cover
Contact Name
Fikri Mahmud
Contact Email
jurnal.alqudwah@uin-suska.ac.id
Phone
+6281371668324
Journal Mail Official
jurnal.alqudwah@uin-suska.ac.id
Editorial Address
Gedung Fakultas Ushuluddin UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Jl. H.R. Soebrantas No. 155 KM 18, Simpang Baru Panam, Pekanbaru 28293 PO.Box. 1004 Telp. 0761-562051 Fax. 0761-562051
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Al-Qudwah: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hadis
Core Subject : Religion, Social,
Al-Qudwah is a journal published by the Quran and Tafsir Science Study Program and the Hadith Science Study Program, Faculty of Ushuluddin, State Islamic University Sultan Syarif Kasim Riau. The journal Al-Qudwah is published twice a year in January-June and July-December. Al-Qudwah is a journal that contains articles and scientific works about Quranic and Hadith Studies, Contemporary Quranic Exegesis Studies, and Quranic Manuscripts Studies.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2025): December" : 7 Documents clear
Dimensi Teologis-Praktis Prinsip al-Asma’ dalam Surah Hud Ayat 123: Upaya Kontekstualisasi Moderasi Beragama di Indonesia Akib, Moh; Najih, Moh Ghundar
Al-Qudwah Vol 3, No 2 (2025): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v3i2.36156

Abstract

This article aims to investigate the principle of al-Asma’ in the Qur’an, with particular focus on Surah Hud, verse 123, and to contextualize it within the framework of religious moderation in Indonesia. The principle of al-Asma’ underscores that the names of Allah encompass complementary meanings that can guide the attainment of equilibrium between theological understanding and practical life. This study aims to situate the principle as a response to contemporary challenges confronting religious moderation, including social polarization, radicalism, and interreligious conflict. Methodologically, the research employs a thematic exegesis (tafsir maudhu‘i) approach combined with semiotic analysis, integrating textual interpretation of the Qur’an with the socio-religious realities of Indonesia. Primary data are drawn from the analysis of pertinent Qur’anic verses, classical and contemporary exegetical literature, as well as empirical studies concerning the practice of religious moderation within society. The findings indicate that a comprehensive understanding of the names of Allah in Surah Hud [11]:123 can provide a conceptual framework for advancing religious moderation. The singular meaning of Allah’s name affirms His oneness and sovereignty, while paired attributes such as Al-‘Aziz and Al-Hakim exemplify a balance between justice and wisdom. This interpretation supports the cultivation of a social ethic rooted in tolerance, empathy, and peaceful coexistence among religious communities. This study contributes to bridging theological exegesis and social praxis by positioning the principle of al-Asma’ as a foundational framework for preachers, educators, and policymakers to develop an inclusive and contextually relevant Islamic narrative that addresses the dynamics of religious life in Indonesia.Abstrak: Artikel ini bertujuan mengkaji kaidah al-Asma’ dalam Al-Qur’an, khususnya sebagaimana termaktub dalam Surah Hud ayat 123, dengan mengaitkannya pada konteks moderasi beragama di Indonesia. Prinsip al-Asma’ menegaskan bahwa nama-nama Allah memiliki makna yang saling melengkapi dan dapat dijadikan pedoman dalam membangun keseimbangan antara teologi dan praksis kehidupan. Penelitian ini berupaya mengontekstualisasikan prinsip tersebut sebagai respon terhadap tantangan moderasi beragama, seperti polarisasi sosial, radikalisme, dan konflik antarumat beragama. Metode yang digunakan adalah pendekatan tafsir tematik dengan analisis semiotik, yang memadukan telaah teks Al-Qur’an dengan realitas sosial keagamaan di Indonesia. Data utama diperoleh dari analisis ayat-ayat relevan, literatur tafsir klasik dan kontemporer, serta studi empiris terkait praktik moderasi beragama di masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman komprehensif terhadap nama-nama Allah dalam Surah Hud ayat 123 dapat menjadi basis konseptual bagi moderasi beragama. Makna tunggal dari nama Allah menegaskan aspek keesaan dan kekuasaan-Nya, sedangkan makna gandengan seperti Al-‘Aziz dan Al-Hakim mencerminkan keseimbangan antara keadilan dan kebijaksanaan. Pemaknaan ini mendorong pembentukan etika sosial yang menekankan toleransi, empati, dan koeksistensi damai antarumat beragama. Kontribusi penelitian ini terletak pada upayanya menjembatani tafsir teologis dan praksis sosial, menjadikan prinsip al-Asma’ sebagai landasan bagi para dai, pendidik, dan pembuat kebijakan dalam mengembangkan narasi keislaman yang inklusif dan kontekstual terhadap dinamika keberagamaan di Indonesia.
Literasi Digital Qur’ani: Integrasi Konsep Laghw dan Tadabbur dalam Menghadapi Brain Rot di Era Digital Arsyad, Muhammad; Bashori, Bashori; Nadhiroh, Wardatun
Al-Qudwah Vol 3, No 2 (2025): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v3i2.36248

Abstract

This study aims to construct a digital literacy model grounded in Qur’anic epistemology as a response to the phenomenon of brain rot, defined as cognitive deterioration resulting from excessive exposure to superficial digital content. This issue presents a significant threat to the intellectual and spiritual well-being of society in the contemporary information age. Current digital literacy frameworks predominantly focus on technical competencies, often overlooking the epistemological and spiritual dimensions, thereby necessitating a more comprehensive and integrative approach. Employing a qualitative methodology based on library research and a descriptive-analytical approach, this study analyzes classical and contemporary Qur’anic exegeses (tafsīr) related to the concepts of Laghw (futility) and Tadabbur (deep reflection). These concepts are critically examined through an interdisciplinary lens incorporating insights from neuroscience, psychology, and media studies. The findings indicate that Laghw provides a diagnostic framework for understanding the cognitive and spiritual underpinnings of brain rot, whereas Tadabbur offers an epistemic remedy aimed at revitalizing reflective thought and enhancing self-regulation. The integration of these concepts culminates in the formulation of the “Qur’anic Digital Literacy Model,” which is structured around three fundamental pillars: Tabayyun Digital (information verification), Adab Digital (digital ethics), and Mujāhadah al-Nafs (self-restraint). This model aspires to cultivate the Ulu al-Albab personality type individuals who exemplify both knowledge and virtue. Theoretically, this framework contributes to the discourse on digital literacy from an Islamic epistemological perspective; practically, it offers actionable strategies for educators, parents, and individuals to promote healthier and more meaningful interactions with digital technology.Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengonstruksi model literasi digital yang berakar pada epistemologi Qur’ani untuk merespons fenomena brain rotyakni degradasi kognitif akibat paparan berlebihan terhadap konten digital yang dangkal. Fenomena ini menjadi ancaman serius bagi kualitas intelektual dan spiritual masyarakat di era informasi global. Pendekatan literasi digital yang ada sering kali hanya menekankan aspek teknis, tanpa menyentuh akar persoalan pada dimensi epistemologis dan spiritual, sehingga diperlukan paradigma alternatif yang lebih komprehensif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan pendekatan deskriptif-analitis. Analisis dilakukan terhadap korpus tafsir klasik dan kontemporer terkait konsep Laghw (kesia-siaan) dan Tadabbur (perenungan mendalam), kemudian didialogkan secara kritis dan interdisipliner dengan literatur modern dari bidang neurosains, psikologi, dan studi media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep Laghw dapat berfungsi sebagai kerangka diagnosis untuk memahami akar krisis kognitif dan spiritual dalam fenomena brain rot, sementara Tadabbur dapat difungsikan sebagai terapi epistemik untuk merevitalisasi daya pikir reflektif serta memperkuat regulasi diri. Sintesis dari kedua konsep ini melahirkan “Model Literasi Digital Qur’ani” yang terdiri dari tiga pilar utama: Tabayyun Digital (verifikasi informasi), Adab Digital (etika interaksi daring), dan Mujahadah an-Nafs (pengendalian diri). Model ini diarahkan untuk membentuk kepribadian Ulu al-Albab sebagai ideal manusia berpengetahuan dan berakhlak. Secara teoretis, model ini memperkaya wacana literasi digital berbasis nilai Islam, dan secara praktis memberikan panduan aplikatif bagi pendidik, orang tua, serta individu dalam membangun interaksi teknologi yang sehat dan bermakna.
Rekonstruksi Makna Ayat-ayat Perang dalam Al-Qur’an: Analisis Tafsir Maqāṣidī terhadap Misinterpretasi Kelompok Terorisme Pratama, Aziz Bashor; Rakman Hakim, Moh. Arif
Al-Qudwah Vol 3, No 2 (2025): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v3i2.36920

Abstract

This study aims to reveal the true meaning (maqāṣid) of Qur’anic verses frequently misinterpreted as endorsing violence and terrorism, particularly those pertaining to war (qitāl) and jihad, including QS. al-Baqarah [2]:190–193 and 216, QS. an-Nisā’ [4]:75, QS. al-Mā’idah [5]:33 and 64, QS. al-Anfāl [8]:39 and 57, QS. at-Tawbah [9]:5, 13, 29, and 36, and QS. al-Ḥajj [22]:39 and 78. Misapprehensions regarding the contextual background of these verses have contributed to radical ideologies that justify violence under the guise of religion. This research endeavors to construct a counter-narrative through the tafsīr maqāṣidī approach, aiming to restore the Qur’an’s universal message of mercy and justice. Employing a qualitative methodology, the study utilizes the tafsīr maqāṣidī framework through four analytical stages: First, consideration of all aspects of public interest (maṣlaḥah), second, thematic organization of the verses, third, semantic and historical analysis, and fourth, contextualization of interpretations within contemporary intellectual and social dynamics. The findings indicate that the terrorists’ misinterpretations of Qur’anic verses are fundamentally at odds with the maqāṣid al-Qur’an, which prioritizes human welfare and compassion. The tafsīr maqāṣidī approach reveals that the Qur’anic injunctions concerning war are defensive, aimed at upholding justice and resisting oppression rather than initiating aggression. The authentic vision and mission of Islam, as demonstrated, is to extend mercy to all creation, irrespective of race, ethnicity, or nationality. This study contributes to the discourse on deradicalization by asserting that efforts should extend beyond correcting religious interpretations to include cross-sectoral education encompassing social, political, economic, and media domains to achieve sustainable peace.Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengungkap makna sejati (maqāṣid) dari ayat-ayat Al-Qur’an yang sering disalahpahami sebagai legitimasi tindakan kekerasan dan terorisme, khususnya ayat-ayat tentang perang (qitāl) dan jihad seperti QS. al-Baqarah [2]:190–193 dan 216, QS. An-Nia’ [4]: 75, QS. Al-Maidah [5]: 33 dan 64, QS. Al-Anfal [8], 39 dan 57, QS. at-Taubah [9]:5, 13, 29, dan 36, dan QS. al-Hajj [22]: 39, 78. Kesalahan dalam memahami konteks ayat-ayat tersebut telah melahirkan ideologi radikalisme yang menjustifikasi kekerasan atas nama agama. Penelitian ini berupaya membangun kontra-narasi melalui pendekatan tafsīr maqāṣidī untuk mengembalikan pesan universal Al-Qur’an sebagai sumber rahmat dan keadilan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan tafsīr maqāṣidī melalui empat tahapan analisis: Pertama,  mempertimbangkan seluruh aspek kemaslahatan; kedua,  mengelompokkan ayat secara tematik; ketiga, menganalisis secara semantik dan historis, serta keempat, mengontekstualisasikan hasil tafsir dengan dinamika keilmuan dan sosial kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa misinterpretasi kelompok terorisme terhadap ayat-ayat Al-Qur’an bertentangan dengan maqāṣid al-Qur’an yang menekankan kemaslahatan dan kemanusiaan. Melalui pendekatan tafsīr maqāṣidī, ditemukan bahwa perintah perang dalam Al-Qur’an bersifat defensif, ditujukan untuk menegakkan keadilan dan melawan kezaliman, bukan untuk menyerang. Visi dan misi Islam sejatinya membawa rahmat bagi seleruh alam semesta tidak memandang ras, suku, bangsa dan bentuknya. Kontribusi penelitian ini menegaskan bahwa deradikalisasi harus dilakukan tidak hanya melalui interpretasi keagamaan yang benar, tetapi juga melalui edukasi lintas sektor sosial, politik, ekonomi, dan media demi terwujudnya perdamaian. 
Kesahihan Hadis dalam Paradigma Bayani, Burhani, dan ‘Irfani: Telaah atas Epistemologi al-Ghazali Al Anwari, Ahmad Ubaidillah Ma'sum; Jannah, Safri Nur
Al-Qudwah Vol 3, No 2 (2025): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v3i2.37237

Abstract

The issue of hadith authenticity remains a pivotal subject within both classical and contemporary Islamic scholarship. The lack of standardized methods of transmission during the early Islamic period, coupled with the extensive misuse of hadiths for political and ideological objectives, has introduced significant challenges in assessing their validity. A prominent figure frequently examined in this context is Abu Hamid al-Ghazali, particularly regarding his approach to hadith transmission in Ihya’ ‘Ulum al-Din, which often omits a complete chain of narration (sanad). Critics among hadith scholars contend that al-Ghazali incorporated weak (dha‘if) or even fabricated (maudhu‘) traditions, whereas Sufi scholars and intellectuals defend his methodology, highlighting his spiritual perspective and comprehensive moral framework. This study utilizes a qualitative methodology grounded in library research, employing a descriptive-analytical approach. The data are derived from both primary and secondary sources pertaining to al-Ghazali’s thought, as well as classical and contemporary ulūm al-ḥadīth literature. The analysis is framed within the epistemological constructs of bayani, burhani, and irfani, as articulated by Abid al-Jabiri. The findings reveal that al-Ghazali did not reject scientific methods in hadith studies; rather, he integrated these methods with spiritual dimensions. His adherence to the principles of sanad and the moral integrity of transmitters exemplifies the bayani approach; his rational evaluation of transmission validity reflects the burhani dimension; and his acceptance of spiritual intuition (kashf and liqā’ al-nabi) as a means of verification—provided it does not contradict Sharia—embodies the irfani approach. Consequently, al-Ghazali’s conception of hadith authenticity constitutes an epistemological synthesis of scientific objectivism and spiritual subjectivism.Abstrak: Problematika autentisitas hadis merupakan isu sentral dalam kajian Islam klasik maupun kontemporer. Tidak adanya standarisasi periwayatan pada masa awal Islam serta maraknya penyalahgunaan hadis untuk kepentingan politik dan ideologis menimbulkan kompleksitas dalam menentukan validitas hadis. Salah satu tokoh yang kerap menjadi sorotan dalam isu ini adalah Abu Hamid al-Ghazali, terutama terkait metode periwayatan hadis dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din yang tidak selalu mencantumkan sanad secara lengkap. Kritik dari kalangan ahli hadis menuduh al-Ghazali memasukkan hadis dha‘if bahkan maudhu‘, sementara kalangan sufi dan intelektual membelanya dengan menekankan pendekatan spiritual dan moralitas substansial yang diusungnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data diperoleh dari karya-karya primer dan sekunder terkait pemikiran al-Ghazali serta literatur ulūm al-ḥadīṡklasik dan modern. Analisis dilakukan dengan menggunakan kerangka epistemologi bayani, burhani, dan irfani sebagaimana dirumuskan oleh Abid al-Jabiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Ghazali tidak menolak metode ilmiah dalam kajian hadis, melainkan mengintegrasikannya dengan dimensi spiritual. Komitmennya terhadap prinsip sanad dan keadilan perawi mencerminkan pendekatan bayani; rasionalisasi terhadap validitas riwayat memperlihatkan aspek burhani; sedangkan penerimaan terhadap intuisi rohani (kashf dan liqā’ al-nabi) sebagai sarana verifikasi selama tidak bertentangan dengan syariat—menunjukkan pendekatan irfani. Berdasarkan hal di atas, konstruksi kesahihan hadis dalam pandangan al-Ghazali merupakan sintesis epistemologis antara objektivisme ilmiah dan subjektivisme spiritual.
Menelisik Tafsir Ibnu Katsir dalam Mushaf Aisyah: Studi Wacana atas Reproduksi Nalar Patriarkis dalam Terjemahan Al-Qur’an untuk Wanita Fathassururi, Fathassururi; Rahman, Fathur; Lismana, Ilman; In, Khurin; Nadia, Intan
Al-Qudwah Vol 3, No 2 (2025): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v3i2.30399

Abstract

This study aims to examine the process of women’s objectification and the perpetuation of patriarchal reasoning within the Mushaf Aisyah, with particular emphasis on the intertextual relationship between Tafsir Ibn Kathir and the Qur’anic verses highlighted in pink. The primary research questions investigate the patterns and mechanisms through which patriarchal interpretations are transmitted from Tafsir Ibn Kathir into the Mushaf Aisyah, as well as the degree to which its summarized exegeses reproduce or transform classical conceptions of women’s roles and status in Islam. Employing a qualitative methodology grounded in library research, the study utilizes a descriptive-analytical and intertextual approach. The data sources include the Mushaf Aisyah, Tafsir Ibn Kathir, and both classical and contemporary literature on Qur’anic exegesis and gender studies. The analysis centers on verses pertaining to women marked in pink addressing themes such as creation, leadership, inheritance, and social status. The findings indicate that the Mushaf Aisyah reproduces and reinforces patriarchal reasoning through selective citation and gender-biased interpretation derived from Tafsir Ibn Kathir. The transmission mechanisms manifest in three forms: First, symbolic highlighting of women-related verses in pink, second, citation of classical commentary without critical reinterpretation, and third, incorporation of female-related hadiths from Bukhari and Muslim. The study concludes that the Mushaf Aisyah emphasizes symbolic feminine aesthetics rather than critically challenging entrenched patriarchal biases. This study theoretically advances the discourse on gender exegesis and contemporary Qur’anic manuscript studies in Indonesia by elucidating the ideological underpinnings associated with the commodification of sacred texts.Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis proses objektivasi perempuan dan reproduksi nalar patriarkis dalam Mushaf Aisyah, khususnya melalui intertekstualitas antara Tafsir Ibnu Katsir dan ayat-ayat yang diberi penanda warna merah muda. Pertanyaan utama yang dikaji adalah bagaimana pola dan mekanisme transmisi nalar patriarkis dari Tafsir Ibnu Katsir ke dalam Mushaf Aisyah, serta sejauh mana ringkasan tafsir tersebut mereproduksi atau memodifikasi pemahaman klasik tentang peran dan kedudukan perempuan dalam Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan pendekatan deskriptif-analitis dan analisis intertekstual. Data dikumpulkan dari Mushaf Aisyah, Tafsir Ibnu Katsir, serta literatur tafsir dan studi gender kontemporer. Analisis difokuskan pada ayat-ayat bertema perempuan yang ditandai dengan warna merah muda, mencakup isu penciptaan, kepemimpinan, kewarisan, dan kedudukan sosial perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mushaf Aisyah mereproduksi dan memperkuat nalar patriarkis melalui seleksi ayat dan interpretasi yang bias gender dari Tafsir Ibnu Katsir. Mekanisme transmisinya tampak dalam tiga bentuk:Pertama,  penandaan simbolik ayat bertema perempuan dengan warna merah muda, kedua, pengutipan ringkasan tafsir klasik tanpa reinterpretasi kritis, dan ketiga, penyisipan hadis-hadis perempuan dari riwayat Bukhari-Muslim. Penelitian ini menegaskan bahwa Mushaf Aisyah lebih menampilkan estetika femininitas simbolik daripada menghadirkan dekonstruksi terhadap bias patriarkis yang telah mapan. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada kajian tafsir gender dan studi mushaf kontemporer di Indonesia dengan mengungkap dimensi ideologis di balik komodifikasi teks suci.
The Historical Distinction between the Qur’an and Hadith: A Critical Examination of John Wansbrough’s Revisionist Perspective by Fred M. Donner Zulfikar, Eko; Zain, Zaki Faddad Syarif; Aini, Adrika Fithrotul; Hafizh, Azhar Amrullah
Al-Qudwah Vol 3, No 2 (2025): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v3i2.37551

Abstract

This article aims to critically examines the distinction between the Qur’an and Hadith in response to John Wansbrough’s revisionist-skeptical perspective on the origins of the Qur’an. Wansbrough argued that both corpora emerged from the same “sectarian” milieu and developed within a nearly identical historical timeframe. The present study addresses two primary questions: how Fred M. Donner conceptualizes the distinction between the Qur’an and Hadith, and how his arguments challenge Wansbrough’s theoretical framework. Employing a qualitative methodology with a descriptive-analytical approach, this research analyzes the principal works of both scholars to compare their arguments from textual and historical perspectives. The findings indicate that Wansbrough’s thesis lacks a robust historical foundation, as six key aspects religious and political authority, portrayals of the Prophet’s contemporaries, elements of anachronism, narratives of earlier prophets, depictions of Prophet Muhammad, and descriptions of ritual prayer reveal significant differences between the Qur’an and Hadith. These results support the conclusion that the Qur’an did not originate from the same sectarian environment as the Hadith but emerged in an earlier and distinct historical context. Consequently, the Qur’an is understood to have preceded the Hadith both chronologically and in terms of codification. This article contributes to clarifying the independence and authenticity of the Qur’an as the earliest and primary source of Islamic teaching, while enriching textual-historical scholarship in response to Western revisionist discourse concerning the origins of Islamic scripture. Abstrak: Artikel ini bertujuan mengkaji secara kritis perbedaan (distingsi) antara al-Qur’an dan hadis sebagai respons terhadap pandangan revisionis-skeptis John Wansbrough mengenai asal-usul al-Qur’an. Wansbrough menilai bahwa kedua korpus tersebut lahir dari lingkungan “sektarian” yang sama dan terbentuk dalam periode historis yang hampir bersamaan. Penelitian ini berupaya menjawab dua pertanyaan utama: bagaimana Fred M. Donner memandang distingsi antara al-Qur’an dan hadis, serta bagaimana sanggahannya terhadap konstruksi pemikiran Wansbrough. Menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif-analitis, penelitian ini menelaah karya-karya utama kedua tokoh tersebut untuk membandingkan argumentasi mereka secara tekstual dan historis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandangan Wansbrough tidak memiliki dasar yang kuat secara historis, sebab enam aspek utama, yakni otoritas agama dan politik, gambaran tentang masyarakat sezaman Nabi, unsur anakronisme, kisah para nabi terdahulu, representasi Nabi Muhammad, dan deskripsi tentang ritual salat menunjukkan perbedaan yang signifikan antara al-Qur’an dan hadis. Temuan ini menegaskan bahwa al-Qur’an tidak berasal dari lingkungan sektarian yang sama dengan hadis, melainkan memiliki konteks dan kronologi kemunculan yang lebih awal. Al-Qur’an diyakini muncul lebih dahulu dibandingkan hadis, baik secara kronologis maupun dalam proses kodifikasinya. Artikel ini berkontribusi dalam memperjelas independensi dan keotentikan al-Qur’an sebagai sumber ajaran Islam, sekaligus memperkaya kajian tekstual-historis dalam menghadapi wacana revisionisme Barat terhadap asal-usul dua korpus Islam.
Biblical Intertextual Strategies in “The Study Quran: A New Translation and Commentary”—An Analysis of Presentation Forms in Contemporary Qur’anic Exegesis Andesra, Aan; Yulianda, Reno
Al-Qudwah Vol 3, No 2 (2025): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v3i2.37995

Abstract

Cross-scriptural exegesis, a classical yet not fully normalized practice, has become central to contemporary Qur’anic studies. Seyyed Hossein Nasr et al.’s The Study Quran: A New Translation and Commentary exemplifies this shift by creating intertextual dialogue across scriptures to emphasize narrative and theological continuity. This study examines how the Bible in The Study Quran especially regarding Qur’an 12:23–42, which covers feminine temptation and the prisoners’ dreams is presented not just narratively but through a systematic, scholarly approach. The researcher applies Julia Kristeva’s theory of intertextuality and Mikhail Bakhtin’s dialogic theory (heteroglossia and carnivalesque), using a qualitative-textual method based on library sources. The findings reveal that intertextuality in the verses encompasses narrative (Q. 12:23–35, 36–42), legal (Q. 12:25, 36), and semiotic (Q. 12:36, 41) dimensions. The intertextual models include references (Q. 12:36), explanations (Q. 12:23), comparisons (Q. 12:23, 25, 35–38, 41, 42), and critiques (Q. 12:37–40). These forms create an analytical-comparative work aligned with its dialogical purpose, while upholding the Qur’an’s hierarchical authority over the Bible within a theological framework. From a dialogic view, the multiple voices the Qur’an (proton), the exegete (neutron), and the Bible (electron) reflect a carnivalesque dynamic. Abstrak: Fenomena tafsir lintas kitab merupakan praktik klasik yang belum sepenuhnya dinormalisasikan, tetapi kini menjadi jantung diskursus studi al-Qur’an kontemporer. Karya Seyyed Hossein Nasr dkk., The Study Quran: A New Translation and Commentary, merefleksikan pergeseran ini dengan membangun dialog intertekstual lintas kitab guna menyoroti kesinambungan naratif dan teologis. Penelitian ini bertujuan menelaah bagaimana Bibel dalam The Study Quran, khususnya pada QS. Yūsuf: 23–42 yang berkaitan dengan kisah godaan perempuan dan tafsir mimpi narapidana tidak sekadar dikutip secara naratif, tetapi dihadirkan melalui strategi ilmiah yang sistematis. Dalam konteks ini, peneliti menggunakan teori intertekstualitas Julia Kristeva (intrinsik) dan teori dialogis Mikhail Bakhtin (heteroglossia dan carnivalesque). Adapun metode yang digunakan ialah kualitatif-tekstual dengan memanfaatkan sumber-sumber kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ragam bentuk interteks terkait tema ayat memuat kisah (QS. Yūsuf: 23-35 dan 36-42), hukum (QS. Yūsuf: 25 dan 36), dan semiotik (QS. Yūsuf: 36 dan 41). Terkait model intertekstual memuat rujukan (QS. Yūsuf: 36), penjelasan (QS. Yūsuf: 23), perbandingan (QS. Yūsuf: 23, 25, 35, 36, 37, 38, 41, dan 42), dan kritik (QS. Yūsuf: 37-40). Ragam bentuk interteks tersebut menjadikannya sebagai bentuk yang bersifat analitis-komparatif, hal ini senada dengan tujuan pengaplikasian dalam rangka membangun dialog, walau dalam konsep teologi tetap memuat hirarki otentisitas al-Qur’ān dibanding Bibel. Jika dilihat dalam kacamata dialogis menunjukkan keberagaman bentuk suara proton (al-Qur’ān), suara neutron (mufasir), dan suara elektron (Bibel) dapat menggambarkan karnivalistik.

Page 1 of 1 | Total Record : 7