cover
Contact Name
Iqmal Tahir
Contact Email
iqmal@ugm.ac.id
Phone
+628999411449
Journal Mail Official
jpe-ces@ugm.ac.id
Editorial Address
Editor Jurnal Manusia dan Lingkungan Pusat Studi Lingkungan Hidup - Universitas Gadjah Mada (PSLH - UGM) Komplek UGM, Jalan Kuningan, Jalan Kolombo, Catur Tunggal, Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Manusia dan Lingkungan
ISSN : 08545510     EISSN : 24605727     DOI : https://doi.org/10.22146/jml.30101
Jurnal Manusia dan Lingkungan is published by the Center for Environment Studies, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. The journal is focused to the relationship between people and its environment that are oriented for environmental problems solving. Jurnal Manusia dan Lingkungan receives a manuscript with interdisciplinary and multidisciplinary approach Abiotic : physical, chemical, technical, geo-environmental science and modelling science Biotic : environmental biology, ecology, agro environment Culture : environmental-socio,-economics,-culture, and environmental health.
Articles 444 Documents
NILAI EKONOMI TOTAL KONVERSI LAHAN PERTANIAN DI KABUPATEN SLEMAN (Total Economic Value of the Land Agricultural Conversion in Sleman Regency) Rika Harini; Hadi Sabari Yunus; Kasto Kasto; Slamet Hartono
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 20, No 1 (2013): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18472

Abstract

ABSTRAKKonversi lahan pertanian untuk  penggunaan non pertanian  merupakan suatu  fenomena yang tidak dapat dihindarkan. Penilaian secara ekonomi maupun lingkungan perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat keuntungan secara finansial maupun kelingkungan dari kegiatan  pertanian. Penelitian dilakukan di Kabupaten Sleman  melalui metode survai dengan 90  responden  sebagai sampel penelitian. Wilayah kajian didasarkan pada tingkat konversi lahan pertanian selama  kurun waktu 17 tahun. Melalui Citra Landsat TM 1992, 2000 dan Citra Alos 2009  dapat diketahui luas konversi lahan pertanian  di semua wilayah di Kabupaten Sleman. Analisis data  dilakukan secara  deskriptif  kualitatif maupun kuantitatif dengan  uji statistik melalui model uji Seemingly Unrelated Regression (SUR) dan juga model Total Economic Value (TEV). Hasil kajian menunjukkan bahwa terjadi variasi tingkat konversi lahan pertanian  di wilayah Kabupaten Sleman. Hasil perhitungan  dengan metode TEV menunjukkan bahwa pada wilayah zone 1 nilai ekonomi usahatani lahan  sawah lebih rendah dibandingkan dengan wilayah zone 2, sedangkan pada zone 3 nilai ekonomi dari usahatani lahan sawah paling tinggi. Tingkat pencemaran akibat adanya konversi lahan pertanian berdampak pada hasil kegiatan usahatani lahan sawah. Pencemaran yang dianggap paling tinggi oleh petani untuk saat ini adalah pencemaran air, sedangkan untuk pencemaran tanah dan udara belum dirasakan. Konversi lahan juga berdampak terhadap  produksi hasil komoditi lahan sawah. Meskipun hasil produksi komoditas pertanian juga dipengaruhi oleh luas lahan sawah, konversi, teknologi dan produktivitas pada setiap zone wilayah kajian. ABSTRACTThe conversion of agricultural land for non agricultural purposes is a phenomenon that inevitable. Economic and environmental assessment needs to be done to determine the level of profit financially and environmentally of farming activities on the agricultural sector. The study was conducted in Sleman Regency through survey methods using 90 respondents as the research samples. The study area is based on a conversion rate of the agricultural land during the period of 17 years. Through Landsat  TM images year 1992 and 2000, also Alos images year 2009, can be determined the conversion of agricultural land all regions in Sleman Regency. Data analysis is performed qualitatively and quantitatively using descriptive statistical test through test models Seemingly Unrelated Regression (SUR) and also Total Economic Value (TEV) model. The research result show there are varying levels of the agricultural land conversion in Sleman Regency. The assessment result using TEV method is obtained that in the zone 1 region, the economic value of wetland farming is lower than the area of zone 2, while in the region of zone 3 has a high value. The level of pollution is caused by the conversion of agricultural land which impacted on the results of wetland farming activities. The most pollution which is assumed by the farmers recently is water pollution, otherwise the soil and the air contamination, there is no response by them. The conversion of the agricultural land also impacts to the production of commodities.  The commodities production is also influenced by the area of wetland, technology and productivity in each zone of the study area. 
POLA SEBARAN LIMBAH TPA STUDI KASUS DI JATIBARAG SEMARANG (Waste Distribution Pattern Cese Study in TPA Jatibarang Semarang) Supriyadi Supriyadi; Khumaedi Khumaedi; R.N Panca
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 20, No 1 (2013): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18473

Abstract

ABSTRAKTPA Jatibarang merupakan tempat pembuangan akhir di Semarang yang lokasinya dekat dengan pemukiman penduduk. Penumpukan sampah di TPA Jatibarang yang sudah semakin banyak dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan, untuk itu perlu dilakukan penelitian di TPA Jatibarang dengan tujuan untuk mengetahui sebaran limbahnya. Pendugaan sebaran limbah di bawah permukaan tanah dapat dilakukan dengan menggunakan metode geolistrik tahanan jenis. Pengambilan data dengan Resistivity meter Geosound  GL-4100 menggunakan metode geolistrik tahanan jenis konfigurasi Schlumberger. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rembesan limbah di TPA Jatibarang sebarannya hampir merata dari bentangan 2 meter sampai 135 meter mencapai kedalaman 37,7 meter ke arah selatan, pada titik sounding 4  penginjeksiannya di perkampungan yang letaknya sebelah Timur dari lokasi TPA sebarannya berasal dari bentangan 2 meter sampai 60 meter pada kedalaman 8,62 meter dan dari bentangan 98 meter sampai 135 meter  pada kedalaman 30,3 meter. Pada titik sounding 5 penginjeksiannya di perkampungan yang letaknya sebelah barat lokasi TPA sebarannya berasal dari bentangan 2 meter sampai 18 meter dan 50 meter sampai 70 meter pada kedalaman 19,1 meter dan pada bentangan 82 meter sampai 135 meter  pada kedalaman 19,1 meter sampai 37,7 meter.  Disimpulkan bahwa  sebaran limbah di TPA Jatibarang ke arah selatan menuju sungai Kreo dan sebaran limbahnya juga sampai ke pemukiman penduduk  di Kelurahan Bambankerep Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang yang lokasinya sebelah Barat dan Timur dari TPA Jatibarang. ABSTRACTTPA Jatibarang are landfills located in Semarang is close to settlements. Accumulation of rubbish in landfill Jatibarang who is getting a lot can cause environmental pollution, it is necessary to do research on landfill Jatibarang in order to know the distribution of its waste. Estimation of the distribution of waste below the ground surface can be performed using geoelectric resistivity method. Resistivity meter Geosound data retrieval using geoelectric resistivity Schlumberger configuration. The data processing software Res2Dinv3.56 at the point of sounding 2 seepage of waste in landfill Jatibarang its spread almost evenly from a stretch of 2 meters to 135 meters to reach a depth of 37.7 meters to the south, injection at the point of sounding a 4 in the township which lies east of spreading from the landfill comes from a stretch of 2 meters to 60 meters at a depth of 8.62 meters and from a stretch of 98 meters to 135 meters at a depth of 30.3 meters, and injection at the point of sounding a 5 in the township which lies west of the landfill spreading virgin stretch of 2 meters to 18 meters and 50 meters to 70 meters at a depth of 19.1 meters and on a stretch of 82 meters to 135 meters from a depth of 19.1 meters to 37.7 meters. The conclusions of this analysis, the distribution of waste in the landfill Jatibarang to the south towards the river Kreo and distribution of waste is also up to the settlement population in the village Bambankerep Ngaliyan district of Semarang, which are located to the west and east of the landfill Jatibarang.
KAJIAN FILOSOFIS TERHADAP PEMIKIRAN HUMAN- EKOLOGI DALAM PEMANFAATAN SUMBERDAYA ALAM (Philosophical Studies of Human Ecology Thinking on Natual Resource Use) Armaidy Armawi
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 20, No 1 (2013): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18474

Abstract

ABSTRAKPenelitian inibertujuan untuk memberikan alternatif solusi terhadap upaya mengurangi dampak kerusakan lingkungan akibat ekploitasi sumberdaya alam yang dilakukan manusia melalui proses pembangunan dengan pendekatan filosofi apakah hakikat dan esensi dari manusiadan bagaimana kedudukannya di alam semesta ini? Apa yang harus dilakukan manusia untuk menjaga dan mengembangkan kehidupan diri dan lingkungannya?Penelitian merupakan penelitian kepustakaan yang bersifat kualitatif. Metoda yang digunakan adalah  verstehen,interpretasi,  hermeneutika dan heuristik. Hasil  penelitian menunjukkan bahwaproses pembangunan dan upaya manusia dalam melakukan eksploitasi sumberdaya alam yang tidak rasional dan hanya mementingkan “syahwat” keserakahan dan kenikmatan (hedonisme) telah memberi andil yang cukup penting dalam membentuk selera konsumtifisme. Eksploitasi sumberdaya alam berdasarkan pandangan yang individualistik-materialistik, telah menyebabkan timbulnya konflik-konflik yang berakibat pada korban manusia dan kerusakan lingkungan serta menciptakan jurang pemisah antara kesejahteraan dan kemiskinan. Oleh karena itu, dalam pembangunan diperlukan kerangka pemikiran yang bersifat antro-ekologis-filsafati (human ecology). Karena dengan kerangka pemikiran atau paradigma tersebut berbagai dimensi dapat terangkum di dalameksistensi manusia dan eksistensi lain menurut ukuran kemanusiandi dalam dirinya. Dengan demikian,apa yang dikatakan pembangunan yang berwajah insani dan lestari lingkungannya dalam pertimbangan dimensi waktu, manusia, alam serta dimensi religius dapat terbawa. Analisa dampak lingkungan dalam perencanaan pembangunan tidak cukup hanya dengan mempertimbangkan aspek teknis seperti analisa kerusakan, pencemaran dan kelestarian lingkungan, akan tetapi aspek non-teknis, yakni nilai etis yang didasarkan pada kearifan manusia dan kearifan lokal juga penting diperhatikan,agar tidak terjadi penolakan-penolakan dan konflik antarunsur ekologi dalam suatu ekosistem,sehingga terjadi interaksi yang harmoni dan seimbang antara pemanfaatan dan pemeliharaan sumberdaya alam dalam pembangunan. ABSTRACTThis research aims to give alternative solution in reducing environmental damage as the result of human exploitation on natural resource in development process. The approach in use is philosophical approach to understand the fact and essence of human role in the universe. What human must do to maintenance and keep himself and his environment? This research is a qualitative bibliographical research. The method in use is versetehen, interpretation, hermeneutic and heuristic. The result shows the development process and human effort in exploiting natural resource is irrational and full of greediness and also hedonism. This result has important role to create consumptiveness. Natural resource base on individualistic-materialistic perspective has created various conflicts with human toll and environmental damage. It also created segregation between wealth and poverty. Therefore, development need critical framework with anthro-ecology-philosophy (human ecology). This critical framework or paradigm could resume various dimensions in human existence or another existence with human measurement. Thus, humanist development and environmental maintenance with time dimension, human, nature and religious dimension measurement are included. Environmental effect analysis in development planning not only base on technical aspect such as damage analysis, pollution and environmental maintenance but also non-technical aspects, namely ethical values base on human and local wisdom. Those attentive aspects are mentioned to avoid rejections and conflicts between ecological elements in an ecosystem to create harmonic interaction and balance between use and natural resource maintenance in development.
PENGARUH AKTIVITAS ANTROPOGENIK DI SUNGAI CILIWUNG TERHADAP KOMUNITAS LARVA TRICHOPTERA (Effect of Anthropogenic Activities on Trichoptera Larvae Community in Ciliwung River) Jojok Sudarso; Yusli Wardiatno; Daniel Djoko Setiyanto; Woro Anggraitoningsih
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 20, No 1 (2013): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18475

Abstract

ABSTRAKSungai Ciliwung merupakan salah satu sungai besar di Propinsi Jawa Barat yang sekarang telah mengalami pencemaran organik dan kontaminasi oleh logam merkuri. Adanya pencemaran di Sungai Ciliwung dikhawatirkan dapat mengganggu keseimbangan ekologi dari larva serangga Trichoptera. Oleh sebab itu tujuan dari penelitian ini adalah mengungkap pengaruh aktivitas antropogenik pada Sungai Ciliwung terhadap komunitas larva Trichoptera. Pengambilan larva dilakukan dengan menggunakan jala surber dengan limakali ulangan setiap lokasi. Analisis korelasi pearson-product moment menunjukkan adanya korelasi yang kuat (r > 0,5) antara metrik biologi jumlah taksa, jumlah skor Stream Invertebrate Grade Number-Average level SIGNAL, % kelimpahan dominansi 3, dan indeks SIGNAL dengan variabel lingkungan: suhu air, coarse particulate organic matter (CPOM), kandungan oksigen terlarut (DO), konduktivitas, total padatan tersuspensi (TDS), C dan N dalam partikulat, nitrat, amonium, ortofosfat, COD, logam merkuri di air dan sedimen, indeks habitat, distribusi partikel, turbiditas, indeks kimia Kirchoff, dan indeks pencemaran logam merkuri di sedimen. Larva Trichoptera Helicopsyche, Apsilochorema, Caenota, Ulmerochorema, Chimarra, Antipodoecia, Diplectrona, Anisocentropus, Lepidostoma, Genus Hel.C cenderung dicirikan oleh tingkat pencemaran organik yang rendah, tingginya komposisi % kerikil dan CPOM, dan kondisi habitat yang minim mengalami gangguan. Sebaliknya Glososomatidae genus 1, Cheumatopsyche, Setodes, dan Tinodes cenderung lebih toleran terhadap polutan organik, rendahnya CPOM, tingginya variabel turbiditas, konsentrasi merkuri di sedimen, TDS, dan % clay.   ABSTRACTCiliwung River is one of the major rivers in the area of West Java which is influenced by organic pollution and mercury contamination. The contamination may disrupt the ecological balance of Trichoptera insect larvae. Therefore, the aim of this study is to reveal the influence of anthropogenic activities occurring in the Ciliwung River on Trichoptera larvae community. Larvae collection was conducted using surber with five replications per location. Pearson-product moment correlation analysis showed a strong correlation (r> 0.5) between the number of taxa biological metrics, the number of scores Stream Invertebrate Grade Number-Average ( SIGNAL), and % abundance of three dominance Trichoptera larvae with environmental variables, i.e.water temperature, coarse particulate organic matter (CPOM), dissolved oxygen (DO), conductivity, total suspended solids (TDS), C and N in the seston, nitrate, ammonium, orthophosphoric, chemical oxygen demand (COD), metallic mercury in water, sediment, habitat index, distribution of particles, turbidity, chemical Kirchoff index, and index mercury pollution in sediments. Larvae of Trichoptera Helicopsyche, Apsilochorema, Caenota, Ulmerochorema, Chimarra, Antipodoecia, Diplectrona, Anisocentropus, Lepidostoma, and Genus Hel.C tend to be characterized by low organic pollution,% gravel, CPOM, and minimum disruption habitat conditions. While Glososomatidae Genus 1, Cheumatopsyche, Setodes, and Tinodes are relatively more tolerant to organic pollutant, low CPOM, high turbidity, the concentration of mercury in sediment, TDS, and % clay.
CSR DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (STUDI IMPLEMENTASI CSR-PTBA DI MUARA ENIM, SUMATERA SELATAN) (CSR and Community Development (Implementation Studies of CSR in PTBA in Muara Enim, South Sumatera Province) Partini Partini
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 20, No 1 (2013): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18476

Abstract

ABSTRAKSalah satu program CSR-PTBA adalah merelokasi permukiman penduduk di wilayah Atas Dapur dan sekitarnya yang telah tumbuh menjadi daerah kumuh karena sanitasi dan lingkungan hidup mengalami polusi. Adanya Kebijakan Pengembangan dan Penataan Tata Ruang Kota Pemda Tanjung Enim, permukiman penduduk di wilayah ini tidak sesuai lagi peruntukannya karena akan dijadikan TAHURA. Banyak kendala yang ditemui, antara lain masalah trust, persepsi, motivasi dan partisipasi warga yang direlokasi. Hasil penelitian  menemukan adanya best practices dari kebijakan PTBA yang mampu memberdayakan masyarakat dengan memberikan hak milik atas tanah dan bangunan serta sarana pendukung yang lengkap untuk kepentingan umum. Dalam membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap PTBA, PSLH-UGM melakukan penelitian,  memediasi dan mensosialisasikannya, sehingga tidak muncul konflik kepentingan dan tidak terjadi konflik  yang manifest.  ABSTRACTOne of the programs is  CSR-PTBA, which involves the relocation of  residents of Atas Dapur and surrounding areas. The area has become a slum  due to increasingly poor sanitation, and environment.  Based on the  new  policy on  development and spatial reorganization adopted by Tanjung Enim city, the area is no longer  residence but will become peoples forest area (TAHURA).  The execution of the program has encountered many obstacles which ranged from  distrust,  poor perception, low motivation and minimal participation of the people who were  relocated.  The research identified  best practices from  PTBA policy , which included the empowerment of relocated people through providing them with land  and building certificates,  and establishment of self containing  supporting facilities and services. To avert  the danger of  new conflicts of interest as well as out blown conflicts,  the center for environment studiesGadjahMadaUniversity  (PSLH-UGM), conducted  research,  facilitated mediation and carried out socialization of program outcomes , all of which were aimed at restoring public trust in PTBA program.
ENVIRONMENTAL MANAGEMENT AT KUNING RIVER COURSE IN MERAPI VOLCANO YOGYAKARTA SPECIAL REGION (Pengelolaan Lingkungan Alur Kali Kuning di Gunungapi Merapi Daerah Istimewa Yogyakarta) Darmakusuma Darmanto
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 20, No 1 (2013): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18477

Abstract

ABSTRACTThis Research aims at: (a) to  study the influence of grain size and amount of sediment to the river course function and geometry, (b) analyzing the impact of the using the sediments, water and land to the river channel and (c) evaluating the current environmental management and formulating some strategies for future river management. Beside that Merapi Volcano is known as the most active volcano in the world and it is pointed as a National Park because of the amount of vegetation specieses. The methods of this research are threehold: (1) morphometrical measurement of  Kuning River e.g depth and width coupled with the analysis of the sediment (e.g  diameter, specific gravit, percentage of boulders); (2) physical-environmental aspect determination (vegetation, percentage of coverage) and (3) social-economic survey in order to determine the household improvements, level of income, socialization of sediment related hazards as well as the sand mining.   These three analysis were conducted in the framework of ecology and spatial concept. The results obtained in this research are: 1) Merapi eruptions materials diturbed the river channel geometry to an abnormal condition following the rules of ecology, also the function of river as: gathering, storage and drainage of water and sediment, 2) utilization of river courses for water supply, agriculture and mining in particular sand, rocks and boulders can be made a spatial planning arrangement and  utilization is also to improve the welfare of local society and the District, 3) evaluation management to catchment or river course is undeveloped and have not even seen, so it requires management that is based on Indonesian regulation and should also noticed the characteristics of Merapi Volcano such as lahar, nuee ardente and the dense of population in the research area.ABSTRAK Pentelitian ini bertujuam: (a) mempelajari pengaruh besaran sedimen terhadap fungsi alur sungai, (b) menganalisis dampak terhadap alur sungai akibat pemanfaatan sedimen, air dan lahan dan (c) evaluasi terhadap pengelolaan lingkungan alur sungai dan mencari arahan untuk meminimalisasi dampak yang terjadi. Selain Gunungapi Merapi merupakan yang teraktif di dunia, juga telah dipilih menjadi Taman Nasional karena mempunyai spesies yang cukup banyak.Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: 1) pengukuran geometri dari Kali Kuning meliputi kedalaman dan lebar lembah sungai dikaitkan dengan material sedimen yang meliputi: diameter, berat jenis dan persentase bongkah, (2) deterrninasi terhadap aspek lingkungan fisik (vegetasi dan persentase tutupan lahan) dan (3) survei sosial-ekonomi untuk melihat ,peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penghasilan serta sosiolisasi terhadap bahaya sedimen termasuk penambangannya. Ketiga analisis ini dirangkum melalui pendekatan ekologi dan spasial.Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini: 1) material erupsi Merapi yang terusmenerus mengakibatkan perkembangan geometri alur sungai menjadi tidak normal secara ekologis, sehingga fungsinya sebagai: penyimpan, penimbun dan pengaliran air dan sedimen kurang optimal: 2) pemanfaatan alur sungai untuk air bersih, pertanian dan khususnya penambangan pasir, batu dan bongkah dapat dibuat tata ruangnya, sehingga mempermudah untuk mendapatknnnya dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daerah: dan 3) arahan pengelolaan pada daerah aliran sungai maupun pada alur sungai belum terlihat, sehingga diperlukan pengelolaan berdasarkan peraturan yang telah ada dan perlu memperhatikan karakteritik Gunungapi Merapi seperti lahar dingin, awan panas dan penduduk yang Padat.
KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN YANG BERGUNA SECARA LOKAL DI DESA BATU AMPAR, DI DEKAT KAWASAN HUTAN LINDUNG BUKIT RAJA MANDARA, KABUPATEN BENGKULU SELATAN (The Diversity of Locally Useful Plants in Batu Ampar Village Near Bukit Raja Mandara Protected) Wiryono Wiryono; Lipranto Lipranto
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 20, No 2 (2013): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18478

Abstract

ABSTRAKKeanekaragaman jenis tumbuhan memiliki banyak fungsi bagi masyarakat, terutama adalah mereka yang tinggal di daerah pedesaan. Masing-masing masyarakat tradisional di Indonesia memiliki pengetahuan khusus tentang tumbuhan yang terdapat di lingkungan mereka dan pemanfaatanya. Memiliki banyak jenis tumbuhan dan suku bangsa, Indonesia kaya akan keanekaragaman biologi dan budaya. Namun, pertanian modern dan globalisasi cenderung menurunkan keanekaragaman biologi dan budaya tersebut. Oleh karena itu, pelestarian pengetahuan dan pemanfaatan tradisional sangat penting untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan keanekaragaman jenis tumbuhan yang digunakan oleh penduduk desa Batu Ampar, di Kecamatan Kedurang, Kabupaten Bengkulu Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penduduk desa tersebut memanfaatkan 83 jenis tanaman dalam 8 kategori, yaitu bahan makanan sebanyak 35 jenis, bahan obat-obatan 30 jenis, bahan bangunan 16 jenis, kayu bakar 9 jenis, pagar dan pagar hidup 9 jenis, kerajinan tangan 9 jenis, pewarna 1 jenis dan racun 1 jenis. Lima puluh lima jenis tumbuhan diambil dari lahan pribadi dan 28 jenis dari hutan. Secara ekonomis, 54 jenis tumbuhan dimanfaatkan untuk keperluan sendiri, sedangkan 29 jenis tumbuhan selain dimanfaatkan sendiri juga dijual.ABSTRACTThe diversity of plant species serves many purposes for community, especially those living in rural areas. Each traditional community inIndonesiamay have specific knowledge and use of plants found in their environment.  Having many plant species and tribes,Indonesiais rich in biological and cultural diversity. Modern agriculture and globalization, however, tends to reduce both diversities. It is, therefore, essential that traditional knowledge and uses of biological diversity be preserved. This study was aimed to document the diversity of plants used by villagers of Batu Ampar,KedurangSubdistrict, South Bengkulu District. Results showed that villagers used as many as 83 species of plants for eight categories, namely food, followed by medicine, construction, firewood, fence and hedge, handycaraft, coloring agent and poison with 35, 30, 16, 9, fence and hedge 9, handicraft 9, coloring agent 1 and poison 1 species respectively. Fifty five of the plant species were taken from private land and 28 from forest. Economically, 54 species were used for the villagers’ own purpose, while 29 species were not only for their own use but also for sale.
PEMANFAATAN SENYAWA POLI-MONOALILOKSI-KALIK[6]ARENA SEBAGAI ANTIDOTUM KERACUNAN KADMIUM PADA MENCIT (The Utilization of Poly-monoallyloxy-calix[6]arene as Antidote on Cadmium Intoxication in Mice) Susy Yunita Prabawati; Jumina Jumina; Mustofa Mustofa; Sri Juari Santosa
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 20, No 2 (2013): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18479

Abstract

ABSTRAKPada penelitian ini dipelajari kemampuan dari senyawa poli-monoaliloksi-kaliks[6]arena (PMK[6]H) sebagai antidotum keracunan Cd pada mencit. Penelitian ini mengikuti rancangan acak lengkap dengan menggunakan mencit jantan, galur Balb/C, sehat, umur 2-3 bulan dan mempunyai bobot badan yang seragam. Subjek uji sebanyak 30 ekor dikelompokkan menjadi 6 kelompok. Kelompok 1 adalah kelompok mencit yang diberi pakan normal dan larutan CMC 0,5%. Kelompok 2 (kontrol negatif ) diberi pakan normal dan dicekok larutan CdCl2 (3,15 mg selama 14 hari pada setiap pagi). Kelompok 3 adalah kelompok kontrol positif (kontrol antidotum) dan kelompok 4-6 adalah kelompok eksperimen. Kelompok 3-6 diberi pakan normal dan dicekok larutan CdCl2 selama 14 hari pada setiap pagi dan sore harinya diobati dengan dimerkaprol (0,65 mg/Kg BB) untuk kelompok 3 dan PMK[6]H untuk kelompok eksperimen dengan dosis masing-masing 0,22; 0,65; dan 1,95 mg/Kg BB dalam CMC 0,5%. Pengamatan gejala toksik dilakukan selama 14 hari. Pada akhir masa uji, mencit dikorbankan untuk selanjutnya diambil ginjal dan hatinya untuk diukur kadar Cd dengan menggunakan spektrofotometer serapan atom (AAS) dan untuk pengamatan histopatologi. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan kadar Cd dalam ginjal mencit pada kelompok 3-6 yaitu berturut-turut sebesar 14,98; 15,22; 30,92; dan 45,61 %. sedangkan kadar Cd dalam hati mengalami penurunan masing-masing sebesar 23,37; 25,79; 31,82; dan 35,66 %. Berdasarkan data tersebut, maka PMK[6]H dapat menurunkan kadar Cd dalam ginjal dan hati mencit yang telah diracuni dengan CdCl2 bahkan pada tingkat dosis yang sama, PMK[6]H memberikan penurunan kadar Cd yang lebih besar dari dimerkaprol.ABSTRACTThe efficacy of poly-monoallyloxycalix[6]arene (PMK[6]H) as antidote in the Cd intoxication was studied in mice.  This research used completely randomized design. The animal test was Balb/C male mice, healthy, age 2-3 months with uniform body weight. Thirty mice were grouped into 6 groups. Group 1was normal group were fed with normal mice chow and administration of 0.5 % CMC. Group 2 was negative control group were fed with normal mice chow and administration of CdCl2 (3.15 mg for 14 days on each morning). Group 3 was positive control group (antidote control) and group 4-6 were experimental groups.  Group 3-6 were fed with normal mice chow and administration of CdCl2 (3.15 mg for 14 days on each morning and late afternoon treatment with dimercaprol (0.65 mg/Kg BW) for groups 3 and PMK[6]H for the experimental groups. The dosage of PMK[6]H were 0.22; 0.65; and 1.95 mg/Kg BW in 0.5 % CMC, respectively.  Evaluation of the toxic symptoms was done for 14 days. In the end of the evaluation, all mice were killed to take the kidneys and livers for histopathologic examination and the Cd levels were measured using atomic absorption spectrophotometer (AAS). The results showed a decline in levels of Cd in the kidneys of mice in group 3-6 were 14.98; 15.22; 30.92; and 45.61 %, respectively, while the Cd levels in livers decreased by 23.37; 25.79; 31.82; and 35.66 %, respectively.  Based on the data, it showed that PMK[6]H can reduce the Cd toxicity in mice and at the same dosage,  PMK[6]H can provide a reduction in Cd levels greater than dimercaprol. 
MINIMASI RESIKO DALAM SISTEM PENGELOLAAN LIMBAH MEDIS DI KOTA BANDUNG, INDONESIA DENGAN PENDEKATAN LINEAR PROGRAMMING (Risk Minimization for Medical Waste Management System in Bandung City, Indonesia: A Linear Programming Approach) Mochammad Chaerul; Lucky Lie Junpi; Ninda Ekaristi
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 20, No 2 (2013): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18480

Abstract

ABSTRAKBerbagai macam pelayanan perawatan kesehatan yang disediakan oleh rumah sakit akan berpotensi menghasilkan limbah medis. Walaupun sebagian besar limbah rumah sakit dapat dikelompokkan sebagai limbah yang tidak berbahaya yang memiliki sifat yang sama dengan sampah rumah tangga dan dapat dibuang ke tempat penimbunan sampah, sebagian kecil dari limbah medis harus dikelola dengan tepat untuk meminimasi resiko terhadap kesehatan masyarakat. Model pengelolaan limbah medis yang dikembangkan ditujukan untuk meminimasi resiko terhadap fasilitas umum dan komersial seperti fasilitas ibadah, bank, perkantoran, restoran, hotel, stasiun pengisian bahan bakar, fasilitas pendidikan, mall dan pusat perbelanjaan, taman dan pusat olahraga/kebugaran, akibat pengangkutan limbah medis dan abu hasil pengolahannya. Tingkat resiko dari setiap fasilitas di atas ditentukan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Permasalahan diselesaikan dengan mengaplikasikan linear programming menggunakan software optimimasi LINGO®. Output model berupa optimasi alokasi limbah medis dari setiap rumah sakit ke fasilitas pengolahan dan alokasi abu dari fasilitas pengolahan ke tempat penimbunan akhir. Hasil model memperlihatkan bahwa rute terpendek tidak menghasilkan total resiko terkecil karena dipengaruhi oleh jumlah dan tingkat resiko dari setiap fasilitas yang dilalui oleh kemdaraan pengangkut limbah medis dan abu. Perbedaan fasilitas yang berada di sekitar pengolahan limbah medis juga akan menghasilkan total resiko yang berbeda.ABSTRACTA broad range of healthcare services provided by hospital may generate medical waste. Although a large percentage of hospital waste is classified as general waste, which has similar nature as that of municipal solid waste and, therefore, could be disposed in municipal landfill, a small portion of medical waste has to be managed in a proper manner to minimize risk to public health. A medical waste management model is proposed in order to minimize a risk to the public and commercial utilities such as religious facility, bank, office, restaurant, hotel, gasoline station, education facility, mall and shopping center, and park & sport center due to transportation of medical waste and ash and operational of medical waste treatment facility as well. The risk level of each public utility above is determined using Analytical Hierarchy Process (AHP) method. The problem is solved by applying linear programming using optimization software of LINGO®. The model finds optimal medical waste allocation from each hospital to the treatment facility and ash allocation from the treatment to the final disposal site. The result shows that the shortest route may not meet minimum total risk as it is affected also by number and risk level of each public utility passed by medical waste and ash vehicles. Different utilities located surrounding the waste treatment will also generate different total risk.
KARAKTERISTIK HABITAT DAN MORFOLOGI SIPUT ONGCOMELANIA HUPENSIS LINDOENSIS SEBAGAI HEWAN RESERVOIR DALAM PENULARAN SHISTOSOMIASIS PADA MANUSIA DAN TERNAK DI TAMAN NASIONAL LORE LINDU (Habitat Characteristics and Morphology of Oncomelania hupensis) Hafsah Hafsah
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 20, No 2 (2013): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18481

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji habitat dan morfologi siput Oncomelania hupensis lindoensis sebagai hewan reservoir dalam penularan shistosomiasis pada manusia dan ternak. Penelitian dilakukan dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan mengukur dan mengambil beberapa sampel tanah pada beberapa jenis habitat. Siput dikoleksi dengan menggunakan metode gelang besi yang disebut ring method. Siput yang dikumpulkan kemudian dibawa ke laboratorium untuk pengamatan bentuk morfologi dan mirasidia baik secara langsung maupun dengan penggunaan mikroskop. Penentuan tingkat prevalensi digunakan metode “ Kato-Kars” yang dimodifikasi. Data dianalisis secara deskriptif berdasarkan data hasil survei di lapangan dan hasil analisis dari laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa habitat siput O.hupensis Lindoensis yang terdapat dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu sebanyak 144 habitat (fokus) dan terdistribusi pada empat desa yaitu Tomado (64 fokus), Anca (63 fokus), Puroo (11 fokus) dan Langko (6 fokus) dengan persebaran 44,44 % ( sawah), 29,86 % ( kebun), 18,06 % ( padang rumput), dan 11 % ( hutan). Karakteristik habitat yaitu tekstur tanah lempung berpasir dengan bahan organik tanah yang relatif rendah (< 5 %) dan iklim mikro (temperatur dan kelembaban masing-masing pada kisaran 22,30-24,10 °C dan 60-78 %). Siput mempunyai bentuk morfologis cukup kecil dengan panjang 3-5 mm, warna coklat tua agak kehitaman, bersifat amfibi dan merupakan hospes perantara dari cacing shistosoma. Tingkat prevalensi schistosomiasis pada manusia masih cukup tinggi yaitu >2%. Pada ternak didapatkan tingkat prevalensi yaitu kerbau (39,36%), sapi (39,32%), dan babi (22,5%). Kesimpulan dari hasil penelitian ini bahwa habitat siput O. Hupensis lindoensis mempunyai karakteristik dan bentuk yang spesifik. Tingkat prevalensi schistosomiasis pada manusia dan ternak dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu masih cukup tinggi.ABSTRACTThe objective of the study was evaluated the habitat characteristics and  morphology of  Oncomelania hupensis lindoensis  as  a  reservoir in transmission of Schistosomiasis on  human and animal in Lore Lindu National Park. The study was conducted in four villages as known as the habitat of the endemic snails. Collections of the snails were done by using a ring methods. The collected snails were observed in the laboratory for morphology identification and mirasidium determination using a microscope. Prevalence rate of schistosomiasis was estimated using modification of “Kato-Kars” methods. Data were analysed by descriptive methods for all parameter.  Results shown the habitat distribution of  Oncomelania hupensis lindoensis in Lore Lindu National Park were  144 places (focus). It was distributed in four villages i.e. Tomado (64 focuses), Anca (63 focuses), Puroo (11 focuses) dan Langko (6 focuses).  The type of habitat consists of  44.44 % (wet rice field), 29.86 % (plantation), 18.06 % (wet savannah), dan 11 % (wet forest).  Soil characterictics of the habitat was clasified as a sandy clay with a relatively low in organic matter  (< 5%), the microclimate ((temperature and humidity ranges from 22.30 - 24.10 °C and  60 - 78 % respectively).  Snail are morphologically small in size (3-5mm), they are blackish dark brown in colour and amphibious. It becomes a hospes of shistosoma. The prevalence rate of shistosomiasis on humans  was relatively hight (up to 2%).  Whereas the prevalence rate of shistosomiasis on animals was 39.6% (buffalo); 39.92% (cattle); and 22.5% (pig). Conclusion for this study was found the habitat characteristics and morphological of O. hupensis lindoensis shown specifics term. The prevalence rate of schistosomiasis in Lore Lindu National Park was high enough.

Page 5 of 45 | Total Record : 444


Filter by Year

2001 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2020): 2 Vol 27, No 1 (2020): 1 Vol 26, No 2 (2019): 2 Vol 26, No 1 (2019): 1 Vol 25, No 2 (2018): 2 Vol 25, No 1 (2018): 1 Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Mei Vol 24, No 1 (2017): Januari Vol 23, No 3 (2016): September Vol 23, No 2 (2016): Juli Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 3 (2015): November Vol 22, No 2 (2015): Juli Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 (2014): November Vol 21, No 2 (2014): Juli Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): November Vol 20, No 2 (2013): Juli Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 3 (2012): November Vol 19, No 2 (2012): Juli Vol 19, No 1 (2012): Maret Vol 18, No 3 (2011): November Vol 18, No 2 (2011): Juli Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3 (2010): November Vol 17, No 2 (2010): Juli Vol 17, No 1 (2010): Maret Vol 16, No 3 (2009): November Vol 16, No 2 (2009): Juli Vol 16, No 1 (2009): Maret Vol 15, No 3 (2008): November Vol 15, No 2 (2008): Juli Vol 15, No 1 (2008): Maret Vol 14, No 3 (2007): November Vol 14, No 2 (2007): Juli Vol 14, No 1 (2007): Maret Vol 13, No 3 (2006): November Vol 13, No 2 (2006): Juli Vol 13, No 1 (2006): Maret Vol 12, No 3 (2005): November Vol 12, No 2 (2005): Juli Vol 12, No 1 (2005): Maret Vol 11, No 3 (2004): November Vol 11, No 2 (2004): Juli Vol 11, No 1 (2004): Maret Vol 10, No 3 (2003): November Vol 10, No 2 (2003): Juli Vol 10, No 1 (2003): Maret Vol 9, No 3 (2002): November Vol 9, No 2 (2002): Juli Vol 9, No 1 (2002): Maret Vol 8, No 3 (2001): Desember Vol 8, No 2 (2001): Agustus Vol 8, No 1 (2001): April More Issue