cover
Contact Name
Firdaus Annas
Contact Email
rumahjurnal@uinbukittinggi.ac.id
Phone
+6285278566869
Journal Mail Official
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Editorial Address
Data Center Building, 2nd floor, State Islamic University of Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Gurun Aua St, Kubang Putih, Banuhampu, Agam - West Sumatra - Indonesia Tel. 0752 33136 | Fax 0752 22871
Location
Kab. agam,
Sumatera barat
INDONESIA
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam
ISSN : -     EISSN : 30264405     DOI : 10.30983/aljamahiria
Core Subject : Education,
Islamic Thought Review (e-ISSN : 3025-695X) is an academic peer-reviewed journal published by the Depatment of Islamic Theology and Philosophy, Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Indonesia. The journal publishes scholarly articles addressing issues specific to the discipline of Islamic thought and wider issues from an Islamic theological and philosophical perspective. The journal aims to become one of the leading platforms in the world for new findings and discussions of all the aforementioned fields. Editor welcome scholars, researchers and practitioners around the world to submit scholarly articles to be published through this journal. All articles will be reviewed by experts before accepted for publication. Each author is solely responsible for the content of published articles.
Articles 72 Documents
Dari Mimbar ke Media: Adaptasi Dakwah Fiqih Klasik Pondok Pesantren Lirboyo di Era Digital M. Rizqy Zamiluddin A; Muhammad Ni'am Masrukhil Hadi
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 3 No. 1 (2025): January-June 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v3i1.9597

Abstract

Artikel ini membahas peran strategis Pondok Pesantren Lirboyo dalam menyebarkan ajaran fiqih klasik di era digital melalui studi kasus pada unit media LIM Production. Penelitian ini dilatarbelakangi dari tantangan institusi pendidikan Islam tradisional untuk beradaptasi dengan lanskap media kontemporer agar tetap relevan di tengah perubahan pola konsumsi informasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi komunikasi yang dijalankan pesantren dalam memanfaatkan media digital sekaligus menganalisis keterlibatan audiens dalam proses dakwah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini menemukan bahwa peran strategis Lirboyo diwujudkan melalui dua pilar utama: (1) fleksibilitas institusional dengan cara mengadaptasi format dakwah konvensional ke platform digital populer serta mengkontekstualisasikan ajaran kitab klasik agar relevan dengan isu-isu modern; dan (2) pembangunan budaya partisipatif yang menempatkan audiens sebagai subjek aktif dalam pembentukan konten. Sinergi antara fleksibilitas institusional dan partisipasi audiens melahirkan ekosistem dakwah yang dialogis, interaktif, dan efektif di ruang digital. Kebaruan penelitian ini terletak pada identifikasi hubungan sinergis antara fleksibilitas dakwah dan budaya partisipatif sebagai kunci keberhasilan dakwah digital di pesantren.   This article discusses the strategic role of Pondok Pesantren Lirboyo in disseminating classical fiqh teachings in the digital age through a case study of the LIM Production media unit. This research was motivated by the challenges faced by traditional Islamic educational institutions in adapting to the contemporary media landscape in order to remain relevant amid changing patterns of information consumption. This study aims to identify the communication strategies implemented by Islamic boarding schools in utilizing digital media while analyzing audience engagement in the da'wah process. The method used in this study is qualitative with a case study approach through in-depth interviews, observation, and documentation. This study found that Lirboyo's strategic role is realized through two main pillars: (1) institutional flexibility by adapting conventional da'wah formats to popular digital platforms and contextualizing classical teachings to be relevant to modern issues; and (2) the development of a participatory culture that places the audience as active subjects in content creation. The synergy between institutional flexibility and audience participation has given rise to a dialogical, interactive, and practical preaching ecosystem in the digital space. The novelty of this research lies in identifying the synergistic relationship between preaching flexibility and participatory culture as the key to the success of digital preaching in Islamic boarding schools.
Representasi Relasi Suami Istri dalam Islam pada Film Buya Hamka Vol. 1 dan Vol. 2 Lutfiah, Zumrotul; Primi Rohimi, Primi Rohimi
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 3 No. 1 (2025): January-June 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v3i1.9651

Abstract

Film Buya Hamka merupakan film bioskop Indonesia yang menggambarkan perjalanan hidup Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka) serta relasi rumah tangganya dengan Siti Raham. Artikel  ini bertujuan untuk menganalisis representasi relasi suami istri dalam Islam yang digambarkan dalam film tersebut sekaligus memahami konstruksi makna di baliknya. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dengan pendekatan kualitatif deskriptif melalui teori representasi Stuart Hall dan analisis semiotika Roland Barthes pada level denotasi, konotasi, dan mitos. Penelitian ini menemukan bahwa relasi suami istri dalam film ini merefleksikan nilai tanggung jawab, kesetiaan, saling menghormati, dan keterlibatan intelektual. Pada level denotasi, rumah tangga digambarkan harmonis dan penuh kasih sayang; pada level konotasi, relasi suami istri tidak hanya domestik tetapi juga ideologis dan intelektual; sementara pada level mitos, film membangun gambaran rumah tangga ideal dalam Islam sebagai relasi yang egaliter, dialogis, serta menjadi fondasi kekuatan moral dan perjuangan umat. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya kajian komunikasi Islam dan studi representasi melalui media film, dengan menunjukkan bagaimana film religius dapat berfungsi sebagai sarana dakwah kultural sekaligus inspirasi dalam membangun rumah tangga Islami yang harmonis dan berkeadilan. The film Buya Hamka is an Indonesian movie that depicts the life journey of Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka) and his marital relationship with Siti Raham. This article aims to analyze the representation of husband-wife relationships in Islam as depicted in the film and to understand the construction of meaning behind it. This study employs a literature review method with a descriptive qualitative approach, drawing on Stuart Hall's theory of representation and Roland Barthes' semiotic analysis at the denotative, connotative, and mythical levels. This study finds that the husband-wife relationship in this film reflects the values of responsibility, loyalty, mutual respect, and intellectual involvement. At the denotative level, the household is depicted as harmonious and loving; at the connotative level, the husband-wife relationship is not only domestic but also ideological and intellectual; while at the mythical level, the film constructs an image of the ideal household in Islam as an egalitarian, dialogical relationship that serves as the foundation of moral strength and the struggle of the ummah. This research contributes to enriching the study of Islamic communication and representation through film media by showing how religious films can serve as a means of cultural da'wah (proselytizing) as well as inspiration in building a harmonious and just Islamic household.
Literasi Digital dan Kesadaran Budaya sebagai Solusi Tantangan Atemporalitas dalam Komunikasi Antarbudaya Fakhri, Muh Nur; Zakiah, Farah Nurul; Lely Novia
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 3 No. 1 (2025): January-June 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v3i1.9841

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk membahas tantangan komunikasi antarbudaya di era digital, khususnya fenomena atemporalitas dan kelebihan informasi yang muncul di media sosial. Komunikasi digital sering kali berlangsung tanpa kejelasan waktu dan konteks budaya, sehingga memicu kebingungan serta salah tafsir antar pengguna dari latar budaya yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bentuk tantangan tersebut dan strategi yang digunakan individu dalam menghadapinya. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara semi-terstruktur. Partisipan berjumlah delapan orang mahasiswa Universitas Negeri Makassar yang aktif berinteraksi secara daring dengan individu dari budaya berbeda. Data dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi pola pengalaman dan respons partisipan. Hasil menunjukkan bahwa partisipan mengalami stres akibat banjir informasi dan disorientasi waktu. Mereka kesulitan membedakan informasi yang akurat dan relevan. Sebagai respons, mereka menggunakan strategi verifikasi sumber, pemeriksaan fakta, dan peningkatan literasi media. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkuat pentingnya literasi digital dan kesadaran budaya sebagai bekal menghadapi disinformasi. Temuan ini juga merekomendasikan pengembangan fitur media sosial yang kontekstual dan mendukung komunikasi antarbudaya yang lebih akurat dan inklusif.   This study explores the challenges of intercultural communication in the digital era, focusing on the phenomena of atemporality and information overload emerging on social media platforms. Digital communication often occurs without clear temporal or cultural context, leading to confusion and misinterpretation among users from diverse cultural backgrounds. The purpose of this research is to identify the nature of these challenges and examine the strategies individuals use to navigate them. The study employs a qualitative approach using semi-structured interviews. Eight student participants from Universitas Negeri Makassar were selected, all of whom actively engage in online intercultural interactions. The data were analyzed thematically to identify patterns of experience and response among participants. Findings reveal that participants experienced stress due to the overwhelming volume of information and temporal disorientation. They found it difficult to distinguish accurate and relevant information. In response, participants adopted strategies such as source verification, fact-checking, and improving their media literacy. This research contributes to strengthening the role of digital literacy and cultural awareness as essential tools for countering disinformation. It also recommends the development of social media features that promote contextualized and inclusive intercultural communication.
Instagram and Political Power: How Social Media Enhances the Self-Image of Political Actors Ahmad Suryadi; Jeni Mona Melisa
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 3 No. 1 (2025): January-June 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v3i1.9925

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan Instagram oleh politisi untuk menciptakan citra positif dalam mempengaruhi pemilih. Artikel ini akan menganalisis secara komperhensih penggunaan Instagram oleh calon gubernur dan wakil gubernur Sumatera Barat dalam kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 menggunakan analisis konten kualitatif menggunakan kerangka Pierre Bourdieu: habitus, modal, field. Penelitian ini menemukan bahwa Instagram telah menjadi arena politik strategis bagi para politisi, dimana kekuasaan simbolik diperjuangkan melalui unggahan visual, gambar, video pendek, dan hastag. Pasangan Mahyeldi–Vasco secara konsisten memanfaatkan modal simbolik, budaya, dan sosial untuk memperkuat branding mereka dalam berbagai posting, terutama melalui hashtag #Gerakcepatuntuksumbar. Sebaliknya, akibat ketidakkonsistenan dalam memposting informasi dan penggunaan hashtag, pasangan Epyardi-Ekos belum optimal memanfaatkan Instagram sebagai alat komunikasi politik. Strategi komunikasi politik melalui Instagram ini menjadi salah satu keunggulan pasangan Mahyeldi-Vasco dalam membentuk opini publik di Instagram. Studi ini menyoroti pentingnya aktor politik mengelola narasi, menjaga konsistensi posting, dan berkolaborasi dalam memanfaatkan modal untuk membangun dan memperkuat citra positif. Temuan ini memberikan kontribusi teoritis dan praktis dalam memahami dinamika politik di media digital serta memperluas pengetahuan tentang strategi komunikasi politik kontemporer dalam konteks pemilihan berbasis media sosial. This article explores and analyzes politicians' use of Instagram to create a positive image and influence voters. This study will comprehensively examine the use of Instagram by the candidates for governor and deputy governor of West Sumatra in the 2024 regional head elections (Pilkada) using a qualitative content analysis approach based on Pierre Bourdieu's theoretical framework: habitus, capital, and field. The research found that Instagram has become a strategic political arena where symbolic power is contested through visual posts, images, short videos, and hashtags. The Mahyeldi–Vasco pair consistently leveraged symbolic, cultural, and social capital to strengthen their branding in various posts, particularly through the hashtag #Gerakcepatuntuksumbar. Conversely, due to inconsistencies in posting information and hashtag usage, the Epyardi-Ekos pair has not optimally utilized Instagram as a political communication tool. This political communication strategy via Instagram has become one of the strengths of the Mahyeldi-Vasco pair in shaping public opinion on Instagram. This study highlights the importance of political actors managing narratives, maintaining post consistency, and collaborating on capital to build and strengthen a positive image. These findings contribute theoretically and practically to understanding political dynamics in digital media and expanding knowledge about contemporary political communication strategies in the context of social media-based electoral contests, particularly on Instagram.
Green Broadcasting as an Environmental Media Pillar in Indonesia’s Climate Crisis Era Farid, Ahmad Salman; Musawer Hakimi
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 3 No. 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v3i2.10040

Abstract

Green Broadcasting telah muncul sebagai praktik penting dalam mendorong keberlanjutan lingkungan melalui konten media. Namun, di Indonesia, penerapan praktik penyiaran hijau masih berjalan lambat dan menghadapi berbagai tantangan, khususnya di kalangan lembaga penyiaran berskala kecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kondisi terkini Penyiaran Hijau di Indonesia serta dampaknya terhadap kesadaran lingkungan masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-methods, yang terdiri atas wawancara dengan para profesional media, analisis konten program-program bertema lingkungan, dan survei terhadap audiens. Penelitian dilakukan pada lembaga penyiaran besar maupun kecil, termasuk Green Radio 96.7 FM Pekanbaru, RCTI, dan Trans7. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyiaran hijau di Indonesia masih berada pada tahap awal, dengan variasi yang signifikan antar stasiun. Lembaga penyiaran besar menunjukkan kemajuan yang terbatas, sedangkan stasiun kecil seperti Green Radio lebih proaktif dalam menyelaraskan operasional mereka dengan prinsip keberlanjutan. Penelitian ini juga menemukan bahwa penyiaran hijau memberikan dampak positif terhadap peningkatan kesadaran lingkungan masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan. Selain itu, penelitian menyoroti sejumlah hambatan dalam penerapan praktik penyiaran hijau, seperti tingginya biaya awal, keterbatasan teknis, dan resistensi terhadap perubahan. Meskipun berbagai tantangan tersebut masih ada, penyiaran hijau memiliki potensi berkembang, terutama jika kebijakan serta insentif pemerintah mampu mendukung transisi menuju praktik media yang lebih ramah lingkungan.   Green Broadcasting has emerged as an important practice in promoting environmental sustainability through media content. In Indonesia, however, the adoption of green practices in broadcasting has been slow and faces several challenges, especially among smaller media outlets. This study aims to examine the current state of Green Broadcasting in Indonesia and its impact on public environmental awareness. A mixed-methods approach was employed, consisting of interviews with media professionals, content analysis of environmental programming, and surveys of audience members. The research was conducted across both large and small media stations, including Green Radio 96.7 FM Pekanbaru, RCTI, and Trans7. The study found that Green Broadcasting in Indonesia is still in its nascent stages, with significant variations across stations. Larger broadcasters have made limited progress, while smaller stations like Green Radio have been more proactive in aligning their operations with sustainability. The research also found that Green Broadcasting had a positive impact on public environmental awareness, especially in rural areas. The research highlights several barriers to adopting Green Broadcasting practices, including high initial costs, technical limitations, and resistance to change. Despite these challenges, there is potential for growth, particularly if government policies and incentives support the transition to greener media practices.
Tiktok And The Construction Of The Public: A Critical Discourse Analysis Of The Al-Khosini Case Zaimi, Hamas Dzulfikar; Murad, Faizah; Suprapto; Fidaul Qonita
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 3 No. 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v3i2.10159

Abstract

Pesatnya kemajuan  teknologi komunikasi digital telah mengubah secara fundamental cara masyarakat Indonesia berinteraksi, mengekspresikan keagamaan, dan membentuk opini publik. TikTok, dengan karakteristik audiovisual dan algoritmiknya, kini berfungsi sebagai ruang publik digital tempat wacana keagamaan diproduksi, dipertukarkan, dan dinegosiasikan secara terbuka. Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi wacana publik yang muncul melalui video viral robohnya Pondok Pesantren Al-Khosini di Sidoarjo pada bulan September tahun 2025, serta menelaah bagaimana peristiwa tersebut mencerminkan transformasi sosial dan religius dalam ekosistem digital. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dan pendekatan Critical Discourse Analysis (Fairclough), penelitian ini menganalisis sepuluh video TikTok, terdiri atas empat video unggahan resmi akun pondok dan enam video dari akun luar, termasuk media arus utama seperti CNN Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa video viral tersebut tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi peristiwa, tetapi juga menjadi arena kontestasi makna antara ekspresi kesalehan, kritik sosial, dan representasi moralitas publik. TikTok berperan sebagai “mimbar digital” yang memediasi dialektika antara otoritas keagamaan tradisional dan partisipasi publik yang emosional. Lebih jauh, algoritma platform bertindak sebagai agen ideologis yang memperkuat narasi populis dan emosional, sambil menggeser ruang refleksi keagamaan yang mendalam. Kontribusi teoretis penelitian ini terletak pada pemahaman bahwa kesakralan agama di era digital tidak memudar, melainkan bertransformasi menjadi kesucian partisipatif yang dimediasi oleh teknologi, afeksi kolektif, dan dinamika algoritmik masyarakat modern. The rapid advancement of digital communication technology has fundamentally changed the way Indonesians interact, express their religiosity, and shape public opinion. TikTok, with its audiovisual and algorithmic features, now functions as a digital public space where religious discourse is openly produced, exchanged, and negotiated. This study aims to analyse the construction of public discourse that emerged from viral videos of the collapse of the Al-Khosini Islamic boarding school in Sidoarjo in September 2025, and to examine how this event reflects social and religious transformations in the digital ecosystem. Using descriptive qualitative methods and a Critical Discourse Analysis (Fairclough) approach, this study analyses 10 TikTok videos, comprising four officially uploaded by the boarding school’s account and six from external accounts, including mainstream media such as CNN Indonesia. The results of the analysis show that these viral videos not only serve as documentation of events but also become arenas for contesting meanings among expressions of piety, social criticism, and representations of public morality. TikTok acts as a “digital pulpit” that mediates the dialectic between traditional religious authority and emotional public participation. Furthermore, the platform’s algorithm serves as an ideological agent, reinforcing populist and emotional narratives while narrowing the space for deep religious reflection. The theoretical contribution of this research lies in the understanding that the sacredness of religion in the digital age has not faded, but instead transformed into participatory sanctity mediated by technology, collective affection, and the algorithmic dynamics of modern society.
Komodifikasi Nilai Islam Di Media Sosial: Analisis Semiotika Roland Barthes Pada Reels Instagram @Duha.Muslimwear Aryo Penangsang, Dwi
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 3 No. 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v3i2.9952

Abstract

Media sosial telah menjadi ruang dominan dalam representasi nilai-nilai keislaman, termasuk dalam strategi pemasaran brand busana muslim. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana proses komodifikasi nilai-nilai Islam direpresentasikan melalui simbol-simbol visual dalam konten video reels Instagram Duha Muslimwear. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis semiotika Roland Barthes, yang membagi makna ke dalam tiga tingkat: denotasi, konotasi, dan mitos. Objek penelitian berupa salah satu konten reels @duha.muslimwear yang menampilkan narasi visual bertema spiritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol-simbol seperti kuda, langkah tanpa alas kaki, pencahayaan dramatis, serta detail bordiran pada busana tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetis, tetapi juga menyampaikan pesan ideologis yang membentuk narasi tentang kemenangan spiritual, kesalehan, dan identitas muslim modern. Komodifikasi nilai Islam dilakukan melalui strategi soft selling yang menyentuh aspek emosional dan identitas konsumen, sehingga menjadikan produk busana sebagai simbol dari nilai-nilai religius. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa media sosial menjadi arena penting dalam reproduksi simbol agama yang tidak hanya bersifat persuasif, tetapi juga ideologis. Penelitian ini merekomendasikan agar studi serupa dikembangkan pada objek dan platform yang berbeda, serta mempertimbangkan perspektif audiens agar diperoleh pemahaman yang lebih holistik tentang bagaimana makna keislaman diterima dan dikonstruksi dalam komunikasi pemasaran digital. Social media has become a dominant space for representing Islamic values, including in the marketing strategies of Muslim fashion brands. This study aims to analyze how the commodification of Islamic values is represented through visual symbols in a video reel content posted by Duha Muslimwear on Instagram. Using a qualitative descriptive approach and Roland Barthes' semiotic theory, this research breaks down the meaning into three levels: denotation, connotation, and myth. The object of the study is a visual narrative contained in one of Duha Muslimwear’s reels that presents spiritual-themed messaging. The results show that visual elements such as a horse, barefoot walking, dramatic lighting, and detailed embroidery are not merely aesthetic features but carry ideological messages that build a narrative of spiritual victory, piety, and modern Muslim male identity. The commodification of Islamic values is conducted through soft-selling strategies that appeal to emotional and identity-based dimensions of the consumer, positioning fashion not only as a product but also as a symbol of religiosity. The study concludes that social media serves as an important arena for the reproduction of religious symbols that function not only persuasively but also ideologically. It is recommended that further research explore similar representations across various brands and platforms, while also incorporating audience reception perspectives to gain a more holistic understanding of how Islamic values are interpreted and reconstructed in digital marketing communication.
Framing Pemberitaan Media Online Detik.com terhadap Isu Ijazah Joko Widodo Masduki, Muzemmil
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 3 No. 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v3i2.10007

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pembingkaian (framing) berita yang dikonstruksi oleh Detik.com dalam pemberitaannya mengenai kontroversi keaslian ijazah Presiden Joko Widodo. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan model analisis framing Robert N. Entman, yang berfokus pada empat elemen kunci: pendefinisian masalah (define problems), diagnosis penyebab (diagnose causes), penilaian moral (make moral judgments), dan rekomendasi penyelesaian (treatment recommendations). Unit analisis meliputi artikel berita yang diterbitkan oleh Detik.com antara tahun 2022 hingga 2025 terkait kontroversi ijazah. Hasil analisis menunjukkan bahwa Detik.com secara dominan mengkonstruksi bingkai "legitimasi prosedural". bukannya berfokus pada kebenaran faktual ijazah itu sendiri, pemberitaan lebih menekankan pada proses hukum dan institusional yang sedang berjalan (laporan kepolisian, proses pengadilan, klarifikasi resmi) sebagai isu sentral. Bingkai ini secara halus menyampingkan klaim para penuduh dengan memposisikannya sebagai tudingan tak berdasar yang harus divalidasi melalui jalur resmi, seraya pada saat yang sama memperkuat otoritas lembaga negara dan akademik. Pembingkaian yang dilakukan Detik.com memiliki fungsi ganda: di satu sisi, detik.com menegakkan norma jurnalistik tentang objektivitas dengan meliput "drama" konflik, namun di sisi lain, ia pada akhirnya memperkuat status quo dengan memberikan hak istimewa kepada suara dan proses institusional di atas tuduhan substantif. This research aims to analyze the news framing constructed by Detik.com in its coverage of the controversy over the authenticity of President Joko Widodo’s university diploma. This study employs a qualitative approach using Robert N. Entman’s framing analysis model, focusing on four key elements: defining problems, diagnosing causes, making moral judgments, and making treatment recommendations. The unit of analysis comprises news articles published by Detik.com between 2022 and 2025 related to the diploma controversy. The analysis reveals that Detik.com predominantly constructs a “procedural legitimacy” frame. Instead of focusing on the veracity of the diploma itself, the coverage emphasizes the ongoing legal and institutional processes (police reports, court proceedings, official clarifications) as the central issue. This frame subtly marginalizes the accusers’ claims by positioning them as unsubstantiated allegations that must be validated through official channels, while simultaneously reinforcing the authority of state and academic institutions. Detik.com’s framing serves a dual function: it upholds journalistic norms of objectivity by covering the “drama” of the conflict, yet it ultimately reinforces the status quo by privileging institutional voices and processes over substantive allegations
Dakwah Interaktif di Media Sosial: Analisis Pola Komunikasi dan Respon Audiens di Platform TikTok dan Instagram Reels Hakim, Lukmanul
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 3 No. 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v3i2.10102

Abstract

Penelitian ini menganalisis transformasi komunikasi dakwah di era digital dengan menitikberatkan pada pemanfaatan platform TikTok dan Instagram Reels sebagai media dakwah kontemporer. Perkembangan teknologi digital mendorong pergeseran dakwah dari pola komunikasi konvensional menuju pendekatan yang lebih adaptif, interaktif, dan kontekstual. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi pola komunikasi yang digunakan oleh content creator dakwah serta menganalisis respons dan partisipasi audiens terhadap konten dakwah digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif-analitis. Data dikumpulkan melalui analisis isi kualitatif dan observasi non-partisipan terhadap konten dakwah serta interaksi audiens pada kedua platform tersebut. Subjek penelitian meliputi content creator dakwah dan audiens aktif yang terlibat dalam fitur interaksi media sosial. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran signifikan dalam pola komunikasi dakwah, ditandai dengan penggunaan gaya bahasa personal dan santai, pemanfaatan fitur kreatif platform, pendekatan isu–solusi, serta strategi narasi untuk membangun kedekatan emosional. Audiens berperan aktif melalui komentar, diskusi, dan penyebaran konten. Penelitian ini menegaskan bahwa efektivitas dakwah digital ditentukan oleh kemampuan membangun komunikasi partisipatif antara da’i dan audiens.   This study analyzes the transformation of da‘wah communication in the digital era, focusing on TikTok and Instagram Reels as contemporary da‘wah platforms. The development of digital technology has driven a shift in da‘wah practices from conventional communication patterns toward more adaptive, interactive, and contextual approaches. The purpose of this study is to identify the communication patterns employed by da‘wah content creators and to examine audience responses and participation in digital da‘wah content. This research adopts a qualitative approach with a descriptive-analytical Design. Data were collected through qualitative content analysis and non-participant observation of da‘wah content and audience interactions on both platforms. The research subjects include da‘wah content creators and active audiences who engage with social media interaction features. Data analysis was conducted using the interactive model of Miles and Huberman, which consists of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal a significant shift in da‘wah communication patterns, characterized by the use of personal and informal language styles, the utilization of creative platform features, issue–solution-based approaches, and narrative strategies to build emotional engagement. Audiences actively participate through comments, discussions, and content sharing. This study emphasizes that the effectiveness of digital da‘wah is determined by the ability to establish participatory communication between da‘i and audiences.
Signs of Food Security: A Peircean Semiotic Analysis of the Film Rumah Masa Depan Wuri, Ageng; Achmad Muarih Adaby
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 3 No. 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v3i2.10270

Abstract

Artikel ini mengkaji representasi kesadaran pangan dalam film Rumah Masa Depan yang mengangkat isu ketahanan pangan sebagai persoalan penting yang berkaitan erat dengan tantangan global seperti perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, dan ketidakstabilan ekonomi. Artikel ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan merujuk pada teori semiotika Charles Sanders Peirce untuk menganalisis tanda, simbol, dan makna yang membangun pesan tentang ketahanan pangan, nilai-nilai keluarga, serta representasi media. Analisis difokuskan pada tokoh Surti, seorang ibu sekaligus influencer media sosial yang merepresentasikan kesadaran akan pangan bergizi dan praktik hidup berkelanjutan. Melalui peran Surti, film ini menunjukkan bagaimana narasi media dan figur influencer membentuk persepsi publik terhadap pilihan pangan dan keberlanjutan. Surti tidak hanya menyediakan makanan sehat bagi keluarganya, tetapi juga mengedukasi masyarakat dalam memilih bahan pangan lokal dan bergizi, sehingga media diposisikan sebagai sarana penting dalam meningkatkan kesadaran pangan. Film ini juga menggambarkan tantangan rantai pasok pangan serta menekankan kebersamaan keluarga melalui aktivitas memasak dan makan bersama di rumah sebagai bentuk edukasi pangan sehari-hari. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Rumah Masa Depan merepresentasikan kesadaran ketahanan pangan melalui praktik domestik, komunikasi yang dimediasi media, dan keterlibatan komunitas berbasis akar rumput. Unsur visual dan naratif seperti lanskap alam, bahan pangan lokal, interaksi keluarga, dan praktik kuliner tradisional melambangkan keberlanjutan, kemandirian, dan tanggung jawab kolektif. Secara keseluruhan, film ini berfungsi sebagai media edukasi sosial yang membingkai ketahanan pangan sebagai praktik kultural dan komunikatif yang berakar pada kehidupan sehari-hari. This study examines the representation of food awareness in the film Rumah Masa Depan, which highlights food security as a critical issue closely linked to global challenges, including climate change, population growth, and economic instability. Employing a qualitative descriptive approach, the research draws on Charles Sanders Peirce’s semiotic theory to analyze signs, symbols, and meanings that construct messages related to food security, family values, and media representation. The analysis focuses on the character of Surti, a mother and social media influencer who embodies awareness of nutritious food and sustainable living practices. Through Surti’s role, the film illustrates how media narratives and influencer figures shape public perceptions of food choices and sustainability. Surti not only provides healthy meals for her family but also educates the broader community on selecting local, nutritious ingredients, positioning media as an essential tool for promoting food awareness. The film portrays challenges in food supply chains while emphasizing family togetherness through home-cooked meals, reinforcing everyday domestic practices as sites of food education. The findings reveal that Rumah Masa Depan represents food security awareness through mediated communication, community engagement, and grassroots participation. Visual and narrative elements, including natural landscapes, local ingredients, and traditional culinary practices, symbolize sustainability, self-sufficiency, and collective responsibility. Overall, the film serves as a medium of social education, framing food security as a cultural and communicative practice rooted in everyday life.