cover
Contact Name
Noor Hasanah
Contact Email
jurnaltashwir@uinantasari.ac.id
Phone
+6282350565148
Journal Mail Official
jurnaltashwir@uinantasari.ac.id
Editorial Address
Jalan Jenderal Ahmad Yani KM. 4,5 Kel. Kebun Bunga Kec. Banjarmasin Timur Kota Banjarmasin 70235
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Tashwir: Jurnal Penelitian Agama dan Budaya
ISSN : 23389702     EISSN : 30321166     DOI : https://doi.org/10.18592/jt
The focus of this journal is on important and actual issues regarding Islam, social and culture, such as; Religious Values, and Local Wisdom Issues, Islam Integration, History of Islam and Turats. o Contemporary Islamic Religious Social Phenomena o Islamic Spirituality o Religious Values o Local Wisdom Issues o Islam Integration o History of Islam dan Turats.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 10 No. 2 (2022)" : 10 Documents clear
MEREBUT RUANG IBADAH: STUDI KASUS KONFLIK PENUTUPAN PAKSA PONDOK PESANTREN WARIA AL-FATAH YOGYAKARTA Masthuriyah Sa'dan
TASHWIR Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v10i2.7491

Abstract

Abstract: The concept of transgender Islamic boarding schools is different from the general concept of Islamic boarding schools. in Yogyakarta, there is a transgender Muslim community that gathers in one forum, namely the Al-Fattah Yogyakarta transgender Islamic boarding school. Every weekend, the transgender Muslim community gathers and holds religious activities. Due to the unique existence of transgender Islamic boarding schools, these pesantren often have regional, national and international guests for various purposes. Starting from surveys, research, collaborative program activities, sharing experiences to transgender empowerment. Transgender Islamic boarding schools also have complexities that are a source of conflict. Conflict is something natural (natural) and is a very typical phenomenon in the type of human relations at every level, from the interpersonal to the global level. The cause of the emergence of conflict is that there are threatened interests and values so that conflicting needs are not fulfilled. It is at this level of conflict that a solution is needed, scientists offer a way of conflict resolution as a peaceful way that satisfies the two warring parties to end the conflict.Keywords: Religious Activities; Human Relations; Transgender Islamic Boarding Schools. Abstrak: Konsep pondok pesantren waria berbeda dengan konsep pondok pesantren pada umumnya. di Yogyakarta, terdapat komunitas muslim waria yang berkumpul dalam satu wadah yaitu pondok pesantren waria Al-Fattah Yogyakarta. Setiap akhir pekan, komunitas muslim waria berkumpul dan mengadakan kegiatan keagamaan. Karena eksistensi pondok pesantren waria yang unik, pesantren ini seringkali kehadiran tamu baik regional, nasional hingga internasional untuk beragam tujuan. Mulai untuk survei, penelitian, kerjasama kegiatan program, sharing pengalaman hingga pemberdayaan waria. Pondok pesantren waria juga memiliki kompleksitas yang menjadi sumber konflik. Konflik merupakan sesuatu yang alami (natural) dan merupakan fenomena yang sangat tipikal dalam jenis hubungan antar manusia pada setiap tingkatan, dari tingkat inter-personal sampai global. Penyebab dari munculnya konflik adalah adanya kepentingan dan nilai-nilai yang terancam sehingga kebutuhan yang berkonflik tidak terpenuhi. Pada tataran konflik inilah jalan penyelesain dibutuhkan, ilmuwan menawarkan jalan resolusi konflik sebagai suatu cara damai yang memuaskan kedua pihak yang bertikai untuk mengakhiri konflik.Kata Kunci: Aktivitas Keagamaan; Hubungan Manusia; Pesantren Waria.
URGENSI PEMBATASAN UMUR PERKAWINAN DALAM UNDANG-UNDANG NO 16 TAHUN 2019 TENTANG PERKAWINAN (PERSPEKTIF SADD ADZ-DZARÎ’AH) Nor Fadillah
TASHWIR Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v10i2.7492

Abstract

Abstract: The marriage constitution in the article 7 No 16 of 2019, “A marriage is only permitted if a man and a woman have reached the age of 19”. The age restriction in marriage is not clearly stated and determined in either Al-Qur’an or Hadis as it is stated in the constitution. So based on this issue, this research tries to examine the correlation of theory Sadd Adz-Dzari’ah on the article 16 of 2019 Marriage Age Restriction. This type of research is a normative legal research based on constitution and analytical approaches, then analyze it qualitatively. Based on the result of this research could be concluded that, the age restriction is not found technically written in the Al-Qur’an and Hadis, however it is said in the Al-Qur’an and Hadis to carry out the marriage when someone reaches the puberty and adequate enough to do so. The marriage which carried out by ignoring the age restriction will bring out some damage toward psychology, social, reproduction health, some risk at giving birth and divorce. The quality of those damages might be included as dzari’ah criteria which most likely (ghalabah dzhon) issue some harms and must be avoided is to restrict the age, age restriction is an important thing in the household life, because it’s one of the supporting factor to achieve the marriage purpose in which to build the sakinah mawaddah warahmah family.Keywords: The Correlation of Age Restriction; Marriage. Abstrak: Undang-Undang Perkawinan pada pasal 7 No 16 Tahun 2019, “Perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 tahun”. Pembatasan umur dalam perkawinan ini tidak disebutkan dan ditentukan secara jelas dalam nash, maka dari sinilah penelitian ini berangkat, yakni berusaha untuk mengkaji korelasi teori Sadd Adz-Dzari’ah  terhadap Undang-Undang  No 16 Tahun 2019 tentang pembatasan umur perkawinan, Jenis penelitian ini adalah hukumnormatif dengan pendekatan Undang-Undang dan analitis dan menganalisisnya secara kualitatif. Hasil dari penelitian ini yaitu pembatasan umur dalam perkawinan memang tidak ditemukan secara tertulis dalam Al-Qur’an dan Hadis, akan tetapi dalam Al-Qur’an dan hadis menyebutkan anjuran pernikahan untuk orang yang sudah baligh serta mampuuntuk menikah. Perkawinan yang dilaksanakan dengan mengabaikan pembatasan umur akan melahirkan dampak negatif yaitu dari segi psikologis, sosial, kesehatan reproduksi, resiko ketika melahirkan, dan perceraian. Kualitasdampak negatif tersebut termasuk kriteria  dzari’ah yang kemungkinan besar (ghalabah dzon) akan terjadi dan harusdicegah dengan cara memberikan pembatasan umur, pembatasan umur merupakan hal yang penting karena ia menjadi salah satu faktor yang mendukung tercapainya tujuan dari perkawinan yaitu membangun keluarga sakinah mawaddah warahmah.Kata Kunci: Korelasi Pembatasan Umur; Perkawinan.
ANALISIS KONTRASTIF BAHASA: URGENSI MEMAHAMI BUDAYA DALAM KAJIAN BAHASA ARAB Mursyidatul Awaliyah
TASHWIR Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v10i2.7493

Abstract

Abstract: There is one expression that states that language indicates one's identity, there is also language indicating nation. Language and culture have a coordinative relationship characterized by the quality of the reciprocal relationship between the two, and a subordinate that reflects one quality of the relationship that is only one-sided, meaning that it is the culture that influences the language, and not the other way around. Because of the close relationship between language and culture, there are some experts who equate the relationship between the two inseparable things like two sides of a coin. When learning a foreign language, we also indirectly learn the culture of the language we are learning. Because language reflects the culture of a person. Similarly, when studying Arabic, we also learn the cultural form of native Arabic speakers. Contrastive analysis is very useful in the interests of the development of the language itself, as well as useful for understanding the cultures of other countries through linguistic differences. Contrastive analysis also contributes to the translation to be more accurate in expressing intent in the source language text.Keywords: Arabic; Contrastive Analysis; Culture; Indonesian Language. Abstrak: Ada satu ungkapan yang menyatakan bahwa bahasa menunjukkan identitas seseorang, ada juga bahasa menunjukkan bangsa. Bahasa dan kebudayaan memiliki hubungan koordinatif yang dicirikan dengan kualitas hubungan timbal balik antara keduanya, dan subordinatif yang mencerminkan satu kualitas hubungan yang hanya sepihak, artinya budayalah yang mempengaruhi bahasa, dan bukan sebaliknya.  Karena eratnya hubungan bahasa dan kebudayaan, ada sebagian pakar yang menyamakan hubungan keduanya dua hal yang tidak dapat dipisahkan seperti dua sisi mata uang. Ketika mempelajari bahasa asing maka secara tidak langsung kita juga mempelajari budaya dari bahasa yang kita pelajari. Karena bahasa mencerminkan budaya sesorang. Demikian pula ketika mempelajari bahasa Arab kita juga belajar bgaimana budaya dari penutur asli bahasa Arab. Analisis kontrastif sangat berguna untuk kepentingan pengembangan bahasa itu sendiri, serta berguna untuk memahami budaya negara lain melalui perbedaan linguistik. Analisis kontrastif juga berkontribusi pada terjemahan agar lebih akurat dalam mengekspresikan maksud dalam teks bahasa sumber.Kata Kunci: Analisis Kontrastif; Budaya; Bahasa Arab; Bahasa Indonesia.
NILAI-NILAI ANTI KORUPSI DALAM AJARAN TASAWUF Mushofa Mushofa
TASHWIR Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v10i2.7501

Abstract

Abstract: This paper explains that Sufism is a positive human therapy in dealing with various problems encountered in all aspects of life. Then Sufism is also a way of how humans can be close to their Lord. When the heart is close to God, then by itself, humans will always be close to goodness, good deeds, good attitudes, and behavior. At this point humans can avoid all ugliness, immoral acts, and bad behavior such as corruption. Departing from this, it is important to describe "Anti-Corruption Values in Sufism". After conducting a study and analysis, it is concluded that corruption is a crime that must be avoided by all elements of society, because its impact is very detrimental to the interests of many people. The inculcation of anti-corruption values must be carried out to fortify and shape the character of the community. Sufism is present as an alternative and a spirit that can be offered in suppressing the number of corruptions. Through the teachings of honesty, zuhudan, qana'ah, tawakal, wara' and gratitude, the community will become Muslim individuals, pious believers.Keywords: Sufism; Corruption; Human Therapy. Abstrak: Tulisan ini menjelaskan bahwa tasawuf menjadi terapi positif manusia dalam menghadapi berbagai persoalan yang ditemui dalam semua aspek kehidupannya. Kemudian tasawuf juga sebagai jalan bagaimana manusia dapat dekat dengan Tuhannya. Ketika hati sudah dekat dengan Tuhan, maka dengan sendirinya, manusia akan selalu dekat dengan kebaikan, amal shaleh, sikap dan prilaku yang baik. Pada titik inilah manusia bisa menghindarkan diri dari segala kejelekan, perbuatan maksiat serta perilaku yang buruk seperti korupsi. Berangkat dari sinilah kiranya penting untuk diuraikan tentang “Nilai-Nilai Anti Korupsi Dalam Ajaran Tasawuf”. Setelah dilakukan kajian pustaka dan analisis kualitatif, maka disimpulkan bahwa korupsi adalah sebuah tindak kejahatan yang harus dihindari oleh semua elemen masyarakat, karena dampaknya sangat merugikan hajat orang banyak. Penanaman nilai-nilai anti korupsi wajib dilaksanakan untuk membentengi dan membentuk karakter masyarakat. Tasawuf hadir menjadi sebuah alternatif dan spirit yang  bisa ditawarkan dalam menekan angka korupsi. Melalui ajaran kejujuran, kezuhudan, qana’ah, tawakal, wara’ dan syukur  masyarakat akan menjadi individu-individu yang muslim, mukmin yang solih.Kata Kunci: Tasawuf; Korupsi; Terapi Manusia.
UNIVERSALITAS ISLAM: MELURUSKAN PANDANGAN BIFURKASI ANTAR ILMU Noor Hasanah; Mardhiya Agustina
TASHWIR Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v10i2.7511

Abstract

ABSTRACTThe classification of knowledge is not intended as a bifurcation between general science and religious science. Bifurcation can lead to the misconception that non-religious science is separate from Islam. Whereas in the Islamic intellectual tradition, harmonious unity between science is always maintained. Science is a single entity because the source of all knowledge is the One (al-ahad). The meaning is the concept of science in Islam boils down to the concept of monotheism. Science must be able to bring people closer to the Creator, acknowledge His greatness, encourage people to do good deeds, transform people to be authoritative and respected and be able to offer solutions to crises. So, studying a science does not mean leaving a study of other sciences. This is what is meant by the holistic integration of science. This research is a qualitative research with library method. The focus of this research is to reread the basic principles of science, trace their roots and prove their integration.  Keywords: Universality of Islam, Bifurcation, SciencesABSTRAKKlasifikasi ilmu pengetahuan bukan dimaksudkan sebagai bifurkasi antara ilmu umum dan ilmu agama. Bifurkasi dapat memunculkan kesalahan konsepsi bahwa ilmu non agama adalah terpisah dari Islam. Padahal dalam tradisi intelektual Islam, kesatuan yang harmonis antar ilmu senantiasa dijaga. Ilmu adalah kesatuan tunggal karena sumber dari segala ilmu adalah Yang Esa (al-ahad). Maknanya, konsep ilmu dalam Islam bermuara pada konsep tauhid. Ilmu harus dapat mendekatkan manusia kepada Sang Khalik, mengakui keagungan-Nya, mendorong manusia untuk melakukan amal shaleh, mentransformasikan umat menjadi berwibawa dan disegani serta mampu menawarkan solusi terhadap krisis. Sehingga, mempelajari suatu ilmu tidak berarti meninggalkan kajian atas ilmu yang lainnya. Inilah yang dimaksud dengan integrasi ilmu secara holistik. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode pustaka riset. Fokus penelitian ini adalah untuk membaca ulang prinsip dasar ilmu pengetahuan, melacak akar dan membuktikan keterpaduannya.  Kata Kunci: Universalitas Islam, Bifurkasi, Ilmu
MEREBUT RUANG IBADAH: STUDI KASUS KONFLIK PENUTUPAN PAKSA PONDOK PESANTREN WARIA AL-FATAH YOGYAKARTA Sa'dan, Masthuriyah
TASHWIR Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v10i2.7491

Abstract

Abstract: The concept of transgender Islamic boarding schools is different from the general concept of Islamic boarding schools. in Yogyakarta, there is a transgender Muslim community that gathers in one forum, namely the Al-Fattah Yogyakarta transgender Islamic boarding school. Every weekend, the transgender Muslim community gathers and holds religious activities. Due to the unique existence of transgender Islamic boarding schools, these pesantren often have regional, national and international guests for various purposes. Starting from surveys, research, collaborative program activities, sharing experiences to transgender empowerment. Transgender Islamic boarding schools also have complexities that are a source of conflict. Conflict is something natural (natural) and is a very typical phenomenon in the type of human relations at every level, from the interpersonal to the global level. The cause of the emergence of conflict is that there are threatened interests and values so that conflicting needs are not fulfilled. It is at this level of conflict that a solution is needed, scientists offer a way of conflict resolution as a peaceful way that satisfies the two warring parties to end the conflict.Keywords: Religious Activities; Human Relations; Transgender Islamic Boarding Schools. Abstrak: Konsep pondok pesantren waria berbeda dengan konsep pondok pesantren pada umumnya. di Yogyakarta, terdapat komunitas muslim waria yang berkumpul dalam satu wadah yaitu pondok pesantren waria Al-Fattah Yogyakarta. Setiap akhir pekan, komunitas muslim waria berkumpul dan mengadakan kegiatan keagamaan. Karena eksistensi pondok pesantren waria yang unik, pesantren ini seringkali kehadiran tamu baik regional, nasional hingga internasional untuk beragam tujuan. Mulai untuk survei, penelitian, kerjasama kegiatan program, sharing pengalaman hingga pemberdayaan waria. Pondok pesantren waria juga memiliki kompleksitas yang menjadi sumber konflik. Konflik merupakan sesuatu yang alami (natural) dan merupakan fenomena yang sangat tipikal dalam jenis hubungan antar manusia pada setiap tingkatan, dari tingkat inter-personal sampai global. Penyebab dari munculnya konflik adalah adanya kepentingan dan nilai-nilai yang terancam sehingga kebutuhan yang berkonflik tidak terpenuhi. Pada tataran konflik inilah jalan penyelesain dibutuhkan, ilmuwan menawarkan jalan resolusi konflik sebagai suatu cara damai yang memuaskan kedua pihak yang bertikai untuk mengakhiri konflik.Kata Kunci: Aktivitas Keagamaan; Hubungan Manusia; Pesantren Waria.
URGENSI PEMBATASAN UMUR PERKAWINAN DALAM UNDANG-UNDANG NO 16 TAHUN 2019 TENTANG PERKAWINAN (PERSPEKTIF SADD ADZ-DZARÎ’AH) Fadillah, Nor
TASHWIR Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v10i2.7492

Abstract

Abstract: The marriage constitution in the article 7 No 16 of 2019, “A marriage is only permitted if a man and a woman have reached the age of 19”. The age restriction in marriage is not clearly stated and determined in either Al-Qur’an or Hadis as it is stated in the constitution. So based on this issue, this research tries to examine the correlation of theory Sadd Adz-Dzari’ah on the article 16 of 2019 Marriage Age Restriction. This type of research is a normative legal research based on constitution and analytical approaches, then analyze it qualitatively. Based on the result of this research could be concluded that, the age restriction is not found technically written in the Al-Qur’an and Hadis, however it is said in the Al-Qur’an and Hadis to carry out the marriage when someone reaches the puberty and adequate enough to do so. The marriage which carried out by ignoring the age restriction will bring out some damage toward psychology, social, reproduction health, some risk at giving birth and divorce. The quality of those damages might be included as dzari’ah criteria which most likely (ghalabah dzhon) issue some harms and must be avoided is to restrict the age, age restriction is an important thing in the household life, because it’s one of the supporting factor to achieve the marriage purpose in which to build the sakinah mawaddah warahmah family.Keywords: The Correlation of Age Restriction; Marriage. Abstrak: Undang-Undang Perkawinan pada pasal 7 No 16 Tahun 2019, “Perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 tahun”. Pembatasan umur dalam perkawinan ini tidak disebutkan dan ditentukan secara jelas dalam nash, maka dari sinilah penelitian ini berangkat, yakni berusaha untuk mengkaji korelasi teori Sadd Adz-Dzari’ah  terhadap Undang-Undang  No 16 Tahun 2019 tentang pembatasan umur perkawinan, Jenis penelitian ini adalah hukumnormatif dengan pendekatan Undang-Undang dan analitis dan menganalisisnya secara kualitatif. Hasil dari penelitian ini yaitu pembatasan umur dalam perkawinan memang tidak ditemukan secara tertulis dalam Al-Qur’an dan Hadis, akan tetapi dalam Al-Qur’an dan hadis menyebutkan anjuran pernikahan untuk orang yang sudah baligh serta mampuuntuk menikah. Perkawinan yang dilaksanakan dengan mengabaikan pembatasan umur akan melahirkan dampak negatif yaitu dari segi psikologis, sosial, kesehatan reproduksi, resiko ketika melahirkan, dan perceraian. Kualitasdampak negatif tersebut termasuk kriteria  dzari’ah yang kemungkinan besar (ghalabah dzon) akan terjadi dan harusdicegah dengan cara memberikan pembatasan umur, pembatasan umur merupakan hal yang penting karena ia menjadi salah satu faktor yang mendukung tercapainya tujuan dari perkawinan yaitu membangun keluarga sakinah mawaddah warahmah.Kata Kunci: Korelasi Pembatasan Umur; Perkawinan.
ANALISIS KONTRASTIF BAHASA: URGENSI MEMAHAMI BUDAYA DALAM KAJIAN BAHASA ARAB Awaliyah, Mursyidatul
TASHWIR Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v10i2.7493

Abstract

Abstract: There is one expression that states that language indicates one's identity, there is also language indicating nation. Language and culture have a coordinative relationship characterized by the quality of the reciprocal relationship between the two, and a subordinate that reflects one quality of the relationship that is only one-sided, meaning that it is the culture that influences the language, and not the other way around. Because of the close relationship between language and culture, there are some experts who equate the relationship between the two inseparable things like two sides of a coin. When learning a foreign language, we also indirectly learn the culture of the language we are learning. Because language reflects the culture of a person. Similarly, when studying Arabic, we also learn the cultural form of native Arabic speakers. Contrastive analysis is very useful in the interests of the development of the language itself, as well as useful for understanding the cultures of other countries through linguistic differences. Contrastive analysis also contributes to the translation to be more accurate in expressing intent in the source language text.Keywords: Arabic; Contrastive Analysis; Culture; Indonesian Language. Abstrak: Ada satu ungkapan yang menyatakan bahwa bahasa menunjukkan identitas seseorang, ada juga bahasa menunjukkan bangsa. Bahasa dan kebudayaan memiliki hubungan koordinatif yang dicirikan dengan kualitas hubungan timbal balik antara keduanya, dan subordinatif yang mencerminkan satu kualitas hubungan yang hanya sepihak, artinya budayalah yang mempengaruhi bahasa, dan bukan sebaliknya.  Karena eratnya hubungan bahasa dan kebudayaan, ada sebagian pakar yang menyamakan hubungan keduanya dua hal yang tidak dapat dipisahkan seperti dua sisi mata uang. Ketika mempelajari bahasa asing maka secara tidak langsung kita juga mempelajari budaya dari bahasa yang kita pelajari. Karena bahasa mencerminkan budaya sesorang. Demikian pula ketika mempelajari bahasa Arab kita juga belajar bgaimana budaya dari penutur asli bahasa Arab. Analisis kontrastif sangat berguna untuk kepentingan pengembangan bahasa itu sendiri, serta berguna untuk memahami budaya negara lain melalui perbedaan linguistik. Analisis kontrastif juga berkontribusi pada terjemahan agar lebih akurat dalam mengekspresikan maksud dalam teks bahasa sumber.Kata Kunci: Analisis Kontrastif; Budaya; Bahasa Arab; Bahasa Indonesia.
NILAI-NILAI ANTI KORUPSI DALAM AJARAN TASAWUF Mushofa, Mushofa
TASHWIR Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v10i2.7501

Abstract

Abstract: This paper explains that Sufism is a positive human therapy in dealing with various problems encountered in all aspects of life. Then Sufism is also a way of how humans can be close to their Lord. When the heart is close to God, then by itself, humans will always be close to goodness, good deeds, good attitudes, and behavior. At this point humans can avoid all ugliness, immoral acts, and bad behavior such as corruption. Departing from this, it is important to describe "Anti-Corruption Values in Sufism". After conducting a study and analysis, it is concluded that corruption is a crime that must be avoided by all elements of society, because its impact is very detrimental to the interests of many people. The inculcation of anti-corruption values must be carried out to fortify and shape the character of the community. Sufism is present as an alternative and a spirit that can be offered in suppressing the number of corruptions. Through the teachings of honesty, zuhudan, qana'ah, tawakal, wara' and gratitude, the community will become Muslim individuals, pious believers.Keywords: Sufism; Corruption; Human Therapy. Abstrak: Tulisan ini menjelaskan bahwa tasawuf menjadi terapi positif manusia dalam menghadapi berbagai persoalan yang ditemui dalam semua aspek kehidupannya. Kemudian tasawuf juga sebagai jalan bagaimana manusia dapat dekat dengan Tuhannya. Ketika hati sudah dekat dengan Tuhan, maka dengan sendirinya, manusia akan selalu dekat dengan kebaikan, amal shaleh, sikap dan prilaku yang baik. Pada titik inilah manusia bisa menghindarkan diri dari segala kejelekan, perbuatan maksiat serta perilaku yang buruk seperti korupsi. Berangkat dari sinilah kiranya penting untuk diuraikan tentang “Nilai-Nilai Anti Korupsi Dalam Ajaran Tasawuf”. Setelah dilakukan kajian pustaka dan analisis kualitatif, maka disimpulkan bahwa korupsi adalah sebuah tindak kejahatan yang harus dihindari oleh semua elemen masyarakat, karena dampaknya sangat merugikan hajat orang banyak. Penanaman nilai-nilai anti korupsi wajib dilaksanakan untuk membentengi dan membentuk karakter masyarakat. Tasawuf hadir menjadi sebuah alternatif dan spirit yang  bisa ditawarkan dalam menekan angka korupsi. Melalui ajaran kejujuran, kezuhudan, qana’ah, tawakal, wara’ dan syukur  masyarakat akan menjadi individu-individu yang muslim, mukmin yang solih.Kata Kunci: Tasawuf; Korupsi; Terapi Manusia.
UNIVERSALITAS ISLAM: MELURUSKAN PANDANGAN BIFURKASI ANTAR ILMU Hasanah, Noor; Agustina, Mardhiya
TASHWIR Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v10i2.7511

Abstract

ABSTRACTThe classification of knowledge is not intended as a bifurcation between general science and religious science. Bifurcation can lead to the misconception that non-religious science is separate from Islam. Whereas in the Islamic intellectual tradition, harmonious unity between science is always maintained. Science is a single entity because the source of all knowledge is the One (al-ahad). The meaning is the concept of science in Islam boils down to the concept of monotheism. Science must be able to bring people closer to the Creator, acknowledge His greatness, encourage people to do good deeds, transform people to be authoritative and respected and be able to offer solutions to crises. So, studying a science does not mean leaving a study of other sciences. This is what is meant by the holistic integration of science. This research is a qualitative research with library method. The focus of this research is to reread the basic principles of science, trace their roots and prove their integration.  Keywords: Universality of Islam, Bifurcation, SciencesABSTRAKKlasifikasi ilmu pengetahuan bukan dimaksudkan sebagai bifurkasi antara ilmu umum dan ilmu agama. Bifurkasi dapat memunculkan kesalahan konsepsi bahwa ilmu non agama adalah terpisah dari Islam. Padahal dalam tradisi intelektual Islam, kesatuan yang harmonis antar ilmu senantiasa dijaga. Ilmu adalah kesatuan tunggal karena sumber dari segala ilmu adalah Yang Esa (al-ahad). Maknanya, konsep ilmu dalam Islam bermuara pada konsep tauhid. Ilmu harus dapat mendekatkan manusia kepada Sang Khalik, mengakui keagungan-Nya, mendorong manusia untuk melakukan amal shaleh, mentransformasikan umat menjadi berwibawa dan disegani serta mampu menawarkan solusi terhadap krisis. Sehingga, mempelajari suatu ilmu tidak berarti meninggalkan kajian atas ilmu yang lainnya. Inilah yang dimaksud dengan integrasi ilmu secara holistik. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode pustaka riset. Fokus penelitian ini adalah untuk membaca ulang prinsip dasar ilmu pengetahuan, melacak akar dan membuktikan keterpaduannya.  Kata Kunci: Universalitas Islam, Bifurkasi, Ilmu

Page 1 of 1 | Total Record : 10