cover
Contact Name
Yunardi Kristian Zega
Contact Email
pietasjurnal@gmail.com
Phone
+6281266209657
Journal Mail Official
pietasjurnal@gmail.com
Editorial Address
Kavling Pancur Pelabuhan Blok A No.189 Tanjung Piayu, Sungai Beduk, Batam, Kepulauan Riau. 29400
Location
Kota batam,
Kepulauan riau
INDONESIA
Pietas: Jurnal Studi Agama dan Lintas Budaya
ISSN : -     EISSN : 30314836     DOI : https://doi.org/10.62282/pj.v1i2
Pietas: Jurnal Studi Agama dan Lintas Budaya (e-ISSN: 3031-4836) adalah jurnal peer-review yang didedikasikan untuk promosi dan diseminasi penelitian ilmiah tentang studi agama dan sosial budaya. Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Publikasi Ilmiah (LPPI), Yayasan Yuta Pendidikan Cerdas dan bekerja sama dengan ASAI: Asosiasi Studi Agama Indonesia. PIETAS menerbitkan artikel secara online dengan frekuensi terbitan 2 kali dalam setahun, yakni terbit di bulan Mei dan November. Proses review dalam jurnal ini menggunakan double-blind review, yang berarti identitas reviewer dan penulis disembunyikan dari reviewer, begitu pula sebaliknya.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 48 Documents
Pembelajaran Holistik di Tengah Revolusi AI: Tantangan Etika dan Spiritualitas dalam Pendidikan Kristen Nugroho Agustinus Manalu; Johan Natanael Sitinjak; Angga Purba
Pietas: Jurnal Studi Agama dan Lintas Budaya Vol. 3 No. 1 (2025): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian dan Publikasi Ilmiah, Yayasan Yuta Pendidikan Cerdas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62282/pj.v3i1.68-83

Abstract

Perkembangan pesat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membawa perubahan signifikan dalam praktik pembelajaran, termasuk dalam konteks pendidikan Kristen. Di satu sisi, AI menawarkan peluang untuk meningkatkan efektivitas dan personalisasi pembelajaran, namun di sisi lain memunculkan tantangan etika dan spiritualitas yang berpotensi menggeser tujuan pendidikan Kristen yang holistik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran AI dalam pembelajaran pendidikan Kristen serta mengkaji tantangan etika dan spiritualitas yang muncul di tengah revolusi AI. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan analisis konseptual-teologis terhadap literatur pendidikan, teologi Kristen, dan etika teknologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI berperan positif dalam mendukung aspek kognitif dan pengelolaan pembelajaran, tetapi memiliki keterbatasan dalam menjaga martabat manusia, relasi personal, serta formasi iman peserta didik. Pembelajaran holistik ditemukan sebagai kerangka yang relevan untuk mengintegrasikan AI secara kritis dan bertanggung jawab. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi AI dalam pendidikan Kristen harus berlandaskan etika dan spiritualitas Kristen, dengan menempatkan teknologi sebagai sarana pendukung, bukan pusat pembelajaran, sehingga tujuan pembentukan manusia seutuhnya tetap terjaga.
Kerendahan Hati sebagai Fondasi Efektivitas Pelayanan: Studi Eksegetis Kisah Para Rasul 18:24-28 Johan Natanael Sitinjak; Upa Silaen; Sang Putra Immanuel Duha
Pietas: Jurnal Studi Agama dan Lintas Budaya Vol. 3 No. 1 (2025): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian dan Publikasi Ilmiah, Yayasan Yuta Pendidikan Cerdas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62282/pj.v3i1.84-98

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran kerendahan hati sebagai fondasi efektivitas pelayanan Kristen melalui studi eksegetis Kisah Para Rasul 18:24-28. Latar belakang penelitian ini berangkat dari realitas pelayanan gereja yang sering menekankan kompetensi, karisma, dan performa, namun kurang memberi perhatian pada pembentukan karakter rohani pelayan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan eksegetis-teologis terhadap teks Alkitab, didukung oleh kajian literatur teologi biblika dan pelayanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Apolos merupakan figur pelayan yang memiliki kompetensi dan semangat tinggi, tetapi mengalami keterbatasan teologis yang kemudian diperbarui melalui sikap kerendahan hati dan kesiapan untuk diajar. Kerendahan hati memungkinkan Apolos menerima pembinaan, mengalami pertumbuhan pemahaman iman, dan pada akhirnya melayani secara lebih efektif dan berdampak bagi jemaat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa efektivitas pelayanan Kristen tidak hanya ditentukan oleh kemampuan intelektual atau retorika, melainkan terutama oleh karakter rohani yang terbuka terhadap pembelajaran dan karya kasih karunia Allah. Temuan ini menegaskan bahwa kerendahan hati merupakan prinsip teologis mendasar dalam formasi dan praksis pelayanan Kristen yang berkelanjutan.
Implementasi Pendidikan Agama Kristen dan Seni Musik: Membangun Keseimbangan Antara Pengetahuan Religius dan Keterampilan Kreatif Hizkia Lumban Tungkup; Jhonnedy Kolang Nauli
Pietas: Jurnal Studi Agama dan Lintas Budaya Vol. 3 No. 2 (2026): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Publikasi Ilmiah, Yayasan Yuta Pendidikan Cerdas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62282/pj.v3i2.113-127

Abstract

Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) di berbagai institusi pendidikan masih cenderung lebih menitikberatkan pada penguasaan aspek kognitif dan doktrinal. Akibatnya, pengembangan kreativitas dan pengalaman spiritual peserta didik belum terintegrasi secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen serta seni musik dalam membangun keseimbangan antara pengetahuan religius dan keterampilan kreatif peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi pustaka. Data diperoleh melalui kajian berbagai literatur akademik, jurnal ilmiah, buku teologi, dan sumber relevan yang berkaitan dengan PAK dan seni musik, yang kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seni musik memegang peranan penting dalam proses pembelajaran PAK, karena dapat mengaitkan pemahaman teologis dengan pengalaman emosional serta ekspresi kreatif peserta didik. Penerapan musik dalam pembelajaran membantu peserta didik memahami nilai-nilai Alkitabiah dengan cara yang lebih kontekstual, meningkatkan keterlibatan aktif, serta mengembangkan kemampuan estetika dan spiritual secara bersamaan. Diskusi dari penelitian ini menegaskan bahwa integrasi seni musik dalam kurikulum PAK dapat menciptakan proses pembelajaran yang lebih holistik, transformatif, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik di era modern. Dengan demikian, menciptakan keseimbangan antara pengetahuan religius dan keterampilan kreatif merupakan aspek penting dalam membentuk kedewasaan iman, kreativitas, serta karakter peserta didik secara menyeluruh.
Dialektika Harapan Mesianik dalam Perjanjian Lama: Antara Tradisi Israel dan Ekspektasi Eskatologis Andre Vernandes Zega; Mariam Etman; Bimo Setyo Utomo
Pietas: Jurnal Studi Agama dan Lintas Budaya Vol. 3 No. 2 (2026): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Publikasi Ilmiah, Yayasan Yuta Pendidikan Cerdas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62282/pj.v3i2.128-145

Abstract

Penelitian ini berangkat dari kegelisahan teologis terhadap kecenderungan dalam kajian Perjanjian Lama yang sering memisahkan dimensi historis dan eskatologis dalam memahami harapan mesianik. Akibatnya, konsep Mesias kerap direduksi menjadi figur historis atau sebaliknya dipahami secara eskatologis tanpa akar historis yang memadai. Penelitian ini bertujuan mengkaji dialektika harapan mesianik dalam Perjanjian Lama melalui relasi antara tradisi historis Israel dan ekspektasi eskatologis dalam konteks krisis. Menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan, penelitian ini menelusuri perkembangan konsep Mesias dari figur raja yang diurapi menuju figur eskatologis yang bersifat transenden. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengalaman kehancuran nasional, khususnya pembuangan, menjadi katalis utama yang mentransformasikan harapan mesianik dari realitas historis menuju visi teologis yang lebih luas. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan pendekatan dialektis yang mengintegrasikan dimensi historis dan eskatologis secara simultan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa Mesias dipahami sebagai figur yang menjembatani sejarah dan masa depan, sekaligus memperluas cakupan keselamatan dari Israel menuju bangsa-bangsa. Dengan demikian, konsep mesianik bersifat dinamis dan tetap relevan sebagai sumber refleksi teologis dalam konteks kontemporer.
Oikumene di Era Digital: Membangun Kesatuan Gereja Melalui Media Sosial Johan Natanael Sitinjak; Aprilius Nahak; Monika Tang
Pietas: Jurnal Studi Agama dan Lintas Budaya Vol. 3 No. 2 (2026): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Publikasi Ilmiah, Yayasan Yuta Pendidikan Cerdas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62282/pj.v3i2.99-112

Abstract

Perkembangan teknologi digital, khususnya media sosial, telah membawa perubahan signifikan dalam kehidupan beragama, termasuk dalam upaya membangun kesatuan gereja (oikumene). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran media sosial dalam membangun kesatuan gereja di era digital, mengidentifikasi tantangan yang muncul, serta merumuskan strategi oikumene yang kontekstual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan, dengan menganalisis berbagai literatur teologi dan komunikasi digital yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial berperan sebagai ruang dialog, sarana kolaborasi pelayanan, dan media kesaksian iman lintas denominasi. Namun demikian, terdapat berbagai tantangan seperti polarisasi teologis, eksklusivisme digital, serta penyebaran misinformasi yang dapat menghambat terwujudnya kesatuan gereja. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang mencakup penguatan prinsip teologis kesatuan dalam kasih, peningkatan literasi digital teologis, serta penerapan etika komunikasi Kristen. Penelitian ini menyimpulkan bahwa media sosial dapat menjadi sarana efektif dalam membangun oikumene apabila digunakan secara bijaksana dan berlandaskan nilai-nilai iman Kristen.
Spiritualitas Otentik di Tengah Budaya Estetika Digital: Tantangan Pembentukan Iman dalam Era Visualisasi Sosial Media Yohanes Nduru; Herbin Simanjuntak; Rusdi Parsaulian
Pietas: Jurnal Studi Agama dan Lintas Budaya Vol. 3 No. 2 (2026): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Publikasi Ilmiah, Yayasan Yuta Pendidikan Cerdas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62282/pj.v3i2.146-160

Abstract

Perkembangan media sosial telah melahirkan budaya estetika digital yang menjadikan visualisasi, pencitraan diri, dan validasi sosial sebagai unsur dominan dalam kehidupan generasi muda. Fenomena ini tidak hanya memengaruhi pola komunikasi dan pembentukan identitas, tetapi juga cara individu memahami dan mengekspresikan spiritualitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh budaya estetika digital terhadap pembentukan spiritualitas Generasi Z, mengidentifikasi tantangan yang muncul dalam pembentukan iman yang otentik, serta merumuskan model formasi spiritualitas yang relevan dengan konteks era digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi literatur yang dipadukan dengan analisis isi (content analysis) terhadap berbagai literatur dan konten media sosial yang berkaitan dengan ekspresi spiritualitas Kristen. Analisis dilakukan melalui proses identifikasi data, pengkodean tema, kategorisasi, interpretasi, dan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya estetika digital mendorong munculnya spiritualitas performatif yang ditandai oleh orientasi pada pencitraan religius, validasi sosial, krisis identitas spiritual, rendahnya literasi Alkitab, dan meningkatnya individualisme digital. Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, penelitian ini menawarkan Model Formasi Spiritualitas Otentik yang terdiri atas literasi digital-teologis, pemuridan digital, komunitas relasional, disiplin rohani, dan pendampingan generasi. Model ini diharapkan dapat menjadi kerangka konseptual bagi gereja dan lembaga pendidikan Kristen dalam membangun spiritualitas yang kontekstual, reflektif, dan transformatif di tengah budaya estetika digital.
Model Kepemimpinan Transformatif-Spiritual Berdasarkan 1 Timotius 3:1-7 bagi Gereja Kontemporer Temaziso Halawa; Yohanes Nduru; Pidel Kastro; Rusdi Parsaulian
Pietas: Jurnal Studi Agama dan Lintas Budaya Vol. 3 No. 2 (2026): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Publikasi Ilmiah, Yayasan Yuta Pendidikan Cerdas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62282/pj.v3i2.161-174

Abstract

Kepemimpinan gereja kontemporer menghadapi berbagai tantangan yang berkaitan dengan integritas, spiritualitas, kualitas relasi, dan kredibilitas publik pemimpin. Dalam konteks tersebut, 1 Timotius 3:1-7 menjadi salah satu teks penting yang memuat kualifikasi pemimpin gereja yang relevan bagi kehidupan gerejawi masa kini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna teologis kualifikasi kepemimpinan dalam 1 Timotius 3:1-7 serta merumuskan model kepemimpinan yang dapat diterapkan dalam konteks gereja kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan (library research). Analisis dilakukan melalui eksegesis biblika yang mencakup analisis historis, leksikal, dan sintaksis terhadap teks 1 Timotius 3:1-7, kemudian dilanjutkan dengan sintesis teologis dan rekonstruksi model konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualifikasi kepemimpinan yang dirumuskan Paulus tidak hanya berfungsi sebagai persyaratan administratif, tetapi mencerminkan empat dimensi utama kepemimpinan gerejawi, yaitu integritas moral, kedewasaan spiritual, kepemimpinan relasional-keluarga, dan kredibilitas publik. Berdasarkan sintesis terhadap keempat dimensi tersebut, penelitian ini merumuskan Model Kepemimpinan Transformatif-Spiritual yang menempatkan transformasi karakter dan spiritualitas sebagai fondasi utama kepemimpinan gereja. Model ini berkontribusi dalam memperkaya kajian teologi kepemimpinan sekaligus memberikan kerangka praktis bagi gereja dalam proses seleksi, pembinaan, dan evaluasi pemimpin pada era kontemporer.
Rekonstruksi Kesalehan Perempuan Kristen dalam Titus 2:3-5: Dari Norma Biblika menuju Spiritualitas Integratif Mawarni Waruwu; Yohanes Nduru; Herbin Simanjuntak; Rusdi Parsaulian
Pietas: Jurnal Studi Agama dan Lintas Budaya Vol. 3 No. 2 (2026): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Publikasi Ilmiah, Yayasan Yuta Pendidikan Cerdas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62282/pj.v3i2.175-188

Abstract

Kesalehan perempuan Kristen merupakan tema yang terus relevan dalam kajian teologi karena berkaitan dengan pembentukan identitas iman, karakter, dan peran perempuan dalam kehidupan keluarga, gereja, dan masyarakat. Namun, berbagai penelitian mengenai Titus 2:3-5 umumnya masih berfokus pada aspek eksegetis, normatif, atau kontekstual secara terpisah sehingga belum menghasilkan suatu model konseptual yang mengintegrasikan nilai-nilai kesalehan perempuan secara utuh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna teologis Titus 2:3-5 serta merekonstruksi konsep kesalehan perempuan Kristen ke dalam suatu model spiritualitas yang relevan bagi konteks kontemporer. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode historis-gramatikal melalui analisis konteks historis Surat Titus, kajian leksikal terhadap istilah-istilah Yunani kunci, analisis sintaksis, serta refleksi teologis konstruktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesalehan perempuan Kristen dalam Titus 2:3-5 mencakup empat dimensi utama, yaitu spiritualitas transformatif, integritas karakter, relasi yang bertanggung jawab, dan kesaksian publik. Berdasarkan sintesis antara temuan biblika dan realitas perempuan Kristen masa kini, penelitian ini merekonstruksi suatu Model Spiritualitas Integratif yang menghubungkan dimensi spiritual, moral, relasional, dan sosial secara holistik. Kontribusi penelitian ini terletak pada perumusan model konseptual yang menjembatani norma biblika Titus 2:3-5 dengan tantangan kehidupan perempuan Kristen kontemporer, sehingga dapat menjadi landasan bagi pembinaan spiritual yang lebih kontekstual dan transformatif.