cover
Contact Name
Hikmatun Ni'mah
Contact Email
hikmatun_n@chem-eng.its.ac.id
Phone
+62315946240
Journal Mail Official
jfache.its2020@gmail.com
Editorial Address
Gedung Teknik Kimia, lt. 2 Ruang Sekretariat Teknik Kimia Jalan Teknik Kimia Kampus ITS Sukolilo Surabaya
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering
ISSN : -     EISSN : 2964710X     DOI : http://dx.doi.org/10.12962/j2964710X.v4i2
Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering (JFAChE) (eISSN: 2964-710X) is managed by Department of Chemical Engineering, Faculty of Industrial Technology and Systems Engineering, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya. JFAChE is an international research journal which invites contributions of original and novel fundamental researches. The journal aims to capture new developments and initiatives in chemical engineering related and specialized areas. Papers which describe novel theory and its application to practice are welcome, as well as for those which illustrate the transfer of techniques from other disciplines. Featuring research articles and reviews, the journal covers all aspects related to chemical engineering, including chemical reaction engineering, environmental chemical engineering, and materials synthesis and processing. Published annually in August and December. It is open to all scientists, researchers, education practitioners, and other scholars, providing an opportunity for technology transfer and collaboration.
Articles 51 Documents
Biodelignification on Sengon (Paraserianthes falcataria) and Pine (Pinus merkusii) Using White-Rot Fungus Phanerochaete chrysosporium for the Development of Pulp and Paper Industries in Indonesia Arief Widjaja; Dwina Moentamaria; Hanny F. Sangian
Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2964710X.v3i1.13043

Abstract

Indonesia with its huge area of tropical forest is one of the biggest wood producing countries, thereby potential to become a big pulp and paper producing country. However, the present pulping/bleaching process uses chlorine that is very toxic to the environment. Biopulping process which reduce or eliminate the use of chlorine is therefore a very promising method. This research performs the biodelignification process using white-rot fungus Phanerochaete chrysosporium on Sengon (Paraserianthes falcataria) and Pine (Pinus merkusii) especially studies the effect of using different medium during incubation. Agar and okara were used for the base media in which the effect of important parameters such as mineral additive, buffering system and nitrogen content of the media were investigated. The highest degradation of lignin was 55% achieved on Sengon incubated for 30th days using buffered okara with nitrogen limited media. The research also shows that Sengon gives better results than Pine on the degree of its lignin degradation. The results also show that degradation of lignin always occurred together with the degradation of cellulose and hemmicellucose, although the degradation of the latter two materials is less than degradation of lignin. It was concluded from the experiment that more complete addition of nutrient with appropriate composition, appropriate adjustment of pH, water content, appropriate incubation time and temperature, would increase the degree of delignification and in the same time will decrease the degree of polisaccaride degradation.
Pra Desain Pabrik Bio Pellet dari Ampas Tebu (Bagasse) dengan Proses Torrefaction Bagas Hardiatmoko; Aulia Defriana; Sri Rachmania Juliastuti; Raden Darmawan
Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2964710X.v4i1.19183

Abstract

Sebagai salah satu bentuk energi terbarukan, bioenergi memiliki prospek besar untuk dikembangkan. Ketersediaan bahan baku yang melimpah di indonesia menjadi salah satu alasan pemanfaatan energi yang bersumber dari bioenergi. Biomassa dapat langsung digunakan sebagai bahan bakar atau melalui proses pembuatan pellet untuk menghasilkan energi sekunder yaitu tenaga listrik. Potensi pasar dari usaha pellet semakin meningkat, apalagi dengan adanya program co-firing dari pemerintah untuk mencampur bio pellet dengan bahan bakar fosil memberikan peluang didirikannya pabrik bio pellet untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar. Bio pellet merupakan salah satu bahan bakar biomasa yang memiliki kesergaman bentuk,  ukuran, densitas, dan kandungan energi. Ampas tebu (bagasse) dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan bio pellet karena jumlahnya yang melimpah dan belum termanfaatkan dengan baik. Pada produksi bio pellet dari ampas tebu (bagasse) ini, dipilih metode torrefaction dimana terdapat tiga tahap pada pembuatan pellet yaitu tahap pre-treatment, tahap torrefaction yaitu konversi biomasa menjadi karbon, dan tahap pelletizing yaitu mengubah torrified biomass menjasi bentuk pellet. Pabrik ini direncanakan beroperasi 330 hari/tahun, 24 jam/hari dengan kapasitas 60.000 ton/tahun dan membutuhkan bahan baku ampas tebu (bagasse) sebanyak 130.842 ton/tahun. Produk yang dihasilkan mempunyai yield 47%. Internal rate of return dari pabrik ini sebesar 14,49% dengan Payout time selama 7,5 tahun dan Break even point sebesar 26%.
Pra Desain Pabrik Hidrogen dari Tandan Kosong Kelapa Sawit dengan Metode Gasifikasi Uap Jericho Immanuel; Dewi Setiyaningsih; Fadlilatul Taufany; S. Susianto
Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2964710X.v3i1.17512

Abstract

Energi merupakan aspek penting yang selalu dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Pandemi COVID-19 menurunkan penyediaan energi, terutama pada tahun 2020.  Di Indonesia, sektor pembangkit listrik merupakan penyumbang emisi GRK terbesar. Sehubungan dengan hal tersebut, Indonesia telah menentukan target untuk energi baru terbarukan (EBT) pada 2025-2050 sebesar 23-31% dengan mengurangi penggunaan minyak bumi, batu bara, dan gas bumi. Telah terjadi peningkatan dalam pemanfaatan EBT salah satunya adalah biomassa. Di Indonesia, pemanfaatan energi biomassa masih 5,1% dari potensi yang ada.  Biomassa tersedia secara melimpah perlu dikembangkan lebih jauh untuk menggantikan energi fosil yang terbatas dan mengurangi emisi CO2. Di Indonesia, sangat sedikit PLT Biomassa yang dikembangkan menggunakan hidrogen murni dengan emisi hampir nol. Hidrogen telah muncul sebagai bagian penting dari campuran energi bersih secara berkelanjutan. Jenis produk hidrogen yang terpilih dalam pabrik ini yaitu hidrogen biru. Pabrik akan didirikan pada 2024 dan mulai beroperasi pada 2027. Lokasi pembangunan pabrik ditetapkan akan didirikan di kawasan industri Dumai, Riau. Pemilihan lokasi pabrik berdasarkan ketersediaan bahan baku, lahan, listrik transportasi, dan sumber tenaga kerja. Bahan baku utama proses produksi adalah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS). Pemanfaatan TKKS sebanyak 4940.71 ton/tahun. Selain menghasilkan hidrogen, terdapatproduk samping yaitu CO2 yang akan dimanfaatkan oleh perusahaan lain. Proses pembuatan hidrogen dibagi menjadi beberapa proses yaitu size reduction, drying, gasification, steam methane reforming, water gas shift, dan pressure swing adsorption. Hasil akhir gas hidrogen memiliki kemurnian 99%.  Untuk mengetahui kelayakan pabrik, dilakukan analisa ekonomi meliputi IRR, NPV,dan POT. Didapat IRR>WACC sebesar 18.61%, NPV>0 sebesar Rp.539,001,002,607,985. Modal pabrik akan kembali (POT) setelah 3 tahun. Dari analisa yang telah dilakukan, ditarik kesimpulan bahwa pabrik layak untuk didirikan.
Pra Desain Pabrik Sorbitol dari Pati Sagu dengan Proses Hidrogenasi Katalitik Galang Dhaifullah Abdul Aziz; Umma Aulia Marwa; Arief Widjaja
Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering Vol 2, No 1 (2021)
Publisher : Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2964710X.v2i1.12995

Abstract

Industri sorbitol merupakan salah satu industri yang memiliki prospek masa depan yang baik. Hal ini disebabkan sorbitol banyak dimanfaatkan di berbagai industri, seperti industri pangan, farmasi, kosmetik, kimia serta bidang industri lainnya. Permintaan sorbitol meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya memperhatikan nutrisi pada makanan dan minuman serta bahaya diabetes. Kebutuhan sorbitol nasional akan meningkat dengan sejalannya pertumbuhan penduduk serta meningkatnya perkembangan dan pembangunan ekonomi Indonesia. Sorbitol merupakan poliol dengan tingkat kemanisan 0,6 kali relatif lebih rendah dari sukrosa dan memiliki nilai kalori yang rendah, yaitu sebesar 2,6 kalori/gram sehingga merupakan jenis gula yang aman dikonsumsi oleh penderita diabetes, obesitas, dan kariogenesis pada gigi. Pembuatan sorbitol dari bahan baku pati melalui dua tahap proses utama yaitu proses perubahan starch dari bahan baku pati menjadi glukosa melalui hidrolisa enzim, dimana enzim yang digunakan yaitu α-amilase dan glukoamilase. Tahap kedua yaitu proses pengubahan glukosa menjadi sorbitol menggunakan proses hidrogenasi katalitik. Pabrik sorbitol ini  direncakan akan didirikan di Kawasan Industri Pelintung, Pelintung, Medang Kampai, Kota Dumai, Riau, Indonesia. Investasi pembangunan pabrik ini terbagi dari modal sendiri dengan laju inflasi 1,55% per tahun sebesar Rp125.781.902.612,00 dan modal pinjaman dengan suku bunga 8,00% per tahun sebesar Rp322.121.197.711,00. Total biaya produksi sorbitol sebesar Rp397.372.970.430,00 per tahun. Hasil penjualan sorbitol 70% sebesar Rp328.824.427916,00. Internal rate of return dari pabrik ini adalah 14,74% dengan payout time 5,22 tahun dan break event point sebesar 16,10%. Pabrik ini direncakan beroperasi secara kontinu 24 jam selama 330 hari pertahun operasi dengan rencana kapasitas produksi sebesar 83 ton/hari dengan jumlah foreman proses dan produksi sebanyak 42 orang/hari. Ditinjau dari aspek teknis dan ekonomi pabrik sorbitol ini layak untuk didirikan.
Pra Desain Pabrik Fatty Acid dari Palm Fatty Acid Distillate (PFAD) Raja Tamiang Asma’i; Farhan Hadi Putra; Orchidea Rachmaniah
Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering Vol 1, No 1 (2020)
Publisher : Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2964710X.v1i1.12726

Abstract

Indonesia memegang peranan penting sebagai produsen terbesar minyak sawit dunia untuk memenuhi konsumsi dunia. Kelapa sawit menghasilkan dua macam minyak, yaitu minyak yang berasal dari daging buah (Crude Palm Oil) dan minyak yang berasal dari inti/biji buah sawit (Palm Kernel Oil) juga menghasilkan palm fatty acid distillate (PFAD) produk samping dari pengolahan minyak kelapa sawit. Sebagai negara penghasil minyak nabati terbesar di dunia, Salah satu pemanfaatan Fatty Acid adalah bahan baku pembuatan kulit, karet, dan beberapa produk lain. Lokasi pendirian pabrik fatty acid direncanakan di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Penentuan lokasi pendirian pabrik ini didasari dengan keberadaan bahan baku berupa PFAD. Kapasitas produksi Fatty Acid direncanakan sebesar 130.000 ton/tahun. Perencanaan ini berdasarkan jumlah produksi, konsumsi, ekspor, dan impor LPG yang diproyeksikan pada tahun 2024. Untuk memproduksi Fatty Acid tersebut diperlukan bahan baku PFAD sebesar 155.520 ton/tahun. Proses produksi Fatty Acid dari Palm Fatty Acid Distillate menggunakan proses fraksinasi. Dari analisa yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut Dari perhitungan analisa ekonomi, diperoleh Internal Rate Return (IRR) sebesar 83%. Dengan IRR tersebut mengindikasikan bahwa pabrik layak untuk didirikan dengan suku bunga 9,75% dan waku pengembalian modal (pay out period) selama 1,42 tahun. Perhitungan analisa ekonomi didasarkan pada discounted cash flow. Modal untuk pendirian pabrik menggunakan rasio 30% modal sendiri dan 70% modal pinjmaan. Modal total yang dibutuhkan Rp. 310.121.992.042. Sedangkan Break Event Point (BEP) yang diperoleh sebesar 27,88%.
Effect of Empty Bunch Fruits Biochar for Growth of Pakcoy (Brassica rapa) in Heavy Metals Contaminated Soil Arvamusa, Mevlana; Radjamin, Irviano Panusunan; Juliastuti, Sri Rachmania; Darmawan, Raden; Fahmi, Fahmi; Meka, Wahyu; Rachmaniah, Orchidea
Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2964710X.v4i2.18828

Abstract

Production of Crude Palm Oil (CPO) generates waste, one of which is Empty Fruit Bunch (EFB). EFB has a high potential for further utilization due to its carbon and nitrogen content. The abundant carbon content can be utilized and further processed into a value-added product such as biochar. This study aims to investigate the influence of waste mixtures from various parts of the oil palm and the effect of temperature in furnace pyrolysis and microwave pyrolysis methods on biochar production for remediating and reducing heavy metal pollution in soil. The preparation of oil palm waste materials consists of EFB, trunks, and oil palm shells, which are then crushed and refined. Through proximate and ultimate testing, two parts of oil palm waste with the highest carbon content were obtained and used in biochar production with a waste ratio of 80:20. Biochar production was carried out using the furnace pyrolysis method at temperatures of 200, 300, and 400°C for 3 hours. The biochar was added to soil media planted with Pakcoy (Brassica rapa). The effectiveness of biochar in the remediation of heavy metal pollution in soil was analyzed
Natural colorant from suji leaves (Pleomale angustivoria) and dragon fruit peel (Hylocereus sp.) Yeni Rahmawati; Intan Febrianti; Detva Firly Priadi; Orchidea Rachmaniah
Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2964710X.v4i1.17299

Abstract

The application of natural colorant decreases with the increase in synthetic colorant due to its easier to obtain, cheaper, more stable, consistent color, and availability in various color options. However, excessive use of synthetic colorants in the long term may cause either carcinogenic or mutagenic. Therefore, natural colorant research from natural colorants is still promising. Suji leaves (Pleomale angustivoria), and dragon fruit (Hylocereus sp.) peel are potential natural dye sources. The green color of suji leaves is chlorophyll which has been widely used as a natural colorant in food products. In contrast, dragon fruit peel contains betacyanin as an agricultural waste and has not been widely used. Respectively, chlorophyll and betacyanin give green and red colors. They may act as alternatives to natural colorants, safer and healthier than synthetic ones. The research of natural colorants extraction will be carried out in 2 stages; the first is the extraction step of the active natural colorant compounds, i.e., chlorophyll and betacyanin; subsequently, the evaporation of the solvent. Moreover, in the case of betacyanin extract, either citric acid or ascorbic acid is added to pH ± 4.5 as a stabilizer. Dried powder of chlorophyll and betacyanin is also conducted with a simple method as a comparison
Pra Desain Pabrik Bioetanol dari Oil Palm Frond dengan Proses Fermentasi Menggunakan Saccharomyces Cerevisiae Maria Regina Olga Santoso; Dewi Farra Prasasya; Arief Widjaja
Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering Vol 2, No 2 (2021)
Publisher : Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2964710X.v2i2.14363

Abstract

Konsumsi minyak yang tak diiringi dengan jumlah produksi akan mengakibatkan ancaman kelangkaan sumber energi. Oleh karena itu, Indonesia merancang REUN dan PP RI. No 79 tahun 2014 yang akan menggunakan Energi Baru Terbarukan sebanyak 23% pada tahun pada 2025 dan 31% pada tahun 2050 yang salah satu sumbernya merupakan biomassa dalam rupa pelepah kelapa sawit atau Oil Palm Frond (OPF). OPF tersedia melimpah di Indonesia dan berasal dari perkebunan kelapa sawit hasil pemangkasan saat panen, yang utamanya hanya digunakan sebagai pakan ternak dan nutrisi kebun. Kandungan gula sederhana OPF mencapai 647.76 g/L.  Pabrik ini direncanakan akan didirikan di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat dengan estimasi waktu mulai produksi pada tahun 2024. Pabrik bioetanol ini berkapasitas 49.875 kg/jam limbah OPF masuk dan beroperasi selama 24 jam per hari dengan hari kerja 330 hari per tahun untuk menghasilkan 37.000 kL tiap tahunnya. Terdapat 3 tahapan utama dalam proses pembuatan bioetanol dari OPF berbasis jus OPF, yaitu tahap pretreatment, fermentasi, dan pemisahan. Produksi dimulai dengan OPF dipotong menggunakan Cutter, lalu diperas menggunakan roll mill dan air imbibisi bersuhu 70°C dan disaring menghasilkan jus OPF. Kemudian disesuaikan pH dan pemberian nutrisi pada jus OPF serta disterilkan. Aliran kemudian dibagi menjadi dua yaitu pengulturan dalam kondisi aerob 24 jam dan fermentasi jus OPF beserta inokulum dalam kondisi anaerob 36 jam secara batch. Beer yang dihasilkan disaring dan dimurnikan dengan distilasi hingga 95% dan dilanjutkan dengan adsorbsi hingga kadar etanol mencapai 99,5%. Modal pabrik bioethanol berasal dari 40% dana pribadi dan 60% pinjaman dari Bank BNI. Dengan perincian analisa ekonomi sebagai berikut : Nilai NPV positif dan nilai Internal rate of Return sebesar 18,01% di atas WACC 10,05% dan bunga bank 9,64%, POT  dalam 4,4 tahun, dan BEP sebesar 34,80%. Dilihat dari sensitivitas terhadap IRR, harga jual produk berpengaruh besar dalam nilai IRR.
Pemanfaatan Bakteri Bacillus Cereus pada Proses Bioremediasi Tanah Terkontaminasi Minyak Bumi dengan Metode Slurry Bioreactor Abubakar Tuhuloula; Sri Rachmania Juliastuti
Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering Vol 1, No 2 (2020)
Publisher : Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2964710X.v1i2.12771

Abstract

Kegiatan eksplorasi dan produksi minyak bumi sangat berpotensi mencemari lingkungan. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengatasi pencemaran minyak bumi adalah dengan metode bioremediasi yang menggunakan mikroorganisme untuk mendegradasi senyawa berbahaya menjadi tidak berbahaya. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh konsentrasi bakteri Bacillus Cereus pada penurunan konsentrasi TPH (Total Petroleum Hydrocarbon) pada bioremediasi lahan terkontaminasi minyak bumi. Metode penelitian menggunakan tiga tahapan utama yaitu peremajaan isolat bakteri Bacillus cereus, preparasi tanah, dan proses bioremediasi. Residu hidrokarbon minyak bumi diukur dengan metode gravimetri. Hasil identifikasi selama tujuh minggu menunjukan, bakteri Bacillus cereus dengan konsentrasi 5%(v/v), 10%(v/v), 15%(v/v) dan tanpa penambahan bakteri, pada minggu ke-0 kadar TPH pada tanah berturut-turut adalah 51.000 µg/g, 49.000 µg/g, 50.000 µg/g dan 46.000 µg/g; dan pada minggu ke-7 mampu menurunkan kadar total petroleum hidrokarbon berturut-turut adalah 15000 µg/g, 7000 µg/g, 7000 µg/g, dan 27000 µg/g, dengan persen biodegradasi 69,39%; 86%; 84,78% dan 47,06%. Konsentrasi BTEX akhir untuk penambahan bakteri 5% (v/v), benzen yang terdegradasi adalah 0,635 mg/L, toluen adalah 20,067 mg/L, etilbenzen adalah 1,428 mg/L dan xilen adalah 0,469 mg/L, dengan % biodegradasinya untuk benzen 98,09%; toluen 49,56%; etilbenzen 84,15%; dan xilen 96,14%. Pada penambahan bakteri 10% (v/v), degradasi benzen adalah 0,565 mg/L, etilbenzen adalah 0,649 mg/L dan xilen adalah 0,459 mg/L, dengan % biodegradasinya untuk benzen 98,29%; etilbenzen 92,79% dan xilen 96,22%, serta pada penambahan bakteri 15% (v/v), dapat mendegradasi benzen sampai 0,496 mg/L, dan xilene adalah 0,444 mg/L, dengan % biodegradasinya untuk benzen 98,51% dan xilen 96,34%. Model kinetika biodegradasi oleh bakteri, untuk bioreaktor 5% (v/v) didapat Y = 1,745 mg biomass/mg substrate, kd = 0,028 hari-1; ko = -0,128 hari-1 dan Km = 1745201 mg/L. Untuk bioreaktor 10% (v/v) nilai Y = 1,634 mg biomass/mg substrate, kd = 0,041 hari-1; ko = 0,318 hari-1 dan Km = 44501,6 mg/L. Sedangkan untuk bioreaktor 15% diperoleh nilai Y = 2 mg biomass/mg substrate, kd = 0,032 hari-1; ko = 0,941 hari-1 dan  Km = 81200 mg/L.
Pra Desain Pabrik Olein Dari CPO Dengan Proses Physical Refining Dan Dry Fractionation Helmi Kurnia Arnanda; Desy Puspitasari; Hikmatun Ni’mah; Firman Kurniawansyah
Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering Vol 1, No 2 (2020)
Publisher : Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2964710X.v1i2.12768

Abstract

Kelapa sawit merupakan salah satu komoditi utama yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Industri pengolahannya memberikan kontribusi yang penting dalam menghasilkan devisa dan lapangan pekerjaan. Hal tersebut dikarenakan minyak kelapa sawit  merupakan industri hulu yang sangat penting bagi berbagai industri lainnya, seperti: makanan, kosmetik, sabun dan cat. Bahkan akhir-akhir ini ada upaya penggunaan minyak kelapa sawit sebagai bahan baku pembuatan bahan bakar alternatif. Kondisi ini memacu perkembangan industri pengolahan kelapa sawit, baik kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. Dan perkembangan industri sejalan dengan semakin meningkatnya luas areal perkebunan kelapa sawit.Pabrik Olein akan didirikan dan siap beroperasi pada tahun 2023, dengan pembelian peralatan pada tahun 2020 dan masa konstruksi selama 2 tahun (2021-2022). Lokasi pabrik direncanakan di daerah Musi Banyuasin, Kota Sekayu, Sumatera Selatan. Pemilihan lokasi pabrik ini berkaitan dengan ketersediaan bahan baku utama berupa Crude Palm Oil (CPO). Bahan baku utama dalam proses pembuatan Olein yaitu Crude Palm Oil (CPO) yang memiliki komposisi sebesar 93,60% Trigliserida (TGA), 1,75% Digliserida (DGA), 0,5% Monogliserida (MGA), 4% Free Fatty Acid (FFA), 0,06% Phosphatida, 0,03% Karoten, 0,06% Tocopherols. Adapun bahan baku tambahan berupa Asam Phospat dan Bleaching Earth. Dosis yang digunakan yaitu sebesar 0.044% dari feed yang masuk untuk asam phospat. Sedangkan untuk Bleaching Earth dosis yang digunakan yaitu 1.4% dari feed yang masuk. Kebutuhan tersebut bergantung pada kualitas CPO yang digunakan untuk proses produksi. Kapasitas produksi Olein direncanakan sebesar 340.000 ton olein/tahun. Perencanaan ini berdasarkan jumlah lahan yang dimiliki oleh pabrik dan jumlah raw material yang tersedia untuk proses produksi. Dalam pemenuhan kapasitas tahunan, pabrik akan beroperasi kontinyu 8 jam per hari selama 330 hari. Untuk memproduksi Olein sebesar 340.000 ton olein/tahun diperlukan bahan baku CPO sebesar 69.697,673 kg CPO/jam. Selain produk utama Olein, pabrik ini juga dapat memproduksi produk berupa stearin. Selain itu hasil Palm Fatty Acid Distillated (PFAD) dapat diolah menjadi biodiesel.Proses pembuatan Olein dapat diuraikan menjadi 2 tahapan proses, yaitu Proses Refinery dan Proses Fraksinasi. Proses Refinery dapat dibagi menjadi 4 tahapan proses yaitu tahap Degumming, Bleaching, Filtrasi, dan Deodorisasi. Dari tahap ini akan diperoleh produk berupa Refined Bleach Deodorized Palm Oil (RBDPO). Selanjutnya dilanjutkan proses Fraksinasi yang dibagi menjadi dua tahapan proses yaitu kristalisasi dan filtrasi. Pada tahap ini akan diperoleh produk Olein dan Stearin. Dari perhitungan analisa ekonomi, dengan harga jual olein sebesar $607,5 per ton dan harga stearin sebesar $535 per ton. Adapaun diperoleh Internal Rate Return (IRR) sebesar 22,82%. Dengan IRR tersebut mengindikasikan bahwa pabrik layak untuk didirikan dengan suku bunga 9,75% dan waktu pengembalian modal (pay out period) selama 3,90 tahun. Perhitungan analisa ekonomi didasarkan pada discounted cash flow. Modal untuk pendirian pabrik menggunakan rasio 60% modal sendiri dan 40% modal pinjaman. Modal total yang dibutuhkan untuk mendirikan pabrik adalah sebesar Rp. 1.070.670.796.513,74 Sedangkan Break Event Point (BEP) yang diperoleh adalah sebesar 34,71%.