cover
Contact Name
Maria Evvy Yanti
Contact Email
jurnalefata@gmail.com
Phone
+6281312414725
Journal Mail Official
jurnalefata@gmail.com
Editorial Address
Jl. Wijaya I No.29-31, RT.2/RW.4, Petogogan, Kec. Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12170
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Efata: Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 24771333     EISSN : 27228215     DOI : https://doi.org/10.47543
Jurnal EFATA merupakan wadah publikasi online hasil penelitian para dosen di Sekolah Tinggi Teologi Iman Jakarta, pada bidang teologi dan pelayanan Kristiani. Jurnal EFATA diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Iman Jakarta, dengan Focus and Scope adalah: 1. Teologi Sistematika 2. Teologi Biblika 3. Teologi Pastoral 4. Misiologi 5. Pelayanan Kristiani
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 2: Juni 2022" : 6 Documents clear
Tradisi Hombo Batu dalam Masyarakat Suku Nias: Sebuah Perspektif Alkitab tentang Pelestarian Budaya Bawamenewi, Yunida; Arifianto, Yonatan Alex
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8, No 2: Juni 2022
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v8i2.63

Abstract

Each tribe and belief adopted from various regions has its own way of expressing its culture and beliefs, which can be seen from the way the community performs ritual events as a tradition in each tribe regarding the culture and beliefs they hold. The writing in this paper uses literature research where the research method is carried out with a descriptive qualitative approach and hopes that the people on Nias Island view every tradition that exists on Nias Island from a Christian point of view and can provide an understanding that every tradition on Nias Island, has a very beautiful and unique meaning, and invites the people of Nias to always maintain, develop and preserve the existing culture based on Bible truth.  AbstrakSetiap suku dan kepercayaan yang dianut dari berbagai daerah memiliki tata cara tersendiri dalam mengungkapkan kebudayaan dan kepercayaannya yang dapat dilihat dari cara masyarakat melakukan acara ritual sebagai tradisi di setiap suku yang menyangkut  kebudayaan dan kepercayaan yang dianut. Penulisan dalam paper ini, dengan menggunakan penelitian pustaka dimana metode penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif dan berharap masyarakat di Pulau Nias memandang setiap tradisi yang ada di Pulau Nias dari sudut pandang ke Kristenan serta dapat memberikan pemahaman bahwa setiap tradisi yang ada di Pulau Nias, memiliki makna yang sangat indah dan unik, serta mengajak masyarakat Nias untuk selau menjaga, mengembangkan dan melestarikan budaya yang ada berdasarkan pada kebenaran Alkitab. 
Rekonstruksi Misi Hospitalitas Gereja melalui Pembacaan Ulang Kisah Para Rasul 2:41-47 dalam Bingkai Moderasi Beragama di Indonesia Siahaan, Harls Evan R.; Hartono, Handreas; Tjiptosari, Yogi
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8, No 2: Juni 2022
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v8i2.62

Abstract

Moderasi beragama menjadi salah satu tema yang sedang digalakkan di lingkungan Kementrian Agama Republik Indonesia; dalam rangka menghadapi berbagai kecenderungan negatif, disruptif, hingga destruktif, yang dibangun atas nama agama. Fundamentalisme, radikalisme, dan terorisme telah meningkat eskalasinya, sehingga membutuhkan penanganan yang serius dari berbagai pihak, termasuk kelompok Kristen. Sentimen kelompok menjadi ekses yang bertumbuh subur seiring polarisasi masyarakat yang juga dipengaruhi oleh praktik politik identitas. Sentimen itu tidak muncul secara instan, namun dapat disinyalir sebagai respon yang terakumulasi oleh, salah satunya, pola beragama yang sarat dengan nuansa kolonial dengan jargon evangelisasi di masa lalu. Pekabaran Injil telah meninggalkan jejak stigma kristenisasi, karena begitu sarat dengan semangat kolonialisme. Itu sebabnya, gereja perlu membangun sebuah konstruksi misi yang ramah dan anti-kolonial, melalui refleksi biblikal, atau pembacaan ulang nas kitab suci yang kerap digunakan sebagai dasar bermisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengonstruksi sebuah bentuk misi yang berbasis hospitalitas di kalangan kelompok Pentakostal dan Karismatik, melalui pembacaan ulang Kisah Para Rasul 2:41-47 dengan bingkai moderasi beragama di Indonesia. Penilitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan metode deskriptif analisis interpretatif. Data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah teks Kisah Para Rasul 2:41-47, sebagai landasan konseptual misi hospitalitas, dengan membandingkannya terhadap konsep hospitalitas. Hasil rekonstruksi teks menunjukkan bahwa misi yang ditunjukkan melalui Kisah Para Rasul 2:41-47 merupakan misi hospitalitas. Kesimpulannya, Kekristenan perlu membangun doktrin misi yang hospitalitas sebagai bentuk moderasi beragama.
Rancang Bangun Pewartaan Injil pada Suku Nias melalui Sanggar Tari Mendrofa, Eriyani; Suseno, Aji; Anjaya, Carolina Etnasari
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8, No 2: Juni 2022
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v8i2.67

Abstract

Evangelism in Nias is something that is rarely done considering that Christianity has become the religion of the majority of the community. This religious status was obtained from birth because he followed the religion of his parents. However, this does not guarantee that someone has accepted Jesus as Lord and Savior, there are still churches that have not experienced being born again. That is why evangelism is still done in order to experience the new birth and become a true Christian. From the perspective of the Great Commission, preaching the gospel is a task that must be carried out by every believer. How evangelism is carried out in Nias, how dance culture studios serve as doors for evangelism, as well as the application of the Great Commission through culture are the main topics of discussion in this paper. The method used is a literature study with qualitative analysis, using books and research results on Nias. There are three stages of evangelism carried out, namely: introductions based on friendship (Fahuwusa), associations packaged in the form of dance studio exercises (angowuloa), and gospel preaching (Foturiaigo). The dance studio is an attraction for young Nias people to be willing to spend time together. The meeting will be accompanied by a prayer meeting and spiritual guidance. The purpose of this research can be used as a basis for preaching the gospel to the Nias people with a cultural approach.  AbstrakPewartaan Injil di Nias merupakan suatu hal yang jarang dilakukan mengingat agama Kristen telah menjadi agama mayoritas masyarakat.  Status agama tersebut diperoleh sejak lahir karena mengikuti agama orangtua. Namun, hal itu tidak menjamin seseorang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, masih juga terdapat jemaat yang belum mengalami lahir baru.  Itulah sebabnya penginjilan tetap dilakukan agar mengalami kelahiran baru dan menjadi Kristen sejati. Dalam perspektif Amanat Agung, pemberitaan Injil merupakan suatu tugas yang harus dilakukan oleh setiap orang percaya. Bagaimana penginjilan dilakukan di Nias, dan seperti apa sanggar budaya tari menjadi pintu penginjilan, serta penerapan Amanat Agung melalui budaya merupakan pokok pembahasan dalam tulisan ini.  Metode yang dipakai adalah studi pustaka dengan analisis kualitatif, menggunakan buku-buku dan hasil penelitian tentang Nias. Ada tiga tahap penginjilan yang dilakukan yaitu: perkenalan yang dilandasi dengan dasar persahabatan (fahuwusa), perkumpulan yang dikemas dalam bentuk latihan sanggar tari (angowuloa), dan pemberitaan Injil (Foturiaigo).  Sanggar tari merupakan daya tarik bagi anak muda Nias agar bersedia meluangkan waktu berkumpul.  Dalam pertemuan tersebut akan disertai dengan persekutuan doa dan bimbingan rohani. Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai dasar untuk memberitakan Injil pada suku Nias dengan pendekatan budaya. 
Problematika Interpretasi Hukum "Jangan Berzinah" dalam Keluaran 20:14: Sebuah Landasan Etis bagi Keluarga Kristen Yanti, Maria Evvy; Mandosir, Glifia Talita
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8, No 2: Juni 2022
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v8i2.65

Abstract

 Exodus 20:1-17 as the moral and spiritual foundation of the Israelites has many interpretations in its understanding of relevance. Of the many interpretations, there is a tendency to associate it with the law for the violation of sexual behavior between human beings. This interpretation becomes problematic when dealing with the context of the placement of the word in the command sentence. There are dualistic ideas about the understanding of adultery in the Bible from a spiritual and physical perspective. Spiritually adultery is the same as praying for the Lord God or worshipping idols. But physically adultery is shown by sex performed by couples who have not been blessed in marriage. The variety of interpretations of these entities should be viewed in a dynamic position of thought. Therefore this paper shows the entity of adultery based on the analysis of the meaning of the word in the context of its creation taking into account the theological consequences for the present-day reader in the family community. By placing this ethical command in the framework of decalogues, the aspect of fidelity in the marital relationship of a family cannot be separated from fidelity to God.AbstrakKeluaran 20:1-17 sebagai landasan moral dan kerohanian bangsa Israel memiliki banyak penafsiran dalam pemahaman relevansinya. Dari sekian banyak penafsiran terdapat kecenderungan untuk mengaitkannya dengan hukum atas pelanggaran perilaku seksual antara manusia. Penafsiran ini menjadi problematis ketika berhadapan dengan konteks penempatan kata dalam kalimat perintah tersebut. Terdapat gagasan-gagasan dualistis mengenai pemahaman perzinahan di dalam Alkitab dari sisi rohani dan fisik. Secara rohani perzinahan sama dengan menduakan Tuhan Allah atau melakukan penyembahan kepada berhala. Namun secara fisik perzinahan diperlihatkan dengan hubungan seks yang dilakukan oleh pasangan yang belum diberkati dalam pernikahan. Beragam penafsiran entitas ini seharusnya dilihat dalam posisi pemikiran yang dinamis. Oleh karena itu tulisan ini memperlihatkan entitas dari perzinahan berdasarkan analisis makna kata dalam konteks terciptanya dengan mempertimbangkan konsekuensi teologi bagi pembaca masa kini dalam komunitas keluarga. Dengan menempatkan perintah etis ini dalam kerangka dekalog maka aspek kesetiaan dalam relasi pernikahan sebuah keluarga tidak dapat dipisahkan dengan kesetiaan kepada Tuhan.
Model Pembinaan yang Holistik di Asrama bagi Mahasiswa Teologi Setyo Utomo, Bimo; Tjondro, Eddy
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8, No 2: Juni 2022
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/.v8i2.61

Abstract

Dormitories in a theological education institution not only function to be a shelter for students, but also a place for students to learn from each other's respective regional cultures, learn to socialize, learn to train sensitivity or care, learn to obey and submit to the coaches, and become personal who has the character of Christ. In the field, it is undeniable that there are many problems, such as problems due to diverse student backgrounds, student discipline, student social interactions with the outside world, student adaptation patterns in various dormitories, and many other things. The methodology used in this research is descriptive and qualitative. Support from the Bible and several biblical sources are also presented in a systematic description according to the framework of thinking. From the results of the study, it was found that there were six formulations of student development models in theological institutions in dormitories that were holistic and ideal, namely (1) a spiritual-centered coaching model, (2) a transformative coaching model, (3) an integrative and holistic coaching model, (4) structured discipline model, (5) projective and anticipatory coaching model, and (6) teamwork coaching model.  AbstrakAsrama dalam sebuah institusi pendidikan teologi tidak hanya berfungsi untuk menjadi tempat penampungan mahasiswa saja, tetapi juga merupakan wadah mahasiswa saling belajar budaya daerah masing-masing, belajar bersosialisasi, belajar untuk melatih kepekaan atau kepedulian, belajar untuk taat dan tunduk pada pembina, serta menjadi pribadi yang memiliki karakter Kristus. Di dalam lapangan tidak dipungkiri terdapat banyak masalah, seperti misalnya permasalahan karena latar belakang mahasiswa yang beragam, kedisiplinan mahasiswa, interaksi sosial mahasiswa dengan dunia luar, pola adaptasi mahasiswa di asrama yang beragam, dan masih banyak hal lainnya. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif diskriptif. Dukungan dari Alkitab dan beberapa sumber pustaka juga dipaparkan dalam sebuah uraian sistematis sesuai dengan kerangka berpikir. Dari hasil penelitian, didapatkan enam rumusan model pembinaan mahasiswa di institusi teologi berasrama yang holistik dan ideal, yaitu (1) model pembinaan yang berpusat pada hal rohani, (2) model pembinaan transformatif, (3) model pembinaan integratif dan holistik, (4) model disiplin terstruktur, (5) model pembinaan proyektif dan antisipatif, serta (6) model pembinaan teamwork.
Musik Sebagai Media Terapi Penyembuhan: Sebuah Penelusuran Historis dalam Alkitab Simanjuntak, Fredy
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8, No 2: Juni 2022
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v8i2.66

Abstract

Music has evolved in such a way, including within the church itself, but there is a part of music that is often overlooked in the church, namely the power of music in healing. In particular, the researcher takes the setting of the use of music in pentecostal-charismatic churches. This paper is a historical search in the Bible regarding the use of music in worship as a healing medium. The researcher as one of the music activists in the church gives an assessment that the sound produced by musical instruments in a series of praise and worship in worship affects the welfare of the congregation. The type of research used is descriptive research, using a qualitative approach. Researchers conclude that musical healing is real and far from speculation. Relying on the biblical basis of music as a therapeutic medium, the researchers revealed that music has the potential to have a therapeutic function in worship.  AbstrakMusik telah berkembang sedemikian rupa termasuk di dalam gereja sendiri, namun ada bagian dari musik yang sering terabaikan dalam gereja, yaitu kekuatan musik dalam kesembuhan. Secara khusus peneliti mengambil setting penggunaan musik pada gereja-gereja bercorak pentakosta-kharismatik. Tulisan ini merupakan sebuah penelusuran historis dalam Alkitab mengenai penggunaan musik dalam ibadah sebagai media penyembuhan. Peneliti sebagai salah seorang penggiat musik dalam gereja memberikan penilaian bahwa suara yang dihasilkan oleh alat musik dalam rangkaian pujian maupun penyembahan dalam ibadah mempengaruhi kesejahteraan jemaat. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif, dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Peneliti menyimpulkan bahwa penyembuhan musik adalah nyata dan jauh dari spekulasi. Mengandalkan dasar alkitabiah musik sebagai media terapi, peneliti mengungkapkan bahwa musik berpotensi terhadap fungsi terapi dalam ibadah.  

Page 1 of 1 | Total Record : 6