cover
Contact Name
Hikmatun Ni'mah
Contact Email
hikmatun_n@chem-eng.its.ac.id
Phone
+62315946240
Journal Mail Official
jfache.its2020@gmail.com
Editorial Address
Gedung Teknik Kimia, lt. 2 Ruang Sekretariat Teknik Kimia Jalan Teknik Kimia Kampus ITS Sukolilo Surabaya
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering
ISSN : -     EISSN : 2964710X     DOI : http://dx.doi.org/10.12962/j2964710X.v4i2
Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering (JFAChE) (eISSN: 2964-710X) is managed by Department of Chemical Engineering, Faculty of Industrial Technology and Systems Engineering, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya. JFAChE is an international research journal which invites contributions of original and novel fundamental researches. The journal aims to capture new developments and initiatives in chemical engineering related and specialized areas. Papers which describe novel theory and its application to practice are welcome, as well as for those which illustrate the transfer of techniques from other disciplines. Featuring research articles and reviews, the journal covers all aspects related to chemical engineering, including chemical reaction engineering, environmental chemical engineering, and materials synthesis and processing. Published annually in August and December. It is open to all scientists, researchers, education practitioners, and other scholars, providing an opportunity for technology transfer and collaboration.
Articles 53 Documents
Pra Rancangan Pabrik Dimethyl Ether (DME) dari Batubara Gina Nisrina; Josephine Tandiono; Rizky Tetrisyanda; Gede Wibawa
Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering Vol 2, No 2 (2021)
Publisher : Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2964710X.v2i2.13000

Abstract

Data Kementerian ESDM pada tahun 2017, tercatat sebanyak 26,2 miliar ton batubara yang tersebar di seluruh Indonesia terlebih di Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatra. Dikarenakan ketersediaannya yang melimpah, batubara berpotensi besar untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi maupun bahan baku produksi. Bahan baku produksi bermacam senyawa kimia seperti dimetil eter (DME), methanol, ammonia dan sebagainya dapat diperoleh dari batubara yang telah diolah menjadi synthetic gas. Viskositas DME berada pada rentang 0,12 - 0,15 kg/ms atau setara dengan viskositas propana dan butana, sehingga infrastruktur untuk LPG dapat juga digunakan untuk DME. Menurut Menteri ESDM, kebutuhan LPG domestik pada tahun 2021 diperkirakan naik menjadi 9,51 juta ton dan akan terus meningkat. Nyatanya, kenaikan ini tidak diiringi dengan peningkatan produksi LPG. Kemiripan karakteristik yang dimiliki DME dengan LPG membuat DME dapat digunakan sebagai alternatif bahan bakar yang ramah lingkungan. Dengan desain umur pabrik selama 15 tahun, didapatkan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 41,97% yang mana nilainya lebih besar dari bunga pinjaman bank sebesar 8%. Didapatkan juga Pay Out Time (POT) selama 2,73 tahun dan Break Even Point (BEP) sebesar 24%.
Pra Desain Pabrik Dietil Eter dari Etanol dengan Proses Dehidrasi Meilan Irma Dani; Savira Wicaksono Putri; Achmad Roesyadi; Hikmatun Ni’mah
Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering Vol 1, No 2 (2020)
Publisher : Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2964710X.v1i2.12769

Abstract

Sesuai dengan Perpres No. 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, ditargetkan konsumsi energi dari minyak bumi menjadi kurang dari 20% pada tahun 2005. Pemerintah Indonesia menargetkan sebesar 23% menggunakan Energi Baru Terbarukan (EBT) dimana untuk penggunaan biofuel sekitar 13,69 juta kL. Sejak tahun 2009, Pemerintah mulai mengembangkan penggunaan bahan bakar terbarukan sebagai solusi untuk mengurangi penggunaan bahan bakar yang berasal dari minyak bumi dimana pengembangan produksinya setiap tahun semakin meningkat. DEE (Dietil Eter) yang juga dikenal sebagai eter dan etoksi etana, adalah cairan mudah terbakar yang jernih, tak berwarna, dan bertitik didih rendah serta berbau khas. DEE memiliki nilai ekonomis yang tinggi karena banyak digunakan sebagai pelarut untuk reaksi-reaksi organik dan mulai dikembangkan untuk bahan bakar alternatif sebagai pengganti bahan bakar dari minyak bumi. Proses pembuatan DEE terdiri dari 3 tahapan proses, yaitu persiapan bahan baku, sintesis DEE dan pemurnian DEE. Tahap persiapan bahan baku meliputi adsorpsi air bertujuan untuk memurnikan etanol hingga 99%. Tahap sintesis DEE bertujuan untuk menghasilkan DEE yang dibuat dengan cara dehidrasi etanol. Tahap pemurnian DEE dilakukan untuk mendapatkan produk DEE dengan kemurnian 99,5%. Pabrik direncanakan beroperasi pada tahun 2023. Berdasarkan data impor, konsumsi, produksi yang terus meningkat didapat estimasi kapasitas pabrik sebesar 37.000 ton/tahun. Untuk itu dibutuhkan bahan baku etanol 96,5% yang digunakan sebesar 47.642 ton/tahun. Lokasi pendirian pabrik direncanakan di Ngargosari, Gresik, Jawa Timur. Untuk dapat mendirikan pabrik DEE dengan kapasitas 37.000 ton/tahun diperlukan modal total sebesar Rp 364.656.598.810,04,- dengan harga jual DEE sebesar $2,02 per kg. Estimasi umur pabrik 10 tahun, sehingga dapat diketahui internal rate of return (IRR) sebesar 22,93%, pay out time (POT) 4,05 tahun dan break even point (BEP) sebesar 36,53%.
Purification of lactic acid using alkaline precipitation followed by reactive distillation Tri Widjaja; Siti Nurchamidah; Ali Altway; Atha Pahlevi; Bayu Yusuf; Aisyah Alifatul
Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2964710X.v4i1.14672

Abstract

Lactic acid (LA) can be applied commercially in the biodegradable polymer industry. The production of PLA biopolymers requires lactic acid with pure isomers as its raw material, therefore the process of producing lactic acid through biological fermentation pathways is preferred over through chemical synthesis processes that produce mixed (racemic) lactic acid. In general, lactic acid purification process is carried out by several methods including precipitation and distillation. Precipitation is a conventional method for separating fermented lactic acid which is carried out through 2 stages, namely neutralization and acidification. In the process of neutralizing the fermented solution, base is added to precipitate specific lactic acid and then an acidification process is carried out by adding acid to take back the precipitated lactic acid. Distillation of a raw fermented mixture can produce very pure LA. This is an effective method for separating LA from other organic acids. The reactive distillation process is a chemical process in which the chemical reaction and the distillation process are carried out in one unit. In reactive distillation, LA forms esters with alcohols in the presence of an acid catalyst. Esters have much lower boiling points than LA. Therefore, separation can be achieved by distillation. In this research, the lactic acid purification process was carried out by combining the precipitation process followed by the distillation process. The lactic acid solution obtained from the precipitation process is then mixed with ethanol and the catalyst is put into the batch distillation column system. Most of the ethanol and water come out as distillate while the residue is fed back into the distillation column system and aqueous lactic acid solution is added for the hydrolysis stage. The distillate products are ethanol and water, while lactic acid is obtained from the residue. In the esterification step, the concentration of ethyl lactate in the residue was measured, while in the hydraulic stage, the level of lactic acid in the residue was measured. In this study, the results of purification of lactic acid from the bases Ca(OH)2, NaOH, and KOH were obtained sequentially, including: 89.07%; 84.21; and 80.56%. The use of Ca(OH)2 base produces higher purity due to higher cation valence and low solubility formed between Ca(OH)2 and lactic acid so that the amount of lactic acid precipitated is greater than the other bases.
Pra-Desain Pabrik Fraksinasi Lignoselulosa dengan Metode Steam Explosion Muhammad Abdurrokhim Al Hafiizh; W. Widiyastuti; Tantular Nurtono
Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2964710X.v3i1.17323

Abstract

Lignoselulosa merupakan bahan organik alami yang paling banyak terdapat di bumi namun selama ini hanya fraksi selulosa yang dimanfaatkan secara komersial. Hal ini tentu menjadi tantangan sekaligus kesempatan baik bagi industri sabut kelapa di Indonesia untuk melakukan diversifikasi produk samping selain mengekspor produk mentahnya saja, namun juga berpotensi menghasilkan produk intermediate yang lebih bernilai ekonomi secara komersial melalui teknologi biorefinery. Tingginya kandungan lignoselulosa dalam sabut kelapa menunjukkan adanya potensi lain yang lebih efektif dan efisien apabila dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pemanfaatan lignoselulosa yang terkandung dalam sabut kelapa untuk menjadikannya sebagai high value-added products. Struktur kokoh dalam lignoselulosa yang secara alami melindungi partikel serat dari gangguan lingkungan, termasuk dapat menahan beban mekanis yang tinggi bahkan resisten terhadap degradasi kimia maupun enzimatis oleh mikroorganisme membuat pengembangan teknologi biorefinery menghadapi banyak tantangan. Karena itu disusunlah studi pra-desain pabrik fraksinasi lignoselulosa dari sabut kelapa dengan metode steam explosion yang dikombinasikan dengan alkali-acid delignification process. Proses ini mempermudah tahap isolasi komponen-komponen penyusun lignoselulosa (selulosa, hemiselulosa dan lignin) sehingga memungkinkan untuk dapat dimurnikan sebagai high value-added products dari turunan komoditas kelapa. Setelah preliminary techno-economic analysis dilakukan, diperkirakan kebutuhan investasi untuk membangun pabrik dengan kapasitas olah 33.000ton sabut kelapa/tahun adalah Rp 1,01 triliun dengan Laju Pengembalian Modal (IRR) sebesar 19%. Dengan potensi penerimaan hasil penjualan Rp 600-700 miliar/tahun, diperkirakan Durasi Pengembalian Modal (POT) dapat dicapai selama 8-9 tahun pada Break Even Point di angka 40%. Rancangan ini memerlukan waktu konstruksi lancar 3-5 tahun dengan umur rencana pabrik selama 20 tahun.
Pra Rancangan Pabrik Pigmen Merah dengan Metode Presipitasi Fidhiyah Anas Novia; Balqis Wahidatin Rukmananda; Juwari Juwari; Rendra Panca Anugraha
Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering Vol 2, No 1 (2021)
Publisher : Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2964710X.v2i1.12994

Abstract

Di Indonesia, industri cat dan bangunan merupakan segmentasi pasar terbesar dari pigmen merah. Bahan baku yang akan digunakan dalam pembuatan pigmen merah adalah pasir besi sebagai bahan utama, HCl, NaOH dan air sebagai bahan pendukung. Pabrik Pigmen Merah yang direncanakan ini mulai beroperasi tahun 2023 dengan kapasitas produksi sebesar 5000 ton/tahun. Lokasi pendirian pabrik ini direncakan di Bangun Cipto Kecamatan Sentolo Kabupaten Kulon Progo Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dipilih karena dekat dengan sumber tambang pasir besi di pesisir . Untuk target pasar dari pabrik ini ialah industry garmen dan cat yang cukup banyak ditemukan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta maupun Jawa Tengah. Dalam pemenuhan kapasitas tahunan, pabrik akan beroperasi kontinyu 24 jam perhari selama 300 hari. Dengan bahan baku 1.710.710 ton pasir besi per tahun, 1.377.500 ton HCl per tahun, 2.639.000 ton NaOH per tahun. Proses produksi pigmen merah dapat diuraikam menjadi 3 tahapan proses. Tahap Pertama adalah proses leaching bertujuan untuk melarutkan kandungan besi dalam pasir agar dapat dipisahkan dari komponen pengotor lainnya. Sedangkan komponen lain dalam pasir besi yang tidak bereaksi dengan HCl tetap dalam keadaan padat yaitu berupa slurry akan dilakukan proses filtrasi. Tahap kedua adalah tahap Pemurnian dan Presipitasi. Proses Presipitasi menggunakan larutan NaOH yang berfungsi untuk pembentukan inti kristal Fe2O3. Proses berikutnya ialah penyaringan dan pencucian pigmen Fe2O3. Tahap ketiga adalah tahap pembentukan pigmen merah. Pembentukan pigmen merah dilakukan dengan proses kalsinasi, dengan suhu 650oC dengan gas alam sebagai pemanasnya. Pra Rancangan Pabrik Pigmen Merah dengan Metode Presipitasi ini dirancang sebagai perusahaan yang berbadan hukum Perseroan Terbat[as dengan system organisasi garis dan staf. Untuk dapat mendirikan pabrik dengan kapasitas produksi sebesar 5000 ton/tahun, maka diperlukan total modal investasi sebesar Rp 218.749.601.339 dan total biaya produksi sebesar Rp 158.046.783.770 dengan estimasi hasil penjualan sebesar Rp. Rp 250.000.000.000,- . Estimasi umur pabrik ini adalah 10 tahun dengan Internal Rate of Return (IRR) 29,21% dan Pay Out Time (POT) 3,9 Tahun.
Studi Pendirian Pabrik Natrium Sulfat dengan Proses Mannheim Nita Rahayu Dewi R.S.; Yanuar Ananda Putri R.; Hikmatun Ni’mah; Achmad Roesyadi
Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering Vol 1, No 1 (2020)
Publisher : Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2964710X.v1i1.12725

Abstract

Natrium sulfat (Na2SO4) merupakan garam berwujud padatan atau kristal berwarna putih atau tidak berwarna. Natrium sulfat terdapat dalam bentuk hidrat (berikatan dengan H2O), yaitu garam dekahidrat dan di alam berbentuk natrium sulfat anhidrat berupa mineral thenardite dan mirabilite. Sumber utama pembuatan natrium sulfat ada dua macam, yaitu secara alami (dari natural source) dan secara sintetik dari industri kimia. Penggunaan natrium sulfat di lingkungan industri cukup banyak, yaitu pada industri pulp kraft, detergent, tekstil, farmasi, gelas, dll. Dalam pembuatan natrium sulfat secara sintetik, terdapat dua proses yang sering digunakan, yaitu melalui proses dengan bahan baku SO2 dan H2O (proses Hargreaves-Robinson), serta proses dengan bahan baku H2SO4 dan NaCl (proses Mannheim). Dalam melakukan pemilihan proses, dipilih proses Mannheim, karena secara aspek teknis dan ekonomis, proses Mannheim lebih mudah dan mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Dalam proses Mannheim, asam sulfat pekat direaksikan dalam furnace bersuhu 800oC. Na2SO4 yang dihasilkan dari reaksi tersebut dipisahkan dari kotorannya dengan menambahkan soda lime dan soda abu. Kemudian dikristalisasi dan dikeringkan dalam rotary dryer. Pabrik direncanakan beroperasi secara kontinu 24 jam selama 330 hari per tahun operasi. Pabrik natrium sulfat ini direncanakan mulai dibangun pada tahun 2020 di Sampang, Madura yang dekat dengan kebutuhan bahan baku dan kelancaran pemasaran. Modal diperoleh dengan perbandingan 60% modal sendiri dan 40% modal pinjaman. Berdasarkan analisa teknis dan ekonomi yang telah dilakukan, maka pabrik natrium sulfat ini layak didirikan.
Pra Desain Pabrik Fenol dari Tandan Kosong Kelapa Sawit Suhadi, Elena; Sylviana, Annisa; Kurniawansyah, Firman
Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2964710X.v4i1.20184

Abstract

Fenol merupakan senyawa kimia dengan rumus molekul C6H6O. Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) merupakan limbah terbesar dari pabrik yang menggunakan kelapa sawit sebagai bahan utamanya yaitu sekitar 23% dari jumlah tandan buah segar, sehingga sampai saat ini masih sangat melimpah. Komponen utama TKKS yaitu lignin, selulosa, dan hemiselulosa. Lignin inilah yang akan dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan fenol. Metode yang dipilih adalah proses pirolisi. Proses produksi fenol dari TKKS terbagi menjadi tiga bagian yaitu proses pre-treatment, proses utama (pirolisis), dan juga proses pemurnian fenol. Proses pre-treatment dibagi menjadi dua tahap yaitu proses grinding dan proses hidrolisis. Proses selanjutnya yaitu proses pirolisis dilakukan pada fluidized bed reactor dengan pemanasan menggunakan N2. Setelah itu, proses pemurnian fenol terbagi menjadi dua proses yaitu proses ekstraksi dan proses distilasi. Kemudian, ditetapkan untuk kapasitas pabrik fenol sebesar 30.000 ton/tahun.  Pabrik fenol dari TKKS akan didirikan di Kota Dumai, Provinsi Riau. Penentuan lokasi ini didasarkan pada pabrik yang dekat dengan produsen bahan baku, dekat dengan Ibukota Provinsi Riau yaitu Kota Pekanbaru, dan juga ketersediaan tenaga kerja yang mencukupi.  Dengan didirikannya pabrik fenol dari TKKS ini diharapkan mampu menyerap tenaga kerja untuk membantu mengurangi tingkat pengangguran di Kota Dumai, Provinsi Riau. Pabrik direncanakan mulai dibangun pada tahun 2022 dan mulai beroperasi pada tahun 2025. Investasi pembangunan pabrik berasal dari modal sendiri (equity) dan modal pinjaman bank (loan) dengan laju inflasi 1,75% pertahun dan suku bunga bank 8% pertahun. Total biaya bahan baku sebesar Rp 326.068.953.366 pertahun. Untuk Internal Rate of Return dari pabrik terkait adalah sebesar 29.73% dengan Payout Time selama 5 tahun dan 11 bulan serta nilai Break Even Point sebesar 33,08%. Pabrik ini direncanakan untuk beroperasi dengan proses Semi Batch-Continue 24 jam selama 330 hari per tahun operasi dengan rencana kapasitas produksi sebesar 90 ton/hari.
Pra Desain Pabrik Magnesium Hidroksida Dari Limbah Tambak Garam (Bittern) Amin Darwis; Pandu Harya Sembada; Fadlilatul Taufany; Ali Altway
Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering Vol 3, No 2 (2022)
Publisher : Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2964710X.v3i2.18887

Abstract

Garam merupakan salah satu bahan kimia yang sering dimanfaatkan oleh manusia yang menghasilkan limbah yang biasa disebut dengan bittern. Bittern yang dibuang ke laut dapat menyebabkan efek toxic pada kehidupan laut sehingga air laut menjadi hipersalinitas dan mengalami prubahan komposisi ion-ion air laut. Salah satu komponen dalam bittern yaitu magnesium yang dapat diubah menjadi magnesium hidroksida (Mg(OH)2). Magnesium hidroksida banyak digunakan pada bidang industri salah satunya pada industri farmasi dimana Mg(OH)2 bersama-sama Al(OH)3 sebagai antasid yang bekerja menetralkan asam lambung dan menginaktifkan pepsin. Penggunaan magnesium hidroksida yang beragam sebagai bahan baku proses-proses di industri menjadikan magnesium hidroksida sebagai bahan yang sangat penting dibutuhkan untuk menghasilkan produk-produk yang berkualitas. Metode ini terlebih dahulu diawali dengan pengenceran bittern yang kemudian berlanjut ke pretreatment proses untuk menghilangkan warna menggunakan karbon aktif dan impurities menggunakan filtrasi. Kemudian hasil filtrasi bittern setelah dilakukan pretreatment process ditambahkan dengan NH4OH. Setelah larutan ditambahankan asam sulfat untuk mengendapkan ion kalsium. Kemudian larutan difiltrasi dan dipencucian. Setelah itu slurry magnesium hidroksida. Setelah itu magnesium hidroksida dikeringkan. Konsentrasi Mg(OH)2 yang didapat dari hasil pengendapan larutan bittern dengan NH4OH sebagai reaktan yaitu sebesar 97,6 hingga 98,3 %. Jika ditinjau dari segi lingkungan, pabrik ini menghasilkan limbah NH4Cl yang masih dapat diolah lebih lanjut menjadi sumber nitorgen dalam pembuatan pupuk, komponen baterai, dan sebagai bahan menanggulangi gejala asidosis. Jika ditinjau dari segi ekonomi, pendirian pabrik magnesium hidroksida ini membutuhkan biaya total modal investasi sebesar Rp 34.439.512.474,21, total biaya operasional sebesar Rp 36.935.923.856,7 per tahun, dan total penjualan pertahun sebesar Rp 46.338.600.000,00 per tahun. Dari analisa ekonomi didapatkan internal rate of return (IRR) sebesar 12,48%, dengan pay out time (POT) selama 5 tahun 10 bulan, dan break even point sebesar 34,42%. Ditinjau dari aspek teknis, ekonomis dan lingkungan pabrik magnesium hidroksida dari bittern ini layak dirikan.
Pra-Desain Pabrik Minyak Goreng Sehat dari Crude Palm Oil (CPO) dengan Metode Kombinasi Microwave Assisted Extraction (MAE) – Batchwise Solvent Extraction (BSE) Meidy Hariawan; Famy Bisyauqil Haq; Hakun Wirawasista Aparamarta
Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering Vol 2, No 2 (2021)
Publisher : Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2964710X.v2i2.13001

Abstract

Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas unggulan hasil perkebunan yang sangat berperan penting dalam kemajuan perekonomian di Indonesia dikarenakan kandungan minyak nabatinya yang banyak dibutuhkan di sektor industri. Di industri pangan, kehadiran minyak goreng menjadi penting karena berbagai olahan pangan tidak lepas dari peran lemak dalam minyak goreng dalam menambah cita rasa serta tekstur dan aroma pada makanan. Minyak goreng telah dikenal lama oleh masyarakat sebagai bahan makanan yang kurang baik bagi kesehatan dan cenderung dihindari sehingga sangat dibutuhkan inovasi dari produksi minyak goreng yang bukan hanya ekonomis namun juga memiliki dampak positif bagi kesehatan. Salah satu bahan baku yang dapat digunakan dalam pembuatan minyak goreng adalah Crude Palm Oil (CPO). Terdapat tiga tahapan utama dalam pembuatan pabrik minyak goreng dari CPO yaitu persiapan bahan baku pre-treatment, proses pemurnian, dan proses pembuatan minyak goreng. Proses pemurnian yang digunakan pada pabrik ini adalah metode Microwave Assisted Extraction – Batchwise Solvent Extraction. Pabrik minyak goreng dari CPO akan didirikan di Kawasan Industri Sei Mengkei, Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara yang dilengkapi fasilitas dan pusat penelitian khusus kelapa sawit dengan estimasi waktu mulai beroperasi pada tahun 2025. Berdasarkan analisis ekonomi untuk kapasitas 48.000 ton/tahun dengan nilai investasi sebesar Rp 179.670.421.590, laju pengembalian modal (IRR) pabrik ini sebesar 19,05% pada tingkat suku bunga per-tahun 9,85% dan laju inflasi sebesar 2% per-tahun. Sedangkan untuk waktu pengembalian modal (POT) adalah 3,7 tahun dan titik impas (BEP) sebesar 13%.
Pra-Desain Pabrik Garam Industri (Sodium Chloride) dari Air Laut Grazeila Dinda Dwi Puspita; Nihayatul Fadila; Orchidea Rachmaniah; M. Rachimoellah
Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering Vol 1, No 2 (2020)
Publisher : Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2964710X.v1i2.12770

Abstract

Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia serta tiga perempat wilayah Indonesia adalah air laut, Potensi ini dapat dimanfaatkan salah satunya sebagai bahan dasar produksi komoditi garam. Menurut fungsinya, salah satu jenis garam yaitu garam industri, yang memiliki kadar NaCl paling sedikit 97% (dry basis). Kegunaan garam industri diperuntukkan sebagai bahan baku maupun bahan tambahan bagi keperluan industri lain, seperti industri tekstil, farmasi, dan sebagainya. Tingginya kebutuhan garam industri setiap tahunnya yang masih didatangkan dari luar negeri merupakan latar belakang pendirian pabrik garam industri. Proses pembuatan garam industri dibagi menjadi 3 tahapan proses, yaitu pretreatment dan pemurnian bahan baku, pemasakan, dan pengeringan dan pengendalian produk garam industri. Tahap pretreatment bertujuan untuk menghilangkan impuritis dalam air laut yang dapat mengganggu proses selanjutnya menggunakan proses sedimentasi. Tahap pemasakan bertujuan untuk menghilangkan air dan diharapkan produk keluar berupa wet crystal. Proses pengeringan dilakukan untuk mendapatkan produk kristal garam industri dengan kadar NaCl 99,6%. Pabrik direncanakan beroperasi pada tahun 2023. Berdasarkan data impor, konsumsi, produksi yang terus meningkat didapat estimasi kapasitas pabrik sebesar 75.000 ton/tahun. Untuk itu dibutuhkan bahan baku air laut yang digunakan sebesar 329.615,202 kg/jam. Lokasi pendirian pabrik direncanakan di Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep, Madura. Pabrik garam industri merupakan perusahaan yang berbadan hukum Perseroan Terbatas dengan sistem organisasi garis dan staff. Untuk dapat mendirikan pabrik garam industri dengan kapasitas 75.000 ton/tahun diperlukan total modal investasi sebesar Rp 289.134.495.235,- dan total biaya produksi sebesar Rp 128.420.085.269,- dengan estimasi  hasil  penjualan sebesar Rp. 318.330.000.000,- per tahun. Dengan estimasi umur pabrik 10 tahun, dapat diketahui internal rate of return (IRR) sebesar 39,3%, pay out time (POT) 5 tahun dan break even point (BEP) sebesar 23,24%.