cover
Contact Name
Suhartina
Contact Email
suhartina@iainpare.ac.id
Phone
+6285342005852
Journal Mail Official
carita@iainpare.ac.id
Editorial Address
IAIN Parepare, Jalan Amal Bakti 08, Bukit Harapan, Soreang Kota Parepare
Location
Kota pare pare,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Carita : Jurnal Sejarah dan Budaya
ISSN : -     EISSN : 29859077     DOI : https://doi.org/10.35905/carita
Core Subject : Social,
This journal focuses on any research related to the history of Islamic culture and the history of Islamic civilization
Articles 51 Documents
PAREWA SARAQ: INSTITUSIONALISASI SYARIAT ISLAM DI KERAJAAN BALANIPA-MANDAR ABAD 17 Suardi Kaco. H Ardi
CARITA: Jurnal Sejarah dan Budaya Vol. 4 No. 1 (2025): CARITA : Jurnal Sejarah dan Budaya
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35905/carita.v4i1.15447

Abstract

Artikel ini membahas proses institusionalisasi syariat Islam ke dalam sistem pemerintahan dan hukum Kerajaan Balanipa abad 17, tugas Parewa Saraq, dan akomodasi syariat dan adat. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan sistematika, yaitu: heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Sumber literatur yang digunakan, baik primer maupun sekunder didapatkan dari berbagai lembaga pustaka, seperti perpustakaan milik pemerintah daerah dan perpustkaan milik pribadi. Salah satu sumber literatur yang digunakan adalah naskah lokal berupa Lontar Mandar, buku, dan artikel ilmiah yang relevan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses institusionalisasi syariat Islam di Kerajaan Balanipa mulai berlangsung sejak islamisasi Raja Balanipa Kanna Pattang pada tahun 1610. Proses institusionalisasi syariat Islam berhasil dengan terbentuknya lembaga Parewa Saraq sebagai lembaga yang menangani secara khusus bidang keagamaan. Lembaga ini dijabat oleh seorang kali (qadhi) yang dipilih langsung oleh raja. Proses institusionalisasi syariat Islam di Kerajaan Balanipa tidak menegasikan eksistensi adat, melainkan mengakomodasi dalam berbagai aspek. Syariat dan adat di Kerajaan Balanipa berjalan harmonis, dengan adagium “adaq meandonggurui di saraq. Saraq meandonggurui di adaq”.
REPRESENTASI BUDAYA DALAM UPAYA PELESTARIAN TRADISI ADAT DI KAMPUNG ADAT CIKONDANG Septia NurPitri Utami; Salsabila Shafa Hermawan; Tiara Firgiyanti; Aldilla Risyanindya; Sithah Auladah Sholihah; Mega Selvia; Mamat Supriatna; Aam Imaddudin
CARITA: Jurnal Sejarah dan Budaya Vol. 4 No. 1 (2025): CARITA : Jurnal Sejarah dan Budaya
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35905/carita.v4i1.13734

Abstract

Penelitian ini mengkaji sistem kepercayaan tradisional masyarakat Kampung Adat Cikondang di Kabupaten Bandung sebagai representasi nilai-nilai budaya yang bertahan di tengah arus modernisasi. Menggunakan metode kualitatif melalui studi lapangan dan wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat, penelitian ini menemukan bahwa kepercayaan tradisional yang berakar pada ajaran Islam dan tradisi leluhur membentuk struktur sosial, ritual adat, serta keharmonisan dengan lingkungan. Temuan menunjukkan bahwa ritual suci, larangan adat, dan kebiasaan sehari-hari tidak hanya menjadi pedoman spiritual, tetapi juga berfungsi mengatur keseimbangan sosial dan ekologis. Praktik budaya ini mencerminkan identitas kolektif yang kuat, pewarisan nilai lintas generasi, serta adaptasi berbasis kearifan lokal. Dari hasil penelitian menyimpulkan bahwa sistem kepercayaan masyarakat Cikondang berperan penting dalam menjaga ketahanan budaya, memperkuat solidaritas sosial, dan mempertahankan identitas di tengah perubahan zaman.
KONSTRUKSI SOSIAL MODERASI BERAGAMA DALAM TRADISI LOKAL MASYARAKAT MANDAR DI DUSUN MACERA KAB. POLEWALI MANDAR Rahmat Nurdin; Muhammad Rais
CARITA: Jurnal Sejarah dan Budaya Vol. 4 No. 2 (2026): CARITA : Jurnal Sejarah dan Budaya
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35905/carita.v4i2.16810

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi sosial moderasi beragama berbasis budaya lokalitas di Kampung Moderasi Beragama Dusun Macera, Desa Mammi, Kabupaten Polewali Mandar, yang membuka diskursus baru dalam memahami paradigma moderasi beragama yang telah membudaya di kalangan masyarakat Desa Mammi di tengah pluralitas agama dan suku. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis data lapangan (field research), penelitian ini mengadopsi teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann yang terdiri dari tiga proses: eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa moderasi beragama di Dusun Macera bukan hanya didasarkan pada ajaran agama universal, tetapi juga diperkaya oleh nilai-nilai kearifan lokal seperti toleransi, gotong royong, dan nilai kekeluargaan. Tradisi lokal, seperti gotong royong dan tradisi Pillangerang, serta peran tokoh agama dan kepala keluarga, menjadi elemen penting dalam membangun harmoni sosial. Proses internalisasi nilai-nilai moderasi dilakukan melalui interaksi sosial dan pewarisan nilai-nilai budaya lintas generasi, menciptakan masyarakat yang memiliki komitmen kuat terhadap toleransi, solidaritas, dan penghormatan terhadap keberagaman. Penelitian ini mempertegas pentingnya integrasi budaya lokal dan nilai-nilai agama dalam membangun kerukunan dan stabilitas sosial di masyarakat plural.
EKSISTENSI KETAHANAN EKONOMI DALAM KERAJINAN TAJAU DI KUIN UTARA KOTA BANJARMASIN TAHUN 1980–2020: ADAPTASI TRADISI DI TENGAH MODERNISASI Ade Listya Dwi Widodo; Wisnu Subroto; Rusdi Effendi; Dewicca Fatma Nadilla
CARITA: Jurnal Sejarah dan Budaya Vol. 4 No. 2 (2026): CARITA : Jurnal Sejarah dan Budaya
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35905/carita.v4i2.17151

Abstract

Tajau merupakan salah satu budaya material masyarakat Banjar yang memiliki fungsi penting dalam sistem penyimpanan air dan hasil bumi pada lingkungan masyarakat sungai di Kalimantan Selatan. Selain memiliki nilai fungsional, Tajau juga menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan kerajinan Tajau sebagai mata pencaharian masyarakat Kuin Utara, Kota Banjarmasin, pada periode 1980–2020. Penelitian menggunakan metode sejarah dengan pendekatan sejarah ekonomi yang didukung oleh sumber lisan (oral history) melalui wawancara dengan pengrajin, tokoh masyarakat, dan pihak terkait, serta dilengkapi dengan sumber tertulis berupa buku, jurnal, dokumentasi, dan arsip yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dekade 1980-an kerajinan Tajau mengalami masa perkembangan yang cukup pesat karena tingginya kebutuhan masyarakat terhadap wadah penyimpanan air dan hasil pertanian. Kondisi tersebut menjadikan produksi Tajau sebagai salah satu sumber mata pencaharian utama masyarakat Kuin Utara. Namun, sejak dekade 1990-an hingga 2020, industri ini mengalami kemunduran akibat perubahan pola konsumsi masyarakat, meluasnya penggunaan wadah berbahan plastik, serta berkurangnya regenerasi pengrajin. Meskipun fungsi ekonominya mengalami penurunan, sebagian pengrajin tetap mempertahankan produksi Tajau sebagai bentuk pelestarian warisan budaya lokal. Temuan ini menunjukkan bahwa sejarah kerajinan Tajau tidak hanya mencerminkan perubahan mata pencaharian masyarakat, tetapi juga menggambarkan proses adaptasi budaya lokal dalam menghadapi modernisasi dan transformasi ekonomi.
SIRAM TUWUH SEBAGAI SISTEM SIMBOLIK: PEMAKNAAN RITUAL PASCAPERKAWINAN DALAM KONTEKS SOSIOKULTURAL MASYARAKAT JAWA MANCANEGARA WETAN Ahmad Syafii Mufadzilah Riyadi
CARITA: Jurnal Sejarah dan Budaya Vol. 4 No. 2 (2026): CARITA : Jurnal Sejarah dan Budaya
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35905/carita.v4i2.17698

Abstract

Studi mengenai ritual pernikahan Jawa selama ini cenderung memandang tradisi pernikahan sebagai prosesi pra-nikah, peristiwa seremonial, atau objek penilaian keagamaan yang bersifat normatif. Akibatnya, ritual pasca-nikahyang berfungsi sebagai ruang untuk memaknai keberlanjutan hubungan pernikahan kurang mendapat perhatian. Artikel ini berargumen bahwa Siram tuwuh merupakan sebuah sistem simbolik dalam rangkaian ritual pasca-nikah masyarakat Jawa Mancanegara Wetan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan desain etnografi interpretatif, studi ini memaknai Siram tuwuh sebagai praktik budaya yang maknanya terbentuk melalui simbol, tindakan ritual, objek material, narasi partisipan, serta relasi sosial yang menopangnya. Analisis ini mengacu pada antropologi interpretatif Clifford Geertz, teori simbol ritual Victor Turner, dan konsep perwujudan budaya menurut Koentjaraningrat. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Siram tuwuh bukan sekadar prosesi adat, melainkan juga sebuah teks budaya yang melaluinya masyarakat Jawa Mancanegara Wetan memaknai pernikahan sebagai ikatan moral, sosial, dan spiritual yang memerlukan pemeliharaan berkelanjutan. Elemen-elemen ritual seperti air, bunga setaman, daun dadap serep, sesaji selamatan, doa bersama, pembaruan janji nikah, serta kehadiran anggota keluarga dan tokoh agama membentuk suatu sistem simbolik yang saling terkait. Simbol-simbol tersebut merepresentasikan makna penyucian, pertumbuhan, kesejahteraan, tanggung jawab, dan keberlanjutan hubungan pernikahan
DINAMIKA ULUMUL QUR’AN: SEJARAH, TOKOH, DAN ARAH PEMBARUAN KONTEMPORER Muhammad Patri Arifin
CARITA: Jurnal Sejarah dan Budaya Vol. 2 No. 2 (2024): CARITA : Jurnal Sejarah dan Budaya
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35905/carita.v2i2.4312

Abstract

Ulum al-Qur’an, as a collection of disciplines concerned with various aspects of the Qur’an, has undergone a long process of development throughout Islamic history. This development has passed through several phases, each characterized by its own distinctive features, beginning with the period of oral transmission (musyafahah wa al-talaqqi), followed by the codification phase (tadwin), and continuing into the modern and contemporary eras. Over time, the study of Ulum Qur’an expanded significantly, giving rise to several independent branches of knowledge. One of the most prominent is Qur’anic exegesis (tafsir), which has experienced substantial growth in terms of methodology, approaches, and interpretive trends. This chapter seeks to present a systematic overview of the development of Ulum Qur’an, starting from its early stages before codification and extending to its modern and contemporary developments. The discussion covers not only the contributions of Middle Eastern scholars but also the development of Qur’anic studies in Indonesia and Orientalist perspectives on Qur’anic sciences. In addition, brief biographies and major works of influential scholars are highlighted to provide readers with a broader understanding of the historical and intellectual development of Ulum Qur’an.
SURYA, TRI HITA KARANA DAN ADAPTASI TRANSISI ENERGI DI PURA BALI Andi Nurul Mutmainnah; Arlin Adam; Syamsu A Kamaruddin; Ahmadin
CARITA: Jurnal Sejarah dan Budaya Vol. 4 No. 2 (2026): CARITA : Jurnal Sejarah dan Budaya
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35905/carita.v4i2.16786

Abstract

The transition to renewable energy has largely been approached from a technical and policy-oriented perspective, while the social, symbolic, and religious dimensions remain underexplored. This study examines the acceptance of solar energy technology in Balinese temples in Legian, Bali, by analyzing the meaning of energy in Tri Hita Karana and the symbolism of Surya in Balinese Hindu cosmology. The study also investigates how religious habitus and symbolic capital shape the technology's legitimacy and identifies barriers related to economic capital and technical capacity. This research employed a qualitative case study design, employing in-depth interviews, participant observation, and document analysis involving temple caretakers, devotees, and village authorities. The findings indicate that solar technology is not perceived as something foreign, but as an extension of the cosmic energy associated with Surya. Its integration into temple spaces involves cultural negotiations regarding sacred space, ritual practices, and temple aesthetics. The technology's legitimacy is generated through religious practices and symbolic authority within the religious sphere. However, its implementation remains constrained by limited economic resources and technical capacity rather than cultural resistance. Theoretically, this study extends Bourdieu's framework by showing that technology adoption is the result of the interaction between habitus, symbolic capital, and economic capital in a socio-religious field.
PELESTARIAN KEARIFAN LOKAL LALAMBATE TARANTAJO PADA MASYARAKAT ADAT KEMACOAAN BAWALIPU: PERSPEKTIF KOMUNIKASI BUDAYA DAN FUNGSIONAKISME STRUKTURAL M. Fikri Alghifari Yunus; Muhammad Syahdarul Awal
CARITA: Jurnal Sejarah dan Budaya Vol. 4 No. 2 (2026): CARITA : Jurnal Sejarah dan Budaya
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35905/carita.v4i2.16868

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme pelestarian kearifan lokal melalui nilai Lalambate Tarantajo pada masyarakat Adat Kemacoaan Bawalipu di Kecamatan Wotu Kabupaten Luwu Timur Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan etnografi komunikasi dan fenomenologi. Analisis data didasarkan pada teori Interaksionisme Simbolik serta Fungsionalisme Struktural melalui skema AGIL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Lalambate Tarantajo yang bermakna kesatuan yang teguh terinternalisasi melalui pola interaksi simbolik dalam ritual Maccera Tasi dan budaya Gomboa sebagai forum musyawarah adat. Nilai tersebut diwariskan secara turun-temurun melalui komunikasi antargenerasi, simbol adat, serta partisipasi aktif masyarakat dalam berbagai kegiatan bersama. Pelestarian nilai ini juga diperkuat oleh struktur fungsional dua puluh dua jabatan adat yang mapan dan tetap dijalankan sesuai peran masing-masing. Struktur tersebut berfungsi sebagai instrumen integrasi sosial, pengatur hubungan kemasyarakatan, sekaligus penjaga identitas etnis Suku Wotu di tengah arus modernisasi. Temuan ini menegaskan bahwa keberlangsungan adat sangat bergantung pada keseimbangan fungsi adaptasi, pencapaian tujuan bersama, integrasi sosial, dan pemeliharaan pola nilai secara kolektif dalam kehidupan masyarakat setempat secara berkelanjutan dan harmonis.
IDENTITAS DAN TRADISI KEISLAMAN: MUSLIM JAWA TRADISIONALIS DAN REFORMIS DI SURINAME (1890-1975) liris maulinaa; Nurrohim
CARITA: Jurnal Sejarah dan Budaya Vol. 4 No. 2 (2026): CARITA : Jurnal Sejarah dan Budaya
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35905/carita.v4i2.16869

Abstract

Islam di kalangan etnis Jawa di Suriname menampilkan karakteristik yang berbeda dari tanah asal akibat perbedaan antara kelompok tradisionalis yang menjaga warisan leluhur dan kelompok reformis yang berusaha memurnikan kembali ajaran Islam. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses migrasi etnis Jawa ke Suriname (1890-1939), pembentukan jati diri Muslim Jawa di Suriname (1890-1975), serta praktik tradisi keagamaan khas yang dilakukan oleh Muslim Jawa di Suriname. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan pendekatan historis melelui studi pustaka. Metode historis digunakan untuk merekonstruksi peristiwa masa lalu secara objektif ke dalam penelitian Adapun sumber primer yang digunakan berasal dari Natinonaal Archief dan dokumen-dokumen tertulis sezaman, yang dipadukan dengan analisis penelitian-penelitian sebelumnya berupa jurnal, artikel, buku, skripsi dan publikasi web terkini. Dalam penelitian ini, teknik analisis dilakukan dengan interpretasi yaitu menafsirkan dan menghubungkan fakta-fakta yang telah diverifikasi untuk memahami makna dan hubungan antara peristiwa pada sumber yang digunakan dalam penelitian ini yang telah melalui tahap verifikasi. Hasil penelitian ini adalah; sejarah migrasi etnis Jawa ke Suriname (1890-1939), bentuk identitas Muslim Jawa di Suriname (1890-1975) (kelompok tradisionalis dan kelompok reformis), dan bentuk tradisi keagamaan Muslim Jawa di Suriname khususnya slametan, juga beberapa tradisi lain; Nyadran, Sedekah Bumi dan Bodo Kupat. Disertai juga organisasi dan tokoh Muslim Jawa yang berpengaruh di Suriname. Secara teoritis, penelitian ini mendefinisikan teori diaspora dengan menunjukkan bahwa identitas migran tidak terbentuk secara replikatif, melainkan melalui negosiasi keagamaan yang penuh kompleks, sekaligus memperluas konsep identitas budaya  yang memperlihatkan bagaimana ketahanan budaya yang dibawa dari tanah air. Sedangkan secara praktis, penelitian ini memberikan gambaran tentang cara menjaga identitas dan adaptasi bagi kelompok minoritas dalam ruang diaspora global.
REPRESENTASI HISTORIS PERKEMBANGAN ISLAM DI JAWA TENGAH: STUDI KOLEKSI PADA MUSEUM PERKEMBANGAN ISLAM JAWA TENGAH Muhammad Akhdan Arif Al'Azzam; Sidik Fauji
CARITA: Jurnal Sejarah dan Budaya Vol. 5 No. 1 (2026): CARITA : Jurnal Sejarah dan Budaya
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35905/carita.v5i1.17513

Abstract

Museum merupakan lembaga yang menyimpan berbagai benda yang bernilai sejarah dan memori termasuk bagaimana islam bisa berkembang di suatu wilayah khususnya jawa tengah, maka dari itu museum seringkali dianggap sebagai tempat merepresentasikan sesuatu. Kajian akan representasi sudah banyak dilakukan tetapi banyak penelitian yang kurang memperhatikan dari aspek nilai historis maka dari itu, Penelitian ini bertujuan  untuk menganalisis representasi perkembangan historis perkembangan Islam di Jawa Tengah melalui koleksi yang dipamerkan di Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah. Museum sebagai institusi pelestarian budaya tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan artefak, tetapi juga sebagai ruang representasi sejarah yang menyampaikan narasi tertentu kepada masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan penggunaan teori Representasi Stuat hall. Sumber penelitian diperoleh melalui observasi terhadap koleksi museum, dokumentasi artefak, serta studi literatur yang berkaitan dengan sejarah perkembangan Islam di Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koleksi museum merepresentasikan perkembangan Islam di Jawa Tengah, terdapat dua artefak unik yang museum ini miliki, yakni Padasan Sunan Tembayat yang merupakan peninggalan praktek ibadah seorang wali kala itu dan Mimbar Masjid Kuno bermotif phoenix bercampur sulur jawa berbahasa arab yang menjadi bukti bertemunya tiga peradaban sekaligus: Islam, Jawa dan Cina.  Melalui penyajian artefak, manuskrip, serta benda budaya lainnya, museum membangun narasi historis mengenai perjalanan Islam di Jawa Tengah. Dengan demikian, museum tidak hanya berfungsi sebagai ruang penyimpanan benda sejarah, tetapi juga sebagai media yang merepresentasikan identitas perkembangan Islam di Jawa Tengah.