cover
Contact Name
Iqmal Tahir
Contact Email
iqmal@ugm.ac.id
Phone
+628999411449
Journal Mail Official
jpe-ces@ugm.ac.id
Editorial Address
Editor Jurnal Manusia dan Lingkungan Pusat Studi Lingkungan Hidup - Universitas Gadjah Mada (PSLH - UGM) Komplek UGM, Jalan Kuningan, Jalan Kolombo, Catur Tunggal, Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Manusia dan Lingkungan
ISSN : 08545510     EISSN : 24605727     DOI : https://doi.org/10.22146/jml.30101
Jurnal Manusia dan Lingkungan is published by the Center for Environment Studies, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. The journal is focused to the relationship between people and its environment that are oriented for environmental problems solving. Jurnal Manusia dan Lingkungan receives a manuscript with interdisciplinary and multidisciplinary approach Abiotic : physical, chemical, technical, geo-environmental science and modelling science Biotic : environmental biology, ecology, agro environment Culture : environmental-socio,-economics,-culture, and environmental health.
Articles 444 Documents
KARAKTERISASI BENTONIT TEKNIS SEBAGAI ADSORBEN INDIGO BIRU (Characterisation of Technical Bentonite as Indigo Blue Adsorbent) Toeti Koestiari; Muji Arsini; Amirudin Prawita; Effendy Effendy
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 19, No 3 (2012): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18462

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakter Bentonit teknis yang dapat digunakan untuk menyerap sisa-sisa Indigo bim di lingkungan. Penelitian eksperimental laboratoris dilakukan melalui dua tahap, yaitu karakterisasi Bentonit teknis menggunakan SEM-Edx, Spektrofotometer IR, Gas Sorption Analyzer, dan proses adsorpsi Indigo bim oleh Bentonit teknis pada pH sistem 1, 5, 7, dan 9. Hasil penelitian menggunakan SEM-Edx menunjukkan bahwa Bentonit teknis mengandung senyawa Na20:2,64%, Ah03: 20,75%, Si02: 57,55%, dan FeO : 13,73%. Melalui spektrofotometer IR diketahui bahwa Bentonit teknis mengandung senyawa kimia yang merniliki vibrasi H-O-H, ikatan CO2, deformasi H-O-H, regang Si-O, vibrasi AI-OH atau deformasi OH-kation, deformasi SiO. Menggunakan Gas Sorption Analyzer diketahui bahwa luas permukaan Bentonit teknis : 51,935 m2/g, volume pori total: 1,302 x 10-1 cc/g dengan radius pori: <1013,9 A. Kemampuan adsorpsi Bentonit teknis terhadap 56,761 ppm Indigo bim pada pH 1, 5, 7, dan 9 berturut-tumt : 5,78; 7,89; 8,84; dan 9,64%.ABSTRACTThe objective of this research was to determine the Technical Bentonite characters that can be used to adsorb the pollutant of Indigo blue in the environment. Laboratory experimental study consist of two stages, characterization phase of Technical Bentonite using SEM-EDX , IR spectrophotometer, Gas Analyzer sorption, and proses of adsorption Indigo blue by technical Bentonite at pH sistem1, 5, 7, and 9. By using SEM EDX showed that the technical Bentonite contain compounds as Na2O: 2.64%,  Al2O3: 20.75%,  SiO2: 57.55%, and FeO: 13.73%. Through IR spectro- photometer, the functional group of compound in technical Bentonite are H-O-H vibration, CO2 bonding, H-O-H deformation, Si-O stretcing, Al-OH vibration or deformation OH-cation, SiO deformation. By using Gas Sorption Analyzer is known that the surface area of technical Bentonite: 51.935 m2 / g, total pore volume: 1.302 x 10-1 cc / g with pore radius: < 1013.9 Ǻ.  The adsorption effectiveness for technical Bentonite against 56,761 ppm Indigo blue at pH 1, 5, 7, and 9  were  5.78,  7.89,  8.84, and 9.64%  respectively. 
KESESUAIAN LAHAN HIJAUAN PAKAN KAMBING DI YOGYAKARTA MENGGUNAKAN PENDEKATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (A Land of Unit Map for Goat Tree Leaves in Yogyakarta using Geographic Information System Approach) B. Susilo; T.A. Kusumastuti; Y. Suranindyah; B. Suwignyo
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 19, No 3 (2012): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18463

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk membuat pemetaan kesesuaian lahan pakan hijauan kambing di kabupaten Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode penelitian mencakup 2 kegiatan utama yaitu (1) Analisis proksirnat untuk mengetahui kandungan energi tertinggi dari jenis kacang-kacangan atau legum ( 2) Pemetaan lahan pakan dari tanaman legum yang mempunyai kandungan energi tertinggi di tiap kabupaten. Analisis kesesuaian lahan pada setiap satuan lahan diperoleh melalui proses tumpang susun (overlay) peta lereng, bentuk lahan dan penggunaan lahan dengan bantuan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil penelitian menunjukkan tanaman legum yang mempunyai sumber energi tertinggi adalah kaliandra dengan berat kering berkisar 30-40%. Lahan untuk kaliandra hampir sarna di 4 kabupaten yaitu lebih dari 25%. Lahan yang paling sesuai untuk kaliandra adalah di Kabupaten Sleman.ABSTRACTThe study aimed  to  provide a land unit map at district in Special District of Yogyakarta and a land appropriateness map, especially for goat tree leaves. The method of the study consisted of main activities which was 1) proximate analysis to find out the energy sources for nutrition need as provided by the tree leaves to goat that an appropriate was obtained from legume. 2) Mapping from legum that have highest dry matter in each  district . The analysis of land appropriateness in every land unit obtained from overlaying process of slope map, land morphology and management using Geographic Information System. The result showed that the highest energy source was Calliandra Calothyrsus and have dry matter content ranged from 30-40%. The land suitable for Calliandra Calothyrsus almost the same in districts more than 25%.  The land most suitable for Calliandra Calothyrsus  was located  in Sleman district. 
PROSES SOL-GEL DALAM PEMBUATAN HIBRIDA MERKAPTO-SILIKA UNTUK ADSORPSI ION CU (II) DALAM LARUTAN (Sol-Gel Process in Synthesis of Mercapto-Silica Hybrid for Adsorption of Cu(II) ion in Solution) Buhani Buhani; Narsito Narsito; Nuryono Nuryono; Eko Sri Kunarti
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 19, No 3 (2012): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18464

Abstract

ABSTRAKHibrida merkapto-silika (HMS) telah disintesis melalui proses sol-gel dengan prekursor tetraetil ortosilikat (TEOS). Adsorben HMS dikarakterisasi meliputi gugus fungsional menggunakan spektrofotometer inframerah (IR) dan morfologi permukaan dengan scanning electron microscopy (SEM). Karakteristik adsorpsi HMS terhadap ion Cu(II) dalam larutan optimum pada pH 5 dan mengikuti pola isoterm adsorpsi Langmuir. Harga kapasitas adsorpsi HMS terhadap ion Cu(II) lebih besar dari silika gel (SG) tanpa modifikasi dengan 3-merkaptopropiltrimetoksisilan (3-MPTMS). Data kapasitas adsorpsi menunjukkan bahwa perbandingan komposisi jumlah volume reaktan optimal dengan perbandingan volume: TEOS, etanol, air, dan 3-MPTMS 1 : 1 : 1 : 0,2. �� Malaysia. Dataran tanah wilayah Kelantan Utara dilapisi oleh batuan Sedimen Kuarter yang mana batuan granit sebagai batuan dasar. Sistem pengairan adalah berbentuk jaringan dendritik dengan sungai utama mengalir ke Laut Cina Selatan. Metoda hydrogeochemical digunakan untuk mempelajari karakter air tanah dari akuifer dangkal untuk keseluruhan area studi. Berdasarkan pada analisa air yang diperoleh dari area studi, dapat disimpulkan bahwa konsentrasi kation dan anion baik digunakan untuk kehidupan sehari hari kecuali air tanah di area sebelah selatan yang mana kandungan nitratnya tinggi (lebih dari 20 mg/l) dibandingkan di area sebelah utara (hampir tidak ada kandungan nitrat). Area yang memungkinkan memiliki konsentrasi nitrat pada air tanah dipetakan dengan kombinasi pola aliran air tanah. Pola aliran air tanah di area belahan selatan dan bagian tengah adalah dari timur ke barat yang mana tidak memungkinkannya air tanah yang terkontaminasi oleh nitrat di belahan selatan untuk masuk ke area belahan utara walaupun di belahan utara adalah dataran rendah.ABSTRACTMercapto-silica hybrid (HMS) has been synthesized through a sol gel process with a precursor of tetraethyl orthosilicate (TEOS).  The HMS adsorbent was characterized using an infrared spectrophotometer (IR) to identify its functional groups and a scanning electron microscopy (SEM) to characterize its surface morfology. Adsorption characteristic of HMS upon Cu(II) ion in solution is optimum at pH 5 and it follows a Langmuir adsorption isotherm model.  Adsorption capacity value of HMS upon Cu(II) ion is higher than adsorption capacity value of silica gel (SG) without modification with (3-mercaptopropyl)trimethoxysilane (3-MPTMS). The adsorption capacity data show that composition ratio of reactant volume amount is optimum with volume ratio: TEOS, ethanol, water, and 3-MPTMS: 1 : 1 : 1 : 0.2.
MODEL PENGELOLAAN LINGKUNGAN TAMAN WISATA ALAM GUNUNG MEJA MANOKWARI PAPUA BARAT (Model Environmental Management of Meja Mountain Natural Manokwari West Papua) (Model Environmental Management of Meja Mountain Natural Manokwari West Papua) Natalsen Basna; Djoko Marsono; Totok Gunawan; Irham Irham
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 19, No 3 (2012): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18465

Abstract

ABSTRAKModel pengelolaan lingkungan hutan Taman Wisata Alam Gunung Meja mencapai lingkungan keberkelanjutan apabila aspek ekologis, ekonornis, dan sosial budaya yang dinarnis diperlukan suatu konsep model lingkungan yang permanen dalam pengelolaannya. Model lingkungan adalah perwakilan sebuah objek dalam bentuk aktual atau situasi rill yang ditentukan secara sadar dan terencana. Penelitian ini bertujuan (i) menganalisis model sistem blok, (2) mengontruksi model rekayasa struktur hutan tanaman lokal campuran sebagai pengedalian lingkungan masa kini, (3) mengonstuksi model arahan lingkungan pengelolaan wisata alam yang berbasis bisnis konservasi.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah memadukan sumber informasi lingkungan dari data penginderaan jauh, peta tematik, sistem informasi geografis (SIG), dan survei lapangan. Populasi sampel mengenai kerusakan lingkungan dipilih dari peta satuan lahan sesuai dengan liputan citra lansat thematic mapper (TM) atau enhanced thematic mapper (ETM) seluruh kawasan dan survei lapangan.Hasil penelitian, adalah (1) perumusan model berdasarkan kondisi permasalahan yang terdiri atas model sistem blok berdasarkan blok daerah datar, daerah tangkapan air satu atau daerah dengan kerapatan hutan yang tinggi, blok kerapatan sedang atau daerah tangkapan air dua, blok daerah pernanfaatan dan blok rehabilitasi; (2) mengontruksi model rekayasa struktur hutan tanaman lokal campuran untuk pengendalian lingkungan masa kini berdasarkan stratifikasi tajuk; dan (3) menginstruksi model arahan pengelolaan lingkungan wisata alam yang berbasis bisnis konservasi berdasarkan pada pengembagan jalur pariwisata dan model pengembangan bisnis konservasi.ABSTRACTModel environmental management of forests Meja Mountain Natural Park has achieved thenvironmental aspects of sustainability where ecological, economic and socio-cultural dynamic. At present a concept model of the environment, that can be permanently implied in its management is required. Environment model is representation of an object, in condition of actual or real situation, that is determined consciously. The research objectives are : (1) analyze the system zone clasification, (2) construct engineering models of forest structure, with a mixture of native trees, as an up to date environmental control and (3) construct a model of environmental directives, management for nature tourism, and conservation-based businesses. The method used in this study is to integrate environmental information resources from remote sensing data, thematic maps, geographic information systems (GIS) and field surveys. Population samples used for environmental damage, is obtained from map units of land, in accordance with the coverage of thematic mapper (TM) imagery lansat or enhanced thematic mapper (ETM) throughout the region. The results of the study is to obtain the formulation of models based on the condition of the problem which consists of: (1) model block clasification system, based on the block of flat areas, a single water catchment area, or areas with high forest density, medium density block or two water catchment areas, utilization of local zones, and zones of rehabilitation, (2) construct engineering models of forest structure, local crops mixtures, for controlling the current environment, based on stratification of canopy and (3) construct a model of environmental management directives for eco-tourism business based conservation, based on tourism development paths and developing a business model of conservation.
POTENSI PEMANFAATAN AIR LIMBAH PEMUCAT INDUSTRI TENUN ATBM UNTUK MENURUNKAN KEBUTUHAN OKSIGEN KIMIAWI (KOK) AIR LIMBAH PEWARNAAN (The Potency of Using Bleaching Wastewater to reduce Chemical Oxygen Demand (COD) in Dyeing Wastewater of Traditional Weaving) Sarto Sarto; I Made Bendiyasa; Yustina Rusnawati
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 19, No 3 (2012): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18466

Abstract

ABSTRAKKegiatan tenun ATBM di Gamplong menghasilkan air limbah terutama dari proses pewarnaan dan proses pemucatan. Bahan pewarna merupakan senyawa komplek dan relatif stabil sehingga sulit ditangani. Proses oksidasi lanjut telah terbukti mampu menurunkan kadar bahan pewarna dalam air limbah. Penelitian ini mempelajari potensi air limbah pemucatan untuk menurunkan kadar bahan pewama dalam air limbah pewarnaan. Proses pencampuran air limbah pewarna dengan air limbah pemucatan dilakukan di dalam sebuah reaktor batch yang dilengkapi empat lampu UV masing-masing 10 Watt dan sebuah pengaduk magnit. Penurunan kadar zat warna dinyatakan dalam Kebutuhan Oksigen Kimiawi (KOK). Setiap jangka (interval) waktu tertentu, cuplikan air limbah sebanyak 2 mL diambil dari reaktor lalu dianalisis KOK nya. Rasio volume limbah pewarnaan terhadap limbah pemucatan adalah 3:1, 2:1, 1:1, 1:2, dan 1:3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin kecil nisbah limbah pewamaan dengan limbah pemucatan menghasilkan penurunan KOK semakin besar. Dengan volume limbah total 150 m, potensi oksidasi limbah pemucatan setara dengan sekitar 2 mL hidrogen peroksida 50% dalam 150 mL air limbah.ABSTRACTTraditional weaving activities in Gamplong produce wastewater, mainly from dyeing and bleaching processes. Dyes are complex compounds and realtively stable which is difficult to be managed. Advanced oxidation processes have proved to be able to decrease dyes content in the wastewater. The aim of this experiment is to study the potency of bleaching wastewater to reduce dyes content in dyeing wastewater. The mixing process of those wastewater was conducted in a batch reactor which was equipped with 4 UV light of 10 W each and a magnetic stirrer. The mixing process was performed at ambient temperature and pressure. Dyes content in the wastewater was expressed in chemical oxygen demand (COD). Each run, total volume of wastewater of dyeing process or  mixtures of dyeing process and bleaching process were 150 mL. At a certain time interval, 2 mL of treated wastewater was sucked up from the reactor, and then its COD content was analysed. The volume ratios of dyeing wastewater to bleaching wastewater investigated were 3:1, 2:1, 1:1, 1:2, and 1:3. The experiment results showed that the COD conversion increases with the decreases of the ratio of dyeing wastewater to bleaching wastewater. The more H2O2 addition to the dyeing wastewater, the more COD reduction is.  For the ratio of dyeing wastewater to belaching wastewater 1:1, the higher the H2O2 50% addition, the higher the reduction of COD is. 
DISTRIBUTION AND ABUNDANCE OF MANGROVE VEGETATION IN THE DISTURBED ECOSYSTEM OF SEGARA ANAKAN, CENTRAL JAVA (Distribusi dan Kemelimpahan Vegetasi Bakau di Ekosistem Hutan Rusak Segara Anakan Jawa Tengah) Tjut Sugandawaty Djohan
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 19, No 3 (2012): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18467

Abstract

ABSTRACTThe Segara Anakan mangrove from 1980 up to the present has experienced heavy siltations and mangrove-tree cutting. The siltation of 4.5 million tons per year from the watershed of Citanduy River create a lot of newly formed land and shoals, which disturbed the pattern of tidal flow and tide periods. In 1997 large areas of mangroves were converted to shrimp ponds which failed and were abandon. The purpose of this research was to study the response of mangrove vegetation to the changing of the Segara Anakan ecosystem. This study compared the area which experienced only heavy siltation and tree cutting with the area experienced only tree cutting. The transect methods with quadrate plots were used in collecting data. The results showed that there were 16 species of mangrove and one aquatic macrophyte. Almost all of the areas were colonized by the shrub, Acanthus ilicifolius, and liana-shrub, Derris heterophylla. Both of these species had r and k strategies, which had coverage almost 100%, and had consecutive 83583 and 23938 densities shrubs per ha. The dominant tree species were Sonneratia alba with 485 trees per hectare and Avicennia alba with 203 trees per hectare. However, the distribution and abundance of mangrove trees were determined by the tree cutting activities, and they were not determined by the high siltation rate and salinity. The combination between heavy siltation, mangrove tree cutting, land clearing and the climate change worsen the Segara Anakan mangrove ecosystem. Therefore, the mangrove of Segara Anakan was a critically endangered ecosystem.ABSTRAKHutan bakau Segara Anakan sejak tahun 1980 sampai sekarang mengalami siltasi yang sangat tinggi dan penebangan pohon bakau. Setiap tahunnya menerima 4,5 juta ton sedimen dari daerah tangkapan air Citanduy, dan mengakibatkan terbentuknya pulau-pulau baru dan dangkalan di lagunanya. Keadaan ini telah mengganggu pola arus dan pasang surut. Pada tahun 1997, hutan bakau tersebut dalam skala luas telah diubah jadi tambak udang, akan tetapi tidak berhasil dan ditinggalkan sebagai tambak rusak. Tujuan penelitian ini mempelajari respon vegetasi hutan bakau terhadap perubahan ekosistem Segara Anakan, dengan membandingkan lokasi hutan bakau yang megalami silatasi berat dan penebangan pohon bakau dengan lokasi yang hanya ditebang pohon bakaunya saja. Metode yang digunakan adalah kuadrat plot dengan bantllan garis transek. Hasil menunjukkan bahwa ada 16jenis mangrove dan satu akuatik makrophyta. Hampir seluruh hutan bakau dikoloni oleh semak dan liana bakau, Acanthus ilicifolius, dan Derris heterophylla dengan penutup hampir 100%. Densitasnya berurutan adalah 83583 and 23938 per ha. Ke dua spesies tersebut bersifat r dan K strategi. Pohon dominan Sonneratia alba adalah 485 per ha, dan Avicennia alba with 203. Distribusi spesies pohon bakau ditentukan oleh aktivitas penebangan pohon, bukan oleh sedimentasi dan salinitas. Kombinasi antara silatasi yang tinggi, penebangan pohon bakau, dan perubahan iklim telah memperburuk kondisi hutan bakau, sehingga hutan bakau Segara Anakan dapat dikategorikan sebagai ekosistem terancam kritis.
KERUSAKAN TEGAKAN TINGGAL AKIBAT PEMANENAN KAYU REDUCED IMPACT LOGGING DAN KONVENSIONAL DI HUTAN ALAM TROPIKA (STUDI KASUS DI AREAL IUPHHK PT. INHUTANI II, KALIMANTAN TIMUR) (Residual Stand Damage Caused by Conventional and Reduced Impact Logging)) Muhdi Muhdi; Elias Elias; Daniel Murdiyarso; Juang R Matangaran
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 19, No 3 (2012): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18468

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerusakan tegakan tinggal akibat pemanenan kayu dengan teknik reduced impact logging (RIL) di hutan alam tropika. Penelitian dilakukan di areal PT Inhutani II, Kalimantan Timur. Petak penelitian ini masing-masing 3 (tiga) plot permanen dengan ukuran masing-masing 100 m x 100 m. Plot-plot permanen/pengukuran diletakkan secara sistematis pada kedua petak  penelitian  sedemikian rupa sehingga mewakili tempat-tempat sebagai berikut : lokasi tempat pengumpulan kayu (TPN),  di lokasi jalan sarad utama dan di lokasi jalan sarad cabang. Hasil inventarisasi tegakan menunjukkan bahwa potensi tegakan rata-rata pada petak pemanenan kayu konvensional dan RIL masing-masing sebesar 353,51 N/ha dan 362,67 N/ha. Jumlah kerusakan tegakan tinggal rata-rata akibat pemanenan kayu pada petak pemanenan kayu konvensional dan RIL masing-masing sebesar 134,67 N/ha (38,10 %) dan 85,33 N/ha (23,52 %). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan diterapkan teknik pemanenan kayu RIL dapat mengurangi kerusakan tegakan tinggal tingkat tiang dan pohon sebesar 9,86 N/ha atau 36,61 % dari yang dihasilkan pada petak pemanenan kayu konvensional. Dengan demikian pemanenan kayu konvensional menyebabkan kerusakan tegakan tinggal lebih besar dibandingkan  dengan teknik RIL. ABSTRACTThis research examined the effect of reduced impact logging (RIL) to residual stand damages in natural tropical forest. A  research was done at  natural tropical forest of PT Inhutani II, East Kalimantan. The effect of reduced impact logging to residual stand were studied using the data of three plots with each size 100 m x 100 m are placed based on purposive sampling at landing, main skiddtrail and branch skiddtrail, respectively. The results of the research showed that that the potency of commercial timber species in conventional logging and RIL were 353.51 N/ha  and  362.7 N/ha. The number of residual stand damages caused by conventional logging and RIL were 134.67 N/ha (38.10 %) and 85.33 N/ha (23.52 %). Results of the research showed that reduced impact logging is reduced trees damages 9.86 N/ha (36.61 %) compared with conventional logging. These researches indicated that conventional logging in the tropical natural forest caused heavier damage on residual stand when compared with a reduced impact logging.
SEJARAH DOMINASI NEGARA DALAM PENGELOLAAN CENDANA DI NUSA TENGGARA TIMUR (History of State Domination on Cendana Management in Nusa Tenggara Timur) S. Agung Sri Raharjo; San Afri Awang; Agus Pramusinto; Ris Hadi Purwanto
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 20, No 1 (2013): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18469

Abstract

ABSTRAKPengelolaan sumberdaya alam seringkali dihadapkan pada konflik antar pemangku kepentingan. Kepentingan tersebut mencakup tiga dimensi yaitu kepentingan ekologi, ekonomi dan sosial. Cendana merupakan salah satu hasil hutan yang memiliki peran sangat penting dalam sejarah pembangunan di NTT. Pemanfaatan cendana ini juga tidak lepas dari konflik. Bahkan konflik tersebut telah membuat masyarakat trauma terhadap pengelolaan cendana. Upaya pemulihan potensi dan peran cendana dalam perekonomian mengalami hambatan berkaitan dengan trauma masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan, menganalisi dan menginterpreasikan pengelolaan cendana dimasa lalu yang mengakibatkan konflik dan trauma masyarakat terhadap pengelolaan cendana oleh pemerintah. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif terhadap pengelolaan cendana di masa lalu. Penelitian dilakukan di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur. Pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumentasi, observasi dan wawancara dengan informan kunci. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Hasil menunjukkan bahwa pengelolaan cendana di masa lalu terjadi ketidakadilan dalam pembagian keuntungan penjualan cendana, dominasi negara (penguasa), tidak adanya ruang komunikasi dan peran serta masyarakat dalam pengelolaan cendana. Hal ini membentuk persepsi negatif masyarakat terhadap pengelolaan cendana oleh pemerintah.  ABSTRACTConflict between stakeholder interests is inevitable in natural resources management. Stakeholder interest covers ecological, economic and social interest. Cendana is non wood forest product which plays important role on East Nusa Tenggara development. Cendana management doesn’t free of conflict. Instead the conflict on cendana management leads to community trauma. Effort for increasing the potencies faces the negative perception of communities. This research aim to describe, analysis and interprets the history of cendana management.The research was conducted in Timor Island, East Nusa Tenggara Province. Data collection done by documentary study, observation and interviews. Data were analyzed with descriptive qualitative analysis.The result shows that the past cendana management was inequity of profit sharing, state domination, no space for communication and public participation on cendana management. This condition leads to conflict and community trauma on cendana management by government.
ANALISIS STAKEHOLDER PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG BULUSARAUNG, PROPVINSI SULAWESI SELATAN (Stakeholder Analysis of Bantimurung Bulusaraung National Park Management, South Sulawesi Province) Abd. W Kadir; San Afri Awang; Ris Hadi Purwanto; Erny Poedjirahajoe
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 20, No 1 (2013): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18470

Abstract

ABSTRAKPara pihak (stakeholder) yang terkait dalam pengelolaan TN Babul memiliki kepentingan dan pengaruh yang beragam sehingga harus dapat dikelola dengan baik dalam mencapai tujuan pengelolaan TN Babul. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi stakeholder dalam pengelolaan TN Babul, mendapatkan penjelasan tentang kepentingan dan pengaruh setiap stakeholder dalam pengelolaan TN Babul, serta peran stakeholder dalam mengakomodir kepentingan masyarakat sekitar TN Babul. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Maros pada Kawasan TN Babul, Propinsi Sulawesi Selatan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara kepada sejumlah informan kunci. Data dianalisis dengan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil analisis stakeholder menunjukkan bahwa stakeholder primer dalam pengelolaan TN Babul terdiri dari Balai TN Babul, Masyarakat sekitar TN Babul, PDAM Maros, Disparbud Maros, Lembaga Pengelola Air Desa. Sedangkan stakeholder sekunder terdiri dari Dishutbun Maros, Dinas Pertanian Maros, Pemerintah desa dan kecamatan, BP2KP Maros, BPN Maros, PNPM Mandiri, LSM, dan Perguruan Tinggi dan lembaga penelitian. Keberadaan stakeholder tersebut dapat memberikan pengaruh positif dan negatif terhadap kawasan TN Babul. Peran yang dapat dilakukan oleh stakeholder dalam mengakomodir kepentingan masyarakat dapat berupa fungsi kontrol, bantuan fisik, bantuan teknis, dan dukungan penelitian. Pengelolaan kolaborasi dapat menjadi alternatif model pengelolaan TN Babul dalam mengakomodir kepentingan stakeholder yang beragam. ABSTRACTStakeholders involved in management of the Babul National Park have diverse interest and power that must be managed well in achieving Babul National Park management objectives. This study aims to identify the stakeholders in Babul National Park management, an explanation of the intersest and power of each stakeholder, and the role of stakeholders in accommodating the interests of communities around Babul National Park. The research was conducted in Maros Regency in Babul National Park, South Sulawesi Province. Data collected through observation and interviews to a number key informants. Data were analyzed with qualitative descriptive analysis. The results showed that primary stakeholders in the Babul National Park management consist of Babul National Park Agency, Communities around National Park, PDAM Maros, Tourism Office, water management institutions in the village. While the secondary stakeholders consist of the Forestry and Plantation Office, Agriculture Office, village and district government, Information and Food Security Agency, the National Land Agency, PNPM Mandiri, local NGOs, universities and research institutions. The existence of these stakeholders can provide positive and negative effects of Babul National Park. The role that can be done of stakeholders in accommodating the interests of society can be a control function, physical assistance, technical assistance, and research support. Collaborative management can be an alternative management model in accommodating the diverse interests of stakeholders. 
STATUS KESUBURAN TANAH DI BAWAH TEGAKAN EUCALYPTUS PELLITA F.Muell: STUDI KASUS DI HPHTI PT. ARARA ABADI, RIAU (Soil fertility under Eucalyptus pellita F.Muell stands: Case study in PT. Arara Abadi, Riau) Agung B. Supangat; Haryono Supriyo; Putu Sudira; Erny Poedjirahajoe
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 20, No 1 (2013): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18471

Abstract

ABSTRAKInformasi status kesuburan tanah di hutan tanaman sangat diperlukan sebagai dasar penyusunan rencana teknik manipulasi lingkungan pertumbuhan seperti pemupukan dan tindakan silvikultur lainnya.  Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi status kesuburan tanah di bawah tegakan Eucalyptus pellita pada rotasi ketiga, melalui analisis sifat fisik, kimia dan biologi tanah.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah Typic Kandiudults pada lokasi HTI E. pellita rotasi ketiga di Perawang memiliki tingkat kesuburan yang rendah baik secara fisik, kimia maupun biologi, dan lebih rendah dibandingkan pada tanah di hutan alam. Kenaikan umur tanaman E. pellita membentuk ekosistem hutan yang semakin mantap bagi perbaikan sifat fisik, kimia dan biologi secara umum, yang ditunjukkan perbaikan sebagian besar dari  parameter yang diamati.  Berdasarkan hasil identifikasi status kesuburan tanah di atas, dalam pengelolaan tanah di lahan HTI, diperlukan perlakuan upaya manipulasi lingkungan pertumbuhan seperti pemupukan dan weeding secara tepat melalui uji coba dan penelitian yang lebih teknis baik dalam skala laboratorium maupun lapangan.  Untuk itu, disarankan adanya penelitian lanjutan untuk mengetahui tingkat kerentanan tanah di lahan HTI E. pellita baik secara hidrologis maupun keharaan pada masing-masing umur tanaman, sehingga upaya pengelolaan lahan tanaman menjadi lebih baik. ABSTRACTInformation on status of forest soil fertility in the plantation forest is needed as a basis for planning the manipulation techniques of growth environmental such as fertilization and other silvicultural techniques. The study aims to evaluate the soil fertility status under eucalyptus pellita stands on the third rotation, through the analysis of physical, chemical and biological soil properties. The results showed that the soil of Typic Kandiudults at E. pellita stands in Perawang on the third rotation has a low fertility level, physically, chemically and biologically, and lower than the soil in natural forests. The increasing in age of the E. pellita plant causes a more stable forest ecosystems for the improvement of physical, chemical and biological soil properties, in general, which are indicated by improvement in most of the observed parameters. Based on the results, in order to manage the plantation forest land, there are required the treatment efforts of manipulation of the growth environmental such as fertilizing and weeding precisely, through a trial and more technical research in both laboratory and field scale. So that, it is suggested further researches to determine the degree of vulnerability of plantation forest land both in hydrologic and nutrient at each plant age, for better plantation forest management

Page 4 of 45 | Total Record : 444


Filter by Year

2001 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2020): 2 Vol 27, No 1 (2020): 1 Vol 26, No 2 (2019): 2 Vol 26, No 1 (2019): 1 Vol 25, No 2 (2018): 2 Vol 25, No 1 (2018): 1 Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Mei Vol 24, No 1 (2017): Januari Vol 23, No 3 (2016): September Vol 23, No 2 (2016): Juli Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 3 (2015): November Vol 22, No 2 (2015): Juli Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 (2014): November Vol 21, No 2 (2014): Juli Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): November Vol 20, No 2 (2013): Juli Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 3 (2012): November Vol 19, No 2 (2012): Juli Vol 19, No 1 (2012): Maret Vol 18, No 3 (2011): November Vol 18, No 2 (2011): Juli Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3 (2010): November Vol 17, No 2 (2010): Juli Vol 17, No 1 (2010): Maret Vol 16, No 3 (2009): November Vol 16, No 2 (2009): Juli Vol 16, No 1 (2009): Maret Vol 15, No 3 (2008): November Vol 15, No 2 (2008): Juli Vol 15, No 1 (2008): Maret Vol 14, No 3 (2007): November Vol 14, No 2 (2007): Juli Vol 14, No 1 (2007): Maret Vol 13, No 3 (2006): November Vol 13, No 2 (2006): Juli Vol 13, No 1 (2006): Maret Vol 12, No 3 (2005): November Vol 12, No 2 (2005): Juli Vol 12, No 1 (2005): Maret Vol 11, No 3 (2004): November Vol 11, No 2 (2004): Juli Vol 11, No 1 (2004): Maret Vol 10, No 3 (2003): November Vol 10, No 2 (2003): Juli Vol 10, No 1 (2003): Maret Vol 9, No 3 (2002): November Vol 9, No 2 (2002): Juli Vol 9, No 1 (2002): Maret Vol 8, No 3 (2001): Desember Vol 8, No 2 (2001): Agustus Vol 8, No 1 (2001): April More Issue