cover
Contact Name
Firdaus Annas
Contact Email
rumahjurnal@uinbukittinggi.ac.id
Phone
+6285278566869
Journal Mail Official
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Editorial Address
Data Center Building, 2nd floor, State Islamic University of Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Gurun Aua St, Kubang Putih, Banuhampu, Agam - West Sumatra - Indonesia Tel. 0752 33136 | Fax 0752 22871
Location
Kab. agam,
Sumatera barat
INDONESIA
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam
ISSN : -     EISSN : 30264405     DOI : 10.30983/aljamahiria
Core Subject : Education,
Islamic Thought Review (e-ISSN : 3025-695X) is an academic peer-reviewed journal published by the Depatment of Islamic Theology and Philosophy, Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Indonesia. The journal publishes scholarly articles addressing issues specific to the discipline of Islamic thought and wider issues from an Islamic theological and philosophical perspective. The journal aims to become one of the leading platforms in the world for new findings and discussions of all the aforementioned fields. Editor welcome scholars, researchers and practitioners around the world to submit scholarly articles to be published through this journal. All articles will be reviewed by experts before accepted for publication. Each author is solely responsible for the content of published articles.
Articles 65 Documents
Representasi Relasi Suami Istri dalam Islam pada Film Buya Hamka Vol. 1 dan Vol. 2 Lutfiah, Zumrotul; Primi Rohimi, Primi Rohimi
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 3 No. 1 (2025): January-June 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v3i1.9651

Abstract

Film Buya Hamka merupakan film bioskop Indonesia yang menggambarkan perjalanan hidup Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka) serta relasi rumah tangganya dengan Siti Raham. Artikel  ini bertujuan untuk menganalisis representasi relasi suami istri dalam Islam yang digambarkan dalam film tersebut sekaligus memahami konstruksi makna di baliknya. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dengan pendekatan kualitatif deskriptif melalui teori representasi Stuart Hall dan analisis semiotika Roland Barthes pada level denotasi, konotasi, dan mitos. Penelitian ini menemukan bahwa relasi suami istri dalam film ini merefleksikan nilai tanggung jawab, kesetiaan, saling menghormati, dan keterlibatan intelektual. Pada level denotasi, rumah tangga digambarkan harmonis dan penuh kasih sayang; pada level konotasi, relasi suami istri tidak hanya domestik tetapi juga ideologis dan intelektual; sementara pada level mitos, film membangun gambaran rumah tangga ideal dalam Islam sebagai relasi yang egaliter, dialogis, serta menjadi fondasi kekuatan moral dan perjuangan umat. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya kajian komunikasi Islam dan studi representasi melalui media film, dengan menunjukkan bagaimana film religius dapat berfungsi sebagai sarana dakwah kultural sekaligus inspirasi dalam membangun rumah tangga Islami yang harmonis dan berkeadilan. The film Buya Hamka is an Indonesian movie that depicts the life journey of Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka) and his marital relationship with Siti Raham. This article aims to analyze the representation of husband-wife relationships in Islam as depicted in the film and to understand the construction of meaning behind it. This study employs a literature review method with a descriptive qualitative approach, drawing on Stuart Hall's theory of representation and Roland Barthes' semiotic analysis at the denotative, connotative, and mythical levels. This study finds that the husband-wife relationship in this film reflects the values of responsibility, loyalty, mutual respect, and intellectual involvement. At the denotative level, the household is depicted as harmonious and loving; at the connotative level, the husband-wife relationship is not only domestic but also ideological and intellectual; while at the mythical level, the film constructs an image of the ideal household in Islam as an egalitarian, dialogical relationship that serves as the foundation of moral strength and the struggle of the ummah. This research contributes to enriching the study of Islamic communication and representation through film media by showing how religious films can serve as a means of cultural da'wah (proselytizing) as well as inspiration in building a harmonious and just Islamic household.
Literasi Digital dan Kesadaran Budaya sebagai Solusi Tantangan Atemporalitas dalam Komunikasi Antarbudaya Fakhri, Muh Nur; Zakiah, Farah Nurul; Lely Novia
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 3 No. 1 (2025): January-June 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v3i1.9841

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk membahas tantangan komunikasi antarbudaya di era digital, khususnya fenomena atemporalitas dan kelebihan informasi yang muncul di media sosial. Komunikasi digital sering kali berlangsung tanpa kejelasan waktu dan konteks budaya, sehingga memicu kebingungan serta salah tafsir antar pengguna dari latar budaya yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bentuk tantangan tersebut dan strategi yang digunakan individu dalam menghadapinya. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara semi-terstruktur. Partisipan berjumlah delapan orang mahasiswa Universitas Negeri Makassar yang aktif berinteraksi secara daring dengan individu dari budaya berbeda. Data dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi pola pengalaman dan respons partisipan. Hasil menunjukkan bahwa partisipan mengalami stres akibat banjir informasi dan disorientasi waktu. Mereka kesulitan membedakan informasi yang akurat dan relevan. Sebagai respons, mereka menggunakan strategi verifikasi sumber, pemeriksaan fakta, dan peningkatan literasi media. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkuat pentingnya literasi digital dan kesadaran budaya sebagai bekal menghadapi disinformasi. Temuan ini juga merekomendasikan pengembangan fitur media sosial yang kontekstual dan mendukung komunikasi antarbudaya yang lebih akurat dan inklusif.   This study explores the challenges of intercultural communication in the digital era, focusing on the phenomena of atemporality and information overload emerging on social media platforms. Digital communication often occurs without clear temporal or cultural context, leading to confusion and misinterpretation among users from diverse cultural backgrounds. The purpose of this research is to identify the nature of these challenges and examine the strategies individuals use to navigate them. The study employs a qualitative approach using semi-structured interviews. Eight student participants from Universitas Negeri Makassar were selected, all of whom actively engage in online intercultural interactions. The data were analyzed thematically to identify patterns of experience and response among participants. Findings reveal that participants experienced stress due to the overwhelming volume of information and temporal disorientation. They found it difficult to distinguish accurate and relevant information. In response, participants adopted strategies such as source verification, fact-checking, and improving their media literacy. This research contributes to strengthening the role of digital literacy and cultural awareness as essential tools for countering disinformation. It also recommends the development of social media features that promote contextualized and inclusive intercultural communication.
Instagram and Political Power: How Social Media Enhances the Self-Image of Political Actors Ahmad Suryadi; Jeni Mona Melisa
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 3 No. 1 (2025): January-June 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v3i1.9925

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan Instagram oleh politisi untuk menciptakan citra positif dalam mempengaruhi pemilih. Artikel ini akan menganalisis secara komperhensih penggunaan Instagram oleh calon gubernur dan wakil gubernur Sumatera Barat dalam kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 menggunakan analisis konten kualitatif menggunakan kerangka Pierre Bourdieu: habitus, modal, field. Penelitian ini menemukan bahwa Instagram telah menjadi arena politik strategis bagi para politisi, dimana kekuasaan simbolik diperjuangkan melalui unggahan visual, gambar, video pendek, dan hastag. Pasangan Mahyeldi–Vasco secara konsisten memanfaatkan modal simbolik, budaya, dan sosial untuk memperkuat branding mereka dalam berbagai posting, terutama melalui hashtag #Gerakcepatuntuksumbar. Sebaliknya, akibat ketidakkonsistenan dalam memposting informasi dan penggunaan hashtag, pasangan Epyardi-Ekos belum optimal memanfaatkan Instagram sebagai alat komunikasi politik. Strategi komunikasi politik melalui Instagram ini menjadi salah satu keunggulan pasangan Mahyeldi-Vasco dalam membentuk opini publik di Instagram. Studi ini menyoroti pentingnya aktor politik mengelola narasi, menjaga konsistensi posting, dan berkolaborasi dalam memanfaatkan modal untuk membangun dan memperkuat citra positif. Temuan ini memberikan kontribusi teoritis dan praktis dalam memahami dinamika politik di media digital serta memperluas pengetahuan tentang strategi komunikasi politik kontemporer dalam konteks pemilihan berbasis media sosial. This article explores and analyzes politicians' use of Instagram to create a positive image and influence voters. This study will comprehensively examine the use of Instagram by the candidates for governor and deputy governor of West Sumatra in the 2024 regional head elections (Pilkada) using a qualitative content analysis approach based on Pierre Bourdieu's theoretical framework: habitus, capital, and field. The research found that Instagram has become a strategic political arena where symbolic power is contested through visual posts, images, short videos, and hashtags. The Mahyeldi–Vasco pair consistently leveraged symbolic, cultural, and social capital to strengthen their branding in various posts, particularly through the hashtag #Gerakcepatuntuksumbar. Conversely, due to inconsistencies in posting information and hashtag usage, the Epyardi-Ekos pair has not optimally utilized Instagram as a political communication tool. This political communication strategy via Instagram has become one of the strengths of the Mahyeldi-Vasco pair in shaping public opinion on Instagram. This study highlights the importance of political actors managing narratives, maintaining post consistency, and collaborating on capital to build and strengthen a positive image. These findings contribute theoretically and practically to understanding political dynamics in digital media and expanding knowledge about contemporary political communication strategies in the context of social media-based electoral contests, particularly on Instagram.
Green Broadcasting as an Environmental Media Pillar in Indonesia’s Climate Crisis Era Farid, Ahmad Salman; Musawer Hakimi
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 3 No. 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v3i2.10040

Abstract

Green Broadcasting telah muncul sebagai praktik penting dalam mendorong keberlanjutan lingkungan melalui konten media. Namun, di Indonesia, penerapan praktik penyiaran hijau masih berjalan lambat dan menghadapi berbagai tantangan, khususnya di kalangan lembaga penyiaran berskala kecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kondisi terkini Penyiaran Hijau di Indonesia serta dampaknya terhadap kesadaran lingkungan masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-methods, yang terdiri atas wawancara dengan para profesional media, analisis konten program-program bertema lingkungan, dan survei terhadap audiens. Penelitian dilakukan pada lembaga penyiaran besar maupun kecil, termasuk Green Radio 96.7 FM Pekanbaru, RCTI, dan Trans7. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyiaran hijau di Indonesia masih berada pada tahap awal, dengan variasi yang signifikan antar stasiun. Lembaga penyiaran besar menunjukkan kemajuan yang terbatas, sedangkan stasiun kecil seperti Green Radio lebih proaktif dalam menyelaraskan operasional mereka dengan prinsip keberlanjutan. Penelitian ini juga menemukan bahwa penyiaran hijau memberikan dampak positif terhadap peningkatan kesadaran lingkungan masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan. Selain itu, penelitian menyoroti sejumlah hambatan dalam penerapan praktik penyiaran hijau, seperti tingginya biaya awal, keterbatasan teknis, dan resistensi terhadap perubahan. Meskipun berbagai tantangan tersebut masih ada, penyiaran hijau memiliki potensi berkembang, terutama jika kebijakan serta insentif pemerintah mampu mendukung transisi menuju praktik media yang lebih ramah lingkungan.   Green Broadcasting has emerged as an important practice in promoting environmental sustainability through media content. In Indonesia, however, the adoption of green practices in broadcasting has been slow and faces several challenges, especially among smaller media outlets. This study aims to examine the current state of Green Broadcasting in Indonesia and its impact on public environmental awareness. A mixed-methods approach was employed, consisting of interviews with media professionals, content analysis of environmental programming, and surveys of audience members. The research was conducted across both large and small media stations, including Green Radio 96.7 FM Pekanbaru, RCTI, and Trans7. The study found that Green Broadcasting in Indonesia is still in its nascent stages, with significant variations across stations. Larger broadcasters have made limited progress, while smaller stations like Green Radio have been more proactive in aligning their operations with sustainability. The research also found that Green Broadcasting had a positive impact on public environmental awareness, especially in rural areas. The research highlights several barriers to adopting Green Broadcasting practices, including high initial costs, technical limitations, and resistance to change. Despite these challenges, there is potential for growth, particularly if government policies and incentives support the transition to greener media practices.
Tiktok And The Construction Of The Public: A Critical Discourse Analysis Of The Al-Khosini Case Zaimi, Hamas Dzulfikar; Murad, Faizah; Suprapto; Fidaul Qonita
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 3 No. 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v3i2.10159

Abstract

Pesatnya kemajuan  teknologi komunikasi digital telah mengubah secara fundamental cara masyarakat Indonesia berinteraksi, mengekspresikan keagamaan, dan membentuk opini publik. TikTok, dengan karakteristik audiovisual dan algoritmiknya, kini berfungsi sebagai ruang publik digital tempat wacana keagamaan diproduksi, dipertukarkan, dan dinegosiasikan secara terbuka. Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi wacana publik yang muncul melalui video viral robohnya Pondok Pesantren Al-Khosini di Sidoarjo pada bulan September tahun 2025, serta menelaah bagaimana peristiwa tersebut mencerminkan transformasi sosial dan religius dalam ekosistem digital. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dan pendekatan Critical Discourse Analysis (Fairclough), penelitian ini menganalisis sepuluh video TikTok, terdiri atas empat video unggahan resmi akun pondok dan enam video dari akun luar, termasuk media arus utama seperti CNN Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa video viral tersebut tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi peristiwa, tetapi juga menjadi arena kontestasi makna antara ekspresi kesalehan, kritik sosial, dan representasi moralitas publik. TikTok berperan sebagai “mimbar digital” yang memediasi dialektika antara otoritas keagamaan tradisional dan partisipasi publik yang emosional. Lebih jauh, algoritma platform bertindak sebagai agen ideologis yang memperkuat narasi populis dan emosional, sambil menggeser ruang refleksi keagamaan yang mendalam. Kontribusi teoretis penelitian ini terletak pada pemahaman bahwa kesakralan agama di era digital tidak memudar, melainkan bertransformasi menjadi kesucian partisipatif yang dimediasi oleh teknologi, afeksi kolektif, dan dinamika algoritmik masyarakat modern. The rapid advancement of digital communication technology has fundamentally changed the way Indonesians interact, express their religiosity, and shape public opinion. TikTok, with its audiovisual and algorithmic features, now functions as a digital public space where religious discourse is openly produced, exchanged, and negotiated. This study aims to analyse the construction of public discourse that emerged from viral videos of the collapse of the Al-Khosini Islamic boarding school in Sidoarjo in September 2025, and to examine how this event reflects social and religious transformations in the digital ecosystem. Using descriptive qualitative methods and a Critical Discourse Analysis (Fairclough) approach, this study analyses 10 TikTok videos, comprising four officially uploaded by the boarding school’s account and six from external accounts, including mainstream media such as CNN Indonesia. The results of the analysis show that these viral videos not only serve as documentation of events but also become arenas for contesting meanings among expressions of piety, social criticism, and representations of public morality. TikTok acts as a “digital pulpit” that mediates the dialectic between traditional religious authority and emotional public participation. Furthermore, the platform’s algorithm serves as an ideological agent, reinforcing populist and emotional narratives while narrowing the space for deep religious reflection. The theoretical contribution of this research lies in the understanding that the sacredness of religion in the digital age has not faded, but instead transformed into participatory sanctity mediated by technology, collective affection, and the algorithmic dynamics of modern society.