cover
Contact Name
Yosep B. Keban
Contact Email
lppmstpreinhalarantuka@gmail.com
Phone
+6285235312315
Journal Mail Official
lppmstpreinhalarantuka@gmail.com
Editorial Address
Jln. Ki Ageng Gribig, Gang Kaserin MU No.36 Malang 65138
Location
Kab. flores timur,
Nusa tenggara timur
INDONESIA
JAPB
Published by STP Reinha Larantuka
ISSN : 27468623     EISSN : 27758699     DOI : https://doi.org/10.56358/japb
Jurnal JAPB yang dikelolah oleh LPPM STP Reinha Larantuka diterbitkan dua kali dalam setahun dan mencakup ilmu pendidikan agama Katolik
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 6 No. 2 (2025)" : 6 Documents clear
PRINSIP-PRINSIP MORAL DASAR DAN PENDEKATAN DEONTOLOGIS DALAM TEOLOGI MORAL KATOLIK MODERN Maria Yosania Teluma; Hildegardis Djawa Tobi
JAPB: Jurnal Agama, Pendidikan dan Budaya Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/japb.v6i2.438

Abstract

Kehidupan manusia tidak terlepas dari tindakan dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan perilakunya. Hal ini dapat membuat manusia bertindak hal yang tidak sesuai dengan moral dasar dan pendekatan deontologis dalam teologi moral Katolik seperti sikap tidak jujur, tidak adanya keadilan, adanya kasus pembunuhan, aborsi, kasus bunuh diri dan lain sebagainya. Kajian ini berupaya untuk memberikan jawaban atas permasalahan yang bertentangan dengan teologi moral Katolik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan yang diambil dari berbagai macam sumber seperti dokumen Gereja Katolik, Kitab Suci, buku, dan jurnal. Kajian ini menemukan bahwa prinsip moral dasar dan pendekatan deontologis dalam teologi moral Katolik menekankan bahwa perilaku atau tingkah laku manusia harus sesuai dengan nilai-nilai moral dan sepuluh perintah Allah. Selain itu, perilaku dan tindakan manusia harus berakar pada hati nurani, akal budi sehingga setiap manusia hidup dalam kasih sesuai dengan teladan Yesus Kristus dan nilai-nilai kekatolikan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
TEOLOGI PUBLIK DAN BUDAYA HUMAT TIMOR: RELEVANSINYA BAGI MULTIKULTURALISME DI INDONESIA Rikhardus Poli; Raymundus I Made Sudhiarsa
JAPB: Jurnal Agama, Pendidikan dan Budaya Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/japb.v6i2.469

Abstract

This paper focuses on the relevance of the humat culture (brotherhood) in the Timorese tradition of East Nusa Tenggara (NTT) as a foundation for developing a contextual public theology within Indonesia’s multicultural society. In the Timorese tradition, humat is understood as brotherhood and solidarity that transcend biological ties, manifested through practices of mutual cooperation (gotong royong), customary reconciliation, and openness toward “the other.” Using a qualitative method, particularly a descriptive-analytical approach, this study reveals that humat embodies three essential dimensions aligned with the principles of public theology: solidarity, inter-identity brotherhood, and reconciliation. These dimensions contribute significantly to strengthening Indonesian multiculturalism amid the threats of intolerance and social fragmentation. The purpose of this paper is to demonstrate that humat culture can serve as a public ethic that encourages the Church, religious communities, civil society, and the state to build an inclusive, just, and peaceful common life. Thus, the findings affirm that humat is not merely a local cultural heritage of Timor, but an ethical-theological source of inspiration for developing a relevant public theology in Indonesia’s multicultural context.
FILOSOFI HUMA BETANG DAN SPIRITUALITAS KOMUNITAS KRISTIANI DI KALIMANTAN TENGAH: SEBUAH REFLEKSI TEOLOGIS KONTEKSTUAL Marianus Rago Kristeno; Intansakti Pius X; Emmeria Tarihoran
JAPB: Jurnal Agama, Pendidikan dan Budaya Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/japb.v6i2.487

Abstract

The philosophy of Huma Betang serves as a moral foundation in the traditional culture of the Dayak communities in Central Kalimantan. Through inculturation, the Church internalizes the values contained in the Huma Betang philosophy by relating them to the spiritual values of communal life. This study aims to explore the points of convergence between the philosophical values of Huma Betang and Christian communal spirituality, as well as to reflect on their relevance for the life of local Catholic communities. Using a qualitative approach through a contextual reflective theological method, this research examines literature related to Dayak culture, Church documents, and the principles of inculturation. The findings indicate that the values of togetherness, equality, mutual cooperation, tolerance, and social responsibility in Huma Betang correspond to the principles of koinonia, diakonia, and martyria in the Catholic Church. These values not only function as a bridge for inculturation but also enrich pastoral practice, catechesis, and the faith experience of the community. The implications of this study affirm that integrating local cultural values into the life of the Church can deepen the faith identity of the community, strengthen the spirit of synodality, and help build the Church as an inclusive and solidaristic common home. Thus, Huma Betang can serve as a theological and pastoral inspiration for developing Christian communal spirituality in Central Kalimantan.
PERSPEKTIF AGAMA TENTANG KESETARAAN GENDER DI INDONESIA: ANALISIS TEOLOGIS DAN SOSIAL TERHADAP PERAN PEREMPUAN Yanto Sandy Tjang; Herkulana Mekarryani Soeryamassoka; Victoria Julianti Siska Ubeq; Vensius Rico Novi Andry; Theresia Lina Iswaraningsih; Yosephin Metauli Situmorang
JAPB: Jurnal Agama, Pendidikan dan Budaya Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/japb.v6i2.488

Abstract

Gender equality has become a major concern in Indonesia’s religious life, influenced by patriarchal social structures and diverse interpretations of women’s roles. This study explores the theological foundations of gender equality in six official religions: Islam, Protestantism, Catholicism, Hinduism, Buddhism, and Confucianism, and examines the gap between doctrinal ideals and socio-religious practices. Using a qualitative approach through literature review and interreligious comparative analysis, data were drawn from sacred texts, institutional documents, and academic works, analyzed through theological hermeneutics and sociological perspectives. Findings show that all religions recognize theological principles of gender equality, yet implementation is limited by patriarchal norms and historical traditions. Egalitarian values are often constrained by gender-biased structures. Inclusive theological reinterpretation is essential to align religious teachings with modern contexts and strengthen women’s participation in public and religious spheres. Achieving gender equality requires critical interfaith reflection to promote social justice and uphold human dignity.
BERKAT DALAM KEADAAN IRREGULAR DAN PASANGAN SESAMA JENIS DALAM DOKUMEN FIDUCIA SUPPLICANS Yakobus Belo Tobi
JAPB: Jurnal Agama, Pendidikan dan Budaya Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/japb.v6i2.490

Abstract

Corak kehidupan manusia tentu saja dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang secara pesat. Hal ini dapat memudahkan setiap manusia dapat berkomunikasi dan dapat menyukai lawan jenis baik itu perempuan maupun laki-laki. Terkait maraknya fenomena hidup bersama pasangan sesama jenis, baik homoseksual maupun lesbian, ensiklik Fiducia Supplicans keluarkan oleh Paus Fransiskus. Kajian ini berupaya memberikan jawaban atas permasalahan pemberkatan dalam keadaan tidak teratur dan pasangan sesama jenis, sebuah tinjauan pastoral Paus Fransiskus. Metode yang digunakan adalah studi pustaka yang diambil dari berbagai sumber seperti dokumen Fiducia Supplicans, teks Kitab Suci tentang perkawinan, dan magisterium Gereja, jurnal, buku, dan sumber daring. Kajian ini menemukan bahwa Paus Fransiskus memberikan kesempatan dan kontribusi kepada pasangan sesama jenis dalam memohon pemberkatan, namun pemberkatan tersebut tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Terdapat keterbukaan dan ruang dari Paus Fransiskus untuk memberikan keadilan kepada semua orang, termasuk pasangan sesama jenis. Gereja Katolik tetap berpegang teguh pada ajaran tentang perkawinan, yaitu ikatan antara seorang pria dan seorang wanita.
PANGGILAN UNTUK PERTOBATAN EKOLOGIS: MAKNA BANJIR BANDANG SUMATRA UTARA MENURUT ENSIKLIK LAUDATO SI’ Alexander Asin
JAPB: Jurnal Agama, Pendidikan dan Budaya Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/japb.v6i2.498

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh peristiwa banjir bandang di Sumatra Utara yang menimbulkan dampak ekologis, sosial, dan kemanusiaan yang serius serta mengundang refleksi teologis dan moral yang mendalam. Peristiwa ini menunjukkan keterkaitan antara krisis lingkungan dan krisis tanggung jawab manusia terhadap alam. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis makna banjir bandang sebagai panggilan pertobatan ekologis dalam terang Ensiklik Laudato si’ Paus Fransiskus. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teologis-interpretatif yang dipadukan dengan analisis sosial-ekologis untuk memahami relasi antara kerusakan lingkungan dan krisis spiritual manusia. Fokus penelitian diarahkan pada wilayah-wilayah terdampak banjir bandang di Provinsi Sumatra Utara. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka terhadap Ensiklik Laudato si’, dokumen Gereja, serta data sekunder dari media sosial, yang diperkaya dengan refleksi kontekstual atas realitas sosial-budaya masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banjir bandang tidak semata-mata dipahami sebagai fenomena alam, melainkan sebagai konsekuensi dosa ekologis manusia yang terwujud dalam eksploitasi alam, kerusakan hutan, pengelolaan lahan yang tidak bertanggung jawab, serta pengabaian prinsip tata ruang berkelanjutan. Dalam perspektif Laudato si’, peristiwa ini menjadi panggilan pertobatan ekologis yang menuntut perubahan cara pandang, sikap, dan perilaku manusia terhadap alam serta kehidupan bersama sebagai tanggung jawab iman bersama dalam merawat bumi sebagai rumah bersama.  

Page 1 of 1 | Total Record : 6