cover
Contact Name
Herin Setianingsih
Contact Email
herin.setianingsih@hangtuah.ac.id
Phone
+6282257037541
Journal Mail Official
putra.abdullah@hangtuah.ac.id
Editorial Address
Jl. Gadung no. 1 Komplek Barat RSAL dr. Ramelan Surabaya 60111 Jawa Timur
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Surabaya Biomedical Journal
Published by Universitas Hang Tuah
ISSN : -     EISSN : 2808649X     DOI : https://doi.org/10.30649/sbj.v1i1
Core Subject : Health, Science,
The scope of the journal includes: - marine medicine - hyperbaric medicine - general medicine - dentistry - nursing - related health sciences - pharmacy
Articles 78 Documents
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS EKSTRAK Sea sponge (Aplysina Fistularis) DAN KOMBINASI EKSTRAK Sea sponge (Aplysina Fistularis) DENGAN ANTIBIOTIK KLORAMFENIKOL TERHADAP BAKTERI Salmonella typhi PADA MEDIA AGAR SECARA IN VITRO -, Dhea Kharisma Ardelia
Surabaya Biomedical Journal Vol 3 No 3 (2024): Mei 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/sbj.v3i3.123

Abstract

Background : Typhoid fever is an infectious disease caused by Salmonella typhi bacteria. Multi Drug Resistance causes immunity to several antibiotics in the treatment of typhoid fever. Sea sponge (Aplysina fitularis) is one of the marine biota and contains compounds that function as antibacterials. Purpose : This study aims to determine the comparison of the effectiveness of Sea sponge extract (Aplysina fitularis) and the combination of Sea sponge extract (Aplysina fitularis) with chloramphenicol antibiotics against Salmonella typhi bacteria. Method : This research is a laboratory experimental research with posttest only control group design. There were four groups of extracts with concentrations of 25%, 50%, 75%, 100% and four groups of extract combinations with chloramphenicol with concentrations of 25%, 50%, 75%, 100% and two control groups, negative (DMSO 0.2%) and positive (chloramphenicol). Result : The average diameter of the inhibition zone with a concentration of 25%, 50%, 75%, 100% and negative control was 6.00 mm, the combination of Sea sponge extract (Aplysina fistularis) and chloramphenicol with a concentration of 25% was 25.95 mm, a concentration of 50% was 26.47 mm, a concentration of 75% was 28.74 mm, a concentration of 100% was 35.84 mm and positive control was 33.25 mm. Data analysis used Kruskal-Wallis test with p=0.001. Conclusion : The combination of Sea sponge extract (Aplysina fistularis) with chloramphenicol has greater effectiveness against Salmonella typhi compared with Sea sponge extract (Aplysina fistularis).
STUDI IN SILICO PENGARUH AKTIVITAS SENYAWA AKTIF HOLOTHURIN A DARI TERIPANG PASIR (Holothuria scabra) TERHADAP ENZIM PNEUMOLISIN PADA Streptococcus pneumoniae Mohtar, Riyanti Salma
Surabaya Biomedical Journal Vol 3 No 3 (2024): Mei 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/sbj.v3i3.127

Abstract

Latar Belakang : Pneumonia adalah infeksi jaringan paru akut yang disebabkan oleh patogen. Streptococcus pneumoniae merupakan patogen tersering penyebab pneumonia, faktor virulensi utama yang dimilikinya adalah pneumolisin (PLY), pore-forming sitotoksin yang dapat mengganggu jaringan epitel dengan membentuk mechanical barrier pada epitel saluran pernafasan. PLY bersifat sitotoksik terhadap sel epitel bronkial bersilia, pada konsentrasi lytic PLY akan menyebabkan kematian sel. Kematian sel epitel tersebut mempermudah infeksi pada jaringan paru-paru. Di Indonesia, sebagian besar penduduk masih meyakini penggunaan obat tradisional atau herbal sebagai metode pengobatan untuk berbagai jenis penyakit. Tujuan : Penelitian bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak teripang pasir (Holothuria scabra) sebagai terapi adjuvant antibakteri berdasarkan studi in silico. Metode : Penelitian ini menggunakan metode penelitian secara studi In Silico. In silico adalah metode penelitian yang memanfaatkan teknologi komputasi dan database untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Metode penelitian in silico ini memiliki beberapa keunggulan, seperti lebih cepat dan hemat biaya dalam memperoleh hasil. Salah satu contohnya adalah molecular docking. Molecular docking adalah metode komputasi yang digunakan untuk memprediksi interaksi antara dua molekul, yang pada akhirnya menghasilkan model pengikatan bagi keduanya. Studi in silico memiliki beberapa tahapan dalam pelaksanaannya, antara lain adalah pemilihan bahan senyawa aktif yang akan digunakan, potensi dari senyawa aktif yang telah dipilih, modelling senyawa aktif, molecular docking, perkiraan dari absorbsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi serta toksisitas dari senyawa aktif. Hasil : Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa holothurin a memiliki pengaruh terhadap PLY. Holothurin a mengikat di daerah yang berbeda dengan penicillin sebagai kontrol. Holothurin a berikatan dengan PLY lebih kuat dibanding penicillin. Holothurin a memiliki tingkat penyerapan dan permeabilitas kulit yang lebih baik dibandingkan dengan penicillin, holothurin a dan penicillin dapat di metabolisme dengan baik oleh hepar karena tidak menghambat CYP3A4 substrat. Holothurin a memiliki prediksi toksisitas ringan dan lebih baik dibanding penicillin. Kesimpulan : Senyawa aktif holothurin a dalam teripang pasir (Holothuria scabra) memiliki pengaruh terhadap enzim pneumolisin yang terdapat pada bakteri Streptococcus pneumoniae.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK TANAMAN KROKOT (Portulaca oleracea) TERHADAP HISTOPATOLOGI HEPAR TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) JANTAN GALUR WISTAR YANG DIINDUKSI PARASETAMOL setyagisna, naufal dzaki
Surabaya Biomedical Journal Vol 3 No 3 (2024): Mei 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/sbj.v3i3.138

Abstract

Parasetamol adalah obat analgesik dan antipiretik, bila digunakan dalam dosis berlebihan atau dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan efek toksik pada hepar dan dapat menyebabkan kematian sel atau nekrosis sel hepar. Ekstrak tanaman krokot (Portulaca oleracea) memiliki senyawa flavonoid yang merupakan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak tanaman krokot (Portulaca oleracea) terhadap gambaran histopatologi hepar tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur wistar yang diinduksi paracetamol. Penelitian ini merupakan eksperimental laboratoris dengan Post Test Only Control Group Design. Tedapat 3 kelompok hewan coba: kelompok kontrol negatif (K-) tanpa perlakuan, kontrol positif (K+) yang diberi parasetamol dosis 1000 mg/kgBB, dan kelompok perlakuan (P) yang diberi ekstrak tanaman krokot (Portulaca oleracea) dosis 400 mg/kgBB dan 45 menit kemudian diberi parasetamol dosis 1000 mg/kgBB. Penelitian dilakukan selama 14 hari dan pada hari ke 15 hewan coba dikorbankan dan dilakukan pemeriksaan histopatologi kerusakan tubuli korteks ginjal. Analisa data menggunakan Kruskall-Wallis dan uji Mann-Whitney U. Uji Mann-Whitney U menunjukkan perbedaan signifikan antara K(-) dengan K(+), dan K(+) dengan kelompok perlakuan (p=0,000) serta juga ada perbedaan yang signifikan antara kelompok K(-) dengan kelompok perlakuan. Pemberian ekstrak tanaman krokot (Portulaca oleracea) berpengaruh menurunkan skala kerusakan sel hepar pada tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur wistar yang diinduksi paracetamol
SINDROMA NEFROTIK RELAPS DENGAN ANEMIA PADA ANAK Firsiyanti, Aty; Nabiila, Alyaa; Millenia, Hava Ayu
Surabaya Biomedical Journal Vol 3 No 3 (2024): Mei 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/sbj.v3i3.139

Abstract

Introduction: Nephrotic syndrome is a kidney disease characterized by edema, hypoalbumin, hyperlipidemia, and massive proteinuria. The prevalence in children ranges from 2-7 cases per 100,000 children under 18 years of age and most experience relapse. The prognosis for nephrotic syndrome in which it relapses will increase the risk of other complications. Case report: A 4-year-old boy was diagnosed with nephrotic syndrome characterized by anasarca edema, hypoalbumin, hypercholesterolemia, and massive proteinuria. The patient was included in the relapsed nephrotic syndrome category because he had previously been diagnosed with nephrotic syndrome and had experienced remission. Currently, the therapy that has been given consists of bed rest, fluid restriction, administration of the diuretic furosemide and administration of the oral steroid prednisone again. In addition, the patient experienced anemia due to complications from nephrotic syndrome and a PRC transfusion was planned. Discussion: Nephrotic syndrome is a kidney disease that often occurs in children. The prevalence is 15 times more common in children than adults. As many as 60-70% will experience a relapse. Relapsing nephrotic syndrome requires longer duration of corticosteroid therapy. Anemia is one of the complications in relapsing nephrotic syndrome.
HUBUNGAN RIWAYAT BERAT BADAN LAHIR RENDAH DAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN KEJADIAN STUNTING ANAK USIA 24-59 BULAN DI POSYANDU BALITA WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANGKINGAN SURABAYA -, Herdy Primanda I.A
Surabaya Biomedical Journal Vol 4 No 1 (2024): September
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/sbj.v4i1.90

Abstract

Stunting adalah salah satu kondisi malnutrisi akibat kurangnya asupan zat gizi yang diperlukan anak, ditandai dengan salah satu indikator yaitu tinggi badan menurut umur kurang dari -2 SD. Stunting memberikan gambaran masalah gizi yang bersifat kronis. Stunting dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti nutrisi ibu, umur ibu, interval kelahiran, pendidikan orang tua, pendapatan keluarga, berat badan lahir dan riwayat pemberian ASI eksklusif. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara berat badan lahir rendah dan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan di posyandu balita wilayah kerja puskesmas Bangkingan Surabaya. Penelitian analitik observasional ini menggunakan desain cross-sectional dengan metode kuantitatif. Penentuan stunting dilakukan dengan pengukuran tinggi badan dan umur secara langsung kepada anak, sedang untuk mengetahui riwayat ASI eksklusif digunakan kuesioner kepada 59 ibu dari anak yang berusia 24-59 bulan yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas Bangkingan Surabaya. Untuk mengetahui riwayat BBLR digunakan buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak). Pemilihan sampel menggunakan metode purposive sampling. Analisis bivariate yang digunakan adalah contingency coefficient. Hasil penelitian yang dilakukan pada 59 responden didapatkan anak yang mengalami stunting sebanyak 9 anak, anak yang mendapatkan ASI eksklusif sebanyak 50 anak dan memiliki riwayat BBLR sebanyak 7 anak. Berdasarkan hasil uji contingency coefficient tidak ada hubungan signifikan antara berat badan lahir rendah dengan stunting (p=0,297) dan antara pemberian ASI eksklusif dengan stunting (p=0,707).Tidak ada hubungan antara berat badan lahir rendah dan pemberian ASI eksklusif dengan stunting pada anak usia 24-59 bulan di posyandu balita wilayah kerja puskesmas Bangkingan Surabaya.
POTENSI FUKOIDAN PADA TERIPANG (Holothuroidea) SEBAGAI AGEN ANTIKANKER Pratama, Ramadhani Yoga
Surabaya Biomedical Journal Vol 4 No 1 (2024): September
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/sbj.v4i1.100

Abstract

Kanker adalah kelainan dengan multifaktorial kompleks dan dapat menyebabkan angka kematian yang tinggi sehingga membuat kanker menjadi ancaman serius. Berbagai upaya dilakukan untuk menangani kasus kanker salah satunya adalah dengan kemoterapi. Akantetapi kemoterapi juga dapat melukai sel sehat seperti sel darah, sel kulit dan sel pencernaan. Pendekatan terapi baru yang tidak menimbulkan efek samping diperlukan. Salah satunya adalah terapi berbasis bahan alam yaitu fukoidan pada teripang. Bukti yang berkembang menunjukkan bahwa fukoidan memiliki efek antikanker. Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi fukoidan pada teripang sebagai agen antikanker. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah studi literatur. Hasil yang diperoleh mengenai efektifitas potensi dari fukoidan sebanyak 15 jurnal ilmiah dengan topik yang relevan didapat dari PubMed. Fukoidan sendiri berinteraksi dengan berbagai jalur seluler terkait kanker. Jalur yang dilaporkan paling penting adalah jalur PI3K/Akt dan MAPK/ERK. Mekanisme dari fukoidan sendiri dengan cara menghambat fosforilasi jalur PI3K/Akt dan MAPK/ERK yang menghasilkan apoptosis, menghambat proliferasi, aktivitas antiangiogenik, menurunkan viabilitas, menekan kapasitas migrasi dan invasif pada sel kanker.
PENGARUH LATIHAN RENANG INTENSITAS SUBMAKSIMAL TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS PUTIH BETINA KELOMPOK TERLATIH DAN TIDAK TERLATIH Alexander, Michael; Dagradi, Eric Mayo; Andisari, Hendrata Erry
Surabaya Biomedical Journal Vol 4 No 1 (2024): September
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/sbj.v4i1.118

Abstract

Olahraga adalah kegiatan fisik yang dilakukan untuk meningkatkan kesehatan tubuh. Dengan meningkatnya jumlah masyarakat yang berolahraga, penting untuk memahami batasan intensitas olahraga yang dilakukan. Intensitas olahraga yang melampaui kemampuan tubuh akan menyebabkan munculnya stres oksidatif. Stres oksidatif akan menimbulkan berbagai masalah fisiologis tubuh, termasuk metabolisme glukosa. Jenis penelitian adalah eksperimental laboratoris. Tikus putih (Rattus norvegicus) betina galur Wistar usia 2 bulan dengan berat badan 180-200 gram dikelompokkan ke dalam 5 kelompok melalui teknik random sampling. K1 merupakan kontrol, K2 diberi latihan setiap hari selama 2 minggu, K3 diberi latihan sekali seminggu selama 2 minggu, K4 diberi latihan setiap hari selama 2 minggu, dan K5 diberi latihan sekali seminggu selama 2 minggu. Semua kelompok setelahnya diistirahatkan selama 1 minggu. K1, K2, dan K3 tidak diberi intervensi. K4 dan K5 diberi intervensi latihan submaksimal 85% rerata waktu tenggelam pertama. Penelitian diterminasi dan dilakukan pengambilan sampel untuk pengujian kadar glukosa darah acak. Hasil kadar glukosa darah acak diolah statistik dengan uji parametrik one-way Anova dan uji post hoc LSD. Hasil kadar glukosa darah (K1) 127,8 mg/dL, (K2) 133,4 mg/dL, (K3) 186,4 mg/dL, (K4) 160,6 mg/dL, dan (K5) 140,6 mg/dL. Uji one-way Anova menunjukkan perbedaan signifikan (p<0,05). Uji post hoc LSD menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok terlatih dengan intervensi dan tidak terlatih dengan intervensi (p>0,05). Intervensi latihan submaksimal setelah istirahat satu minggu pada kelompok terlatih dan tidak terlatih dengan latihan submaksimal tidak memiliki pengaruh terhadap kadar glukosa darah tikus putih (Rattus norvegicus) betina galur Wistar.
Tantangan dan Solusi Terkini dalam Penanganan Penyakit Menular Putri, Titania
Surabaya Biomedical Journal Vol 4 No 1 (2024): September
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/sbj.v4i1.145

Abstract

Infectious disease management continues to face various dynamic challenges along with environmental changes, human travel patterns, and the emergence of new pathogens. This study aims to analyze and identify current challenges and the solution in infectious disease management through a literature review method. The review covered scientific literature from various relevant sources, including journals, books, and reports from international health organizations. The results of this study show that the main challenges include antimicrobial resistance, and lack of health infrastructure in some regions. In addition, global issues such as climate change and urbanization exacerbate the situation by increasing the risk of disease spread. The study also found that international collaboration, innovations in medical technology, and increased public awareness and education are key to overcoming these challenges. In conclusion, addressing infectious diseases requires a multidisciplinary and cross-sectoral approach to improve the global response to evolving health threats.
PROFIL KASUS KULIT DI PUSKESMAS TENGGILIS PERIODE JANUARI-APRIL 2024 Al Abdul, Teo
Surabaya Biomedical Journal Vol 4 No 1 (2024): September
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/sbj.v4i1.146

Abstract

Objective: To provide an overview of the profile of skin disease cases at the Tenggilis Health Center for the period January-April 2024. Methods: This study is a quantitative descriptive study using medical record data from all patients with skin diseases who underwent treatment at the Tenggilis Health Center for the period January-April 2024. Results: Based on research conducted at the Tenggilis Health Center in the period January-April 2024, 568 patients were obtained with a gender distribution of 233 male patients (41%) and 335 female patients (59%), the distribution of the largest age category was 15- 44 years with 189 cases (33%), the distribution of the largest skin disease category was dermatitis with 302 cases (53%). Conclusion: Based on research conducted at the Tenggilis Health Center for the period January-April 2024, it was found that skin diseases most often occur in women. While 15-44 years old is the largest age category for skin diseases. Dermatitis is the most common skin disease.
Atrial Septal Defect Hakim, An Nahl Aulia; Adnaya, Anak Agung Ngurah Maheza; Prasetyo, Ananda Bangun; Pikir, Rizqi Rokhmadhoni; Diarsvitri, Wienta; Suhadi, Ananda Rizki; Dita, Anastasia
Surabaya Biomedical Journal Vol 4 No 1 (2024): September
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/sbj.v4i1.147

Abstract

Background: Atrial Septal Defect (ASD) is one of the most common congenital heart diseases, occurring in about 25% of children and accounting for 6-10% of all congenital heart conditions. ASD is more frequently observed in females with a ratio of 2:1 and often does not show symptoms in infants, unless there is an increase in right ventricular volume. Case Report: A 7-year-old girl was referred with complaints of shortness of breath and cyanosis at the fingertips, accompanied by palpitations. Initial diagnosis was established through physical examination and echocardiography, which revealed a secundum ASD measuring 1.9 cm. The ASD closure surgery was performed but had to be halted due to intraoperative bradycardia. The patient then underwent subsequent therapy with Lisinopril and Spironolactone and was in good condition at the last follow-up. Discussion: Management of ASD, whether through surgical or catheter-based intervention, is recommended to prevent further complications such as paradoxical embolism and pulmonary hypertension. This case underscores the importance of timely diagnosis and treatment to prevent long-term health impacts in patients with ASD.