cover
Contact Name
Samgar Setia Budhi
Contact Email
samgar.budhi@gmail.com
Phone
+6281349436165
Journal Mail Official
huperetes@sttkalimantan.ac.id
Editorial Address
Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan (STT Kalimantan) Jalan Gajah Mada No. 50 Kecamatan Pontianak Selatan, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
ISSN : 27164314     EISSN : 27160688     DOI : https://doi.org/10.46817/huperetes
Core Subject : Religion, Education,
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen merupakan wadah publikasi penelitian dalam bidang Teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2716-0688 (online) dan 2716-4314 (print) yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan dengan lingkup penelitian meliputi: Teologi Biblika, Teologi Sistematika, Pastoral, Misiologi, dan Pendidikan Agama Kristen.
Articles 61 Documents
Membangun Kerukunan Antarumat Beragama dan Implikasinya bagi Misi Kristen Yonatan Alex Arifianto; Kalis Stevanus
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 2, No 1 (2020): Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v2i1.44

Abstract

Indonesia is a pluralistic nation because it consists of various races, languages, cultures, and religions. Diversity has the potential for horizontal conflict in society. Jesus commanded that Christians manifest love for others as well as for themselves. Sincere love will create harmony and harmony with others regardless of the differences in it. This research uses a descriptive qualitative method through exploring literature related to the topic and using parallel biblical texts that describe how believers carry out their call to live in harmony and at the same time carry out a Christian mission to save those who do not believe in Christ. From this research, it is concluded that the Christian mission is the application of the love of Christ. Love is the basis in society to foster tolerance and mutual respect for the rights of everyone, including belief. This reality must change the paradigm and practice of modern Christian mission. Christian mission must stick to the Bible which affirms that faith in Christ is an absolute requirement of salvation. Therefore, there is no reason for the believer or the church not to carry out this missionary command by maintaining religious harmony so that it can be a blessing for those who do not know Christ.Indonesia adalah bangsa yang majemuk karena terdiri dari berbagai suku, bahasa, budaya dan agama. Kemajemukan memiliki potensi konflik horisontal di masyarakat. Yesus memerintahkan agar orang Kristen mewujudkan kasih kepada sesama seperti kepada diri sendiri. Kasih yang tulus akan menciptakan kerukunan dan keharmonisan dengan sesama tanpa memandang perbedaan yang ada di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui menggali literatur yang berkaitan dengan topik dan menggunakan teks-teks paralel Alkitab yang mendeskripsikan bagaimana orang percaya menjalankan panggilan untuk hidup rukun sekaligus mengemban misi Kristen untuk menyelamatkan mereka yang belum percaya pada Kristus. Melalui penelitian ini disimpulkan bahwa misi Kristen adalah penerapan dari kasih Kristus. Kasih itu menjadi dasar dalam  bermasyarakat untuk menumbuhkembangkan sikap toleransi dan saling menghormati hak-hak setiap orang termasuk berkeyakinan.  Realitas ini harus mengubah paradigma dan praktik dari misi Kristen modern. Misi Kristen harus tetap berpegang teguh pada Alkitab yang menegaskan bahwa iman dalam Kristus sebagai persyaratan mutlak keselamatan. Tetapi tidak ada alasan bagi orang percaya atau gereja untuk tidak menjalankan perintah misioner tersebut dengan tetap menjaga kerukunan beragama agar dapat menjadi berkat bagi orang yang belum mengenal Kristus.
Suatu Kajian Mengenai Keterkaitan Faktor-Faktor Pembentukan Karakter dalam Kitab Amsal Farel Yosua Sualang
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4, No 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v4i2.171

Abstract

The book of Proverbs places a lot of emphasis on the vertical relationship between God and humans, as well as the horizontal relationship between human beings. Not surprisingly, the teachings of wisdom in the book of Proverbs offer an antithesis in one's life between wise and stupid traits that contribute to character building. However, the study of the factors of character formation in the book of Proverbs is still a matter of debate (especially Brown and Bland's interpretation). The purpose of this study is to find a relationship between the factors forming the character in the book of Proverbs, along with its elements. By using a literature study, this article describes as many sources as possible to obtain the factors of character formation in the book of Proverbs. Therefore, it is found that there are three factors of character formation in the book of Proverbs (along with their respective elements) that are interrelated, namely First, the fear of the Lord factor (the elements are experience observation, self-awareness, character transformation and imitation), secondly the character-consequence factor (The elements are the role of conscience, belief, intention, decision-making, character evaluation, and character habituation), the three factors of moral instruction through the role of the family (the elements are imitation, reprimand and upbringing of parents, character evaluation, and character habituation).Kitab Amsal banyak memberikan penekanan terhadap hubungan vertikal antara Tuhan dan manusia, begitupun hubungan horizontal antara sesama manusia. Tidaklah heran, ajaran hikmat dalam kitab Amsal menawarkan tentang suatu antitesis kehidupan seseorang antara sifat-sifat bijak dan bebal yang memiliki kontribusi kepada pembentukan karakter. Namun begitu, kajian mengenai faktor-faktor pembentukan karakter dalam kitab Amsal masih menjadi suatu perdebatan (khususnya interpretasi Brown dan Bland). Tujuan penelitian ini adalah ingin menemukan suatu keterkaitan faktor-faktor pembentukan karakter dalam kitab Amsal beserta dengan elemen-elemennya. Dengan menggunakan studi literatur, artikel ini memaparkan sebanyak mungkin sumber untuk memperoleh faktor-faktor pembentukan karakter dalam kitab Amsal. Oleh sebab itu, ditemukan  adanya tiga faktor pembentukan karakter dalam kitab Amsal (beserta elemennya masing-masing) yang saling terkait yaitu: Pertama, Faktor takut akan Tuhan (elemennya adalah observasi pengalaman, kesadaran diri, transformasi karakter dan imitasi); Kedua faktor karakter-konsekuensi (elemennya adalah peran hati nurani, keyakinan, niat, pengambilan keputusan, evaluasi karakter, dan pembiasaan karakter); Ketiga faktor instruksi moral melalui peran keluarga (elemennya adalah imitasi, teguran dan didikan orang tua, evaluasi karakter, dan pembiasaan karakter).
Makna Kata שָׁפַך (Shapak) Berdasarkan Kitab Kejadian 9:6 Arlando Ridel Sumual; Farel Yosua Sualang; David Pattinama
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 3, No 1 (2021): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v3i1.81

Abstract

Genesis 9 is the beginning of the story of God's covenant with all of His creation on earth after the flood, represented by Noah. Human life is very precious in the eyes of God, God wants people to love each other not to kill each other, through His love God made a covenant against the vengeance of shedding blood on humans. The method used is qualitative with a word study hermeneutic approach, this study aims to find the meaning of the word "Blood shedding based on Genesis 9:6" from the various different interpretations that occur on the meaning of this text. The results of this study lead to the intentional taking of human life in the sense that the perpetrator already has the intention to commit the crime and has been neatly arranged and has the determination to commit murder, human life should not be taken at all, because humans are created in the image of Lord.Kejadian 9 merupakan awal dari kisah perjanjian Allah dengan semua ciptaan-Nya di bumi setelah air bah, yang diwakilkan oleh Nuh. Kehidupan manusia sangat berharga di mata Tuhan, Allah menghendaki manusia untuk saling mengasihi bukan untuk saling membunuh, melalui kasih-Nya itu Allah mengadakan suatu perjanjian terhadapa pembalasan penumpahan darah pada manusia. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan hermeneutika studi kata, penelitian ini bertujuan untuk menemukan makna dari kata “Penumpahan Darah Berdasarkan Kejadian 9:6” dari berbagai perbedaan interpretasi yang terjadi terhadap arti dari teks ini. Hasil dari penelitian ini mengarah kepada mengambil nyawa manusia dengan sengaja dalam arti pelaku sudah memiliki niat untuk melakukan kejahatan tersebut serta sudah merencanakan secara rapih dan memiliki tekat untuk melakukan pembunuhan, kehidupan manusia tidak boleh diambil sama sekali, karena manusia diciptakan menurut gambar Tuhan.
Critical Review of Harun Hadiwijono's Concept of Sekutu in Iman Kristen Bima Adi
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 1, No 2 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v1i2.17

Abstract

Harun Hadiwijono’s Iman Kristen describes God as the sekutu (ally) of man, and man as the sekutu (ally) of God. In Harun’s claim, he formulated his book in popular form, unlike other dogmatics writings, considering an extended readership beyond Christians. By the time the readers read the book, he said, they will find out that it has its own place among those preceding books. Whether it is good or not, it is up to those who will judge it. Those words from Harun provide the impetus for this study. Indeed, Iman Kristen is a tremendous writing on systematic theology. However, for me, Iman Kristen is not a contextual systematic theology opus. It is, more or less, a “product” that indicates the influence of colonial mentality and the narrowness of the theology of the missionaries’ vision in the past. In my conclusion, Harun was not aware of the danger of depicting the relation between God and humankind, and vice versa with the term sekutu. In short, it is indeed original and unique, yet brings many problems which are not even being realized by Christians in Indonesia.
Fenomena Radikalisme Agama di Ruang Publik: Suatu Potensi dan Tantangan Bagi Kaum Muda Kristen Romelus Blegur; Leniwan Darmawati Gea; Aprilyanto Silitonga
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4, No 1 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v4i1.124

Abstract

The focus of this research is on religious radicalism as a public phenomenon that affects the breakdown of interreligious relations. The radicals put a very strict emphasis on differences in religious doctrines to the point where they closed the space for meeting with adherents of other religions. This research aims to urge churches and believers to always be alert and anticipate potential radicalism from Christians, especially the younger generation who are vulnerable to being affected by the dangers of radicalism which poses a threat to inter-religious tolerance. This study uses descriptive research methods, by describing the situation of religious radicalism which is increasingly prevalent. The sources used as references in this writing are articles and related reference books. The factors that contributed to the growth of radicalism were sociology, psychology, and ideology. Related to that, several things that are necessary in an effort to counteract its influence on young Christians are educating awareness of togetherness in religious diversity, building dialogic awareness, and organizing peaceful actions. These points can be a contribution to the thinking and practice of the church in caring for diversity while counteracting the dangers of radicalism that can affect young Christians.Fokus penelitian ini adalah tentang radikalisme agama sebagai fenomena publik yang berpengaruh pada kerusakan relasi antar agama. Kaum radikal memberi penekanan yang sangat ketat pada perbedaan doktrin agama hingga menutup ruang perjumpaan dengan sesama pemeluk agama lain. Penelitian ini bertujuan menghimbau gereja dan orang percaya untuk selalu siaga dan mengantisipasi potensi-potensi radikalisme dari kalangan Kristen, khususnya generasi muda yang rentan dipengaruhi oleh bahaya radikalisme yang menjadi ancaman bagi toleransi antar umat agama. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif, dengan mendeskripsikan situasi radikalisme agama yang kian marak terjadi. Sumber-sumber yang menjadi acuan dalam penulisan ini adalah artikel dan buku-buku referensi terkait. Faktor-faktor yang turut mempelopori tumbuhnya paham radikal, yaitu sosiologi, psikologi dan ideologi. Terkait itu, beberapa hal yang perlu sebagai upaya untuk menangkal pengaruhnya terhadap kaum muda Kristen adalah mendidik kesadaran akan kebersamaan dalam keberagaman agama, membangun kesadaran dialogis, dan menggalang aksi damai. Pokok-pokok tersebut dapat menjadi sumbangan bagi pemikiran dan praksis gereja dalam merawat keberagaman sembari menangkal bahaya radikalisme yang dapat memengaruhi kaum muda Kristen.
Pelaksanaan Misi Allah dalam Konteks Keberagaman Budaya di Indonesia Sigit Wijoyo
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 2, No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v2i2.65

Abstract

The implementation of God's mission in the context of cultural diversity in Indonesia is important to study considering that the church has the responsibility to carry out the Great Commission of the Lord Jesus to the nations. The culturally diverse situation of Indonesian society poses a formidable challenge for evangelists because they cannot apply one specific method that can be applied to the entire community. Some churches still apply the mission model inherited by Zending. The Colonial Model is considered less effective due to the growing culture of Indonesian society. Therefore, flexible mission implementation principles are needed, according to the context of society in Indonesia without compromising the biblical meaning of the gospel. This article was compiled by examining the facts of the cultural life of the Indonesian people who are diverse in culture and examining the word of God which contains teachings on the principle of preaching the gospel to all nations. The research process in this article is carried out by conducting library research on the condition of cultural diversity in Indonesia and examining relevant biblical records in carrying out missions in Indonesia. The result is a mission implementation model that takes into account the cultural context, a christocentric mission without losing the Indonesian values of the local community.Pelaksanaan misi Allah dalam konteks keragaman budaya di Indonesia penting dipelajari mengingat gereja memiliki tanggungjawab menjalankan Amanat Agung Tuhan Yesus kepada bangsa-bangsa. Keadaan masyarakat Indonesia yang beragam budaya, merupakan tantangan yang berat bagi para pemberita injil karena mereka tidak dapat menerapkan satu metode khusus yang dapat dipakai kepada seluruh masyarakat. Beberapa gereja masih menerapkan model misi yang diwariskan oleh Zending. Model Kolonial tersebut dinilai kurang efektif dengan adanya budaya masyarakat Indonesia yang telah berkembang. Oleh karena itu diperlukan prinsip-prinsip pelaksanaan misi yang luwes, sesuai dengan konteks masyarakat di Indonesia tanpa mengurangi makna injil yang alkitabiah. Artikel ini disusun dengan meneliti fakta kehidupan budaya masyarakat Indonesia yang beragam budaya dan meneliti firman Allah yang memuat ajaran tentang prinsip pemberitaan injil bagi segala bangsa. Proses penelitian dalam artikel ini dilakuakan dengan melakukan penelitian kepustakaan tentang kondisi keragaman budaya di Indonesia serta meneliti catatan alkitab yang relevan dalam pelaksanaan misi di Indonessia. Hasilnya adalah model pelaksanaan misi dengan memperhatikan konteks budaya, misi yang kristosentris tanpa menghilangkan nilai-nilai keIndonesiaan masyarakat lokal.
Eksegesis Mazmur 73: Pergumulan Orang Benar Tentang Kemakmuran Orang Fasik Samgar Setia Budhi
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 1, No 1 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v1i1.14

Abstract

The suffering of godly men and the prosperity of the wicked often become the struggle for faithful men. This issue has been around for all ages, from the biblical times until today. This struggle could have implications for the faith of the believers within one’s life. Therefore the sound understanding of God and His will through the scripture is needed. Psalm 73 is one of the Bible texts that is talking about this important issue. Through a pure biblical qualitative study with literal-grammatical-historical-contextual interpretation and exegesis theory approach, and also considering the literature style of the Psalm it is found that the base of the struggle from the existence of prosperity among the wicked is the problem from the heart. An envious heart toward the wealthiness of the wicked often moved the faith of the godly men about the kindness of the Lord. But when believers have an intimate relationship with the Lord, then new perspectives will be opened by God concerning the struggle. God is sovereign towards men’s life. The end of the wicked lives has been determined. On the contrary, for those who live in faith, the presence of God is the highest goodness because the life of a believer along with the Lord with him will always be under His nurture.Penderitaan orang benar dan kemakmuran orang fasik seringkali menjadi pergumulan bagi orang yang beriman. Isu ini sesungguhnya ada sepanjang zaman yaitu sejak zaman Alkitab hingga masa kini. Pergumulan ini dapat berimplikasi kepada iman orang percaya di tengah kehidupannya. Oleh sebab itu diperlukan pemahaman yang benar tentang Allah dan kehendak-Nya melalui kebenaran firman-Nya. Mazmur 73 adalah salah satu teks Alkitab yang membicarakan tentang isu penting ini. Melalui studi kualitatif kajian biblika murni dengan pendekatan teori tafsir literal-gramatikal-historikal-kontekstual dan eksegesis, serta dengan mempertimbangkan bentuk sastra dari Mazmur didapatkan pemahaman bahwa masalah hati merupakan dasar dari munculnya pergumulan tentang kemakmuran orang fasik. Hati yang cemburu terhadap kemakmuran orang fasik seringkali menggoyahkan keyakinan orang beriman akan kebaikan Allah. Tetapi ketika orang beriman memiliki persekutuan yang intim dengan Allah, maka ada perspektif baru yang akan dibukakan oleh Allah tentang pergumulannya. Sesungguhnya Allah berdaulat atas hidup manusia. Akhir hidup orang fasik sudah ditentukan. Tetapi bagi orang beriman, penyertaan Tuhan adalah kebaikan yang tertinggi karena dengan penyertaan Tuhan hidup orang beriman akan selalu dalam pemeliharaan-Nya.
Dampak Kejatuhan Manusia terhadap Kerusakan Ekologi Menurut Kejadian 3 Adi Putra; Yane Henderina Keluanan
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 3, No 2 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v3i2.98

Abstract

This study examines ecological damage based on the text and passages of Genesis 3. This topic is discussed and investigated because global warming has always been an interesting topic to be discussed in academic circles in recent years. Because the world is experiencing climate change due to global warming. In addition, in Genesis 3 it is read and information is obtained that as a result of sin, nature (environment) is damaged. So that through this research it is hoped that it can be a reference for studies on ecology. This study uses qualitative research methods by studying and observing in-depth in order to obtain valid data and information to produce a new theory of ecology, especially regarding its damage. And in this study, it is concluded that ecological damage is inseparable from sin and the fall of humans into sin. Because sin has made humans act to destroy nature and not carry out their duties and responsibilities to protect, manage and conquer this earth.Penelitian ini mengkaji tentang kerusakan ekologi berdasarkan teks dan perikop Kejadian 3. Topik ini dibahas dan diteliti karena pemanasan global menjadi topik yang selalu menarik didiskusikan dalam ruang akademik beberapa tahun terakhir. Oleh karena dunia sedang mengalami perubahan iklim karena adanya pemanasan global. Selain itu, dalam Kejadian 3 dibaca dan diperoleh informasi bahwa akibat dari dosa, alam (lingkungan) menjadi rusak. Sehingga melalui penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk kajian tentang ekologi. Kajian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan mengkaji dan mengobservasi secara mendalam guna memperoleh data dan informasi yang valid untuk menghasilkan sebuah teori baru tentang ekologi khususnya tentang kerusakannya. Dan pada penelitian ini disimpulkan bahwa kerusakan ekologi tidak terlepas dari dosa dan kejatuhan manusia dalam dosa. Oleh karena dosa telah membuat manusia bertindak merusak alam dan tidak melakukan tugas serta tanggung jawabnya untuk menjaga, mengelola serta menaklukkan bumi ini.
Integrasi Integritas dan Lingkungan Sosial untuk Membentuk Reputasi: Analisis Sastra Hikmat Amsal 22:1-2 Farel Yosua Sualang; Eden Edelyn Easter
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 2, No 1 (2020): Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v2i1.46

Abstract

This article describes the integration of integrity and the social environment that shapes a person's reputation based on the study of Proverbs 22:1-2, which uses the research method of wisdom literature analysis with 4 (four) interpretations, namely: literal interpretation, context, structure and figures of speech. This study aims to discover a concept and a sustainable application of integrity and the social environment to one's reputation. Even so, many interpreters (such as Solomon Olusola Ademiluka, Kathrine J. Dell and Allen P. Ross, and others) only emphasized a one-way process from reputation to social environment. However, reputation is not a single concept but departs from the factor of integrity and the social environment in its use of Proverbs 22:1-2. This process is based on the author's explanation of the factors of integrity (Integrity towards Personality, Integrity towards Emotional Intelligence) and social environmental factors (Social Environment towards Social Relations and Social Environment towards Generosity) which are interrelated with one another.Artikel ini menjelaskan mengenai integrasi integritas dan lingkungan sosial yang membentuk reputasi seseorang berdasarkan studi Amsal 22:1-2, yang mana menggunakan metode penelitian analisis sastra hikmat dengan 4 (empat) penafsiran, yaitu: penafsiran literal, konteks, struktur dan kiasan. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan suatu konsep dan penerapan secara berkelanjutan terhadap integrasi integritas dan lingkungan sosial terhadap reputasi seseorang. Sekalipun banyak penafsir (seperti: Solomon Olusola Ademiluka, Kathrine J. Dell dan Allen P. Ross dan lain-lain) hanya menekankan suatu proses searah dari reputasi kepada lingkungan sosial. Namun, reputasi bukan sebuah konsep tunggal, melainkan berangkat dari faktor integritas dan lingkungan sosial dalam penggunaannya Amsal 22:1-2. Proses ini didasarkan kepada penjelasan penulis mengenai faktor integritas (Integritas ke arah Kepribadian, Integritas ke arah Kecerdasan Emosional) dan faktor lingkungan sosial (Lingkungan Sosial ke arah Relasi Sosial dan Lingkungan Sosial ke arah Murah Hati) yang saling berkaitan satu dengan lainnya.
Prinsip Teologi Multikultural sebagai Fondasi bagi Kehidupan Menggereja Di Tengah Keragaman Franky Franky
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4, No 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v4i2.182

Abstract

Speaking of the church as a common life (communion-koinonia), the church cannot be separated from the reality of diversity (multiculturality). Multiculturality in the church community, in addition to enriching the life of Service and fellowship, not least also resulted in ‘friction’ among the congregation. The church, which is supposed to bring brotherly harmony to all of God's children, is instead contaminated with various conflicts of interest. Based on the existing problems, it takes the right strategy to deal with all forms of problems that occur in diverse church communities to produce a solid community that uses the principles of multicultural theology. To achieve the research objectives that have been described above, the method used a descriptive qualitative approach through literature study. The primary and secondary data collection techniques, use library study techniques. Through the method used, the results found that the principles of multicultural theology such as: first, the nature of man as creation is the basis of multiculturality; second, the incarnation of Christ as the Christological basis for relations between multicultural congregations and third, the naturality aspect of the church in interacting in a multicultural congregation is very important to understand and further implement in church life amid diversity so as to produce a solid community in the church.Berbicara mengenai gereja sebagai kehidupan bersama (persekutuan-koinonia), maka gereja tidak lepas dari realitas keragaman (multikulturalitas). Multikulturalitas dalam komunitas gereja, selain memperkaya dalam kehidupan pelayanan dan persekutuan, tidak sedikit juga mengakibatkan ‘gesekan’ di antara jemaat. Gereja yang seharusnya menghadirkan kerukunan bersaudara dengan semua anak Allah, malah terkontaminasi dengan beragam konflik kepentingan. Berdasarkan permasalahan yang ada, dibutuhkan strategi yang tepat dalam menyiasati segala bentuk problematika yang terjadi dalam komunitas gereja yang beragam sehingga menghasilkan komunitas yang solid yakni menggunakan prinsip-prinsip teologi multikultural. Untuk mencapai tujuan penelitian yang telah dipaparkan diatas, maka metode yang digunakan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Adapun teknik pengumpulan data, baik primer maupun sekunder melalui studi kepustakaan. Melalui metode yang digunakan, maka hasil yang ditemukan bahwa prinsip-prinsip teologi multikultural seperti: pertama, natur manusia sebagai ciptaan menjadi dasar multikulturalitas; kedua, inkarnasi Kristus sebagai dasar Kristologis bagi relasi antar jemaat yang multikultur dan ketiga, aspek naturalitas gereja dalam berinteraksi di tengah jemaat yang multikultur sangat penting untuk dipahami dan selanjutnya diimplementasikan dalam kehidupan menggereja di tengah keragaman sehingga menghasilkan komunitas yang solid dalam gereja.