cover
Contact Name
Yuliana Jamaluddin
Contact Email
yuliana.jamaluddin@iain-manado.ac.id
Phone
+6285255448704
Journal Mail Official
nur.syahidah@iain-manado.ac.id
Editorial Address
Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Manado Jl. Dr. S.H. Sarundajang, Kawasan Ringroad I, Malendeng Manado Kode Pos 95128, Sulawesi Utara, Indonesia
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Al-Mustafid: Journal of Quran and Hadith Studies
ISSN : -     EISSN : 29860342     DOI : https://doi.org/10.30984/mustafid
Ilmu Al-Quran dan Tafsir merupakan Program Studi di Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwa IAIN Manado yang mempunyai Visi Menjadi Pusat Pengembangan Ilmu Al-Quran Dan Tafsir Yang Unggul Dan Moderat Berbasis Masyarakat Multikultural dan Misi 1. Menyelenggarakan Pendidikan Ilmu Al-Quran Dan Tafsir Yang Aktual Dan Kontekstual Untuk Membentuk Pribadi Yang Unggul Dan Moderat., 2. Menyelenggarakan Penelitian Yang Berorientasi Pada Pengembangan Ilmu Al-Quran Dan Tafsir Yang Berbasis Multikultural. 3. Menyelenggarakan Pengabdian Yang Berbasis Hasil Penelitian Ilmu Al-Quran Dan Tafsir Untuk Mewujudkan Masyarakat Multikultural Yang Moderat. 4. Melakukan Kerjasama Dengan Lembaga-Lembaga Yang Berorientasi Pada Pengembangan Ilmu Al-Quran Dan Tafsir
Articles 42 Documents
Implikasi Perbedaan Qira’at terhadap Hukum dan Penafsiran dalam Kitab Tafsir Jāmi‘ al-Bayān fī Ta’wīl al-Qur’ān Rahman, Muhammad Fadli; Imran, Muhammad; Nurain, St. Nur Syahidah Dzatun
Al-Mustafid: Journal of Quran and Hadith Studies Vol 4 No 1 (2025): June
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/mustafid.v4i1.1493

Abstract

Qira’at merupakan perbedaan cara baca al-Qur’an, yang diterima oleh Nabi Muhammad saw. dari Allah Swt. yang kemudian banyak ditentang oleh kelompok orientalis. Penelitian kali ini bertujuan untuk membuktikan perkataan orientalis, yang berpendapat bahwasannya perbedaan bacaan yang terjadi, dikarenakan bahasa Arab pada zaman awal, ditulis tanpa menggunakan harakat dan titik, sehingga menimbulkan pemahaman yang berbeda dari orang yang membacanya, dan tidak sama sekali berpengaruh terhadap pemaknaan sebuah ayat. Maka dari itu, penelitian ini dibuat untuk melihat perbedaan Qira’at dan implikasinya terhadap hukum dan penafsiran, dalam kitab tafsir monumental karya Imam aṭ-Ṭabarī yakni kitab tafsir Jāmi‘ al-Bayān fī Ta’wīl al-Qur’ān. Sehingga penelitian ini diberi judul “Implikasi Perbedaan Qira’at terhadap Hukum dan Penafsiran dalam Kitab Tafsir Jāmi‘ al-Bayān fī Ta’wīl al-Qur’ān.” Dengan menggunakan metode penelitian Library Research (penelitian kepustakaan) dan dengan menggunakan metode penelitian tafsir Muqarran (perbandingan), yakni dengan membandingkan antara riwayat Qālūn dari Imam Nāfi’ dan riwayat Ḥafṣ dari Imam ‘Āṣim dari segi farsy al-Ḥurūf dalam Q.S. Āli ‘Imrān dan Q.S. anNisā’. Hasil penelitian yang dapat disimpulkan adalah, terdapat perbedaan penafsiran di dalam ayat-ayat yang memiliki perbedaan bacaan (farsy al-Ḥurūf) diantara riwayat Qālūn dari Imam Nāfi’ dan riwayat Ḥāfṣ dari Imam ‘Āṣim, dan tidak ditemukan perbedaan Qira’at diantara keduanya dalam surah yang diteliti yang berimplikasi terhadap sebuah hukum. Namun, ditemukan perbedaan Qira’at yang berimplikasi pada hukum, dalam perbandingan riwayat yang lain, pada Q.S. an-Nisā’ ayat 43.
Eksistensi Kenabian Perempuan Perspektif Faqihuddin Abdul Kodir dan Implikasinya pada Keulamaan Perempuan Halid, Abdannisa Az-Zalfa
Al-Mustafid: Journal of Quran and Hadith Studies Vol 4 No 1 (2025): June
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/mustafid.v4i1.1496

Abstract

Penelitian ini mengkaji konsep kenabian perempuan oleh Faqihuddin Abdul Kodir dan implikasinya pada keulamaan perempuan. Faqihuddin melalui metode Qira’ah Mubadalah, berupaya menyetarakan posisi perempuan dalam ranah kenabian dan keulamaan, dengan landasan prinsip kesalingan atau resiprokal. Meskipun ulama klasik seperti Abu Hasan Al-Asy’ari, Al-Qurtubi, Ibn Hajar Al-Asqalani, dan Ibn Hazm mengakui nabi perempuan, Faqihuddin juga menyoroti penafsiran ulang term maskulinitas seperti ‘rijalun’ pada ayat kenabian, yang dapat bermakna "orang-orang" secara umum. Ia berupaya menyetarakan posisi perempuan dalam ranah kenabian bahkan kerasulan dan keulamaan, dengan menyoroti bahwa ketiadaan nabi perempuan tidak boleh memarginalisasi spiritualitas dan keulamaan perempuan, sebab ulama adalah pewaris nabi dan keulamaan adalah kerja profetik berbasis keilmuan, bukan gender. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi pustaka, menggunakan analisis isi dan analisis diskursus terhadap karya Faqihuddin, terutama "Qira'ah Mubadalah", serta teks Al-Qur'an dan pandangan ulama klasik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Faqihuddin mengurai bias gender dalam penafsiran agama, dengan membaca kembali ayat-ayat yang memiliki indikasi kenabian bahkan kerasulan pada perempuan yaitu pada Qs. Al-Qashash: 7, Qs. Yusuf: 109 An-Nahl: 43 dan Al-Anbiya: 7, yang memberikan dasar teologis bagi eksistensi kenabian perempuan, dan secara fundamental mendukung keulamaan perempuan, yang relevan dalam diskursus keislaman kontemporer.