cover
Contact Name
Aat Royhatudin
Contact Email
royhatudin@staisman.ac.id
Phone
+6283890129393
Journal Mail Official
royhatudin@staisman.ac.id
Editorial Address
Jl. Raya Labuan KM.5 Kadulisung Pandeglang
Location
Kab. pandeglang,
Banten
INDONESIA
Ta'dibiya: Jurnal Agama dan Pendidikan Islam
ISSN : 2962939X     EISSN : 28299116     DOI : 10.61624
Core Subject : Religion, Education,
TADIBIYA merupakan Jurnal Agama dan Pendidikan Islam sebagai media ilmiah yang mamuat ide dan gagasan yang bersumber dan berdasar hasil penelitian, penelaahan pustaka, dan gagasan dari akademisi, praktisi serta pemerhati pendidikan khususnya bidang pendidikan Islam.
Articles 90 Documents
REKOGNISI NEGARA TERHADAP PENDIDIKAN PESANTREN PASCA UNDANG-UNDANG NOMOR 18 TAHUN 2019: STUDI TENTANG IMPLIKASI TERHADAP KESETARAAN PENDIDIKAN ISLAM Kosasih, Kosasih; Rosyidah, Neneng Aida; Nurkhairina, Nurkhairina
Ta'dibiya Vol 5 No 2 (2025): Ta'dibiya: Jurnal Agama dan Pendidikan Islam
Publisher : Staisman Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61624/japi.v5i2.227

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk rekognisi (pengakuan) negara terhadap lembaga pendidikan pesantren pasca disahkannya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren dan mengkaji implikasinya terhadap kesetaraan pendidikan Islam di Indonesia. Pesantren, sebagai lembaga pendidikan Islam tertua dan berciri khas (tradisional), secara historis kurang mendapat pengakuan setara dibandingkan jalur pendidikan formal lainnya. Lahirnya UU No. 18 Tahun 2019 menjadi tonggak penting dalam upaya rekognisi tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka (library research) untuk menganalisis dokumen hukum, kebijakan, dan literatur akademik terkait. Fokus analisis mencakup pasal-pasal kunci dalam UU Pesantren yang mengatur pengakuan kelembagaan, kesetaraan lulusan, dan afirmasi pendanaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa UU No. 18 Tahun 2019 memberikan rekognisi legal formal yang kuat kepada pesantren, menempatkannya setara dengan jalur pendidikan nasional lainnya. Implikasi utamanya adalah terwujudnya kesetaraan pendidikan Islam melalui: (1) Pengakuan Ijazah/Syahadah Lulusan yang memungkinkan alumni pesantren melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi dan mengakses kesempatan kerja setara dengan lulusan sekolah umum; (2) Penguatan Tata Kelola dan sistem pendidikan pesantren, termasuk pengakuan terhadap kurikulum khas pesantren (Tafaqquh fiddin); dan (3) Pemberian Fasilitasi dan Afirmasi dari negara, seperti dukungan anggaran, yang sebelumnya menjadi kendala utama. Namun, implementasi UU ini juga menyisakan tantangan, terutama terkait harmonisasi kebijakan teknis di tingkat daerah dan menjaga kemandirian serta kekhasan pesantren dari potensi intervensi berlebihan oleh pemerintah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa rekognisi negara melalui UU Pesantren merupakan langkah progresif menuju integrasi dan kesetaraan penuh bagi pendidikan Islam di Indonesia.
PENCEGAHAN RADIKALISME MELALUI REVITALISASI PONDOK PESANTREN Mustafid, Hidayat
Ta'dibiya Vol 5 No 2 (2025): Ta'dibiya: Jurnal Agama dan Pendidikan Islam
Publisher : Staisman Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61624/japi.v5i2.230

Abstract

Radikalisme menjadi ancaman serius terhadap keutuhan bangsa dan kerukunan hidup bermasyarakat. Sebagai lembaga pendidikan agama Islam tertua di Indonesia, pondok pesantren (ponpes) memiliki peran strategis dan tanggung jawab moral dalam upaya pencegahan paham radikal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran ponpes sebagai benteng pertahanan ideologi dan merevitalisasi fungsinya untuk memperkuat ketahanan masyarakat terhadap radikalisme. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan dari berbagai sumber seperti jurnal, buku, dan laporan penelitian terdahulu yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa radikalisme seringkali menyusup melalui pemahaman agama yang literal, eksklusif, dan intoleran. Ponpes, dengan karakteristiknya yang khas, memiliki modal kuat untuk menangkalnya, yaitu: ajaran yang moderat, nilai-nilai ukhuwah (persaudaraan), dan kepatuhan kepada kiai sebagai figur sentral. Namun, tantangan modernitas dan penetrasi ideologi transnasional menuntut ponpes untuk melakukan revitalisasi dalam beberapa aspek di antaranya kurikulum yang mengintegrasikan wawasan kebangsaan, pendidikan perdamaian, dan literasi digital kritis untuk melawan narasi radikal di dunia maya. Metodologi pengajaran yang mendorong pendekatan kontekstual dan dialogis dalam memahami teks-teks keagamaan, menggantikan metode doktriner, dan jejaringsosial yang memperkuat kolaborasi dengan masyarakat luas, pemerintah, dan lembaga pendidikan lain untuk membangun kesadaran kolektif tentang bahaya radikalisme. Revitalisasi ponpes bukan sekadar modernisasi fisik, melainkan penguatan kembali nilai-nilai moderasi Islam yang inklusif dan rahmatan lil 'alamin. Dengan memaksimalkan perannya sebagai pusat pendidikan karakter, ponpes dapat menjadi garda terdepan dalam mencegah radikalisme dan melahirkan generasi yang religius, cerdas, sekaligus mencintai tanah air.
INTEGRASI NILAI AKHLAK, ADAB, DAN MAQĀṢID SYARĪ‘AH DALAM PEMANFAATAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN Jamal, Syukron; Rahman, Elan Zaelani; Hasanudin, Hasanudin
Ta'dibiya Vol 5 No 2 (2025): Ta'dibiya: Jurnal Agama dan Pendidikan Islam
Publisher : Staisman Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61624/japi.v5i2.235

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, termasuk pendidikan Islam. Namun, pemanfaatan teknologi dalam pendidikan Islam sering kali masih berorientasi pada aspek teknis dan efisiensi pembelajaran, tanpa diimbangi dengan integrasi nilai-nilai fundamental Islam. Padahal, pendidikan Islam tidak hanya bertujuan mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk akhlak, menanamkan adab, serta mewujudkan tujuan-tujuan maqasid syari‘ah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep integrasi nilai akhlak, adab, dan maqāṣid syarī‘ah dalam pemanfaatan teknologi pendidikan Islam. Dengan pendekatan konseptual dan normatif-kritis terhadap literatur pendidikan Islam, teknologi pendidikan, serta kajian maqasid syari‘ah, hasil kajian menunjukkan bahwa teknologi dalam pendidikan Islam harus diposisikan sebagai wasilah (sarana), bukan tujuan, yang penggunaannya diarahkan untuk menjaga agama (hifz al-din), mengembangkan akal (hifz al-‘aql), serta melindungi nilai-nilai kemanusiaan peserta didik. Integrasi nilai akhlak dan adab menjadi fondasi etis dalam membentuk sikap bertanggung jawab, literasi digital yang beradab, dan kesadaran moral dalam penggunaan teknologi. Penelitian ini menawarkan model konseptual integrasi nilai Islam dalam teknologi pendidikan sebagai upaya menjaga keseimbangan antara inovasi pembelajaran dan pembentukan karakter Islami di era digital.
IMPLEMENTASI LBH DAULAT RAKYAT INDONESIA DALAM PERKARA CERAI DI PENGADILAN AGAMA PANDEGLANG Kurniawan, Dede; Kasaogi, Rihlan
Ta'dibiya Vol 5 No 2 (2025): Ta'dibiya: Jurnal Agama dan Pendidikan Islam
Publisher : Staisman Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61624/japi.v5i2.244

Abstract

Akses terhadap keadilan merupakan hak konstitusional setiap warga negara, namun dalampraktiknya masyarakat kurang mampu masih menghadapi hambatan ekonomi, administratif,dan rendahnya literasi hukum. Kondisi ini juga dialami warga Muslim di Pandeglang yangberperkara di Pengadilan Negeri. Penelitian ini merumuskan pertanyaan: bagaimanaimplementasi bantuan hukum oleh LBH Daulat Rakyat Indonesia di Pengadilan NegeriPandeglang, seberapa efektif pelaksanaannya, serta apa saja kendala yang dihadapi.Penelitian bertujuan menganalisis bentuk layanan, efektivitas pendampingan, dan upayastrategis penguatan bantuan hukum bagi warga Muslim di Pandeglang. Metode yangdigunakan adalah penelitian hukum empiris dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Datadiperoleh melalui wawancara dengan pengurus dan advokat LBH serta klien Muslim,observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasibantuan hukum dilakukan melalui konsultasi hukum, pendampingan litigasi, serta mediasinon-litigasi. Layanan ini meningkatkan pemahaman hukum dan keberanian masyarakatdalam menempuh jalur peradilan. Namun, keterbatasan anggaran, rendahnya literasi hukum,dan hambatan administratif masih menjadi tantangan utama. Penguatan jaringan advokat,edukasi hukum berbasis komunitas, dan sinergi dengan aparat peradilan diperlukan untukmeningkatkan akses keadilan secara berkelanjutan.
IMPLEMENTASI LBH DAULAT RAKYAT INDONESIA BAGI WARGA MUSLIM DI PENGADILAN NEGERI PANDEGLANG Kurniawan, Dede; Rahili, Rahili
Ta'dibiya Vol 5 No 1 (2025): Ta'dibiya: Jurnal Agama dan Pendidikan Islam
Publisher : Staisman Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61624/japi.v5i1.245

Abstract

Akses terhadap keadilan merupakan hak konstitusional setiap warga negara, namun dalam praktiknya masyarakat kurang mampu masih menghadapi hambatan ekonomi, administratif, dan rendahnya literasi hukum. Kondisi ini juga dialami warga Muslim di Pandeglang yang berperkara di Pengadilan Negeri. Penelitian ini merumuskan pertanyaan: bagaimana implementasi bantuan hukum oleh LBH Daulat Rakyat Indonesia di Pengadilan Negeri Pandeglang, seberapa efektif pelaksanaannya, serta apa saja kendala yang dihadapi. Penelitian bertujuan menganalisis bentuk layanan, efektivitas pendampingan, dan upaya strategis penguatan bantuan hukum bagi warga Muslim di Pandeglang. Metode yang digunakan adalah penelitian hukum empiris dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara dengan pengurus dan advokat LBH serta klien Muslim, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi bantuan hukum dilakukan melalui konsultasi hukum, pendampingan litigasi, serta mediasi non-litigasi. Layanan ini meningkatkan pemahaman hukum dan keberanian masyarakat dalam menempuh jalur peradilan. Namun, keterbatasan anggaran, rendahnya literasi hukum, dan hambatan administratif masih menjadi tantangan utama. Penguatan jaringan advokat, edukasi hukum berbasis komunitas, dan sinergi dengan aparat peradilan diperlukan untuk meningkatkan akses keadilan secara berkelanjutan.
INTEGRASI KERANGKA CASEL DALAM PENGEMBANGAN MATERI SOCIAL EMOTIONAL LEARNING UNTUK PENGUATAN INTERAKSI SOSIAL SISWA MI Nurkhairina
Ta'dibiya Vol 5 No 2 (2025): Ta'dibiya: Jurnal Agama dan Pendidikan Islam
Publisher : Staisman Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61624/japi.v5i2.246

Abstract

Education in the 21st century requires the development of student competencies that do not only focus on academic aspects but also emphasize social and emotional development. The Social Emotional Learning (SEL) approach has become one of the learning strategies capable of integrating these three aspects in a balanced manner. One of the widely used frameworks in implementing SEL is the Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning (CASEL). This framework emphasizes the development of five core competencies, namely self-awareness, self-management, social awareness, relationship skills, and responsible decision-making. This article aims to analyze the importance of implementing the CASEL approach in the Primary Islamic Teacher Education Study Program (PGMI), particularly in the development of Social Emotional Learning–based teaching materials. This study employs a qualitative approach using a literature review method by examining various books and national scholarly journals published within the last ten years. The findings indicate that the integration of the CASEL approach in the development of PGMI teaching materials can improve the quality of learning in a more holistic manner, as it does not only emphasize cognitive aspects but also promotes character development, empathy, and social skills among students as prospective teachers. Therefore, the implementation of CASEL in developing teaching materials in the PGMI study program becomes a strategic step in preparing professional and character-oriented Islamic elementary school teachers.
PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN HASIL BELAJAR SISWA PADA KONSEP SISTEM REPRODUKSI MANUSIA DI SMAN 1 BAYAH Sutar, Sutar; Ermila Hendriyani, Mila; Usman, Usman
Ta'dibiya Vol 6 No 1 (2026): Ta'dibiya: Jurnal Agama dan Pendidikan Islam
Publisher : Staisman Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61624/japi.v6i1.247

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen penilaian hasil belajar mengenai sistem reproduksi manusia yang mencakup tingkat kognitif C1–C4 berdasarkan Taksonomi Bloom yang Direvisi. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian dan Pengembangan (R&D) yang diadaptasi dari model Borg & Gall, yang terdiri dari lima tahap: identifikasi potensi dan masalah, pengumpulan data, perancangan produk, validasi ahli, dan revisi produk. Instrumen yang dikembangkan terdiri dari 20 soal pilihan ganda. Validasi dilakukan oleh seorang ahli bidang studi, seorang ahli evaluasi pendidikan, dan seorang guru biologi sekolah menengah atas. Hasil validasi menunjukkan skor rata-rata 68%, yang dikategorikan sebagai valid. Oleh karena itu, instrumen penilaian yang dikembangkan dianggap layak untuk digunakan setelah revisi berdasarkan saran dari para validator.
DATA EXPLORATION OF STUDENT PERFORMANCE UNDER THE MERDEKA CURRICULUM: A CASE STUDY AT MAN 1 PANDEGLANG Ina Herlinawati; Aat Royhatudin; Ahmad Hidayat; Oom Sunarsih
Ta'dibiya Vol 6 No 1 (2026): Ta'dibiya: Jurnal Agama dan Pendidikan Islam
Publisher : Staisman Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61624/japi.v6i1.248

Abstract

The implementation of the Merdeka Curriculum (Kurikulum Merdeka) in Indonesian madrasahs represents a significant pedagogical shift, yet empirical evidence on its relationship with student performance remains limited. This study conducts a data exploration of student performance under the Merdeka Curriculum at MAN 1 Pandeglang, aiming to identify patterns, trends, and key determinants of academic outcomes. Using a quantitative exploratory design, we analyzed secondary data from 180 tenth-grade students across three semesters, including report card grades, formative assessment scores, attendance records, and participation in project-based learning (PjBL) activities. Descriptive statistics, trend analysis, and correlation tests were employed to explore the data. The findings reveal three main patterns: first, project-based learning participation shows a moderate positive correlation with final semester grades (r = 0.52); second, consistent attendance above 90% is associated with higher performance stability across all subjects; and third, students demonstrate improved outcomes in literacy and numeracy assessments compared to pre-curriculum baseline data. However, wide variability in performance across different project themes suggests uneven implementation fidelity. Compared to previous studies on competency-based curricula, these results highlight the unique role of madrasah cultural contexts in moderating curriculum effectiveness. This study contributes baseline empirical data from an understudied population and offers practical insights for curriculum adaptation at MAN 1 Pandeglang, with broader implications for madrasahs nationwide adopting the Merdeka Curriculum.
REFORMULASI KURIKULUM BERBASIS LITERASI DIGITAL PADA ERA ARTIFICIAL INTELLIGENCE: PERSPEKTIF TEKNOLOGI PENDIDIKAN Syukron Jamal
Ta'dibiya Vol 6 No 1 (2026): Ta'dibiya: Jurnal Agama dan Pendidikan Islam
Publisher : Staisman Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61624/japi.v6i1.250

Abstract

Digital transformation and the rapid development of Artificial Intelligence (AI) have significantly changed various aspects of human life, including education systems. These changes require educational institutions to develop human resources equipped with adequate digital literacy skills to adapt to increasingly complex technological developments. However, several indicators reveal that literacy levels in Indonesia still face substantial challenges. The Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 reported that Indonesian students’ reading literacy performance remains below the OECD average (OECD, 2023). This condition is reinforced by the Indonesian Digital Society Index (IMDI), which indicates that Indonesia's digital maturity remains at a moderate level (Ministry of Communication and Digital Affairs of the Republic of Indonesia, 2025). This article aims to analyze curriculum reformulation in strengthening digital literacy in the era of Artificial Intelligence from the perspective of educational technology. The study employs a qualitative approach using a library research method. Data were collected from OECD and UNESCO reports, scholarly journals, and educational technology theories. The findings indicate that digital literacy-based curriculum development should integrate twenty-first-century competencies, AI literacy, and educational technology theories such as constructivism, connectivism, multimedia learning, TPACK, and SAMR. Curriculum reformulation, teacher competency development, and digital infrastructure enhancement are strategic factors in creating an adaptive learning ecosystem. Therefore, digital literacy-based curriculum reform is essential to prepare learners for the challenges of Society 5.0.
PRAKTIK ADOPSI DALAM HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF INDONESIA SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP SILSILAH KELUARGA Evita Putri Heriyanto; Amum Mahbub Ali; aminudin
Ta'dibiya Vol 6 No 1 (2026): Ta'dibiya: Jurnal Agama dan Pendidikan Islam
Publisher : Staisman Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61624/japi.v6i1.251

Abstract

This study examines adoption practices through Islamic law and Indonesian positive law, and analyzes their implications for lineage (nasab). Adoption is viewed as a noble form of care for children, especially by families who have not been blessed with offspring. However, in practice, adoption in Sindanghayu Village, Saketi Subdistrict, Pandeglang Regency is often carried out through cultural and social approaches without comprehensive legal understanding. In several cases, adopted children are attributed to adoptive parents and treated as heirs, although Islamic law distinguishes adoption from biological parentage. This research uses a qualitative case study approach by collecting primary data through interviews and observation, supported by secondary data from legal literature, legislation, and Islamic legal sources. The findings show that Islamic law permits child care through kafalah as long as it does not change lineage and does not automatically create inheritance rights. Indonesian positive law requires adoption to prioritize the best interests of the child and to be carried out through court determination. The study concludes that adoption may be practiced as a form of protection and care, but it must preserve the child's original lineage and comply with applicable legal procedures.