cover
Contact Name
Rahmat Syah
Contact Email
jurnal.vijjacariya@stabn-sriwijaya.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.vijjacariya@stabn-sriwijaya.ac.id
Editorial Address
Jalan Edutown BSD City Serpong, Pagedangan, Kec. Pagedangan, Tangerang, Banten 15339
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
VIJJACARIYA: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Buddhis
ISSN : 24426016     EISSN : 29855284     DOI : -
Vijjacariya Journal is a journal that contains Buddhist religious and religious education. The theme raised relates to the Development of Buddhist Education and Education. Vijjacariya journal is published regularly 2 times a year. 1. Development of Buddhist Education and Education 2. Learn and teach Buddhism 3. Development of Buddhist curriculum 4. Buddhist religious education technology 5. Evaluation of Buddhist religious education
Articles 95 Documents
Pelaksanaan Keterampilan Variasi Mengajar Dalam Peningkatan Kualitas Hasil Pembelajaran Pendidikan Agama Buddha Di SD Ariya Metta Sulasmiati Sulasmiati
Vijjacariya: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Buddhis Vol 2, No 1 (2015): June 2015
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bahwa pendidikan Buddha terasa monoton. Masalah ini telah diatasi melalui berbagai metode pembelajaran. Oleh karena itu, para peneliti melakukan studi mengenai implementasi variasi keterampilan yang diajarkan dalam pembelajaran Pendidikan Buddha. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan dan menggambarkan variasi dalam implementasi keterampilan yang diajarkan dalam pembelajaran Pendidikan Buddha di Sekolah Dasar Ariya Metta.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menggambarkan implementasi variasi keterampilan yang diajarkan dalam pembelajaran Pendidikan Buddha. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan teknik model analisis Miles-Huberman yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, presentasi data, dan verifikasi kesimpulan.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi keterampilan yang diajarkan dalam berbagai pembelajaran Buddha di Sekolah Dasar Ariya Metta mencakup beragam gaya pengajaran, beragam media dan materi pengajaran, serta variasi dalam pola interaksi dalam pembelajaran. Beragam gaya pengajaran mencakup variasi dalam suara, gerakan dan ekspresi wajah, kontak mata, keheningan, fokus, dan perubahan posisi guru. Beragam media dan materi pembelajaran mencakup media visual, audio, dan taktil. Pola interaksi mencakup pembelajaran satu arah dan dua arah.Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas hasil belajar adalah implementasi variasi dalam pembelajaran. Meskipun pembelajaran terlihat baik dan lancar, namun kenyataannya terdapat kendala yang dihadapi oleh para guru, seperti kurangnya alat dan media pembelajaran, kesulitan dalam menemukan media yang dibutuhkan, dan terkadang kurangnya persiapan guru dalam menggunakan media tersebut.Berdasarkan hasil ini, penulis menyimpulkan bahwa implementasi variasi keterampilan pengajaran dalam pembelajaran agama di Sekolah Dasar Ariya Metta Buddha dilaksanakan melalui beragam gaya pengajaran, media, dan materi pengajaran, serta pola interaksi dalam pembelajaran. Penulis merekomendasikan agar implementasi variasi keterampilan pengajaran dalam pembelajaran agama di Sekolah Dasar Ariya Metta Buddha ditingkatkan lebih lanjut sehingga pembelajaran tidak membosankan dan hasil pembelajaran dapat ditingkatkan. Kata kunci: Variasi Keterampilan Pengajaran, Kualitas Hasil Belajar, dan Pendidikan.
Strategi Sosialisasi Remaja dalam Komitmen Berorganisasi Sekolah Minggu Buddha di Kecamatan Susukan Tri Yatno Tri Yatno
Vijjacariya: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Buddhis Vol 4, No 2 (2017): December 2017
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelidan ini bertujuan untuk menganalisis terjadinya proses sosialisasi remaja Buddhis di Kecamatan Susukan dan untuk menganalisis strategi pelaksanaan sosialisasi remaja Buddhis terhadap komitmen berorganisasi di Kecamatan Susukan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Akan umma memakai fenomenologi sebagal pendekatan karena adanya sesuatu keunikan dari tingkat kemampuan sosialisasi bagi remaja Sekolah Minggu Buddha di Kecamatan Susukan. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sedangkan untuk keabsahan data menggunakan tzianggulasi. Hail dari penelitian ini adalah: proses sosialisasi terjadl karena adanya partisipasi remaja mengikuti organisasi, adanya kebutuhan dalam mengembangkan agama Buddha, dan adanya agen organisasi sebagai wadah berkomunikasi. Strategi pelaksanaan sosialisasi remaja Buddhis dalam komitinen berorganisasi di Kecamatan Susukan terbagi menjadi dua macam, yekni strategi bag' remaja yang mudah bersosialisasi dan remaja yang susah bersosialisasi dalam hal komitmen pada tugasikewanban, komitmen rasa mernilild, komitmen regencrasi, komitmen memelihara umat, komitmen beke4a keras mempertahankan dan mengembangkan Agama Buddha, dan komitmen menanamkan kcyakinan.
Pengembangan Indikator Pencapaian Kompetensi Sikap Spiritual PendidikaPengembangan Indikator Pencapaian Kompetensi Sikap Spiritual Pendidikan Agama Buddha Dan Budi Pekerti Jenjang Smpn Agama Buddha Dan Budi Pekerti Jenjang Smp Puji Sulani
Vijjacariya: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Buddhis Vol 5, No 1 (2018): June 2018
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan indikator pencapaian sikap spiritual dalam pendidikan dan karakter Buddha di Sekolah Menengah Pertama. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan tahap satu. Langkah-langkah penelitian dan pengembangan ini meliputi: analisis potensi dan masalah, studi literatur dan pengumpulan informasi, perancangan produk, validasi desain, dan pengujian desain. Analisis potensi dan masalah dilakukan melalui survei, wawancara kelompok fokus, dan peninjauan dokumen rencana pelajaran. Hasil analisis potensi dan masalah mengungkapkan bahwa guru pendidikan dan karakter Buddha kesulitan dalam menentukan kata kerja operasional dan merumuskan indikator pencapaian kompetensi sikap spiritual. Peneliti kemudian mengembangkan 68 indikator pencapaian sikap spiritual yang diuji secara internal oleh tujuh ahli dengan skor 29,9; nilai 85,5; dan deviasi standar 2,6. Indikator tersebut kemudian direvisi dan dikembangkan menjadi 80 item dan diuji secara internal pada tahap dua oleh 15 panelis. Hasil perhitungan kesepakatan ahli dengan menggunakan Indeks Kesesuaian Aiken menghasilkan nilai V 0,9, dan hasil perhitungan reliabilitas menggunakan rumus Alpha-Cronbach menghasilkan nilai 0,985. Berdasarkan perhitungan tersebut, dapat disimpulkan bahwa indikator pencapaian kompetensi sikap spiritual di sekolah menengah pertama dengan kategori sangat valid dan memiliki reliabilitas yang sangat tinggi sehingga layak digunakan sebagai indikator dalam rencana pelajaran.
Peran Mahasiswa STABN Sriwijaya Dalam Upaya Bela Negara Setia Darma
Vijjacariya: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Buddhis Vol 3, No 1 (2016): June 2016
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Upaya Mahasiswa Pertahanan Negeri. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data berupa pendapat para mahasiswa dalam upaya untuk membela negara, gagasan para pemikir yang dikumpulkan dari kuesioner, dan hasil dari berbagai sumber dalam literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan peran mahasiswa Perguruan Tinggi Buddha Negeri Sriwijaya dalam upaya mewujudkan pertahanan negara seperti berperilaku baik, menjaga lingkungan dan seni budaya, menunjukkan sikap peduli dan berdedikasi kepada masyarakat dan negara, mengikuti upacara bendera, belajar seni tradisional, menyanyikan lagu kebangsaan, berbicara dalam bahasa Indonesia, mengenakan batik, hidup atau bekerja bersama, menggunakan produk Indonesia, mengadakan kegiatan seni daerah dan mempromosikannya, memberikan prioritas pada diskusi dan konsensus dalam pengambilan keputusan. Peran Pemerintah diperlukan, terutama dalam hal peningkatan infrastruktur, institusi, dan kebutuhan masyarakat sebagai upaya untuk mempertahankan dan melestarikan cinta tanah air dan negara, kemudian peran Pemerintah dalam menyediakan fasilitas, distribusi, dan administrasi peluncuran perdagangan, memberikan apresiasi terhadap seni dan budaya, melakukan kegiatan di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), serta di masyarakat secara lebih luas untuk memberikan prioritas dan meningkatkan penggunaan bahasa Indonesia dengan baik, benar, dan juga melestarikan budaya nasional.    
BENTUK DAN MAKSUD TUTURAN TIDAK SANTUN ORANGTUA DAN ANAK DALAM KELUARGA BUDDHIS Lery Prasetyo
Vijjacariya: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Buddhis Vol 6, No 1 (2019): June 2019
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketidaksantunan bahasa berkaitan penggunaan bahasa yang tidak baik dan seringkali menyinggung perasaan orang lain. Namun bentuk tuturan tersebut masih banyak digunakan, bahkan umat Buddha. Penggunaan bahasa yang kurang santun tersebut dapat menyinggung perasaan mitra tutur. Dalam alam ranah keluarga ujaran tidak santun dapat terjadi pada semua bagian dalam keluarga. Tujuan penulisan artikel ini adalah mendeskripsikan wujud dan maksud tuturan tidak santun antara orangtua dan anak dalam keluarga Buddhis. Artikel menggunakan metode penelitian kualitatif yang dilakukan pada Februari-Juli 2018. Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data simak dan cakap. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tuturan yang tidak santun dilakukan tidak hanya oleh anak kepada orangtuanya, namun juga sebaliknya. Wujud tuturan tersebut terbagi ke dalam lima kategori yaitu kategori melanggar norma, mengancam muka sepihak, melecehkan muka, menghilangkan muka, dan menimbulkan konflik. Lalu maksud dalam tuturan ketidaksantunan terdapat dua kategori yaitu maksud bernilai positif dan maksud bernilai negatif. Pada kategori maksud bernilai positif mengandung nilai-nilai kebudayaan dan keagamaan antara lain: tanggung jawab, ajaran untuk rajin dan semangat, kedermawanan (caga), hidup seimbang (samajīvitā), dan penerapan Sigalovada Sutta.
PENDIDIKAN TOLERANSI DARI PRANATA KELUARGA MENUJU KEHIDUPAN BERMASYARAKAT Bambang Afriadi
Vijjacariya: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Buddhis Vol 6, No 1 (2019): June 2019
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan fakta objektif anak mengenal perbedaan di masa perkembangangya hingga tahap perkembangan berikutnya di masyarakat. Metode penulisan artikel ini adalah menggunakan data primer dan skunder yang berkaitan dengan topik ini. Data penunjang yang penulis lakukan dari hasil angket survei nasional kerukunan umat beragama di Indonesia tahun 2017, di daerah Jakarta Kecamatan Johar Baru Kelurahan Johar Baru dan Kecamatan Kemayoran Kelurahan Kemayoran sebagai data primer penelian ini. Dalam pembahasan ini yang mendasar adalah kumpulan laporan mengenai pembahasn yang relevan hubungannya dengan masalah yang dibahas sebagai data skunder. Hasil pembahasan menunjukan bertoleransi yaitu bersedia untuk memahami sudut pandang lain. Ini juga berarti mempelajari realitas yang berbeda dari realitas. Sedangkan data angket menunjukan bahwa tingkat toleransi di antara kedua kecamatan dalam posisi yang relatif baik. Hasil angket ini menunjukan bahwa hidup bersama adalah hakikat itu sendiri. Jawaban hasil penelitian ini juga menunjukan, bahwa sejak dini anak telah dibiasakan untuk hidup dan bermain atau bersosialisasi dengan keberagaman.
Pengaruh Intensitas Pemanfaatan Gawai terhadap Afektif Siswa Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Buddha dan Budi pekerti di Sekolah Menengah Atas Dharma Putra Tangerang Widya Dwi Permana; Warsito Warsito; Sutadi Sutadi
Vijjacariya: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Buddhis Vol 10, No 1 (2023): June 2023
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perlunya penggunaan gawai guna menunjang proses pembelajaran yang telah diterapkan di Sekolah Menengah Atas Dharma Putra Tangerang, tetapi dapat berpotensi terhadap menurunnya afektif siswa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas pemanfaatan gawai terhadap afektif siswa pada pembelajaran Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti di SMA Dharma Putra, Tangerang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis Mann-Whitney U Test. Hasil penelitian menunjukkan nilai probabilitas kumulatif sebesar 0.151 signifikansi 0.05, sehingga menunjukkan tidak adanya pengaruh intensitas pemanfaatan gawai terhadap afektif siswa pada pembelajaran Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti
Praktik Hidup Berkesadaran Untuk Anak Usia Dini Waluyo Waluyo
Vijjacariya: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Buddhis Vol 4, No 1 (2017): June 2017
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini fokus pada konflik dan kekerasan yang melibatkan banyak pihak, terutama melibatkan anak-anak. Keterlibatan anak-anak dalam konflik global merupakan kontribusi dan peran besar dari orang dewasa di sekitar mereka, terutama orangtua dan keluarga. Anak-anak yang dibesarkan dengan kekerasan akan melahirkan generasi yang penuh ambisi ambigu yang dapat menciptakan kekacauan dan bahkan perang fisik di masa depan. Pendidikan informal, non-formal, dan bahkan formal masih kurang optimal dalam membentuk generasi yang penuh kasih sayang dan cenderung berkonsentrasi pada kinerja kompetitif dengan penguasaan keterampilan sosial dan emosional yang minimal. Artikel ini bertujuan untuk memberikan deskripsi komprehensif tentang praktik kesadaran hidup yang diterapkan pada masa kanak-kanak sesuai dengan perkembangan moral dan pembentukan karakter anak-anak.Metode studi ini menggunakan daftar periksa sintesis yang terdiri dari sintesis awal, lanjutan, dan akhir; mempertimbangkan elemen-elemen teks, konteks, dan wacana. Objek dari penelitian ini adalah gagasan tentang praktik kesadaran dari berbagai sumber literatur, terutama aplikasinya yang dapat digunakan untuk usia anak-anak. Validitas studi ini didasarkan pada perbandingan yang mencerminkan objektivitas studi.Hasil studi menunjukkan bahwa: (a) bentuk praktik kesadaran yang dapat diterapkan pada masa kanak-kanak, yaitu: hidup bersama, bernapas, meditasi duduk, makan bersama, istirahat, diam mulia, meditasi pelukan, meditasi, berlindung, mengatasi kemarahan, dan pulang ke rumah; (b) integrasi praktik kesadaran hidup untuk perkembangan moral mencakup: pulang ke rumah, hedonisme relatif (istirahat), meditasi duduk, diam mulia, meditasi pelukan, menjaga norma sosial dan otoritas (makan bersama, meditasi teh), orientasi harga diri dengan lingkungan sosial (berlindung, mengatasi kemarahan), dan prinsip universal (hidup bersama, bernapas); dan (c) integrasi bentuk-bentuk praktik hidup sadar masing-masing dapat mengarah pada pembentukan karakter yang mencakup tiga komponen: pengetahuan moral (sadardiri, mengetahui, moral, pengetahuan diri, keputusan, perspektif), perasaan moral (pengendalian diri, empati, mencintai kebenaran), dan tindakan moral (ingin, adat, kompeten).  
Upaya Peningkatan Hasil Belajar Mahasiswa Dalam Keterampilan Berbicara Menggunakan Pembelajaran Think Talk Write (Itw) Di Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Sriwijaya Tangerang Banten Lalita Vistari S.W.D.
Vijjacariya: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Buddhis Vol 5, No 1 (2018): June 2018
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

"Learning Think Talk Write (TIW) adalah salah satu studi menarik yang belum pernah penulis lakukan dalam Research Action Class (RAC), terutama dalam meningkatkan hasil belajar bahasa siswa di Sekolah Tinggi Agama Buddha Sriwijaya, Tangerang, Banten, dalam keterampilan berbicara dengan menggunakan Think Talk Write 071/40. Metode penelitian ini adalah Research Action Class (RAC) menggunakan metode Kemmis dan Taggart (1992), yang terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi, serta refleksi. Subjek penelitian adalah mahasiswa STABN Sriwijaya Tangemng Banten jurusan Dharmacarya semester III dalam mata kuliah English II dengan jumlah 72 mahasiswa. Teknik analisis data dilakukan pada tiga kelompok data, yaitu hasil belajar siswa, rekan sejawat, observasi, dan catatan peneliti lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pembelajaran dan interaksi, TTW di kelompok intensif ternyata dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan nilai perolehan siswa setelah dilakukan perbaikan pembelajaran sebanyak dua siklus, dengan nilai perolehan minimum sebanyak 2 orang dan nilai maksimum sebanyak 6 94 orang, dengan rata-rata penilaian yang menunjukkan peningkatan keterampilan berbicara siswa, mulai dari rata-rata nilai pada siklus pertama sebesar 52,65, rata-rata nilai pada siklus kedua sebesar 87,75, dan sebanyak 72 siswa dari total seluruh siswa menyatakan kepuasan dalam belajar Think Talk Write (77W). Kesimpulan dari penelitian ini adalah metode pembelajaran dan interaksi di kelompok intensif dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam belajar Think Talk Write (71W) pada keterampilan berbicara di Sekolah Tinggi Agama Buddha Sriwijaya, Tangerang, Banten.
Ornamen Dan Nilai-Nilai Karakter Cerita Pancatantra Pada Relief Candi Mendut Dan Candi Sojiwan Waluyo Waluyo
Vijjacariya: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Buddhis Vol 5, No 2 (2018): December 2018
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini didasarkan pada cerita bertema pañcatantra di Candi Mendut dan Candi Sojiwan yang mengandung nilai moral luhur dalam membentuk karakter seseorang, namun belum dimanfaatkan secara optimal, serta belum adanya penjabaran komprehensif persamaan dan perbedaannya pada kedua candi, baik pada ornamen dan analisis reliefnya maupun karakter yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ornamen dan nilai-nilai karakter cerita pañcatantra yang terdapat di Candi Mendut dan Candi Sojiwan. Penelitian ini menggunakan paradigma kualitatif dengan metode penelitian arkeologi yang mendasarkan pada analisis ikonografi. Relief bertema pañcatantra dilakukan analisis ikonografi dari segi narasi, bentuk, morfologi, teknologi, dan kontekstual. Data bersumber dari Candi Mendut dan Candi Sojiwan yang terpahat banyak relief bertema pañcatantra yang mengandung nilai-nilai karakter. Keabsahan data ditempuh melalui peningkatan ketekunan, diskusi dengan sejawat dan ahli, triangulasi, di samping proses dependability, transferability, dan confirmability. Analisis data menggunakan analisis relief sebagai bagian dari analisis ikonografi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (a) relief cerita fabel bertema pañcatantra yang terpahat pada Candi Mendut dan Candi Sojiwan yaitu "Garuda dan Penyu", "Buaya dan Kera", "Gajah dan Tikus Pengerat", "Kepiting dan Bangau", "Burung Berkepala Dua", dan "Serigala dan Lembu"; sedangkan cerita yang hanya terdapat pada Candi Mendut yaitu "Ular dan Luwak", "Penyu dan Angsa", "Seekor Kera", "Brahmana, Ular, dan Kepiting", "Rusa, Macan, dan Kera", "Ular dan Manusia Terbang", "Kera Pemarah", "Macan, Kera, dan Kambing", "Dua Rusa", dan "Kucing dan Tiga Tikus"; serta cerita yang hanya terdapat di Candi Sojiwan yaitu "Singa dan Manusia", "Serigala dan Manusia", "Anjing dan Manusia", dan "Gajah dan Kambing"; (b) persamaan ornamen relief pañcatantra pada Candi Mendut dan Candi Sojiwan mengambil bentuk monoscenic narratives, bentuk continuous narratives pada Candi Mendut; sebagian besar berbentuk empat persegi panjang, ada juga bentuk segitiga dan tak beraturan pada Candi Mendut; sedangkan pada analisis morfologi figur yang dipahatkan sebagian besar naturalis, pada Candi Sojiwan ditemukan tidak naturalis berupa garuda, hiasan kerang, dan kinnara; ukuran relief pada Candi Mendut bervariasi, pada Candi Sojiwan berukuran sama; pada kedua candi memiliki ukuran figur tokoh sentral yang diapit oleh hiasan flora dan atau fauna; dari segi teknologi, kedua candi termasuk kategori haut relief; analisis kontekstual kedua candi berbeda atas ditemukannya gana unik dan spesifik berupa gajah, singa, dan manusia menunggang singa di Candi Sojiwan; persamaannya yaitu terdapat makara dan gana dengan karakter yang sedikit berbeda; (c) nilai-nilai karakter cerita pañcatantra pada Candi Mendut dan Candi Sojiwan yang bernilai positif yaitu tanggung jawab, strategi, pengorbanan, pertolongan, kebersamaan, suka cita, usaha keras, kerja bertahap, belas kasih, balas budi, kebijaksanaan, persahabatan, saling menolong, persaudaraan, kecerdikan, berterima kasih, pemahaman sebab akibat, kesetiaan, kejujuran, kesabaran, tepat waktu, perjuangan, kewaspadaan, empati, dan siap menghadapi tantangan; sedangkan nilai-nilai negatif yang muncul di antaranya permusuhan, tipu daya, balas dendam, lupa diri, kesombongan, keras kepala, serakah, rakus, rencana jahat, pembunuhan, tipu muslihat, kebodohan, kekalahan, suka mengejek, kemarahan, mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin, bersama dalam kejahatan, kepura-puraan, keinginan lebih, iri hati, keinginan salah, dan menyia-nyiakan kesempatan.

Page 9 of 10 | Total Record : 95