cover
Contact Name
Ichsan Setiawan
Contact Email
ichsansetiawan@usk.ac.id
Phone
+6285220189228
Journal Mail Official
depik@usk.ac.id
Editorial Address
Faculty of Marine and Fisheries Universitas Syiah Kuala Jalan Meureubo No. 1, Kopelma Darussalam Banda Aceh, 23111, Indonesia
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Depik Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir, dan Perikanan
ISSN : 20897790     EISSN : 25026194     DOI : 10.13170/depik
Depik Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan is a peer review international journal, this journal is publishing high-quality articles in aquatic sciences and fisheries in general. The aim of the journal is to publish and disseminate the current or new findings of the research, and give a significant contribution to the development of fisheries and aquatic sciences in several topics, but not limited to: Fisheries (Aquaculture, Capture Fisheries, Fish Processing) Aquatic Ecology (Freshwater, Marine, and Brackishwater) Aquatic Biology (Fish, Mollusk, Crustacean, Plankton, Coral reefs) Oceanography.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 3 (2019): December 2019" : 9 Documents clear
Pemanfaatan data Google Earth resolusi spasial tinggi untuk pemetaan perubahan morfologi pantai Endan Suwandana
Depik Vol 8, No 3 (2019): December 2019
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.8.3.14309

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan morfologi pantai yang terjadi sangat cepat terjadi di pesisir pantai Kabupaten Serang dan Kota Serang, Provinsi Banten. Perubahan morfologi pantai yang dimaksud dalam penelitian ini adalah abrasi, akresi, dan reklamasi. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data satelit resolusi spasial sangat tinggi yang disediakan oleh Google Earth untuk tahun 2004, 2015, dan 2019. Perubahan garis pantai dianalisis dengan pendekatan interpretasi visual melalui digitasi pada layar dengan mengunakan aplikasi Google Earth. Hasil penelitian ini memperlihatkan adanya perubahan morfologi pantai yang sangat cepat di seluruh lokasi studi. Dari hasil kajian ini, pesisir pantai Kabupaten Serang terbagi ke dalam tiga zona, yaitu zona reklamasi (dari Desa Salira sampai Desa Terate), zona akresi (dari Desa Tengkurak Sampai Desa Pedaleman), dan zona abrasi (dari Desa Tonjong sampai Desa Lontar). Untuk Kota Serang, proses akresi terjadi di Kelurahan Banten dan Kelurahan Sawahluhur, sedangkan abrasi hanya terjadi di Kelurahan Banten. Proses abrasi yang terjadi di bagian tengah Kabupaten Serang mencapai 135 ha pada tahun 2019. Tingkat abrasi tertinggi terjadi di Desa Domas dengan rata-rata kehilangan daratan sebesar 4 ha per tahun. Akresi terjadi khususnya di wilayah paling timur Kabupaten Serang, terjadi akibat proses sedimentasi yang tinggi dari Sungai Ciujung, dengan luas lahan tanah timbul mencapai 260,19 ha sampai dengan tahun 2019. Adapun kegiatan reklamasi berlangsung khususnya di bagian barat Teluk Banten dimana area tersebut dikembangkan untuk zona industri, dengan luas areal lahan yang direklamasi mencapai 344,43 ha sampai dengan tahun 2019. Studi ini juga telah mampu mengidentifikasi proses bergabungnya dua pulau kecil di Teluk Banten, menjadi bagian dari Pulau Jawa, karena proses reklamasi yang masif
Strategi implementasi teknologi biofloc dalam budidaya udang putih Litopenaeus vannamei di Provinsi Lampung Supono Supono
Depik Vol 8, No 3 (2019): December 2019
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.8.3.13652

Abstract

Abstract. Biofloc technology in shrimp farming is a new technology that has advantages over other technologies. Biofloc technology can maintain water quality, especially ammonia and pH, suppress Vibrio growth, enhance immunity, and as natural food for shrimp. The application of this technology in shrimp farming still faces several obstacles, so not all farmers apply it. This study aims to evaluate the application of biofloc systems in white shrimp farming and formulate appropriate strategies to increase farmer productivity. The study was conducted using the survey and interview method for the perpetrators of white shrimp cultivation in Lampung Province. Collected data were strengths, weaknesses, opportunities, and threats of the application of biofloc technology in the cultivation of white shrimp. The obtained data were analyzed descriptively, while the formulation of strategies was conducted using SWOT analysis. The results showed that shrimp culture technology with biofloc technology has good prospects for increasing shrimp production. However, biofloc technology also has weaknesses that can lead to the failure of shrimp farming. The application of white shrimp biofloc technology was in quadrant I (aggressive) where this system has a good internal strength to capture existing external opportunities (SO strategy). Internal strengths include a high survival rate, relatively faster growth, environmentally friendly, able to minimize disease agents that enter the culture system, and lower feed conversion, while the opportunities they have include: shrimp prices are relatively high, there is a revitalization program unproductive ponds by the government, the issue of eco-labeling, and the growing demand for shrimp exports.Keywords: SWOT analysis, water quality, strategy, shrimp production, aggressive  Abstrak. Teknologi biofloc dalam budidaya udang merupakan teknologi baru yang memiliki keunggulan dibandingkan teknologi lainnya.  Teknologi biofloc dapat menjaga kualitas air terutama amoniak dan pH, menekan pertumbuhan Vibrio, meningkatkan imunitas, serta sebagai pakan alami bagi udang.  Penerapan teknologi ini dalam budidaya udang masih mengalami beberapa kendala, sehingga tidak semua petambak menerapkannya.  Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan sistem biofloc  dalam budidaya udang putih dan merumuskan strategi yang tepat untuk meningkatkan produktivitas petambak. Penelitian dilakukan dengan metode surve dan wawancara terhadap pelaku budidaya udang  putih di Provinsi Lampung.  Data yang dikumpulkan berupa kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunity) dan ancaman (threat) penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang putih.  Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif, sedangkan perumusan strategi menggunakan   analsis SWOT.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi budidaya udang dengan teknologi biofloc mempunyai prospek yang baik untuk meningkatkan produksi udang.  Namun demikian,  teknologi biofloc juga memiliki kelemahan yang dapat menimbulkan kegagalan budidaya udang. Penerapan teknologi  biofloc udang putih berada pada kuadran I (agresif) dimana sistem ini mempunyai kekuatan internal yang baik untuk menangkap peluang eksternal yang ada (strategi SO).  Kekuatan internal yang dimiliki antara lain: tingkat kelulushidupan tinggi, pertumbuhan relatif lebih cepat, ramah lingkungan, mampu meminimalisir agen penyakit yang masuk dalam sistem budidaya, dan konversi pakan lebih rendah, sementara peluang yang dimiliki antara lain: harga udang relatif tinggi, adanya program revitalisasi tambak yang tidak produktif oleh pemerintah, adanya isu eco labeling, serta permintaan ekspor udang yang terus meningkat.Kata kunci: Analisis SWOT, kualitas air, strategi, produksi udang, agresif
Penambahan mineral kalsium dari cangkang kepiting bakau (Scylla serrata) pada pakan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang galah (Macrobrachium rosenbergii) Fajar Fajri; Azwar Thaib; Lia Handayani
Depik Vol 8, No 3 (2019): December 2019
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.8.3.12090

Abstract

Abstract. Mud crab shell is one of the most fisheries waste can be utilized as calcium source because it contains lots of calcium carbonat. Utilizing of crab shells flour in fed is important applied as calcium supplements to freshwater prawn. The purpose of this research is to knows the effects of calcium addition from mud crab shells on fed to increase the growth rate, survival rate and moulting frequency freshwater prawn. The research has been done during 70 days in fisheris Laboratory, Abulyatama University. Result of the research shows that two percents calcium addition on fed give higher growth rate value, survival rate value and moulting frequency value than other treatments and were not added calcium on fed. The average of freshwater prawn growth rate are treatment A (0% CaO)= 1.20 g, B (1% CaO) = 1.41 g, C (2% CaO) = 1.92 g, D (3% CaO) = 1.77 g. The average of freshwater prawn survival rate result shown by treatment A = 75 %, B = 91,1 %, C = 91,1 %, and D = 89 %. The moulting frequency value results shown by treatment A = 1,06 ; B = 1,22; C = 1,57 and D = 1,34. Keywords : Calcium, Freshwater Prawn, Macrobranchium rosenbergii, Moulting Abstrak. Cangkang kepiting bakau merupakan salah satu limbah perikanan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber kalsium karena cangkang kepiting mengandung kalsium karbonat tinggi. Pemanfaatan tepung cangkang kepiting pada pakan adalah sebagai suplemen. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan mineral kalsium dari cangkang kepiting bakau pada pakan untuk meningkatkan laju pertumbuhan, kelangsungan hidup dan frekuensi molting udang galah. Penelitian ini dilakukan selama 70 hari di laboratorium perikanan, Universitas Abulyatama. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa penambahan 2 % kalsium pada pakan memberikan hasil tertinggi untuk laju pertumbuhan, kelangsungan hiidup dan frekuensi molting udang galah dibanding perlakuan lain. Nilai rata-rata pertumbuhan udang galah tiap perlakuan adalah sebagai A (0% CaO) = 1,20 gr, B (1% CaO) = 1.41 gr, C (2% CaO) = 1.92 gr dan D (3% CaO) = 1,77 gr. Sedangkang nilai rata-rata kelangsungan hidup udang galah adalah A = 75 %, B = 91,1 %, C =91,1 % dan D = 89 %. Nilai ata-rata frekuensi molting udang galah selama pemeliharaan pada tiap perlakuan adalah A = 1,06 kali/ekor, B = 1,22 kali/ekor, C = 1,57 kali/ekor dan D = 1,34 kali/ekor. Kata kunci: Kalsium, Macrobranchium rosenbergii, Moulting, Udang Galah
Struktur komunitas Echinodermata pada ekosistem lamun Desa Taula’a Kecamatan Bilato, Kabupaten Gorontalo Hardiyanti Yusuf; Miftahul Khair Kadim
Depik Vol 8, No 3 (2019): December 2019
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.8.3.14288

Abstract

Abstract. Echinodermata is playing an important role in food chains in waters ecosystem; however, there was no report on the Echinodermata structure in the seagrass ecosystem of Taula’a village, Gorontalo district. Hence, the objective of the study was to  to determine the community structure of Echinoderms in the seagrass ecosystem of coastal area of Taula’a village, Bilato, Gorontalo regency. The research was conducted from January to April 2019. There were 3 observation stations chosen purposively. The sample of Echinoderms was observed at low tide using methods of quadrats and transects of 1×1 m. In addition, the water parameters were also measured i.e the temperature, the salinity, the pH, the water depth, the substrate and the water flow. Furthermore, diversity, dominanc and Evenness index were analyzed using software PAST 3.22. The results showed that there were 13 species of Echinoderms representing 4 classes, namely Ophiuroidea, Asteriodea, Echinodea dan Holothuroidea in which the highest total abundance was on 1st station and the lowest total abundance was on the 2nd station.  The index of diversity was in the medium category, the index of domination was in the low category, the index of evenness showed an equitable distribution and the index of uniformity was very high.Keywords : Echinoderms, community, seagrass, Past 3.22 Abstrak. Echinodermata memiliki peranan penting dalam rantai makanan pada ekosistem laut, namun demikian struktur komunitasnya di ekosistim lamun Desa Taula’a Kabupaten Gorontalo belum pernah dilaporkan. Oleh karena itu peneilitan ini bertujuan  untuk mengetahui struktur komunitas Echinodermata pada ekosistem lamun di wilayah pesisir Desa Taula’a, Bilato Kabupaten Gorontalo. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga April 2019. Terdapat 3 stasiun pengamatan yang dipilih secara purposive. Pengamatan sampel Echinodermata dilakukan pada saat surut dengan menggunakan transek kuadran 1×1 m. Selain itu dilakukan juga pengukuran terhadap parameter air yaitu suhu, salinitas, pH, kedalaman, substrat dan arus. Nilai indeks keanekaragaman, indeks dominansi dan indeks kemerataan dianalisis menggunakan software PAST 3.22. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 13 spesies Echinodermata ditemukan yang mewakili 4 kelas yaitu Ophiuroidea, Asteriodea, Echinodea dan Holothuroidea dimana kelimpahan total tertinggi pada stasiun I dan terendah pada stasiun II.  Indeks keanekaragaman kategori sedang, indeks dominasi rendah, indeks kemerataan menunjukkan penyebaran yang merata dan indeks keseragaman yang sangat tinggi. Kata kunci: Echinodermata, komunitas, Lamun, Past 3.22
Fitoplankton sebagai bioindikator kualitas perairan pada zona litoral waduk Sei Pulai, Pulau Bintan, Kepulauan Riau Novi Fatmayanti; Tri Apriadi; Winny Retna Melani
Depik Vol 8, No 3 (2019): December 2019
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.8.3.14144

Abstract

Abstract. Sei Pulai reservoir is located on Bintan Island, Riau Islands Province. Water quality monitoring of Sei Pulai reservoir needs to be done considering that this reservoir is a source of raw water for the people of Tanjungpinang City and surrounding areas.The objective of this recent study were to determine the diversity and structure of phytoplankton community, also determine the water quality of litoral zone at Sei Pulai reservoir based on phytoplankton as bioindicator. Sampling points were chosen by purposive sampling method. Phtoplankton and water sample were collected in three parts namely inlet, middle, and outlet of the reservoir. Species richness of phytoplankton in littoral zone Sei Pulai reservoir consisted of 3 divisions and 18 species. Phytoplankton abundance in the inlet of reservoir showed moderate abundance. In theotehrs hand, the middle and outlet of the reservoir showed low abundance. Based on ecological index, phytoplankton community was categorized low diversity, moderate uniformity, and no dominance. The saprobic index value obtained from the analysis of the phytoplankton community more moderate organic matter or β/α-mesosaprobic. Keywords : bio-indicator, community structure, littoral zone, phytoplankton, saprobic index Abstrak. Waduk Sei Pulai terletak di Pulau Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Monitoring terhadap kualitas perairan waduk Sei Pulai perlu dilakukan mengingat waduk ini menjadi merupakan sumber air baku masyarakat Kota Tanjungpinang dan sekitarnya. Kajian yang dilakukan ini bertujuan untuk mengkaji jenis dan struktur komunitas fitoplankton serta kualitas perairan di zona litoral waduk Sei Pulai berdasarkan fitoplankton sebagai bioindikator. Lokasi pengambilan sampel ditentukan berdasarkan metode purposive sampling. Sampel fitoplankton dan air diambil pada tiga bagian waduk yaitu masukan air (inlet), tengah, serta keluaran air (outlet). Fitoplankton yang ditemukan di perairan zona litoral waduk Sei Pulai terdiri dari tiga divisi dan 18 jenis fitoplankton. Nilai kelimpahan fitoplankton di bagian inlet menunjukkan kelimpahan sedang. Bagian tengah dan outlet waduk menunjukkan kelimpahan rendah. Hasil penilaian indeks ekologi menunjukkan bahwa komunitas fitoplankton memiliki keanekaragaman rendah, keseragaman sedang, dan tidak ada yang mendominansi. Berdasarkan indeks saprobik diketahui bahwa di zona litoral Waduk Sei Pulai terjadi pencemaran bahan organik sedang (Kategori β/α-mesosaprobik). Kata kunci : bioindikator, fitoplankton, struktur komunitas, indeks saprobik, zona litoral
Pengaruh suhu terhadap perkembangan embrio ikan Cupang Betta splendens Mustaqim Mustaqim; Kartini Eriani; Erlangga Erlangga; Rachmawati Rusyidi
Depik Vol 8, No 3 (2019): December 2019
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.8.3.13916

Abstract

Abstract. Temperurate is one of the important parameter in the embryo development of fish; However, to date no information this effect on the Betta splendens. Hence, this study aims to determine the effect of temperature on egg hatchability and survival of betta fish larvae. Samples of betta fish used in this study are similar in size and from the same type of broodstock. A completely randomized design used with four treatments and three replications. The parameters observed were the process of egg development, fertilization rate, hatching rate, hatching duration, survival rate, and water quality (pH, DO, temperature). The results showed that the relation between temperature and fertilization rate was not significantly different, whereas the calculated F value (0.23) ˂ F table 0.05 (4.07). The relation between temperature and hatching rate has a very significant effect, F value (18.91) ˃ F table 0.05 (4.07). The relation of temperature to hatching time showed the same difference, and the relation of temperature to survival of betta fish (Betta spelendes) larvae is significant with F ¬ values (39.98) F table 0.05 (4.07). Water quality parameters during the study were pH 7 - 7.5, DO 5.0 - 7.7 ppm and temperature at 27 - 29 oC.Keywords: Betta fish eggs, temperature, embryogenesis Abstrak.  Suhu adalah salah satu faktor menentukak proses perkembangan embrio pada ikan, namun pengaruh ini belum pernah diamati pada ikan cupang Betta splendens. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap perkembangan embrio, daya tetas telur dan kelangsungan hidup larva ikan cupang. Induk ikan cupang yang digunakan memiliki ukuran yang sama dan dari induk jenis yang sama. Adapun rancangan yang digunakan dalam penelitian adalah rancangan acak non factorialdengan 4 perlakuan 3 kali ulangan. Parameter yang diamati adalah proses perkembangan telur, tingkat pembuahan telur, tingkat penetasan telur, lama penetasan telur, tingkat kelangsungan hidup dan kualitas air pH, DO, suhu ruangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan suhu terhadap tingkat pembuahan telur tidak berbedanyata, dimana nilai F hitung (0,23) ˂ F tabel 0,05 (4,07). Hubungan suhu terhadap tingkat penetasan telur berpengaruh sangat berbedanyata, dimana nilai F hitung (18,91) ˃ F tabel 0,05 (4,07). Hubungan suhu terhadap lama penetasan menunjukkan berbeda sama, dan hubungan suhu terhadap kelangsungan hidup berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup larva ikan cupang (Betta spelendes) dengan nilai F hitung (39,98) F tabel 0,05 (4,07). Parameter kualitas air selama penelitian rata-rata pH 7 – 7,5, DO 5,0 – 7,7 ppm dan suhu ruangan 27 – 29 oC.Kata kunci: Telur ikan cupang, suhu, embriogenesis
Hubungan ukuran kapal, panjang jaring, tenaga mesin, dan material rumpon terhadap hasil tangkapan purse seine: Studi kasus di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur Makwiyah A. Chaliluddin; Junaidi M. Affan; Syahrul Ramadhan; Yulia Safitri Ismail; Fachrorazi Amir; Muhammad Muhammad; Thaib Rizwan; Alvi Rahmah; Fitri Indah Yani; Sayyid A El-Rahimi
Depik Vol 8, No 3 (2019): December 2019
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.8.3.15103

Abstract

Abstract. Each region has different boat sizes, fishing gear sizes, engine power, and fish agregating device (FAD)material, allegedly having different catches. The relationship between the length of the net, engine power, fishing vessel size, usually influences the catch of the fish. This study aims to determine the effect of fishing vessel size, engine power, net length and FAD material on catches volume. The study was conducted using descriptive methods conducted on 14 February-14 March 2019 in Idie Rayeak, Aceh Timur, Aceh Province. Data were analyzed  by multiple linear regression analysis. The results showed that engine power, net length and FAD material had a significant effect on the catch volume, while the fishing vessel size had no significant effect on the catch volume.Keywords: fishing vessel size, length of net, engine power, FAD material Abstrak. Setiap daerah memiliki ukuran kapal, ukuran alat tangkap, tenaga mesin, serta material rumpon yang berbeda-beda, diduga memiliki hasil tangkapan yang berbeda pula. Hubungan antara panjang jaring, tenaga mesin, ukuran kapal, biasanya berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ukuran kapal, tenaga mesin, panjang jaring dan material rumpon terhadap hasil tangkapan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif yang dilakukan pada bulan 14 Februari - 14 Maret 2019 di perairan Idi Rayeak Aceh Timur, Provinsi Aceh.  Data dianalisis  dengan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tenaga mesin, panjang jaring dan material rumpon mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil tangkapan, sedangkan ukuran kapal tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil tangkapan.Kata kunci: Ukuran kapal, panjang jaring, tenaga mesin, material rumpon
Bioakumulasi residu pestisida pada komunitas gastropoda di perairan Sungai Kalisat, Kabupaten Malang Nanik Retno Buwono; Trinita Gultom; Setya Widi Ayuning; Supriatna Supriatna
Depik Vol 8, No 3 (2019): December 2019
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.8.3.14368

Abstract

Abstract. Gastropods can respond to pesticide pollution in the environment because their life is relatively sedentary and their movements are very limited. The character of pesticides are not selective and persistent can result in bioaccumulation of pesticide content in gastropod. Hence, the  aim of the study was to determine the levels of pesticide residues that accumulate in the gastropod body at Kalisat River, Malang Regency. The pesticide residues in gastropods was measured using High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Data were analyzed descriptively comparative or compared with the quality standards which exceeded the maximum residual limit set by the EU Pesticide Database. The results showed that pyrethroid pesticides were found with the active ingredient beta-cyfluthrin (mean 0.05 mg/g) and carbamate group with three highest active ingredients namely propoxur (average value of 0.15 mg/g), carbofuran (average value of  0.16 mg/g) and carbaryl (average value of 0.11 mg/g). Bioaccumulation factor values at all stations are greater than 1 (BAF1) that indicates the gastropods can accumulate pesticide residues.Keywords: bioaccumulation, gastropod, pesticide residues, Kalisat River Abstrak. Gastropoda dapat memberikan respon terhadap pencemaran pestisida di lingkungan karena hidupnya relatif menetap dan pergerakannya sangat terbatas. Sifat pestisida yang tidak selektif dan persisten dapat mengakibatkan terjadinya bioakumulasi atau penumpukan kandungan pestisida dalam tubuh gastropoda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar residu pestisida yang terakumulasi dalam tubuh gastropoda di Sungai Kalisat, Kabupaten Malang. Pengukuran residu pestisida pada gastropoda menggunakan alat High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Hasil pengukuran menunjukkan bahwa ditemukan pestisida golongan piretroid dengan bahan aktif jenis beta siflutrin (rerata 0,05 mg/g) dan golongan karbamat dengan tiga jenis bahan aktif tertinggi, yaitu propoksur (rerata 0,15 mg/g), karbofuran (rerata 0,16 mg/g) dan karbaril (rerata 0,11 mg/g). Data dianalisis secara deskriptif komparatif atau dibandingan dengan baku mutu EU Pesticide Database tahun 2019 telah melebihi batas maksimum residu yang ditetapkan oleh EU Pesticide Database. Nilai faktor bioakumulasi pada seluruh stasiun lebih besar dari 1 (BAF1) yang menunjukkan bahwa gastropoda mampu mengakumulasi residu pestisida. Pestisida dapat ditemukan pada gastropoda dengan melalui difusi langsung dari lingkungan dan juga melalui proses pencernaan gastropoda. Kata kunci: bioakumulasi, gastropoda, residu pestisida, Sungai Kalisat
Kriopreservasi sperma ikan kawan Poropontius tawarensis menggunakan Dimetil sulfoxida (DMSO) Cut Ruhul Muthmainnah; Zainal A. Muchlisin; Kartini Eriani; Iwan Hasri; Nur Fadli; Abdullah A. Muhammadar
Depik Vol 8, No 3 (2019): December 2019
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.8.3.15072

Abstract

Abstract. Kawan fish (Poropuntius tawarensis) is an endemic fish found in Danau Laut Tawar, Central Aceh, Indonesia. This species has been threatened by ecological partubation, unfrindly fishing practices and pollution.  Cryopreservation is one of the ways to maintain the presence of these fish. Cryoprotectant (CP) is a critical material in the cryopreservation and DMSO is a common CP used in cryopreservation. Hence, the aim of the present study was to determine the optimum DMSO concentration for kawan fish sperm. The completely randomized design with 6 treatments and 3 replications were used in this study. The tested treatment was the difference of DMSO concentration, namely; 0, 3%, 6%, 9%; 12%, and 15% DMSO was combined with 5% egg yolk. The ratio of sperm to diluent is 1: 20. The cryotubes containing diluented sperm were evaporated at 5 cm from the surface of liquid nitrogen for 10 min, then stored in a liquid nitrogen container at -1960C for 2 weeks, then thawed and analyzed for the quality. The results showed that fresh sperm of kawan fish had motility of 48.67%, pH 7, milky white, with moderate consistency. The assessment of mass movements shows that the sperm has good quality. The ANOVA test showed that the addition of DMSO in diluents gavee significant effect on sperm motility, fertility and hatchability rates of fish eggs (P 0.05). The highest percentage of sperm motility and fertilization rates of fish eggs were found at concentration of 6%, respectively with the value of 46.67% and 45.67%, respectively. The highest percentage of hatching rate was also found in similar concentration of DMSO with the value of 19.33%. %. The DNA integrity test using the electrophoresis gel method showed that there was damage to DNA fish sperm after freezing, the the lower damage was found at 9% and 12% DMSO. It is concluded that the optimum concentration of DMSO for kawan fish sperm is at 6% of DMSO. Key words: kawan fish (Poropuntius tawarensis), cryopreservation, DMSO, DNA integrity Abstrak. Ikan kawan (Poropuntius tawarensis) merupakan ikan endemik yang terdapat di Danau Laut Tawar, Aceh Tengah, Indonesia. Menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature), ikan ini termasuk ikan yang terancam punah oleh sebab kerusakan lingkungan, penangkapan tidak ramah lingkungan dan polusi. Salah satu cara untuk menjaga keberadaan ikan tersebut adalah dengan penerapan metode kriopreservasi sperma. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi DMSO optimum dan melihat kerusakan DNA yang terjadi pada sperma ikan kawan(Poropontius tawarensis) pasca pembekuan.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dan 3 ulangan.Perlakuan yang diuji adalah perbedaan konsentrasi DMSO dengan konsentrasi 0; 3%; 6%; 9%; 12% dan 15%.DMSO tersebut dikombinasikan dengan 5% kuning telur. Perbandingan sperma dengan pengencer adalah 1 : 20. Semua cryotube yang berisi sperma dan pengencer diuapkan pada jarak 5 cm dari permukaan nitrogen cair selama 10 menit, selanjutnya, disimpan dalam kontainer nitrogen cair bersuhu -1960C untuk disimpan selama 2 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sperma segar ikan kawan memiliki nilai motilitas sebesar 48,67%, pH 7, berwarna putih susu, dengan konsistensi sedang. Penilaian gerakan massa menujukkan bahwa sperma tersebut berkualitas baik. Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa penambahan DMSO dalam pengencer berpengaruh nyata terhadap motilitas, fertilitas dan daya tetas telur ikan kawan (Poropontius tawarensis) (P0,05) setelah pembekuan. Selanjutnya, uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa persentase motilitas sperma dan pembuahan telur ikan kawan tertinggi terdapat pada penambahan DMSO dengan konsentrasi 6%, masing-masing sebesar 46,67% dan 45,67%. Persentase penetasan telur tertinggi juga dijumpai pada perlakuan 6% DMSO, dengan nilai 19,33%. Hasil uji integritas DNA menggunakan metode elektrofresis gel menunjukkan bahwa terdapat kerusakan pada DNA sperma ikan pasca pembekuan, Kerusakan yang terendah terdapat pada konsentrasi DMSO 9% dan 12%. Namun secara umum, disimpulkan bahwa konsentrasi optimum untuk kriopreservasi ikan kawan adalah 6% DMSO.Kata kunci: ikan kawan (Poropuntius tawarensis), kriopreservasi, DMSO, integritas DNA

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2019 2019