cover
Contact Name
Achmad Supandi
Contact Email
jurnalwidyaclimago@gmail.com
Phone
+6281808476618
Journal Mail Official
jurnalwidyaclimago@gmail.com
Editorial Address
Pusdiklat BMKG Gd A. Lt 9. Jl. Angkasa I, No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Widya Climago
ISSN : 27147924     EISSN : 27970078     DOI : https://doi.org/10.31172/jwc
Jurnal WIdya Climago menerima naskah Karya Tulis Ilmiah (KTI) dari para widyaiswara, Peneliti, Dosen, Pejabat Fungsional tertentu lainnya serta Penulis Umum. Naskah KTI yang dapat diterbitkan pada Jurnal Widya Climago adalah naskah KTI berjenis kajian (research) Bidang Kewidyaiswaraan : Pelatihan Kurikulum Pembelajaran Evaluasi Bidang Pengembangan Kompetensi SDM: Sumber Daya Manusia Manajemen Bidang Teknis Pemberdayaan Masyarakat: Meteorologi Klimatologi & Kualitas Udara Geofisika
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 73 Documents
UJI KORELASI PARAMETER INDEKS RASON TERHADAP PEMBENTUKAN PETIR DI KEPULAUAN TANIMBAR Prawiro Adiredjo, Indra
Jurnal Widya Climago Vol 6 No 2 (2024): Developing Human Resource Competencies in Climate Analysis and Learning Innovatio
Publisher : Pusdiklat BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Several meteorological practitioners have utilized machine learning techniques to forecast adverse weather conditions, particularly lightning occurrences. Upper air data, obtained through radiosonde measurements, is frequently employed to train machine learning models due to its ability to capture atmospheric instability. Despite its common usage, radiosonde-based lightning predictions typically have a validity window of 6-12 hours. However, cumulonimbus cloud formation in tropical regions, the primary source of lightning, typically lasts between 30 minutes to 1-2 hours per phase, casting doubt on the efficacy of radiosonde data for longer-term predictions. Furthermore, variations in local atmospheric patterns result in non-uniform utilization of radiosonde index parameters across different regions. Understanding the relationship between these parameters and lightning events is crucial for atmospheric thermodynamic analysis and region-specific prediction model development. This study examines the correlation between radiosonde index parameters in the Tanimbar Islands and lightning events from cumulonimbus clouds, utilizing indices such as KI, LI, SI, TT, CAPE, and CIN. Results suggest that index sustainability does not consistently correlate with lightning formation, with differing validity periods observed for 3 and 6 hours ahead. The reason index parameters in the form of SI, KI, and TT are only valid for predicting 3 hours ahead during the months of March-April-May, while only KI maintains validity for both 3 and 6 hours ahead at certain times.
Pengaruh El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Madden-Julian Oscillation (MJO) Terhadap FREKUENsi Siklon Tropis di Indonesia Pada Periode Angin Monsun Baratan samoria, yakubos
Jurnal Widya Climago Vol 6 No 2 (2024): Developing Human Resource Competencies in Climate Analysis and Learning Innovatio
Publisher : Pusdiklat BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tropical cyclones have occurred frequently in the Indonesian region and its vicinity, where these tropical cyclones have significant impacts on the atmospheric conditions in the traversed areas. Tropical cyclones have occurred prominently in the Indonesian region, especially during the western monsoon period. The El Niño-Southern Oscillation (ENSO) and Madden-Julian Oscillation (MJO) are factors that modulate tropical cyclones. Not all tropical cyclones occurring during the western monsoon period are accompanied by the same ENSO and MJO periods. Therefore, this study aims to determine the extent to which the presence of ENSO and MJO influences the existence of tropical cyclones during the western monsoon period in the Indonesian region. Based on tropical cyclone data from 1989 to 2018, there have been a total of 363 tropical cyclone occurrences within the research boundaries of 900 E to 1600 E and 200 N to 200 S. Of these, 169 events occurred in the southern hemisphere (SH) and 194 events in the northern hemisphere (NH). The grouping of tropical cyclones was conducted as a method to understand the extent of tropical cyclone existence influenced by the presence of ENSO and MJO during their occurrence. The results of this study indicate that tropical cyclones in the NH region of Indonesia are more likely to occur during ENSO periods (El Niño and La Niña) when MJO is concurrently active, compared to periods when ENSO occurs without active MJO. In contrast, in the SH region of Indonesia, tropical cyclones are more dominant when La Niña phenomena coincide with each MJO period compared to periods when El Niño coincides with each MJO period.
PENGARUH INDIAN OCEAN DIPOLE (IOD) TERHADAP SEBARAN POLA ANGIN DI BANDARA DEPATI AMIR PANGKALPINANG Bais Ridwan, Muhamad
Jurnal Widya Climago Vol 6 No 2 (2024): Developing Human Resource Competencies in Climate Analysis and Learning Innovatio
Publisher : Pusdiklat BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The results of the NTSC investigation say that some of the factors that influence aviation accidents are human, technical, environmental, and facility factors. Surface wind conditions on the runway are one of the critical meteorological aspects for flight safety. This study aims to understand the surface wind distribution pattern during the Indian Ocean Dipole (IOD) phase and reduce the potential for aircraft accidents at Depati Amir Airport - Pangkalpinang. IOD itself is a weather phenomenon in the Indian Ocean that affects weather conditions in the surrounding area. The results of research conducted using the windrose method with surface wind data from 2011 to 2020 show that each phase of the IOD has a different impact on the distribution of wind patterns at Depati Amir Airport. Positive IOD tends to cause an increase in the percentage of wind speed up to 13.7% of the mean even though the dominant wind direction tends to be the same as the mean. Neutral IOD tends to cause a decrease in the percentage of wind speed from the mean even though the dominant wind direction tends to have a similar pattern to the mean. Meanwhile, Negative IOD causes a shift in the dominant wind direction at Depati Amir Airport by 45o - 90o counterclockwise from the mean. In addition, the Negative IOD also caused a decrease in the percentage of wind speed in all wind speed categories up to 32.7%.
Analisis Efektivitas Program Pelatihan melalui melalui Indonesian Disaster Resilience Initiatives Project (IDRIP) Madona Madona
Jurnal Widya Climago Vol 7 No 2 (2025): Dinamika Generasi, Teknologi Pembelajaran, dan Pengelolaan Lingkungan di Era Tran
Publisher : PPSDM MKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aktivitas gempabumi yang tinggi di Indonesia menuntut tersedianya Indonesia Earthquake Early Warning System (InaEEWS) yang andal dan didukung sumber daya manusia kompeten. Melalui Indonesian Disaster Resilience Initiatives Project (IDRIP), BMKG menyelenggarakan serangkaian pelatihan teknis periode 2021–2025 untuk memperkuat kapasitas operasional InaEEWS. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas program pelatihan tersebut dengan menggunakan Model Evaluasi Kirkpatrick yang difokuskan pada Level 3 (perubahan perilaku) dan Level 4 (dampak pada kinerja individu dan organisasi). Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan dukungan data kualitatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring kepada alumni pelatihan dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif, regresi linier berganda, serta analisis tematik atas temuan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan perilaku alumni berada pada kategori tinggi dengan rata-rata 84,37%. Dampak pelatihan terhadap kinerja individu (A5) dan kinerja unit kerja/organisasi (A6) juga tinggi, masing-masing 84,93% dan 84,28%. Model regresi menunjukkan bahwa 65,0% variasi kinerja individu dijelaskan oleh faktor perubahan perilaku (A1–A4), dengan A1, A3, dan A4 berpengaruh positif dan signifikan; sedangkan 49,0% variasi kinerja unit kerja dijelaskan oleh A1–A4, dengan A2 dan A3 sebagai prediktor signifikan utama. Kapasitas internal alumni (A3) muncul sebagai kontributor paling dominan pada kedua model. Temuan ini menyimpulkan bahwa program pelatihan melalui IDRIP efektif dalam meningkatkan perubahan perilaku kerja dan kinerja, sekaligus memberikan dasar bagi perancangan strategi tindak lanjut untuk memperkuat keberlanjutan dampak pelatihan.
Komparasi Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Berdasarkan Propinsi di Jawa dan Bali Tahun 2019-2023 Juniarto Widodo
Jurnal Widya Climago Vol 7 No 2 (2025): Dinamika Generasi, Teknologi Pembelajaran, dan Pengelolaan Lingkungan di Era Tran
Publisher : PPSDM MKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian kualitas lingkungan hidup di Indonesia umumnya dilakukan pada skala nasional atau lintas provinsi secara umum, tanpa fokus khusus pada wilayah bertekanan ekologis tinggi seperti Jawa dan Bali. Kondisi ini menimbulkan tekanan lingkungan yang signifikan terhadap kualitas udara, kualitas air, dan stabilitas tutupan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) per provinsi di Pulau Jawa dan Bali, serta hubungannya dengan kepadatan wilayah dan konsumsi energi listrik per provinsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tren IKLH secara umum di seluruh provinsi Jawa dan Bali mengalami pola peningkatan. Beberapa provinsi, yaitu Jawa Tengah, DIY, dan Bali, mengalami sedikit penurunan pada masa pandemi Covid-19 tahun 2021 yang kemudian diikuti oleh peningkatan kembali. IKLH Provinsi Bali relatif berada di atas rata-rata IKLH provinsi di Jawa, sedangkan IKLH terendah ditemukan di Provinsi Banten. Berdasarkan kepadatan wilayah, terbentuk dua kelompok: kelompok kepadatan tinggi (Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali) dengan rata-rata IKLH 67,56, dan kelompok kepadatan rendah (Jawa Barat, DIY, dan Banten) dengan rata-rata IKLH 60,97. Berdasarkan konsumsi energi listrik, kelompok dengan konsumsi tinggi (Jawa Barat, Jawa Timur, dan Banten) memiliki rata-rata IKLH lebih rendah (62,59), sedangkan kelompok dengan konsumsi rendah (Jawa Tengah, DIY, dan Bali) memiliki rata-rata IKLH lebih tinggi (66,14). Secara statistik, kepadatan wilayah dan konsumsi energi listrik berpengaruh negatif dan signifikan terhadap IKLH, yang mengindikasikan bahwa peningkatan kepadatan wilayah dan konsumsi energi listrik dapat menurunkan kualitas lingkungan hidup
Preferensi Generasi Z terhadap Umpan Balik, Motivasi Kerja, dan Gaya Kerja di BMKG Asep Jamaludin Malik; Lamtupa Nainggolan; Sarimang Aisah Jamco; Intan Prayuda Wulandari; Annisa Qurrota A'yun
Jurnal Widya Climago Vol 7 No 2 (2025): Dinamika Generasi, Teknologi Pembelajaran, dan Pengelolaan Lingkungan di Era Tran
Publisher : PPSDM MKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Optimalisasi kontribusi Generasi Z (Gen Z) di BMKG menjadi semakin penting seiring meningkatnya jumlah pegawai muda yang membawa karakteristik, nilai, dan preferensi kerja yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis preferensi Gen Z terhadap dunia kerja dan gaya kepemimpinan di BMKG melalui tiga dimensi, yaitu umpan balik (feedback), motivasi kerja (work motivation), dan gaya kerja (working style). Data penelitian diperoleh dari 103 responden yang merupakan peserta Pelatihan Dasar (Latsar) Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) BMKG Tahun 2025 dan termasuk dalam kategori Gen Z. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan instrumen kuesioner skala Likert 1–5 yang disusun berdasarkan kajian teori perilaku organisasi, kepemimpinan autentik, serta karakteristik generasi digital. Analisis data dilakukan untuk mengidentifikasi pola dominan preferensi responden terhadap gaya kepemimpinan di BMKG. Untuk dimensi umpan balik, mayoritas Gen Z menginginkan pemimpin yang jujur, transparan, dan mampu memberikan evaluasi secara langsung serta membangun. Pada dimensi motivasi kerja, responden merasa lebih termotivasi ketika pemimpin menunjukkan integritas, konsistensi tindakan, dan melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan. Sementara pada dimensi gaya kerja, Gen Z lebih menyukai lingkungan kerja yang kolaboratif, fleksibel, tidak hierarkis, serta memberi ruang kreativitas dan inovasi. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa Gen Z di BMKG memiliki preferensi kuat terhadap kepemimpinan yang autentik, adaptif, dan terbuka, yang mampu mendukung pengembangan diri serta memperkuat budaya kerja inklusif. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan strategi kepemimpinan dan kebijakan sumber daya manusia yang lebih selaras dengan karakteristik generasi muda di BMKG
PENGEMBANGAN SISTEM PEMBELAJARAN ADAPTIF KECERDASAN BUATAN (AI) YANG DAPAT DISESUAIKAN DENGAN KEBUTUHAN PENDIDIKAN Dwi Nur'aini
Jurnal Widya Climago Vol 7 No 2 (2025): Dinamika Generasi, Teknologi Pembelajaran, dan Pengelolaan Lingkungan di Era Tran
Publisher : PPSDM MKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan. Penelitian ini membahas pengembangan sistem pembelajaran adaptif berbasis AI yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pendidikan modern. Sistem pembelajaran adaptif memungkinkan peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang personal berdasarkan kemampuan, minat, serta kecepatan belajar masing-masing. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan mengkaji berbagai jurnal ilmiah, artikel akademik, dan laporan penelitian terkait adaptive learning dan AI dalam pendidikan. Data dianalisis secara kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa AI mampu meningkatkan efektivitas pembelajaran melalui personalisasi materi, rekomendasi pembelajaran otomatis, evaluasi berbasis data, serta pemberian umpan balik secara real time. Selain itu, sistem adaptif juga membantu guru dalam memantau perkembangan belajar peserta didik dan menentukan strategi pembelajaran yang lebih tepat. Pengembangan sistem yang efektif memerlukan integrasi antara analisis kebutuhan belajar, desain konten, asesmen, analitik data, infrastruktur digital, dan kesiapan guru sebagai pengambil keputusan. Meskipun memiliki banyak manfaat, implementasi AI dalam pendidikan masih menghadapi tantangan seperti perlindungan data, kesiapan infrastruktur digital, kesenjangan akses teknologi, dan potensi bias algoritma. Oleh karena itu, pengembangan sistem pembelajaran adaptif harus memperhatikan aspek pedagogis, etika, keamanan data, serta kesiapan sumber daya manusia. Dengan pengembangan yang tepat, AI berpotensi mendukung terciptanya pembelajaran yang lebih inklusif, fleksibel, dan berpusat pada peserta didik
IMPLEMENTASI LEARNING ANALYTICS DENGAN MENGGUNAKAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE UNTUK EFEKTIVITAS PELATIHAN YANG BERDAMPAK eko haryanto
Jurnal Widya Climago Vol 7 No 2 (2025): Dinamika Generasi, Teknologi Pembelajaran, dan Pengelolaan Lingkungan di Era Tran
Publisher : PPSDM MKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) MKG menghadapi tantangan besar dalam menjamin efektivitas pelatihan bagi 2.581 pegawai di tengah dinamika operasional MKG yang kompleks. Evaluasi konvensional sering gagal memprediksi dampak kinerja secara real-time karena bersifat administratif. Penelitian ini bertujuan merancang implementasi Learning Analytics (LA) berbasis Artificial Intelligence (AI) guna meningkatkan kualitas evaluasi pelatihan yang berdampak. Metode yang digunakan adalah Design Science Research (DSR) dengan memanfaatkan data historis pelatihan teknis MKG periode 2017-2021 (10.245 entri) sebagai basis pemodelan dan data 2022-2024 sebagai uji implementasi. Hasil analisis menunjukkan algoritma Random Forest mencapai akurasi tertinggi 87,76% dengan skor AUC 0,94 dalam mengidentifikasi peserta berisiko. Implementasi fitur Early Warning System pada dashboard terbukti menurunkan tingkat kegagalan pelatihan secara drastis dari 8,1% menjadi 1,44%. Studi ini menyimpulkan bahwa integrasi LA berbasis AI mampu menyelaraskan kompetensi teknis dengan capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) organisasi, khususnya dalam menjaga akurasi peringatan dini bencana di bawah tiga menit dalam bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika. Transformasi manajemen pelatihan berbasis data ini diharap menjadi fondasi penting bagi terwujudnya Smart ASN BMKG yang profesional
MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROJECT BASED LEARNING PADA TRAIN OF TRAINER CLIMATE FIELD SCHOOL ANGGOTA COLOMBO PLAN TAHUN 2023 Juniarto Widodo
Jurnal Widya Climago Vol 7 No 1 (2025): Transformasi Pengembangan SDM melalui Inovasi Model Pembelajaran dan Digital Lear
Publisher : Pusat Pengembangan SDM MKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to provide an overview of the results of implementing project-based learning in the Climate Field School (CFS) training, which can be implemented to support agriculture in participating countries. The training applies the 10:20:70 concept, where at the end of the training, participants are given the task of creating a project based on the learning outcomes in the classroom. Ultimately, the training will reveal how participants design the implementation of CFS according to their needs. The research utilizes a descriptive analysis method, outlining the entire evaluation from the beginning to the end, including pre-tests and post-tests, the development of implementation action plans, and presentation results over one month at the participants' workplaces. The data for this research is obtained from the evaluation of daily learning processes in the classroom. Evaluation of participants' knowledge improvement is conducted through pre-tests and post-tests, showing an increase in knowledge from a pre-test score of 57.3 to 66.7 in the post-test. Participants attended Zoom presentations to share the results of the implementation practices conducted in their respective countries. From sharing their implementation experiences, 12 out of 19 participants successfully executed the implementation, achieving a success rate of 63%. The research results indicate that the Project-Based Learning (PBL) model can be effectively applied by participants. Through classroom learning outcomes, participants were able to adopt the learning process effectively, as evidenced by the improvement in pre-test and post-test scores. Based on the implementation results, participants were capable of formulating and executing an action plan in the form of PBL, fostering communication and collaboration in the workplace. The application of the PBL model successfully addressed a 63% implementation success rate
EFEKTIVITAS PELATIHAN LUAR NEGERI DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI DAN KINERJA PEGAWAI BMKG Rony Kasmanto
Jurnal Widya Climago Vol 7 No 1 (2025): Transformasi Pengembangan SDM melalui Inovasi Model Pembelajaran dan Digital Lear
Publisher : Pusat Pengembangan SDM MKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the effectiveness of overseas training programs within the Indonesian Agency for Meteorology, Climatology, and Geophysics (BMKG) based on the perceptions of alumni, colleagues, and supervisors. A total of 58 respondents participated through a Likert scale (1–5) questionnaire, and the data were analyzed using descriptive statistics, Cronbach’s Alpha reliability test, Spearman correlation, and the Kruskal–Wallis test. The results indicate that the overseas training programs were perceived as highly effective, with average scores ranging from 4.20 to 4.50 and a Cronbach’s Alpha value of 0.970, signifying excellent instrument reliability. Correlation analysis revealed strong positive relationships among variables (rₛ = 0.73–0.88), while the Kruskal–Wallis test (average p = 0.23) showed no significant differences among respondent groups. These findings confirm that BMKG’s overseas training programs effectively enhance individual competencies, foster workplace collaboration, and improve overall organizational effectiveness consistently across all hierarchical levels.