cover
Contact Name
Rudy Budiatmaja
Contact Email
rudyatmaja12398@gmail.com
Phone
+6285928918217
Journal Mail Official
rudyatmaja12398@gmail.com
Editorial Address
https://e-journal.usd.ac.id/index.php/Divinitas/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual
ISSN : 29885434     EISSN : 29882311     DOI : 10.24071
Divinitas: Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual develops contextual Philosophical and Theological discourses in dialogue with sociological, anthropological, comparative religion, religious studies, historical, cultural and psychological perspectives and takes the diversity of Asian societies and cultures as its context. The journal is open to undergraduated student, graduated student and scholars from all religious backgrounds.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2025): Divinitas January" : 10 Documents clear
Memanusiakan Manusia Melalui Pendidikan di Dalam Keluarga Menurut Pemikiran Driyarkara dan Ki Hajar Dewantara Sutanto, Gaudensius Krisantus
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 3, No 1 (2025): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v3i1.8812

Abstract

Article written by the author focuses on explaining about Driyarka and Ki Hajar Dewantara’s ideas and taught about education in the family. Ki Hajar Dewantara, put forward the concept of the Three Centers of Education, which states that education occurs in the family, school and social community, with the family as the first and main educational environment. His famous principle, "Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani," describes the role of parents in various positions to educate children: providing example, and encouragement. According to Ki Hajar Dewantara, education in the family must also foster children's independence and responsibility, as well as giving them the freedom to explore their interests and talents. Meanwhile, Driyarkara emphasized that the family is the first place of a persons's presence as a human being, and the family is the first step in the process of his journey towards becoming a full human being. Overall, Driyarkara and Ki Hajar Dewantara's ideas about education in the family are related each other. Both agree that effective education starts from the family with an active and loving role of parents. While Driyarkara places more emphasis on holistic education and love, Ki Hajar Dewantara focuses on independence, freedom and the role of parents in supporting children from various educational positions. This writing uses a library research method sourced from both books and journals regarding the concept of family education according to Driyarkara and Ki Hadjar Dewantara. Through library sources, the author reads, adapts, summarizes and reports back ideas related to this article. Library study is also called text study. Using this method is very important because it is able to understand deeply and comprehensively the concept of family education according to Driyarkara and Ki Hajar Dewantara.AbstrakArtikel ini menampilkan pemikiran serta gagasan Driyarkara dan Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan di dalam keluarga. Ki Hajar Dewantara, mengemukakan konsep Tri Pusat Pendidikan, yang menyatakan bahwa pendidikan terjadi di keluarga, sekolah, dan masyarakat, dengan keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama. Prinsipnya yang terkenal, "Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani," menggambarkan peran orang tua dalam berbagai posisi untuk mendidik anak: memberi teladan, semangat, dan dorongan. Pendidikan dalam keluarga menurut Ki Hajar Dewantara juga harus menumbuhkan kemandirian dan tanggung jawab anak, serta memberikan kebebasan untuk mengeksplorasi minat dan bakat mereka. Secara keseluruhan, pandangan Driyarkara dan Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan dalam keluarga saling melengkapi. Keduanya sepakat bahwa pendidikan yang efektif dimulai dari keluarga dengan peran orang tua yang aktif dan penuh kasih sayang. Sementara Driyarkara lebih menekankan pada pendidikan holistik dan cinta kasih, Ki Hajar Dewantara fokus pada kemandirian, kebebasan, dan peran orang tua dalam mendukung anak dari berbagai posisi pendidikan.
Pahlawan dengan Menipu dan Membunuh? Menelaah Moralitas Kisah Yudit Tjen, Melia
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 3, No 1 (2025): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v3i1.9710

Abstract

This study examines the moral problem posed by Judith’s story in the Bible: how to morally justify the deception and murder committed by Judith against Holofernes. Using insights from feminist readings, the author emphasizes the importance of ethics of care to cope with the problem. Judith is not seen only as an individual figure, but a figure who is connected to the suffering and struggles of her community. Thus, deception and murder are seen as the last and legitimate attempt and strategy of a weak community to resist the hegemony of the oppressor. The purpose of this research is to present a more balanced way to read and assess the morality of Judith’s story, by utilizing insights from feminist ethics and cultural anthropology. The author uses literature review method to show that Juidth is indeed rightly called a Jewish heroine, despite all  her lies and deceptions, and also the murder she committed.AbtsrakPenelitian ini menelusuri masalah moral yang ditimbulkan oleh kisah Yudit dalam Alkitab: bagaimana secara moral membenarkan penipuan dan pembunuhan yang dilakukan oleh Yudit terhadap Holofernes. Dengan menggunakan wawasan dari pembacaan feminis, penulis menekankan pentingnya etika kepedulian untuk mengatasi masalah tersebut. Yudit tidak hanya dilihat sebagai sosok individu, tetapi sosok yang terhubung dengan penderitaan dan perjuangan komunitasnya. Dengan demikian, penipuan dan pembunuhan dipandang sebagai upaya dan strategi terakhir dan sah dari komunitas yang lemah untuk melawan hegemoni penindas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyajikan cara membaca dan menilai moralitas cerita Yudit secara lebih seimbang, dengan memanfaatkan wawasan dari etika feminis dan antropologi budaya. Penulis menggunakan metode tinjauan literatur untuk menunjukkan bahwa Yudit memang tepat disebut sebagai Srikandi Yahudi, kendati semua kebohongan dan penipuannya, juga pembunuhan yang dia lakukan. 
Dikotomi Kendali Menurut Stoikisme dalam Pembinaan Calon Imam Gerald, Angelus Narwastu; Pasapan, Reinaldy Noval; Selang, Klaudius Regis
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 3, No 1 (2025): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v3i1.10584

Abstract

The Church authorities have established a number of criteria and indicators in the formation of candidates for the priesthood. In fulfilling these requirements, candidates are likely to have emotions of anxiety and worry. By using the literature review method of data collection, the author would like to show that the practice of Stoicism's Dichotomy of Control can be a way to prevent negative emotions in candidates for the priesthood. A proper understanding of the Dichotomy of Control and its application in the daily lives of priestly candidates can help them to direct their focus only on things that can be controlled. The study shows that the practice of the Dichotomy of Control according to Stoicism can help priestly candidates to avoid the psychological pressure that appears in the formation period. The results also show that the Dichotomy of Control can help direct the priest candidates' concern to things that can be controlled within themselves. Therefore, they can develop a mature personality freely, without psycholgical pressure and negative emotions. Abstrak Otoritas Gerejawi telah menetapkan sejumlah pedoman dan indikator dalam pembinaan calon imam. Dalam usaha memenuhi sejumlah syarat tersebut para calon imam rentan untuk mengalami perasaan khawatir dan cemas. Dengan menggunakan metode pengumpulan data studi pustaka penulis ingin memperlihatkan penerapan Dikotomi Kendali ala Stoikisme dapat menjadi jalan untuk mencegah emosi negatif dalam diri para calon imam. Pemahaman yang tepat mengenai Dikotomi Kendali dan penerapannya dalam kehidupan para calon imam dapat membantu para calon imam untuk mengarahkan fokus hanya pada hal-hal yang dapat dikendalikan. Dengan demikian para calon imam bisa membangun kepribadian yang matang secara merdeka, tanpa tekanan psikolgis dan emosi negatif.
Yesus: Mengubah Duka Menjadi Sukacita sebuah Studi Naratif atas Teks Lukas 7:11-17 (Yesus Membangkitkan Anak Muda di Nain) Eldi, Rikardo; Intan Godat, Patrisiana
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 3, No 1 (2025): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v3i1.10373

Abstract

As the great Physician, Jesus healed the sick in more or less two commonly used ways, namely by Word and action.  In His actions, Jesus used materials, such as using earth to blind people's eyes (cf. Mk 10:46-52; Jn 9:6) In addition, there are other phenomena where Jesus with His power healed the sick with His Word. For example, in the context of the resurrection of the young man in Nain (Luke 7:11-17). There are two purposes for writing this article. Firstly, to introduce the reader to the narrative method of single tradition texts such as Luke 7:11-17. Secondly, this article aims to introduce the general public to the figure of Jesus who performed miracles with His Word and actions and their correlation with the creation story of Gen 1:26 (creating man with the Word) and Gen 2:7 (creating man from the dust of the ground). The method used in writing this article is a literature study with the Bible as the main source and several books and articles that are in accordance with the theme discussed.  The researcher used narrative analysis for the text of Luke 7:11-17 because there is no interpretation that uses the narrative method for the text of Luke 7:11-17. It can be concluded that the text of Luke 7:11-17 describes the figure of Jesus who shows His divinity. Through the Word of Jesus, He is able to resurrect a dead person. In addition, the social relationship between Jesus and people who experience suffering, widows, and marginalized groups can be used as an example for Christians today.AbstrakSebagai Sang Tabib agung dan Pemilik Kehidupan, Yesus menyembuhkan orang-orang sakit kurang lebih dengan dua cara yang umumnya digunakan, yakni dengan Sabda dan tindakan. Dalam tindakan-Nya, Yesus menggunakan bahan material, seperti menggunakan tanah untuk memelekan mata orang buta (Bdk. Mrk 10:46-52; Yoh 9:6) Di samping itu, ada fenomena lain di mana Yesus dengan kuasa-Nya menyembuhkan orang sakit dengan Sabda-Nya. Sebagai misal dalam konteks kebangkitan anak muda di Nain (Lukas 7:11-17). Terdapat dua tujuan penulisan artikel ini. Pertama, untuk memperkenalkan kepada pembaca metode naratif dari teks single tradition seperti Lukas 7:11-17. Kedua, artikel ini bertujuan untuk memperkenalkan kepada khalayak umum tentang sosok Yesus yang melakukan mukjizat dengan Sabda dan tindakan-Nya serta korelasinya dengan kisah penciptaan Kej 1:26 (menciptakan manusia dengan Firman) dan Kej 2:7 (menciptakan manusia dari debu tanah). Adapun metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah studi pustaka dengan Kitab Suci sebagai sumber utama dan beberapa buku serta artikel yang sesuai dengan tema yang dibahas. Peneliti menggunakan analisis naratif untuk teks Lukas 7:11-17 karena tidak banyak tafsiran yang menggunakan metode naratif untuk teks Lukas 7:11-17. Dapat disimpulkan bahwa teks Lukas 7:11-17 menggambarkan Sosok Yesus yang menunjukan keilahian-Nya. Melalui Sabda Yesus mampu membangkitkan seorang yang telah mati. Dengan demikian, Lukas 7:11-17 menampilkan tiga poin, yakni Allah seperasaan dengan orang yang menderita, Allah berkuasa atas kehidupan dan kematian, dan menampilkan realitas sebuah teologi iman dan wahyu. Iman berarti Allah yang menyatakan diri (Yesus) dan wahyu berarti tanggapan manusia atas pernyataan diri dari Allah (janda yang membiarkan Yesus membangkitkan anaknya).
Semua Makhluk adalah Saudara: Sinergi Pemikiran Paus Fransiskus dengan Budaya Jawa Panjaitan, Firman; Kusumaningdyah, Dwi Ratna
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 3, No 1 (2025): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v3i1.11441

Abstract

The world needs a contextual concept of Ecoteology, in the sense of a scientific study of theology that is friendly and caring for the environment that is increasingly in harmony with the Will of the creator. Through contextual ecoteology, humans can build harmonious relationships with God, others and the universe. Driven by these backgrounds, the purpose of this paper is to spark an understanding of contextual ecotheology through the synergy between the concept of ecotheology developed by Pope Francis, in his eksikliknya entitled Laudato Si’, Mi Signore, with the concept of Ecology in Javanese culture. This can be done because both views have parallels in view, namely placing nature and humans in one alignment that live and support each other. In this parallel, nature and man go through the process of becoming perfect in their submission and submission to God, The Creator. This study uses descriptive qualitative methods, relying on the literature approach. The results showed that the synergy between Pope Francis ' ecotheological view and the ecological view of Javanese culture can be carried out, resulting in a view of Javanese contextual ecotheology.AbstrakDunia membutuhkan sebuah konsep Ekoteologi yang kontekstual, dalam arti sebuah kajian ilmiah tentang teologi yang ramah dan peduli pada lingkungan hidup yang kian selaras dengan kehendak Sang Pencipta. Melalui ekoteologi kontekstual tersebut, manusia dapat membangun relasi yang harmonis dengan Tuhan, sesama dan alam semesta. Didorong oleh latar belakang tersebut, maka tujuan dari penulisan ini adalah untuk mencetuskan pemahaman ekoteologi kontekstual melalui sinergi antara konsep ekoteologi yang dikembangkan oleh Paus Fransiskus, dalam eksikliknya yang berjudul Laudato Si’, Mi Signore, dengan konsep ekologi dalam budaya Jawa. Hal ini bisa dilakukan karena kedua pandangan tersebut memiliki kesejajaran dalam pandangan, yaitu menempatkan alam dan manusia dalam satu kesejajaran yang saling hidup dan menghidupi satu sama lain. Dalam kesejajaran tersebut, alam dan manusia mengalami proses untuk menjadi sempurna dalam ketundukan dan penyerahan diri mereka kepada Tuhan, Sang Pencipta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan mengandalkan pendekatan pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sinergi antara pandangan ekoteologi Paus Fransiskus dengan pandangan ekologi budaya Jawa dapat dilakukan, sehingga menghasilkan pandangan tentang ekoteologi kontekstual Jawa.
Harmoni Manusia dan Alam Menurut Spinoza: Implikasi Filsafat Terhadap Etika Lingkungan Badri Dinggit, Patrisius Juwantri
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 3, No 1 (2025): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v3i1.10667

Abstract

The purpose of this paper is to show the harmony that exists between humans and nature according to Spinoza's philosophical view. The harmony is expected to manifest in the real form of harmonization, but the fact shows that the existence of harmony does not always create a harmonious relationship or relationship. This fact becomes the basis of urgency for the author to show the harmony of humans and nature in the present day. To achieve this goal, this paper focuses on the description of the philosophical view of man and nature based on the concept of substance according to Spinoza. Based on these descriptions, this paper reveals the harmony between humans and nature that has consequences for human ethics towards the environment or the earth they live on. The writing methodology used is a literature study of various sources, especially those that are Spinoza's original works such as “Ethics” and “A Theological Political Treatise”, as well as other works related to Spinoza's philosophical thought. The findings of this paper are first, harmony between man and nature according to Spinoza is within the deterministic concept. Second, the deterministic view of the harmony between nature and humans is the basis for humans to obey natural law. Third, obeying natural law is the best way or method for humans to create a harmonious relationship with nature. The result of this paper enriches the way humans think and act towards nature appropriately, as well as the way they treat nature.AbstrakTujuan tulisan ini adalah menunjukkan harmoni yang terdapat di antara manusia dan alam menurut pandangan filosofis Spinoza. Harmoni tersebut diharapkan mewujud dalam bentuk nyata yaitu harmonisasi, namun fakta menunjukkan bahwa adanya harmoni tidak selalu menjadi menciptakan hubungan atau relasi yang harmonis. Fakta ini menjadi landasan urgensitas bagi penulis untuk menunjukkan harmoni manusia dan alam di zaman sekarang. Untuk mencapai tujuan tersebut, tulisan ini berfokus pada uraian pandangan filosofis tentang manusia dan alam yang didasarkan pada konsep substansi menurut Spinoza. Berdasarkan uraian-uraian tersebut, tulisan ini menampakkan harmoni antara manusia dan alam yang memiliki konsekuensi pada etika manusia terhadap lingkungan atau bumi yang ia tempati. Metodologi penulisan yang digunakan adalah studi pustaka dari berbagai sumber terutama yang merupakan karya asli Spinoza seperti Ethics dan A Thelogical-Political Treatise, serta karya-karya lain yang berkaitan dengan pemikiran filosofis Spinoza. Temuan dari karya tulis ini yaitu pertama, harmoni antara manusia dan alam menurut Spinoza berada di dalam konsep deterministik. Kedua, pandangan deterministik mengenai harmoni alam dan manusia merupakan landasan bagi manusia untuk patuh pada hukum alam. Ketiga, patuh pada hukum alam merupakan jalan atau metode terbaik bagi manusia untuk menciptakan relasi harmonis dengan alam. Hasil tulisan ini memperkaya cara berpikir dan bertindak manusia terhadap alam secara tepat, serta memberikan pemaknaan baru mengenai kebebasan manusia yang sejatinya memiliki nilai tanggung jawab secara khusus dalam tulisan ini berkaitan dengan alam.
Paham Ketuhanan dalam Kepercayaan Dewi Ibu (Đạo Mẫu) pada Masyarakat Adat di Vietnam Lã, Huy Quốc; Sitorus, Desima Erlinda Agnesia; Prasaja, Leo Agung Tyas; Widodo, Agus
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 3, No 1 (2025): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v3i1.11598

Abstract

There are many religions and beliefs in the world. Among them, we must mention five major religions such as Christianity, Hinduism, Islam, Judaism and Buddhism. Besides these major religions, other religious beliefs still exist, namely the Đạo Mẫu Belief, Thờ Kính Tổ Tiên Belief (ancestor worship belief), Thờ Trời Belief, and others. These beliefs often originate from local cultures. Although belief is not as universal and strong as religion, it is imbued with the characteristics and identity of indigenous people's belief in a Supreme Being. In this article, the writer will clarify the identity of indigenous people's belief in their own beliefs, specifically the Mother Goddess belief (Đạo Mẫu) of the Vietnamese people. This study also focuses on the belief in divinity in the Đạo Mẫu traditional belief. Using the library research method, the writer traces official sources of information through books, articles, and etc to give an overview of the Mother Goddess belief. Specifically, this article will present the origins of the formation of the Đạo Mẫu belief and also mention the divine system in the Đạo Mẫu belief. Apart from that, the author presents the unique rituals in the Mother Goddess belief, as well as the meaning of these rituals. Finally, the researcher will explain the views and role of the Mother Goddess in the Đạo Mẫu Belief.AbstrakAda banyak kepercayaan dan agama di dunia, diantaranya lima agama besar seperti Kristen, Hindu, Islam, Yudaisme, dan Budha. Selain agama-agama besar tersebut, masih ada kepercayaan lain yang berasal dari budaya lokal yaitu Kepercayaan Đạo Mẫu, Kepercayanan Thờ Kính Tổ Tiên (kepercayaan pemujaan leluhur), Kepercayaan Thờ Trời, dan lain lain. Meski kepercayaan ini tidak bersifat universal dan sekuat agama, namun kepercayaan tersebut dijiwai dengan ciri dan identitas kepercayaan adat terhadap Yang Maha Esa. Dalam artikel ini, penulis akan memperjelas identitas kepercayaan masyarakat adat terhadap kepercayaan mereka sendiri, khususnya kepercayaan Đạo Mẫu masyarakat Vietnam. Penelitian ini juga berfokus pada paham ketuhanan dalam kepercayaan adat Đạo Mẫu. Dengan menggunakan metode studi literatur, penulis menelusuri sumber informasi resmi melalui buku, artikel, dan lain-lain untuk memberikan gambaran tentang kepercayaan Đạo Mẫu. Secara khusus artikel ini akan memaparkan asal mula terbentuknya kepercayaan Đạo Mẫu dan juga menyebutkan sistem ketuhanan dalam kepercayaan Đạo Mẫu. Selain itu, penulis menyajikan keunikan ritual-ritual dalam kepercayaan Đạo Mẫu, serta makna dari ritual-ritual tersebut. Terakhir, peneliti akan memaparkan pandangan pandangan dan peran Dewi Ibu dalam Kepercayaan Đạo Mẫu.
Pendidikan bagi Calon Pemimpin yang Berciri Kalos Kagathos menurut Plato dan Driyarkara dalam Konteks Demokrasi di Tengah Masyarakat Plural di Indonesia Iswandi, Ferdinandus Iswandi; Nefrindo, Oktavianus Nefrindo; Prakosa, JB Heru
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 3, No 1 (2025): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v3i1.11627

Abstract

Ideal leadership in a democratic system demands a leader who is not only intelligent but also possesses moral wisdom and integrity. The concept of *kaloskagathos*, introduced by Plato, describes an individual who excels both intellectually and ethically, making them worthy of leadership. On the other hand, N. Driyarkara emphasizes education as a process of humanization aimed at shaping individuals who are socially responsible and aware of communal solidarity.  This article examines the concept of education for future leaders according to Plato and Driyarkara and its relevance in shaping democratic and pluralistic leadership in Indonesia. Through a literature review method, this study finds that leadership education should focus on character development, wisdom, and an understanding of diversity. An ideal education system for leaders in a pluralistic society like Indonesia must integrate philosophical approaches, leadership ethics, and humanistic values to foster social justice and harmony.AbstrakDalam tulisan ini, penulis mengkaji pemikiran Filsuf Plato dan Driyarkara mengenai proses pendidikan dan pencarian pemimpin kalos kagathos . Istilah kalos kagathos Merujuk pada konsep kesatuan antara kebaikan ( kalos ) dan kebajikan ( kagathos ) yang dikenakan pada seorang pemimpin yang ideal. Dalam karya-karyanya, Plato berbicara tentang pentingnya pendidikan untuk membentuk pemimpin yang berkarakter, bijaksana, dan adil. Sedangkan dalam pandangan Nicolaus Driyarkara, ditekankan nilai-nilai kemanusiaan atau humanisasi dan spiritual dalam pendidikan. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana mendidik dan mencari calon pemimpin yang berciri Kalos kagathos dalam konteks demokrasi Indonesia saat ini. Demokrasi sendiri bisa dimaknai pula sebagai ajang perjumpaan antara berbagai elemen masyarakat yang berbeda dalam semangat keterbukaan dan dianugerahi demi kebaikan bersama ( bonum commune ). Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif melalui studi pustaka, penulis menggali pandangan kedua filsafat tersebut, kemudian menerapkan konsep-konsep yang relevan dalam konteks pendidikan kepemimpinan di Indonesia saat ini. Hasil penelitian menunjukkan, dengan menganalisis pemikiran dari kedua tokoh ini, bahwa upaya identifikasi inti pendidikan yang ideal harus dilakukan dengan membentuk karakter pemimpin yang tidak hanya berkompeten tetapi juga memiliki nilai etika dan moral yang kuat. 
Bukti dan Kebenaran Ilmiah: Dua Sisi Mata Uang Onoyi, Nona Jane
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 3, No 1 (2025): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v3i1.11500

Abstract

This article explores the intricate relationship between evidence and scientific truth, likened to two sides of the same coin. Evidence serves as the fundamental basis for building scientific knowledge, while scientific truth remains tentative and evolves with new discoveries. The discussion delves into the concepts of evidence and truth from the perspective of the philosophy of science, identifying various types of evidence, from empirical to spectral, and examining theories of truth such as coherence, correspondence, and pragmatism. The correlation between evidence and truth is reviewed as a systematic scientific process, although contradictions arise due to evidence limitations, interpretative biases, and the dynamics of scientific paradigms. Through this analysis, the article underscores the importance of critical thinking and awareness of limitations in evaluating scientific claims to support the development of valid and rational knowledge.AbstrakArtikel ini mengeksplorasi hubungan kompleks antara bukti dan kebenaran ilmiah yang diibaratkan sebagai dua sisi mata uang. Bukti menjadi dasar utama dalam membangun ilmu pengetahuan, sementara kebenaran ilmiah bersifat tentatif dan terus berkembang seiring dengan munculnya bukti baru. Kajian ini menganalisis konsep bukti dan kebenaran dari perspektif filsafat ilmu, mengidentifikasi berbagai jenis bukti, serta membahas teori kebenaran. Artikel ini juga mengulas bagaimana korelasi antara bukti dan kebenaran terbentuk dalam proses ilmiah, serta bagaimana kontradiksi dapat muncul akibat keterbatasan bukti, bias interpretasi, dan perubahan paradigma ilmiah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research).  Data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari berbagai literatur ilmiah. Pemahaman yang kritis terhadap hubungan bukti dan kebenaran memiliki implikasi penting dalam pengambilan keputusan berbasis bukti, literasi sains, serta pengembangan teknologi. Oleh karena itu, sikap terbuka terhadap revisi ilmiah dan kesadaran akan sifat dinamis kebenaran menjadi kunci dalam mendukung perkembangan ilmu pengetahuan yang rasional, objektif, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Keselarasan antara Kristologi Origen dari Aleksandria dan Kristologi Konsili Nicea 325: Sebuah Observasi Wijaya, Jonathan Cristian
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 3, No 1 (2025): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v3i1.11405

Abstract

This study aims to show the harmony between the Christology of Origen of Alexandria and the Christology produced by the Council of Nicaea in 325. Some scholars argue that Origen was the forerunner of Arius' Christology, because when compared there are many similarities between Origen's Christology and Arius' Christology. Meanwhile, some other scholars see that Origen's Christology is in harmony with the Christology of the Council of Nicaea, because Origen taught the divinity of Jesus and the consubstantiality of Christ and the Father. To mediate the two views that see Origen's Christology from different perspectives, some scholars offer a third view. The third view emphasizes that some points in Origen's Christology can be said to be in harmony with Arius' Christology, while some other points are more in harmony with the Christology of the Council of Nicaea. However, previous research has not discussed much about which writings of Origen's works can be said to be in harmony with the Christology of the Council of Nicaea that refers to the Nicene Creed. Through this writing, the author shows the harmony between the two verbatim by comparing Origen's writings related to Christology, with the Nicene Creed, Paragraph 2, which talks about Christ, as well as the Christology of Orthodox figures who attended the Council of Nicea, such as Alexander and Athanasius. The author uses literature studies in this essay to support the author's thesis that there is harmony between Origen's and Nicene's Christology verbatim. Although the author emphasizes the harmony between Origen's and Nicene's Christology in this writing, the author does not attempt to state an opinion that claims Origen's Christology is close to Arius' is a wrong viewpoint. Because if compared carefully, there are indeed significant similarities between Origen's and Arius' Christology.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menunjukkan adanya keselarasan antara Kristologi Origen dari Aleksandria dan Kristologi yang dihasilkan oleh Konsili Nicea pada tahun 325. Beberapa sarjana berpendapat bahwa Origen merupakan pelopor dari kristologi Arius, karena bila dibandingkan terdapat banyak kesamaan antara Kristologi Origen dan kristologi Arius. Sementara itu beberapa sarjana lain justru melihat bahwa Kristologi Origen selaras dengan Kristologi Konsili Nicea, karena Origen mengajarkan keallahan Yesus dan kesehakikatan antara Kristus dan Bapa. Untuk menengahi kedua pandangan yang melihat Kristologi Origen dengan sudut pandang berbeda, beberapa sarjana menawarkan pandangan ketiga. Pandangan ketiga menekankan bahwa beberapa poin dalam Kristologi Origen dapat dikatakan selaras dengan Kristologi Arius, sementara beberapa poin lain lebih selaras dengan kristologi Konsili Nicea. Meski demikian, penelitian sebelumnya belum banyak membahas tulisan-tulisan mana dari karya-karya Origen yang dapat dikatakan selaras dengan Kristologi Konsili Nicea yang merujuk pada Kredo Nicea. Melalui tulisan ini, penulis menunjukkan keselarasan antara keduanya secara verbatim dengan cara membandingkan tulisan-tulisan Origen terkait Kristologi, dengan Kredo Nicea Alinea ke-2 yang berbicara tentang Kristus juga dengan Kristologi tokoh-tokoh ortodoks yang menghadiri Konsili Nicea seperti Aleksander dan Athanasius. Penulis memakai studi pustaka dalam tulisan ini untuk mendukung tesis penulis yang menyatakan bahwa ada keselarasan antara Kristologi Origen dan Nicea secara verbatim. Meski penulis lebih menekankan keselarasan antara Kristologi Origen dan Nicea dalam tulisan ini, penulis tidak berupaya untuk menyatakan pendapat yang mengklaim Kristologi Origen dekat dengan Arius adalah cara pandang yang salah. Sebab jika dibandingkan secara seksama, memang terdapat kesamaan signifikan antara Kristologi Origen dan Arius.

Page 1 of 1 | Total Record : 10