cover
Contact Name
Samgar Setia Budhi
Contact Email
samgar.budhi@gmail.com
Phone
+6281349436165
Journal Mail Official
huperetes@sttkalimantan.ac.id
Editorial Address
Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan (STT Kalimantan) Jalan Gajah Mada No. 50 Kecamatan Pontianak Selatan, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
ISSN : 27164314     EISSN : 27160688     DOI : https://doi.org/10.46817/huperetes
Core Subject : Religion, Education,
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen merupakan wadah publikasi penelitian dalam bidang Teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2716-0688 (online) dan 2716-4314 (print) yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan dengan lingkup penelitian meliputi: Teologi Biblika, Teologi Sistematika, Pastoral, Misiologi, dan Pendidikan Agama Kristen.
Articles 61 Documents
Kompetensi Interpersonal Paulus Sebagai Pemimpin Pastoral Franky Tambuh
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 3, No 1 (2021): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v3i1.83

Abstract

The church as a form of organic (living) organization requires pastoral leaders who are able to carry out their duties and responsibilities professionally. The ability to carry out these duties and responsibilities involves the interpersonal competencies possessed by a pastoral leader. When paying attention to the dynamics of church leadership at this time, the church cannot be separated from the leadership crisis, specifically related to the interpersonal competence of church leaders. In the end, this has a negative impact on the ministry. This study aims to explain that the interpersonal competence of a leader is needed in pastoral ministry. The method used in the research is descriptive method with data collection techniques using literature study and biblical hermeneutic methods. Finally, through this study it was found that referring to the ministry of the Apostle Paul, by highlighting his ministry from all directions; in every way Paul showed himself as a servant of God who has interpersonal competence. A good example in ministry shows Paul's interpersonal competence identity as a pastoral leader who is strong and rooted in Christ. This makes Paul an apostle who was used by God in an extraordinary way and impacted both individuals and large groups of the churches he served.Gereja sebagai salah satu bentuk organisasi organik (hidup) membutuhkan pemimpin pastoral yang mampu menjalankan tugas dan tanggung jawab secara profesional. Kemampuan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab tersebut menyangkut kompetensi interpersonal yang dimiliki oleh seorang pemimpin pastoral.Apabila memperhatikan dinamika kepemimpinan gereja pada saat ini, maka gereja tidak lepas dari krisis kepemimpinan, secara khusus berkaitan dengan kompetensi interpersonal pemimpin gereja. Pada akhirnya, hal ini berdampak negatif dalam pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bahwa kompetensi interpersonal seorang pemimpin sangat dibutuhkan dalam pelayanan pastoral. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian adalah metodedeskriptif dengan teknik pengumpulan data menggunakan metode studi literatur dan hermeneutik alkitabiah. Akhirnya, melalui penelitian ini ditemukan bahwa merujuk dari pelayanan Rasul Paulus, denganmenyoroti pelayanannya dari segala penjuru; dalam segala hal Paulus menunjukkan diri sebagai pelayan Allah yang memiliki kompetensi interpersonal. Teladan yang baik dalam pelayanan menunjukkan identitas kompetensi interpersonal Paulus sebagai pemimpin pastoral yang kuat dan berakar di dalam Kristus. Hal ini menjadikan Paulus seorang rasul yang dipakai Allah secara luar biasa serta berdampak, baik itu kepada pribadi-pribadi maupun kelompok-kelompok besar jemaat yang dilayaninya.
Allah Yang Esa Menurut Ajaran Kristen Sperry Velmer Terok
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 1, No 2 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v1i2.20

Abstract

The Bible states that God is difficult and even impossible to understand (Job. 11:7; Isa. 40:18), but He can be recognized. Jesus The Lord once confirmed this important truth to His disciples: “If you have known me, you will know my Father too. And from now on you do know Him and have seen Him. (Joh. 14:7).” Why God seems difficult to understand? It is because of the sin’s problem; the limitation of the human mind and understanding, but it does not mean that humans cannot recognize God. An understanding of the One God in Christianity is challenging. In order to describe and understand the One God in Christianity, the author uses descriptive methods. The intention is to be able to describe a system of thought in order to further interpret it precisely. As a result of the study of this paper, that the existence of One God in Christianity is clearly reported in the Bible; furthermore, the One God who has introduced Himself as a Trinity God is very clear both in Old Testament as well as in New Testament. The Trinity God: God the Father, God the Son, Holy Spirit, all three is one and equal. Finally, everyone can understand and recognize Him as far as the Bible says. The key to understand and recognize the One God is to believe the Bible is the Word of God in the first place. Then presume the understanding that every believer has can give meaning personally to others, and at last above these two interests, glory and honor to God, Himself.Alkitab menyatakan bahwa Allah sukar bahkan mustahil untuk dipahami (Ayb 11:7; Yes. 40:18), namun Dia dapat dikenal. Tuhan Yesus pernah menegaskan kebenaran penting tesebut kepada murid-murid-Nya: “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu menganal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia (Yoh. 14:7).” Mengapa Allah yang Esa itu sukar dipahami? Karena masalah dosa, pikiran pengetahuan dan bahasa manusia, namun bukan berarti manusia tidak dapat mengenal Allah. Pemahaman tentang Allah yang Esa dalam ajaran Kristen merupakan hal yang menantang. Supaya dapat menguraikan dan memahami Allah yang Esa dalam ajaran Kristen penulis menggunakan metode Deskriptif. Maksudnya untuk dapat mendeskripsikan suatu sistem pemikiran selanjutnya menginterpretasikan secara tepat. Adapun hasil kajian tulisan ini, bahwa eksistensi Allah yang esa dalam ajaran Kristen sangat jelas dilaporkan Alkitab; selanjutnya bahwa Allah yang Esa yang telah memperkenalkan diri sebagai Allah Tritunggal sangat jelas berdasarkan PL maupun PB. Allah Tritunggal yakni: Bapa, Anak (Yesus Kristus) serta Roh Kudus, ketiga-Nya sehakekat sekaligus setara. Akhirnya, bahwa setiap orang pasti dapat memahami dan mengenal-Nya, sejauh yang dikatakan Alkitab. Kunci memahami dan mengenal Allah yang Esa yakni terlebih dahulu meyakini Alkitab adalah Firman Allah. Kiranya pemahaman yang dimiliki setiap orang percaya dapat memberi makna secara pribadi, bagi orang lain, dan akhirnya di atas kedua kepentingan tersebut kemuliaan dan hormat bagi Allah sendiri.
Makna “TUHAN Menyesal”: Studi Komparasi dalam Kitab Yeremia 18:8; Yoel 2:13; Amos 7:3; dan Yunus 3:10 Rezky Alfero Josua; Farel Yosua Sualang; Philipus Pada Sulistya
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4, No 1 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v4i1.128

Abstract

The meaning of the phrase “LORD repent” is one of the most neglected themes in biblical scholarship. This article notices that there is a similar pattern regarding the phrase “LORD repent” in the prophets, namely that God chooses grace over judgment to His people. The method used is thematic analysis with word analysis procedures to find out the basic meaning. This article found there was one common idea, namely that GOD will cancel each of His punishments. God's cancellation is different from each text. First, in Jeremiah 18:8 the annulment was carried out requiring Judah's determinative obedience and His responsive sovereignty would occur. Second, Joel 2:13 The LORD is free to change his mind to take back His words with the conjunction waw which is to emphasize His character; merciful, loving, faithful, abundant in love, and long-suffering. Third, Amos 7:3 uses the language of anthropomorphism, namely that God has feelings that are emphasized by sadness due to sin, so that the cancellation occurs because of a request from the prophet to God. Fourth, Jonah 3:10 shows God's change of mind by choosing grace over judgment and evidence that God accepted the Ninevites' repentance, even though their actions before God were very evil.Makna frase “TUHAN menyesal” adalah salah satu tema yang paling diabaikan dalam keilmuan alkitabiah. Artikel ini memperhatikan terdapat pola yang sama mengenai frase “TUHAN menyesal” dalam kitab Nabi-nabi yaitu Allah memilih kasih karunia daripada penghakiman kepada umat-Nya. Metode yang digunakan yaitu analisis tematik dengan prosedur analisa kata untuk mengetahui makna pada dasarnya. Artikel ini menemukan ada satu ide yang sama, yaitu TUHAN akan membatalkan setiap hukuman-Nya. Pembatalan yang TUHAN lakukan ada perbedaan dari setiap teksnya. Pertama, Yeremia 18:8 pembatalan dilakukan membutuhkan ketaatan determinatif Yehuda dan kedaulatan responsif-Nya akan terjadi. Kedua, Yoel 2:13 TUHAN bebas berubah pikiran untuk menarik kembali perkataan-Nya dengan kata penghubung waw yaitu menegaskan sifat-Nya; penyayang, pengasih, setia, berlimpah kasih dan panjang sabar. Ketiga, Amos 7:3 penggunaan bahasa anthropomorfisme yaitu TUHAN memiliki perasaan yang ditekankan kesedihan akibat dosa, sehingga pembatalan terjadi karena adanya permohonan dari sang nabi kepada TUHAN. Keempat, Yunus 3:10 menunjukkan adanya perubahan pikiran Allah dengan memilih kepada kasih karunia daripada penghakiman dan bukti bahwa Allah menerima pertobatan orang-orang Niniwe, walaupun tindakan yang mereka lakukan di hadapan Allah sangat jahat.
Ciri Khas Eskatologi Injil Lukas Agus Prasetyo
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 2, No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v2i2.67

Abstract

The Gospel of Luke is a complete gospel in the process of compilation. In the material compiled, this research describes the topic of eschatology which was a controversial topic at that time. Even the controversy over eschatological interpretation has continued throughout the centuries. This paper aims to elaborate eschatological thoughts according to Luke's gospel. This paper examines Luke's narratives related to the last days. The research method used by the researcher is to conduct a thematic analysis of Luke's gospel narrative regarding eschatology. In detail, the implementation of the research was carried out in the following stages; the first stage is to look at the purpose of Luke's theology, so that by looking at Luke's goals, the description of the eschatology that Luke reports becomes clearer. In addition to examining the textual evidence of Luke's gospel, this paper also considers the thoughts of New Testament scholars in order to sharpen the interpretations found. As a result, the principle of the development of revelation became the foundation of Luke's eschatological thinking. The peculiarities of Luke's Eschatology can be understood in three aspects, namely the eschatological promise, the beginning of the fulfillment of the promise and the hope of the perfection of the promise. The eschatological promise forms the basis of a sure hope for believers throughout the centuries.Injil Lukas merupakan injil yang lengkap dalam proses penyusunan. Dalam materi yang disusun, penelitian ini menuturkan topik eskatologi yang merupakan topik kontroversial pada masa itu. Bahkan kontroversi tafsir eskatologis terus berlangsung sepanjang abad. Tulisan ini bertujuan mengelaborasi pemikiran-pemikiran eskatologis menurut injil Lukas. Tulisan ini meneliti penuturan-penuturan Lukas berhubungan dengan zaman akhir. Metode penelitian yang dilakukan peneliti adalah dengan melakukan analisa tematik terhadap narasi injil Lukas berkenaan dengan eskatologi. Secara rinci pelaksanaan penelitian dilakukan dengan tahapan sebagai berikut; tahapan pertama adalah melihat tujuan teologi Lukas, sehingga dengan melihat tujuan Lukas, maka gambaran tentang eskatologi yang dilaporkan Lukas menjadi lebih jelas. Selain meneliti bukti tekstual dari injil Lukas, tulisan ini juga mempertimbangkan pemikiran dari para ahli Perjanjian Baru guna mempertajam tafsiran yang ditemukan. Hasilnya, prinsip perkembangan pewahyuan menjadi landasan dalam pemikiran eskatologi Lukas. Kekhasan Eskatologi Lukas dapat dipahami dalam tiga aspek yaitu Janji eskatologis, awal penggenapan janji dan pengharapan kesempurnaan janji. Janji eskatologis menjadi dasar dari sebuah pengharapan yang pasti bagi orang percaya di sepanjang abad.
Studi Teologis - Historigrafis Kisah Para Rasul 1-2 sebagai Dasar Membangun Spirit Teologi Pentakosta Maahury, Simon Moshe; Wijoyo, Sigit
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 1 (2023): Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v5i1.239

Abstract

The reinterpretation of Pentecostal theology has generated criticism that tends towards anti-Pentecostal theological thinking. An examination of the historical context and biblical foundations that form the roots of Pentecostal theology is essential for understanding the historical context and theological messages embedded in it. This paper seeks to examine the Acts chapter 1-2 from the perspective of historiography and theological documents. The research aims to explore the theological values of the Acts chapter 1-2 documents constructed based on historical narratives. Through historiographical and theological approaches, the Pentecostal events recorded in Acts of the Apostles 1-2 are elaborated in-depth. According to the researcher's findings, it is revealed that the Pentecostal events in Acts chapter 1-2 provide impetus for Christians to engage in God's mission, offering a spirit of God's presence and a Christocentric life. The findings in this research also challenge the criticism that Pentecostal theology solely emphasizes spiritual restoration of a personal nature. The presence of Pentecostal theology complements the unity of the body of Christ and enriches the values of Christian theology.Reinterpretasi terhadap teologi Pentakosta menimbulkan kritik yang mengarahkan pada pemikiran anti teologi Pentakosta. Adanya kajian sejarah serta landasan biblika yang menjadi akar teologi Pentakosta sangat diperlukan untuk mengetahui konteks kesejarahan dan pesan teologis yang disematkan. Tulisan ini berupaya untuk meneropong dokumen Kisah Para Rasul 1-2 dengan dari sudut pandang historiografi dan dokumen teologis. Riset ini bertujuan untuk mengeksplorasi nilai-nilai teologis dokumen Kisah Para Rasul yang dibangun berdasarkan paparan sejarah. Melalui pendekatan historiografi dan teologis, peristiwa catatan peristiwa Pentakosta dalam Kisah Para Rasul 1-2 dielaborasi secara mendalam. Dalam temuan peneliti, terungkap bahwa peristiwa Pentakosta dalam Kisah Para Rasul 1-2 memberikan dorongan bagi orang Kristen bergiat pada misi Allah, memberikan spirit kehadiran Allah serta kehidupan yang Kristosentis. Temuan dalam riset ini juga menyanggah adanya kritik bahwa teologi Pentakosta hanya menekankan pada restorasi rohani yang hanya bersifat personal. Hadirnya teologi Pentakosta melengkapi justru kesatuan tubuh Kristus dan memperkaya nilai teologi Kristen.
Pola Hidup Benar: Tinjauan Teologis Surat Efesus 5:7-11 Dhandi, Gabriel; Sina, Rolan Marthin
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 1 (2023): Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v5i1.157

Abstract

The right lifestyle for Christians here is a life that should be in accordance with what is taught in the Bible. Such as fearing God, caring for others, not living in the flesh, and so on. But, the reality today is that some people must have Christians in them who have lived the wrong lifestyle such as promiscuity, criminal acts, infidelity, divorce, living in greed, pornography, and so on. Ephesians 5:7-11, Apostle Paul reminded the believers in Ephesus at that time that those who are now are different from those who were before. Since they believed in Jesus Christ and belonged to Him, their state has completely changed, from the old man to the new man. This research uses a qualitative method with a descriptive approach to the biblical text. the purpose of this research is to examine in depth the understanding of the pattern of righteous living as children of light according to Ephesians 5:7-11. So that this will be useful for the faith and spiritual growth of believers today. Because understanding the right lifestyle is very important for believers today.Pola hidup yang benar bagi orang Kristen disini adalah suatu kehidupan harus sesuai dengan apa yang diajarkan di dalam Alkitab. Seperti takut akan Tuhan, peduli kepada sesama, tidak hidup dalam kedagingan dan sebagainya. Tetapi, pada kenyataannya saat ini adalah beberapa orang pasti ada orang-orang Kristen di dalamnya telah menjalani pola hidup yang salah seperti pergaulan bebas, tindakan kriminal, perselingkuhan, perceraian, hidup dalam keserakahan, pornografi dan sebagainya. Efesus 5:7-11, Rasul Paulus mengingatkan orang-orang percaya di Efesus pada saat itu bahwa mereka yang sekarang berbeda dari mereka yang dahulu. Sejak mereka percaya kepada Yesus Kristus dan menjadi milik-Nya, keadaan mereka benar-benar berubah, dari manusia lama menjadi manusia baru. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif pada teks Alkitab. tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengkaji secara mendalam mengenai pemahaman pola hidup benar sebagai anak-anak terang menurut surat Efesus 5:7-11. Sehingga hal ini akan berguna bagi pertumbuhan iman dan spiritual orang-orang percaya masa kini. Karena pemahaman tentang pola hidup yang benar merupakan hal yang sangat penting bagi orang-orang percaya masa kini.
Guru PAK sebagai Motivator dalam Meningkatkan Gairah Belajar Anak Didik Rohayani, Hani; Rosalina, Rosalina
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 1 (2023): Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v5i1.224

Abstract

The role of a Christian teacher as motivator in a learning process is important. Teachers exist not only to deliver teaching materials to students, they also need to motivate students so that they have passion for learning. This research is motivated by the existence of students who are not passionate about learning and need encouragement or motivation from the teacher. This research aims to describe the importance of motivation for a student to have so that the student has enthusiasm in learning. This research uses descriptive qualitative research methods with a literature study approach. From this research it is concluded that Christian teachers need to generate motivation in students so that they are passionate about learning, namely by: motivating students in completing tasks, building a conducive learning atmosphere, using creative teaching methods, building enthusiastic relationships with students, rewarding students in the form of: point; gift; praise; and other things to encourage students in learning, and involving students in learning process.Peran seorang Guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) sebagai motivator dalam suatu proses pembelajaran sangatlah penting. Guru hadir bukan sekedar menyampaikan bahan ajar kepada anak didik, tetapi juga memotivasi anak didik agar memiliki semangat belajar. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya anak didik yang tidak bergairah belajar dan memerlukan dorongan atau motivasi dari guru. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pentingnya motivasi untuk dimiliki seorang anak didik sehingga anak didik tersebut memeiliki kegairahan dalam belajar. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa guru PAK perlu membangkitkan motivasi dalam diri anak didik agar mereka bergairah dalam belajar, yaitu dengan cara: memotivasi anak didik dalam menyelesaikan tugas-tugas, membangun suasana pembelajaran yang kondusif, menggunakan metode mengajar yang kreatif, membangun relasi yang penuh antusiasme dengan anak didik, memberikan penghargaan kepada anak didik berupa: nilai, hadiah; pujian; dan hal lainnya untuk menyemangati anak didik dalam belajar, serta melibatkan anak didik dalam pembelajaran.
Antikristus di antara Empat Entitas Personal Akhir Zaman (Why. 6:1-8) Siburian, Carel Hot Asi; Hermanto, Hermanto
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 1 (2023): Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v5i1.208

Abstract

The story of the four horsemen that appear in Revelation 6:1-8 has always been read with an allegorical approach. This approach sees the horsemen as symbolizing disasters such as death, war, famine, and a conquest by pestilence; all of which take a heavy toll. This article offers a different reading in that the image of the four horsemen does not speak of a future catastrophe, but of a personal entity that will indeed be present at the end of time. It also criticizes the interpretation that the rider on the white horse that appears in Revelation 6:2 is Jesus. With a brief narrative-critical approach and biblical exegesis of the text of Revelation 6:1-8, this article offers two developing readings, first that Jesus is not the first horseman, but the antichrist, and the second one is, the four horsemen represent personal entities, not symbols of disaster. The output of this article is to offer the view that the four horsemen are evil entities that God allows to inflict suffering and torture on the earth at the end of time.Narasi empat penunggang kuda yang hadir dalam Wahyu 6:1-8 selalu dibaca dengan pendekatan alegoris. Pendekatan tersebut melihat bahwa penunggang kuda sedang melambangkan bencana seperti kematian, peperangan, kelaparan, hingga sebuah penaklukan akan wabah penyakit; di mana seluruhnya memakan banyak korban jiwa. Artikel ini hadir untuk menawarkan pembacaan yang berbeda bahwa gambaran dari keempat penunggang kuda tidak sedang berbicara mengenai gambaran bencana di masa depan, melainkan mengenai suatu entitas personal yang memang benar-benar akan hadir di akhir zaman. Artikel ini juga mengkritisi ulang tafsir yang mengatakan bahwa penunggang kuda putih yang muncul dalam Wahyu 6:2 adalah Yesus. Dengan pendekatan naratif-kritis singkat dan tafsir biblis terkait teks Wahyu 6:1-8, artikel ini menawarkan dua pengembangan pembacaan; pertama, Yesus bukanlah penunggang kuda pertama, melainkan antikristus, dan kedua yaitu keempat penunggang kuda sedang mewakili entitas personal, bukan simbol bencana. Luaran dari artikel ini adalah menawarkan pandangan bahwa keempat penunggang kuda merupakan entitas jahat yang diizinkan Allah menaruh penderitaan dan penyiksaan di bumi di akhir zaman.
Moderasi Beragama dalam Bingkai Teologis: Respon Terhadap Konflik Politik Berbasis Agama di Indonesia Nego, Obet; Pasang, Agustina
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 1 (2023): Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v5i1.213

Abstract

Political activities in Indonesia are often marred by feuds and horizontal conflicts. This is caused by the misuse of religious identity for the benefit of various groups and political parties. This paper aims to reveal the importance of religious moderation in the frame of Christian theology applied in the context of politics in Indonesia, as well as identify political conflicts with religious backgrounds that are considered very dangerous and threaten the integrity of the nation. This research uses a qualitative method, namely library research with a Christian theology approach as its main reference, of course, literacy is relevant to the research problem. The results show various challenges of religious moderation in politics in Indonesia, the theological basis of religious moderation, and theological values in religious moderation.  In conclusion, applying religious moderation in a theological frame can avoid political conflicts with a religious background.Kegiatan berpolitik di Indonesia kerap kali dicederai oleh perseteruan dan konflik horizontal. Hal tersebut diakibatkan oleh penyalahgunaan identitas agama demi berbagai kepentingan kelompok maupun partai politik. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan pentingnya moderasi beragama dalam bingkai teologi Kristen yang diterapkan di dalam konteks berpolitik di Indonesia, serta mengidentifikasi konflik politik yang berlatar belakang agama yang dinilai sangat berbahaya dan mengancam keutuhan bangsa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yaitu library research dengan pendekatan systematic theology sebagai rujukan utamanya, tentunya literasi-literasi tersebut relevan dengan permasalahan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan berbagai tantangan moderasi beragama dalam politik di Indonesia, Dasar teologis moderasi beragama, dan Nilai-nilai teologis dalam moderasi beragama. Kesimpulannya, dengan menerapkan moderasi beragama dalam bingkai teologis dapat menghindari konflik-konflik politik yang berlatar agama.
Tindakan Iman Di Tengah Kesukaran: Studi Tematik terhadap Kejadian 22:1-19 Tampilang, Petra Harys Alfredo; Kiamani, Andris
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 1 (2023): Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v5i1.214

Abstract

In today's Christian life, there are many people who claim to believe and have faith but in their daily lives do not show the character and way of life of a believer. The reason for this is that there are still many Christians who do not understand the act of faith, so when facing the difficulties of life, they do not show the attitude and actions of a person of faith. Instead what is shown is worry or extreme actions that are misunderstood as acts of faith. The purpose of this article is to discover the acts of faith in the midst of adversity according to Genesis 22:1-19. Acts of faith are needed to overcome problems. The method used in this study is thematic analysis to present the facts of truth contained in Genesis 22:1-19. This article provides a description of the thematic background of the book as well as the application of Abraham's act of faith in the midst of adversity. The result found that Abraham's act of faith in the midst of hardship included: First, responding quickly to God's word. Second, believing even though he did not see. Third, not doubting God.Dalam kehidupan Kristen pada masa kini, banyak orang yang mengaku percaya dan beriman tetapi dalam kehidupan sehari-hari tidak menunjukkan karakter dan cara hidup sebagai orang yang beriman. Penyebabnya karena masih banyak orang Kristen yang belum mengerti tentang tindakan iman, sehingga ketika menghadapi kesukaran hidup, mereka tidak menunjukkan sikap dan tindakan sebagai orang beriman. Sebaliknya yang ditunjukkan adalah kekuatiran atau tindakan-tindakan ekstrim yang di salah pahami sebagai tindakan iman. Penulisan artikel ini bertujuan untuk menemukan tindakan iman di tengah kesukaran menurut Kejadian 22:1-19. Tindakan iman diperlukan untuk mengatasi masalah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis tematik untuk menyajikan fakta-fakta kebenaran yang terdapat dalam Kejadian 22:1-19. Artikel ini memberikan uraian tentang latar belakang kitab secara tematik serta penerapan tindakan iman Abraham di tengah kesukaran. Hasilnya ditemukan bahwa tindakan iman Abraham di tengah kesukaran meliputi: Pertama, merespon firman Tuhan dengan cepat. Kedua, tetap percaya walaupun tidak melihat. Ketiga, tidak meragukan Tuhan.