cover
Contact Name
Firdaus Annas
Contact Email
rumahjurnal@uinbukittinggi.ac.id
Phone
+6285278566869
Journal Mail Official
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Editorial Address
Data Center Building, 2nd floor, State Islamic University of Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Gurun Aua St, Kubang Putih, Banuhampu, Agam - West Sumatra - Indonesia Tel. 0752 33136 | Fax 0752 22871
Location
Kab. agam,
Sumatera barat
INDONESIA
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam
ISSN : -     EISSN : 30264405     DOI : 10.30983/aljamahiria
Core Subject : Education,
Islamic Thought Review (e-ISSN : 3025-695X) is an academic peer-reviewed journal published by the Depatment of Islamic Theology and Philosophy, Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Indonesia. The journal publishes scholarly articles addressing issues specific to the discipline of Islamic thought and wider issues from an Islamic theological and philosophical perspective. The journal aims to become one of the leading platforms in the world for new findings and discussions of all the aforementioned fields. Editor welcome scholars, researchers and practitioners around the world to submit scholarly articles to be published through this journal. All articles will be reviewed by experts before accepted for publication. Each author is solely responsible for the content of published articles.
Articles 80 Documents
Dari Mimbar ke Layar: Dakwah Interaktif dan Pembentukan Engagement Audiens pada TikTok Ustadz Hanan Attaki Nanda Badzlina Nur Sabrina; Fahrur Razi
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 3 No. 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v3i2.10335

Abstract

Perkembangan media sosial telah mendorong transformasi paradigma dakwah Islam, khususnya dalam menjangkau generasi milenial dan Gen Z yang memiliki intensitas tinggi dalam penggunaan platform digital. Artikel ini bertujuan menganalisis strategi dakwah interaktif yang diterapkan oleh Ustadz Hanan Attaki di platform Tiktok serta mengkaji pola keterlibatan (engagement) audiens terhadap konten dakwah yang disajikan. Kebaruan penelitian ini terletak pada penekanan interaktivitas digital sebagai instrumen dakwah yang disesuaikan dengan karakteristik konsumsi media generasi muda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus pada akun Tiktok @hanan_attaki_. Teknik pengumpulan data meliputi analisis konten video, interaksi audiens (komentar, like, dan share), serta wawancara dengan pengikut aktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dakwah digital yang dilakukan Ustadz Hanan Attaki mampu menciptakan tingkat engagement yang tinggi, tercermin melalui respons emosional, kognitif, dan perilaku audiens, seperti refleksi spiritual, diskusi keagamaan, serta penyebaran ulang konten ke platform lain. Gaya komunikasi yang santai, humanis, dan relevan dengan pengalaman keseharian audiens, didukung oleh penggunaan visual dan audio yang estetis, menjadi faktor utama keberhasilan dakwah. Temuan ini menegaskan bahwa dakwah melalui media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian pesan keagamaan, tetapi juga berperan dalam membangun komunitas spiritual virtual serta meningkatkan internalisasi nilai-nilai religius di kalangan generasi muda. The rapid growth of social media has significantly transformed the paradigm of Islamic preaching, particularly in engaging younger generations who are deeply embedded in digital culture. This study aims to examine the interactive da‘wah strategies employed by Ustadz Hanan Attaki on TikTok and to analyze audience engagement patterns with the religious content disseminated on the platform. The novelty of this research lies in its emphasis on digital interactivity as a mechanism of spiritual communication that aligns with the media consumption behavior of Millennials and Generation Z. Using a qualitative descriptive approach with a case study Design, this research focuses on the TikTok account @hanan_attaki_. Data were collected through video content analysis, observation of audience interactions (comments, likes, and shares), and in-depth interviews with active followers. The findings reveal that Ustadz Hanan Attaki’s digital da‘wah generates high levels of engagement, reflected in emotional, cognitive, and behavioral responses, including spiritual reflection, religious discussion, and content redistribution across platforms. A relaxed, humanistic communication style, combined with visually and audibly aesthetic elements, is a key factor in effective message delivery. This study concludes that digital da‘wah serves not only as an alternative medium for religious dissemination but also plays a crucial role in fostering online spiritual communities and in enhancing the internalization of religious values among young audiences in the digital era.
Digitalization and Social Da‘wah: Innovative Models of Islamic Community Development in the Era of Digital Transformation Happy Agustiani
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 3 No. 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v3i2.10501

Abstract

Artikel ini mengkaji transformasi dakwah Islam dari praktik konvensional ke format berbasis digital sebagai respons terhadap perkembangan teknologi komunikasi, perubahan sosial, serta kebutuhan spiritual masyarakat Muslim kontemporer. Dakwah digital tidak hanya muncul sebagai medium penyebaran ajaran Islam, tetapi juga sebagai instrumen strategis dalam pemberdayaan masyarakat, termasuk peningkatan literasi keagamaan, keterlibatan generasi muda, serta penguatan sosial dan ekonomi melalui platform digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka yang dianalisis melalui teknik analisis isi. Artikel ini  menunjukkan bahwa digitalisasi dakwah menawarkan peluang signifikan, seperti peningkatan efisiensi jangkauan, kolaborasi komunitas, serta pembentukan narasi Islam moderat di ruang digital. Namun demikian, dakwah digital juga menghadapi tantangan substansial, antara lain ketimpangan akses digital, maraknya disinformasi keagamaan, serta keterbatasan kapasitas profesional sebagian dai yang beroperasi di media sosial. Temuan penelitian ini merekomendasikan penguatan literasi keagamaan digital, pembentukan standar profesional bagi dai digital, serta penguatan platform dakwah digital berbasis komunitas guna menjamin keberlanjutan dan dampak transformatif pengembangan masyarakat Islam di era digital. This study examines the transformation of Islamic da‘wah from conventional practices to digital-based formats in response to developments in communication technology, social change, and the evolving spiritual needs of contemporary Muslim communities. Digital da‘wah has emerged not only as a medium for disseminating Islamic teachings but also as a strategic instrument for community empowerment, including enhancing religious literacy, youth engagement, and socio-economic strengthening through digital platforms. This research employs a qualitative method with a literature-based approach, analyzed using content analysis techniques. The findings indicate that the digitalization of da‘wah offers significant opportunities, including greater outreach efficiency, community collaboration, and the construction of moderate Islamic narratives in digital spaces. Nevertheless, digital da‘wah also faces substantial challenges, including digital inequality, the proliferation of religious misinformation, and the limited professional capacity of some preachers operating on social media. This study recommends strengthening digital religious literacy, establishing professional standards for digital preachers, and reinforcing community-based digital da‘wah platforms to ensure the sustainability and transformative impact of Islamic community development in the digital era.Keywords: digital da'wah, religious literacy, Islamic moderation, da'wah technology, social transformation.
The Framing of Identity Politics in Kompas TV's Dua Arah Program: An Entmanian Analysis Nadya Amalia Nasution; Ida Bagus Irfan Romadhoni
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 4 No. 1 (2026): January-June 2026
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v4i1.10943

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pembingkaian wacana politik identitas dalam media televisi di Indonesia, dengan fokus pada program Dua Arah di Kompas TV. Menggunakan pendekatan konstruktivis melalui model pembingkaian Robert N. Entman, studi ini meneliti empat elemen: mendefinisikan masalah, mendiagnosis penyebab, membuat penilaian moral, dan memberikan rekomendasi penanganan. Penelitian ini menganalisis episode "Politik Identitas, Jadi Jalan Pintas?" pada tahun 2023 dan menampilkan lima pembicara dari beragam latar belakang, termasuk akademisi, politisi, dan pengamat. Temuan menunjukkan pola pembingkaian yang konsisten di seluruh segmen program yang mengonstruksi politik identitas sebagai ancaman serius bagi demokrasi Indonesia. Analisis pembingkaian mengidentifikasi bagaimana program tersebut mendefinisikan politik identitas sebagai pengganggu diskusi politik substantif, mendiagnosis elit politik sebagai pihak yang mengeksploitasi sentimen identitas demi keuntungan elektoral, menyampaikan kecaman moral yang kuat terhadap praktik tersebut karena bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, serta merekomendasikan solusi melalui pendidikan pemilih dan regulasi kampanye. Analisis frekuensi kata menunjukkan bahwa "politik identitas" muncul 61 kali dan "agama" 39 kali, yang mengindikasikan fokus pada dimensi keagamaan. Studi ini menyimpulkan bahwa media televisi membingkai politik identitas dengan menyajikan sudut pandang spesifik yang menekankan bahaya mobilisasi politik berbasis identitas, sekaligus mengadvokasi seleksi kepemimpinan berbasis kompetensi, sehingga berkontribusi pada pemahaman tentang bagaimana media membangun wacana politik dalam demokrasi pluralistik di Indonesia. This study examines how identity-politics discourse is framed in Indonesian television, with a specific focus on Kompas TV’s Dua Arah discussion program. Employing a constructionist paradigm and Robert N. Entman’s four-element framing model—define problems, diagnose causes, make moral judgments, and suggest remedies—this research analyzes the episode “Politik Identitas, Jadi Jalan Pintas?” (Identity Politics, A Shortcut?) broadcast in 2023. The episode featured five speakers representing academic, political practitioner, and observer perspectives. Analysis reveals that the program frames identity politics as a threat to democratic quality, attributes its persistence to elite opportunism and structural regulatory deficiencies, condemns its practice on Pancasilaist moral grounds, and recommends voter education alongside stronger campaign enforcement. Word frequency analysis identified “identity politics” (61 occurrences) and “religion” (39 occurrences) as dominant terms, indicating that the religious dimension constitutes the primary axis of concern in identity politics in this context. Crucially, these findings reflect the framing adopted by this specific program and should not be generalized to Indonesian television as a whole. This study contributes to political communication scholarship by demonstrating the applicability of Entman’s model to interactive television discussion formats and by highlighting the role of media ideology in shaping identity politics narratives within Indonesia’s pluralistic democracy.
Da'wah within Digital Creative Communities: An Analysis of Islamic Values Internalization in the Ruang Edit Community Serin Himatus Soraya; Muhammad Luthfi Maulana; Kharisma Shafrani; Ali Ridho
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 4 No. 1 (2026): January-June 2026
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v4i1.10971

Abstract

Teknologi digital telah mengubah pola komunikasi masyarakat, termasuk praktik dakwah Islam yang kini melampaui forum keagamaan formal. Komunitas kreatif digital menjadi wadah baru untuk membentuk nilai dan karakter generasi muda melalui interaksi sosial yang partisipatif dan kolaboratif. Penelitian ini memberikan tiga kontribusi utama: pertama, mengidentifikasi proses internalisasi dakwah pada komunitas digital non-keagamaan yang tetap mengusung nilai-nilai Islam; kedua, memetakan tahapan internalisasi dakwah (transformasi nilai, transaksi nilai, dan transinternalisasi nilai) melalui aktivitas, interaksi, dan simbol khas komunitas Ruang Edit; ketiga, menawarkan perspektif baru terkait dakwah berbasis komunitas kreatif dan budaya digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif, dengan data yang dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara, dan dokumentasi serta dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan transformasi nilai terjadi melalui narasi personal, simbol kreatif, dan konten reflektif yang membingkai nilai-nilai keislaman secara kontekstual; transaksi nilai melalui interaksi sosial, aturan komunitas, serta partisipasi anggota dalam aktivitas kreatif dan dakwah dialogis; dan internalisasi nilai melalui penerapan nilai disiplin, amanah, empati, keikhlasan, dan kepedulian sosial dalam kesadaran dan praktik sehari-hari anggota. Dengan demikian, komunitas kreatif digital seperti Ruang Edit menjadi arena internalisasi dakwah melalui praktik editing, kolaborasi, serta memperkaya kajian tentang dakwah berbasis komunitas dan budaya digital.   Digital technology has transformed how people communicate, including in the practice of Islamic da’wah, which now extends beyond formal religious forums. Digital creative communities have emerged as a new platform for shaping the values and character of the younger generation through participatory and collaborative social interactions. This study offers three main contributions: first, identifying the process of da’wah internalization within non-religious digital communities that continue to uphold Islamic values; second, mapping the stages of da’wah internalization (value transformation, value exchange, and value transinternalization) through the distinctive activities, interactions, and symbols of the Ruang Edit community; third, offering a new perspective on da’wah rooted in creative communities and digital culture. This study employs a qualitative approach and descriptive methods, with data collected through participant observation, interviews, and documentation, and analyzed through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The research findings indicate that value transformation occurs through personal narratives, creative symbols, and reflective content that contextualize Islamic values; value transactions through social interactions, community norms, and members’ participation in creative activities and dialogic da’wah; and value internalization through the application of values such as discipline, trustworthiness, empathy, sincerity, and social concern in members’ daily awareness and practices. Thus, digital creative communities such as Ruang Edit serve as a platform for internalizing da'wah through editing practices, collaboration, while also enriching research on community-based.
Hanan Attaki’s Digital Sufi Da’wah Ecosystem: Integrating Instagram and YouTube to Shape the Spirituality of Generation Nasywa Salsabila
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 4 No. 1 (2026): January-June 2026
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v4i1.10710

Abstract

Penelitian ini membahas strategi dakwah tasawuf yang dilakukan Hanan Attaki melalui Instagram dan YouTube dalam menjangkau dan membina spiritualitas Generasi Z. Dalam dakwah digital yang berkembang pesat, para da'i harus mampu menyesuaikan metode mereka untuk memenuhi kebutuhan audiens yang serba cepat, visual, dan emosional. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan dalam penelitian ini. Data primer diambil dari konten Instagram @hanan_attaki, dan data sekunder diambil dari berbagai literatur ilmiah tentang dakwah dan tasawuf. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hanan Attaki menggabungkan nilai-nilai tasawuf seperti sabar, syukur, tawakkal, dan muhasabah dengan gaya komunikasi visual dan naratif yang dekat dengan budaya Gen Z. Instagram digunakan untuk konten pendek yang motivatif dan estetis, sementara YouTube digunakan untuk memperoleh makna melalui studi tematik dan refleksi spiritual. Menurut analisis, dakwah tasawuf telah berubah menjadi pengalaman spiritual yang visual-emosional, relevan, dan mudah diakses. Dakwah Hanan Attaki berhasil menciptakan model dakwah sufistik yang adaptif terhadap dinamika media sosial dengan menggunakan pendekatan mau'izhah hasanah yang lembut, humanis, dan mudah dipahami. Studi ini menunjukkan bahwa media digital bukan hanya alat untuk menyampaikan pesan, tetapi juga tempat bagi Gen Z untuk menciptakan makna spiritual baru serta berkontribusi pada kajian dakwah kontemporer berbasis media sosial. This study examines the Sufi da'wah strategies employed by Hanan Attaki through Instagram and YouTube to reach and nurture the spirituality of Generation Z. In the rapidly evolving field of digital da'wah, da'is must adapt their methods to meet the needs of an audience that is fastpaced, visually oriented, and emotionally driven. A qualitative descriptive approach was used in this study. Primary data were collected from the Instagram account @hanan_attaki, and secondary data were drawn from various scholarly sources on da’wah and Sufism. The results show that Hanan Attaki combines Sufi values such as patience, gratitude, tawakkal, and muhasabah with a visual and narrative communication style that resonates with Gen Z culture. Instagram is used for short, motivational, and aesthetically pleasing content, while YouTube is used to derive meaning through thematic studies and spiritual reflection. According to the analysis, Sufi da’wah has evolved into a visual-emotional, relevant, and easily accessible spiritual experience. Hanan Attaki’s da’wah successfully creates a model of Sufi da’wah that adapts to the dynamics of social media by employing a gentle, humanistic, and easily understandable “Mau’izhah Hasanah” approach. This study demonstrates that digital media is not merely a tool for conveying messages but also a space for Gen Z to create new spiritual meanings, thereby contributing to contemporary social media-based da’wah studies.  
Digital Da'wah Communication Strategies for Engaging Generation Z on Social Media in Indonesia Fadila Nurul Fajri; Khilda Nurrohmah; Nadhira Khairunnisa; Fatmawati
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 4 No. 1 (2026): January-June 2026
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v4i1.10797

Abstract

Abstrak Artikel ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi dakwah digital yang digunakan pendakwah dalam menyampaikan pesan keagamaan melalui media sosial kepada Generasi Z di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur yang dipadukan dengan analisis konten terhadap akun-akun dakwah pada platform Instagram, TikTok, dan YouTube. Data dianalisis melalui tahapan reduksi, kategorisasi, interpretasi, dan penarikan kesimpulan untuk mengidentifikasi pola strategi komunikasi yang dominan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas dakwah digital dipengaruhi oleh empat aspek utama, yaitu penyajian konten visual yang singkat dan menarik, penyampaian pesan yang kontekstual dengan kehidupan sehari-hari Generasi Z, interaksi dua arah melalui fitur komentar dan siaran langsung, serta konsistensi personal branding pendakwah dalam membangun kredibilitas dan kedekatan dengan audiens. Selain itu, algoritma media sosial turut memperluas jangkauan pesan melalui sistem rekomendasi berbasis tingkat keterlibatan pengguna. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan dakwah digital tidak hanya bergantung pada substansi pesan keagamaan, tetapi juga pada kemampuan pendakwah mengintegrasikan strategi komunikasi, karakteristik audiens, dan optimalisasi fitur media sosial sehingga dakwah menjadi lebih efektif, adaptif, dan relevan di era digital.   This article aims to analyze the digital da’wah communication strategies used by da’wah practitioners to convey religious messages to Generation Z on social media in Indonesia. This study employs a qualitative approach, combining a literature review with content analysis of da’wah accounts on Instagram, TikTok, and YouTube. Data were analyzed through the stages of reduction, categorization, interpretation, and drawing conclusions to identify dominant communication strategy patterns. The results indicate that the effectiveness of digital da’wah is influenced by four main aspects: the presentation of brief and engaging visual content; the delivery of messages contextualized to Generation Z’s daily lives; two-way interaction through comment sections and live streams; and the consistency of preachers’ personal branding in building credibility and rapport with their audience. In addition, social media algorithms help expand the reach of messages through recommendation systems that prioritize user engagement. This study concludes that the success of digital da’wah depends not only on the substance of religious messages but also on the preacher’s ability to integrate communication strategies, consider audience characteristics, and optimize social media features, thereby making da’wah more effective, adaptive, and relevant in the digital age.
Inclusive Da'wah and Interfaith Dialogue in Gus Iqdam's Religious Gatherings: A Case Study of Majelis Sabilu Taubah Muh. Fatih Ahsan Maulana
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 4 No. 1 (2026): January-June 2026
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v4i1.10888

Abstract

Abstrak Keberagaman agama di Indonesia menuntut model dakwah yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian ajaran Islam, tetapi juga mampu membangun relasi sosial yang inklusif dan dialogis di tengah masyarakat yang plural. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik dakwah inklusif dialogis berbasis interfaith encounter dalam pengajian Gus Iqdam di Majelis Sabilu Taubah serta kontribusinya terhadap penguatan toleransi beragama. Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis interfaith encounter yang berlangsung secara alami dalam ruang pengajian, berbeda dengan kajian sebelumnya yang lebih berfokus pada dialog antaragama secara formal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui observasi nonpartisipatif terhadap dokumentasi pengajian di YouTube, media sosial, serta berbagai dokumentasi digital yang berkaitan dengan interaksi lintas agama. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dakwah Gus Iqdam dibangun melalui komunikasi dialogis, penggunaan bahasa yang egaliter, humor kontekstual, dan keterbukaan terhadap jamaah lintas agama sehingga pengajian menjadi ruang sosial-keagamaan yang memfasilitasi interfaith encounter. Temuan ini menegaskan bahwa dakwah inklusif berbasis komunikasi dialogis berkontribusi dalam membangun kepercayaan, kohesi sosial, dan toleransi antarumat beragama serta memperkaya kajian komunikasi dakwah di masyarakat multikultural.   Religious diversity in Indonesia calls for a model of da’wah that not only focuses on conveying Islamic teachings but also fosters inclusive, dialogical social relationships within a pluralistic society. This study aims to analyze the practice of inclusive, dialogical da’wah based on interfaith encounters in Gus Iqdam’s religious study sessions at Majelis Sabilu Taubah, and to examine its contribution to strengthening religious tolerance. The novelty of this study lies in its analysis of interfaith encounters that occur naturally within these study sessions, in contrast to previous studies that have focused more on formal interfaith dialogue. This study employs a qualitative case study design. Data were collected through non-participatory observation of recordings of religious study sessions on YouTube and social media, as well as various digital materials related to interfaith interactions. Data analysis used the Miles and Huberman interactive model, which includes data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results show that Gus Iqdam’s da’wah is built through dialogic communication, the use of egalitarian language, contextual humor, and openness toward interfaith congregants, thereby transforming the religious lectures into a socio-religious space that facilitates interfaith encounters. These findings confirm that inclusive da'wah, based on dialogic communication, contributes to building trust, social cohesion, and tolerance among people of different faiths and enriches the study of da'wah communication in multicultural societies.
Books as a Medium for Islamic Da'wah: An Analysis of Religious Messages in the Works of Habib Husein Ja'far Fitri Noviana Indiryani; Ahmad Nu'aim Zaidan; Dwi Puspita Sari; Ilham Ma’ruf; Khalimatu Nisa
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 4 No. 1 (2026): January-June 2026
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v4i1.10620

Abstract

Perkembangan dakwah Islam tidak lagi terbatas pada ceramah konvensional, tetapi juga memanfaatkan media literasi, seperti buku, sebagai sarana penyampaian pesan keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pesan-pesan keagamaan dalam karya Habib Husein Ja'far, yaitu Seni Merayu Tuhan, Tuhan Ada di Hatimu, dan Log In: Habib & Onad, serta mengkaji kontribusinya terhadap penguatan literasi dakwah di era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) melalui metode analisis isi. Data diperoleh dari ketiga buku tersebut, didukung ulasan pembaca pada platform Goodreads serta berbagai publikasi ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karya-karya Habib Husein Ja'far secara konsisten menyampaikan nilai-nilai tauhid, spiritualitas etis, moderasi beragama, toleransi, dan kemanusiaan melalui penggunaan bahasa yang sederhana, narasi reflektif, serta pendekatan humor yang komunikatif. Strategi penyampaian tersebut menjadikan pesan-pesan Islam lebih mudah dipahami dan relevan dengan realitas kehidupan masyarakat kontemporer, sekaligus mendorong pembaca untuk membangun pemahaman keagamaan yang inklusif, dialogis, dan kontekstual. Penelitian ini menyimpulkan bahwa media buku merupakan sarana dakwah bil qalam yang efektif dalam memperkuat literasi dakwah dengan menghadirkan nilai-nilai Islam secara humanis dan adaptif terhadap perkembangan masyarakat digital. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian komunikasi dakwah, khususnya terkait pemanfaatan media literasi sebagai strategi dakwah di era digital.   The development of Islamic da'wah has expanded beyond conventional preaching to include books as a medium for disseminating religious messages. This study aims to analyze the religious messages conveyed in the books of Habib Husein Ja'far, namely Seni Merayu Tuhan, Tuhan Ada di Hatimu, and Log In: Habib & Onad, and to examine their contribution to contemporary da'wah literacy. The research employed a qualitative library research approach using content analysis. Data were collected from the three books, supported by readers' reviews on Goodreads and relevant scholarly publications discussing Habib Husein Ja'far's da'wah. The findings indicate that the books consistently communicate the values of tawhid, ethical spirituality, religious moderation, tolerance, and humanity through simple language, reflective narratives, and humor. These communication strategies make Islamic teachings more accessible to contemporary readers while encouraging critical reflection and inclusive religious understanding. The study concludes that books function as an effective medium of da'wah bil qalam, strengthening da'wah literacy by presenting Islamic values in a contextual and dialogical manner. This research contributes to the study of Islamic communication by highlighting the strategic role of literary media in expanding the reach of da'wah in the digital era.
Humor, Ethics, and Religious Authority in Digital Da’wah: A Comparative Study of Gus Elham and Gus Miftah Fatmawati Agustine; Adinda Salisa Rahma; Dendy Wahyu Subekti; Khalimatu Nisa
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 4 No. 1 (2026): January-June 2026
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v4i1.10622

Abstract

Humor menjadi strategi dakwah digital untuk menarik perhatian, membangun kedekatan emosional, dan mempermudah penerimaan pesan keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk, fungsi, dan efektivitas humor dalam dakwah Gus Elham dan Gus Miftah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis wacana terhadap materi ceramah kedua tokoh yang diperoleh melalui dokumentasi tayangan dakwah digital. Data dianalisis berdasarkan pola humor, konteks penyampaian, respons audiens, serta keterkaitannya dengan pesan keagamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa humor berfungsi untuk menarik perhatian, mencairkan suasana, memperkuat kedekatan emosional, menyederhanakan pesan agama, serta mengurangi resistensi terhadap materi yang dianggap berat. Efektivitas humor dipengaruhi oleh kesesuaian konteks, karakter audiens, serta kemampuan dai dalam menjaga batas-batas etis. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian komunikasi dakwah dengan menegaskan bahwa humor yang proporsional dan kontekstual dapat menjadi strategi persuasi yang relevan, sekaligus menjadi rujukan praktis bagi dai dalam merancang pesan digital yang komunikatif tanpa mengurangi substansi ajaran Islam.   Humor serves as a digital da’wah strategy to attract attention, build emotional connection, and facilitate the acceptance of religious messages. This study aims to analyze the forms, functions, and effectiveness of humor in the da’wah of Gus Elham and Gus Miftah. The study employs a descriptive qualitative approach using discourse analysis on the sermon materials of both figures, obtained from recordings of digital da’wah broadcasts. The data were analyzed based on patterns of humor, delivery context, audience responses, and their relevance to religious messages. The results indicate that humor attracts attention, lightens the mood, strengthens emotional connection, simplifies religious messages, and reduces resistance to material considered heavy or difficult. The effectiveness of humor is influenced by contextual appropriateness, audience characteristics, and the preacher’s ability to maintain ethical boundaries. This study contributes to the development of da’wah communication research by affirming that proportionate and contextual humor can serve as a relevant persuasive strategy, while also providing a practical reference for da’wah preachers in designing communicative digital messages without compromising the substance of Islamic teachings.
The Effectiveness of Instagram and TikTok as Islamic Da’wah Media: Their Influence on Audience Religiosity Rima Febria Rizkyta; Salwa Isheeqa Azzahra Maryam; Azzahra Amalia Putri; Firane Larasyifa; Rintan Rahayu Agrianty Nurhidayah; Indah Sari
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 4 No. 1 (2026): January-June 2026
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v4i1.10686

Abstract

Penelitian ini mengkaji efektivitas Instagram dan TikTok sebagai media dakwah Islam serta mengevaluasi pengaruhnya terhadap religiusitas audiens. Penelitian ini menggunakan Teori Uses and Gratifications serta Teori Belajar Sosial Kognitif Albert Bandura. Metode yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan menyebarkan kuesioner kepada 70 responden, yang dilengkapi dengan data kualitatif dari wawancara bersama para dai digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dakwah digital sangat efektif dalam aspek aksesibilitas dan jangkauan dengan skor 81,4%, sedangkan kualitas konten, khususnya gaya penyampaian, memperoleh skor 78,6%. Dampak terkuat terlihat dalam mendorong sikap kritis sebesar 77,2% dan memotivasi transformasi keagamaan sebesar 75,7%, yang mencerminkan terpenuhinya gratifikasi kognitif dan afektif. Namun, ditemukan kesenjangan perilaku yang cukup signifikan karena praktik ibadah sunah hanya mencapai 48,6%. Kesenjangan ini menunjukkan tantangan dalam mengubah motivasi digital dan pembelajaran melalui pengamatan menjadi perilaku keagamaan yang konsisten. Penelitian ini merekomendasikan penguatan verifikasi konten, peningkatan gaya penyampaian yang persuasif, serta penerapan pendekatan manajemen kalbu untuk mendorong praktik keagamaan yang berkelanjutan dan keterlibatan audiens yang lebih bermakna di kedua platform, khususnya di kalangan pengguna media sosial Muslim yang beragam.   This study examines the effectiveness of Instagram and TikTok as media for Islamic preaching and evaluates their influence on audience religiosity. The research applies Uses and Gratifications Theory and Albert Bandura’s Social Cognitive Learning Theory. A descriptive quantitative design was employed, with questionnaires distributed to 70 respondents and supplemented by qualitative data from interviews with digital preachers. The findings indicate that digital preaching is highly effective in terms of accessibility and reach, with a score of 81.4%, while content quality, particularly delivery style, scored 78.6%. Its strongest impacts were in encouraging critical attitudes (77.2%) and motivating religious transformation (75.7%), reflecting the fulfillment of cognitive and affective gratifications. However, a notable behavioral gap emerged, as the practice of voluntary worship reached only 48.6%. This gap highlights the challenge of converting digital motivation and observational learning into consistent religious behavior. The study recommends strengthening content verification, improving persuasive delivery, and applying a heart-management approach to encourage sustainable religious practices and more meaningful audience engagement across both platforms among diverse Muslim social media audiences.