cover
Contact Name
Ahmad Syauqi
Contact Email
sainsalami@unisma.ac.id
Phone
+6288210204258
Journal Mail Official
syauqi.fmipa@unisma.ac.id
Editorial Address
FMIPA Lanti 1 Gedung Usman bin Affan Kompleks Unisma Jl. MT. Haryono 193
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sains Alami (Known Nature)
ISSN : -     EISSN : 26571692     DOI : https://doi.org/10.33474/j.sa-v6i1.2023
Alami menunjuk kepada material yang ada dalam makhluk hidup (ciptaan). Semua senyawa yang ada dalam tubuh makhluk hidup dan sintesis oleh peristiwa biokimia merupakan produk organik. Proses perubahan menuju mineralisasi oleh mikroorganisme merupakan peristiwa dekomposisi dan dalam hal ini juga terjadi dalam suatu kehidupan. Selanjutnya, biogeokimia; studi proses-proses biologi pada tanah/lahan merupakan suatu perputaran zat dan hal ini sangat penting dalam kehidupan. (Natural refers to the material that exists in living things (creation). All compounds that exist in the body of living things and are synthesized by biochemical events are organic products. The process of change towards mineralization by microorganisms is a decomposition event and in this case also occurs in a life. Furthermore, biogeochemistry; study of biological processes on soil/land is a cycle of matter and this is very important in life).
Articles 114 Documents
Pengaruh Biji Picung Muda (Pangium edule Reinw) sebagai Pengawet Ikan Nila Merah (Oreochromis niloticus) Mariyana, Mariyana; Santoso, Hari; Zayadi, Hasan
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v2i1.3328

Abstract

The most popular fish farmers in Indonesia are tilapia. A decreasing in physical quality of fish after approximately 2 hours of death. The fish can be guaranteed the quality of freshness with preservation. Some people still use preservation by cooling, drying, fumigating, salting and even the formalin substances. This research use natural preservation that use young seed of Picung (Pangium edule Reinw). The aim of research was to determine the effect of the covered pasta duration as a natural preservative against the ratio freshness of red tilapia (Oreochromis niloticus) meat in each treatment. This study used an experimental method consist four treatment; first, without covered pasta at 26 and 18 oC. The second,  the 3 mm of covered pasta of fish at 26 and 18 oC. The assessment of physical appearance performed by organoleptic scoring of fresh fish and Friedman test. The results of this study indicate that red tilapia which is covered with 3mm thickness of Picung young seeds with a refrigerator temperature of 18˚C has score value of the average; eye 6.93, gills 7.68, smell 7.77 and texture 8.5 with at long time fresh of 168 hours.Keywords: organoleptic, covered pasta, long time fresh ABSTRAKBudidaya ikan di Indonesia paling banyak diminati adalah ikan nila. Ikan mengalami penurunan kualitas secara fisik setelah kurang lebih 2 jam setelah kematiannya. Ikan dapat terjamin kualitas kesegarannya usaha yang dilakukan adalah pengawetan. Beberapa masyarakat masih menggunakan pengawetan dengan metode pendinginan, pengeringan, pengasapan, penggaraman dan bahkan formalin. Penelitian ini menggunakan pengawetan secara alami, yaitu pemberian lumuran pasta biji picung mudah (Pangium edule Reinw). Tujuan dari dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lama waktu pelumuran pasta sebagai pengawet alami terhadap rasio kesegaran daging ikan nila merah (Oreochromis niloticus) pada setiap perlakuan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental, ada empat perlakuan pertama yaitu ikan nila merah tanpa diberi pelumuran pada suhu 26˚C dan 18˚C. Kedua ikan nila merah dilumuri biji picung halus setebal 3 mm pada suhu 26˚C dan 18˚C. Penilaian kenampakan secara fisik dilakukan dengan scoring organoleptik ikan segar dan uji Friedman. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa ikan nila merah yang dilumuri oleh biji picung muda ketebalan 3mm dengan suhu pendingin 18˚C memiliki skor nilai rata-rata mata 6,93, insang 7,68, bau 7,77 dan tekstur 8,5 dengan lama waktu simpan selama 168 jam.Kata kunci: organoleptik, lumuran pasta, lama waktu segar
Analisis Lemak Susu Edamame dari Olahan Biji Edamame Sukiran, Nufan Muwafiq; Santoso, Hari; Syauqi, Ahmad
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v2i1.3368

Abstract

Edamame milk (Glycin max. L var. edamame) is one product with the advantages; easily produced and highly nutritious. This study aims was to determine the fat content of edamame milk prepared by edamame bean. The method used in this study is the experiment using a completely randomized design with 4 treatments and 5 replications. Fat analysis was done using the Gerber method. The fat levels of edamame milk at the first treatment, the average value of Edamame milk was 5.74% , the second 5.28%, the third 4.56% and the last treatment or the the fourth is fat at 2.0%. The results are compared with the other fat content of the other varieties, then it can be compared the fat content of Edamame varietes lower than the variants of Malika and Grobogan which are variants of Edamame fat content which is 5.74%, Malika fat content was 13.2%, and the Grobogan variance averaged 12.83%. The results of the analysis show that there are significant differences between treatments. For the average edamame fat content that is good is equal to 2.02% and the results close to the standard of soy milk that is equal to 2.0%.Keywords: fat content, edamame milk, Gerber method.ABSTRAKSusu edamame (Glycin max. L var. edamame) merupakan salah satu produk dengan kelebihan; mudah diproduksi dan bergizi tinggi. Penelitian ini bertujuan adalah menentukan kadar lemak susu edamame olahan biji Edamame. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 5 kali ulangan. Analisis lemak dilakukan menggunakan metode Gerber. Hasil penelitian kadar lemak susu edamame pada perlakuan pertama, nilai rata-rata ulangan lemak susu edamame yaitu sebesar 5,74%, kedua 5,28% ketiga 4,56% dan keempat 2,02% Jika hasilnya dibandingkan dengan kadar lemak varietes lainnya maka bisa di bandingkan kadar lemak varietes edamame lebih rendah dari varietes malika dan grobogan yang mana varietes edamame kadar lemaknya yaitu sebesar 5,74%. Malika kadar lemaknya sebesar 13,2%, dan varietes Grobogan rata-ratanya sebesar 12,83%. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan diantara perlakuan. Rata-rata kadar lemak edamame yang baik yaitu sebesar 2,02%  dan hasilnya mendekati standar susu kedelai sebesar 2,0%Kata kunci: kadar lemak, susu edamame, metode Gerber.
Analisa Kadar Protein Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) yang Diawetkan Dengan Biji Picung Muda (Pangium edule Reinw) Ningrum, Mei Ninda; Santoso, Hari; Syauqi, Ahmad
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v2i1.3372

Abstract

Tilapia (Oreochromis niloticus) is one of the freshwater fish that is widely cultivated and consumed by the community. Tilapia is abundant and it remains fresh than preserved using Picung seeds. The aim of the study was to analyze the protein content of tilapia that preserved without young picung seeds and fresh tilapia after being preserved with young Picung seeds. The method was carried out experimentally with 3 treatments of coated young Picung seed; (A) storage at16 oC without coated, (B) storage at 16 oC coated, and (C) storage of 26 oC temperature coated with 6 replications respectively. The average yield of storage for 40 hours of treatment; A is 16.011%, B=16.003% and C=13.256%. The results of analysis of protein content of tilapia preserved with young Picung seeds (Pangium edule Reinw) in 3 treatments did not different significantly. Protein content of tilapia (Oreochromis niloticus) preserved with young Picung seeds at the storage time of each treatment showed different results. The young Picung seeds used for preservation are a solution to inhibit decreasing protein levels in tilapia.Keywords: Tilapia, Picung seeds, proteinABSTRAKIkan nila (Oreochromis niloticus) adalah salah satu ikan air tawar yang banyak dibudidayakan masyarakat dan di konsumsi masyarakat. Ikan nila melimpah dan agar tetap segar dilakukan pengawetan menggunakan biji picung. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisa kadar protein ikan nila yang diawetkan tanpa biji picung muda dan kadar protein ikan nila segar setelah diawetkan dengan biji picung muda. Metode dilakukan secara eksperimental dengan 3 kali perlakuan lumuran biji picung muda (A) penyimpanan suhu 16oC tanpa lumuran, (B) penyimpanan pada suhu 16oC dengan lumuran, dan (C) penyimpanan suhu 26oC dengan lumuran diulang masing-masing 6 ulangan.  Hasil rata-rata penyimpanan selama 40 jam perlakuan A 16,011%, perlakuan  B 16,003% dan perlakuan  C 13,256%. Hasil analisis kadar protein ikan nila yang diawetkan dengan biji picung muda (Pangium edule Reinw) pada 3 perlakuan tidak berbeda secara signifikan. Kadar protein ikan nila (Oreochromis niloticus) yang diawetkan dengan biji picung muda pada lama waktu penyimpanan masing-masing perlakuan menunjukkan hasil berbeda. Biji picung muda yang digunakan untuk pengawetan menjadi solusi untuk menghambat penurunan kadar protein pada ikan nila.Kata kunci : ikan nila, biji picung, protein.  
Analisis Kadar Vitamin C pada Selai Stroberi (Fragaria sp.) - Buah Naga (Hylocereus costaricensis) Nisa, Siti Rofiatun; Santoso, Hari; Syauqi, Ahmad
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 2 No. 2 (2020)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v2i2.3382

Abstract

Food intake need ingredient containing vitamin C so that the body remains healthy as in the strawberry and Dragon fruit. One of the efforts to extend the power save and maintain the content of its nutrition value of processed products made with jam. The purpose of this research is to analyze the content of vitamin C in processed jam strawberries (Fragaria sp.) and Dragon fruit (Hylocereus costaricensis) in comparison with a concentration of fruit and Dragon fruit strawberries of differen; 1:1, 1:2, 1:3. The method used is the method of experiment with the design research in the form of a complete Random Design (CRD). Analysis of vitamin C using test qualitative and quantitative test methods for iodimetri. The research results obtained difference  between treatmen, and treatment of 1:3 resulted  2.,96 mg/100 g.The qualitative and quantitative test on vitamin C shows the result of the more strawberries are used then the higher levels of vitamin C.Keywords: mixed berries, iodometricABSTRAKAsupan makanan memerlukan bahan yang mengandung vitamin C agar tubuh tetap sehat seperti pada stroberi dan buah naga. Salah satu usaha untuk memperpanjang daya simpan dan mempertahankan kandungan gizinya dengan dijadikan produk olahan selai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa kandungan vitamin C pada hasil olahan selai stroberi (Fragaria sp.) dan buah naga (Hylocereus costaricensis) dengan konsentrasi perbandingan buah naga dan buah stroberi yang berbeda yaitu 1:1, 1:2, 1:3. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan rancangan penelitian berupa Rancangan Acak Lengkap (RAL). Analisa vitamin C menggunakan uji kualitatif dan metode iodimetri untuk uji kuantitatif. Hasil penelitian didapat beda sangat nyata antar perlakuan, dengan nilai perlakuan 1:3 tertinggi yaitu 24,96 mg/100 gram. Uji kualitatif dan kuantitatif pada vitamin C menunjukkan semakin banyak stroberi yang digunakan maka semakin tinggi kadar vitamin C-nya.Kata kunci: Campuran buah, Iodometri
Uji Efektivitas Biji Picung (Pangium edule Reinw) Tua Sebagai Bahan Pengawet Ikan Kurisi (Nemipterus nematophorus) Segar Basyariyah, Iflahatul; Santoso, Hari; Zayadi, Hasan
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 2 No. 2 (2020)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v2i2.3415

Abstract

Kurisi Fish (Nemipterus nematophotus) is a fish with high enough protein content and low fat. The fish caught by fisherman in  Situbondo is quite abundant and if left too long will quickly undergo the process of decay. The study aims was to determine the effectiveness of the long-preserving fish curate by using the elderly picung seeds. The method used in this research was experimental method with treatment of fish; first, Kurisi fish without the picung seedslubrication on storage of 18oC, second, lubricated fish on storage of 18oC, third, lubricated fish on storage of 26oC and six replications rectively. Using the organoleptic assessment to determine the freshness level of observed fish and used Friedman test. The results showed the average organoleptic score first; 7.11 for the eye, 7.94 for texture, 6.16 for gills and 5.97 for smell and reaching time 40 hours of durable fresh. The second,  6.27 for eye 7.95 for texture, 6.21 for Gill and 7.35 to smell and reaches 48 hours time. The third, 6.09 for eye, 7.46 for texture,6.17 for gills and 5.98 for smelland  reaches 32 hours.Tthere is significance in the similar storage temperature. The old picung seeds are less effective as a Kurisi fish preservative.  Keywords: durable fresh, lubricated seed, organolepticABSTRAKIkan Kurisi (Nemipterus nematophotus) merupakan ikan dengan kandungan protein cukup tinggi dan lemak rendah. Ikan tangkapan nelayan Situbondo kondisi cukup melimpah dan bila dibiarkan terlalu lama akan cepat mengalami proses pembusukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas lama pengawetan ikan kurisi dengan menggunakan biji picung tua. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode eksperimen dengan 3 kali ulangan yaitu perlakuan I ikan kurisi tanpa pelumuran biji picung dengan penyimpanan suhu 18oC, perlakuan II ikan kurisi dilumuri biji picung dengan penyimpanan suhu 18oC, perlakuan III ikan kurisi dilumuri biji picung dengan penyimpanan suhu 26oC; masing-masing dengan 6 kali ulangan. Penilaian organoleptik untuk menentukan skor tingkat kesegaran pada ikan yang diamati dan digunakan yaitu uji friedman. Hasil penelitian menunjukkan rerata skor organoleptik 7,11 untuk mata, 7,94 untuk tekstur, 6,16 untuk insang dan 5,97 untuk bau pada perlakuan tanpa biji picung dengan suhu 18OC mencapai waktu 40 jam. Perlakuan dengan picung diperoleh 6,27 untuk mata, 7,95 untuk tekstur, 6,21 untuk insang dan7,35 untuk bau mencapai waktu 48 jam pada suhu 18OC. Perlakuan ketiga 6,09 untuk mata, t,46 untuk tekstur, 6,17 untuk insang dan 5,98 untuk bau mencapai waktu 32 jam pada suhu 26OC. Tidak ada perbedaan nyata pada penyimpanan suhu yang sama. Biji picung tua kurang efektif sebagai bahan pengawet ikan kurisi.  Kata Kunci: daya tahan segar,lumuran, organoleptik
Analisis Perbandingan Kadar Protein Telur Itik (Khaki campbell) Sebelum dan Sesudah Perendaman dengan Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) pada Pengasinan Maulidiyah, Ni'matul; Santoso, Hari; Syauqi, Ahmad
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 2 No. 2 (2020)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v2i2.3524

Abstract

Eggs as a source of animal protein consumed by the community are a side dish. Duck eggs have a relatively short shelf life. Duck egg protein is easy to be lysis (easily damaged) both natural damage and chemical damage. Adding the kitchen salt and decreasing pH with lime juice can affect the microbiologic activity particulary the bacteria. The purpose of the study is to analyze the levels of white protein and egg yolk before soaking and after soaking with lime juice (Citrus aurantifolia). The method in this study used the experimental method Complete Random Design (CRD) with 3 treatments, namely treatment I control (fresh eggs), treatment II before soaking and treatment III after soaking and six replications respectively. Protein testing uses the Kjeldahl method with spectrophotometric technique. The result of the analysis showed that the protein content of egg whites was not significant difference between the three treatments. While the analysis of protein content of egg yolks was differences in the average yield of the three treatments. Keywords: Protein, Duck Eggs, Salting before and afterABSTRAKTelur sebagai sumber protein hewani yang dikonsumsi oleh masyarakat sebagai lauk.Telur itik mempunyai usia simpan relative pendek. Protein telur itik mudah mengalami lisis (mudah rusak) baik kerusakan alami maupun kerusakan kimiawi. Pemberian garam dapur dan penurunan pH dengan air jeruk dapat mempengaruhi aktivitas mikrobiologis khususnya bakteri. Tujuan penelitian untuk menganalisis kadar protein putih dan kuning telur itik sebelum perendaman dan sesudah perendaman dengan larutan jeruk nipis (Citrus aurantifolia). Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan yaitu perlakuan I kontrol (telur segar), perlakuan II sebelum perendaman dan perlakuan III sesudah perendaman dengan 6 kali ulangan. Uji protein menggunakan metode Kjeldahl dengan Tekhnik Spektrofotometri. Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar protein putih telur tidak ada perbedaan yang signifikan antara ketiganya. Sedangkan analisis kadar protein kuning telur ada perbedaan hasil rata-rata dari ketiganya. Kata Kunci: Protein, Telur itik, Pengasinan sebelum dan sesudah 
Uji Daging Ikan Mujair (Oreochromis mossambicus) Menggunakan Rendaman Kulit Manggis (Garcinia mangostana L.) Kusmawati, Eka; Santoso, Hari; Syauqi, Ahmad
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 3 No. 1 (2020)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v3i1.3555

Abstract

Meat elasticity is a characteristic of meat that has the power to resist pressure from the outside and return to its original shape. Tilapia fish (Oreochromis mossambicus) has perishable properties if it hasn’t been through processing. One alternative to maintain the suppleness of the meat by using a soaking mangosteen (Garcinia mangostana L.) peel. Based on the description above this study aims to knowing the effectiveness of soaking using mangosteen peel and analyzes the concentration for the best meat suppleness. The research method used was completely randomized design using 4 concentration of treatments 0%, 5%, 10%, 15% and  each with 5 replications. The results of study obtained Fcou = 72,55 ; F(0,01) = 5,29 shows that Fcou > F(0,01) so H0 is rejected, which means there is a very real difference between treatments with value concentration of 0% 5,069 N/mm2; concentration of 5% 7,574 N/mm2; concentration of 10% 10,401 N/mm2 and  concentration of 15% 13,924 N/mm2. The secondary metabolites in the mangosteen peel are effective so as to give effect to increase the tenderness of tilapia fish and the test results of the effective concentration value for the suppleness of the best fish meat according to SNI is the concentration of 15%. In this elascity test it was found thet the higher of concentration of mangosteen peel given the higher the level of elasticity of tilapia fish meat.Key Word: Elasticity, Immersion, Powder ConcentrationABSTRAKKekenyalan daging merupakan sifat daging yang mempunyai kekuatan untuk menahan tekanan dari luar dan kembali ke bentuk semula. Daging ikan mujair (Oreochromis mossambicus) memiliki sifat mudah rusak jika belum melalui suatu pengolahan. Salah satu alternatif untuk menjaga kualitas kekenyalan dagingnya dengan menggunakan rendaman kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas perendaman menggunakan kulit buah manggis dan menganalisa konsentrasi yang tepat untuk kekenyalan daging ikan mujair. Metode penelitian yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap menggunakan 4 konsentrasi perlakuan 0%, 5%, 10%, 15% dan masing-masing 5 kali ulangan. Hasil penelitian didapat Fhit = 72,55 ; F(0,01) = 5,29 menunjukkan bahwa Fhit > F(0,01) sehingga H0 ditolak yang berarti terdapat beda sangat nyata antar perlakuan, dengan nilai konsentrasi 0% 5,069 N/mm2; konsentrasi 5% 7,574 N/mm2; konsentrasi 10% 10,401 N/mm2 dan konsentrasi 15% 13,924 N/mm2. Senyawa metabolit sekunder pada kulit manggis yang efektif sehingga memberikan pengaruh untuk meningkatkan kekenyalan daging ikan mujair dan hasil uji nilai konsentrasi yang efektif untuk kekenyalan daging ikan terbaik sesuai dengan SNI adalah konsentrasi 15%. Pada uji kekenyalan ini didapatkan bahwa semakin tinggi konsentrasi kulit manggis yang diberikan maka semakin tinggi tingkat kekenyalan daging ikan mujair.Kata Kunci: Kekenyalan, Perendaman, Konsentrasi Serbuk
Uji Organoleptik Ikan Mujair (Oreochromis mossambicus) yang Direndam dengan Kulit Manggis (Garcinia mangostana L.) sebagai Pengawet Alami Nurmala, Aulia Putri; Santoso, Hari; Syauqi, Ahmad
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 3 No. 1 (2020)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tilapia fish is one of the freshwater fish that is easily available in the market and is popular with the community. Freshwater fish are chosen as a source of protein, minerals, vitamins and fats for consumption. Purplish red mangosteen peels contain tannin, resin and compounds crystallizable mangostine (C2OH22O5), are easily soluble in alcohol or ether, and are insoluble in water. Tannin of mangosteen peel is a polyphenol compound and an additive functions as an antiseptic, a coloring agent for paint and ink. Compounds in mangosteen peel are able to bind proteins so that they can be used as natural preservatives, containing catechkin (flavan-3,4-diol), the proanthocyanidin group. The purpose of this study is to compare the effectiveness of mangosteen peel as a natural preservative in various concentrations in maintaining the quality of tilapia fish. The research method was carried out through experiments by soaking tilapia fish in mangosteen peel at a concentration of 0%, 25%, 50%, 75% for 24 hours with a temperature of 0-50C. Organoleptic analysis of changes in quality: gills, eyes, flesh texture and odor of tilapia fish (Oreochromis mossambicus) by measuring changes in pH of soaking water. The organoleptic test results showed that the highest organoleptic value was found at the highest concentration of 75%, with eye specifications having an organoleptic value of 8.3; gills have an organoleptic value of 8.6, odor has the highest organoleptic value of 8.7 and texture has an organoleptic value of 8.4. Soaking tilapia (Oreochromis mossambicus) carried out in the mangosteen peel (Garcinia mangostana L.) for 24 hours at 0-5OC showed the highest concentration of mangosteen peels had a lower pH (acidic) with the best organoleptic value.Keywords: Organoleptic, Mangosteen Skin Solution, pHABSTRAKIkan mujair salah satu ikan air tawar yang mudah didapat dipasar-pasar karena digemari masyarakat. Banyak  jenis ikan air tawar yang dapat dipilih sebagai sumber protein, karbohidrat, mineral, air, vitamin dan lemak untuk dikonsumsi. Kulit manggis berwarna merah keunguan karena mengandung tannin, resin, dan crystallizable mangostine (C2OH22O5), yang mudah larut dalam alkohol atau eter, dan tidak larut dalam air. Tanin merupakan senyawa polifenol, tanin kulit manggis sebagai zat aditif berfungsi sebagai antiseptik, bahan baku pewarna pada cat dan tinta. Kulit manggis mampu mengikat protein sehingga dapat digunakan sebagai bahan pengawet alami, mengandung katekkin (flavan-3,4-diol) golongan proantosianidin. Tujuan dari peelitian ini yaitu untuk membandingkan efektifitas kulit manggis sebagai bahan pengawet alami dalam berbagai konsentrasi dalam menjaga mutu ikan mujair, Untuk menganalisa perubahan mutu meliputi : insang, mata, tekstur daging dan bau (lisis) ikan mujair (Oreochromis mossambicus) yang direndam kulit Manggis (Garcinia mangostana L.). Untuk menganalisa perubahan pH rendaman dari kulit Manggis pada konsentrasi 0%, 25%, 50%, 75% selama 24 jam dengan suhu 0-50C. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen survey, dimana penelitian eksperimen yaitu dengan ikan mujair yang direndam dalam kulit manggis dengan konsentrasi 75%, 50%, 25% dan 0% selama 24 jam dalam suhu 0-50C. Survey dengan uji organoleptic. Perendaman ikan mujair (Oreochromis mossambicus) dalam kulit manggis (Garcinia mangostana L.) selama 24 jam dalam suhu 0-5OC didapatkan kesimpulan bahwa pada konsentrasi kulit manggis paling tinggi memiliki pH paling rendah (asam) dan nilai organoleptiknya yang paling baik.Kata kunci: Organoleptic, Larutan Kulit Manggis, pH
Kombinasi Bawang Putih (Allium sativum), Serai (Cymbopogon citratus) dan Sirsak (Annona muricata) sebagai Pestisida Nabati pada Kutu Daun (Aphis gossypll) Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescens) Pranoto, Wahyu Eko; Laili, Saimul; Lesminingsih, Ratna Djuniwati
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 2 No. 2 (2020)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v2i2.3600

Abstract

Chili plants is one of the leading horticultural commodities, but in increasing the production and quality of chili plants against pest attacks are not accompanied by good management and right, so this causes a decrease in the level of chili production. The aim of this research is to find out the combination reaction of garlic (Allium sativum), lemongrass (cymbopogon citratus) and soursop (Annona muricata) as natural pasticides against aphids (Aphis gossypll) of cayenne pepper (Capsicum frutescens). This research was conducted experimentally by using a Randomized Block Design (RBD) with 5 treatments of various kinds of concentrations namely 0%, 10%, 20%, 30%, and 40%; repeated five times. In this study the mixture combination was higher at a concentration of 40% with a mortality of 43.6%.Keywords:: chili plants, pest Aphids, natural pesticide.  ABSTRAKTanaman cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura unggulan namun dalam peningkatan produksi dan kualitas tanaman cabai terhadap serangan hama tidak dibarengi dengan pengelolaan yang baik dan benar, sehingga hal ini menyebabkan menurunnya tingkat produksi tanaman cabai. Penelitian bertujuan megetahui reaksi kombinasi bawang putih (Allium sativum), serai (cymbopogon citratus) dan sirsak (Annona muricata) sebagai pastisida alami terhadap hama kutu daun (Aphis gossypll ) tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens).  Penelitian ini dilakukan secara eksperimen dengan menggunakan Rancangan AcakKelompok (RAK) dengan 5 perlakuan macam konsentrasi yaitu 0% , 10% , 20% , 30% , dan 40%; diulang lima kali.  Pada hasil penelitian ini kombinasi campuran lebih tinggi pada konsentrasi 40% dengan mortalitas 43,6 %.Kata kunci: cabai rawit, kutu daun, pestisida alami
Perbandingan Kadar Gula Nektar dan Kadar Madu yang Dihasilkan Oleh Lebah (Apis mellifera) di Pusat Perlebahan Kota Batu Hafizatul, Intani Sholihah; Santoso, Hari; Lesminingsih, Ratna Djuniwati
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 2 No. 2 (2020)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v2i2.3602

Abstract

Bees (Apis mellifera) from Europe and this bee has good adaptability to various types of climate and has the most production. This study aims to determine the difference between the concentrations of sugar nectar and the sugar  of honey that was produced by bees in the Honey bees center of Batu city. Nectar producing from flowers are found, each type of flowers were measured the sugar using a refractmeter Brix 58 – 90 % at different times, namely: morning and afternoon. There are 3 types of flowes found, namely eight flowers (Turnera ulmifolia), Paitan flowers (Tithonia diversifolia), and kenikir (Cosmos sulphureus). The parameters tested were the sugar content of honey that was produced by Apis mellifera. The data obtained was analyzed using the Anova (Analysis of Variance) test. The results of the analysis showed that the F test found no difference in the sugar concentrationt of nectar for each flower and honey sugar concentration at P value of 0.071. The average yield of nectar sugar from the three types of flowers (Kenikir, Paitan, and eight), respectively 38.0, 39.4, and 39.7, while the average yield of honey sugar levels respectively 37.9, 36.4, 37.6 Keywords: Sugar, Nectar, Honey, bee (Apis mellifera) ABSTRAK Lebah ( Apis mellifera ) berasal dari Eropa dan lebah ini memiliki daya adaptasi yang baik terhadap berbagai jenis iklim serta memiliki tingkat prooduksi madu yang paling banyak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan antara kadar gula nektar dengan kadar gula madu yang dihasilkan oleh lebah Apis mellifera di pusat perlebahan kota Batu. Bunga penghasil nektar yang ditemukan, setiap jenis bunga diukur kadar gulanya menggunakan refraktometer Brix 58 – 90 % pada waktu yang berbeda yaitu : pagi dan siang. Terdapat 3 jenis bunga yang ditemukan yaitu bunga pukul delapan (Turnera ulmifolia), bunga paitan (Tithonia diversifolia), dan bunga kenikir (Cosmos sulphureus). Adapun parameter yang diuji adalah kadar gula nektar dengan kadar gula madu yang dihasilkan Apis mellifera. Data yang diperoleh di analisis menggunakan uji F – Anova (Analysis of Variance). Hasil analisis menunjukkan bahwa pada uji F ditemukan tidak adanya  perbedaan kadar gula nektar masing – masing bunga dengan kadar gula madu dengan nilai P 0,071. Hasil rata – rata kadar gula nektar  dari ketiga jenis bunga (Kenikir, Paitan dan Pukul Delapan) masing – masing 38.0 , 39.4 , dan 39.7. Sedangkan hasil rata – rata kadar gula madu masing – masing 37.9 , 36.4 , dan 37.6 .  Kata kunci: Kandungan gula, Nektar, Madu, lebah (Apis mellifera)

Page 3 of 12 | Total Record : 114