cover
Contact Name
Samgar Setia Budhi
Contact Email
samgar.budhi@gmail.com
Phone
+6281349436165
Journal Mail Official
huperetes@sttkalimantan.ac.id
Editorial Address
Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan (STT Kalimantan) Jalan Gajah Mada No. 50 Kecamatan Pontianak Selatan, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
ISSN : 27164314     EISSN : 27160688     DOI : https://doi.org/10.46817/huperetes
Core Subject : Religion, Education,
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen merupakan wadah publikasi penelitian dalam bidang Teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2716-0688 (online) dan 2716-4314 (print) yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan dengan lingkup penelitian meliputi: Teologi Biblika, Teologi Sistematika, Pastoral, Misiologi, dan Pendidikan Agama Kristen.
Articles 61 Documents
Peran Orang Tua dalam Menunjang Pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen pada Masa Endemi Covid 19 Esti Regina Boiliu; Mariyanti Adu
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 3, No 2 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v3i2.91

Abstract

In light of the current scenario, including the Covid 19 outbreak, this article examines the role of parents in promoting the implementation of Christian religious education. Despite the fact that children can now participate in face-to-face instruction at school, some parents have not had the courage to let go and opt for their kids to attend classes (online). This article's goal is to show how parents' domestic contributions continue to help the effective delivery of Christian religious education. A literature review, which involves looking over various academic books, journals, and websites that discuss the subject under study, is the method utilized to accomplish this study. The authors then study all the sources they have and come to their conclusions. According to the study's findings, parents play a crucial role as at-home educators (teachers), facilitators, and motivators in the implementation of Christian religious education in the endemic era of Covid 19.Artikel ini mengulas tentang peran orang tua dalam menunjang pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen di tengah situasi saat ini yaitu endemi Covid 19. Meskipun situasi sudah memungkinkan untuk anak mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah, namun sebagian orang tua belum berani untuk melepaskan dan memilih untuk anaknya mengikuti pembelajaran jarak jauh (online). Oleh sebab itu, tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk menjelaskan bagaimana peran orang tua di rumah tetap mendukung kelancaran pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen. Adapun teknik yang digunakan untuk menyelesaikan penelitian ini yaitu literature review dengan meninjau beberapa artikel ilmiah, buku, internet yang merujuk kepada topik pembahasan yang dikaji. Semua sumber yang didapatkan kemudian dianalisis dan ditarik kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah orang tua memiliki peranan yang sangat penting dalam menunjang pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen pada era endemi Covid 19 yaitu sebagai pendidik (guru) di rumah, fasilitator, dan motivator.
Studi Eksposisi tentang Penegasan Kembali Perjanjian Allah dengan Abraham dalam Kejadian 15:1-21 Yoseph Yoseph
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 2, No 1 (2020): Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v2i1.40

Abstract

The Bible reveals that every believer is given the privilege of being an heir (John 1:12), including as an heir of God's promises (Rom. 8:17; Gal. 4:7; Eph. 3:6). Even so, believers can still experience difficulties in life. The Bible shows that believers can also experience fluctuations in faith as a result of circumstances that occur around them, such as Abraham's example. Therefore, the discussion of Abraham's experience in Genesis 15:1-21 in waiting for God's promises becomes an interesting topic and contributes to believers today in trusting God and His care during life's struggles. There is also scope for this article to focus on exposition studies regarding the reaffirmation of God's covenant with Abraham regarding heirs and the promised land. This research uses the descriptive-analytical method, which describes or provides an overview of the object of research. The object of research is in the form of data obtained through an exposition study of the text which is the subject of discussion. Based on research it is found that figures like Abraham, including believers, can experience doubts about God's promises. But on the other hand, God remains faithful in fulfilling His covenant to Abraham by reaffirming His promises bound in a covenant ceremonial (Covenant).Alkitab mengungkapkan bahwa setiap orang percaya diberikan hak istimewa yaitu sebagai ahli waris (Yoh. 1:12), termasuk sebagai pewaris dari janji-janji Allah (Rm.8:17; Gal. 4:7; Ef. 3:6). Meskipun demikian orang percaya masih dapat mengalami kesulitan hidup. Alkitab menunjukkan bahwa orang percaya juga dapat mengalami fluktuasi dalam hal iman sebagai akibat dari keadaan yang terjadi disekitarnya, seperti contohnya Abraham. Oleh karena itu, pembahasan tentang pengalaman Abraham dalam Kejadian 15:1-21 dalam menanti janji Allah menjadi topik yang menarik dan memberi kontribusi bagi orang percaya masa kini dalam mempercayai Allah dan pemeliharaan-Nya di tengah pergumulan hidup. Ada pun lingkup pembahasan artikel ini adalah seputar studi eksposisi mengenai penegasan kembali perjanjian Allah dengan Abraham tentang ahli waris dan tanah perjanjian. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif – analitis, yaitu mendeskripsikan atau memberikan gambaran terhadap objek penelitian. Adapun objek penelitian itu berupa data yang diperoleh melalui studi eksposisi terhadap teks yang menjadi pokok pembahasan.  Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa tokoh seperti Abraham, termasuk orang percaya, dapat mengalami keragu-raguan terhadap janji Allah. Namun di sisi lain, Allah tetap setia dalam memenuhi perjanjian-Nya kepada Abraham dengan memberikan penegasan kembali janji-Nya yang diikat dalam sebuah seremonial perjanjian (Covenant)
Konsep Mesianik dan Apologetik Matius melalui Perumpamaan Mesianik Menurut Matius 21:33-43 Daniel Lindung Adiatma; Eldad Mesakh Pramono
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4, No 1 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v4i1.154

Abstract

The study of parables in the Synoptic Gospels is a complex process. Matthew 21:33-44 has stated a parable that has the potential to distort the understanding of its readers. The absence of the author's explanation of the meaning of the parable makes the readers understand the parable differently, depending on the reader's point of view. The parable has also generated debate among New Testament scholars. Even evangelical scholars have found no agreement on the meaning of the parable. The purpose of this study is to find a comprehensive theological meaning formulation of the parable that has been recorded in Matthew 21:33-44. This paper presents three analyses that are relevant to understanding the parable of the vineyard cultivators. Historical background analysis, material analysis, and theological analysis are relevant approaches in bridging understanding between the early recipients of parable teachings and the first-century Christians. The parable of the cultivators of the vineyard cannot be interpreted allegorically but in light of the context in which the material is compiled. Apart from providing a strong Christological meaning, this parable is Matthew's apologetic argument to correct the mistake of the Jews in rejecting Jesus and to convince his readers that Jesus is the Messiah that God has promised in the Old Testament.Studi tentang perumpamaan dalam Injil Sinoptik merupakan proses yang rumit. Matius 21:33-44 telah menyatakan suatu perumpamaan yang berpotensi membiaskan pemahaman para pembacanya. Tidak adanya penjelasan penulis terhadap makna perumpamaan menjadikan para pembacanya memahami perumpamaan tersebut secara berbeda, tergantung pada sudut pandang pembaca. Perumpamaan tersebut juga telah menimbulkan perdebatan pada kalangan sarjana Perjanjian Baru. Bahkan para sarjana injili pun tidak menemukan kesepakatan terkait pemaknaan perumpamaan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah menemukan suatu rumusan makna teologis yang komprehensif dari perumpamaan yang telah dicatatkan dalam Matius 21:33-44. Tulisan ini memaparkan tiga analisis yang relevan dalam memahami perumpamaan tentang penggarap kebun anggur.  Analisis latar belakang sejarah, analisis materi dan analisis teologi merupakan pendekatan yang relevan dalam menjembatani pemahaman antara penerima ajaran perumpamaan mula-mula dengan orang kristen abad pertama. Perumpamaan tentang penggarap kebun anggur tidak dapat ditafsirkan secara alegoris melainkan dengan mempertimbangkan konteks pengkompilasian materi. Selain memberikan makna kristologis yang kuat, perumpamaan ini merupakan argumentasi apologetis Matius untuk mengoreksi kesalahan orang Yahudi menolak Yesus serta meyakinkan pembacanya bahwa Yesus adalah Mesias yang telah dijanjikan oleh Allah dalam Perjanjian Lama.
Kaidah Penafsiran Puisi Perjanjian Lama Paulus Dimas Prabowo
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 3, No 1 (2021): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v3i1.73

Abstract

God who is so creative not only used various types of people to write His revelations but also used various types of literature (genre) known in human civilization. That is why, the methods of studying and analyzing a text may differ from one another, depending on the type of literature. Recently, the results of biblical research have looked at the type of literature as the main consideration in finding the meaning. The same thing should also be adopted by biblical researchers in this country. This article aims to explain how to analyze biblical texts in the genre of Old Testament poetry. Because it is not uncommon for students to find poetry book Bibles with improper procedures. Writing poetry is not the same as telling stories about narrative, epistolary, and other genres. Therefore, the writer tries to present a way to analyze the Old Testament poetry books, in order to equip the readers with the right procedure in capturing the Old Testament poetry texts. The method used in this article is to find a literature study, where the data in this article were obtained from various sources with related topics.Allah yang begitu kreatif tidak hanya memakai beragam jenis orang untuk menuliskan wahyu-Nya, tetapi juga memakai bermacam jenis sastra (genre) yang dikenal dalam peradaban manusia. Itu sebabnya, metode dalam mempelajari dan menganalisa sebuah teks bisa berbeda satu sama lain, tergantung jenis sastranya. Belakangan, hasil-hasil penelitian biblika telah melirik jenis sastra sebagai pertimbangan utama dalam menggali dan menemukan makna. Hal senada juga seyogyanya dianut oleh para peneliti biblika di negeri ini. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana menganalisis teks alkitabiah dalam genre puisi Perjanjian Lama. Sebab, tidak jarang pelajar Alkitab menggali buku puisi dengan prosedur yang tidak semestinya. Cara penggalian kitab puisi tidak sama dengan cara penggalian kitab narasi, epistolari, dan genre lainnya. Oleh karena itu penulis mencoba menyajikan suatu cara untuk menganalisis kitab-kitab puisi Perjanjian Lama, guna membekali pembaca dengan prosedur yang tepat dalam menggali teks-teks puisi Perjanjian Lama. Metode yang dipakai dalam artikel ini ialah studi literatur, di mana data-data dalam artikel ini diperoleh dari beragam sumber dengan topik terkait.
Prinsip Perintah Yesus untuk Menjadikan Murid Berdasarkan Matius 28:16-20 Oni Oni
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 1, No 2 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v1i2.24

Abstract

Gospel preaching is the duty of every believer to be carried out not a mandate for certain people, such as pastors, pastors or evangelists. But this preaching of the gospel is a direct mandate from God for believers. But some of the believers do not have a correct understanding of this noble task and thus ignore it. Based on the above problem, Matthew 28: 16-20 is discussed so that every believer is able to understand and apply the Great Commission of the Lord Jesus Christ. The biblical text is one part that teaches about missionary service for this world, which is to make all nations disciples of Jesus Christ. This study uses a qualitative study of biblical literature with a literal-grammatical-historical-contextual interpretation approach and considers highly correlated Bible texts, and describes them so as to be able to provide an understanding of Jesus' commands to make disciples. Every believer needs to grow in faith and his knowledge of God. Thus believers will be enabled to do His commandments. The Great Commission of the Lord Jesus Christ is not a choice but a necessity to do. The message that must be conveyed is that Jesus Christ died, was buried, and on the third day He rose and ascended into heaven.Pemberitaan Injil adalah tugas setiap orang percaya yang harus dilaksanakan bukan mandat bagi orang-orang tertentu saja, seperti para gembala, para pendeta atau penginjil. Tetapi pemberitaan Injil ini merupakan mandat langsung dari Allah bagi setiap orang percaya. Namun sebagian dari orang-orang percaya tidak memiliki pemahaman yang benar mengenai tugas mulia ini sehingga mengabaikannya. Berdasarkan masalah di atas, maka Matius 28:16-20 dibahas supaya setiap orang percaya mampu memahami dan mengaplikasikan Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus. Teks Alkiktab tersebut adalah salah satu bagian yang mengajarkan tentang pelayanan misi bagi dunia ini, yaitu menjadikan segala bangsa murid Yesus Kristus. Penelitian ini menggunakan studi kualitatif literatur biblika dengan pendekatan teori tafsir literal-gramatikal-historikal-kontektual dan mempertimbangkan teks-teks Alkitab yang sangat berhubungan, dan mendeskripsikannya sehingga mampu memberi pemahaman tentang prinsip-perintah Yesus untuk menjadikan murid. Setiap orang percaya perlu bertumbuh dalam iman serta pengenalannya akan Allah. Dengan demikian orang-orang percaya akan dimampukan untuk mengerjakan perintah-perintah-Nya. Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus bukan suatu pilihan tetapi keharusan untuk dilaksanakan. Berita yang harus disampaikan adalah bahwa Yesus Kristus telah mati, dikuburkan, dan pada hari ketiga Ia bangkit dan naik ke sorga.
Konsep Biblika Pengharapan Kebahagiaan Menurut Filipi 2:1-4 dan Implementasinya Bagi Jemaat Masa Kini di Era Disrupsi Paulus Kunto Baskoro; Anon Dwi Saputro
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4, No 1 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v4i1.123

Abstract

The happiness of a life is the dream of every believer. Happiness in family, work, service, future, and old age. Happiness is the key to joy in life. Happiness is often equated with having a position, having wealth, having many relationships, and having a guarantee in old age. So all measures of happiness are always focused on external things. This is an incorrect view. The author tries to explain a concept of happiness that is in accordance with God's Word in Philippians 2:1-4. Philippians 2:1-4 will explore and find the principles of true happiness so that every believer can experience the happiness of life in Christ Jesus. This writing uses a descriptive literature method. The purpose of this research is: First so that every believer understands the principles of happiness according to Philippians 2:1-4. Second, every believer has true happiness according to Philippians 2:1-4, as the hope of everyone's life. Third, every believer becomes a person who experiences happiness that is not affected by world conditions.Kebahagiaan sebuah kehidupan menjadi dambaan setiap orang percaya. Kebahagiaan dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, masa depan dan masa tua. Kebahagiaan menjadi sebuah kunci sukacita dalam kehidupan. Kebahagiaan seringkali disamakan dengan memiliki jabatan, memiliki harta kekayaan, memiliki relasi yang banyak dan memiliki sebuah jaminan di hari tua. Sehingga semua ukuran kebahagiaan selalu difokuskan kepada hal-hal yang lahiriah. Ini sebuah pandangan yang tidak benar. Penulis berusaha memaparkan sebuah konsep kebahagiaan yang sesuai dengan Firman Tuhan dalam Filipi 2:1-4. Lewat Filipi 2:1-4 akan digali dan ditemukan prinsip-prinsip kebahagiaan yang sejati, sehingga setiap orang percaya bisa mengalami kebahagiaan hidup dalam Kristus Yesus. Penulisan ini menggunakan metode deskriptif literatur. Tujuannya penelitian ini adalah: Pertama, supaya setiap orang percaya mengerti prinsip-prinsip bahagia menurut Filipi 2:1-4. Kedua, setiap orang percaya memiliki kebahagiaan yang sejati menurut Filipi 2:1-4, sebagai pengharapan hidup setiap orang. Ketiga, setiap orang percaya menjadi pribadi yang mengalami kebahagiaan yang tidak terpengaruhi dengan kondisi dunia. 
Makna Teologis Kata Perhentian dalam Ibrani 4:1-14 (Analisis Tekstual, Stuktural, Kontekstual dan Intertekstual) Daniel Lindung Adiatma; Saul Arlos Gurich
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 2, No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v2i2.60

Abstract

There is a tendency for many commentators of the New Testament to interpret the text with a topical approach. This approach is relevant for research in the field of Christian theology. The problem is, that the topical approach has a tendency to ignore the unity of the elements of the book. Therefore, we need a model of topical interpretation that is perfected with the unity of the theology of the book. The topic of the theological meaning of the word "rest" has attracted the attention of interpreters recently. These topics are the small sections that make up the theology of the book of Hebrews as a whole. This article presents three analyses (textual, contextual, and intertextual) as an approach to finding the theological meaning of the word "rest" in Hebrews 4:1-14. The author considers the book of Hebrews as the final form to find the meaning of the word "rest" in the theological context of the book of Hebrews. The author tries to synchronize the three approaches in finding the progressive meaning of the word "cessation" in both the Old Testament and the New Testament. The results of research through these three approaches have shown an increase in the meaning of the word "rest" from the context of the Old and New Testaments. Finally, this article can support the theory of progressive revelation that dispensational evangelicals have long believed.Ada kecenderungan penafsir kitab Perjanjian Baru menafsirkan teks dengan pendekatan topikal. Pendekatan ini relevan bagi penelitian pada bidang teologi Kristen. Masalahnya, pendekatan topikal memiliki kecenderungan mengabaikan kesatuan unsur-unsur kitab. Oleh karena itu, diperlukan suatu model penafsiran topikal yang disempurnakan dengan kesatuan teologi kitab. Topik tentang makna teologi kata “perhentian” menarik perhatian para penafsir pada akhir-akhir ini. Topik tersebut merupakan bagian kecil yang membangun teologi kitab Ibrani secara keseluruhan. Artikel ini memaparkan tiga analisa (tekstual, kontekstual dan intertekstual) sebagai pendekatan untuk menemukan makna teologi kata “Perhentian” dalam kitab Ibrani 4:1-14. Penulis mempertimbangkan kitab Ibrani sebagai bentuk akhir untuk menemukan makna kata “perhentian” dalam konteks teologi kitab Ibrani. Penulis berusaha melakukan sinkronisasi tiga pendekatan tersebut dalam menemukan progresifitas makna kata “Perhentian” baik dalam kitab Perjanjian Lama maupun kitab Perjanjian Baru. Hasil penelitian melalui tiga pendekatan tersebut telah menampilkan adanya peningkatan makna kata “Perhentian” dari konteks Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Akhirnya, artikel ini dapat mendukung teori pewahyuan progresif yang selama ini diyakini oleh kaum injili dispensasi.
Teknik Mengajar Pendidikan Agama Kristen Menurut Surat-Surat Pastoral Heri Kiswanto
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4, No 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v4i2.198

Abstract

Teaching techniques are needed by Christian Religious Education (PAK) teachers in teaching activities so that learning becomes interesting. The technique itself talks about how to use a method or system to do something. But sometimes PAK teachers experience boredom and a lack of creativity in teaching. The Apostle Paul in his pastoral letters uses teaching techniques in conveying the Word of God. The teaching techniques are used in a variety of ways so that when teaching is not boring. The purpose of this research is to find out the techniques of teaching Christian Religious Education according to the pastoral letters. The method used in writing this journal uses descriptive research methods, with sources from articles and reference books related to teaching techniques in pastoral letters. The results of this study are that there are several teaching techniques in pastoral letters, namely: First, teaching techniques through visits. Second, teaching techniques through an individual approach. Third, teaching techniques by influencing. Fourth, teaching techniques with material giving advice. Fifth, teaching techniques by memorizing. Sixth, teaching techniques with lectures. Seventh, teaching techniques with parables.Teknik mengajar dibutuhkan oleh guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) dalam kegiatan mengajar agar pembelajaran menjadi menarik. Teknik itu sendiri berbicara tentang bagaimana menggunakan metode atau sistem mengerjakan sesuatu. Tetapi terkadang guru PAK mengalami kejenuhan dan kurang kreatif dalam mengajar. Rasul Paulus dalam surat-surat pastoral memakai teknik mengajar dalam menyampaikan Firman Tuhan. Teknik mengajar tersebut digunakan secara bervariasi agar ketika mengajar tidak membosankan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui teknik-teknik mengajar Pendidikan Agama Kristen menurut surat-surat pastoral. Adapun metode yang digunakan dalam penulisan jurnal ini menggunakan metode penelitian deskriptif, dengan sumber-sumber dari artikel dan buku-buku referensi yang berhubungan dengan teknik mengajar pada surat-surat pastoral. Hasil penelitian ini adalah ada beberapa teknik mengajar dalam surat-surat pastoral, yaitu:  Pertama, teknik mengajar melalui perkunjungan. Kedua, teknik mengajar melalui pendekatan individu. Ketiga, teknik mengajar dengan mempengaruhi. Keempat, teknik mengajar dengan materi pemberian nasehat. Kelima, teknik mengajar dengan menghafal. Keenam, teknik mengajar dengan ceramah. Ketujuh, teknik mengajar dengan perumpamaan.
Studi Kritik Teori Penciptaan Dalam Kejadian 1:1-2 (Suatu Kajian terhadap Argumentasi Teori Celah) Djonly J. R. Rosang
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 1, No 1 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v1i1.19

Abstract

The creation of the universe, according to the Holy Bible has actually done as said in Genesis 1-2. However, there are some people who are still struggling in order to search for the reason to question the process of how is this universe actually began, so that they will look for scientific consideration to find the “theoretical justification” over the biblical truth. This writing aims to give an answer to the gap theory in Genesis 1:1-2. The author, through the study Genesis 1:1-2, the result of this study concluded as follows. First, there is no exegesis background that is strong enough for gap theory to give an assumption that there was an unmeasurably period of time or age in the creation of the universe. Second, a biblical statement, “In the beginning God created the heavens and the earth ... for in six days the LORD made heaven and the earth” (Gen. 1:1; Ex. 20:11) is an ultimate fact of God’s power and majesty in creating the earth from nothing to existence with His Word (creatio ex Nihilo). Third, the doctrine of world’s creation must be the foundation of faith that is tested in the authority of God’s words (2 Tim. 3:16) and the entire creation of God which become the medium of scientifical activity in the history of humanity must be according to the biblical perspective. Fourth, The statement of Genesis 1:1 appears to be refutation toward various scientific theories and human’s philosophic perspective that are opposite the biblical truth (Gen. 1-2, Ps. 33:4-9).Pernyataan Alkitab tentang penciptaan alam semesta sebenarnya sudah tuntas sebagaimana dikemukakan dalam Kejadian 1-2. Namun ada saja orang yang berusaha mencari alasan untuk mempertanyakan proses terjadinya alam semesta ini, sehingga mencoba mencari pertimbangan ilmiah untuk menemukan “pembenaran teoritis” atas kebenaran Alkitab. Tulisan ini bertujuan untuk memberi jawab terhadap teori celah (gap theory) dalam Kejadian 1:1-2, melalui studi biblika penulis mengemukakan argumentasi paham teori celah, dalam kajian metode induktif terhadap studi teks Kejadian 1:1-2. Hasil studi ini disimpulkan bahwa: Pertama, bahwa tidak ada dasar eksegesis yang kuat bagi teori celah untuk memberi ruang bagi asumsi adanya rentang waktu periode atau zaman yang tak terukur dalam proses penciptaan semesta. Kedua, pernyataan Alkitab, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi ... dalam waktu enam hari lamanya” (Kej. 1:1, Kel. 20:11) adalah suatu fakta Alkitab yang tak terbantahkan sebagai tindakan kemahakuasaan dan keagungan Allah menciptakan dunia dari yang tidak ada menjadi ada dengan firman-Nya (creatio ex nihilo). Ketiga, doktrin penciptaan harus menjadi landasan iman Kristen yang  diuji dalam otoritas Firman Allah yang berkuasa (2 Tim. 3:16) serta dunia ciptaan Allah dan segala isinya menjadi arena kegiatan ilmiah dalam lintasan sejarah manusia haruslah berdasarkan perspektif Alkitab. Keempat,  pernyataan penciptaan Kejadian 1:1 merupakan sanggahan terhadap berbagai teori ilmu pengetahuan dan pandangan filsafat manusia yang bertentangan dengan kebenaran Alkitab (Kej. 1-2, Mzm. 33:4-9).
Pembentukan Integritas Pelayan Tuhan Melalui Pendidikan Karakter Kristen Leonardus Rudolf Siby
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 3, No 2 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v3i2.95

Abstract

This research was conducted to identify, analyze and describe the concept of forming the integrity of God's servants through Christian character education in Christian universities. This research is important because students will be the ones who shape the character of others, when entering their responsibilities as pastors, shepherds or religious teachers. The formation of integrity is important so that the graduates produced have qualified theological knowledge and good life character. The research was conducted using the literature research method. The results showed that the integrity profile of the servant of God that is expected to be formed is (1) a servant leader; (2) a servant who is willing to follow the example of Jesus and be an example for the congregation; (3) a servant who is ready to face regeneration (4) a servant who maintains holiness of life. Meanwhile, the approaches used to shape the integrity of God's servants are (1) a biblical approach; (2) a religious learning approach and (3) a faith community approach (social interaction). Therefore, a healthy environmental model and positive social interactions are needed for the formation of learners' integrity. These findings lead to recommendations for designing Christian character education in Christian colleges with a faith community approach, which focuses on personal development, which will then lead to community development. Habit formation through repetition is effective if followed by the cultivation of understanding and belief that it will become a habit.Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi, menganalisis serta mendeskripsikan konsep pembentukan integritas pelayan Tuhan melalui pendidikan karakter Kristen di perguruan tinggi Kristen. Penelitian ini penting dilakukan karena para mahasiswa akan menjadi orang-orang yang membentuk karakter orang lain, ketika memasuki tanggung jawabnya sebagai pendeta, gembala atau guru agama. Pembentukan integritas menjadi hal yang penting agar lulusan yang dihasilkan memiliki pengetahuan teologi yang mumpuni dan karakter hidup yang baik. Penelitian dilakukan dengan metode penelitian kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil integritas pelayan Tuhan yang diharapkan terbentuk adalah (1) pemimpin yang bersifat hamba; (2) pelayan yang bersedia mengikuti teladan Yesus dan menjadi teladan bagi jemaat; (3) pelayan yang siap menghadapi regenerasi (4) pelayan yang memelihara kekudusan hidup. Sedangkan pendekatan yang digunakan untuk membentuk integritas pelayan Tuhan adalah (1) pendekatan Alkitabiah; (2) pendekatan pembelajaran agama dan (3) pendekatan komunitas iman (interaksi sosial). Oleh karena itu, diperlukan model lingkungan yang sehat dan interaksi sosial yang positif untuk pembentukan integritas peserta didik. Temuan ini mengarah pada rekomendasi untuk merancang pendidikan karakter Kristen di perguruan tinggi Kristen dengan pendekatan komunitas iman, yang menitikberatkan pada pengembangan pribadi, yang kemudian akan mengarah pada pengembangan komunitas. Pembentukan kebiasaan melalui pengulangan efektif jika diikuti dengan penanaman pemahaman dan keyakinan akan menjadi sebuah kebiasaan.