pekerti learning materials at the high school level contain diversity values. These findings show that technically, PAK and Budi Pekerti learning materials can be the cause of intolerant attitudes towards diversity. These findings can be a reference so that the internalization of the value of diversity in PAK and Budi Pekerti learning materials in schools needs to be considered in a balanced manner so that religious moderation can run optimally in Indonesia. Artikel ini berisi analisis internalisasi nilai kebhinekaan dalam materi pembelajaran Pendidikan Agama Katolik (PAK) Sekolah Menengah Atas (SMA) untuk mendukung terlaksananya upaya moderasi beragama di sekolah. Moderasi beragama bertujuan untuk mengintegrasikan keberagaman yang cenderung menjadi persoalan sentral bagi kehidupan kebhinekaan di Indonesia. Masalah-masalah agama cenderung sensitive, sehingga persoalan tentang kebebasan beragama masih menjadi pertanyaan karena radikalisme agama rentan terjadi. Salah satu sebab terjadinya radikalisme adalah doktrinasi ekstrem yang melenceng jauh dari makna otentik agama. Selain itu, radikalisme ini juga disebabkan kurangnya pemahaman tentang konsep multikultural dan Bhineka Tunggal Ika sebagai model khas multikulturalisme Indonesia. Maka untuk menjawab permasalahan tersebut, tulisan ini mengkaji tentang materi, kompetensi dasar, indikator pencapaian kompetensi pembelajaran PAK dan Budi Pekerti tingkat SMA. Hasil kajian menunjukkan bahwa hanya 49,72% materi pembelajaran PAK dan Budi Pekerti pada tingkat SMA yang memuat nilai kebhinekaan. Temuan ini menunjukkan bahwa secara tekstual, materi pembelajaran PAK dan Budi Pekerti dapat menjadi penyebab adanya sikap intoleran terhadap kebhinekaan. Temuan ini dapat menjadi rujukan agar internalisasi nilai kebhinekaan dalam materi pembelajaran PAK di sekolah perlu diperhatikan secara seimbang agar moderasi beragama berjalan secara maksimal di negara Kesatuan Republik Indonesia.
Peranan Gerakan Apostolik Dalam Pelayanan Para Imam dan Kaum Awam Beriman & Fransiskus Heryman Surya Gadur, Angelo Luciani Moa Dosi Woda
Jurnal Alternatif Wacana Ilmiah Interkultural Vol. 12 No. 02 (2023): Jurnal Alternatif Wacana Ilmiah Interkultural
Publisher : STIPAS St. Sirilus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60130/ja.v12i02.130

Abstract

In the life of the Church, especially in the concrete pastoral experience for the people both in the Parishes and religious communities, we found a unique phenomenon, that is the lay Catholic faithful less involved in the office of the Church’s apostolic. The fundamental question is our Church ministry only carried out exclusively by clergy and religious people? How about the role of the lay Catholic people in the mission of the Church? In a way to answer those questions, we try to reflect regarding the faith of the Catholic Church on the office of the Church’s Apostolic in the ministry of the priests and the lay Catholic faithful. For that reason, we investigate the Bible and the Sacred Tradition and especially the work of the Holy Spirit in the Church’s Evangelization. That means we shall investigate the development of faith regarding the Apostolic’s Succession. Obviously, there is a living communion between Local Church and the renewal of the religious life. Simultaneously, there is a warm communion between Universal and Local Church. This theological research reveals that an urgent need to comprehend in a new way the relation between Christology and Pneumatology. The consequences are that we eventually detect the essential relation of the organic unity between hierarchical and charismatic dimension in the Catholic Church. Thus, we shall recognize the important role of the lay people in the life of the Church. In this way, we could understand the obedience to the Holy Spirit and to Church’s hierarchy. Dalam hidup menggereja, terutama dalam pengalaman konkret pastoral bagi umat di Paroki maupun di komunitas religius, kita menjumpai fenomena unik, bahwa umat awam beriman Katolik kurang terlibat dalam karya apostolik Gereja. Pertanyaan mendasarnya ialah apakah pelayanan Gereja hanya ekslusif dilaksanakan oleh kaum klerus dan kaum religius saja? Bagaimana peranan kaum awam beriman Kristiani dalam misi Gereja? Dalam rangka menjawab pertanyaan tersebut, kami mencoba mengelaborasikan, menafsirkan, dan merefleksikan iman Gereja tentang Karya Apostolik Gereja dalam Pelayanan Imam dan Kaum Awam Beriman Katolik. Karena itu, kami menyelidiki ajaran Kitab Suci dan Tradisi Suci, serta Karya Roh Kudus dalam Evangelisasi Gereja. Itu berarti menelusuri perkembangan ajaran iman tentang panggilan dan pelayanan para rasul. Kemudian, kita temukan adanya penerusan tak terputus Suksesi Apostolik dalam Gereja Perdana. Karya Apostolik itu terus berlangsung sepanjang zaman hingga saat ini. Terbukti dengan ada persekutuan antara Gereja Lokal dengan pembaruan hidup religius. Tanpa melupakan kesatuan utuh antara Gereja Universal dan Gereja Lokal. Penelitian Teologis menunjukkan bahwa perlu memahami secara baru relasi Kristologis dan Pneumatologis. Konsekuensinya, kita menemukan relasi hakiki kesatuan organis antara dimensi Hierarkis dan Karismatis dalam Gereja. Maka, kita patut bersyukur akan adanya peranan kaum awam beriman dalam Hidup Gereja. Di satu sisi, kaum awam menghormati hierarki Gereja. Tetapi, di lain pihak, hierarki Gereja menjadi sahabat dekat kaum awam. Dengan kata lain, betapa pentingnya ketaatan kepada Roh Kudus sebagai primat utama dan ketaatan kepada hierarki Gereja.
KITAB WAHYU DALAM GEREJA KATOLIK : Sebuah Proses Memaknai Pengharapan Wilson, Gregorius
Jurnal Alternatif Wacana Ilmiah Interkultural Vol. 12 No. 02 (2023): Jurnal Alternatif Wacana Ilmiah Interkultural
Publisher : STIPAS St. Sirilus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60130/ja.v12i02.131

Abstract

The Book of Revelation is the last book in the Bible. Bible readers (especially Catholics) have very few opportunities to read the Book of Revelation because it does not have much of a place in the Church's Liturgical calendar. The spread of information about the interpretation of the Book of Revelation which leads to predictions of the end times makes people anxious and afraid. In fact, since Jesus died on the Cross, until now, there has never been an end time. The research method used in writing this paper is a library research method by comparing several previous studies to find answers to problems of understanding of the people. The library research method can provide an explanation of the history, culture and background of the Book of Revelation so that readers and people today understand the theological message and reflect it in their lives. The way contemporary people understand the Book of Revelation needs to be renewed with a perspective of hope, so that the text of the Book of Revelation can be reflected in a new way. Hope is one of the three Christian virtues, faith, hope, and love. Hope plays an important role in reflecting on the suffering and difficulties of life. Humans who have hope will interpret suffering as part of their spiritual journey to unite with their Father in Heaven. The Christian people in Asia Minor is described in the Book of Revelation as a congregation that struggled to maintain its faith in the midst of suffering. The text of the Book of Revelation invites readers today to have hope in God's promises, and believe that God will fulfill His promises in the future as described in the prologue and epilogue of the Book of Revelation. Kitab Wahyu merupakan Kitab terakhir dalam Alkitab. Pembaca Alkitab (khususnya Umat Katolik) sangat sedikit mendapat kesempatan membaca Kitab Wahyu karena tidak banyak mendapat tempat dalam penaggalan Liturgi Gereja. Persebaran informasi tentang tafsir Kitab Wahyu yang mengarah pada prediksi akhir zaman membuat masyarakat resah dan ketakutan. Padahal sejak Yesus Wafat di Salib, sampai dengan saat ini, belum pernah terjadi akhir zaman. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode penelitian pustaka dengan membandingkan beberapa penelitian terdahulu untuk menemukan jawaban atas persoalan pemahaman umat. Metode penelitian pustaka dapat memberikan pemaparan sejarah, budaya, dan latar belakang Kitab Wahyu sehingga pembaca dan umat saat ini menangkap pesan teologis dan merefleksikannya dalam kehidupan. Cara jemaat masa kini memahami Kitab Wahyu perlu diperbarui dengan persepktif pengharapan, sehingga teks Kitab Wahyu dapat direfleksikan secara baru. Pengharapan adalah salah satu dari tiga kebajikan Kristiani, iman, harapan, dan kasih. Harapan berperan penting dalam merefleksikan penderitaan dan kesulitan hidup. Manusia yang berpengharapan akan memaknai penderitaan sebagai bagian dari perjalanan rohani untuk bersatu dengan Bapa di Surga. Jemaat Kristen di Asia Kecil, digambarkan dalam Kitab Wahyu sebagai jemaat yang berjuang untuk mempertahankan imannya di tengah penderitaan. Teks Kitab Wahyu mengajak pembaca saat ini untuk berpengharapan pada janji Allah, dan percaya bahwa Allah akan menggenapi janji-Nya pada saatnya kelak seperti yang digambarkan dalam prolog dan epilog dari Kitab Wahyu.
IMAM DAN LARANGAN BERPOLITIK PRAKTIS: MENIMBANG RELEVANSI PENEGASAN MAGISTERIUM GEREJA DI TENGAH GEMURUH POLITIK MENJELANG PEMILU 2024 & Benediktus Denar, Rikardus Moses Jehaut
Jurnal Alternatif Wacana Ilmiah Interkultural Vol. 12 No. 02 (2023): Jurnal Alternatif Wacana Ilmiah Interkultural
Publisher : STIPAS St. Sirilus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60130/ja.v12i02.134

Abstract

This article is focused on a juridical analysis of the prohibition against priests from being involved in practical politics in the light of the confirmation of the Church's magisterium and its relevance to the 2024 general elections. Using document study methods, this article shows that on the one hand, priests have political rights and therefore they can and even have to get involved in politics for the sake of the general welfare, but on the other hand, they are prohibited from getting involved in practical politics which is directly related to civil power. This prohibition is not intended to limit the political rights of priests but rather is due to considerations of the identity of priests as spiritual ministers, their mission to create peace and harmony and respect for the laity. The author argues that this prohibition is very relevant in the context of the upcoming 2024 elections. Priests must take this Church prohibition seriously and Ordinaries must undertake pastoral and juridical interventions if circumstances demand it. Key Words: Priest, prohibition, practical politics, Church’s magisterium Artikel ini difokuskan pada analisis yuridis tentang larangan terhadap para imam untuk terlibat dalam politik praktis dalam terang penegasan magisterium Gereja dan relevansinya terhadap pemilihan umum 2024. Dengan menggunakan metode studi dokumen, artikel ini memperlihatkan bahwa di satu pihak, imam memiliki hak politik dan karena itu mereka dapat dan bahkan harus terlibat dalam politik demi kesejahteraan umum, namun di lain pihak, mereka dilarang untuk terlibat dalam politik praktis yang berhubungan dengan kekuasaan sipil. Larangan ini tidak dimaksudkan untuk memasung hak politik imam melainkan karena pertimbangan identitas imam sebagai pelayan rohani, misi mereka untuk menciptakan perdamaian dan kerukunan serta penghormatan terhadap kaum awam. Penulis berargumentasi bahwa larangan ini sangat relevan dalam konteks pemilu 2024 yang akan datang. Para imam harus memperhatikan secara serius larangan Gereja ini dan para Ordinaris harus melakukan intervensi pastoral dan yuridis jika keadaan menuntut untuk itu. Kata Kunci: Imam, larangan, politik praktis, magisterium Gereja
Upaya Meningkatkan Regulasi Diri Pada Mahasiswa & Jenni Marlina, emanuel haru, Fidelis Den
Jurnal Alternatif Wacana Ilmiah Interkultural Vol. 12 No. 02 (2023): Jurnal Alternatif Wacana Ilmiah Interkultural
Publisher : STIPAS St. Sirilus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60130/ja.v12i02.135

Abstract

Abstract Self-regulation is one of the abilities that everyone must have in order to achieve goals based on the desired standards. This article aims to discuss self-regulation of a student at college as one of the abilities that must be possessed in order to achieve his/her learning goals. There are several problem formulations presented in this article. First, what is self-regulation? Second, what are the dimensions of self-regulation? Third, what factors influence self-regulation of a student at a college? Fourth, what efforts are being made to increase self-regulation of a student at a college? By using literature study methods and reviewing research findings regarding self-regulation, the author concludes as follows. First, self-regulation is an individual's ability to organize, direct and control themselves so that they remain on the goals they want to achieve and in accordance with the desired standards. Second, aspects of self-regulation are: metacognitive, motivation and positive action. Third, the factors that influence students' self-regulation are internal and external factors. Internal factors are motivation, having academic goals, self-adaptation abilities and previous experience. While external factors are social support from peers, family (parents) and lecturers. Fourth, efforts to increase self-regulation of a student at a college are: making a regular schedule, setting clear goals, applying management techniques, avoiding procrastination and forming good study habits. Regulasi diri merupakan salah satu kapasitas yang harus dimiliki setiap orang agar dapat mencapai tujuan sesuai standar yang diinginkan. Artikel ini bertujuan untuk membahas regulasi diri mahasiswa di perguruan tinggi sebagai salah satu kapasitas yang harus dimiliki guna mencapai tujuan belajarnya. Ada beberapa rumusan masalah yang disajikan dalam artikel ini. Pertama, apa yang dimaksudkan dengan regulasi diri? Kedua, apa saja dimensi regulasi diri? Ketiga, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi regulasi diri seorang mahasiswa di suatu perguruan tinggi? Keempat, upaya-upaya apa saja yang dilakukan untuk meningkatkan regulasi diri mahasiswa di suatu perguruan tinggi? Dengan menggunakan metode studi literatur dan mengkaji temuan penelitian mengenai regulasi diri, disimpulkan sebagai berikut. Pertama, regulasi diri merupakan kemampuan individu dalam mengatur, mengarahkan dan mengendalikan dirinya agar tetap pada tujuan yang ingin dicapainya dan sesuai dengan standar yang diinginkan. Kedua, aspek-aspek regulasi diri yaitu: metakognitif, motivasi dan tindakan positif. Ketiga, faktor-faktor yang mempengaruhi regulasi diri mahasiswa adalah faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah motivasi, memiliki tujuan akademik, kemampuan adaptasi diri dan pengalaman sebelumnya. Sedangkan faktor eksternal adalah dukungan sosial dari teman sebaya, keluarga (orang tua) dan dosen. Keempat, upaya-upaya untuk meningkatkan regulasi diri seorang mahasiswa di perguruan tinggi adalah: membuat jadwal yang teratur, menetapkan tujuan yang jelas, menerapkan teknik manajemen, menghindari prokrastinasi dan membentuk kebiasaan belajar yang baik. 
LEIN LAU WUKA GAPA, WERAN RAE SEMU LIMA: MENAKSIR MITOS DAN PESAN DIDAKTIS UNTUK KAWULA MUDA & Silvester Manca, Yosef Masan Toron
Jurnal Alternatif Wacana Ilmiah Interkultural Vol. 12 No. 02 (2023): Jurnal Alternatif Wacana Ilmiah Interkultural
Publisher : STIPAS St. Sirilus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60130/ja.v12i02.139

Abstract

Mitos is always understood as a story, inherited from the old generation. Claude Levi Strauss, underlined that mitos is not only a story telling about the experience in the past among the deities but contained also different precious values for the new generation. This article is written based on the research done among the people in Tanalein, a village found in Solor Island, East Flores. There are different clans and tribes living together in this area. Each tribes have different mitos formulated in different oral tradition. Based on the problems among the young people in this area, I have been trying to study the old mitos of Suku Lein. One of the old tribe came to this area, analysing and trying to find the didactic values for the formation of the young people. Education as a way of preparing the young generation for the future must be based on the values of local culture. Mitos selalu dipahami sebagai sebuah kisah atau cerita yang diwariskan dari generasi terdahulu. Mitos tidak sekadar sebuah kisah yang menceritakan pengalaman masa lampau di kalangan para dewa-dewi tetapi sekaligus berisikan berbagai nilai yang berharga untuk generasi masa kini. Artikel ini ditulis berpijak pada penelitian lapangan yang dilaksanakan di Desa Tanalein, sebuah desa yang ada di Pulau Solor, Larantuka, Kabupaten Flores Timur. Dalam desa ini terdapat banyak suku yang hidup bersama. Setiap suku memiliki mitos yang berbeda, yang diungkapkan dalam berbagai bentuk tradisi lisan. Merujuk pada permasalahan yang sedang dihadapi generasi milenial di kawasan ini, penulis berusaha untuk mempelajari mitos suku Lein, salah satu suku penghuni pertama dari kawasan ini. Penulis berusaha membuat analisa dan menumukan pesan didaktis demi pembentukan generasi milenial. Pendidikan sebagai salah satu jalan mempersiapkan generasi milenial pada masa yang akan datang hendaknya berpijak pada nilai-nilai kebudayaan lokal.  

Page 10 of 11 | Total Record : 107