cover
Contact Name
Ahmad Syauqi
Contact Email
sainsalami@unisma.ac.id
Phone
+6288210204258
Journal Mail Official
syauqi.fmipa@unisma.ac.id
Editorial Address
FMIPA Lanti 1 Gedung Usman bin Affan Kompleks Unisma Jl. MT. Haryono 193
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sains Alami (Known Nature)
ISSN : -     EISSN : 26571692     DOI : https://doi.org/10.33474/j.sa-v6i1.2023
Alami menunjuk kepada material yang ada dalam makhluk hidup (ciptaan). Semua senyawa yang ada dalam tubuh makhluk hidup dan sintesis oleh peristiwa biokimia merupakan produk organik. Proses perubahan menuju mineralisasi oleh mikroorganisme merupakan peristiwa dekomposisi dan dalam hal ini juga terjadi dalam suatu kehidupan. Selanjutnya, biogeokimia; studi proses-proses biologi pada tanah/lahan merupakan suatu perputaran zat dan hal ini sangat penting dalam kehidupan. (Natural refers to the material that exists in living things (creation). All compounds that exist in the body of living things and are synthesized by biochemical events are organic products. The process of change towards mineralization by microorganisms is a decomposition event and in this case also occurs in a life. Furthermore, biogeochemistry; study of biological processes on soil/land is a cycle of matter and this is very important in life).
Articles 114 Documents
Bioprospeksi Mimba (Azadirachta Indica Juss.) Sebagai Tumbuhan Obat Di Desa Bangsring Kecamatan Wongsorejo Kabupaten Banyuwangi Baidarus, Ahmad; Hayati, Ari; Athiroh AS, Nour
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v2i1.3681

Abstract

Neem has enormous potential in the medicinal treatment because in Neem it contains bioactives that are useful as drugs, including: Saponins, flavonoids, and tannins. The use of Neem plants can be maximally carried out through a bioprospective approach. This research was conducted in Bangsring Village, Wongsorejo District, Banyuwangi Regency in April-June. The study aims to determine the Neem bioprospection (Azadirachta indica) by the community as a medicinal plant. This study uses descriptive exploratory methods which include: literature studies, field observations, interviews using questionnaires, data analysis and observation documentation. Respondents taken were 100 respondents who were taken randomly. The results of this study show that the community's response to the Neem tree is quite high. The use of the Neem by the community as a medicinal plant, among others, is used as an appetite enhancer, medication for hives, and diabetes. The community manages Neem as a medicine by drinking stew from the leaves. The aspects of bioprospection observed in this study were: availability, use as a drug, conservation efforts, collaborative management as a drug, and its benefits as a medicinal plant for the community.Keywords:Bioprospection, Neem, Bangsring Village, Medicinal PlantABSTRAKMimba memiliki potensi sangat besar dibidang pengobatan karena di dalam Mimba mengandung bioaktif yang berguna sebagai obat antara lain: Saponin, flavonoid, dan tanin. Pemanfaatan tumbuhan Mimba dapat dilakukan secara maksimal dengan melalui pendekatan bioprospeksi. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Bangsring kecamatan Wongsorejo Kabupaten Banyuwangi pada bulan April-Juni. Penelitian bertujuan untuk mengetahui bioprospeksi Mimba (Azadirachta indica) oleh masyarakat sebagai tumbuhan obat. Penelitian ini menggunakan metode deskripstif eksploratif yang meliputi : studi pustaka, pengamatan di lapangan, wawancara menggunakan kuesioner, analisis data dan dokumentasi pengamatan. Responden yang diambil adalah 100 responden yang diambil secara acak. Hasil penelitian ini menunjjukkan bahwa respon masyarakat terhadap tumbuhan Mimba cukup tinggi. Pemanfaatan Mimba oleh masyarakat sebagai tumbuhan obat antara lain digunakan sebagai penambah nafsu makan, obat gatal-gatal, dan kencing manis. Masyarakat mengelolah Mimba sebagai obat dengan meminum rebusan ari daunnya. Aspek bioprospeksi yang diamati dalam penelitian ini adalah: ketersedian, pemanfaatan sebagai obat, upaya konservasi, kerjasama pengelolaan sebagai obat, dan keuntungannya sebagai tumbuhan obat bagi masyarakat.Kata kunci: Bioprospeksi, Mimba, Desa Bangsring, Tumbuhan Obat
Pengaruh Kombinasi Bahan Pengencer Air Kelapa, Kuning Telur dan Gliserol terhadap Normalitas Spermatozoa Ikan Mas (Cyprinus carpio L) Rohmah, Qudrati; Santoso, Hari; Zayadi, Hasan
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 2 No. 2 (2020)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v2i2.3739

Abstract

Cryopreservation semen is one of the techniques used to defend the life-cell storage technique and the structural intact network in the long term at very low temperatures, but the use of improper diluent solutions in Cooling may cause abnormalities in the cells. The purpose of this research is to analyze the influence of the immaturity of spermatozoa clotting combination of coconut water, egg yolks, and glycerol against a goldfish's spermatozoa abnormality (Cyprinus carpio L.) with two different storage times. The research method of using spermatozoa thinners with the treatment of 3 variant combinations namely: A1 (70% coconut water: 20% egg yolks: 10% glycerol); A2 (60% coconut water: 30% egg yolks: 10% glycerol); A3 (50% coconut water: 40% egg yolks: 10% glycerol) each stored for 24 hours and 48h, with 4 x repeats. The research material is a goldfish spermatozoa (Cyprinus carpio L.) taken from a mature gonads. A test of spermatozoa abnormalities is performed using five points of view for each sample, calculated by the abnormalities of spermatozoa with the formula of abnormalities, and analyses using the One Way ANOVA test. The results showed that the combination of the 24 hour shelf life of A1 was not significantly different to the fresh sperm abnormalities. In the introduction of the A2 combination, and A3 indicates significantly different with the sig (0.022); Long storage time affects the abnormality of spermatozoa with sig (0.001) This suggests that the longer the Spermatozoa storage in a combination of thinners occurs increased abnormalities of the goldfish spermatozoa (Cyprinus carpio L).Keywords: abnormalities, spermatozoa, glycerol, Cyprinus carpio LABSTRAKKriopreservasi semen merupakan teknik untuk mempertahakan penyimpanan sel hidup dan jaringan yang utuh secara struktural dalam jangka panjang di suhu sangat rendah, larutan pengencer yang tidak tepat dalam pendinginan dapat menyebabkan abnormalitas pada sel. Tujuan penelitian ini untuk menganalisa pengaruh pemberian pengencer pembekuan spermatozoa kombinasi air kelapa, kuning telur, dan gliserol terhadap abnormalitas spermatozoa ikan mas (Cyprinus carpio L.) pada dua waktu penyimpanan yang berbeda. Metode penelitian menggunakan pengencer spermatozoa dengan perlakuan 3 varian kombinasi yakni :A1 (70% air  kelapa : 20% kuning telur : 10% gliserol); A2(60% airkelapa : 30% kuning telur : 10% gliserol); A3 (50% air kelapa : 40% kuning telur : 10% gliserol) yang masing-masing disimpan selama 24 jam dan 48jam, dengan 4 x ulangan. Bahan penelitian adalah spermatozoa ikan mas(Cyprinus carpio L.) diambil dari gonad yang matang. Uji abnormalitas spermatozoa dilakukan menggunakan lima lapang pandang untuk masing-masing sampel, dihitung abnormalitas spermatozoa dengan rumus abnormalitas, dan dianalisis menggunakan uji One Way Anova. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa pemberian kombinasi A1 masa simpan 24jam tidak berbeda secara signifikan terhadap abnormalitas sperma segar. Pada pemberian kombinasi A2, dan A3 menunjukkan berbeda signifikan dengan sig (0,022); lama waktu penyimpanan berpengaruh terhadap abnormalitas spermatozoa dengan sig (0,001) hal ini menunjukkan bahwa pemberian kombinasi pengencer yang tepat dapat digunakan  dalammempertahakan nilai normalitas pada pengawetan spermatozoa ikan mas (Cyprinus carpio L).Kata kunci :Abnormalitas, spermatozoa, gliserol, Cyprinus carpio L
Uji Insektisida Serai (Cymbopogon nardus) dan Daun Zodia (Evodia Suaveolens) Terhadap Mortalitas Nyamuk (Aedes aegypti) Mahmudi, Mahmudi; Santoso, Hari; Laili, Saimul
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v2i1.3741

Abstract

Natural insecticides made from lemongrass plants and zodia which are environmentally friendly insecticides and contribute to mosquito mortality. The purpose of this study was to determine the effect of lemongrass insecticides  (Cymbopogon nardus) and leaves of zodiac (Evodia suaveolens) on mosquito mortality (Aedes aegypti), and to determine the treatment of insecticides that were more effective against the mortality of mosquitoes. The research method used the experimental completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 5 replications, namely treatment 1 control; treatment of 2 insecticides zodia; treatment of 3 lemongrass insecticides; and treatment of 4 combination lemongrass insecticides and zodia. The results showed that the control treatment did not effect, whereas in the treatment of zodia insecticides, lemongrass and combinations there were influences, presumably this happened because of difference in the chemical compounds of the 2 plants against mosquitoes. The results showed that mosquito mortality was controlled by 0%; mosquito mortality with zodia insecticide of 28%; mosquito mortality with lemongrass insecticide of 16.4%; and mosquito mortality with combination lemongrass insecticides and zodiac of 43.2%. The results of the One Way ANOVA test showed that there were significant differences and tended to experience increased mosquito mortality after being treated. Insecticides that are more effective in causing mosquito mortality are combination insecticides of lemongrass and zodia leaves.Keywords: Vegetable Insecticides, Lemongrass Plants, Zodia Plants, Mosquitoes.ABSTRAKInsektisida alami yang terbuat dari tanaman serai dan zodia merupakan insektisida alami yang ramah lingkungan dan berperan terhadap mortalitas nyamuk. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh insektisida serai (Cymbopogon nardus) dan daun zodia (Evodia suaveolens) terhadap mortalitas nyamuk (Aedes aegypti) dan untuk mengetahui perlakuan insektisida yang lebih efektif terhadap mortalitas nyamuk (Aedes aegypti). Metode penelitian menggunkan eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan yaitu perlakuan 1 kontrol; perlakuan 2 insektisida zodia; perlakuan 3 insektisida serai; dan perlakuan 4 insektisida kombinasi serai dan zodia. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan kontrol tidak ada pengaruh terhadap mortalitas nyamuk, sedangkan pada perlakuan insektisida zodia, serai serta kombinasi terdapat pengaruh, diduga hal tersebut terjadi karena adanya perbedaan kandungan senyawa kimia dari 2 tanaman tersebut terhadap nyamuk. Hasil penelitian menunjukkan mortalitas nyamuk perlakuan kontrol 0%; mortalitas nyamuk dengan insektisida zodia 28%; mortalitas nyamuk dengan insektisida serai 16,4%; dan mortalitas nyamuk dengan insektisida kombinasi serai dan zodia 43,2%. Hasil analisis uji One Way ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan dan cenderung mengalami peningkatan mortalitas nyamuk setelah diberi perlakuan. Insektisida yang lebih efektif dalam mengakibatkan mortalitas pada nyamuk yaitu insektisida kombinasi serai dan daun zodia.Kata kunci: Insektisida Nabati, Tanaman Serai, Tanaman Zodia, Nyamuk
Analisa Kadar Protein Total Ikan Kurisi (Nemipterus japonicus) Segar yang Diawetkan dengan Biji picung Tua (Pangium edule Reinw) Hidayati, Arini; Santoso, Hari; Syauqi, Ahmad
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 3 No. 1 (2020)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v3i1.3742

Abstract

Curry fish catch by fishermen is quite abundant, kurisi fish contains protein between 5-20%, and fat is about 5% and is easy to lime (rot). Kurisi fish are utilized by fishing communities in the form of processed surimi and dried fish (salted fish). One alternative is the inhibitor of the decay process with preservation using old picung seeds (Pangium edule Reinw). The purpose of this study was to analyze the levels of preserved curry fish protein using old picung seeds. The research method was carried out experimentally using a factorial design, namely Factor I of fresh curry fish covered in 5 mm thick picung paste placed in a plastic container at 16 ℃ refrigerator temperature, Factor II fresh curry fish without coated with picung paste placed in a plastic container at 16 ℃, with 6 replications. The results showed control protein content of 6.71%, at a temperature of 16 ℃ for 32 hours; treatment with picung seeds 11.88%, at a temperature of 16 ℃ for 32 hours; etc. Results Analysis of factorial ANOVA test at a time factor has a significance value of 0.01, which means that there is an effect caused by a long time factor of observation. In the treatment factor has a significance value of 0.01 then there is the effect caused by the picung seed factor. Then the interaction between time factor and treatment factor has a significance value of 0.05, so there is an effect caused by the interaction between the time factor and the factor of giving picung seeds. Old picung seeds as an influential natural preservative can increase the shelf life, and be able to maintain the protein levels of fish curisi during the preservation period of 48 hours. Compared with 32 hours of preservative seedless curry fish preservation which experienced total decay and decreased protein content.Keywords: Preservation, old picung seed paste, Protein.ABSTRAKIkan kurisi hasil tangkapan nelayan cukup melimpah, ikan kurisi mengandung protein antara 5 – 20 %, lemak lebih kurang 5 % dan mudah lesis (busuk).Ikan kurisi dimanfaatkan masyarakat nelayan dalam bentuk olahan surimi dan ikan kering (ikan asin). Salahsatualternativpenghambat proses pembusukandenganpengawetan menggunakan biji picung tua (Pangium edule Reinw). Tujuan penelitian ini untuk menganalisa kadar protein ikan kurisi hasil pengawetan menggunakan biji picung tua. Metoda penelitan dilakukan secara eksperimen menggunakan Rancangan Faktorial yaitu Faktor I ikan kurisi segar dilumuri pasta picung setebal 5 mm yang ditempatkan dalam wadah plastikpada suhu kulkas 16 oC, Faktor II ikan kurisi segar tanpa dilumuri pasta picung ditempatkan dalam wadah plastikpada suhu kulkas 16 oC,dengan 6 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan kadar protein kontrol 6,71%, pada suhu 16 oC selama 32 jam; perlakuan dengan biji picung 11,88%, pada suhu 16 oC selama 32 jam. Hasil Analisis uji ANOVA FAKTORIAL pada faktor waktu memiliki nilai signifikansi 0,01 yang berarti terdapat efek yang ditimbulkan oleh faktor lama waktu penyimapan. Pada faktor perlakuan memiliki nilai signifikansi 0,01 Maka terdapat efek yang ditimbulkan oleh faktor biji picung. Kemudian interaksi antara faktor waktu dan faktor perlakuan memiliki nilai signifikansi 0,05 Maka terdapat efek yang ditimbulkan oleh interaksi antara faktor waktu dan faktor pemberian biji picung. Biji picung tua sebagai pengawet alami berpengaruh mampu meningkatkan lama masa simpan, dan mampu mempertahankan kadar protein ikan kurisi selama masa pengawetan yakni 48 jam. Dibandingkan dengan pengawetan ikan kurisi tanpa biji picung selama 32 jam yang mengalami kebusukan total dan megalami penurunan kadar protein.Kata kunci: Pengawetan, Pasta biji picung tua, Protein
Uji Kandungan Vitamin A Tanaman Sawi (Brassica juncea L) Dan Wortel (Daucus corata L) Desa Bumiaji Dan Poncokusumo Fatonah, Siti; Syauqi, Ahmad; Laili, Saimul
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 2 No. 2 (2020)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v2i2.4439

Abstract

Vitamins are a complex compound that is needed by the body that serves to aid in the arrangement or metabolic processes in the body. Carrots are a multi-efficacy vegetable for public health. Carrot is a potential foodstuff to alleviate the disease problem of vitamin A because the content of carotene (Pro Vitamin A) in carrots can prevent the disease twilight (Blind chicken) and the problem of malnutrition. Mustard is a horticultural crop that can improve and facilitate digestion. Contains vitamin A, vitamin B and vitamin C. Research aim is to  test the content of vitamin A in mustard and carrots from Bumiaji and Poncokusumo . The method in this research used  a survey method to determine the content of vitamin A in mustard greens and carrots derived from Bumiaji and Poncokusumo villages. The number of repeats used in this study was 12 times. The result of Vitamin A in carrots from Bumiaji is an average of 0.3457% of the highest value of 722.3mg and the carrot from Poncokusumo with the highest value of 672mg. The mustard has percentage value from Bumiaji village is 0.069% i.e 69mg and from Poncokusumo with a percentage value of vitamin A amounted to 66 mg with an average of 51 mg. Both are not diffrent significantly.Kata kunci: vitamin A, carrot, mustard, Bumiaji, PoncokusumoABSTRAKVitamin adalah suatu senyawa kompleks yang sangat dibutuhkan oleh tubuh yang berfungsi untuk membantu pengaturan atau proses metabolisme di dalam tubuh. Wortel merupakan sayuran yang multi khasiat bagi kesehatan masyarakat.Wortel merupakan bahan biologi potensial untuk menjawab masalah penyakit kurang vitamin A yaitu kandungan karoten atau pro vitamin A, dapat mencegah penyakit rabun senja (buta ayam) dan masalah kurang nutrisi. Sawi sebagai tanaman hortikultura dapat memperbaiki dan memperlancar pencernaan.bagi yang mengkonsumsi dan mengandung vitamin A, B dan C. Telah di lakukan penelitian yang bertujuan untuk menguji kandungan vitamin A  pada Sawi dan wortel dari Bumiaji dan Poncokusumo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metodesurvey untuk mengetahui kandungan vitamin A pada sayuran Sawi dan wortel yang berasal dari desa Bumiaji dan Poncokucumo.Ulangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah dua belas kali. Hasil yang didapat Vitamin A pada worteldari Bumiaji adalah rata-rata 0,3457% yaitu nilai tertinggi 722,3mg tiap 100 g dan wortel dari Poncokusumo dengan nilai persentasi tertinggi 0,672%, tertinggi 672 mg. Sedangkan untuk nilai persentase Sawi dari desa Bumiaji adalah 0,069% yaitu 69 mg tertinggi dan dari Poncokusumo dengan nilai 66 mg dengan rata-rata 51 mg. Keduanya tidak berbeda secara signifikan.Kata kunci: vitamin A, wortel, Sawi, Bumiaji, Poncokusumo
Uji Toksisitas Ekstrak Metanolik Kombinasi Daun Benalu Teh Dan Daun Benalu Mangga Terhadap Profil Lipid Tikus Betina (Rattus norvegicus) pada Paparan Sub-Kronik 28 Hari Lestari, Tengku Anggun; Athiroh, Nour; Mubarakati, Nurul Jadid
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 3 No. 1 (2020)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v3i1.6621

Abstract

Tea Benalu (Scurrula atropurpurea [Bl.] Dans.) and Mango Benalu (Dendrophthoe pentandra L. miq.) containssecondary metabolites with potential antioxidant potential. Antioxidants can inhibit the oxidation process and reduce Total Cholesterol, Triglycerides, Low-Density Lipoprotein (LDL) and increase High-Density Lipoprotein (HDL). The safety of the preparations for the combination of parasites of tea and mango leaves was tested to obtain toxic effects after repeated treatment tests over some time. The purpose of this study was to determine the toxic effects of a combination of methanolic extracts of a combination of tea parasites and mangoes in female rats (Rattus norvegicus) subchronically for 28 days by looking at the results of the clinical biochemical examination on lipid profiles, namely total cholesterol levels, triglycerides, high-density lipoproteins (28%). HDL), and Low-Density Lipoprotein (LDL). The method of this study was experimental with a combination dose of methanol extract of tea parasite leaves and mango parasite leaves at a dose of 250 mg / KgBB, 500 mg / KgBB and 1000 mg / KgBB with 5x replications each treatment. The subjects used white rats (Rattus norvegicus) female Wistar strains aged 6-8 weeks with a minimum body weight of 100 grams. The treatment in this study was in the form of each dose given 5 times a week for 28 days (subchronic toxicity test) orally. Lipid profile levels were analyzed using the one-way ANOVA test. The results showed that the level of control blood lipid profile with a treatment dose of 250 mg / KgBW, 500 mg / KgBW, and 1000 mg / KgBW was not significantly different. The toxicity test of combined extracts of tea leaves and mango parasite leaves of female rat Rattus novergicus on subchronic exposure 28 days with those doses showed no difference tangible between treatments of controls. This means it is safe and does not cause toxic properties in the lipid profile of female wistar rats.Keywords: Lipid Profile, Scurrula atropurpurea, Dendophthoe pentandra, Sub-Chronic Toxicity, Rattus norvegicus ABSTRAKBenalu Teh (Scurrula atropurpurea [Bl.] Dans.) dan  Benalu Mangga (Dendrophthoe pentandra L. miq.) mengandung metabolit sekunder berpotensi sebagai antioksidan. Antioksidan dapat memperhambat proses oksidasi dan menurunkan Cholesterol Total, Trigliserida, Low Density Lipoprotein (LDL) dan menaikkan High Density Lipoprotein (HDL). Keamanan sediaan kombinasi daun benalu teh dan mangga diuji memperoleh tentang efek toksik setelah uji perlakuan berulang dalam jangka waktu tertentu. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efek toksik kombinasi ekstrak metanolik kombinasi daun benalu teh dan mangga pada tikus betina (Rattus norvegicus) secara subkronik selama 28 hari dengan melihat hasil pemeriksaan biokimia klinis pada profil lipid, yaitu kadar Cholesterol Total, Trigliserida, High Density Lipoprotein (HDL), dan Low Density Lipoprotein (LDL). Metode penelitian ini adalah eksperimental dengan perlakuan dosis kombinasi ekstrak metanol daun benalu teh dan daun benalu mangga dosis 250 mg/KgBB, 500 mg/KgBB dan 1000 mg/KgBB dengan ulangan 5x tiap perlakuan. Subjek menggunakan tikus putih (Rattus norvegicus) betina strain wistar yang berumur 6-8 minggu dengan berat badan minimal 100 gram. Perlakuan dalam penelitian ini berupa setiap dosis  diberikan 5 kali seminggu selama 28 hari (uji toksisitas subkronik) secara per-oral. Kadar profil lipid dianalisis menggunakan uji One-way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar profil lipid darah kontrol dengan perlakuan dosis 250 mg/KgBB, 500 mg/KgBB dan 1000 mg/KgBB tidak berbeda nyata. Uji”toksisitas”ekstrak kombinasi daun benalu teh dan daun benalu mangga  tikus betina Rattus novergicus pada paparan subkronik 28 hari dengan”dosis”tersebut menunjukkan hasil tidak”beda”nyata antara perlakuan terhadap”kontrol. ”Hal ini berarti aman dan tidak menimbulkan sifat toksik pada profil lipid tikus wistar betina.Kata Kunci : Profil Lipid, Scurrula atropurpurea, Dendophthoe pentandra, Subkronik, Rattus norvegicus
Pengukuran Rasio C/N pada Campuran Daun Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) dan Feses Sapi (Bos taurus L.) dalam Fermentasi Biogas Nurdin, Immega Adelia; Syauqi, Ahmad; Laili, Saimul
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 3 No. 1 (2020)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v3i1.6918

Abstract

The palm Leaf (Elaeis guineensis Jacq)and cow manure (Bos taurus L.) are waste that can be synergized as a basic ingredient in biogas production. Agricultural waste is generally rich in component C, but less N. Instead of livestock waste is generally rich in N but lack of C. This study aims to determine the content of C / N ratio feces of cow and palm leaves from each treatment has a value ≤ 30 as well as to determine the ratio between the feces of cow and palm leaves that produce the biggest difference of value between C/N ratio before and after fermentation in the process of biogas fermentation. The research method are used completely randomized design with 6 treatments based variation ratio from the number of cow feces and  palm  leaves were calculated  based on the ratio of  C/N range between 25-30, control (10: 0), PI (10: 9.03), PII (10: 12.19), PIII ( 10: 17.5), PIV (10: 23.8) and PV (10: 28.6). The main parameters measured were C/N ratio with a Spectrophotometer Technique. Supporting parameters are the measurement of pH and dry weight. The result of this study found the optimal C/N ratio at PIII is equal to 28.65. PIII has the largest difference between C/N ratio beginning and at the end of the fermentation process of biogas that is equal to 240.89.The result of T-Test show the significant difference between C/N ratio before fermentation and after fermentation. From these results it is known that a process of decomposition of organic matter carried by anaerobic bacteria and potential as a biogas formation.Keywords: biogas, anaerobic fermentation and C / N ratioABSTRAKDaun pelepah sawit dan feses sapi merupakan limbah yang dapat disinergiskan sebagai bahan dasar pembuatan biogas. Limbah pertanian  kaya akan komponen C, tetapi kekurangan N sebaliknya, limbah peternakan  kaya komponen N dan kekurangan C. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil pengukuran rasio C/N pada feses sapi dan daun kelapa sawit dari setiap perlakuan yang memiliki nilai ≤ 30 serta untuk mengetahui perbandingan antara feses sapi dan daun kelapa sawit yang menghasilkan selisih terbesar antara rasio C/N awal dan akhir setelah fermentasi anaerob. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan berdasarkan variasi perbandingan jumlah feses sapi dan  daun kelapa sawit  yaitu kontrol (10:0), PI (10: 9,03), PII (10: 12,19), PIII (10: 17,5), PIV (10:23,8) dan PV (10:28,6). Parameter utama dalam penelitian ini adalah  rasio C/N dengan teknik Spektrofotometer. Parameter pendukung adalah pengukuran pH dan berat kering. Hasil dari penelitian ini didapatkan rasio C/N optimal pada  PIII yaitu sebesar 28,65. Selain itu, PIII memiliki jumlah selisih  terbesar antara rasio C/N awal dan akhir proses fermentasi biogas yaitu sebesar 240,89. Perbedaan yang signifikan ditunjukkan dari hasil uji T-Test antara rasio C/N sebelum dan sesudah fermentasi. Dari hasil tersebut diketahui bahwa terjadi proses dekomposisi bahan organik yang dilakukan oleh bakteri anaerob dan adanya potensi pembentukan biogas. Kata kunci: Biogas, fermentasi anaerob dan rasio C/N
Pengaruh Air Kelapa (Cocos nucifera L) dengan Medium VW terhadap Pertumbuhan Protocorm Anggrek secara in vitro Santoso, Edi; Rahayu, Tintrim; Hayati, Ari
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 3 No. 1 (2020)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v3i1.7208

Abstract

Phalaenopsis sp is one of the types of orchids native to Indonesia with high commercial value, but these orchids are quite difficult to cultivate because the seeds are microscopic and do not have endosperm that need to be cultivated in vitro. In vitro orchid cultivation requires a suitable supporting medium. This study aims to determine the effect of coconut water (Cocos nucifera L) using VW medium on the growth of Phalaenopsis sp protocorm orchid in vitro. Research has been carried out at the DD Orchid Nursery Network Culture Laboratory Dadaprejo Junrejo, Batu, East Java, starting from November to January 2020. This study uses a Completely Randomized Design (CRD) to compare different concentrations of coconut water (Cocos nucifera L) as ie, 0%, 15%, 30%, and 60% treatment. Each concentration was repeated 5 times and each repetition consisted of 5 bottles of Phalaenopsis sp. Protocorm and cultured for 4 weeks. The results showed that the highest number of protochromes and shoots were produced at the same concentration, namely 150 ml / L coconut water treatment (15% concentration) with an average number of 64 protocorms and 14 shoots. Keywords: Coconut water (Cocos nucifera L), Phalaenopsis sp., In vitro, growthABSTRAKPhalaenopsis sp merupakan salah satu jenis anggrek asli Indonesia dengan nilai komersial yang tinggi, tetapi anggrek ini cukup sulit dibudidayakan karena bijinya bersifat mikroskopis dan tidak memiliki endosperm sehingga perlu dibudidayakan secara in vitro. Budidaya anggrek secara in vitro memerlukan medium pendukung yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh air kelapa (Cocos nucifera L)  menggunakan medium VW terhadap pertumbuhan protocorm anggrek Phalaenopsis sp secara in vitro. Telah dilakukan penelitian di Laboratorium Kultur Jaringan DD Orchid Nursery Dadaprejo Junrejo Kabupaten Batu Jawa Timur, dimulai dari bulan November sampai dengan bulan Januari 2020. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) untuk membandingkan beberapa konsentrasi air kelapa (Cocos nucifera L) yang berbeda  sebagai perlakuan yaitu, 0 %, 15%, 30%, dan 60 %. Masing-masing konsentrasi dilakukan 5 kali pengulangan dan setiap pengulangan terdiri dari 5 botol protocorm Phalaenopsis sp  dan dikultur selama 4 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah protokrom dan tunas terbanyak dihasilkan pada konsentrasi yang sama, yaitu perlakuan air kelapa 150 ml/L (konsentrasi 15%) dengan rata-rata jumlah  64 protocorm dan 14 tunas.Kata kunci : Air kelapa (Cocos nucifera L), Phalaenopsis sp., in vitro, pertumbuhan.
Subsitusi Fitohormon Dengan Air Kelapa (Cocos nucifera L.) pada Medium Vacin and Went Terhadap Pertumbuhan Eksplan Anggrek Dendrobium sp Secara in Vitro Gumiwang, Wulan Dari Neng; Rahayu, Tintrim; Hayati, Ari
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 3 No. 2 (2021)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v3i2.7222

Abstract

The purpose of this research is to determine the concentration of young coconut water that is appropriate for the growth of orchid plantlets (Dendrobium sp.) In vitro. This study used an experimental method, descriptive data analysis to compare several different concentrations of coconut water. The design of this study uses a completely randomized design (CRD). The treatments consist of 0% coconut water concentration (as a control), 15%, 30% and 60%. Each concentration was carried out 5 replications and each repetition consisted of 5 Dendrobium sp plantlets in each culture bottle conducted for 40 HST, for observing the root length carried out for 50 HST. The highest number of shoots and leaves were produced at the same concentration, namely 150 ml / L coconut water treatment (15% concentration) with an average of 2.8 shoots and the average number of leaves 10.8 leaves. The average number of roots and the longest root length was produced at a concentration of 600 ml / L coconut water (60% concentration) with an average of 6 roots, and the longest root length was 0.5 cm.Keywords: Young coconut water, (Cocos nucifera L.), Dendrobium sp., in vitro, growth.ABSTRAKTujuan penelitian ini ialah menentukan konsentrasi air kelapa muda yang tepat untuk pertumbuhan planlet anggrek (Dendrobium sp.) secara in vitro. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, analisis data secara deskriptif untuk membandingan beberapa konsentrasi air kelapa yang berbeda. Rancangan penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakukan terdiri dari konsentrasi air kelapa 0 % (sebagai kontrol), 15% , 30% dan 60%. Masing-masing konsentrasi dilakukan 5 kali ulangan dan setiap ulangan terdiri dari 5 planlet Dendrobium sp dalam setiap botol kultur yang dilakukan selama 40 HST, untuk pengamatan panjang akar dilakukan selama 50 HST. Jumlah tunas dan jumlah daun terbanyak dihasilkan pada konsentrasi yang sama, yaitu perlakuan air kelapa 150 ml/L (konsentrasi 15%)  dengan rata-rata jumlah tunas terbanyak 2,8 tunas dan rata-rata jumlah daun terbanyak 10,8 helai daun. Rata-rata jumlah akar terbanyak dan panjang akar terpanjang dihasilkan pada konsentrasi air kelapa 600 ml/L (Konsentrasi 60%) dengan rata-rata jumlah akar terbanyak sebanyak 6 akar, dan rata-rata panjang akar terpanjang 0,5 cm.Kata kunci : Air kelapa Muda (Cocos nucifera L.), Dendrobium sp., in vitro, pertumbuhan 
Pengaruh Pemberian Daun Pepaya (Carica papaya) Terhadap Endoparasit dan Hasil Panen Susu Sapi Perah (Bos taurus) sebagai Antihelmintik Alami di Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu Nurrohmah, Nia Novita; AS, Nour Athiroh; Mubarakati, Nurul Jadid
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 3 No. 2 (2021)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v3i2.7428

Abstract

Helmintiasis is a worm disease that often occurs in cows so that it can reduce milk harvesting. One prevention that can be done  with natural ingredients in the form of papaya leaf (Carica papaya). Papaya leaves contain alkaloids, enzyme papain, saponin, flavonoid, and tannin. The purpose of this experiment was to analyze the effect of papaya leaf (Carica papaya) on endoparasites and milk harvesting. This is an experimental research used a pre-test post-test control group design on five dairy cows with one treatment, specifically 70% basal green feed and 30% papaya leaves and one positive control (Albendazole). Method of identification use the qualitative method is, native method (direct slide) and the flotation method (Flotation method). The obtained data were analyzed with a Anova test, it showed that result is (p<0,05). That are able to suppress the growth of endoparasites in cow 1, 2, 3, 4, 5 by 60%, 58%, 50%, 45% , and 34% respectively in the native method and the floating method are 75%, 63%, 56%, 45%, and 34%. Increased harvesting milk for 3 weeks is 2-4 liters.  It was conluded that there was an influence between papaya leaves (Carica papaya) on endoparasites in dairy cows (Bos taurus) as a natural antihelmintic. Keywords: Helmintiasis, Papaya Leaf (Carica papaya), Endoparasite, Cows (Bos taurus), Milk Harvesting ResultABSTRAKHelmintiasis adalah penyakit cacingan yang sering terjadi pada sapi sehingga dapat menurunkan hasil panen susu. Salah satu pencegahan alami yang dapat dilakukan yakni dengan memberikan daun pepaya (Carica papaya) sebagai pengobatan alami. Daun pepaya merupakan bahan alami yang mengandung senyawa aktif berupa alkaloid, flavonoid, enzim papain, saponin, dan tanin yang memiliki efek antihelmintik pada sapi perah (Bos taurus). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa efek daun pepaya (Carica papaya) terhadap endoparasit dan hasil panen susu. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, menggunakan rancangan penelitian pre test post test control group design pada 5 ekor sapi perah dengan 1 perlakuan yaitu pemberian pakan hijau basal 70% dan daun pepaya 30% dan 1 kontrol positif (Albendazole). Metode pelaksanaan penelitian menggunakan uji feses metode kualitatif yaitu metode natif (Direct slide) dan metode apung (Flotation method). Data yang diperoleh dianalisis dengan uji statistika (Anova) dengan hasil (p<0,05). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sapi 1, 2, 3, 4, 5 mengalami penurunan endoparasit sebesar 60%, 58%, 50%, 45%, dan 34% secara berturut-turut pada metode natif dan metode apung sebesar 75%, 63%, 56%, 45%, dan 34%. Pemberian daun pepaya pada sapi perah selama 3 minggu dapat meningkatkan panen susu sebesar 2-4 per hari. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh antara daun pepaya  (Carica papaya) terhadap endoparasit pada sapi perah (Bos taurus) dan hasil panen susu.Kata kunci: Helmintiasis, Daun Pepaya (Carica papaya), Endoparasit, Sapi (Bos taurus),  Hasil panen susu

Page 4 of 12 | Total Record : 114