cover
Contact Name
Iqmal Tahir
Contact Email
iqmal@ugm.ac.id
Phone
+628999411449
Journal Mail Official
jpe-ces@ugm.ac.id
Editorial Address
Editor Jurnal Manusia dan Lingkungan Pusat Studi Lingkungan Hidup - Universitas Gadjah Mada (PSLH - UGM) Komplek UGM, Jalan Kuningan, Jalan Kolombo, Catur Tunggal, Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Manusia dan Lingkungan
ISSN : 08545510     EISSN : 24605727     DOI : https://doi.org/10.22146/jml.30101
Jurnal Manusia dan Lingkungan is published by the Center for Environment Studies, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. The journal is focused to the relationship between people and its environment that are oriented for environmental problems solving. Jurnal Manusia dan Lingkungan receives a manuscript with interdisciplinary and multidisciplinary approach Abiotic : physical, chemical, technical, geo-environmental science and modelling science Biotic : environmental biology, ecology, agro environment Culture : environmental-socio,-economics,-culture, and environmental health.
Articles 444 Documents
PERSEPSI MASYARAKAT ADAT TERHADAP IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) DI NUSA CENINGAN, KLUNGKUNG, BALI (The Indigenous Society Perception towards The Reghional Spatial Planning Implementation In Nusa Ceningan, Klungkung, Bali) IGM. Konsukartha; T. Gunawan; I.B. Mantra
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 10, No 3 (2003): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18612

Abstract

ABSTRAKPembangunan Bali tidak dipisahkan dari Trihita Karana (Parhyangan, Palemahan dan Pawongan), karena sejak abad X orang Bali telah memiliki perencanaan spasialnya yang diaplikasikan pada pemukiman tradisional. Kemunculan gagasan perencanaan spasial oleh pemerintah berimplikasi pada pengelolaan konversi pola spasial, dan eksploitasi sumber daya alam yang merusak masyarakat adat, termasuk aspek fisik, sosio ekonomik, dan sosial budaya. Nusa Ceningan merupakan bagian daerah pengembangan Nusa Penida, dipilih sebagai daerah penelitian dengan dasar pertimbangan dikotomi perencanaan spasial. Konflik pengguna spasial yang terdiri atas elit pemerintah, elit ekonomi dan elit masyarakat (adat) disebabkan oleh adanya dikotomi kepentingan dari masyarakat adat dan gagasan pemerintah dalam perencanaan spasial. Masyarakat adat dilihat hanya sebagai objek (subordinat) dibandingkan dengan pemerintah karena otoritas pemerintah selalu dominan dalam perencanaan spasial. Dengan demikian kepentingan masyarakat adat sering kali dikalahkan dan dimarginalisasikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kombinasi kualitatif dan kuantitatif dengan memanfaatkan prinsip-prinsip trianggulasi. Data dikumpulkan dengan metode survei, wawancara yang mendalam, FGD, dan dokumen terdahulu. Data dianalisis secara kuantitatif dengan tabel single frekuency untuk menentukan fenomena, ekspresi dan variabel dominan. Selanjutnya variabel dominan tersebut dieksplorasi melalui metode kualitatif. Konversi pola spasial dan pengelolaan sumberdaya alam memiliki pengaruh terhadap struktur fisik konversi ruang tradisional dan perubahan sosial budaya diantara komponen parhyangan, palemahan dan pawongan. ABSTRACTBali development areas are unseperated from trihita karana (parhyanga, palemahan and pawongan) terms, because since 10th century Balinese have had their own spatial planning which applied on the traditional housing. The emergence of government idea’s on spatial planning have implicated the spatial pattern conversion management and natural resources exploitation that damage the indigeneous society, including the physical, socio-economic and socio-culture aspects. Nusa Ceningan constitutes Nusa Penida developing areas in this research is purposively chosen with the spatial planning dichotomies concideration. The conflict of the spatial users consists of the elite government, elite economic (nongovernment) and elite society (indigenous) are caused by the both dichotomies interest of the indigenous society and government idea’s on spatial planning respectively. The indigenous society are seen as the object (subordinate) as opposed to the government because its authority are always become a subject (dominant) of spatial planning, so that the indigenous society interest are negated and finally be marginalized. The research method applies the combination of both qualitative and qualitative approaches with triangulation principle. The qualitative and qualitative data were both collected by survey method, depth interview, focused group discussion and document over view. Data were analyzed quantitatively by single frequency table to find out the fenomena, expression and dominant variable are explored through qualitative data and be analyzed by qualitative description. The spatial pattern conversion and natural resources management have influences the physical structure of traditional space conversion and socioculture shifting among the parhangan, palemahan and pawongan components.
PERSEPSI DAN PERILAKU,NELAYAN DALAM MEMANFAATKAN SUMBER DAYA LAUT DI PULAU KODINGARENG, SULAWESI SELATAN (Fisherman Perception and Behavior of Marine Resources Exploitation in Kodingareng Island, South Sulawesi) S.A. Bachtiar; B. Setiawan; Sunarto Sunarto
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 10, No 3 (2003): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18613

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi nelayan tentang pentingnya ekosistem terumbu karang, serta perilaku nelayan dalam memanfaatkan sumber daya alam laut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan menggunakan kuesioner (sebagai alat bantu untuk mengukur tingkat pengetahuan dan persepsi nelayan), kemudian dilakukan pengkategorian dengan menggunakan indeks komposit. Untuk menggambarkan perilaku nelayan yang terkait dengan sistem spasial digunakan metode pemetaan perilaku, dengan peta dasar sebagai alat bantu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi kerusakan terumbu karang yang signifikan karena penggunaan bom oleh nelayan. Penelitian juga menemukan bahwa tingkat persepsi nelayan yang melakukan penangkapan non destruktif untuk kategori "sedang" sebanyak 21% dan kategori "baik" sebanyak 79%, sedang yang melakukan penangkapan destruktif untuk kategori "sedang" sebanyak 85% dan kategori "baik" sebanyak 15%. Penelitian ini menemukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara persepsi dan perilaku. Perilaku nelayan, khususnya yang destruktip lebih disebabkan karena faktor tekanan ekonomi serta longgarnya sistem kontrol sosial yang ada. Diperlukan upaya-upaya untuk memperkuat kontrol sosial untuk mencegah kerusakan lingkungan yang semakin parah, khususnya penggunaan bom oleh nelayan untuk menangkap ikan. ABSTRACTThis research aims to explore fishermen perception and their attitude toward their surrounding environment, particularly the important of coral reef ecosystem and marine resources exploitation. This research was conducted by survey method with questionnaire to explore fishermen perception. These data were then analyzed and categorized by composite index. The behavior mapping was conducted to explore that fishermen behavior in exploiting marine resources (fish) in the area.The results found that the using of bomb for fish coaching has caused environmental damaged, particularly the coal reef. The research also found that the perception of non-destructive fishermen for “fair” category is 21% and for “good” category is 79%. While for destructive fishermen for “fail” category is 85% and for “good” category is 15%. The research found that there is no significant relation between fishermen perception and behavior. The fishermen behavior is influences more by external factors particularly economic pressure and social control. The research recommends that efforts to strengthen social controllare crucial to minimized environmental destruction in the area caused by un-friendly behavior  of the fishermen, particularly the using of bomb for caching fish.
EFISIENSI PEMANFAATAN LAHAN PERKOTAAN MELALUI PENGEMBANGAN PENGISIAN DI YOGYAKARTA (Urban Land Use Efficiency through Infill Housing Development in Yogyakarta) Suradi Suradi; Bakti Setiawan
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 11, No 1 (2004): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18614

Abstract

ABSTRAKPerkembangan perkotaan di lndonesia pada umumnya dicirikan dengan pengembangan perumahan di wilayah pinggiran kota yang berpola sprawl yang menciptakan efek negative antara lain: menjauhkan penduduk dari tempat kerja. polusi. dan konversi lahan pertanian di pinggiran. Pola pengembangan yang baru sangat diperlukan untuk mengarahkan perkembangan kota yang lebih efisien termasuk juga melalui cara infill development. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan dan mengevaluasi pembangunan perumahan melalui model pengisian di Kota Yogyakarta, khususnya menyangkut pola perkembangannya. motivasi pengembangannya. dan pengaruhnya pada perkembangan kota. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infill development di Yogyakarta mempunyai karakteristik sebagai berikut (1) merupakan perumahan untuk kelas menengah dan mewah. (2) umumnya merupakan rumah dengan 1-2 lantai, (3) berkepadatan sedang.(4) sebagian besar lahan yang dipakai adalah lahan kosong. Penelitian ini menengarai bahwa pemerintah kota tidak secara sadar mendukung model pengembangan ini karena tidak mengetahui manfaatnya. Dengan kata lain, infill development, yang terjadi di lapangan merupakan respon pasar terhadap kebutuhan rurnah. Model ini membawa beberapa manfaat positip antara lain (1) effisiensi lahan. (2) perkembangan kota yang lebih kompak. (3) meningkatkan suplai perumahan, dan (4) meningkatkan aktivitas ekonomi pada wilayah tersebut. ABSTRACTUrban growth in Indonesia is generally characterized by suburban housing development in a sprawling pattern creating negative impacts such as: inefficient use of land, land speculation, conversation of agricultural land, inefficient infrastructures, and travel cost. New pattern of urban growth is needed to direct urban development in a more sustainable ways. In the West, infill development is considered as an alternative  for a more efficient urban development which in turn facilitate sustainable city. This paper documents and evaluates infill housing development pattern in Yogyakarta, focuses on spatial aspects. The paper shows that infill development in Yogyakarta is characterized by (1) luxurious and good housing, (2) mostly 1-2 floor, (3) medium density housing, and (4) most of the site are vacant land. It argues that the government did not recognize this pattern in a supportive way. In other words, infill development happened in the city more as a respond to the housing market. However, this infill pattern brings several positive  impacts including (1) more efficient use of land, (2) more compact urban growth, (3) increasing housing supply, (4) more efficient of urban infrastructures, and (5) increasing economic activity in the area.
STRATEGI PENGEMBANGAN PERTANIAN DAN KONSERVASI LAHAN DI KAWASAN SEGARA ANAKAN, JAWA TENGAH (Agriculture and Land Conservation Development Strategy in Segara Anakan Region, Central Java, Indonesia) Suratman Suratman; Miseri Roeslan Afany
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 11, No 1 (2004): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18615

Abstract

ABSTRAKSegara Anakan merupakan suatu kesatuan kawasan laguna yang mempunyai keunikan, tidak sebagaimana umumnya lahan pantai pasang surut di Indonesia. Beberapa keadaan dan proses yang khas terjadi di kawasan ini, antara lain adanya pasang surut yang bergantian secara musiman antara air asin dan tawar, sedimentasi sungai sangat cepat sehingga terbentuk “tanah timbul”, penyempitan kawasan perairan, pembentukan dan perubahan alur sungai, serta penciutan hutan mangrove. Keadaan ini menyebabkan perubahan yang drastis terhadap mata pencaharian penduduk yang tadinya nelayan menjadi petambak dan petani. Untuk itu diperlukan masukan strategi pengembangan pertanian yang sesuai dengan karakteristik lahan yang khas tersebut. Sesuai dengan karakteristik lahannya, daerah ini dapat dikelompokkan menjadi zona pengembangan tambak, pengembangan lahan basah, lahan kering, tanaman tahunan, dan areal konservasi. Dari segi konservasi diperlukan tindakan pengendalian sedimen dan mempertahankan keberadaan areal sempadan pantai dan hutan mangrove. ABSTRACTSegara Anakan is a lagoon which has unique characteristics different from other swamp lands in Indonesia. Its characteristics include seasonal fluctuation of fresh water river and sea water, rapid river sedimentation, narrowing water area, forming and changing river channels, and decreasing forest area. These phenomena have drastically changed people occupation. They, who were previously fishermen, have changed to be farmers. These conditions require an agriculture development strategy suitable for that area. Based on its characteristics, the area can be categorized into development zones for fishpond, wetland, dry land, annual crop, and conservation. This area requires actions to control the sedimentation process for maintaining its coastal belt and mangrove forest.
SUMBER KONFLIK DAN POTENSI PENERAPAN ALTERNATIF PENYELESAIAN KONFLIK (APK) DALAM SENGKETA LINGKUNGAN HIDUP(Conflict Sources and the Potential of Alternative Dispute Resolution (ADR) Application on Environmental Conflict: The Case of Sasorladang Community) Tua Hasiholan Hutabarat
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 11, No 1 (2004): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18616

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini mengkaji konflik lingkungan yang terjadi antara masyarakat Porsea dengan PT. Inti Indorayon Utama (IIU). Konflik ini terjadi berkepanjangan karena tidak bertemunya faktor-faktor rasional dan irasional. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana faktor-faktor yang irasional bekerja dalam penyelesaian konflik melalui Altemative Dispute Resolution (ADR). Penelitian ini menggunakan metodologi deskriptif melalui survai baik dengan kuesioner maupun interview. Penelitian ini menemukan bahwa dari 4 faktor rasional yang dipertimbangkan dalam penyelesaian konflik hanya faktor penerimaan bantuan yang berkorelasi dengan pengembangan sikap masyarakat. Adapun faktor-faktor irasional memiliki relasi, dan faktor etnosentrik manjadi faktor yang paling berpengaruh. ABSTRACTThis research was carried out based on an environmental conflict phenomenon between Porsea people, especially Sosorladang, and PT Inti Indorayan Utama or Toba Pulp Lestari (PT IIU/TPL). Occurred four years, the conflict is difficult to resolve due to some irrational factors aside from rational ones that should have made the conflict resolution realistic. The research aims to identify how the nonrealistic conflict influences an unfeasibility of solution through an approach of Alternative Dispute Resolution (ADR). The method used was a combination of survey and descriptive approaches. The main means of data collection questionnaire supported by in-depth interview and direct field observation, including the company environment. Data derived from questionnaire and interview were analyzed by examining their correlation. The result of the correlation test show that among four rational factors considered, only aid acceptance factor that has relation in building up the societal attitude. The irrational factors prove a real relationship, and the ethnocentric factor become the most influential factor. It is proven that the conflict between the inhabitant and company is due to a nonrealistic factor.
KONSENSUS SEBAGAI PILAR UTAMA GOOD GOVERNANCE DALAM PENGELOLAAN TANAH ULAYAT DI KABUPATEN KUANTAN SINGINGI PROVINSI RIAU (Consensus as the Main Pillar of Good Governance in Managing Tanah Ulayat in the Regency of Kuantan Singingi Riau Province) Agus Mandar; Purwo Santoso; Josef Riwu Kaho
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 11, No 1 (2004): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18617

Abstract

ABSTRAKSalah satu persoalan penting pembangunan di Kabupaten Kuantan Singingi adalah konflik dalam pengelolaan tanah ulayat. Terjadi paling tidak 15 kasus konflik yang melibatkan masyarakat lokal dan perusahaan di kabupaten ini. Berdasarkan hasil penyelesaian konflik terdapat 3 katagori penyelesaian yakni: penyelesaian kasus yang penuh, penyelesaian semu, dan tanpa penyelesaian. Penelitian ini bertujuan mengkaji mekanisme penyelesaian konflik tanah ulayat. Melalui teori good governance penelitian ini mengkaji mekanisme penyelesaian konflik prinsip-prinsip good governance dicobakaitkan dengan nilai-nilai lokal. Penelitian ini menemukan bahwa apabila prinsip-prinsip good governance diterapkan dengan mempertimbangkan nilai-nilai budaya lokal, maka konflik-konflik tersebut dapat diselesaikan. ABSTRACTOne of the most well-known and crucial problems in the Regency of Kuantan Singingi development is the conflict in managing tanah ulayat. There are fifteen cases in which conflicts may take place among the local community and the private companies running the land in the Regency. These cases have been categorized into three. There are no consensus cases artificial consensus cases, and truly consensus case. In the analysis process, the researcher has applied theories and the concepts of Local Good Governance. The Good Governance, which can be applied universally, was convergent and applied in a way suitable with the local community traditions in the Kuantan Singingi. This research has proven that the determinant factor of problem solving is the cooperation between the involved polities (the Local Government, Private Companies, and Local Community) in the interaction of tanah ulayat management. The consensus can be achieved when the Local Government is able to establish to Good Governance, the private companies is operating Good Corporate Governance paradigm, which arises through the process of crafting the local community’s culture, based on the local customs heritages.
KUASA DI WARIS: EKSPLOITASI KELAS UNTUK MEMPEREBUTKAN SUMBERDAYA ALAM (Power of Waris: Class Exploitation for Struggle to Obtain Natural Resources) Amilda Amilda; P.M. Laksono
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 11, No 1 (2004): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18618

Abstract

ABSTRAKThesis ini mengkaji konflik kelas antara kelas dominan (Waris) dan masyarakat Kubu dalam mengakses sumberdaya alam. Penelitian ini mempertanyakan mengapa konflik kelas yang mengeksploitasi masyarakat Kuhu masih terus dilakukan. Thesis ini dilakukan secara kualitatif dengan data yang didapat dari wawancara tidak terstruktur dengan orang Kubu dan Waris. Penelitian ini menemukan bahwa proses eksploitasi ini terjadi oleh karena klaim orang Waris terhadap tanah. Orang Kubu harus memberikan sebagian dari produk kayunya kepada Waris sebagai bentuk pembayaran pada Waris yang memiliki anak. Orang Kubu berusaha melawan eksploitasi ini dengan menyudutkan orang Waris secara moral dan menrhangun perlawanan dalam bentuk penyelundupan kayu dan penjualan kayu pada pihak lain. Proses perlawanan ini nrembentuk sejarah eksistensi orang Kuhu. Proses eksploitasi antar kelas ini terus berlanjut karena mereka saling membutuhkan. Orang Waris membutuhkan orang Kubu untuk mencukupi kebutuhan mereka, sementara orang Kubu berkepentingan untuk menjaga identitasnya dengan melakukan perlawanan ABSTRACTThis thesis discusses the inter-classes conflict between the waris as the dominant class, and the Kubu People as the subordinate one in their struggle to obtain the access to natural resources. The research is based on the question of why does the class conflict that exploited the Kubu by the waris is still maintained. This thesis is based on a qualitative research, and the data were obtained by using the unstructured interview with the Kubu and the waris. The result of the research shows that the relationship of exploitation between waris and Kubu is based on the claim of the land from the waris in which the Kubu got their income from that so-called waris land. Kubu people have to give a part of their woods-product to the waris as a payment for the protection. Such exploitation happened because the market economic system has widely use in woods product. Kubu People have struggled in facing such exploitation by making some symbols that negating the waris moralities and developing a hidden rebellion such as smokkelen, selling the wood or timber of the waris to another party. Such rebellion had shaped the history of Kubu existence. The relation of class exploitation is still maintained because they need each other. Waris need Kubu to secure their material need, while Kubu have to keep their identity as the ones that produce woods product. And that matter can only be obtained from warisEroles.
PREDIKSI SUMBERDAYA AIR DI PULAU KECIL: STUDI KASUS DI PULAU ROTE NUSA TENGGARA TIMUR (Prediction of Water Resources in Small Island: Case Study in Rote Island of East Nusa Tenggara Province, Indonesia) Nikodemus P.P.E. Nainiti; Sahid Susanto; Putu Sudira
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 11, No 2 (2004): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18619

Abstract

ABSTRAKStudi ini bertujuan untuk memprediksikan ketersediaan air di pulau Rote yang kering di Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini menggunakan model hidrologi yang dikembangkan oleh Vanden Beken and Byloos. Data yang digunakan adalah data hidrologi bulanan selama 6 tahun. Dalam model ini dikaji 5 parameter yakni (1) jenis vegetasi, (2) kondisi tanah, (3) koefisien permukaan. (4) perkolasi, dan (5) aliran air. Penelitian ini menemukan bahwa ketersediaan air sangat tinggi pada musim hujan, yaitu dari Desember sampai Maret. sementara itu ketersediaan air sangat sedikit pada musim kering yakni pada bulan April sampai Oktober.  ABSTRACTThis study aims at predicting water resources availability in the small island having dry climate especially in Rote Island of East Nusa Tenggara Province. The study applied the hydrologic model of Vanden Beken and Byloos. The hydrologic data used for analyzing were monthly data for the period of six years. The parameters in the model include a1 (influenced by kinds of vegetation and soil characteristic), a2 (influenced by soil coarseness), a3 (coefficient of runoff), a4 (influenced by percolation), a5 (seepage to the river). The parameters obtained were correlated to characteristics of ungagged watersheds to find out the volume of water of those watersheds. The statistical and graphical analysis for verification of the model indicated that the period of wet months are December to March, where water resources availability is very high, meanwhile is very low during the dry months (April-October).
FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN ABIOTIK DAN KEANEKARAGAMAN PLANKTON SEBAGAI INDIKATOR KUALITAS PERAIRAN DANAU TOBA (Environmental Abiotic Factors and the Diversity of Plankton as Water Quality Indicators in Lake Toba, North Sumatera, Indonesia) Ternala Alexander Barus
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 11, No 2 (2004): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18620

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor lingkungan dan keanekaragaman plankton sebagai indikator kualitas perairan Danau Toba, Sumatera Utara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April – Mei 2003 pada 3 stasiun pengambilan sampel (Parapat, Simanindo dan Balige). Dari hasil penelitian diidentifikasi sebanyak 93 genera plankton (7 kelompok fitoplankton dan 2 kelompok zooplankton). Dari hasil perhitungan nilai indeks keanekaragaman Shannon-Wiener memperlihatkan bahwa komunitas plankton di ketiga lokasi pengamatan adalah mirip. Nilai indeks keanekaragaman menunjukkan bahwa perairan mengalami pencemaran sedang. ABSTRACTThe aim of the study is to investigate the environmental abiotic factors and the diversity of plankton as water quality indicators in Lake Toba ecosystem, North of Sumatera. The study was done on April to May, 2003 in three sampling stations (Parapat, Simanindo and Balige). Ninety three genera of plankton (seven groups of phytoplankton and two groups of zooplankton) were identified. The calculated values of diversity index (Shannon-Wiener) showed that plankton community in three stations is quite similar. The scores of diversity index were categorized into moderately polluted by organic matters.
PENGARUH PERILAKU PENDUDUK DALAM MEMBUANG LIMBAH TERHADAP KUALITAS AIR SUNGAI GAJAHWONG (The Influence of People Behaviour in Disposing Waste to the Gajahwong Water Quality) Risyanto Risyanto; M. Widyastuti
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 11, No 2 (2004): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18621

Abstract

ABSTRAKSungai Gajahwong merupakan salah satu sungai yang menjadi sasaran Prokasih (Program Kali Bersih) dan diperuntukkan sebagai sumber air baku Golongan B. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui kualitas air sungai baik fisik maupun kimia, (2) mengidentifikasi sumber pencemar potensial mencemari air sungai, (3) mengetahui perilaku penduduk dalam membuang limbah ke sungai, serta (4) mengetahui keterkaitan antara perilaku penduduk dengan kualitas air sungai. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode survei. Untuk parameter fisik (kualitas air) dilakukan pengambilan sampel air secara purposive sampling dan uji laboratorium. Aspek sosial ekonomi dilakukan melalui pendekatan Rapid Rural Appraisal (RRA) dan wawancara mendalam (ln-depth lnterview). Hasil penelitian menunjukkan adanya kaitan antara perilaku penduduk dan kualitas air Sungai Gajahwong. Sumber pencemar potensial di Sungai Gajahwong, di bagian hulu: rumatr tangga, pertanian dan jasa; bagian tengah: pertanian dan permukiman; dan di bagian hilir adalah permukiman, jasa dan industri. ABSTRACTGadjahwong river is one of “Prokasih” (Clean River Program) targets, and the water has been planned as B category. The objectives of the research include (1) to identify the water quality, (2) to identify pollutant sources, (3) to understand the people behavior related to the river, (4) to identify the relationship between the people behavior and the river water quality. Data about water use in this research were collected using sampling method, while socio-economics data were compiled through the Rapid Rural Appraisal approach. The result show that there is a relationship between water quality and people behavior. Potential pollutants in the upper stream include house hold waste, agriculture. In the middle and lower streams include agriculture, settlement, and industry.

Filter by Year

2001 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2020): 2 Vol 27, No 1 (2020): 1 Vol 26, No 2 (2019): 2 Vol 26, No 1 (2019): 1 Vol 25, No 2 (2018): 2 Vol 25, No 1 (2018): 1 Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Mei Vol 24, No 1 (2017): Januari Vol 23, No 3 (2016): September Vol 23, No 2 (2016): Juli Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 3 (2015): November Vol 22, No 2 (2015): Juli Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 (2014): November Vol 21, No 2 (2014): Juli Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): November Vol 20, No 2 (2013): Juli Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 3 (2012): November Vol 19, No 2 (2012): Juli Vol 19, No 1 (2012): Maret Vol 18, No 3 (2011): November Vol 18, No 2 (2011): Juli Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3 (2010): November Vol 17, No 2 (2010): Juli Vol 17, No 1 (2010): Maret Vol 16, No 3 (2009): November Vol 16, No 2 (2009): Juli Vol 16, No 1 (2009): Maret Vol 15, No 3 (2008): November Vol 15, No 2 (2008): Juli Vol 15, No 1 (2008): Maret Vol 14, No 3 (2007): November Vol 14, No 2 (2007): Juli Vol 14, No 1 (2007): Maret Vol 13, No 3 (2006): November Vol 13, No 2 (2006): Juli Vol 13, No 1 (2006): Maret Vol 12, No 3 (2005): November Vol 12, No 2 (2005): Juli Vol 12, No 1 (2005): Maret Vol 11, No 3 (2004): November Vol 11, No 2 (2004): Juli Vol 11, No 1 (2004): Maret Vol 10, No 3 (2003): November Vol 10, No 2 (2003): Juli Vol 10, No 1 (2003): Maret Vol 9, No 3 (2002): November Vol 9, No 2 (2002): Juli Vol 9, No 1 (2002): Maret Vol 8, No 3 (2001): Desember Vol 8, No 2 (2001): Agustus Vol 8, No 1 (2001): April More Issue