cover
Contact Name
Andriyana
Contact Email
andriyana03@gmail.com
Phone
+6282121616969
Journal Mail Official
journal.anafora@uniku.ac.id
Editorial Address
RT. 027 RW. 007 Desa Cengal Kecamatan Japara
Location
Kab. kuningan,
Jawa barat
INDONESIA
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Published by Universitas Kuningan
ISSN : -     EISSN : 28073991     DOI : https://doi.org/10.25134/ajpm
Core Subject : Education, Social,
Ruang lingkup penelitian artikel yang dapat diterbitkan di Jurnal Fon antara lain : (1) Kebahasaan Indonesia; keilmuan bahasa (fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, wacana, pragmatik, sosiolinguistik, psikolinguistik); keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, menulis); (2) Kesastraan Indonesia (teori sastra, sejarah sastra, kritik sastra, sastra bandingan, ekranasi, sosiologi sastra); (3) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (perencanaan pembelajaran, strategi pembelajaran, evaluasi pembelajaran, kurikulum, bahan ajar, dan media pembelajaran). Kami terbuka menerima naskah dari para penulis dengan mengikuti ketentuan yang ada dalam fokus dan lingkup, etika publikasi, petunjuk penulisan, proses review, dan template jurnal yang harus diikuti oleh penulis.
Articles 72 Documents
Perilaku Androgini Tokoh Utama Dalam Naskah Drama "DEDES (Terperdaya atau Memperdaya Menjadi Sah-sah Saja" Karya Aan Sugianto Mas Maharani, Intan; hidayat, arip; Anjasmara, Aan
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 5 No 2 (2025)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v5i2.293

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini berangkat dari adanya ketimpangan representasi gender dalam karya sastra, khususnya dalam penggambaran karakter perempuan yang seringkali stereotipikal. Naskah drama Dedes karya Aan Sugianto Mas menghadirkan tokoh utama perempuan dengan karakteristik yang tidak biasa, yakni memadukan sifat maskulin dan feminin. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perilaku androgini tokoh utama dalam naskah tersebut serta menjelaskan bagaimana perilaku tersebut membentuk alur cerita. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik analisis deskriptif. Data penelitian berupa dialog dan tindakan tokoh yang menunjukkan ciri-ciri androgini, yaitu perpaduan antara sifat maskulin dan feminin dalam satu individu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Dedes menampilkan perilaku androgini melalui keberanian, kepemimpinan, empati, dan kelembutan yang ditampilkannya dalam berbagai situasi. Perilaku ini tidak hanya memperkaya karakter tokoh, tetapi juga mendorong perkembangan plot, khususnya dalam konflik batin, relasi antar tokoh, dan resolusi cerita. Kesimpulannya, androgini dalam tokoh Dedes menjadi kekuatan naratif yang memperkuat pesan feminisme dan pemberdayaan dalam naskah drama tersebut. KATA KUNCI: Androgini; tokoh dedes; drama; sastra; gender >  ANDROGYNOUS BEHAVIOR OF THE MAIN CHARACTER IN THE DRAMA SCRIPT " DEDES (TERPERDAYA ATAU MEMPERDAYA MENJADI SAH-SAH SAJA)" BY AAN SUGIANTO MAS   ABSTRACT: The problem in this research arises from the imbalance in gender representation in literary works, particularly in the portrayal of female characters who are often depicted stereotypically. The drama script Dedes by Aan Sugianto Mas presents a female protagonist with unusual characteristics, namely a combination of masculine and feminine traits. This study aims to describe the androgynous behavior of the main character in the drama and explain how such behavior shapes the plot. The research uses a qualitative approach with descriptive analysis techniques. The data consist of dialogues and actions that reflect androgynous traits, such as the fusion of masculine and feminine qualities in a single individual. The results show that the character Dedes exhibits androgynous behavior through her courage, leadership, empathy, and tenderness in various situations. This behavior not only enriches the character but also drives the development of the plot, especially in terms of internal conflict, character relationships, and story resolution. In conclusion, the androgyny of the character Dedes serves as a narrative strength that reinforces the themes of feminism and empowerment in the drama script. KEYWORDS: Androgyny; dedes; drama; literature; gender
PERUBAHAN BENTUK PELESETAN TATARAN FONOLOGI DAN FUNGSI BAHASA PELESETAN PADA KOMENTAR DI AKUN TIKTOK @RENSIA_SANVIRA PERIODE MARET TAHUN 2024 Putri, Hana; Asep Jejen Jaelani; Andriyana
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 5 No 2 (2025)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v5i2.294

Abstract

ABSTRAK: Fenomena penggunaan pelesetan di TikTok menunjukkan bahwa pelesetan bukan sekadar permainan kata, melainkan menjadi media untuk memenuhi berbagai kebutuhan sosial di masyarakat dan menciptakan berbagai kreativitas berbahasa melalui perubahan bentuk fonem dan menjadi media bagi masyarakat dalam mengekspresikan pikiran dan emosi serta sebagai media hiburan. Penelitian ini di latar belakangi oleh fenomena pelesetan yang menjadi trending di sosial media TikTok akun @rensia_sanvira. Rumusan masalah: 1) bagaimana perubahan bentuk fonologi bahasa pelesetan pada komentar di akun TikTok @rensia_sanvira? 2) bagaimana fungsi bahasa pelesetan pada komentar di akun TikTok @rensia_sanvira? Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk perubahan tataran fonologi dan fungsi komunikasi bahasa pelesetan di akun TikTok @rensia_sanvira. Metode penelitian yang digunakan deskriptif kualitatif dengan teknik purposive sampling, yakni dengan memilih komentar yang secara khusus mengandung unsur pelesetan sebagai data penelitian. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dengan mengkaji teori, membaca, melakukan analisis perubahan fonem, mengklasifikasikan dan menjabarkan kategori pelesetan, mendeskripsikan dan mengklasifikasikan fungsi komunikasi bahasa pelesetan berdasarkan empat fungsi  komunikasi; ekspresi, informasi, eksplorasi, persuasi, dan hiburan. Berdasarkan hasil analisis pelesetan dalam komentar warganet di akun TikTok @rensia_sanvira cenderung menunjukkan perubahan fonem berupa penambahan fonem dan pergantian fonem. Kemudian, kategori pelesetan yang dapat membedakan makna adalah paronim, sedangkan fungsi komunikasi yang paling dominan mencakup fungsi ekspresi dan hiburan. KATA KUNCI: Komentar warganet, fungsi komunikasi, pelesetan, perubahan fonem, TikTok.> CHANGES IN THE FORM OF PHONOLOGICAL LEVEL PUNS AND THE FUNCTION OF PUNS IN COMMENTS ON THE TIKTOK ACCOUNT @RENSIA_SANVIRA THE MARCH 2024 PERIOD   ABSTRACT: The phenomenon of using puns on TikTok indicates that puns are not merely wordplay, but act as a medium to fulfill various social needs in society, create linguistic creativity through changes in phoneme forms, and serve as a medium for people to express their thoughts and emotions, as well as for entertainment. This research is motivated by the trending phenomenon of puns on the TikTok account @rensia_sanvira. Problem formulation: 1) How do the phonological forms of puns change in the comments on the TikTok account @rensia_sanvira? 2) What are the functions of puns in the comments on the TikTok account @rensia_sanvira? This study aims to describe the forms of changes at the phonological level and the communication functions of puns on the TikTok account @rensia_sanvira. The research method used is descriptive qualitative with a purposive sampling technique, specifically by selecting comments containing pun elements as research data. The steps taken involve reviewing theories, reading, conducting analysis on phoneme changes, classifying and elaborating on pun categories, and describing and classifying the communication functions of puns based on four communication functions; expression, information, exploration, persuasion, and entertainment. Based on the analysis results, the puns in netizens' comments on the TikTok account @rensia_sanvira tend to show phoneme changes in the form of phoneme addition and phoneme substitution. Furthermore, the pun category that can differentiate meaning is paronyms, while the most dominant communication functions comprise the functions of expression and entertainment. KEYWORDS: Communication function; phonology; netizen comments; phoneme changes; puns; TikTok.
BUDAYA PATRIARKI DAN PEMBERONTAKAN PEREMPUAN (ANALISIS WACANA KRITIS SARA MILLS) suharsono; Firdha Mutmainnah
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6 No 1 (2026)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v6i1.250

Abstract

ABSTRAK: Diskriminasi terhadap perempuan masih sangat kuat, tidak hanya dialami secara langsung, tetapi juga banyak dijumpai dalam karya sastra. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana posisi perempuan dalam sebuah karya sastra yaitu dalam novel “Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam” karya Dian Purnomo. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis wacana kritis (AWK) model Sara Mills. Fokusnya pada wacana tentang tokoh perempuan dan kedudukan subyek-obyek serta penulis-pembaca dalam novel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penulis memposisikan perempuan sebagai subyek dalam novel tersebut karena Magi mendefinisikan dan menampilkan dirinya dalam teks, serta bebas mengungkapkan kemarahannya sendiri. Namun perempuan dalam novel ini juga menempati posisi obyek. Ia selalu menjadi sasaran kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki, budaya dan keluarganya hingga ia memutuskan untuk memberontak terhadap segala sesuatu yang menindasnya. Dengan cara ini, peran dan relasi gender dalam novel dapat muncul dengan sendirinya dan juga dapat memainkan peran ganda. Pesan tentang perlawanan perempuan secara gamblang penulis sampaikan melalui narasi Magi. Ia memberikan ruang untuk mengekspresikan identitasnya dan menolak menjadi korban diam untuk mengajak pembaca terlibat aktif dalam penafsiran teks dan merefleksikan implikasi kekuasaan dan gender yang tercermin dalam novel serta menilai dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. KATA KUNCI: AWK; Sara Mills; karya sastra; novel; feminis >  PATRIARCHAL CULTURE AND WOMAN’S REBELLION (SARA MILLS’ CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS)   ABSTRACT: Discriminations against women are still very strong, not only experienced directly, they are also often found in literary works. This study aims to find out how women are positioned in a literary, namely in the “Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam” novel by Dian Purnomo. This study is qualitative-descriptive. The data analysis technique used in this study is the Sara Mills model of Critical Discourse Analysis (CDA). It focuses on discourse about female characters and the position of subject-object and writer-reader in the novel. The results of this study show that the author positions women as subject in the novel because Magi defines and presents herself in the text, and she freely expresses her own anger. However, woman in this novel also occupy an object position. She was always the object of violence perpetrated by men, culture, and her own family until she decided to rebel against everything that oppressed her. In this way, gender roles and relations in the novel can present themselves and can play multiple roles. The author clearly conveys a message about women’s resistance through Magi’s narrative. She gives her space to express her own identity and refuses to be a silent victim to invite readers to actively engage in the interpretation of the text and reflect on the implications of power and gender reflected in the novel and assess their impact on everyday life. KEYWORDS: CDA; Sara Mills; literary work; novel; feminist
FILOLGI DAN SASTRA MELAYU KLASIK: ANALISIS TOKOH, BAHASA, DAN NILAI MORAL DALAM HIKAYAT SI MISKIN Safaria, Nur; Nina Queena Hadi Putri
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6 No 1 (2026)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v6i1.254

Abstract

ABSTRAK: Kajian ini menggali hubungan antara ilmu filologi dan sastra Melayu klasik dengan menelaah teks Hikayat Si Miskin. Penelitian berfokus pada bagaimana tokoh-tokoh digambarkan, penggunaan bahasa, serta nilai-nilai moral yang tersirat dalam cerita tersebut, menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui proses transkripsi naskah, penerjemahan, dan analisis struktur wacana yang meliputi tiga tingkatan: makro, superstruktur, dan mikro. Temuan menunjukkan bahwa tokoh utama digambarkan sebagai pribadi yang penuh kesabaran, ketabahan, dan keikhlasan meski menghadapi penderitaan. Tokoh pendukung berperan memperkuat pesan moral yang ingin disampaikan oleh pengarang. Pada tingkat makro, tema utama yang muncul adalah penderitaan, ujian hidup, dan keajaiban ilahi. Superstruktur membentuk alur cerita yang bergerak maju dengan tahapan awal, konflik, dan penyelesaian. Sementara itu, struktur mikro mencakup aspek semantik, sintaksis, stilistik, dan retoris yang memperkaya makna teks. Nilai-nilai moral yang terkandung antara lain kesabaran, belas kasih, kejujuran, pengampunan, dan ketundukan pada kehendak Tuhan. Pendekatan filologis yang dipadukan dengan analisis wacana membuka ruang untuk memahami teks klasik secara lebih mendalam dan menegaskan pentingnya nilai-nilai moral Melayu dalam kehidupan masa kini. KATA KUNCI: Filologi, Sastra Melayu Klasik, Hikayat Si Miskin, Nilai Moral >  PHILOLOGY AND CLASSICAL MALAY LITERATURE: A STUDY OF CHARACTERIZATION, LINGUISTIC FEATURES, AND MORAL VALUESIN HIKAYAT SI MISKIN   ABSTRACT: This study examines the relationship between philology and classical Malay literature through an analysis of the text Hikayat Si Miskin. The main focus lies on the characterization, language use, and the moral values embedded within the narrative, employing a descriptive qualitative approach. Data were collected through manuscript transcription, translation, and discourse structure analysis at the macro, superstructure, and micro levels. The findings reveal that the main character is portrayed as patient and devoutly resigned to fate despite enduring hardship, while the supporting characters serve to reinforce the story’s moral message. At the macro level, the central themes of suffering and miracles are highlighted; the superstructure presents a progressive plot moving from introduction and conflict to resolution; and the micro-level analysis encompasses semantic, syntactic, stylistic, and rhetorical aspects. The moral values identified include patience, compassion, honesty, forgiveness, and submission to divine will. The synergy between philological study and discourse analysis allows for a deeper understanding of the text and affirms the continued relevance of classical values within contemporary life. KEYWORDS: Philology, Classical Malay Literature, Hikayat Si Miskin, Moral Values
VARIASI BAHASA VULGAR DALAM KONTEN TIKTOK INUNG SIA: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK Ratnawati; Adiprameswari, Cantika; Syifa Adistiani; Firman Fathurohman
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6 No 1 (2026)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v6i1.284

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini menganalis bahasa vulgar dalam konten TikTok akun Inung Sia sebagai bagian dari pergeseran komunikasi di era digital. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi variasi kata-kata vulgar dalam bahasa Sunda yang digunakan oleh Inung Sia serta memahami fungsi di balik penggunaan bahasa tersebut. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data diambil dari 15 video dengan penonton terbanyak melalui teknik simak dan catat. Hasil penelitian menemukan berbagai bentuk bahasa vulgar Sunda, seperti kata ganti (sia, aing), kata kerja kasar (maraban, lebok), hingga umpatan (nurus tunjung, beuleugug). Temuan menunjukkan bahwa bahasa vulgar tersebut tidak hanya berfungsi untuk mengekspresikan kemarahan, tetapi juga menjadi strategi untuk membangun karakter unik, menciptakan humor, dan meningkatkan daya tarik konten di ruang publik digital. KATA KUNCI: Sosiolinguistic, Vulgar Language, TikTok, Inung Sia, Sundanese Language. >  VULGAR LANGUAGE VARIATIONS IN TIKTOK CONTENT INUNG SIA: SOCIOLINGUISTIC STUDY ABSTRACT: This research analyzes vulgar language within the TikTok content of the Inung Sia account as part of the shift in communication in the digital era. The main objective of this study is to identification variations of vulgar words in Sundanese used by Inung Sia and understand the function behind their use. A descriptive qualitative approach was employed in this study. Data were collected from 15 videos with the highest viewership through note-taking techniques. The results of the research reveal various forms of Sundanese vulgarisms, such as pronouns (sia, aing), coarse verbs (maraban, lebok), and profanities (nurus tunjung, beuleugug). The findings indicate that vulgar language functions not only as an expression of anger but also as a strategy to build a unique character, create humor, and increase content engagement in the digital public sphere. KEYWORDS: Sosiolinguistic, Vulgar Language, TikTok, Inung Sia, Sundanese Language.
MANTRA JAMPE NYIMPEN BEAS SEBAGAI REPRESENTASI SIMBOLIS NYI POHACI DALAM SASTRA LISAN SUNDA Haikal Yasa, Faiz; Haryadi, Ardi Mulyana; Zainal Arifin, Muhamad; Julianto, Cecep Dudung
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6 No 1 (2026)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v6i1.291

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi simbolik dan sinkretisme teologis yang terkandung dalam mantra Jampe Nyimpen Beas (Mantra Menyimpan Beras) dalam konteks masyarakat agraris Desa Sukaraja, Kabupaten Sumedang, melalui pendekatan kajian semiotik Roland Barthes. Menggunakan metode kualitatif deskriptif analitis dengan teknik pengumpulan data observasi dan wawancara mendalam terhadap informan kunci, penelitian ini membongkar teks ritual tersebut menjadi tiga tingkatan analisis: Denotasi, Konotasi, dan Mitos/Ideologi. Temuan utama menunjukkan bahwa mantra ini beroperasi sebagai sistem penandaan yang secara fundamental mengukuhkan Representasi Simbolis Nyi Pohaci Sanghyang Sri sebagai entitas hidup yang dimuliakan melalui diksi seperti "gedong manik ratna inten" (konotasi kesakralan wadah) dan "abdi ngiringan" (konotasi ketaatan). Lebih lanjut, mantra ini menampilkan mekanisme sinkretisme teologis yang adaptif, di mana unsur-unsur kepercayaan lokal (Pemujaan Pohaci) diintegrasikan dan disahkan secara budaya melalui penyisipan syahadat dan ujaran Islam esoteris, yang secara fungsional memberikan ketenangan batin (salamet ing dunya ing akherat) sekaligus mendorong etos konservasi pangan. Dengan demikian, Jampe Nyimpen Beas terbukti bukan hanya artefak sastra lisan, melainkan dokumen sosiokultural yang merekam strategi masyarakat Sunda dalam menjaga keseimbangan antara spiritualitas tradisi agraris dan dogma keagamaan. KATA KUNCI: Semiotik; Mantra; Jampe Nyimpen Beas; Nyi Pohaci;, Sinkretisme; Sastra Lisan Sunda. >  THE MANTRA JAMPE KEEPS RICE AS A SYMBOLIC REPRESENTATION OF NYI POHACI IN SUNDANESE ORAL LITERATURE   ABSTRACT: This research aims to analyze the symbolic construction and theological syncretism embedded within the Jampe Nyimpen Beas (Rice Storage Mantra) in the agrarian community of Sukaraja Village, Sumedang Regency, through the Roland Barthes semiotic approach. Using a qualitative descriptive analytic method with in depth interviews and observation of key informants, the study deconstructs the ritual text into three analytical levels Denotation, Connotation, and Myth/Ideology. The main findings indicate that the mantra operates as a system of signification that fundamentally affirms the Symbolic Representation of Nyi Pohaci Sanghyang Sri as an honored living entity through diction like "gedong manik ratna inten" (connoting the sacredness of the container) and "abdi ngiringan" (connoting subservience). Furthermore, the mantra exhibits an adaptive theological syncretism, where elements of local beliefs (Pohaci reverence) are integrated and culturally validated through the insertion of the syahadat (Islamic creed) and esoteric Islamic phrases, functionally providing inner peace (salamet ing dunya ing akherat) while simultaneously fostering a rice conservation ethos. Consequently, Jampe Nyimpen Beas proves to be not merely an artifact of oral literature but a sociocultural document that records the Sundanese community's strategy for maintaining the balance between the spirituality of agrarian tradition and religious dogma. KEYWORDS: Semiotics; Mantra; Jampe Nyimpen Beas; Nyi Pohaci; Syncretism; Sundanese Oral Literature.
REPRESENTASI PEREMPUAN IDEAL PADA IKLAN KECANTIKAN DI TELEVISI (KAJIAN ANALISIS WACANA KRITIS) Febria, Rhani; Desi Sukenti; Ifah Hanifah
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6 No 1 (2026)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v6i1.292

Abstract

ABSTRAK: Iklan kecantikan di televisi tidak hanya berfungsi sebagai sarana promosi produk, tetapi juga berperan dalam membentuk dan mereproduksi standar kecantikan perempuan ideal di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana representasi perempuan ideal dikonstruksi dalam iklan kecantikan di televisi melalui kajian Analisis Wacana Kritis (AWK) Norman Fairclough. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis isi kualitatif. Data penelitian berupa tuturan, narasi, slogan, dan visualisasi perempuan dalam sebelas iklan produk kecantikan yang ditayangkan di televisi nasional dan kanal resmi digital. Analisis dilakukan melalui tiga dimensi AWK, yaitu teks, praktik wacana, dan praktik sosial budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklan kecantikan secara konsisten merepresentasikan perempuan ideal sebagai sosok berkulit putih atau cerah, wajah mulus tanpa cela, glowing, awet muda, dan percaya diri setelah menggunakan produk. Representasi tersebut dibangun melalui penggunaan diksi instan, saintifik, religius, dan afektif yang berfungsi menaturalisasi standar kecantikan tertentu. Pada tingkat praktik sosial-budaya, wacana ini mereproduksi ideologi kecantikan dominan yang berakar pada kapitalisme dan patriarki, serta berpotensi menimbulkan pengawasan diri dan ketergantungan perempuan terhadap produk kecantikan. KATA KUNCI: analisis wacana kritis; iklan kecantikan; representasi perempuan; televisi         >    REPRESENTATION OF THE IDEAL WOMAN IN BEAUTY ADVERTISING ON TELEVISION (A CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS STUDY)   ABSTRACT: Television beauty advertisements function not only as promotional media but also as powerful tools in constructing and reproducing ideal standards of female beauty in society. This study aims to analyze how the representation of the ideal woman is constructed in television beauty advertisements using Norman Fairclough’s Critical Discourse Analysis (CDA). The research employs a qualitative descriptive approach with a qualitative content analysis method. The data consist of utterances, narratives, slogans, and visual representations of women in eleven beauty product advertisements broadcast on national television and official digital channels. The analysis is conducted through three CDA dimensions: text, discursive practice, and socio-cultural practice. The findings reveal that beauty advertisements consistently represent the ideal woman as having white or bright skin, a flawless appearance, a glowing complexion, youthfulness, and increased self-confidence after using beauty products. These representations are constructed through instant, scientific, religious, and affective diction that naturalizes a single dominant beauty standard. At the socio-cultural level, such discourse reproduces dominant beauty ideologies rooted in capitalism and patriarchy, which may lead to self-surveillance and women’s dependence on beauty products. Thus, beauty advertising plays an active role in shaping social perceptions of women’s bodies and identities. KEYWORDS: critical discourse analysis; beauty advertising; representation of women; television
MAKNA CINTA DAN KEHILANGAN DALAM LIRIK LAGU “BUNGA ABADI” KARYA RIO CLAPPY: KAJIAN SEMIOTIKA SASTRA Musyarofah, Siti; Alsunah, Aditya Ansor; Nurwahidah, Lina Siti; Julianto, Cecep Dudung
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6 No 1 (2026)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v6i1.295

Abstract

ABSTRAK: Lirik lagu sering dipandang hanya sebagai hiburan, padahal di dalamnya tersimpan pengalaman batin dan cara manusia memaknai hidup. Lagu “Bunga Abadi” merupakan salah satu karya populer yang menyampaikan tema cinta melalui simbol bunga yang abadi serta perjalanan emosi yang dialami dalam hubungan. Penelitian ini bertujuan untuk membaca dan menafsirkan makna simbol yang terdapat dalam lirik lagu “Bunga Abadi” dengan menggunakan pendekatan semiotika sastra. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif melalui teknik analisis teks, yaitu membaca dan menafsirkan bagian-bagian lirik secara rinci untuk menemukan makna tanda dan simbol yang terkandung di dalamnya. Hasil kajian menunjukkan bahwa simbol “bunga abadi” merepresentasikan cinta yang tidak berhenti meskipun waktu telah berlalu serta hubungan emosional yang melewati berbagai suasana seperti kebahagiaan dan kesedihan, yang tetap hidup melalui ingatan dan kesetiaan. Cinta dalam lirik lagu tersebut tetap terjaga melalui kesadaran akan makna kasih sayang dan penerimaan terhadap dinamika kehidupan hubungan. Dengan demikian, lirik lagu “Bunga Abadi” dipahami sebagai refleksi pengalaman emosional manusia yang bersifat universal dan layak dikaji sebagai bagian dari sastra populer. KATA KUNCI: Lirik lagu; semiotika sastra; simbol bunga; cinta abadi; pengalaman emosional         >    THE MEANING OF LOVE AND LOSS IN THE LYRICS OF THE SONG "ETERNAL FLOWER" BY RIO CLAPPY: A STUDY OF LITERARY SEMIOTICS   ABSTRACT: Song lyrics are often regarded merely as entertainment, even though they contain inner experiences and reflect how humans interpret life. The song “Bunga Abadi” is a popular work that conveys the theme of love through the symbol of an eternal flower and the emotional journey experienced within a relationship. This study aims to read and interpret the symbolic meanings found in the lyrics of “Bunga Abadi” using a literary semiotic approach. The research employs a qualitative descriptive method through text analysis techniques, namely reading and interpreting the lyric sections in detail to uncover the meanings of the signs and symbols contained within them. The results of the analysis show that the symbol of the “eternal flower” represents a love that does not fade despite the passage of time, as well as an emotional relationship that passes through various states such as happiness and sadness, yet remains alive through memory and loyalty. Love in the song’s lyrics is preserved through an awareness of the meaning of affection and an acceptance of the dynamics of relationships in life. Thus, the lyrics of “Bunga Abadi” can be understood as a reflection of universal human emotional experiences and are worthy of study as part of popular literature. KEYWORDS: song lyrics; literary semiotics; flower symbolism; eternal love; emotional experience
KONFLIK SOSIAL DALAM NOVEL HOME SWEET LOAN KARYA ALMIRA BASTARI ( KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA ) Siti Syaripah, Hopi; Alsunah, Aditya Ansor; Nurwahidah, Lina Siti; Julianto, Cecep Dudung
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6 No 1 (2026)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v6i1.297

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konflik sosial dalam novel Home Sweet Loan karya Almira Bastari dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan sumber data berupa novel Home Sweet Loan. Data penelitian berupa kutipan-kutipan yang menggambarkan konflik sosial, yang dikumpulkan melalui teknik baca dan catat serta didukung oleh studi pustaka dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis dengan cara mengklasifikasikan dan menafsirkan bentuk-bentuk konflik sosial yang ditemukan. Hasil penelitian menunjukkan adanya beberapa bentuk konflik sosial, yaitu konflik ekonomi, konflik dalam hubungan keluarga, serta konflik sosial yang berkaitan dengan tekanan lingkungan dan status sosial. Konflik-konflik tersebut mencerminkan realitas kehidupan masyarakat perkotaan yang dihadapkan pada tuntutan ekonomi dan sosial. Dengan demikian, novel Home Sweet Loan dapat dipahami sebagai cerminan kondisi sosial masyarakat modern yang sarat dengan tekanan hidup dan ketimpangan sosial. KATA KUNCI: konflik ekonomi; konflik sosial; novel; sosiologi sastra; masyarakat perkotaan >  SOCIAL CONFLICT IN THE NOVEL HOME SWEET LOAN BY ALMIRA BASTARI (A SOCIOLOGY OF LITERATURE STUDY)   ABSTRACT: This study aims to analyze social conflict in the novel Home Sweet Loan by Almira Bastari using a literary sociology approach. The research employed a descriptive qualitative method with the novel as the primary data source. The data consisted of quotations that depict social conflict and were collected through reading and note-taking techniques, supported by literature studies and documentation. The collected data were analyzed by classifying and interpreting the forms of social conflict found in the novel. The results indicate that several types of social conflict are represented, including economic conflict, family relationship conflict, and social conflict related to environmental pressure and social status. These conflicts reflect the realities of urban life, particularly the economic and social demands faced by modern society. The study concludes that Home Sweet Loan portrays social conflict as a reflection of contemporary social conditions characterized by life pressures and social inequality. KEYWORDS: economic conflict; literary sociology; novel; social conflict; urban society
IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMP KOTA MEDAN Purba, Priscillia Febrianty; Safinatul Hasanah Harahap
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6 No 1 (2026)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v6i1.300

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Kota Medan yang mencakup diferensiasi konten, proses, produk, dan lingkungan belajar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data diperoleh melalui observasi di kelas dan wawancara terhadap guru Bahasa Indonesia di tiga sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi telah mulai diterapkan, terutama pada aspek konten melalui penggunaan media yang mengakomodasi visual, auditori, dan kinestetik. Pada aspek proses, guru telah menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi, namun belum sepenuhnya disesuaikan dengan karakteristik peserta didik. Pada aspek produk, peserta didik belum diberikan kebebasan secara optimal dalam menentukan bentuk hasil belajar. Sementara itu, pada aspek lingkungan belajar, suasana kelas sudah kondusif, tetapi pengelolaannya masih bersifat konvensional dan belum fleksibel. Implementasi pembelajaran berdiferensiasi di SMP kota Medan masih berada pada tahap awal dan belum berorientasi pada kebutuhan individual peserta didik. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kompetensi guru dalam merancang pembelajaran yang adaptif. KATA KUNCI: Pembelajaran berdiferensiasi, gaya belajar, bahasa indonesia. >         TITLE: IMPLEMENTATION OF DIFFERENTIATED INSTRUCTION IN INDONESIAN LANGUAGE CLASSES AT JUNIOR HIGH SCHOOLS IN MEDAN   ABSTRACT: This study aims to describe the implementation of differentiated instruction in Indonesian language classes at junior high schools in Medan, covering differentiation in content, process, product, and learning environment. This study employs a qualitative approach using a descriptive method. Data were collected through classroom observations and interviews with Indonesian language teachers at three schools. The results of the study indicate that differentiated instruction has begun to be implemented, particularly in the content aspect through the use of media that accommodates visual, auditory, and kinesthetic learners. In the process aspect, teachers have employed varied instructional methods,but these have not yet been fully adapted to the characteristics of the students. In the product aspect, students have not been given optimal freedom in determining the form of their learning outcomes. Meanwhile, regarding the learning environment, the classroom atmosphere is conducive, but its management remains conventional and lacks flexibility. The implementation of differentiated instruction in junior high schools in Medan is still in its early stages and has not yet been oriented toward the individual needs of students. Therefore, it is necessary to strengthen teachers’ competencies in designing adaptive instruction KEYWORDS: Differentiated Instruction, learning styles, Indonesian language.