cover
Contact Name
Samgar Setia Budhi
Contact Email
samgar.budhi@gmail.com
Phone
+6281349436165
Journal Mail Official
huperetes@sttkalimantan.ac.id
Editorial Address
Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan (STT Kalimantan) Jalan Gajah Mada No. 50 Kecamatan Pontianak Selatan, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
ISSN : 27164314     EISSN : 27160688     DOI : https://doi.org/10.46817/huperetes
Core Subject : Religion, Education,
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen merupakan wadah publikasi penelitian dalam bidang Teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2716-0688 (online) dan 2716-4314 (print) yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan dengan lingkup penelitian meliputi: Teologi Biblika, Teologi Sistematika, Pastoral, Misiologi, dan Pendidikan Agama Kristen.
Articles 61 Documents
Roh Kudus Meterai Keselamatan Kekal Orang Percaya menurut Efesus 1:13-14 Yoel Benyamin
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 2, No 1 (2020): Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v2i1.49

Abstract

The many teachings of Christianity that teach about uncertain salvation, including the mistaken opinion of the work of the Holy Spirit as the seal of eternal salvation for believers, create doubts as well as undermine the consistency of the teachings and the authority of the Bible because it seems that its truth becomes relative. This study aims to provide a rebuttal to the opinion that rejects salvation as only God's grace, focus on research on how the work of the Holy Spirit works on salvation in believers. This study uses a qualitative method with a thematic analysis approach and analyzes the text of Ephesians 1: 13-14 as its basis, and considers various views on salvation. This research concludes that the sealing of the Holy Spirit occurs when a person believes in Jesus as Lord and Savior. The Holy Spirit works in the believer, providing protection, assurance, and care for God so that they escape punishment and gain eternal life. The Holy Spirit is a sign that the believer belongs to God because of the redemption of Christ's blood according to the faith response to God's grace.Banyaknya ajaran Kekristenan yang mengajarkan mengenai keselamatan yang tidak pasti, termasuk kekeliruan pandangan mengenai karya Roh Kudus sebagai meterai keselamatan kekal orang-orang percaya,  memunculkan kebimbangan sekaligus meruntuhkan konsistensi ajaran dan wibawa Alkitab. Penelitian ini bertujuan memberikan bantahan mengenai pandangan yang menolak keselamatan hanya anugerah Allah, dengan fokus penelitian pada bagaimana karya Roh Kudus mengerjakan keselamatan dalam diri orang-orang percaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis tematik dan menganalisis teks Efesus 1:13-14 sebagai dasarnya, serta memperhatikan berbagai pandangan tentang keselamatan. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa pemeteraian Roh Kudus terjadi pada saat seseorang percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Roh Kudus berkarya dalam diri orang percaya, memberi perlindungan, jaminan dan pemeliharaan Allah sehingga luput dari hukuman dan memperoleh kehidupan kekal. Roh Kudus menjadi tanda bahwa orang percaya telah menjadi milik Allah oleh karena penebusan darah Kristus sesuai tanggapan iman kepada kasih karunia Allah.
Hubungan Umat dan Pemerintah: Studi Hermeneutik terhadap Roma 13:1-7 Otniel Aurelius Nole
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4, No 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v4i2.174

Abstract

The people and the government are the two main figures in the order of life. The government has important roles and works with devotion. The presence of the people helps the government. The people have obligations to respect the government, but sometimes there are neglects to obey the government. In the Bible, Paul's letter Romans 13:1-7 states about the relationship between people and government. The social situation describes the presence of the people and the government. Paul emphasized the importance of the people to obey the government. This paper aims to investigate the relationship between the people and the government and find their relevance in the Indonesian context. This paper is reviewed with a hermeneutic study of Romans 13:1-7. The author explores the socio-historical context relating to Rome and the Roman Empire. The research method used is qualitative with a hermeneutic study based on critical approaches. The result found is that God is sovereign over the people and the government. Then, the people and the government have a relationship of mutualism and interdependence. Both work together in the order of life. The government is God's messenger who is given the task of protecting and helping the people. The people pay respect to the government as God's servants.Umat dan pemerintah adalah dua figur utama yang berada dalam tatanan kehidupan. Pemerintah berperan penting dan bekerja dengan pengabdian. Kehadiran umat turut membantu pemerintah. Umat memiliki kewajiban untuk menghormati pemerintah, tetapi terkadang terjadi kelalaian untuk mematuhi pemerintah. Di dalam Alkitab, surat Paulus di  Roma 13:1-7 menyatakan tentang keterkaitan antara umat dan pemerintah. Keadaan sosialnya menggambarkan kehadiran umat dan pemerintah. Paulus menegaskan kepentingan untuk umat patuh kepada pemerintah. Tulisan ini bertujuan untuk menginvestigasi hubungan umat dan pemerintah, serta menemukan relevansinya dalam konteks Indonesia. Tulisan ini ditinjau dengan studi hermeneutik terhadap Roma 13:1-7. Penafsir mengeksplorasi konteks sosio-historis yang berkaitan dengan Roma dan Kekaisaran Romawi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan studi hermeneutik berdasarkan pendekatan-pendekatan kritis. Hasil yang ditemukan ialah Tuhan yang berdaulat atas umat dan pemerintah. Kemudian, umat dan pemerintah memiliki hubungan mutualisme dan saling bergantung. Keduanya bekerja sama dalam tatanan kehidupan. Pemerintah adalah utusan Allah yang diberi tugas untuk melindungi dan membantu umat.Umat memberi hormat kepada pemerintah sebagai pelayan Allah.
Transformasi Misi Kristen Pada Isu Dominasi Gender Masyarakat Jawa di Era Masyarakat 5.0 Seri Damarwanti; Sapto Sunariyanti; Suwarni Suwarni; Lusia Pujiningtyas; Anthoneta Ratu Pa
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 3, No 1 (2021): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v3i1.86

Abstract

The Christian Salvation Principle raises the issue of equal rights between men and women where salvation is not determined by gender differences. However, in Javanese society, which is traditionally and culturally still dominated by men, the philosophy of “swarga nunut, neraka katut” is still deeply rooted and influences the perception of Javanese women, especially those who still adhere to tradition. The era of society 5.0 brings a new paradigm that in the midst of global – digital flows, technology is present to more humanize humans and restore human dignity as a whole. How the development of technology and in life can be utilized in transforming the Christian mission for Javanese women to make independent decisions in safety is the main issue of discussion. Methods to answer research questions using Biblical study methods and literature research based on cultural contextualization and its practical implementation in the era of society 5.0 are the main choices. The conclusions drawn lead to the truth of the need to change the paradigm of thinking that salvation is a personal decision that does not depend on gender differences and traditional ties. The novelty of this research lies in the exploration of the Bible which specifically answers the Javanese philosophy of “swarga nunut, neraka katut”, by utilizing the characteristics of the era of society 5.0.Prinsip Keselamatan Kristen mengangkat isu persamaan hak antara pria dan wanita dimana keselamatan tidak ditentukan oleh perbedaan gender. Namun dalam tatanan masyarakat Jawa yang secara tradisi dan kultur masih didominasi oleh kaum pria, filosofi “swarga nunut, neraka katut” masih berakar erat dan memengaruhi persepsi wanita Jawa, khususnya yang masih memegang teguh tradisi. Masyarakat 5.0 membawa paradigma baru bahwa di tengah arus global–digital, teknologi hadir untuk lebih memanusiakan manusia dan mengembalikan harkat dan martabat manusia secara utuh. Bagaimana perkembangan teknologi yang mengubah tatanan kehidupan ini dapat dimanfaatkan dalam mentransformasi Misi Kristen pada wanita Jawa mengambil keputusan mandiri dalam keselamatan menjadi isu utama pembahasan. Metode untuk menjawab pertanyaan penelitian memakai metode studi Biblika dan riset literatur berbasis kontekstualisasi budaya dan implementasinya secara praktis di era Masyarakat 5.0 menjadi pilihan utama. Kesimpulan yang diambil mengarah pada kebenaran perlunya mengubah paradigma berpikir bahwa keselamatan merupakan keputusan pribadi yang tidak tergantung pada perbedaan gender dan ikatan tradisi. Kebaharuan penelitian ini terletak pada eksplorasi Biblika yang secara khusus menjawab filosofi Jawa tentang “swarga nunut, neraka katut” dengan memanfaatkan karakteristik era Masyarakat 5.0.
Kajian Didaktis Mengenai Cinta Lelaki dan Wanita dalam Kidung Agung Paulus Dimas Prabowo
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 2, No 1 (2020): Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v2i1.28

Abstract

A popular interpretation of the Song of Solomon states that the love poetry in it is a description of the relationship between God and His people. The Jews interpreted it as the relationship between Yahweh and Israel (allegorical), while Christians interpreted it as the relationship between Christ and the church (Christological). However, if one considers the genre of the book, the use of the Hebrew word dod, and the close praise for Solomon and the Shulamite, it would be argued that the Song of Songs contains a celebration of eros love between man and woman as an offering God that can be enjoyed. Song of Songs also presents another dimension in all of its articles, namely the values about the love relationship between a man and a woman. This article is written to explore the didactic aspects of the love relationship between a man and a woman in the entire Song of Songs. The method to be used is thematic analysis, using a literal perspective that takes into account the rules of Hebrew poetry. Finally, it found the didactic aspects of love in it including the right timing, a binding marriage, a charming character, equality, strong loyalty, role as a friend, communication, and solving problems quickly.Penafsiran yang populer terhadap Kidung Agung menyatakan bahwa puisi cinta di dalamnya merupakan penggambaran dari hubungan antara Tuhan dengan umat-Nya. Orang Yahudi memaknainya sebagai hubungan antara Yahweh dengan umat Israel (alegoris), sedangkan orang Kristen memaknainya sebagai hubungan antara Kristus dengan gereja (Kristologis). Namun bila mempertimbangkan genre kitab, pemakaian kata Ibrani dod, dan adanya puji-pujian fisik yang begitu intim antara Salomo dengan gadis Sulam, maka akan dimengerti bahwa Kidung Agung berisi selebrasi tentang cinta eros antara lelaki dan wanita sebagai pemberian Tuhan yang perlu dinikmati. Tidak sekedar urusan seksualitas dan sensualitas, Kidung Agung juga menyajikan dimensi lain di dalam seluruh pasalnya, yakni nilai-nilai pengajaran tentang hubungan cinta antara seorang laki-laki dan seorang wanita. Artikel ini ditulis untuk mengupas aspek didaktis tentang hubungan cinta seorang laki-laki dan seorang wanita di dalam seluruh kitab Kidung Agung. Metode yang akan dipakai adalah analisis tematis, dengan memakai perspektif literal yang memperhatikan kaidah-kaidah puisi Ibrani. Akhirnya, ditemukanlah aspek didaktis tentang cinta di dalamnya meliputi waktu yang tepat, pernikahan yang mengikat, karakter yang memikat, persamaan derajat, kesetiaan yang kuat, peran sebagai sahabat, komunikasi yang hangat, dan penyelesaian masalah dengan cepat.
Memahami TUHAN Sebagai Gembala: Suatu Analisis Teologis dan Komposisi Syair Mazmur 23 Julio Faot
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4, No 1 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v4i1.132

Abstract

Psalm 23 is part of the sacred book which not only presents the artistic aspect of poetry but also provides theological meaning. Its use in the church liturgy is understood as a way for Christians to admire God as a shepherd. In fact, in composing the song for Psalm 23, the composers gave no interpretation of the song. It only gives an emotive meaning but has no theological meaning. On the other hand, Old Testament scholars have presented interpretations of Psalm 23 with various backgrounds from different points of view. However, they are somewhat unaware of the essence of Psalm 23 when the poem is sung. This leaves the reader with an intellectual understanding, but unable to touch their feelings. The combination of theological values and music can be used to build trust in God. This paper explores the important aspects of verse composition and analyzes the logical arguments of Psalm 23. Based on this approach, tone composition and usage in Christian worship liturgy are compiled. Understanding the interpretation and how to express Psalm 23 builds faith in God's providence in the person of Jesus Christ.Mazmur 23 merupakan bagian dari kitab suci yang tidak hanya menyuguhkan aspek seni berpuisi, tetapi juga memberikan makna teologis. Beragam penggunaannya dalam liturgi gereja dipahami sebagai cara orang Kristen mengagumi TUHAN sebagai gembala. Faktanya, dalam membangun komposisi lagu Mazmur 23, para komposer tidak memberikan interpretasi lagu itu. Hal ini hanya memberikan makna emotif, namun kekurangan makna teologis. Di lain sisi, para sarjana Perjanjian Lama telah memaparkan interpretasi Mazmur 23 dengan berbagai macam latar belakang sudut pandang. Namun, mereka agak abai dengan esensi Mazmur 23 sebagai puisi yang dilantunkan. Hal ini menjadikan pembaca memiliki pemahaman intelektual, namun tidak mampu menyentuh perasaan mereka. Penggabungan nilai-nilai teologis dan musik dapat dipakai sebagai salah satu sarana membangun keyakinan kepada TUHAN. Tulisan ini menggali aspek-aspek penting penyusunan syair serta menganalisis argumentasi logis syair Mazmur 23. Berdasarkan pendekatan tersebut disusun suatu komposisi nada dan penggunaan dalam liturgi ibadah Kristen. Pemahaman terhadap interpretasi dan bagaimana cara mengekspresikan Mazmur 23 membangun keyakinan terhadap providensia TUHAN di dalam pribadi Yesus Kristus.
Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Agama Kristen Berdasarkan Injil Yohanes Triyono Surahmiyoto
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 2, No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v2i2.66

Abstract

Graduate competency standards have been implemented by the government through relevant regulations for all subjects courses at all levels of education. It is necessary to make efforts so that Christian religious education can be organized without losing its essence. One form is his efforts to investigate the competency standards of Graduates of Christian religious education based on the Gospel of John. The goal is to uncover the essence of the standard of competence of Graduates of Christian education. This effort is carried out using hermeneutic methods. As a result, two standard models of competency of religious education graduates were found, namely the standard of competence of religious graduates in the Jewish perspective and the standard of competence of religious graduates in perspective. The implication for the learning of Christian education in Indonesia is to maintain the essence of the substance of Christian religious education, develop proficiency in the presentation of materials especially related to the use of terms and languages, sharpen the skill in observing the environment to create learning opportunities and increase the contribution and active role of educators, learners, parents and the church.Standar kompetensi lulusan sudah diberlakukan oleh pemerintah melalui peraturan yang terkait untuk semua untuk semua mata pelajaran/kuliah pada semua jenjang pendidikan. Perlu upaya agar Pendidikan Agama Kristen dapat diselenggarakan dengan tidak kehilangan esensinya. Salah satu bentuk adalah upayanya menelisik standar kompetensi lulusan Pendidikan Agama Kristen berdasarkan Injil Yohanes. Tujuannya adalah untuk mengungkap esensi standar kompetensi lulusan Pendidikan Agama Kristen. Upaya ini dilakukan dengan menggunakan metode hermeneutik. Hasilnya, ditemukan dua model standar kompetensi lulusan pendidikan agama, yaitu standar kompetensi lulusan agama dalam perspektif Yahudi dan standar  kompetensi lulusan agama dalam perspektif. Implikasinya bagi pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di Indonesia  adalah perlu tetap mempertahankan esensi substansi Pendidikan Agama Kristen, mengembangkan kecakapan dalam penyajian materi khususnya berkaitan dengan penggunaan istilah dan bahasa, mempertajam kejelian dalam mengamati lingkungan untuk menciptakan peluang pembelajaran dan meningkatkan kontribusi serta peran aktif pendidik, peserta didik, orang tua dan gereja.
Efektifitas Pemuridan KEKAL dalam Membimbing Gereja Menuju Kedewasaan Rohani Orles Orles
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 1, No 2 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v1i2.22

Abstract

The church is a collection of believers sanctified by God and allied in the name of Jesus. The church was founded by the Lord Jesus. Therefore, service to the church must not be ignored. Congregational growth to spiritual maturity must be the focus of church service. Discipleship of Small Bible Groups (KEKAL) is one of the strategies of the Pontianak Anugerah Baptist Church to guide the congregation towards spiritual maturity. The problem is that there has been no attempt to evaluate the effectiveness of ministry through KEKAL discipleship in guiding congregations to grow spiritually mature. Therefore, the purpose of this study is to see the effectiveness of KEKAL discipleship in guiding the church to grow. The research method used in this research is descriptive-quantitative. The data collection is done by using a closed questionnaire. Through this research, it was found that the KEKAL discipleship program had an effective role in guiding the church to spiritual maturity. This small group discipleship strategy can be one of the strategies for the church to guide church members to mature in Christ.Gereja adalah persekutuan orang-orang percaya yang dikuduskan oleh Allah dan bersekutu di dalam nama Yesus. Gereja didirikan oleh Tuhan Yesus. Oleh karena itu, pelayanan terhadap gereja tidak boleh diabaikan. Pertumbuhan jemaat kepada kedewasaan rohani harus menjadi fokus pelayanan gereja. Pemuridan Kelompok Kecil Alkitab (KEKAL) adalah salah satu strategi Gereja Baptis Anugerah Pontianak untuk membimbing jemaat menuju kedewasaan rohani. Permasalahannya adalah belum ada usaha untuk mengevaluasi keefektifan pelayanan melalui pemuridan KEKAL dalam membimbing jemaat bertumbuh dewasa secara rohani. Oleh sebab itu, tujuan penelitian ini adalah untuk melihat efektifitas pemuridan KEKAL dalam membimbing jemaat bertumbuh. Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-kuantitatif. Pengumpulan datanya dilakukan dengan menggunakan angket tertutup. Melalui penelitian ini ditemukan hasil bahwa program pemuridan KEKAL berperan secara efektif dalam membimbing jemaat menuju kedewasaan rohani. Strategi pemuridan kelompok kecil ini dapat menjadi salah satu strategi bagi gereja untuk membimbing anggota jemaat agar dewasa di dalam Kristus.
Makna Teologis Reaksi Penolakan Musa terhadap Panggilan TUHAN Menurut Keluaran 3-4 Joko Lelono
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 3, No 2 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v3i2.120

Abstract

Moses was a charismatic leader of Israel. The Bible has high regard for Moses as a gentle leader for Israel. Many Bible scholars interpret the book of Exodus to focus on the character of Moses. The problem, however, is that most commentaries take only a small part of the narrative literature of Exodus. In fact, there are many interpretations that are framed with the topic of leadership so they forget the theological meaning of the book of Exodus. The book of Exodus is a narrative that records the narrative of Israel's journey that was preserved by God through a leader. This paper describes the narrative analysis of Moses' call and rejection of God's call. Despite the brief narrative, the events of Moses' call and rejection have been preserved as an event that will be remembered forever. This paper examines the book of Exodus with a simple narrative literary approach. In addition, this paper also analyzes key texts that show the core of the narrative. Based on narrative analysis, confirms that Moses had misunderstood his calling. He refused because he focused on himself, not on God who had a program of salvation for Israel.Musa merupakan pemimpin berkharisma bagi Israel. Alkitab telah memberikan penghormatan yang tinggi terhadap Musa sebagai pemimpin yang lemah lembut bagi Israel. Banyak sarjana Alkitab menafsirkan kitab Keluaran berfokus pada tokoh Musa. Namun, masalahnya adalah sebagian besar tafsiran hanya mengambil bagian kecil dari sastra narasi kitab Keluaran. Faktanya, ada banyak tafsiran yang dibingkai dengan topik kepemimpinan sehingga melupakan makna teologis kitab keluaran. Kitab Keluaran merupakan narasi yang mencatatkan narasi tentang perjalanan Israel yang dipelihara oleh TUHAN melalui seorang pemimpin. Tulisan ini memaparkan analisis narasi panggilan dan penolakan Musa atas panggilan TUHAN. Meskipun narasi singkat, peristiwa panggilan dan penolakan Musa telah diawetkan sebagai suatu peristiwa yang akan terus dikenang. Tulisan ini mengkaji kitab Keluaran dengan pendekatan sastra narasi yang sederhana. Selain itu, tulisan ini juga melakukan analisis terhadap teks kunci yang menunjukan inti narasi. Berdasarkan analisis narasi, menegaskan bahwa Musa telah salah memahami panggilannya. Dia menolak karena berfokus pada dirinya, bukan kepada TUHAN yang memiliki program penyelamatan bagi Israel.
Pendekatan Pastoral terhadap Pelestarian Hutan David Eko Setiawan; Silas Dismas Mandowen
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 2, No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v2i2.51

Abstract

Forests are habitats for various species of living things. Their survival depends heavily on the preservation of their habitat. However, many forests have been damaged by human actions. It also poses a variety of ecological problems. This condition should encourage the church to find the right solution to the problem. Through the cultural mandate attached to it, the church is expected to play an active role in preserving forests. This can be realized through a pastoral approach oriented towards the involvement of the congregation in preserving forests from irresponsible actions. This research aims to show how important the role of the church in preserving forests. Through a concrete pastoral approach, the church can answer the cultural mandate.  The method used in this study is the literature method. The results of this study show that based on the principles of cultural mandate in the Bible, the church is required to be actively involved in addressing ecological problems. The involvement is manifested in the pastoral approach to the congregation by educating them about the nature of forests and through practical actions involving them to preserve forests as habitats for various species of living beings.  Hutan merupakan habitat bagi berbagai spesies mahkluk hidup. Kelangsungan hidup mereka sangat bergantung pada pelestarian habitatnya. Namun demikian banyak hutan yang telah rusak akibat ulah manusia. Hal itu rupanya juga menimbulkan berbagai problem ekologi. Kondisi ini seharusnya mendorong gereja untuk mencari solusi yang tepat atas masalah tersebut. Melalui mandat budaya yang melekat padanya, gereja diharapkan berperan aktif dalam melestarikan hutan. Ini dapat diwujudkan melalui pendekatan pastoral yang berorientasi kepada keterlibatan jemaat dalam melestarikan hutan dari tindakan yang tidak bertanggung jawab. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukan betapa pentingnya peran gereja dalam melestarikan hutan. Melalui sebuah pendekatan pastoral yang konkrit, gereja dapat mengejawantahkan mandat budaya tersebut.  Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kepustakaan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan prinsip-prinsip mandat budaya yang ada di dalam alkitab, gereja dituntut untuk terlibat aktif dalam mengatasi problem ekologi. Keterlibatan itu diwujudkan dalam pendekatan pastoral kepada jemaat dengan mengedukasi mereka tentang hakikat hutan serta melalui tindakan-tindakan praktis yang melibatkan mereka untuk melestarikan hutan sebagai habitat bagi berbagai spesias mahkluk hidup.
Analisis Idiomatis dan Filosofis Terhadap Frasa Amnos Tou Theou dalam Injil Yohanes 1:29 Agus Prasetyo; Daniel Lindung Adiatma
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4, No 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v4i2.203

Abstract

Reconciliation theology in soteriological doctrine is often understood conceptually, which fails to provide a deeper theological significance to Christian beliefs. As a result, Christians comprehend the concept of atonement through Christ but lack a profound understanding that can be applied to their religious behavior. The phrase "ho amnos tou theou" holds profound meaning in constructing atonement theology. However, this phrase is often grammatically examined to establish a theological concept that emphasizes dogmatic elements. This study describes the construction of atonement theology by analyzing the idiom "ho amnos tou theou" through grammatical and philosophical investigations. The findings reveal that the phrase not only provides Christological meaning but also imparts philosophical and practical significance. Christians who understand this idiom will respect God's reconciliatory work through the redemptive process of Christ and embody a peaceful life with others as a reflection of eternal peace.Teologi pendamaian dalam doktrin soteriologi sering dipahami secara konseptual. Pemahaman tersebut hanya tidak mampu memberikan makna teologis yang lebih mendalam terhadap keyakinan Kristen. Dampaknya, orang Kristen memahami tentang konsep pendamaian melalui Kristus, tetapi tidak mampu memahami secara mendalam sehingga mampu diterapkan dalam perilaku beragama mereka. Frasa “ho amnos tou theou” memiliki makna yang mendalam dalam mengonstruksi teologi pendamaian. Namun, frasa tersebut sering kali dikaji secara gramatika guna membangun konsep teologis yang menekankan pada unsur dogmatis. Penelitian ini mendeskripsikan konstruksi teologi pendamaian dengan menganalisis idiom “ho amnos tou theou” dengan penyelidikan unsur gramatika dan penyelidikan filosofis. Hasilnya, frasa tersebut tidak hanya sekadar memberikan makna kristologis, tetapi memberikan makna filosofis dan praktis. Orang Kristen yang memahami idiom tersebut akan menghormati upaya pendamaian yang dikerjakan Allah melalui prosesi penebusan Kristus serta mewujudkan kehidupan damai dengan sesama sebagai cerminan kehidupan damai di kekekalan.