cover
Contact Name
Chrest Thessy Tupamahu
Contact Email
jurnalmakarios@gmail.com
Phone
+6282334056053
Journal Mail Official
i3jurnal@gmail.com
Editorial Address
Jl. Indragiri No.5
Location
Kota batu,
Jawa timur
INDONESIA
Makarios: Jurnal Teologi Kontekstual
ISSN : 28299124     EISSN : 28299132     DOI : https://doi.org/10.52157/mak
Jurnal Makarios merupakan wadah publikasi ilmiah dari hasil penelitian Teologi Kontekstual yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M), Institut Injil Indonesia. Jurnal Makarios menerima artikel dari semua dosen, mahasiswa, dan alumni di lingkungan Sekolah Tinggi Teologi, maupun institusi lain yang memiliki bidang kajian yang sama. Artikel yang dikirim haruslah belum pernah atau tidak sedang dalam proses dimuat dalam jurnal lainnya. Artikel yang masuk harus sesuai dengan petunjuk penulisan atau format yang telah ditetapkan. Editor akan menolak artikel yang tidak memenuhi persyaratan tanpa proses lebih lanjut. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer melalui proses blind-review. Focus dan Scope Jurnal Makarios, yaitu: Teologi Kontekstual, Teologi Penginjilan, Teologi Kontemporer, Kontekstualisasi Misi, Antropologi Budaya, dan Sosiologi Agama. Jurnal Makarios terbit dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan Mei dan November, serta menyediakan akses terbuka langsung ke isinya (content).
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 4 No 1 (2025): Mei" : 5 Documents clear
Analisis Terhadap Konsep Kerajaan Seribu Tahun Kaum Premilenialisme Historis dan Implikasinya Bagi Spiritualitas Orang Percaya Masa Kini Polan, Sevior Sampe; Mangaronda, Isaac Van Samuel; Martoni, Martoni
Makarios: Jurnal Teologi Kontekstual Vol 4 No 1 (2025): Mei
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/mak.v4i1.322

Abstract

Akhir zaman adalah isu yang menarik dan menimbulkan multi tafsir, terutama mengenai Kerajaan Seribu tahun. Ada 4 pandangan besar mengenai Kerajaan Seribu Tahun, yaitu: Amilenialisme, Premilenialisme Historis, Dispensasional, dan Postmilenialisme. Eskatologi berpengaruh besar dalam teologi Kristen karena membahas tentang masa yang akan datang. Pemahaman akan akhir zaman akan mendorong kesiapan dalam bila waktunya tiba. Pengetahuan akan terjadinya peristiwa Kerajaan Seribu Tahun akan mempengaruhi kehidupan spiritualitas orang percaya. Kaum Premilenialisme Historis percaya bahwa kedatangan Kristus sudah dekat. Mereka hidup dengan kesadaran tinggi akan kedatangan Yang Maha Kuasa. Ini membuat mereka melihat kehidupan di dunia ini dengan lebih bijaksana. Tujuan dari penelitian ini adalah bagaimana pola spiritual orang percaya terhadap konsep Kerajaan Seribu Tahun kaum Premilenialisme Historis. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan riset literatur dengan mengacu pada teks-teks jurnal online, buku cetak. ditemukan bahwa premilenialisme historis tidak hanya menegaskan kembalinya Kristus secara literal sebelum masa pemerintahan seribu tahun, tetapi juga membentuk orientasi hidup rohani yang transformatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spiritualitas dalam kerangka ini ditandai oleh lima temuan utama: (1) pengharapan eskatologis yang aktif dan bukan pasif, (2) dorongan untuk hidup dalam kekudusan dan kesetiaan, (3) ketahanan spiritual dalam menghadapi penderitaan, (4) semangat misi dan pelayanan yang mendesak, serta (5) ketekunan dalam pengajaran yang sehat dan berpusat pada Firman. Temuan ini menunjukkan bahwa premilenialisme historis tidak hanya berdampak pada pemahaman teologis, tetapi juga secara signifikan membentuk cara hidup umat Kristen dalam kekinian dengan orientasi pada pemulihan ilahi yang akan datang.
Dipanggil Untuk Merdeka: Studi Eksegetis Terhadap Galatia 5: 13 Setiawan, Iwan; Kati, Weldiani Hae; Lukuaka, Halena Enjel; Koa, Endang Elsabet
Makarios: Jurnal Teologi Kontekstual Vol 4 No 1 (2025): Mei
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/mak.v4i1.324

Abstract

Kemerdekaan Kristen adalah pembebasan dari perbudakan terhadap kuasa-kuasa yang menentang Allah, untuk setiap kepenuhan tuntutan-tuntutan Allah bagi kehidupan seseorang. Sekarang ini masih terlalu banyak orang percaya yang tidak mengerti arti sesungguhnya dari kemerdekaan yang Yesus berikan, masih ada orang percaya yang menggunakan kemerdekaan untuk bebas melakukan dosa, dan yang menyedihkan justru ini terjadi di kantong-kantong Kristen yang notabene sudah mengenal Tuhan, tidak sedikit dari mereka melakukan banyak dosa seperti hidup dalam kemabukan, pesta pora, seperti halnya kasus yang ada yaitu seorang pendeta yang seharusnya mengajarkan jalan menuju kepada kristus dan menjadi panutan, tetapi justru bertindak sebagai pelaku kejahatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan pemahaman alkitabiah mengenai dipanggil untuk merdeka, supaya orang percaya memiliki pengertian yang tepat dan mengerjakan kewajibannya sebagai respon terhadap kemerdekaan yang diterimanya. Penulis menggunakan metode kajian Pustaka yang berupaya menguraikannya dengan hermeneutik dengan menafsirkan teks alkitab yang terdapat dalam Galatia 5:13 dengan panduan buku-buku referensi, artikel ilmiah yang berkaitan dengan topik kemerdekaan untuk melayani dalam perspektif kekristenan dan juga berkenaan dengan teks Galatia 5:13. Hasil penelitian yang didapat adalah: Pertama, dipanggil untuk Merdeka. Kedua, kemerdekaan bukan kesempatan untuk kehidupan dalam dosa. Ketiga, Tujuan kemerdekaan adalah melayani seorang akan yang lain dengan kasih.
Peran Roh Kudus dalam Doa: Landasan Teologis-Alkitabiah Percakapan dengan Allah Blegur, Romelus; Priscilla, Debora
Makarios: Jurnal Teologi Kontekstual Vol 4 No 1 (2025): Mei
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/mak.v4i1.374

Abstract

Peranan Roh Kudus dalam doa merupakan landasan ultimat percakapan dengan Allah, karena itu tidak mungkin doa dapat berkenan kepada Allah tanpa prinsip tersebut. Hal inilah yang tidak dipahami oleh kebanyakan orang dan kemudian berdampak pada ketakutan dalam berdoa karena berbagai alasan, misalnya kurang keahlian dalam berkomunikasi dengan Allah karena keterbatasan kata-kata. Untuk mengatasi hal tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah menyelidiki landasan teologis-alkitabiah mengenai peranan Roh Kudus dalam doa sebagai medium percakapan dengan Allah yang dapat mengakomodir semua permohonan orang percaya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kepustakaan melalui analisis teks dan wacana. Hasil penelitian ini adalah: pertama, Roh Kudus memegang peranan penting dalam hidup orang percaya dalam segala aspeknya, termasuk dalam hal berdoa; Kedua, doa merupakan medium percakapan dengan Allah yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia untuk berelasi dengan-Nya; Ketiga, peranan Roh Kudus dalam doa merupakan prinsip mutlak, baik secara alkitabiah maupun teologis, sebab melalui Roh Kudus komunikasi manusia yang terbatas disempurnakan untuk selaras dengan maksud dan kehendak Tuhan. Berdasarkan prinsip itulah semua orang percaya dapat melakukan percakapan dengan Allah menurut kapaditasnya dengan bantuan dan bimbingan Roh Kudus.
Menilik Model Kontekstualisasi Misi Kristen Melalui Ritual Hamayang di Desa Rindi Kabupaten Sumba Timur Praing, Jitro Remi; Awang, Erich Naristo Ana; Selan, Stephanie
Makarios: Jurnal Teologi Kontekstual Vol 4 No 1 (2025): Mei
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/mak.v4i1.380

Abstract

Penelitian ini mengkaji kontekstualisasi misi melalui ritual hamayang di desa Rindi kabupaten Sumba Timur. Kontekstualisasi misi adalah sebuah pendekatan dalam memberitakan Injil agar Injil mudah dipahami dan diterima dalam budaya setempat. Dalam kehidupan sebagian masyarakat Sumba Timur, ritual hamayang adalah bagian penting dari kepercayaan marapu, ritual ini dilaksanakan sebagai bentuk permohonan, penyembahan, dan penghormatan kepada mawullu tau ji tau (yang menciptakan manusia) yang namanya tidak dapat disebut dan dipanggil (napanda tikki tamu napanda nyurra ngara). Studi ini bertujuan menganalisa praktik ritual hamayang, dan mengeksplorasi peluang untuk mengkontekstualisasikan Injil dalam budaya dengan pendekatan yang relevan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, termasuk observasi, wawancara dengan tokoh adat serta pelaku ritual hamayang bersama dengan masyarakat, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan beberapa model kontekstualisasi yang relevan yaitu: pertama, Model Dialektik melalui dialog untuk menterjemahkan Injil dalam budaya guna meluruskan pandangan yang keliru. Model Adaptasi untuk mencari titik temu antara budaya dan ajaran Iman Kristen, dan menggunakan simbol atau makna untuk berkontekstualisasi memberitakan Injil. Model Transformasi yang bertujuan mengubah perspektif masyayarat untuk agar dapat memahami Iman Kristen.
Tinjauan Kristis Terhadap Pola Hermeneutik Modern Friedrich Schleiermacher Dalam Prespektif Kaum Injili Abednego, Abednego; Kotte, Yohanis; Lumolo, Kristy Natasya
Makarios: Jurnal Teologi Kontekstual Vol 4 No 1 (2025): Mei
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/mak.v4i1.381

Abstract

Hermeneutik atau penafsiran merupakan suatu hal yang ada dalam kehidupan sehari-hari, sadar atau tidak setiap hari penafsiran itu dilakukan oleh manusia. Penafsiran adalah bagian dari interaksi antar manusia dalam menjalankan kehidupannya. Penafsiran terus berkembang, sejalan dengan perkembangan zaman dan menghasilkan banyak pembaharuan termasuk didalamnya hermeneutik modern yang dicetuskan oleh Friedrich Schleiermacher. Penelitian ini membahas pola hermeneutik modern Friedrich Schleiermacher dan meninjau secara kritis relevansinya dari perspektif kaum Injili. Schleiermacher, sebagai pelopor hermeneutik modern, memperkenalkan dua pendekatan utama dalam penafsiran teks: hermeneutika gramatikal yang menekankan pemahaman bahasa dan struktur linguistik, serta hermeneutika psikologis yang berusaha memahami kondisi kejiwaan penulis. Ia juga mengembangkan konsep hermeneutika umum (universal) yang memperlakukan semua teks, termasuk Alkitab, setara sebagai produk manusia. Sebaliknya, kaum Injili menekankan bahwa penafsiran Alkitab harus tunduk pada otoritas wahyu, dipandu oleh Roh Kudus, serta berdasarkan pada prinsip teologis dan kontekstual. Studi ini menggunakan metode kualitatif berbasis pustaka untuk menganalisis perbedaan fundamental antara kedua pendekatan tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun Schleiermacher berjasa dalam memperluas cakrawala hermeneutik, pendekatannya dinilai terlalu menekankan subjektivitas manusia dan mengabaikan aspek ilahi dari teks Alkitab. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penafsiran yang seimbang harus mengintegrasikan pemahaman historis dan gramatikal dengan ketundukan penuh pada wahyu Allah, guna menjaga keakuratan dan otoritas teologis dalam praktik hermeneutik.

Page 1 of 1 | Total Record : 5