cover
Contact Name
Ahmad Syauqi
Contact Email
sainsalami@unisma.ac.id
Phone
+6288210204258
Journal Mail Official
syauqi.fmipa@unisma.ac.id
Editorial Address
FMIPA Lanti 1 Gedung Usman bin Affan Kompleks Unisma Jl. MT. Haryono 193
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sains Alami (Known Nature)
ISSN : -     EISSN : 26571692     DOI : https://doi.org/10.33474/j.sa-v6i1.2023
Alami menunjuk kepada material yang ada dalam makhluk hidup (ciptaan). Semua senyawa yang ada dalam tubuh makhluk hidup dan sintesis oleh peristiwa biokimia merupakan produk organik. Proses perubahan menuju mineralisasi oleh mikroorganisme merupakan peristiwa dekomposisi dan dalam hal ini juga terjadi dalam suatu kehidupan. Selanjutnya, biogeokimia; studi proses-proses biologi pada tanah/lahan merupakan suatu perputaran zat dan hal ini sangat penting dalam kehidupan. (Natural refers to the material that exists in living things (creation). All compounds that exist in the body of living things and are synthesized by biochemical events are organic products. The process of change towards mineralization by microorganisms is a decomposition event and in this case also occurs in a life. Furthermore, biogeochemistry; study of biological processes on soil/land is a cycle of matter and this is very important in life).
Articles 114 Documents
Pengaruh Pemberian Limbah Biogas Cair dan Padat (Bio Slurry) sebagai Pupuk Organik terhadap Pertumbuhan Tanaman Sawi Hijau (Brassica juncea) Hilmi, Afif; Laili, Saimul; Rahayu, Tintrim
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 1 No. 1 (2018)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v1i1.1417

Abstract

The mustard greens green (Brassica juncea L.) is one of the vegetables that has a commercial value and prospects in the community. Bio-slurry or waste of biogas is a product of the biogas processing from a animals dung, human waste and plant by mixing them with water through the process without oxygen (anaerobic) in the room is covered with metanogen bacteria. The research was carried out by the experimental method with block radomized design. Based on the results of research the effect of biogas liquid waste and solid Bio Slurry as organic fertilizer to the plants growth of mustard greens green (Brassica juncea L.). The best dosage in the organic fertilizer provision  of the form of a solid is 450g (P45), while a dosage of the liquid form is 30 ml and they are not different.The key word: organic fertilizer, Bio slurry, mustard greens green.ABSTRAKTanaman sawi hijau (Brassica junceaL.) merupakan salah satu kelompok sayuran yang memiliki nilai komersial dan prospek yang tinggi di kalangan masyarakat. Bio-slurry atau limbah biogas merupakan produk dari hasil pengolahan biogas berbahan campuran kotoran yaitu kotoran manusia, kotoran ternak dan tumbuhan, proses pengelolaannya dengan cara mencampurkan kotoran ternak dengan air melalui proses tanpa oksigen (anaerobik) di dalam ruang tertutup oleh bakteri metanogen. Penelitian ini dilakukan dengan metode deksperimen dengan rancangan acak kelompok. Berdasarkan hasil penelitian pengaruh pemberian limbah biogas cair dan padat (Bio Slurry) sebagai pupuk organik terhadap pertumbuhan tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.). Dosis yang terbaik dalam pemberian pupuk organik dari limbah biogas (Bio Slurry) bentuk padatan dalah 450g (P45), sedangkan dosis yang terbaik pemberian pupuk organik dari limbah biogas (Bio Slurry) bentuk cair adalah 30 ml dan keduanya tidak berbeda.Kata kunci: pupuk organic, Bio slurry,sawi hijau
Pengaruh Pemberian Hasil Samping Pembuatan Biogas sebagai Pupuk Organik Cair terhadap Pertumbuhan Bawang Merah (Allium cepa L.) Mufairoh, Lailatul; Laili, Saimul; Rahayu, Tintrim
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 1 No. 1 (2018)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v1i1.1418

Abstract

The shallots production enhancements, an improvement in cultivation techniques and organic fertilizer is needed. Biogas liquid waste is one of the organic fertilizers that can be used in plants. The benefit of biogas liquid waste is that it can improve soil properties and produce agricultural products that are safe for health. The purpose of this study was to determine the effect of dose and time of bio-slurry fertilizer on the growth of red onion (Allium cepa L.). Research used a randomized block design consisting of two factors. The first factor is the time of fertilizer application which consists of four levels, namely: control, W1, W2 and W3. The second factor is the administration of bio-slurry fertilizer dose of 25 ml, 50 ml, 75 ml and 100 ml. The results showed that the application of bio-slurry fertilizer affected the growth of shallots. The treatment of D4W1 (fertilizer every week with a dose of 100 ml) showed the best results in each parameter, namely plant height, leaf number, leaf area, root length, wet weight and dry weightABSTRAKPeningkatan produksi bawang merah diperlukan adanya perbaikan teknik budidaya  dan pemberian pupuk organik. Limbah cair biogas adalah salah satu pupuk organik yang dapat digunakan pada tanaman. Manfaat limbah cair biogas adalah  dapat memperbaiki sifat-sifat tanah dan menghasilkan produk pertanian yang aman bagi kesehatan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh dosis dan waktu pemberian pupuk bio-slurry terhadap pertumbuhan bawang merah (Allium cepa L.) Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama yaitu waktu pemberian pupuk yang terdiri dari empat taraf yaitu: kontrol, W1, W2 dan W3. Faktor kedua adalah pemberian dosis pupuk bio-slurry yaitu 25 ml, 50ml, 75 ml dan 100 ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk bio-slurry berpengaruh terhadap pertumbuhan bawang merah. Perlakuan D4W1 (pemberian pupuk setiap minggu dengan dosis 100 ml).menunjukkan hasil yang terbaik pada setiap parameter yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, panjang akar, berat basah dan berat kering.Kata kunci: Pupuk Bio-Slurry, Bawang merah (Allium cepa L.), waktu pemberian pupuk
Rebusan Jahe Merah (Zingiber officinale Rosc. var Rubrum) – Kunyit Putih (Curcuma zedoaria Rosc.) sebagai Jamu Peluruh Urin Sholehuddin, Mohammad; Santoso, Hari; Syauqi, Ahmad
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 1 No. 1 (2018)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v1i1.1421

Abstract

 A diuretic is a compound that can stimulate urine releasing. The content of gingerol, curcumin and flavonoids in red ginger - white turmeric is thought to be efficacious as urine laxative. This study aims to determine efficacy of red ginger stew - white turmeric as urine laxative and to determine the level of differences in NaCl before and after drinking red ginger stew - white turmeric. The test was carried out by giving one1 cup (250 ml) of red ginger - white turmeric stew every day for 5 days. Using a quasi-experimental method with posttest pretest design was done. Data analysis uses percentage calculation. The results showed that administration of red ginger stew - white turmeric efficacious as a urine laxative which is characterized by increased intensity of urinary discharge, pH and NaCl of urine levels, as well as urine color that is getting transparent and clearer. Keywords: red ginger stew - white turmeric, urine laxative ABSTRAKDiuretikum adalah suatu senyawa yang dapat merangsang pengeluaran urin. kandungan senyawa gingerol, kurkumin dan flavonoid pada  jahe merah – kunyit putih diduga berkhasiat sebagai peluruh urin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui khasiat rebusan jahe merah - kunyit putih sebagai peluruh urin dan untuk mengetahui kadar perbedaan NaCl sebelum dan sesudah minum rebusan jahe merah – kunyit putih. Pengujian dilakukan dengan pemberian rebusan jahe merah – kunyit putih sebanyak 1 gelas (250 ml) perhari selama 5 hari. Menggunakan metode quasi eksperimen dengan rancangan pre-tes post-test. Analisis data menggunakan perhitungan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian rebusan jahe merah – kunyit putih berkhasiat sebagi peluruh urin, yang ditandai dengan meningkatnya intensitas pengeluaran urin, pH urin dan Kadar NaCl urin, serta warna urin yang semakin muda dan jernih.Kata kunci: rebusan jahe merah – kunyit putih, peluruh urin
Eksplorasi Pengetahuan tentang Tumbuhan Obat di Kalangan Generasi Muda Pulau Mandangin Kecamatan Sampang kabupaten Sampang Madura Sari, Hosnia; Hayati, Ari; Rahayu, Tintrim
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 1 No. 1 (2018)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v1i1.1424

Abstract

In the study of the exploration of knowledge of medicinal plants among the younger generation Mandangin Island has the purpose to inventory and describe the types of plants and explore the knowledge of the younger generation about medicinal plants on Mandangin Island. This research was conducted on Mandangin Island in June-July 2018. The tools and materials used in this study were questionnaires, digital cameras and all medicinal plants that were known by the respondents while the research method used was descriptive explorative method, namely literature study, observation in the field , and interviews using questionnaires. The sampling technique uses purposive sampling technique with the number of respondents taken as many as 100 respondents in the age range between 16-30 years. While the data analysis used in this study is a descriptive statistical analysis that covers the value of respondents' perceptions based on the scale and analysis of data resulting from community perceptions of medicinal plants. From the results of research that has been done that the level of knowledge of young genes on medicinal plants on Mandangin Island has a high score of 91%. The plants found by the young generation amount to 21 species and only 16 types of medicinal plants are used as medicine by the younger generation.ABSTRAKDalam penelitian tentang eksplorasi pengetahuan tumbuhan obat di kalangan generasi muda Pulau Mandangin memiliki tujuan untuk menginventarisasi  dan mendiskripsikan jenis-jenis tumbuhan serta menggali pengetahuan generasi muda tentang tumbuhan obat di Pulau Mandangin. Penelitian ini dilakukan di Pulau Mandangin pada bulan juni-juli 2018. Alat dan bahan yang digunakan pada penelitian ini yaitu kuesioner, kamera digital dan semua tumbuhan obat yang diketahui oleh responden sedangkan metode penelitian  yang digunakan yaitu metode deskriptif eksploratif yaitu studi pustaka, pengamatan di lapangan, dan wawancara menggunakan kuesioner. Teknik pengambilan sampelnya menggunkan teknik purposive sampling dengan jumlah responden yang diambil sebanyak 100 responden pada kisaran umur antar 16-30 tahun. Sedangkan analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistika deskriptif yang mencangkup nilai persepsi responden berdasarkan skala dan analisis data hasil persepsi masyarakat terhadap tumbuhan obat. Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan bahwa tingkat pengetahuan genarasi muda terhadap tumbuhan obat di Pulau Mandangin memiliki nilai skor tinggi yaitu sebanyak 91%. Tumbuhan yang di ketahaui oleh generasi muda berjumlah 21 jenis dan hanya 16 jenis tumbuhan obat  saja yang digunakan sebagai obat oleh generasi muda.Kata Kunci: Pengetahuan Tentang Tumbuhan Obat, Generasi Muda Dan Jenis  Tumbuhan Obat
Pengaruh Pemberian Air Kelapa Terhadap Perkecambahan Biji Kelor (Moringa olifera) Rofiq, Ainur; Laili, Saimul; Rahayu, Tintrim
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 1 No. 2 (2019)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v1i2.2193

Abstract

Moringa plants are one of the not only a source of food, medicine, and animal feed, they can also be an alternative energy source of fuel (biodiesel) that is environmentally friendly because the seeds contain relatively high oil. Plants are easy to grow on critical land or dry land. Moringa plants are a viable choice to be developed as a food source and; also energy. Moringa (Moringa oleifera) is a native species from the Middle East including India, Pakistan, Bangladesh, and also Indonesia, but in the real conditions, the rural environment moringa plants are less noticed and have not been cultivated. In general, the moringa is bred by cuttings but this method will inhibit the plant because the root fibers are only in cuttings and grafting. The aim of the study was to determine the effective concentration of Moringa seeds in germination. Experimental methods were used with five treatments, namely control, 25, 50, 75, and 100% and four replications. The number of research units is 20 plots / media using coconut water. The measured parameters were the number of germination, length, number of roots, root length, the number of leaves of sprouts. The treatment of 25% (P1) gave consistently optimal growth compared to the others. On the twelfth day the optimal sprout is at a concentration of 25%. Keywords: Moringa, germination, coconut waterABSTRAK Tanaman kelor merupakan salah satu tanaman tidak hanya sebagai sumber pangan, pengobatan, dan makanan ternak, tanaman ini juga dapat sebagai sumber energi alternatif bahan bakar (biodiesel) yang ramah lingkungan karena di dalam bijinya mengandung minyak relatif tinggi. Tanaman mudah tumbuh di lahan kritis atau lahan kering. Tanaman kelor menjadi pilihan yang layak untuk dikembangkan sebagai sumber pangan dan ; juga energi. Kelor (Moringa oleifera)  adalah spesies asli dari Timur Tengah termasuk India, Pakistan, Bangladesh, dan juga Indonesia, tetapi pada kondisi real, di pedesaan tanaman kelor kurang diperhatikan dan belum dibudidayakan. Secara umum tanama kelor dikembangbiakan dengan setek atau cangkok dan cara ini akan menghambat tanama karena akar serabut hanya ada di setek dan cangkok. Tujuan penelitian adalah untuk menetahui konsentrasi yang efektif terhadap biji kelor dalam perkecambahan.  Digunakan metode esperimen  dengan lima perlakuan yaitu kontrol, 25, 50, 75, dan 100% dan empat ulangan. Jumlah unit penelitian ada 20 plot/media dengan  menggunakan air kelapa. Parameter yang diukur yaitu jumlah perkecambahan, panjang, jumlah akar, panjang akar, jumlah daun kecambah secara konsisten pada perlakuan 25% (P1) memberikan pertumbuhan yang optimal dibanding lainnya. Pada hari ke duabelas perkecambahan optimal adalah pada konsentrasi 25%.  Kata kunci: kelor, perkecambahan, air kelapa 
Pengaruh Air Lindi dan Bio Slurry Sebagai Pupuk Organik Cair Terhadap Pertumbuhan Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L) Santoso, Budi; Laili, Saimul; Rahayu, Tintrim
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 1 No. 2 (2019)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v1i2.2194

Abstract

Leachate water is liquid waste that can arise due to the entry of water in landfills and can dissolve dissolved chemical elements such as organic matter resulting from decomposition. Slurry that has been lost gas is waste from biogas and is rich in nutrients needed in plants, but so far liquid leachate fertilizer and biogas waste have not been utilized properly. The purpose of this study was to determine the effect of leachate, bio slurry, and mixture on cucumber plant growth (Cucumis sativus L), and the best influence between leachate, bio slurry and a mixture of both. This study used an experimental method with randomized block design (RBD) with 9 treatments and 4x replications. The results of the study of Leachate Water, Bio slurry, and Mixture affected, plant length, on plant height, number of leaves, number of flowers, dry weight and plant wet weight. All treatments had an effect on the observed parameters at a concentration of 15 ml, 30 ml, or 45 ml, especially in observing wet weight and dry weight of plants. The treatment of leachate showed a significant difference in the wet weight concentration of 30 ml and dry weight concentration of 30 ml.Keywords: Leachate, Bio slurry, Cucumis sativus L ABSTRAKAir lindi adalah limbah cair dapat timbul karena masuknya air pada timbunan sampah dan bersifat dapat  melarutkan unsur kimiawi yang terlarut antara lain materi organik hasil dari dekomposisi. Kotoran ternak (slurry) yang sudah hilang gasnya merupakan limbah dari biogas  dan kaya dengan nutrisi yang di butuhkan pada  tanaman, namun selama ini pupuk cair air lindi dan limbah biogas belum dimanfaatkan dengan baik. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh air lindi, bio slurry, dan Campuran terhadap pertumbuhan tanaman mentimun (Cucumis sativus L), dan pengaruh yang terbaik antara air lindi, bio slurry dan campuran keduanya. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 9 perlakuan dan 4x ulangan. Hasil penelitian Pemberian Air lindi, Bio slurry, dan Campuran berpengaruh , panjang tanaman, terhadap pada tinggi tanaman, jumlah pada daun, jumlah bunga, berat kering dan berat basah tanaman, Semua perlakuan memberikan pengaruh pada parameter yang di amati baik pada konsentrasi 15 ml, 30 ml, ataupun 45 ml, khususnya pada pengamatan berat basah dan berat kering tanaman. Pada perlakuan Air lindi menunjukkan beda nyata yang signifikan yaitu pada berat basah konsentrasi  30 ml dan berat kering konsentrasi 30 ml.  Kata kunci: Air lindi,Bio slurry,Cucumis sativus L
analisis kadar protein dan vitamin c pada sambal-ikan sebelum dan sesudah diolah Aisyi, Dinda Rohadatul; Santoso, Hari; Lisminingsih, Ratna Djuniwati
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v2i1.2957

Abstract

Fish-Chili- sauce processed by a mixture of cayenne pepper (Capsicum frutescens), tomatoes (Lycopersicum esculentum) and Deles fly fish (Decapterus macrosoma) as fast-food sources of protein that is favored by the public. The purpose of this study are to determine the protein and vitamin C levels of fish-chili-sauce before and after processing. The research method are used completely randomized design with two treatments, namely treatment 1 measured levels of protein and vitamin C before processing; treatment 2 measures the levels of protein and vitamin C after processing. The protein test was performed using the Kjeldahl method with a Spectrophotometer Technique. Vitamin C testing uses the Iodimetry method. The results showed that protein levels of fish before processing = 19.31% and = 20.24 mg/100g of vitamin C. After processing the fish protein content  = 15.63% and = 16.28 mg/100g of vitamin C levels. Decreased fish protein levels and vitamin C levels were thought to be due to the length of processing time. The results of the analysis of the T-Test Pairs showed that there are no significant difference in the protein content of fish-chili-sauce before and after processing, but it tended to decrease. The results of the analysis of the Pairs T-Test showed that there are significant differences in the levels of vitamin C of fish-chili-sauce before and after processing.ABSTRAKSambal-ikan hasil olahan campuran cabai rawit (Capsicum frutescens), tomat (Lycopersicum esculentum) dan ikan layang Deles (Decapterus macrosoma) sebagai sumber protein cepat saji yang digemari oleh masyarakat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kadar protein dan vitamin C sambal-ikan sebelum dan sesudah diolah. Metode penelitian di gunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 2 perlakuan yaitu perlakuan 1 mengukur kadar protein dan vitamin C sebelum diolah; perlakuan 2 kadar protein dan vitamin C sesudah diolah. Uji protein dilakukan menggunakan metode Kjeldahl dengan Teknik Spektrofotometer. Uji vitamin C menggunakan metode Iodimetri. Hasil penelitian menunjukkan kadar protein 19,31% dan kadar vitamin C 20,24 mg/100g. 15,63%. dan kadar vitamin C16,28 mg/100g. Penurunan kadar protein ikan dan kadar vitamin C diduga karena lamanya waktu proses pengolahan. Hasil analisi uji T-Test Pairs menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan pada kadar protein sambal-ikan sebelum dan sesudah diolah, namun cenderung mengalami penurunan. Hasil analisis uji T-Test Pairs menunjukkan ada perbedaan yang signifikan pada kadar vitamin C sambal-ikan sebelum dan sesudah diolah.
Uji Rendemen Nira dan Gula Semut Aren (Arenga pinnata Merr.) Hasil Penyadapan Pagi dan Sore Hari dengan Instrumen Refraktometer Maghfirah, Inayatul; Santoso, Hari; Syauqi, Ahmad
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v2i1.2959

Abstract

Enau (sugar palm) trees are multi-use plants and almost all parts of the plant can be used for human needs. The nira of sugar palm (legen or saguer) can be processed into palm sugar. The purpose of this study was to measure rendemen nira and palm sugar from the results of tapping in the morning and evening. The research method uses survey by measuring the pH and volume of nira that obtained in the morning and evening and directly processing it into palm sugar. The results of the study showed the morning tapping,  temperature =  , the rendemen of palm sugar = 11.50% and the water content of palm sugar = 4.05%. In the evening tapping,   temperature = , pH nira of palm sugar = 6,3, the rendemen of palm sugar = 11.48% and the water content of palm sugar = 3.57%. The results of the t-test pairs analysis were obtained P temperature = 0.041 ˃ 0.025, P pH  nira of sugar palm = 0.134 ˃ 0.025, P brix nira of sugar palm = 0.557 ˃ 0.025, P rendemen of palm sugar = 0.975 ˃ 0.025 and P water content of palm sugar = 0.975 0.025. There were no significant difference from nira of palm sugar produced by tapping morning and evening. ABSTRAKPohon Enau (Aren) tanaman multi guna dan hampir semua bagian tanaman dapat dimanfaatkan untuk keperluan manusia. Nira aren (legen atau saguer) dapat diolah menjadi gula semut. Tujuan penelitian ini untuk mengukur rendemen nira dan rendemen gula semut dari hasil penyadapan pagi dan sore hari. Metoda penelitian menggunakan survey dengan mengukur pH dan volume nira yang didapat pagi hari dan sore hari serta langsung mengolahnya menjadi gula semut. Hasil penelitian menunjukkan pada penyadapan pagi hari ,   ,  rendemen gula semut = 11,50 % dan kadar air gula semut = 4,05%. Pada penyadapan sore hari ,   ,  rendemen gula semut = 11,48 % dan kadar air gula semut = 3,57%. Hasil analisis uji t-Test Pairs diperoleh P suhu = 0,041 ˃ 0,025, P pH nira aren = 0,134 ˃ 0,025, P brix nira aren= 0,557 ˃ 0,025, P rendemen gula semut = 0,975 ˃ 0,025 dan P kadar air gula semut = 0,975 ˃ 0,025. Tidak ada perbedaan yang nyata dari nira aren hasil penyadapan pagi dan sore hari.Kata kunci: Rendemen, Nira, Aren, Gula semut
Efek Daun Picung (Pangium edule Rewind.) sebagai Pengawet Alami terhadap Kadar Protein Total Ikan Nila (Oreochromis sp) Segar Utami, Ade Ratna; Santoso, Hari; Syauqi, Ahmad
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v2i1.3325

Abstract

Tilapia (Oreochromis sp) is one group of fish that has high economic value. Tilapia contains protein that is easy to lysis, quickly undergoes a process of decay (perishable food). Alternatively the preventing process of preserving fish with natural ingredients is Picung leaves. The aim of study was to compare the levels of protein of fresh Tilapia before preserving with Tilapia preserved with Picung leaves (Pangium edule Rewins.) at concentrations of 5 %. This research method uses experiment with the purposive sampling with complete randomized analysis, using temperature and preservation factors with each treatment, namely 6 replications. Temperature factor that is using room temperature 28o C and temperature 18o C ( in refrigerator) and the preservation time factor is 0 hours, 12 hours, 24 hours, 36 hours, and 48 hours. Protein determination used spectrophotometric Kjedhal modification methods. The results of the average protein content of fresh Tilapia before being preserved are 19.93 %, the average protein of Tilapia is preserved at 28oC which is 13.59% and the average protein of Tilapia is preserved at 18oC which is 15.07%. The average protein of Tilapia was preserved for 12 hours, 24 hours, 36 hours and 48 hours, namely 13.22%, 13.88%, 12.78% and 11,83%. The research data was analysed by ANOVA test with result Fs Faktor A> F0.05 (1,50), meaning that there is a real effect caused by factor A (temperature factor). Fs Faktor B > F0.05 (4,50),meaning that there is real effect caused factor B (preservation time).Keywords: Tilapia, Protein, Picung Leaves and Natural PreservativeABSTRAKIkan nila (Oreochromis niloticus) adalah salah satu kelompok ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Ikan Nila mengandung protein yang mudah lisis cepat mengalami proses pembusukan (perishable food). Alternatif mencegah proses tersebut dilakukan pengawetan ikan dengan bahan alami seperti daun picung. Tujuan penelitian  yaitu membandingkan kadar protein ikan Nila segar sebelum diawetkan dan setelah diawetkan dengan daun picung (Pangium edule Rewins.) pada konsentrasi 5%. Metoda penelitian ini menggunakan percobaan dengan purposive sampling. Rancangan acak lengkap, mengunakan faktor suhu dan waktu pengawetan dengan masing-masing perlakuan yaitu 6 ulangan . Faktor suhu yaitu menggunakan suhu ruang 28o C dan suhu 18o C (dalam kulkas) dan faktor waktu pengawetan yaitu 0 jam, 12 jam, 24 jam, 36 jam dan 48 jam. Penentuan protein mengunakan metode modifikasi kjedhal spektofotometri.  Hasil rerata kadar protein ikan Nila segar sebelum diawetkan yaitu 19.93%, rerata ikan Nila yang diawetkan  pada suhu 28o C yaitu 13.59 % dan rerata kadar protein ikan Nila yang diawetkan pada suhu 18o C yaitu 15.07%. Rerata protein ikan Nila yang diawetkan selama 12 jam, 24 jam, 36 jam dan 48 berurutan yaitu 13.22%, 13.88%, 12.78% dan 11.83%. Data penelitian ini dianalisa dengan uji Anova dengan hasil  Fs Faktor A > F0.05 (1,50), artinya terdapat efek yang nyata ditimbulkan oleh faktor A (faktor suhu). Nilai Fs Faktor B  > F0.05 (4,50) , artinya terdapat efek yang nyata ditimbulkan oleh faktor B( waktu pengawetan).Kata Kunci: Ikan Nila, Protein, Daun Picung, Pengawet Alami
Efek Daun Picung (Pangium edule Reinw) sebagai Pengawet Ikan Nila Merah (Oreochromis sp.) Fauzilah, Isma; Santoso, Hari; Zayadi, Hasan
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v2i1.3326

Abstract

Red tilapia fish are one of the types of fish in fresh water cultivation by having good enough prospects to be developed. In the effort of processing and preserving fish in order to improve the quality of power as well as durable a product of fisheries post-harvest done at various events. It is generally performed by the society amongst others with low temperature, high temperature, fermentation or formalin. This research aims to know the influence of leaf picung on temperature and long preservation against organ changes eyes, gills, the texture and the smell of red tilapia fish. In the method this research uses experimental on the 4 treatment and 5 of repetition by observing organ eyes, gills, texture and smell. Data analysis techniques using friedman test followed by multiple comparison test. Based on the results of the research, leaves stew picung effect on temperature and long preservation in reduction organoleptic red tilapia fish. Organoleptic reduction on red tilapia fish known from the is eyeballs are sunken with a cloudy cornea and his pupils are grayish, the gills are gray accompanied by clotted brown mucus, the texture is rather soft with a little less elastic, it smells very foul. Long preservation of the slowest on the red tilapia fish soaked with the decoction of leaves picung with temperatures of 18 oC goes up to 56 hours.Keywords: Red tilapia fish, Leaf picung, Preserving, OrganolepticABSTRAKIkan nila merah adalah salah satu dari jenis ikan pada budidaya air tawar dengan memiliki prospek yang cukup baik untuk dapat dikembangkan. Dalam usaha pengolahan dan pengawetan ikan guna meningkatkan kualitas serta daya awet suatu produk perikanan pada pasca panen dilakukan berbagai acara. Umumnya yang dilakukan oleh masyarakat antara lain dengan suhu rendah, suhu tinggi, fermentasi atau formalin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh daun picung pada suhu dan lama pengawetan terhadap perubahan organ mata, insang, tekstur dan bau ikan nila merah. Metode pada penelitian ini menggunakan eksperimen pada 4 perlakuan dan 5 ulangan dengan mengamati organ mata, insang, tekstur dan bau. Teknik analisis data menggunakan uji friedman dilanjut dengan uji perbandingan ganda. Berdasarkan hasil penelitian rebusan daun picung berpengaruh terhadap suhu dan lama pengawetan pada penurunan mutu organoleptik ikan nila merah. Penurunan mutu organoleptik pada ikan nila merah dapat diketahui dari bola matanya cekung dengan kornea keruh dan pupilnya keabu-abuan, insangnya berwarna abu-abu disertai lendir coklat yang bergumpal, teksturnya agak lunak dengan sedikit kurang elastis, baunya sangat busuk. Lama pengawetan yang paling lambat pada ikan nila merah direndam dengan rebusan daun picung dengan suhu 18 oC bertahan hingga 56 jam. Kata kunci: Ikan nila merah, Daun picung, Pengawetan, Organoleptik

Page 2 of 12 | Total Record : 114