cover
Contact Name
Teresia Noiman Derung
Contact Email
teresiaderung@gmail.com
Phone
+6282143778367
Journal Mail Official
sapa@stp-ipi.ac.id
Editorial Address
Jln. Seruni No 6 MALANG 65141, Jawa Timur
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Sapa: Jurnal Kateketik dan Pastoral
ISSN : 25035150     EISSN : 26543214     DOI : https://doi.org/10.53544/sapa
Core Subject : Religion, Education,
SAPA merupakan jurnal yang dikelola oleh STP-IPI Malang. Nama SAPA, bukan sebuah nama kebetulan dan juga bukan singkatan. Melainkan memiliki makna yang amat mendalam. Sapa tidak hanya sekedar menyapa para pembaca melainkan mengajak para pembaca untuk semakin mendalami karya pastoral dan katekese, sehingga juga menjadi terlibat dalam kegiatan pastoral dan katekese di manapun berada
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 172 Documents
ASRAMA DAN PRESTASI AKADEMIK: Pendekatan Kuantitatif atas Pengaruh Kehidupan Asrama Terhadap Prestasi Akademik Mahasiswa Program Studi Pelayanan Pastoral, STP-IPI Malang Selatang, Fabianus
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 4 No 1 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mahasiswi Program Studi Pelayanan Pastoral STP-IPI Malang bermukim di asrama; dalam satu lingkungan yang nyaman dan terlindung. Keadaan tersebut mendorong tim peneliti untuk melakukan penelitian atas situasi mereka sebagai warga asrama dan sebagai mahasiswa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pengaruh hidup berasrama terhadap prestasi akademik mahasiswa. Metode yang dipakai ialah metode kuesioner. Instrumen yang dipakai terkait metode kuisioner ini ialah angket dengan skala bertingkat. Variabel bebasnya ada lima antara lain lokasi (X1), pelayanan (X2), kapasitas (X3), dan pengelolaan (X4), sedangkan variabel terikatnya ialah prestasi akademik (Y). Sampel yang dipakai ialah simple random sampling. Jenis penelitiannya ialah penelitian kuantitatif. Desain penelitiannya ialah studi korelasional. Jumlah populasinya 45 orang, sedangkan sampelnya berjumlah 42 orang. Penentuan sampel menggunakan Rumus Isaac dan Michael dengan tingkat kesalahan 0,05%. Analisa data yang dipakai ialah mengukur korelasi antar variabel dengan menggunakan metode korelasi multi variant dan analisa regresi linier berganda. Hasil pengujian hipotesa dengan uji T antara lain nilai Sig. X1 sebesar 0,946 nilai T hitung -0,068, X2 sebesar 0,311 dan nilai T hitung 0,1028, X3 sebesar 0,070 nilai T hitung 1,867, dan X4 sebesar 0,074 dan nilai T hitung 1.841. Pengujian hipotesa dengan uji F untuk melihat pengaruh secara simultan variabel bebas terhadap variabel terikatnya, diperoleh hasil nilai signifikansinya adalah 0,196 dan nilai F hitung 1,608. Sedangkan, berdasarkan analisa korelasi multi variant diperoleh data: X1= 0,013, X2=13,2; X3= 13,2; dan X4=14,8. Kesimpulannya H1 dan H2 ditolak yang berarti tidak terdapat pengaruh X1 dan X2 terhadap Y, sedangkan H3 dan H4 diterima yang berarti terdapat pengaruh X3 dan X4 terhadap Y. Sedangkan, pengujian hipotesa dengan uji F tidak terdapat pengaruh secara simultan pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Berdasarkan hasil analisa korelasi multi variant dan tabel nilai interpretasi nilai r, disimpulkan bahwa korelasi variabel X1 dengan Y “sangat rendah”, X2, X3 dan X4 dengan Y “tinggi”. Lebih lanjut, koefisen determinasi berganda (R2) atau R squared = 0,560 berarti secara bersama-sama 56 % perubahan variabel Y dapat dijelaskan oleh variabel X1, X2 X3, dan X4.
MENYIKAPI PEBELAJAR MULTI-ENTRY: Kerangka Teoretik Pembelajaran Andragogi Berbasis Multiple Intelligence Subasno, Yohanes
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 4 No 1 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dosen sering berhadapan dengan persoalan heterogenitas pebelajar, yang meliputi perbedaan suku, bahasa, latar pendidikan, kapasitas intelegensi, kepribadian, dan lain-lain. Sering, para dosen hanya memperhatikan satu aspek yaitu kapasitas intelegensi, yang merupakan hasil pengukuran psikologis yang diwakili dengan skor IQ. Tujuan artikel ini adalah untuk menelaah persoalan kesenjangan kualitas pendidikan dan implikasinya pada perguruan tinggi dari sisi kerangka teori psikologi pendidikan dan memberi alternatif jalan keluar untuk mengatasi persoalan yang dihadapi dosen dalam menghadapi pebelajar multi-entry. Kerangka teori yang digunakan dalam artikel ini meliputi (1) Pendidikan orang dewasa (andragogi); (2) Multiple Intelegensi, Riset dan Buah Pikiran Gardner; (3) Empat model pembelajaran yang terdiri dari humanistik, kognitif, konstruktivistis, dan behavioristik. Latar belakang dan kerangka teori yang dibangun, dapat mendasari gagasan konseptual guna menyikapi pebelajar yang multi-entry. Skor IQ yang lebih rendah dan lebih tinggi adalah fakta. Namun akan lebih berguna bagi dosen untuk memikirkan model pembelajaran yang sesuai bagi mereka, agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik, setiap individu dapat diperhatikan, dan tujuan dari pendidikan dapat tercapai. Saran yang dapat dipertimbangkan untuk menyikapi pebelajar multi-entry adalah: (1) Berprinsip pada konsep andragogi, (2) Tidak menjadikan test IQ sebagai satu-satunya tolak ukur dalam menilai kemampuan mahasiswa, (3) Sosialisasi dan mendalami Konsep Multiple Intelligence, dan (4) Menerapkan Model-model Pembelajaran secara komprehensif dalam proses perkuliahan. Selain keempat hal tersebut, diperlukan sikap open-minded atas perkembangan zaman yang sangat pesat, ditandai dengan pemanfaatan teknologi informasi.
KEGIATAN WEEKEND PASTORAL MAHASISWA DI LINGKUNGAN-LINGKUNGAN PAROKI ST. INSENSIUS A PAULO MALANG Yulius, M. Irwan; Jumilah, B. Sri; _, Wiwin; Yuliati, Y. Eni
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 4 No 1 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Para mahasiswa Sekolah tinggi Pastoral Indonesia terutama prodi Pelayanan Pastoral mendapat kesempatan untuk mengalami aktivitas pastoral yang disebut weekend pastoral di lingkungan-lingkungan (komunitas-komunitas basis) yang ada di paroki St. Vinsensius A Paulo Malang. Kegiatan ini sudah berlangsung cukup lama. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan pengalaman-pengalaman yang dirasakan oleh jemaat setempat dalam kegiatan weekend pastoral mahasiswa prodi Pelayanan Pastoral. Pengalaman-pengalaman ini bukanlah sebatas kesan-kesan yang diperoleh jemaat melalui kegiatan ini, melainkan juga feedback-feedback yang penting bagi pengembangkan pendidikan dan pembinaan para calon pelayan pastoral. Penelitian ini akan didasarkan pada teori-teori pengembangan komunitas basis yang dijadikan dasar pengembangan umat dan ketentuan-ketentuan weekend pastoral yang diterbitkan oleh institusi; teori-teori itu tentu juga mengandaikan poin-poin penting sejauh mana penggembalaan umat dalam komunitas basis harus dikerjakan. Maka penelitian ini ingin mengetahui bagaimana praktek weekend pastoral membawa dampak bagi perkembangan jemaat setempat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang mencoba untuk mengeksplorasi suatu proses yaitu weekend pastoral mahasiswa prodi pelayanan pastoral di komunitas-komunitas basis (lingkungan-lingkungan) secara khusus di Paroki St. Vinsensius A Paulo. Eksplorasi ini dilakukan dengan mewawancarai beberapa pihak terkait seperti ketua-ketua lingkungan dan beberapa anggota umat yang telah ditentukan, serta beberapa mahasiswa. Selain itu, untuk proses triangulasi, peneliti akan melakukan observasi langsung keterlibatan mahasiswa dalam proses pastoral di masing-masing lingkungan.
PASTORAL ALA PAULUS DAN RM. PAUL JANSSEN I Nyoman Paska, Paskalis Edwin
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 4 No 2 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya pastoral dewasa ini melanjutkan karya pastoral sejak zaman Gereja Purba. Bentuk, strategi, dan tujuannya tentu tidak harus persis sama, namun juga tidak boleh bertentangan sama sekali atau dilupakan begitu saja. Apa yang telah dilakukan di masa lampau dapat menjadi inspirasi yang baik bagi pastoral dewasa ini. Romo Paul Janssen, CM, pendiri Institut Pastoral IPI-Malang memberi contoh cara berpastoral seperti itu. Beliau mengaktualisasikan karya pastoral yang dilakukan Paulus dengan berhasil di Jawa Timur, khususnya Madiun dan Malang. Melalui penelitian dan refleksi atas teks-teks Alkitab dan karya-karya pastoral yang dilakukan oleh Romo Paul Janssen, kami membandingkan karya pastoral Santo Paulus dan Romo Paul Janssen. Ternyata ada banyak kesamaan dan kemiripannya: karya pastoral melanjutkan karya Kristus dan selalu bertitik tolak dari tugas perutusan dan panggilan yang berasal dari Allah sendiri; semangat pelayanan lahir dari pengalaman pribadi bukan teori semata; karya pastoral melanjutkan dan melengkapi karya misi yang sangat menekankan penanaman Gereja; pentingnya membangun relasi melalui kunjungan, surat menyurat, dan mempercayakan tanggung jawab kepada rekan kerja. Kini, giliran para murid dan para pelayan pastoral mengaktualisasikannya dalam konteks Indonesia dewasa ini.
EDITORIAL JURNAL SAPA VOL. 4 NO. 2 Editor, Tim
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 4 No 2 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

EDITORIAL Jurnal SAPA kali ini memasuki tahun yang keempat dan berusaha untuk tampil semakin baik. Dalam edisi kali ini menyampaikan beberapa artikel berdasarkan hasil penelitian dan analisa pustaka. Artikel pertama membuat komparasi tentang “pastoral” menurut Paulus dan Romo Paul Janssen. Dari hasil perbandingan ternyata penulis menemukan banyak kesamaaan dan kemiripannya antara Paulus dan Romo Paul Janssen: karya pastoral melanjutkan karya Kristus dan selalu bertitik tolak dari tugas perutusan dan panggilan yang berasal dari Allah. Artikel kedua memberikan uraian tentang “pastoral keluarga dalam upaya membangun family resiliency” Dalam dinamikanya, keluarga Katolik tidak hanya menerapkan kasih Allah di dalam dirinya, namun juga memantulkan kasih Allah itu ketika berinteraksi dengan masyarakat di luar dirinya, sebagai perwujudan garam dan terang bagi lingkungan sosialnya. Berkaitan dengan “penguatan” Gereja kecil inilah sehingga dibutuhkan campur tangan gereja yang disebut Pastoral Keluarga. Artikel ketiga ulasan tentang “mengembangkan persaudaraan insani” yang ditinjau diri segi Biblis. Tulisan ini bermaksud untuk mencoba menyoroti tentang tema tersebut dari sudut pandang Kitab Suci. Tulisan ini dibagi ke dalam tiga bagian, yang pertama tinjauan Perjanjian Lama, yang kedua tinjauan dari Perjanjian Baru dan ketiga kesimpulan. Artikel keempat mengulas tentang “Pastoral yang mengembangkan persaudaraan insansi ditinjau dari Sosiologi. Persaudaraan dalam Sosiologi terjadi melalui interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan antara dua atau lebih individu manusia, dimana kelakuan individu saling memengaruhi, mengubah atau memperbaiki satu sama lain (Gerungan (1986:57). Interaksi sosial terjadi dengan latar belakang kebutuhan sesuai teori Masslow yaitu kebutuhan fisik maupun kebutuhan rasa aman. Artikel keempat merupakan hasil penelitian tentang usaha meningkatkan motivasi belajar pada mahasiswa “setengah hati.” Artikel terapan ini bermaksud mengupas hal ikhwal tentang motivasi dan motivasi belajar dari tinjauan psikologis, dan menawarkan upaya-upaya meningkatkan motivasi belajar mahasiswa “setengah hati” berdasarkan kajian teori yang dipaparkan. Artikel kelima mengulas tentang pembaharuan pelaksanaan katekese dan metode katekese inkulturatif. Inkulturasi merupakan usaha katekese agar disatu pihak iman dan agama Kristen dapat berakar pada kebudayaan dan seluruh hidup umat dan di lain pihak aneka macam kebudayaan dan penghayatan hidup umat konkrit dapat diangkat menjadi bentuk penghayatan iman Kristen. Orang Kristen hendaknya dapat menjadi orang Kristen seratus persen dan sekaligus menjadi anggota bangsanya seratus persen. Artikel keenam merupakan hasil penelitian tentang “efektivitas paguyuban orang tua dalam memberdayakan anak disabilitas di Mojorejo, Blitar. Dalam penelitian ini peneliti ingin mengetahui efektivitas paguyuban orang tua dalam memberdayakan anak disabilitas di Mojorejo Blitar. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah wawancara. Wawancara ini dilakukan oleh peneliti terhadap orang tua yang tergabung dalam paguyuban, ketua paguyuban dan petugas lapangan. Sedangkan artikel terakhir mengulas tentang kebijakan pendidikan nasional dan implementasinya pada Sekolah Dasar. Arah dasar perhatian kebijakan pendidikan nasional adalah Sekolah Dasar, karena merupakan lembaga awal pembentukan manusia menuju kecerdasan yang optimal. Kebijakan pendidikan nasional dalam konteks ini lebih pada implementasinya di lembaga pendidikan dasar.
PASTORAL KELUARGA DALAM UPAYA MEMBANGUN FAMILY RESILIENCY Laka, Laurensius
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 4 No 2 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap keluarga adalah suatu sistem-suatu kesatuan yang dibentuk oleh bagian-bagian yang saling berhubungan dan berinteraksi. Hubungan itu tidak hanya berlangsung satu arah. Setiap keluarga Katolik adalah Gereja rumah tangga (Ecclesia Domestica) yang hadir di tengah-tengah masyarakat, dengan kewajiban utamanya adalah membangun Kerajaan Allah. Dalam dinamikanya, keluarga Katolik tidak hanya menerapkan kasih Allah di dalam dirinya, namun juga memantulkan kasih Allah itu ketika berinteraksi dengan masyarakat di luar dirinya, sebagai perwujudan garam dan terang bagi lingkungan sosialnya. Berkaitan dengan “penguatan” Gereja kecil inilah sehingga dibutuhkan campur tangan gereja yang disebut Pastoral Keluarga.
MENGEMBANGKAN PERSAUDARAAN INSANI (TINJAUAN BIBLIS) Sukendar, Yohanes
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 4 No 2 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dewasa ini ada banyak perpecahan dan pertikaian antara manusia, yang disebabkan oleh berbagai macam perbedaan dan kepentingan. Untuk menanggapi hal tersebut baru-baru ini Paus Fransiskus mengumandangkan keinginannya supaya umat Katolik mengembangkan persaudaraan insansi, yaitu relasi dengan sesama manusia yang tidak lagi dibatasi oleh sekat-sekat agama, ras, budaya, suku dan sebagainya. Dengan mengembangkan persaudaraan insani, diharapkan terjalinlah persaudaraan antara manusia, sehingga bumi di mana kita tinggal ini sungguh-sungguh damai. Tulisan ini bermaksud untuk mencoba menyoroti tentang tema tersebut dari sudut pandang Kitab Suci. Tulisan ini dibagi ke dalam tiga bagian, yang pertama tinjauan Perjanjian Lama, yang kedua tinjauan dari Perjanjian Baru dan ketiga kesimpulan.
PASTORAL YANG MENGEMBANGKAN PERSAUDARAAN INSANI DITINJAU DARI SOSIOLOGI Derung, Teresia Noiman
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 4 No 2 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pastoral yang mengembangkan persaudaraan insani dari segi sosiologi mengingatkan kita akan keberadaan tiap orang dalam masyarakat. Individu tidak bisa hidup tanpa kehadiran orang lain atau orang lain menjadi bagian penting dalam hidup bersama sebagai saudara. Persaudaraan berarti persahabatan yang sangat karib, seperti layaknya saudara atau pertalian persahabatan yang serupa dengan pertalian saudara. Persahabatan melampaui pertalian atau ikatan darah seperti yang dicontohkan dalam cara hidup jemaat perdana yang terdapat dalam Kis 2:41-47. Para jemaat perdana menjadikan sesama sebagai satu saudara melampaui hubungan darah. Persaudaraan dalam Sosiologi terjadi melalui interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan antara dua atau lebih individu manusia, dimana kelakuan individu saling memengaruhi, mengubah atau memperbaiki satu sama lain (Gerungan (1986:57). Interaksi sosial terjadi dengan latar belakang kebutuhan sesuai teori maslow, yaitu kebutuhan fisik, kebtuhan rasa aman, kebutuhan rasa cinta, kebutuhan harga diri, kebutuhan aktualisasi diri dan kebutuhan terakhir menurut Paul Janssen, adalah kebutuhan spritualitas. Semua kebutuhan ini memanggil manusia untuk memenuhinya bersama dengan orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Interaksi sosial dapat terjadi melalui 2 cara, yaitu kontak sosial dan komunikasi sosial. Ketika berinteraksi dalam kehidupan bersama, ada dua bentuk yang dikembangkan, yaitu bentuk asosiatif dan bentuk disosiatif. Bentuk asosiatif merupakan bentuk yang membangun persaudaraan insani karena di dalamnya ada kerja sama, akomodasi, dan asimilasi. Bentuk disosiasi terdiri dari 4 bentuk yaitu persaingan, kontradiksi, pertikaian, pertentangan (conflict).
MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PADA MAHASISWA "SETENGAH HATI" Subasno, Yohanes
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 4 No 2 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Motivasi belajar merupakan salah satu kunci untuk meraih keberhasilan studi di semua jenjang pendidikan. Pada pendidikan tinggi, pemilihan program studi menjadi unsur sangat penting, dapat memengaruhi motivasi belajar. Mahasiswa sering menghadapi fakta, bahwa kuliahnya tidak selaras dengan keinginan. Penyebabnya karena beberapa hal, semisal tidak diterima pada program studi yang diminatinya, kesulitan biaya, kemauan orang tua, dan sebagainya. Ketidaksesuaian antara minat dan aktifitas belajar tersebut menyebabkan lemahnya motivasi, dan mereka laksana mahasiswa “setengah hati”. Artikel ini didasarkan atas wawancara yang dilakukan dengan mahasiswa baru Program Studi Pelayanan Pastoral STP-IPI Malang. Program studi ini menyiapkan lulusan menjadi pelayan pastoral dan memberi perhatian pada pemberdayaan penyandang disabilitas. Faktor panggilan dan passion yang khas, yang mendorong mahasiswa berminat masuk ke program studi ini. Kira-kira 40% mahasiswa mengaku minat utama studinya adalah tidak di bidang ini, namun karena tidak diterima pada program studi yang diinginkannya, mereka “terpaksa” masuk ke Program Studi Pelayanan Pastoral. Hal ini menyisakan problem motivasi belajar, yang berpengaruh pada prestasi akademik mereka. Artikel terapan ini bermaksud mengupas hal ikhwal tentang motivasi dan motivasi berprestasi dari tinjauan psikologis, dan menawarkan upaya-upaya meningkatkan motivasi belajar mahasiswa “setengah hati” berdasarkan kajian teori yang dipaparkan. Upaya-upaya berikut dapat dilakukan untuk memperbaiki motivasi belajar: (1) Sosialisasi dan sensitisasi profil lulusan, (2) Pembimbing akademik yang sesuai, (3) Pelatihan empati bagi dosen dan tenaga kependidikan, (4) Program pembentukan diri, (5) Beasiswa dan Ikatan Dinas, (6) Menjalin komunikasi dengan keluarga.
PEMBAHARUAN PELAKSANAAN KATEKESE DAN METODE KATEKESE INKULTURATIF X, Intansakti Pius
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 4 No 2 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pentingnya keterlibatan seluruh jemaat dalam keseluruhan karya katekese terasa mendesak dimana-mana. Iklim yang mendukung bagi karya itu sudah diciptakan oleh Konsili Vatikan II, dimana ada pergeseran tekanan eklesiologis dari Gereja sebagai tubuh mistik Kristus, kepada Gereja sebagai umat Allah. Masing–masing tekanan itu mengandung makna dan konsekuensi yang amat berbeda. Seluruh umat sesuai dengan kedudukan dan fungsinya harus memberikan andil yang nyata dalam pelaksanaan karya katekese. Inkulturasi adalah merupakan usaha katekese agar disatu pihak iman dan agama Kristen dapat berakar pada kebudayaan dan seluruh hidup umat dan dilain pihak aneka macam kebudayaan dan penghayatan hidup umat konkrit dapat diangkat menjadi bentuk penghayatan iman Kristen. Orang Kristen hendaknya dapat menjadi orang Kristen seratus persen dan sekaligus menjadi anggota bangsanya seratus persen.

Page 7 of 18 | Total Record : 172