Depik Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir, dan Perikanan
Depik Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan is a peer review international journal, this journal is publishing high-quality articles in aquatic sciences and fisheries in general. The aim of the journal is to publish and disseminate the current or new findings of the research, and give a significant contribution to the development of fisheries and aquatic sciences in several topics, but not limited to: Fisheries (Aquaculture, Capture Fisheries, Fish Processing) Aquatic Ecology (Freshwater, Marine, and Brackishwater) Aquatic Biology (Fish, Mollusk, Crustacean, Plankton, Coral reefs) Oceanography.
Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol 7, No 1 (2018): April 2018"
:
10 Documents
clear
Keragaman dan pengelompokan ikan berdasarkan karakter morfologi di ekosistem Bendungan Colo Sukoharjo Jawa Tengah
Ragil Nur Cahyono;
Agung Budiharjo;
Sugiyarto Sugiyarto
Depik Vol 7, No 1 (2018): April 2018
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.13170/depik.7.1.9886
The objective of the present study was to determine the diversity fishes in Colo Dam ecosystem and grouping its based on morphological characteristics. Sampling was conducted in September to October 2017 at Sukoharjo Colo Dam Central Java used the purposive random sampling method. Identification of fish species based Kottelat (1993). The diversity of fish was calculated using Shannon Wiener's diversity index. The relationship between abiotic factors and the diversity of fish was analyzed by regression test. Grouped fish with the Ntsys cluster method (2.02i). The results showed that the diversity of Colo Dam fish at station III was higher (1.16) than at stations I, II, and IV (0.84, 0.82, and 1.15), the abiotic factors affecting the diversity of fish species, and fish species that have large morphological equations have a high coefficient of similarity value in dendogram analysis.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman dan pengelompokan ikan pada di Bendungan Colo. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan September-Oktober 2017 di Bendungan Colo Sukoharjo menggunakan metode Purposive sampling. Identifikasi spesies ikan berdasarkan Kottelat (1993). Keanekaragaman ikan dihitung menggunakan indeks keragaman Shannon Wiener. Hubungan antar faktor abiotik dengan keanekaragaman ikan dianalisis dengan uji regresi. Pengelompokan ikan dengan metode cluster Ntsys (2.02i). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragaman ikan Bendungan Colo di stasiun III lebih tinggi (1,16) dari pada stasiun I, II, dan IV (0,84; 0,82; dan 1,15), faktor abiotik mempengaruhi keanekeragaman jenis ikan, dan jenis-jenis ikan yang memiliki persamaan morfologi yang besar memiliki nilai koefisien kemiripan yang tinggi dalam analisis dendogram.
Tipe sedimen di Perairan Pantai Anoi Itam Kota Sabang
Syahrul Purnawan;
Najwan Ihsan;
Ichsan Setiawan;
Syarifah Meurah Yuni
Depik Vol 7, No 1 (2018): April 2018
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.13170/depik.7.1.10294
Abstrak. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui distribusi sedimen dan penyebaran sedimen di Perairan Pantai Anoi Itam Sabang. Sampel sedimen permukaan diambil pada Bulan April 2017 dari sepuluh stasiun yang tersebar di sepanjang daerah intertidal. Tubecore berdiameter 2,5 inch diaplikasikan untuk mengambil sedimen hingga ketebalan 20 cm dari permukaan. Semua sampel dianalisis menggunakan saringan bertingkat dengan menggunakan metode ayak basah. Persentase kehadiran yang tinggi banyak dijumpai pada ayakan berukuran 1φ atau fraksi pasir kasar, sejalan juga dengan hasil analisis rataan ukuran butiran menunjukkan kisaran pada rentang pasir kasar, hanya stasiun 6 yang rataannya berada pada rentang pasir kasar (coarse sand). Tipe sedimen yang dijumpai adalah pasir sedikit berkerikil (Slightly Gravelly Sand) dan pasir berkerikil (Gravelly Sand).Kata Kunci: Pantai Anoi Itam, Sedimen, Distribusi Sedimen
Perbandingan frekuensi molting Lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) yang diberi pakan komersil dan nanokalsium yang berasal dari cangkang tiram (Crassostrea gigas)
Lia Handayani;
Faisal Syahputra
Depik Vol 7, No 1 (2018): April 2018
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.13170/depik.7.1.8629
Oyster shell can be used as alternative calcium source. Utilizing of oyster shell into nano calcium flour can be used to decrease solid waste. The usage of nano calcium flour in feed is important applied as calcium supplements with cherax quadricarinatus. The purpose of this research is to study the effect of nano calcium addition on feeds to increase moulting frequency, survival and growth rate of freshwater lobster. This research has been done during 60 days in fisheries Laboratory, Abulyatama University. Two percents nano calcium addition on feeds gives significant effect on growth rate and very significant effect to moulting frequency of freshwater lobster. Which has moulting frequency 2.71. Where the treatment was not added nano calcium has moulted frequency 1.29. But, nano calcium addition on foods did not affect survival rate.Cangkang tiram dapat digunakan sebagai alternatif sumber kalsium. Pemanfaatan cangkang tiram menjadi serbuk nanokalsium dapat mengurangi limbah padat. Penggunaan serbuk nanokalsium pada pakan penting dilakukan sebagai suplemen kalsium untuk lobster air tawar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan nanokalsium pada pakan terhadap pertumbuhan, frekuensi molting dan kelangsungan hidup Lobster Air Tawar (LAT). Penelitian ini dilakukan selama 60 hari di laboratorium perikanan, Universitas Abulyatama. Data dianalisa menggunakan uji T (perbandingan) antara lobster yang diberi pakan nanokalsium dan tanpa penambahan nanokalsium. Nanokalsium yang ditambahkan ke dalam pakan sebanyak 2% berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan lobster air tawar (thitung ttabel), dan berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah molting dengan frekuensi molting 2,71 kali/ekor terhadap lobster yang diberi pakan nano CaO, sedangkan yang diberi pakan komersil hanya 1,29 kali/ekor. Namun, tidak berpengaruh terhadap tingkat kelangsungan hidup (thitung ttabel).
Hubungan panjang berat dan faktor kondisi tiram (Crassostrea gigas) di Kawasan Estuari Tibang dan Ulee Lheue, Kota Banda Aceh
Lili Kasmini;
Termala A. Barus;
Muhammad A. Sarong;
Miswar B. Mulya
Depik Vol 7, No 1 (2018): April 2018
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.13170/depik.7.1.9594
Study on the length-weight relationships and condition factors of oyster (Crassostrea gigas) has been done in Tibang and Ulee Lheue estuary areas, Banda Aceh for 4 months starting from July to October 2017. The objective of the study was to observe the condition of oysters in Banda Aceh City. The sampling method used line transect, where each sampling location is divided into 3 stations. Length-weight relationship analysis was performed using Linear Allometric Model (LAM). The result of the analysis of Length-weight relationship in Tibang and Ulee Lheue waters of Banda Aceh City shows the average value of 1.92 and 1.97 (negative allometric). The K value shows at Tibang location (5.07) higher than Ulee Lheue (4.98). Based on the mean value Wr indicates that Ulee Lheue (103.92) has a higher value than Tibang (102.60). The conclusion of K and Wr values shows that the environment in the research location is still stable, so it can be concluded that Tibang and Ulee Lheue waters can still support the life of oysters.Penelitian tentang hubungan panjang berat dan faktor kondisi tiram (Crassostrea gigas) telah dilakukan di kawasan estuari Tibang dan Ulee Lheue, Kota Banda Aceh selama 4 bulan dimulai dari Juli hingga Oktober 2017. Tujuan penelitian adalah untuk melihat kondisi tiram di Kota Banda Aceh. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan transek garis, dimana pada setiap lokasi sampling dibagi atas 3 stasiun. Analisis hubungan panjang berat dilakukan menggunakan Linear Allometric Model (LAM). Hasil analisis hubungan panjang berat di perairan Tibang dan Ulee Lheue Kota Banda Aceh menunjukkan nilai b rerata 1,92 dan 1,97 (alometrik negatif). Adapun nilai K menunjukkan rerata pada lokasi Tibang (5,07) lebih tinggi berbanding Ulee Lheue (4,98). Berdasarkan nilai rata-rata Wr menunjukkan bahwa perairan Ulee Lheue (103,92) memiliki nilai lebih tingi bebanding perairan Tibang (102,60). Adapun kesimpulan nilai K dan Wr menunjukkan keadaan lingkungan pada lokasi penelitian masih dalam keadaan stabil, sehingga dapat disimpulkan perairan Tibang dan Ulee Lheue masih dapat mendukung kehidupan tiram.
Variabilitas suhu laut pada kejadian IOD (Indian Ocean Dipole) di perairan barat Sumatera menggunakan data Argo Float
Hanani Adiwira;
Noir P. Purba;
Syawaludin A. Harahap;
Mega L. Syamsuddin
Depik Vol 7, No 1 (2018): April 2018
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.13170/depik.7.1.8089
The objective of the research was to analyze the vertical variability of the water column in the West Sumatra waters. The data used to analyze the vertical variability was the temperature data sets from Argo float instruments which were operated from 2009 to 2011 in the West Sumatran sea region. The secondary data that used was the geostrophic current data sets which obtained from the Jason image satellite also sea temperature anomaly data. The method used in this research is by analyzing temporally and spatially and then describing while comparing the data. The result of the research showed that IOD formed from June to July with the peak of IOD was from September to November and the disintegration starts in December. The SST average on 2009 (Neutral IOD) during peak phase of IOD was 29.060C, in 2010 (Negative IOD) the SST mean is 28.690C, in 2011 (Positive IOD) the SST mean was 28.790C. The result from spatial analyzes showed that the strong IOD was the main reason for the movement of the mixed layer in West Sumatra waters, so the warm water cannot be found around the West Sumatra waters. The upper boundary depth of thermocline during peak phase of 2009’s neutral IOD starts from September was on 82.59 m, in October was 86.12 m and in November was 89.5 m. In Septemeber 2010 the upper thermocline boundary was found on 89.06 m deep, in October was 104.05 m, and in November was 107.36 m, the thermocline got deeper because the input of water masses from West Indian Ocean intensifies because of negative IOD event. In September 2011 the upper thermocline boundary was found on 64.16 m, in October was 75.35 m and in November was 79.88 m. The thermocline found more shallow because the mixed layer on East Indian Ocean moved westward so the thermocline lifted up to fill the water column emptiness.Penelitian ini bertujuan mengkaji variabilitas kolom air secara vertikal di perairan Barat Sumatera. Data yang digunakan yaitu data suhu dari instrumen Argo float yang beroperasi di perairan Barat Sumatera tahun 2009 – 2011. Data pendukung yaitu data arus geostropik yang diperoleh yang diperoleh dari citra Jason selain itu digunakan data suhu anomali laut. Metode yang digunakan adalah analisis temporal dan spasial serta deskriptif komparatif. Hasil penelitian menunjukkan proses pembentukan IOD terjadi pada Juni – Agustus kemudian mencapai puncak pada September – November dan proses peluruhannya pada Desember. Rata – rata SPL pada fase puncak tahun 2009 (IOD netral) yaitu 29.060C; pada 2010 (IOD negatif) yaitu 28.690C; dan pada 2011 (IOD positif) yaitu 28.790C. Berdasarkan analisis spasial IOD dengan intensitas kuat mengakibatkan pergerakan massa air hangat melewati perairan Barat Sumatera sehingga tidak terdeteksi lagi di lokasi ini. Batas atas termoklin pada fase puncak IOD 2009 (September) yaitu 82.59 m; Oktober sekitar 86.12 m dan November mencapai 89.5 m. Selanjutnya pada 2010 yaitu pada September sekitar 89.06 m; Oktober sekitar 104.05 m dan November mencapai 107.36 m. Terlihat, termoklin semakin dalam karena massa air hangat dari Hindia Barat yang mengisi perairan Barat Sumatera menjadi semakin kuat pada fase IOD negatif. Sebaliknya, pada September 2011 termoklin berada pada kedalaman 64.16 m; Oktober pada kedalaman 75.35 m dan November sekitar 79.88 m. Pada periode ini termoklin terdeteksi lebih dangkal karena lapisan mixed layer bergerak ke Hindia Barat dan kekosongannya diisi lapisan termoklin.
Ekosistem mangrove sebagai habitat kepiting bakau (Scylla Serrata) di Kampung Nipah Desa Sei Nagalawan Kecamatan Perbaungan Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara
Sari Marina Saragi;
Desrita Desrita
Depik Vol 7, No 1 (2018): April 2018
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.13170/depik.7.1.8742
Highly Utilization of Mangrove field as cultivation field of fish and recreation and tour site by people have big posses to the abundance of Mangrove crab (Scylla serrata) because of mangrove play role as habitats of mangrove crabs. The research was conducted for two months from December 2016 to January 2017. This study aims to see the structure of mangrove vegetation, the abundance of Mangrove Crab and the influence of mangrove vegetation structure on the abundance of Mangrove Crab in Kampung Nipah. The results of this research are Vegetation structure of Mangrove in the station I and II show high density, whereas density in station III wide apart. The abundance of mangrove crab in the station I and II showed the higher result from station III. The Influence of Vegetation Structure of Mangrove and Abundance of Mangrove Crab can be related by using regression analysis Y = 0.0241x + 113.6. The correlation coefficient (r) that value obtained as 0.79 have a meaning the connection between mangrove density and abundance of mangrove crab are rated in the strong category that has a value 79%. The density of Mangrove to 1000 units will rise up the abundance of mangrove crab to 43.5 an individual. Tingginya pemanfaatan mangrove sebagai lahan budidaya ikan dan sebagai wisata rekreasi oleh masyarakat sangat mempengaruhi kelimpahan Kepiting Bakau (Scylla serrata) karena hutan mangrove merupakan habitat bagi Kepiting Bakau. Penelitian ini dilaksanakan selama dua bulan yaitu bulan Desember 2016 sampai Januari 2017. Penelitian ini bertujuan untuk melihat struktur vegetasi mangrove, kelimpahan Kepiting Bakau dan pengaruh struktur vegetasi mangrove terhadap kelimpahan Kepiting Bakau di Kampung Nipah. Hasil dari penelitian struktur vegetasi mangrove di stasiun I dan II memiliki kerapatan sangat padat, sedangkaan kerapatan di stasiun III jarang. Kelimpahan Kepiting Bakau di Stasiun I dan II lebih tinggi dari kelimpahan di stasiun III. Pengaruh kerapatan mangrove dan kelimpahan Kepiting Bakau diperoleh persamaan regresi yaitu Y = 43,521 + 0,2061x. Koefisien korelasi (r) yang diperoleh 0,79 yang artinya hubungan kerapatan mangrove dan kelimpahan Kepiting Bakau tergolong kuat yaitu sebesar 79%. Kerapatan mangrove sebanyak 1000 satuan akan meningkatkan kelimpahan Kepiting Bakau sebesar 43,5 individu.
Analisis kebijakan peningkatan efektivitas pemberian bantuan dana Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP) pada kelompok nelayan di Kota Banda Aceh
Elfa Yeni;
Agus Naufal
Depik Vol 7, No 1 (2018): April 2018
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.13170/depik.7.1.8838
The objective of the study was to analyze the policy of increasing the effectiveness of providing PUMP funds to fishermen groups in Kota Banda Aceh. Mina Rural Business Development Program (PUMP) was one of the models developed by the Ministry of Marine Affairs and Fisheries to overcome poverty for coastal communities. From the previous research data, it was known that PUMP funding is considered ineffective because there were still many people who did not benefit from this PUMP fund and the improper use of PUMP funds targeted by beneficiary communities. To improve the effectiveness of PUMP funding, it was necessary to do in the policy analysis on the effectiveness of this PUMP fund. Analysis Hierarchy process (AHP) was used to look at the policies to be used for the effectiveness of PUMP grants. The method of collecting data was the interview or deep interview with policymakers in DKP Aceh Province, with NGOs and academics in Banda Aceh. The Results of Analysis Hierarchy process shows the criteria that mainly influence the increasing effectiveness of PUMP funding assistance to the fishermen economy are human resources, followed by time and human resources. While the policy priority of increasing the effectiveness of PUMP funding to the fishermen economy is to increase the capacity of the fishermen's supervisor, followed by management financial training of fishermen and intensively monitoring post-aid activities.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan peningkatan efektivitas pemberian bantuan dana PUMP pada kelompok nelayan di Kota Banda Aceh. Program Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP) merupakan salah satu model yang dikembangkan oleh Dirjen Perikanan Kelautan (DKP) untuk menggulangi kemiskinan bagi masyarakat pesisir. Dari data penelitian sebelumnya, diketahui bahwa bantuan dana PUMP ini dinilai tdak efektif karena masih banyaknya masyarakat yang tidak memperoleh manfaat dari dana PUMP ini dan penggunaan dana PUMP yang tidak tepat sasaran oleh masyarakat penerima bantuan. Untuk meningkatkan efektivitas pemberian dana PUMP tersebut maka perlu dilakukan di analisa kebijakan tentang efektivitas pembarian dana PUMP ini. Analisis Hirarki Proses digunakan untuk melihat kebijakan yang akan digunakan untuk efektivitas pemberian dana PUMP. Metode pengambilan data adalah wawancara atau deep interview dengan pengambil kebijakan yang ada di DKP Provinsi Aceh, dengan LSM yang ada di banda Aceh serta dengan pihak akademisi yang ada di Banda Aceh. Hasil yang didapat adalah Hasil Analisis Hirarki Proses menunjukkan kriteria yang paling mempengaruhi peningkatan efektivitas pemberian bantuan dana PUMP terhadap perekonomian nelayan adalah kriteria sumberdaya manusia, kriteria waktu dan kriteria SDM. Sedangkan prioritas kebijakan peningkatan efektivitas pemberian bantuan dana PUMP terhadap perekonomian nelayan adalah peningkatan kapasitas tenaga pembimbing diurutan pertama, diikuti pelatihan manajemen pengelolaan keuangan nelayan dan pemantauan secara intensif kegiatan pasca penyaluran bantuan. Sedangkan kriteria yang paling mempengaruhi peningkatan efektivitas pemberian bantuan dana PUMP terhadap perekonomian nelayan adalah kriteria sumberdaya manusia, kriteria waktu dan kriteria SDM.
Tutupan makroalga pada terumbu karang di kawasan konservasi perairan (KKP) Nusa Penida, Bali
Muhammad Akhyar Maududi;
Oktiyas Muzaky Luthfi
Depik Vol 7, No 1 (2018): April 2018
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.13170/depik.7.1.8864
The interaction between algae and coral is one of the most important of ecological processes in coral reef ecosystems. They are one of the main food sources in a large number of herbivorous animals in coral reef ecosystems. Makroalgae is also a major competitor in degrading coral reefs at a time when macroalgae gains dominate the coral reefs. Algae growth is relatively very fast, so it can be used as an indicator in the initial study to determine the processes that affect populations and coral reef communities. The purpose of this study is to determine the distribution of macroalgae cover on coral reefs in the Nusa Penida, Bali using the transect quadrant (1x1m2)x 100m method. This study shows that the lowest macroalgae cover at Crystal Bay and the highest in Buyuk can be concluded that the high macroalgae cover is made possible by the large supply of nutrients from the land which becomes the supplier of organic materials that increases the fertility of waters, meanwhile in the waters close to the high seas obtain additional nutrients derived from the lifting of the water mass (upwelling). Data and information are needed for the interest of regional planning towards the future related to the management and utilization of marine resources potential in the coastal area in Nusa Penida, Bali.Interaksi antara alga dan karang merupakan hal terpenting dari proses ekologi pada ekosistem terumbu karang. Mereka merupakan salah satu sumber produsen primer pada sejumlah besar hewan herbivora pada ekosistem terumbu karang. Makroalga juga menjadi pesaing utama dalam mendegradasi terumbu karang pada saat kelimpahaan makroalga mendominasi terhadap terumbu karang. Pertumbuhan alga tergolong sangat cepat, sehingga dapat digunakan sebagai indikator dalam studi awal untuk mengetahui proses yang mempengaruhi populasi dan komunitas terumbu karang. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui sebaran tutupan makroalga pada terumbu karang di daerah utama wisata penyelaman Nusa Penida, Bali dengan menggunakan metode transek kuadran dengan ukuran (1x1m2) x 100 m. Penelitian ini menunjukan bahwa tutupan makroalga terendah pada Crystal Bay dan tertinggi di Buyuk dapat ditarik kesimpulan jika tingginya tutupan makroalga dimungkinkan oleh besarnya suplai nutrien daratan yang menjadi pensuplai bahan organik yang meningkatkan kesuburan perairan. Sedangkan pada perairan yang dekat dengan laut lepas mendapat tambahan nutrien yang berasal dari pengangkatan massa air (upwelling). Data dan informasi ini diperlukan untuk kepentingan perencanaan pengembangan wilayah ke depannya yang terkait dengan pengelolaan dan pemanfaatan potensi sumberdaya laut di wilayah pesisir di Nusa Penida, Bali.
Pengaruh kualitas pelayanan Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo terhadap kelancaran operasional penangkapan ikan
Alvi Rahmah;
Muhammad Rizayani;
Chaliluddin Chaliluddin
Depik Vol 7, No 1 (2018): April 2018
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.13170/depik.7.1.8713
The aim of this study was to evaluate the effect of quality service of Oceanic Fishing Port on fishing operational fluency. Data were collected using questionnaires based on Likert scale 1-3 and direct observation. The data was collected by assessing the fishermen on quality service of UPTD, either through questionnaire and observation. The data were analyzed using Chi-Square test to examine the correlation of two nominal variables and how far the correlation between two variables of quality service for fishing operational fluency. The result showed that the p-value for the reliability variable was 0.036 0.05 at the level of α 5%, it means that the reliability variable gave the significant effect to the fishing operation. Four indicators of the reliability variables (supply of subsidized fuel for fishing in the fishing port, the optimization of services provided by the UPTD to fishermen, the supply of ice in the fishing port, and supply of water for the fishing operational in the fishing port) showed the satisfaction of respondent was at low level. While the results the variable responsiveness test indicated that these variables have no significant effect on the fishing operational fluency. It was shown from the result of the p-value of 0.609 0.05 at the level of α 5%, with the average of satisfaction indicators was at the middle category.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui besaran pengaruh kualitas pelayanan yang diberikan UPTD terhadap kelancaran operasional penangkapan ikan. Pengambilan data dilakukan dengan kuesioner yang dibuat dengan menggunakan skala Likert 1-3 (skor 3 berarti sangat setuju, skor 2 berarti kurang setuju, dan skor 1 berarti sangat tidak setuju) dan pengamanat langsung di lapangan. Data yang dikumpulkan adalah penilaian nelayan terhadap kualitas pelayanan UPTD, baik penilaian melalui kuesioner dan pengamatan langsung. Analisis data dengan menggunakan Analisis Chi-Square untuk menguji pengaruh atau hubungan dua variabel nominal, sehingga diketahui ada/tidak dan sejauh mana hubungan antara variabel kualitas pelayanan terhadap kelancaran operasional penangkapan ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perolehan p-value untuk variabel kehandalan sebesar 0,0360,05 pada taraf α 5%, yang berarti bahwa variabel kehandalan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kelancaran operasional penangkapan ikan. Empat indikator dari variabel kehandalan (penyediaan BBM bersubsidi untuk kebutuhan operasional penangkapan di kawasan pelabuhan, keoptimalan pelayanan yang diberikan pihak UPTD kepada nelayan, penyediaan es di kawasan pelabuhan, dan penyediaan air untuk kebutuhan operasional penangkapan di kawasan pelabuhan) menunjukkan bahwa rata-rata tingkat kepuasan responden terhadap variabel kehandalan berada pada tingkat kepuasan rendah. Sementara hasil uji terhadap variabel daya tanggap menunjukkan bahwa variabel tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap kelancaran operasional penangkapan ikan. Hal ini terbukti dari perolehan p-value sebesar 0,6090,05 pada taraf α 5%, dengan rata-rata indikator kepuasan berada dalam posisi tingkat kepuasan sedang.
Posisi komponen GPP terhadap variasi konstituen harmonik pasang surut bulan Muharram di Stasiun Sabang
Salnuddin Salnuddin;
Nurhalis Wahidin;
Jefry Bemba
Depik Vol 7, No 1 (2018): April 2018
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.13170/depik.7.1.7570
The movement of celestial bodies produces a variation of a gravitational gradient as a tidal generation force (GPP). Position Sabang Station, declination maximum and position lunar month of Muharram aka n generate harmonic constituent character identifier of GPP, where the water level is the sum of the amplitude of harmonic constituent that generated at a certain time.This research is to determine the variation of harmonic constituents and identify the character of harmonic constituents of GPP component position characterization in Muharram month. The results show Katrakteristik tidal movement beginning of the month of Muharram in Sabang Station occurred 1-2 hours after ijtimak.. Value riding dominant water derived from the value of Mean Sea Level ( 52%), and the dominant contribution hamonik constituents derived from component M 2 (28 - 33%). Harmonic constituents M 2 does not show the position of the moon in Muharram, while the position of the sun is reflected in the constituent phase harmonic S 2..