cover
Contact Name
Karimah Dwika Gustandra
Contact Email
jurnal.keperawatangsh@gmail.com
Phone
+62273-322610
Journal Mail Official
jurnal.keperawatangsh@gmail.com
Editorial Address
Kampus Akper Giri Satria Husada Jalan Menur RT 04 RW IV Joho Lor Giriwono Wonogiri KP 57613
Location
Kab. wonogiri,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Keperawatan GSH
ISSN : 20882734     EISSN : 2964156X     DOI : https://doi.org/10.56840/jkgsh.v12i2.92
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Keperawatan GSH adalah jurnal keperawatan untuk perawat, akademisi, dan praktisi. Jurnal Keperawatan GSH ini menerima artikel penelitian asli dan relevan di bidang keperawatan, serta studi literatur dan laporan kasus khususnya keperawatan atau kesehatan. Fokus dan scope jurnal ini adalah Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Anak, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Jiwa, Keperawatan Gawat Darurat, Keperawatan Keluarga, Keperawatan Komunitas, Keperawatan Dasar, Keperawatan Komplementer, Keperawatan Paliatif, Kesehatan, Reproduksi, Kebidanan, HIV/AIDS, Tuberculosis dan masalah kesehatan lainnya. Jurnal ini diterbitkan secara berkala pada bulan Januari dan Juli setiap tahun.
Articles 143 Documents
PENGARUH PEMBERIAN TERAPI MUSIK TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PADA LANSIA PENDERITA HIPERTENSI DI DESA SAMBONG: THE EFFECT OF MUSIC THERAPY ON ANXIETY LEVELS AMONG OLDER ADULTS WITH HYPERTENSION IN SAMBONG VILLAGE Naiyla Chairunnisa; Susana Nurtanti; Retno Ambarwati
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 15 No. 2 (2026): JULI 2026
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v15i2.188

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang banyak dialami oleh lansia dan menjadi penyebab utama morbiditas serta mortalitas di dunia. Seiring bertambahnya usia, perubahan fisiologis berupa penurunan elastisitas pembuluh darah meningkatkan risiko terjadinya hipertensi. Selain berdampak pada kondisi fisik, hipertensi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis, salah satunya kecemasan. Kecemasan yang tidak segera ditangani dapat mengaktifkan sistem saraf simpatis sehingga meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah serta memperburuk kondisi kesehatan lansia. Oleh karena itu, diperlukan intervensi nonfarmakologis yang aman, mudah diterapkan, dan memiliki efek relaksasi, salah satunya adalah terapi musik. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian terapi musik terhadap tingkat kecemasan pada lansia penderita hipertensi di Desa Sambong. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain pre– post test. Sampel penelitian berjumlah lima responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Tingkat kecemasan diukur menggunakan kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) sebelum dan sesudah pemberian terapi musik. Data dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan skor kecemasan sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh responden mengalami penurunan skor kecemasan setelah diberikan terapi musik. Sebelum intervensi, tiga responden mengalami kecemasan ringan dan dua responden mengalami kecemasan sedang. Setelah pemberian terapi musik, terjadi penurunan skor HARS pada seluruh responden yang menunjukkan adanya perbaikan tingkat kecemasan. Kesimpulan: Terapi musik berpengaruh terhadap penurunan tingkat kecemasan pada lansia penderita hipertensi sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu intervensi keperawatan nonfarmakologis untuk membantu meningkatkan kenyamanan psikologis dan kualitas hidup lansia. Kata kunci: hipertensi, lansia, terapi musik, kecemasan, HARS ABSTRACT Background: Hypertension is one of the most common non-communicable diseases among older adults and remains a leading cause of morbidity and mortality worldwide. As individuals age, physiological changes, particularly reduced vascular elasticity, increase the risk of developing hypertension. In addition to its physical effects, hypertension may also affect psychological well-being, particularly by increasing anxiety levels. Untreated anxiety can stimulate the sympathetic nervous system, leading to increased heart rate and blood ,pressure, which may worsen the health condition of older adults. Therefore, safe, practical, and effective non-pharmacological interventions are needed to help reduce anxiety. One such intervention is music therapy, which has been shown to promote relaxation and improve psychological well-being. Objective: To determine the effect of music therapy on anxiety levels among older adults with hypertension in Sambong Village. Methods: This study employed a qualitative approach using a pre–post test design. Five participants were selected through purposive sampling based on predetermined inclusion and exclusion criteria. Anxiety levels were assessed before and after the intervention using the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). The data were analyzed descriptively by comparing anxiety scores before and after the administration of music therapy. Results: The findings showed that all participants experienced a reduction in anxiety scores after receiving music therapy. Prior to the intervention, three participants had mild anxiety and two had moderate anxiety. Following the intervention, all participants demonstrated lower HARS scores, indicating an improvement in their anxiety levels. Conclusion: Music therapy has a positive effect on reducing anxiety levels among older adults with hypertension. It can be considered an effective non-pharmacological nursing intervention to improve psychological comfort and enhance the quality of life of older adults with hypertension. Keywords: hypertension, elderly, music therapy, anxiety, HARS Latar Belakang: Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang banyak dialami oleh lansia dan menjadi penyebab utama morbiditas serta mortalitas di dunia. Seiring bertambahnya usia, perubahan fisiologis berupa penurunan elastisitas pembuluh darah meningkatkan risiko terjadinya hipertensi. Selain berdampak pada kondisi fisik, hipertensi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis, salah satunya kecemasan. Kecemasan yang tidak segera ditangani dapat mengaktifkan sistem saraf simpatis sehingga meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah serta memperburuk kondisi kesehatan lansia. Oleh karena itu, diperlukan intervensi nonfarmakologis yang aman, mudah diterapkan, dan memiliki efek relaksasi, salah satunya adalah terapi musik. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian terapi musik terhadap tingkat kecemasan pada lansia penderita hipertensi di Desa Sambong. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain pre– post test. Sampel penelitian berjumlah lima responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Tingkat kecemasan diukur menggunakan kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) sebelum dan sesudah pemberian terapi musik. Data dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan skor kecemasan sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh responden mengalami penurunan skor kecemasan setelah diberikan terapi musik. Sebelum intervensi, tiga responden mengalami kecemasan ringan dan dua responden mengalami kecemasan sedang. Setelah pemberian terapi musik, terjadi penurunan skor HARS pada seluruh responden yang menunjukkan adanya perbaikan tingkat kecemasan. Kesimpulan: Terapi musik berpengaruh terhadap penurunan tingkat kecemasan pada lansia penderita hipertensi sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu intervensi keperawatan nonfarmakologis untuk membantu meningkatkan kenyamanan psikologis dan kualitas hidup lansia. ABSTRACT Background: Hypertension is one of the most common non-communicable diseases among older adults and remains a leading cause of morbidity and mortality worldwide. As individuals age, physiological changes, particularly reduced vascular elasticity, increase the risk of developing hypertension. In addition to its physical effects, hypertension may also affect psychological well-being, particularly by increasing anxiety levels. Untreated anxiety can stimulate the sympathetic nervous system, leading to increased heart rate and blood ,pressure, which may worsen the health condition of older adults. Therefore, safe, practical, and effective non-pharmacological interventions are needed to help reduce anxiety. One such intervention is music therapy, which has been shown to promote relaxation and improve psychological well-being. Objective: To determine the effect of music therapy on anxiety levels among older adults with hypertension in Sambong Village. Methods: This study employed a qualitative approach using a pre–post test design. Five participants were selected through purposive sampling based on predetermined inclusion and exclusion criteria. Anxiety levels were assessed before and after the intervention using the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). The data were analyzed descriptively by comparing anxiety scores before and after the administration of music therapy. Results: The findings showed that all participants experienced a reduction in anxiety scores after receiving music therapy. Prior to the intervention, three participants had mild anxiety and two had moderate anxiety. Following the intervention, all participants demonstrated lower HARS scores, indicating an improvement in their anxiety levels. Conclusion: Music therapy has a positive effect on reducing anxiety levels among older adults with hypertension. It can be considered an effective non-pharmacological nursing intervention to improve psychological comfort and enhance the quality of life of older adults with hypertension.
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG PENCEGAHAN KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN ANAK USIA SEKOLAH DASAR: THE INFLUENCE OF HEALTH EDUCATION ON PREVENTING SEXUAL VIOLENCE ON THE LEVEL OF KNOWLEDG OF ELEMENTARY SCHOOL CHILDREN AT SDN 1 EROMOKO Dinira Safina; Retno Ambarwati; Y Wahyunti Kristiningtyas
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 15 No. 2 (2026): JULI 2026
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v15i2.189

Abstract

Latar Belakang: Kekerasan seksual merupakan tindakan tidak terpuji, bisa melalui dengan perkataan maupun perbuatan yang dilakukan seseorang terhadap orang lain sehingga terlibat perilaku seksual yang tidak diinginkan orang lain. Faktor individu yaitu segi psikologi pelaku dan kedua, faktor sosial yaitu mengacu pada segi sosial kebudayaan yang diikuti oleh masyarakat. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan asuhan keperawatan dengan pemberian pendidikan kesehatan dalam meningkatkan pengetahuan tentang pencegahan kekerasan seksual pada anak usia sekolah dasar. Metode Penelitian: Desain penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan studi kasus. Pendekatan studi kasus ini dipilih bertujuan untuk melakukan pengukuran atau pengamatan secara bersamaan dengan pengetahuan dan sikap siswa dan siswi SDN 1 Eromoko tentang pengetahuan pencegahan kekerasan seksual. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan sebelum diberikan pendidikan kesehatan anak memperoleh kriteria kurang dengan dengan nilai terendah 30% dan tertinggi 90%. Setelah dilakukan pendidikan kesehatan maka tingkat pengetahuan meningkat dengan kategori kurang menjadi kategori baik dengan nilai terendah 80% dan nilai tertinggi 100%. Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa pendidikan kesehatan sangat berpengaruh untuk tingkat pengetahuan responden anak usia sekolah dasar. ABSTRACT Background: : Sexual violence is an inappropriate act, it can be through words or actions that are done by someone to another person so that they are involved in sexual behavior that is not wanted by others. Individual factors are the psychological aspects of the perpetrator and second, social factors refer to the socio-cultural aspects followed by the community. Objective: The purpose of this study is to describe nursing care by providing health education in increasing knowledge about preventing sexual violence in elementary school children. Methods: The design of this study uses quantitative research with a case study approach. This case study approach was chosen with the aim of simultaneously measuring or observing the knowledge and attitudes of students at SDN 1 Eromoko about knowledge of preventing sexual violence. Results: Based on the results of the study conducted before being given health education, children obtained criteria that were lacking with the lowest value of 30% and the highest 90%. After health education was carried out, the level of knowledge increased from the lacking category to the good category with the lowest value of 80% and the highest value of 100%. Conclusion: : It can be concluded that providing health education has a great influence on the level of knowledge of elementary school children.
PENGARUH BUERGER ALLEN EXERCISE TERHADAP NILAI ANKLE BRACHIAL INDEX PADA LANSIA PENDERITA DIABETES MELITUS DI PUSKESMAS KARANGGEDE BOYOLALI: THE EFFECT OF BUERGER-ALLEN EXERCISES ON ANKLE-BRACHIAL INDEX VALUES IN ELDERLY PATIENTS WITH DIABETES MELLITUS AT THE KARANGGEDE COMMUNITY HEALTH CENTER, BOYOLALI Yenny Dwi Herawati; Dewi Kartika Sari
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 15 No. 2 (2026): JULI 2026
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v15i2.190

Abstract

Latar belakang: Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan hiperglikemia dan gangguan metabolisme yang dapat menimbulkan komplikasi vaskular, termasuk penurunan perfusi perifer. Salah satu metode pemeriksaan yang digunakan untuk mendeteksi gangguan vaskular adalah Ankle Brachial Index (ABI). Nilai ABI yang rendah menunjukkan adanya risiko iskemia dan ulkus kaki diabetik. Intervensi non-farmakologis seperti Buerger Allen Exercise (BAE) diketahui mampu memperbaiki aliran darah perifer melalui mekanisme muscle pump dan perubahan gravitasi. Tujuan: Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh BAE terhadap nilai ABI pada lansia penderita DM di Puskesmas Karanggede Boyolali. Desain penelitian menggunakan metode kuasi eksperimen dengan pendekatan pre–post test. Sampel berjumlah 54 responden lansia penderita DM tipe II yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Nilai ABI diukur sebelum dan sesudah intervensi BAE, kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian: menunjukkan rata-rata nilai ABI sebelum intervensi 0,976 (SD 0,3560) dan sesudah intervensi meningkat menjadi 1,046 (SD 0,1891). Uji Wilcoxon menghasilkan nilai Z= -2,041 dengan p= 0,041 (<0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara nilai ABI sebelum dan sesudah intervensi. Kesimpulan: hasil analisis menunjukkan nilai p<0,05 maka Ha diterima dan Ho ditolak. Dengan demikian, BAE berpengaruh signifikan terhadap peningkatan nilai ABI pada lansia penderita Diabetes Melitus tipe II. ABSTRACT Background: Diabetes Mellitus (DM) is a chronic disease characterized by hyperglycemia and metabolic disturbances that can lead to vascular complications, including reduced peripheral perfusion. The Ankle-Brachial Index (ABI) is a diagnostic method used to detect vascular impairment. A low ABI value indicates a risk of ischemia and diabetic foot ulcers. Non-pharmacological interventions, such as Buerger-Allen Exercise (BAE), are known to improve peripheral blood flow through muscle pump mechanisms and gravitational changes. Objective: This study aimed to determine the effect of BAE on ABI values ​​in elderly patients with DM at the Karanggede Community Health Center (Puskesmas) in Boyolali. Research Design: A quasi-experimental design with a pre-test and post-test approach was employed. The sample consisted of 54 elderly respondents with Type II DM, selected using purposive sampling. ABI values ​​were measured before and after the BAE intervention and analyzed using the Wilcoxon Signed-Rank Test. Results: The mean ABI value was 0.976 (SD 0.3560) prior to the intervention and increased to 1.046 (SD 0.1891) following the intervention. The Wilcoxon test yielded a Z-value of -2.041 with a p-value of 0.041 (<0.05), indicating a significant difference between pre- and post-intervention ABI values. Conclusion: The analysis showed a p-value <0.05; thus, the alternative hypothesis (Ha) was accepted, and the null hypothesis (Ho) was rejected. Consequently, BAE has a significant effect on increasing ABI values ​​in elderly patients with Type II Diabetes Mellitus.