cover
Contact Name
Mukhammad Nur Hadi
Contact Email
mukhammad.nur.hadi@uinsa.ac.id
Phone
+6285280179576
Journal Mail Official
al_hukama@uinsa.ac.id
Editorial Address
Jl. A. Yani 117, Surabaya
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Al-Hukama: The Indonesian Journal of Islamic Family Law
ISSN : 20897480     EISSN : 25488147     DOI : 10.15642/alhukama
Al-Hukama serves academic discussions of any Indonesian Islamic family law issues from various perspectives, such as gender, history, sociology, anthropology, ethnography, psychology, philosophy, human rights, disability and minorities, digital discourse, and others. It intends to contribute to the debate in classical studies and the ongoing development debate in Islamic family law studies in Indonesia, both theoretical and empirical discussion. Al-Hukama always places the study of Islamic family law in the Indonesian context as the focus of academic inquiry.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 10 No. 2 (2020): Desember" : 8 Documents clear
Pandangan Al-Buthi Terhadap Hukum Mengikuti Program Keluarga Berencana (KB) Berdasarkan Intervensi Negara Mufid, Moh.
Al-Hukama': The Indonesian Journal of Islamic Family Law Vol. 10 No. 2 (2020): Desember
Publisher : Islamic Family Law Department, Sharia and Law Faculty, UIN Sunan Ampel Surabaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/alhukama.2020.10.2.195-217

Abstract

This article aims to discuss al-Buthi's thoughts about the law following a family planning program on state intervention. The family planning program is claimed as one of the strategies to reduce birth rates to avoid high population growth rates. On the other hand, one of the aims of marriage in Islam is to give birth to offspring who can be the successor and prosperity of the earth. Therefore, family planning programs in this context are seen as blocking this noble goal. Al-Buthi, one of the contemporary scholars, has a very dichotomous thought. This study shows that al-Buthi is of the view that family planning law over state intervention for his people is an act that is not in line with the purpose of marriage. That is why, according to al-Buthi the law is haram. Unlike the law, if both husband and wife couples carry out family planning programs through azl or other contraceptives without any intervention from any party, including from the state, then it is permissible as long as the husband and wife's consent and the existence of benefits that are personal to both. The basic thought of al-Buthi is the qiyasi reasoning and the maqasidi reasoning. [Artikel ini bertujuan untuk mengkaji pemikiran al-Buthi tentang hukum mengikuti program keluarga berencana atas intervensi negara. Program keluarga berencana diklaim sebagai salah satu strategi untuk menekan angka kelahiran untuk menghindari tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi. Di pihak yang lain, tujuan pernikahan dalam Islam salah satunya adalah untuk melahirkan keturunan yang dapat menjadi penerus dan pemakmur bumi. Oleh karena itu, program keluarga berencana dalam konteks ini dianggap menghalangi tujuan mulia ini. Al-Buthi salah satu ulama kontemporer memiliki pemikiran yang sangat dikotomis. Kajian ini menunjukkan bahwa al-Buthi berpendapat hukum keluarga berencana atas intervensi negara kepada rakyatnya merupakan tindakan yang tidak sejalan dengan tujuan pernikahan. Itu sebabnya, menurut al-Buthi hukumnya haram. Berbeda hukumnya, jika kedua pasangan suami-istri melakukan program KB melalui cara `azl atau alat kontrasepsi lainnya tanpa adanya intervensi dari pihak manapun, termasuk dari negara maka dibolehkan selama atas persetujuan suami-istri dan adanya kemaslahatan yang bersifat personal bagi keduanya. Dasar pemikiran al-Buthi tersebut adalah nalar qiyasi dan nalar maqasidi.]
Nafkah Sebagai Konsekuensi Logis Pernikahan Darmawan, Darmawan
Al-Hukama': The Indonesian Journal of Islamic Family Law Vol. 10 No. 2 (2020): Desember
Publisher : Islamic Family Law Department, Sharia and Law Faculty, UIN Sunan Ampel Surabaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/alhukama.2020.10.2.218-242

Abstract

This research aims to find out what are the forms of zahir (material) and inner (non-material) livelihood that a husband must give to his wife? Does the husband provide the living because of the obedience of the wife or because of the marriage contract? By using a qualitative approach. Zahir livelihoods are related to basic daily necessities, which can be classified as clothing, food, shelter, household costs, maintenance, and the cost of children's education. While the inner livelihood can be classified as: 1) Husband teaches the values of tauhid, morality and worship. 2) Husband treats wife well, gently. 3) Husband gives sovereignty to wife to interact with society. 4) The husband gives an explanation of what the wife is lacking. 5) Having an intimate relationship between husband and wife. Livelihood is the logical consequence of the marriage contract, both zahir and inner.Zahir is a gift the husband must give the wife after the marriage contract, provided both fulfill their obligations. Inner livelihood is mandatory support from the husband to the wife until the marriage ends, regardless of her obedience.
Ijbar Nikah di Kampung Sidosermo Dalam Surabaya Perspektif Hukum Islam Argo, Abdulloh Faqih Putro; Amin, Mokhammad Rizky Khoirul; Nurkholis, Muh; Rouf , Abdul; Musyafa’ah, Nur Lailatul
Al-Hukama': The Indonesian Journal of Islamic Family Law Vol. 10 No. 2 (2020): Desember
Publisher : Islamic Family Law Department, Sharia and Law Faculty, UIN Sunan Ampel Surabaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/alhukama.2020.10.2.295-318

Abstract

This article discusses about the forced marriage in Sidosermo Dalam Surabaya to be analyzed by Islamic law. This research is field research and is qualitative in nature. Data were collected through interviews and documentation, then analyzed deductively. The forced marriage still occurs in Sidosermo Dalam Surabaya. Marriage was motivated by several reasons: the factor of parents' concern for their child, the factor of family relations, the existence of myths, the existence of Syafii's understanding of fiqh that allows the forced marriage, and economic factors. The forced marriage can occur in girls and boys even though they are adults. In Islamic law, all schools of thought think that the permissible marriage permit is for girls who are not yet mature, while for those who are adults or who are widows there is a dispute between the imam of the mazhab. In the KHI, the forced marriage should not occur because the marriage can be carried out with the consent of the two prospective brides. [Artikel ini membahas tentang ijbar nikah di Sidosermo Dalam Surabaya untuk dianalisis dengan hukum Islam. Penelitian ini adalah penelitian lapangan dan bersifat kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deduktif. Ijbar nikah masih terjadi secara masif di Kampung Sidosermo Dalam Surabaya. Perkawinan itu dilatarbelakangi oleh beberapa sebab, yaitu faktor kekhawatiran orang tua terhadap anaknya, faktor hubungan keluarga, adanya mitos, dan adanya pemahaman fikih Syafii yang membolehkan ijbar nikah. Ijbar nikah tersebut bisa terjadi pada anak perempuan dan laki-laki meski sudah dewasa. Dalam hukum Islam, semua mazhab berpendapat bahwa ijbar nikah yang diperkenankan adalah kepada anak perempuan yang belum dewasa, sedangkan yang sudah dewasa atau yang janda terdapat perselisihan di antara imam mazhab. Dalam KHI, ijbar nikah tidak semestinya terjadi karena pernikahan bisa dilakukan dengan persetujuan dari kedua calon mempelai.]
Tatacara Pemeriksaan Permohonan Dispensasi Kawin Menurut Perma Nomor 5 Tahun 2019 (Analisis Putusan No.0017/Pdt.P/2020/Pa.Lpk) Nasution, Muhammad Syukri Albani; Akbar , Ali; Siagian , Maimunah
Al-Hukama': The Indonesian Journal of Islamic Family Law Vol. 10 No. 2 (2020): Desember
Publisher : Islamic Family Law Department, Sharia and Law Faculty, UIN Sunan Ampel Surabaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/alhukama.2020.10.2.271-294

Abstract

Children have the right to choose, whether to marry or not, and when their choice falls to marry, then the biggest thing to be considered is the age, the age that is considered safe and permissible for marriage, from a health perspective, from a psychological perspective, as well as from an economic standpoint. This study aims to see how the judges consideration in deciding marriage dispensation cases, based on the analysis of the judge's decision No.0017 / Pdt.P / 2020 / PA.Lpk. The method used in this research is normative juridical. Indonesia as a State party to the Convention on the rights of the child (Convention on the rights of children) assert, that all actions concerning children undertaken by institutions, social welfare institutions, state or private, courts, administrative authorities or legislative bodies, are implemented in the best interest of the child, to provide protection for children who choose to marry while they are hindered by age. [Anak merupakan amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya serta memiliki hak yang sama untuk tumbuh dan berkembang. Anak memiliki hak untuk memilih, antara menikah atau tidak, dan ketika pilihan mereka jatuh kepada menikah, maka hal yang paling besar untuk menjadi pertimbangan adalah umur, umur yang dianggap aman dan boleh untuk melangsungkan pernikahan, di pandang aman dari sisi kesehatan, dari sisi psikologis, maupun dari dari sisi ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pertimbangan yang dilakukan hakim dalam memutuskan perkara dispensasi nikah, berdasarkan analisis putusan hakim No.0017/Pdt.P/2020/PA.Lpk. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah dengan menggunakan yuridif normatif. Indonesia sebagai Negara pihak dalam Convention on the Rights of the Child (Konvensi tentang Hak-hak Anak) menegaskan, bahwa semua tindakan mengenai anak yang dilakukan oleh lembaga, baik lembaga kesejahteraan sosial, negara atau swasta, pengadilan, penguasa administratif atau badan legislatif, dilaksanakan demi kepentingan terbaik anak, memberikan perlindungan terhadap anak yang memilih untuk menikah sementara dia terhalang oleh umur.]
Kisah Perempuan Pekerja Migran Indonesia di Hong Kong: Perjuangan untuk Keluarga dan Pendidikan Anak Siregar, Wahidah Zein Br
Al-Hukama': The Indonesian Journal of Islamic Family Law Vol. 10 No. 2 (2020): Desember
Publisher : Islamic Family Law Department, Sharia and Law Faculty, UIN Sunan Ampel Surabaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/alhukama.2020.10.2.243-270

Abstract

This study aims to describe struggle of Nurdiana and Tira, two Indonesian female migrant workers who work in domestic sector in Hong Kong. They are part of thousands of Indonesian migrant workers in this country. Data from BNP2TKI shows that in 2019 only, there were 70,840 migrant workers placed in Hong Kong. Most of them are women. These women work in informal sectors, particularly domestic works. Using life story method, this research is able to find out that the main reason for both Nurdiana and Tira to work in Hong Kong is to fulfill their family needs and support education of their children. Their children are studying in Pesantren. Life story gives chances to both informants to talk more about their work, their relation with employers, family, friends, and challenges they face, including that of COVID-19. Their stories provide an understanding of the real situation faced by these two family heroes.   [Studi ini bertujuan menguraikan kisah perjuangan Nurdiana dan Tira, dua orang perempuan pekerja migran yang sedang bekerja di sektor domestik di Hong Kong. Mereka berdua adalah bagian dari puluhan ribu pekerja migran Indonesia di negara ini. Data dari BNP2TKI menunjukkan bahwa pada tahun 2019 saja terdapat 70.840 pekerja migran Indonesia yang penempatannya di Hong Kong. Sebagian besar dari mereka adalah perempuan. Mereka ini bekerja pada sektor informal, khususnya menjadi asisten rumah tangga. Dengan menggunakan metode life story, penelitian ini menemukan bahwa Nurdiana dan Tira bekerja di Hong Kong untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai pendidikan anak-anak mereka. Anak-anak tersebut saat ini sedang belajar di berbagai Pesantren. Life story memberikan kesempatan pada kedua informan untuk menceritakan secara lebih luas tentang pekerjaan mereka, hubungan mereka dengan majikan, keluarga, teman, dan tantangantantangan hidup yang mereka hadapi, termasuk COVID-19. Kisah hidup mereka, memberikan pemahaman tentang situasi ril yang dihadapi para pahlawan keluarga ini.]
Islam dan Adat dalam Tradisi Perkawinan Masyarakat Suku Bugis: Analisis Interaksionisme Simbolik Haq, Abd. Sattaril
Al-Hukama': The Indonesian Journal of Islamic Family Law Vol. 10 No. 2 (2020): Desember
Publisher : Islamic Family Law Department, Sharia and Law Faculty, UIN Sunan Ampel Surabaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/alhukama.2020.10.2.349-371

Abstract

This article intends to examine the relationship between Islam and adat in the Bugis traditional wedding procession using symbolic interactionism analysis. The procession of the Bugis traditional wedding tradition is divided into several parts, namely mappese-pese or mabbaja laleng which is interpreted as a process to find out whether the couple to be married has a fiance or not, this is intended as a form of caution not to propose to a woman who has been proposed by other people. Madduta is done as a form of appreciation or love among humans. Mappettu ada is meant to reinforce the outcome of the conversation and is intended to elevate the position of women in the procession. Mappacci is meant to carry out the self-cleaning process by using several traditional instruments and using the Koran and praise to the Prophet in the form of reading barazanji as its main foundation and giving leko' is meant as a form of husband's responsibility in providing for his wife. This gives legitimacy that Islam and customs in the tradition of Bugis marriage harmonize a form of acceptance of the Bugis community with Islamic values described in the traditions being carried out. [Artikel ini dimaksudkan untuk menelaah relasi Islam dan adat dalam prosesi adat pernikahan masyarakat Bugis dengan menggunakan analisis interaksionisme simbolik. Prosesi adat tradisi pernikahan suku Bugis dibagi menjadi beberapa bagian yaitu mappese-pese atau mabbaja laleng yang dimaknai dengan proses untuk mengetahui apakah pasangan yang akan dinikahi tersebut telah memiliki tunangan atau belum, hal ini dimaksudkan sebagai bentuk kehati-hatian untuk tidak melamar wanita yang telah dilamar oleh orang lain. Madduta dilakukan sebagai bentuk penghargaan atau cinta kasih sesama manusia. Mappettu ada dimaksudkan untuk memperteguh hasil pembicaraan dan dimaksudkan untuk meninggikan derajat perempuan di dalam prosesi tersebut. Mappacci dimaksudkan untuk melakukan proses pembersihan diri dengan menggunakan beberapa instrument adat serta menggunakan al-Qur’an dan pujian kepada Nabi dalam bentuk pembacaan barazanji sebagai pondasi utamanya dan pemberian leko’ dimaksudkan sebagai bentuk tanggung jawab suami dalam menafkahi istrinya. Hal tersebut memberikan legitimasi bahwa Islam dan adat dalam tradisi perkawinan suku Bugis berjalan beriringan atau bentuk penerimaan masyarakat Bugis dengan nilai-nilai Islam dijabarkan dalam tradisi-tradisi yang dijalankan.]
Tradisi Ngorek Pada Upacara Nyongkolan Perkawinan Adat Sasak Tanak Awu Jamaludin, Jamaludin; Sugitanata, Arif
Al-Hukama': The Indonesian Journal of Islamic Family Law Vol. 10 No. 2 (2020): Desember
Publisher : Islamic Family Law Department, Sharia and Law Faculty, UIN Sunan Ampel Surabaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/alhukama.2020.10.2.319-348

Abstract

This article discusses the tradition of ngorek at the nyongkolan ceremony in the traditional Sasak Tanak Awu marriage. The ngorek tradition is a tradition which is done in the afternoon when the nyongkolan event is taking place. At the time of the event, the groomsmen perform the tradition of chopping or stabbing one of his own limbs with a sharp weapon such as swords, kris and so on, so that sometimes these activities cause injuries to their limbs. The main focus of the study of this article is why the Sasak Tanak Awu people still practice the tradition of ngorek by using the concept of reasons for the emergence of legal practice in society which was initiated by Satjipto Raharjo, this paper finds that the factors of the Tanak Awu Village community in carrying out the Ngorek tradition are, first, to show off invulnerability, second, attracts girls and third, keeps tradition. [Artikel ini membahas mengenai tradisi ngorek pada upacara nyongkolan dalam perkawinan adat Sasak Tanak Awu. Tradisi ngorek adalah sebuah tradisi di mana dilakukan pada sore hari ketika acara nyongkolan sedang berlangsung. Pada saat acara tersebut, laki-laki pengiring pengantin melakukan tradisi ngorek dengan cara membacok atau menusuk salah satu anggota badannya sendiri dengan keras menggunakan senjata tajam seperti pedang, keris dan lain sebagainya, sehingga terkadang kegiatan tersebut menyebabkan terjadinya lukaluka pada anggota badan merekaf. Fokus utama kajian artikel ini adalah mengapa masyarakat Sasak Tanak Awu masih melakukan tradisi ngorek dengan menggunakan konsep alasan munculnya praktek hukum dalam masyarakat yang digagas oleh Satjipto Raharjo, tulisan ini menemukan bahwa faktor-faktor masyarakat Tanak Awu melakukan tradisi ngorek adalah, pertama, untuk memamerkan ilmu kebalnya. Kedua, menarik perhatian para gadis dan ketiga, menjaga tradisi.]
Dilema Perkawinan Adat Sumbawa di Masa Pandemi Covid-19 Azzulfa, Fatihatul Anhar
Al-Hukama': The Indonesian Journal of Islamic Family Law Vol. 10 No. 2 (2020): Desember
Publisher : Islamic Family Law Department, Sharia and Law Faculty, UIN Sunan Ampel Surabaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/alhukama.2020.10.2.372-398

Abstract

The procession of traditional marriage is a custom in the community that contains all rituals and require the implementation that must done by many people. The dilemma that occurs in the people of Sumbawa is a problem that must be faced together between the community and the government. This paper tries to explore and examine how the practice of traditional Sumbawa marriage when the Covid-19 pandemic took place in Brang Biji Village, Sumbawa District, Sumbawa Besar Regency. This research is a field research using descriptive analytical method. In this case, the local government has issued a policy during a pandemic Covid-19 to any person who performs his business to always implement health protocols. Meanwhile, the community understands that the traditional marriage procession must always be carried out and the pandemic is not a barrier. The obligation to carry out a traditional marriage procession is not regulated in terms of harmony or marriage conditions, but this customary procession does not contradict Islamic law. Marriage will remain valid if it is carried out in harmony and legal conditions of marriage according to Islamic law without carrying out the traditional procession in marriage. The government should provide an understanding to the community that during the Covid-19 pandemic, traditional marriage processions brought more mafsadah than benefits. Traditional procession becomes less meaningful if it ultimately brings bad consequences to himself or others. [Prosesi perkawinan adat merupakan suatu kebiasaan dalam masyarakat yang berisi segala ritual dan mengharuskan pelaksanaannya dilakukan oleh banyak orang. Dilema yang terjadi di masyarakat Sumbawa menjadi sebuah masalah yang harus dihadapi bersama-sama antara masyarakat dan pemerintah. Tulisan ini mencoba mengeksplorasi serta menelaah bagaimana praktik perkawinan adat Sumbawa saat pandemi Covid-19 berlangsung di Kelurahan Brang Biji Kecamatan Sumbawa Kabupaten Sumbawa Besar. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) yang menggunakan metode deskriptif analitis. Dalam hal ini, pemerintah daerah telah mengeluarkan kebijakan selama pandemi Covid19 bagi setiap orang yang melaksanakan urusannya untuk selalu menerapkan protokol kesehatan. Sementara itu, masyarakat memahami bahwa prosesi perkawinan adat harus selalu dilaksanakan dan pandemi tidak menjadi penghalang. Kewajiban dalam melaksanakan prosesi adat perkawinan tidak diatur dalam rukun maupun syarat nikah, namun prosesi adat ini pun tidak bertentangan dengan Hukum Islam. Perkawinan akan tetap sah jika dilaksanakan dengan rukun dan syarat sah nikah sesuai Hukum Islam tanpa melaksanakan prosesi adat dalam perkawinan. Pemerintah seharusnya memberikan pemahaman pada masyarakat bahwa selama pandemi Covid-19 prosesi perkawinan adat lebih banyak mendatangkan mafsadah daripada kemanfaatan. Prosesi adat pun menjadi kurang bermakna jika pada akhirnya mendatangkan akibat buruk pada diri sendiri atau orang lain.]

Page 1 of 1 | Total Record : 8